Chapter 10

Declaimer : BoBoiBoy milik Animonsta, kalo punya saya Halilin chan bakalan kujadiin suami #Disetrum

Warning : OOC, OC, Alur kecepatan, berantakan, Gaje, new Author, typo, dan segala kesalahan yang tak terhitung jumlahnya.

Selamat membaca

Setiap manusia memiliki masa lalu. Entah itu masa lalu yang kelam, ataupun masa lalu yang indah. Banyak dari masa lalu itu dilupakan begitu saja, atau ada juga yang membekas dalam hingga membuatnya menjadi sebuah trauma. Namun ada juga ingatan yang akan bangkit karena sebuah kejadian di masa depan nanti.

Itulah yang saat ini di rasakan oleh Yaya. Perasaan ini, warna kulit dari orang yang menyelamatkannya tadi malam, dan dinginnya kulit dari orang yang menyerangnya tadi malam, membuatnya mengingat setiap kejadian 3 tahun yang lalu. Ketika ia hampir tertabrak truk yang melaju kearahnya. Ia yang saat itu tak peduli lagi dengan hidupnya, terselamatkan karena adanya pemuda misterius itu. Pemuda dengan topi terbalik, yang samar samar ia lihat di tengah kesadarannya yang tinggal sedikit.

"Yaya... kau tidak pulang?"

"Ah... sebentar lagi."

"Baiklah, aku pulang duluan."

"Ya... Hati hati."

Gadis berhijab itu tersenyum menanggapi ajakan teman berambut di kepang hitam itu. Sudah 10 menit berlalu sejak bell tanda berakhirnya sekolah di bunyikan. Cerita tentang pasangan baru di sekolah itupun belum mereda, bahkan Yaya masih bisa mendengarnya dari cerita teman teman sekelasnya. Ia melihat bangku didepannya, dimana ia sudah tak lagi menemukan pemuda bertopi rendah itu.

'Cepat sekali.'

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia membereskan bukunya, dan beranjak meninggalkan kelas.

Lorong kelas terasa cukup sepi, mungkin karena memang mereka sudah pulang atau berada di ruang club mereka masing masing. Oh... berbicara tentang ruang club, Yaya adalah ketua OSIS. Meski hari ini mereka tidak ada kegiatan sehingga itu tidak menyibukkan Yaya sama sekali. Lagi pula, tubuh Yaya terasa berat untuk melakukan kegiatan lebih dari pelajaran di sekolah. Mungkin karena efek tidak bisa tidur tadi malam.

Tak perlu menempuh waktu lama untuk sampai di rumahnya. Ia hanya perlu berjalan kaki selama 10 menit untuk mencapai sekolah. Biasanya ia akan pulang bersama Ying, tapi mungkin karena Ying telah mempunyai kekasih, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Taufan.

"Aku pulang."

Tidak ada jawaban. Memang ia hanya tinggal sendirian dirumahnya, jadi siapa yang akan menjawab salamnya? Orang tuanya tinggal terpisah dengannya karena alasan pekerjaan. Dan Yaya sudah terbiasa dengan situasi itu sejak ia masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Mungkin jika Lyla masih disini, ia takkan kesepian. Tapi ia tak bisa melawan kenyataan bahwa Lyla tak lagi bersamanya.

Yaya membuka pintu rumahnya perlahan. Rumah yang besar, namun sayang sekali sangat jarang digunakan untuk berkumpul sekeluarga. Yaya mungkin merasa iri dengan keadaan teman temannya yang memiliki keluarga lengkap, dan bisa meluangkan waktu untuk mereka. Tapi bagaimanapun, Yaya lebih beruntung jika ia memikirkan keadaan BoBoiBoy bersaudara.

"Aku tak bisa membayangkan jika BoBoiBoy tidak memiliki 3 saudara."

Sesampainya dikamar, ia meletakkan tasnya di meja belajarnya. Ia sudah mengunci rumahnya seperti yang diinstruksikan Halilintar. Ia duduk di depan kaca, melepas hijabnya, dan membuka sedikit bajunya untuk melihat lebam di bahunya yang terasa nyeri. Ia sudah mengolesnya dengan obat, tapi rasa nyarinya masih tak berkurang. Orang yang menyerangnya kemarin mencengkramnya begitu kuat. Itu membuatnya berfikir, jika memang orang itu berniat menyerangnya kemari, bukankah pintu yang terkunci bisa dihancurkan dengan mudah?

"Percuma saja mengunci pintu." Gumamnya pelan, dan beranjak dari tempat duduknya.

Ia mengganti seragamnya dengan pakaian biasa. Ia tak bernafsu makan, jadi ia tak ingin memasak sekarang. Karena ia tak melakukan apapun sekarang, ia putuskan untuk mengerjakan PRnya. Namun tak ada 30 menit, semua PRnya sudah selesai ia kerjakan. Membersihkan rumah? Ia sudah melakukannya kemarin sore, jadi ia hanya perlu waktu 10 menit untuk menyapu, atau merapikan barang barang yang sebenarnya sudah rapi. Cucian sudah ia kerjakan kemarin juga, dan sekarang sudah ia jemur. Tidak ada yang bisa dia lakukan dan itu membuatnya bosan.

"Apa yang bisa kulakukan?" Ucapnya sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan menutup matanya dengan tangannya. Ia berniat untuk tidur, tapi ia cukup takut untuk membiarkan dirinya terlelap.

Membiarkan perutnya yang terus berbunyi, ia tetap menutup matanya namun tetap terjaga. Tak lama kemudian, bunyi pintu yang di buka paksa terdengar di telinganya, dan ia bangun untuk melihat apa yang ada didepan pintu kamarnya.

Sejurus kemudian, tubuhnya mematung. Matanya terbelalak menatap satu obyek yang tengah menyeringai mengerikan kearahnya. Jantungnya berdegup tak terkendali, dan ia tak bisa menggerakkan tubuhnya barang seinchipun. Instingnya berteriak untuk lari, tapi otaknya terlalu kaku untuk menurutinya.

Sementara itu, melihat mangsanya bergetar didepannya. Orang misterius melangkah memasuki ruangan yang rapi itu, sembari menyeringai mengerikan. Di dalam pikirannya sekarang hanyalah memangsa gadis incarannya itu tanpa sedikitpun gangguan.

"Ini tidak akan sakit gadis kecil."

Orang itu melompat kearahnya, sementara Yaya hanya bisa menutup matanya pasrah dengan apa yang akan menimpanya.

OooOooO

Yaya POV

Apakah aku akan mati? Apakah aku siap untuk meninggalkan dunia ini? Kenapa harus aku yang tertimpa hal yang tak masuk akal ini? Aku ingin berteriak. Namun lidahku kelu untuk mencobanya. Bahkan aku yakin, berteriakpun aku takkan bisa melakukannya dengan lantang. Alhasil yang bisa kulakukan saat ini hanyalah memejamkan mata erat erat.

Aku bisa merasakan orang misterius itu melompat kearahku.

TIDAAAKKKK...

Aku meringkuk, aku tak bisa lari lagi. Punggungku sudah menyentuh dinding, dan tak ada jalan untuk lari dari kamarku yang ada dilantai dua. Seluruh memori terputar di kepalaku, tentang Lyla, tentang cinta pertamaku. Dan tentang dia...

Saat aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi...

[Brakkk]

Suara keras seperti kaca yang di pecahkan masuk melalui telingaku, dan detik berikutnya, aku merasakan tubuhku diangkat, bersamaan dengan suara dentum keras seperti truk yang menabrak dinding. Aku membuka mataku perlahan, terlalu takut untuk membukanya keseluruhan. Dan yang kulihat adalah wajah seseorang yang benar benar kukenal. Tapi berbeda. Perasaan de javu menimpaku, apakah benar dia? Dia ada disini? Menyelamatkanku lagi?

"Gempa cepat bawa dia pergi! Bertarung di sini tidak menguntungkan!"

Seseorang berteriak, aku kenal suara ini. Aku mencoba melihat kearah orang itu, meski tubuhnya menghalangi pandanganku. Siulet merah dan hitam bergerak cepat, seiring orang yang menggendongku mulai berlari dengan cepat. Aku mendongak menatapnya, wajahnya keras. Dagunya terlihat sangat kaku, seolah ia mati matian mencoba untuk tak bernafas.

Entah kenapa perasaanku menjadi sangat ringan. Aku selamat, oh... aku masih bisa menjalani hari hariku. Dan yang paling penting aku menemukannya. Air mata perlahan menetes dari kedua bola mataku. Bukan air mata kesedihan, namun air mata kegembiraan. Aku sangat bahagia, aku sangat senang. Aku lega karena aku masih bisa menjalani hidupku.

Suara suara seperti benturan batu batu besar terdengar ditelingaku. Tapi aku tidak mampu menggerakkan tubuhku untuk melihatnya. Aku hanya bisa memandangi wajah kerasnya. Sangat lembut dan indah seperti porselin, ia adalah sosok yang sempurna. Aku mengangkat tanganku, mengusap dagunya tanpa sadar mencoba untuk membuat wajah itu melunak.

Mata hazel emasnya bertemu dengan mataku. Sangat indah, seperti batu permata terlangka yang dipasangkan ke boneka porselin terindah, mata itu memperangkapku seolah tidak membiarkanku mengalihkan perhatianku darinya. Ia tersenyum, wajahnya dan tatapannya melunak. Bibirnya mulai bergerak, dan suara merdu yang menenangkan itu terdengar di telingaku.

"Kau tak apakan?"

Aku mengangguk pelan, tak bisa menjawab lebih dari itu. Entah hanya perasaanku saja, atau suaranya terdengar tercekat. Ia menghela nafasnya pelan, dan berkata 'Syukurlah' dengan nada yang amat lega. Tanganku masih menjelajahi wajah sempurna itu, dan kulihat ia tak keberatan.

Tanpa terasa kami, sudah sampai di sebuah padang rumput kecil. Jauh dari pemukiman, dan aku sangat tahu tempat ini. Ini adalah tempat dimana aku dan Lyla dulu tertawa bersama. Ia menurunkanku, namun masih melindungiku sangat protektif. Ia membungkuk kecil, seperti hewan buas yang akan menyerang kapan saja.

Sementara itu, siulet merah dengan kecepatan yang tak bisa kulihat datang tak lama kemudian. Diikuti dengan orang yang tadi menyerangku.

"A-."

"Aku akan menjelaskannya nanti, tapi setelah dia dapat disingkirkan."

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, pemuda itu menjawab sembari tersenyum lembut, tanpa melihatku. Aku hanya bisa mengepalkan tanganku didepan dada, dan melihat kedua pemuda yang kukenal itu melawan orang misterius itu. Entah kenapa aku percaya pada mereka, BoBoiBoy bersaudara itu.

"Aku akan mengurusnya, lindungi Yaya!"

Halilintar memberi perintah dengan nada dingin seperti biasa. Namun saat ini aku bisa melihat mata hitamnya berubah menjadi merah menyalang, dan wajahnya lebih keras dari biasanya. Hawa membunuh darinya menguar, bahkan aku bisa merasakannya. Begitu menyeramkan sekaligus menawan. Halilintar memasang kuda kuda bertarung, ditangannya sekarang telah ada 2 bilah pedang merah dengan ukiran yang tak pernah kulihat dalam sejarah.

"Jangan mengambil milikku."

Orang itu berteriak, ditangannya sekarang bahkan terdapat sebilah sabit, dengan rantai yang panjang. Halilintar mendengus, dan Gempa semakin melindungiku protectif. Dengan menendang tanah, Halilintar melesat dengan kecepatan tinggi. Aku tak bisa lagi mengikuti pergerakannya dengan mataku, bahkan aku hanya bisa melihat siulet merah yang bergerak cepat.

Disisi lain, mata pemuda yang kutahu bernama Gempa itu, bergerak dengan cepat seolah bisa mengikuti pergerakan sang kakak. Sangat cepat, dan sangat indah di saat yang bersamaan.

Suara pedang, dan sabit itu beradu terdengar, bahkan suara gemrincing rantai itu juga terdengar. Aku tak menyangka bahwa Halilintar akan bisa melakukan semua itu. melakukan pertarungan dengan gerakan yang amat cepat, melebih manusia apapun. Ia terlihat sangat profesional saat melakukannya. Aku hanya bisa terpaku menatap pertarungan yang bahkan tak bisa kulihat. Yang kemudian, suara dentuman keras terdengar bersamaan dengan terlemparnya sesuatu yang merobohkan pohon pohon yang dilauinya.

Dia mengalahkannya, aku bisa melihat Halilintar yang memegangi topinya dengan tangannya yang tak lagi memegang pedang.

Gempa juga melonggarkan perlindungannya, wajahnya tak lagi mengeras, dan bahkan aku bisa melihat kelegaan darinya.

"Huft... Yaya, untuk yang tadi."

Aku tersentak pelan mendengar ucapan Gempa. Ia memegang bahuku, dan aku baru menyadari bahwa aku sudah diam mematung dalam beberapa menit. Aku tak tahu harus mengatakan apa, bahkan sekarang suasana terasa amat canggung. Gempa tak tahu harus mengucapkan apa, sedangkan otakku sudah penuh dengan pertanyaan hingga aku tak tahu apa yang harus kukatakan.

Lalu yang kusadari berikutnya adalah, aku terdorong kebelakang sedangkan Gempa menjadi tameng untukku. Tangannya membentang dihadapanku, dan sebilah panah cahaya menusuk tepat didadanya. Tak ada darah yang keluar, namun aku yakin ini adalah hal yang buruk.

Halilintar membeku menatap adiknya dengan wajah yang amat terkejut. Sedangkan aku segera menangkap tubuh Gempa yang roboh dalam pelukanku. Bilang panah tadi perlahan menghilang, meninggalkan lubang menganga di dada Gempa. Mata Gempa tertutup, dan ia tak melihat tanda kehidupan pada dirinya.

Tawa pelan sekaligus menakutkan dari salah satu pohon di hutan itu terdengar. Tepat ketika angin berhempus, aku melihatnya. Gadis bak boneka dengan penampilan abad pertengahan, dan senyum yang terlihat anggun, rambut pirang panjangnya berayun pelan mengikuti desir angin.

"Aku berniat membawa kalian hidup hidup, tapi aku tak sengaja. Ah... Gadis itu mengganggu semua rencanaku."

Aku? Aku mengganggu rencananya? Aku membuat Gempa mati. Apa benar Gempa mati? Karena aku? Tidak mungkin...

"G.. Gempa.. Gempaaaaa..."

Aku menangis meraung raung, meneriakkan namanya dalam kekosongan. Kau tidak matikan? Hei Gempa... Jangan bercanda. Kau masih hidup kan?

End Yaya POV

OooOooO

Hal yang tak terduga terjadi, dalam kesenangan dari kemenangan mereka. Gadis itu muncul dan mengambil kesempatan di saat yang tepat. Di saat BoBoiBoy bersaudara merasakan kemenangannya yang hanya sesaat. Ia berniat menghabisi gadis yang telah membuat Fang berubah. Namun Gempa menghalanginya. 'Ah... Gagal. Padahal aku ingin Game itu tetap berlanjut.' Gerutunya dalam hati.

Sementara itu, Halilintar hanya terpaku menatap adik yang amat disayanginya mengorbankan diri demi gadis itu.

"Alice." Halilintar menyebutkan nama gadis itu dengan suara yang amat dalam, sangat menakutkan bahkan hawa membunuh menguar dari tubuhnya lebih pekat dari yang tadi. Ditangannya sekarang telah muncul 2 bilah pedang yang lebih besar dari yang tadi.

Mata menyalangnya merah, begitu mengerikan dan sarat akan nafsu membunuh. Mengikuti emosinya, petir menyambar diatas sana. Membawa ketakutan pada penduduk desa. Taufan yang ada dirumahpun merasakan kemarahan sang kakak, dan membawa Ying untuk bersembunyi di kamarnya sedangkan ia bersiap.

Air mata Yaya tak dapat berhenti mengalir, tubuhnya sekarang bahkan bergetar. Ia takkan sanggup kehilangan Gempa. Penyelamatnya, orang tanpa sadar menjadi obat untuk hatinya. Apa kah Yaya meluluhkan hatinya untuk Gempa tanpa sadar?

Alice tersenyum anggun, merasa tak berdosa sekaligus senang melihat kemarahan 'The Red Lighting'. Ia bahkan mulai tertawa, menikmati perbuatan keji yang baru ia lakukan.

"Aliiiceee..."

Petir merah menyambar dari langit, sementara Alice menghindarinya dengan mudah. Tarian petir dan panah cahaya terjadi dilangit. Sementara Halilintar mulai menyerangnya membabi buta. Pedang dan busur saling beradu, mencoba untuk mengalahkan satu sama lain. Panah panah cahaya yang mengarah pada Gempa, dan Yaya terbelah oleh pedang Halilintar.

Alice tertawa senang, masih tetap menari bersama Halilintar membawanya dalam pertarungan hidup dan mati. Ia sangat menikmati pertarungannya dengan pemuda yang dulu selalu bersamanya. Yang diajaknya untuk bertarung merebut wilayah vampir lain. Pemuda yang dibawanya menuju salah satu vampir yang ditakuti. Pemuda yang menjadi salah satu boneka favoritnya.

"Kau sangat hebat, Halilintar."

Pujian Alice tak di gubris oleh Halilintar. Masih terus menebas Alice tanpa jeda, dengan kecepatan yang tak akan bisa ditangkan manusia biasa. Kecepatan kilat, melawan kecepatan cahaya. Terus menari, meski langit telah mengamuk diatas sana. Menyambarkan petir ke segala arah, di hutan itu.

Siang yang tadinya cerah, berubah menjadi badai dadakan karena kemarahan Halilintar. Halilintar terus membelah setiap panah cahaya yang di tembakkan kearahnya. Hingga Alice telah kehilangan tenaganya untuk bertarung.

Ia berdiri, dengan masih mengarahkan busur nya pada Halilintar. Sementara di belakangnya, Fang telah berdiri dengan bayangannya yang siap untuk memulai kembali pertarungan.

"Saatnya kembali Alice."

"Jangan pernah berharap kau bisa kabur dariku, jalang."

Halilintar menggeram murka, melihat hal itu, Fang membuat banyak monster dari bayangannya mengelilingi Halilintar. Mencoba untuk membuat Halilintar tertahan, dan tak menghalangi mereka pergi.

Monster monster itu menyerang Halilintar, dan tentu saja ia segera menebas semua monster. Ia tak dapat lagi melihat Fang, dan Alice karena banyaknya monster yang harus dilawannya. Namun hal yang ia lihat terakhir kali adalah Alice yang menyeringai padanya dan bibirnya bergerak mengatakan 'Kita akan bertemu lagi, Halilintar.' , sebelum menghilang memasuki hutan.

"Akan kupastikan kau mati, Alice." Teriakkannya menggema di hutan itu.

OooOooO

Perasaannya semakin tak enak, Taufan yang selama ini selalu ceria, wajahnya mengeras penuh kekhawatiran. Tak pernah sekalipun ia melihat kakaknya marah hingga membuat satu kota di selimuti awan hitam yang menggelegarkan petir petir merah. Pasti terjadi apa apa disana. Taufan yang tadi memilih tidak ikut karena percaya pada kakaknya, mulai merasa menyesal.

Taufan menginjak gas dalam dalam pada mobil sportnya. Melewati jalanan yang sepi karena mereka memilih untuk tak keluar mengingat cuaca yang tiba tiba berubah. Ia membelokkan mobilnya tanpa mengurangi kecepatan, dan melewati jalan setapak hutan yang seharusnya tak dilewati mobil sekelas miliknya. Namun ia tak peduli, keselamatan saudaranya lebih penting dari apapun. Ia sudah membawa persediaan darah terakhir mereka, takut takut ada yang terluka.

Mobilnya berputar, tepat ketika ia menginjak rem sedalam mungkin, saat ia melihat gadis yang pernah dilihatnya tengah menangis meraung raung memeluk pemuda yang amat di kenalnya.

Hati Taufan mencelos, kakinya tak sanggup lagi menahan tubuhnya, hingga ia terduduk di tanah. Pemuda yang amat disayanginya, yang selalu menjadi rem bagi kakak dan dirinya. Yang selalu melerai mereka jika ia mulai mengusili kakaknya. Yang tersenyum lembut kearahnya. Yang tegas sekaligus penuh kasih sayang terhadapnya. Taufan hanya bisa terpaku menatap nanar dada pemuda itu berlubang menganga.

"Gem... pa... Mustahil."

Bibirnya bergerak menyebutkan nama pemuda itu, sementara Yaya sama sekali tak bergeming dan terus menyebutkan nama pemuda itu berulang kali berharap akan membangunkannya.

"Apa yang terjadi?"

Taufan melirik pada Halilintar yang baru kembali, bajunya compang camping tanda ia baru saja menjalani pertarungan yang sengit.

"Kak Hali..."

"Kita harus segera membawanya." Ucap Halilintar tegas. Matanya masih di penuhi sorot kemarahan, meskipun ia sekarang bisa berfikir lebih jernih.

"Kemana?" Ucap Taufan yang saat ini matanya tak lagi menunjukkan sorot keceriaan.

Ia segera mengangkat Gempa dan membawanya ke mobil, diikuti Yaya, dan Taufan. Dan detik berikutnya, mobil itu melaju kencang keluar dari kota itu berharap membawa Gempa kembali terbangun, dan menjadi bagian dari kehidupan mereka lagi.

To Be Continued

/Natap horor kelaptop/

Ya tuhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnn... kenapa jadinya beginiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii?

Oke Saya mulai lebay #Dilemparkelautsamareaders

Pertama, saya akan menjelaskan bahwa ini sangat berantakan, dan lebih pendek dari yang kemarin.

Ampunilah hambamu iniiiiii

Pertama tama, saya mengucapkan terimakasih bagi pembaca, dan readers. Maafkan karena tulisannya masih sangat berantakan.

Maaf ada yang pakek 'Aku' kemarn, soalnya kebiasaan pakek sudut pandang 1.

Maafkan karena nggak bisa update kilat. Dan romancenya pelan pelan ya. Author nggak bisa bikin romance (Tapi maksa) #Dihajar, kalau persediannya darahnya sedikit, mereka bakal cari di rumah sakit, rumah sakit kan? '-' dan untuk masuk di sekolah manusia biasa, itu karena mereka ingin kamuflase aja. Biar nggak ketahuan, kan aneh ada anak 3 nggak sekolah dirumah terus. Mereka juga pindah pindah kok.

Oke selesai... entah gimana dan kapan lanjutnya nanti. Maafkan atas keterlambatan Author, karena Author memang lambat.

So... See you next chapter ^^