Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Jangan Pernah… © Haruno Aoi
Warning: AU, OOC, TYPO(S)
Akhirnya hampir ke chapter akhir. Pasti sudah pada bosan ya sama fic sinetron banget ini. Terima kasih karena sudah bersedia membaca dan mereview fic-fic nyinetron saya… Y_Y
.
.
.
.
.
~oOoOo#0#oOoOo~
.
(10) Jangan Pernah Meninggalkanku Lagi…
.
Sasuke bisa merasakan kehadiran orang lain di kamarnya. Namun, matanya masih terlalu berat untuk dibuka. Rasa capai yang menumpuk sejak bolak-balik Tokyo-Yamaguchi selama pernikahan Itachi, mengharuskannya untuk lebih banyak beristirahat. Apalagi semalam ia begadang untuk menyelesaikan salah satu dari tugas kuliahnya yang bagaikan mati satu tumbuh sepuluh ribu. Berlebihan, tetapi biasanya Sasuke memang cukup keteteran bila dalam satu minggu mendapatkan bermacam tugas dari dosen berbagai mata kuliah yang ditempuhnya.
Dahi Sasuke mengernyit merasakan sinar terang menghujani wajahnya. Setengah sadar ia tahu bahwa ada seseorang yang membuka tirai jendelanya tanpa diminta. Sekali lagi, ia masih terlalu mengantuk untuk bangun. Ia membalikkan tubuhnya ke sisi lain yang membelakangi arah datangnya cahaya dan berniat kembali menyelami alam mimpi. Sayangnya niatnya digagalkan oleh rasa aneh yang menyerang pipinya, salah satu pipinya terasa ditarik-tarik.
"Hari ini aku kuliah siang," gumam Sasuke setengah mengigau, "jangan bangunkan aku sepagi ini…"
"Tuan Muda harus sarapan bersama Tuan dan Nyonya Besar di meja makan."
Suara perempuan itu malah terdengar seperti nyanyian pengantar tidur di telinga Sasuke. Pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya pada guling.
"Sasuke-kun…"
Sasuke membuka matanya lantaran suara halus itu seolah membelai indera pendengarannya. Ia membalikkan tubuhnya dan seketika menemukan seorang perempuan berseragam maid hitam tengah memandangnya sambil membungkuk dengan kedua tangan menumpu di lutut. Rambut indigo panjang itu, mata lavender itu, senyum lembut yang dihasilkan bibir tipis itu. Hinatanya memang sudah kembali. Dengan berlatarkan sinar mentari yang memasuki kamar, gadis itu terlihat seperti seorang bidadari.
Sepulang dari Yamaguchi, Hinata kembali bekerja di kediaman Uchiha. Sebenarnya Sasuke mengajak Hinata untuk tinggal di rumahnya tanpa harus menjadi pelayan pribadinya seperti sebelumnya. Kedua orang tuanya pun tidak keberatan atas segala keputusannya. Namun, Hinata bersikeras menolak jika diizinkan tinggal tanpa melakukan apapun. Apalagi orang tua Sasuke sudah berbaik hati untuk mendatangkan tenaga pengajar untuk menambah wawasannya.
Tanpa banyak kata, Sasuke mencuri sebuah ciuman sebelum melangkah ke kamar mandi. Ia tersenyum miring mengingat wajah merona Hinata yang sekilas dilihatnya seusai menjauhkan wajahnya. Gadis itu berhasil menorehkan warna indah di hidupnya yang semula datar dan monoton. Selain itu, Hinata telah menghapus rasa kesepiannya, apalagi setelah Itachi mendiami sebuah rumah di dekat panti asuhan yang dikelola oleh istrinya.
.
.
.
Sasuke sedang mengemudikan mobilnya memasuki halaman kediamannya ketika Hinata berjalan berlawanan arah dengannya yang baru pulang dari kampus. Ia melirik jam tangannya, memang sudah di luar jam kerja Hinata. Tetapi, tidak biasanya kepala pelayan menyuruh gadis itu untuk berbelanja di sore hari. Apalagi sudah ada pelayan lain yang bertugas membeli segala keperluan keluarga Uchiha sekaligus para pekerjanya.
Pemuda itu menghentikan mobilnya di tengah perjalanan menuju garasi. Ia berlari mengejar Hinata yang mulai keluar dari gerbang, dan gadis itu tidak jadi memasuki sebuah taksi setelah mendengar panggilannya.
"Mikoto-sama sudah memberikan izin padaku untuk pergi ke Akihabara," ujar Hinata tenang begitu Sasuke berdiri di dekatnya.
Sasuke mengerutkan kening dengan pandangan menyelidik. Sepertinya tidak mungkin Hinata mendapatkan perintah untuk membeli barang atau suku cadang elektronik di sana. Keluarganya sudah berlangganan dengan toko elektronik tertentu, dan biasa memesan barang apapun yang dibutuhkan atau diinginkan tanpa harus mendatangi langsung lokasi penjual. Setahunya, Hinata juga bukan seorang otaku yang akan menganggap kawasan tersebut sebagai surganya. Kecuali jika Hinata akan bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah maid cafe. Jujur saja Hinata sangat cocok mengenakan pakaian maid.
"Apa yang akan kau lakukan di sana?"
"Menemui seseorang," jawab Hinata santai.
"Siapa?" desaknya.
"Sai-san."
"Sai-san," Sasuke menirukan logat Hinata dengan jengkel. Tentu saja ia tahu siapa Sai yang dimaksud oleh Hinata. Pria itu adalah Hyuuga Sai, seorang arsitek terkenal yang dikagumi oleh Sasuke sebelum pemuda itu melihat Hinata berdansa dengannya di resepsi pernikahan Itachi dan Konan. Sejak duduk di bangku sekolah menengah, pria itu menjadi salah satu alasan bagi Sasuke untuk menuntut ilmu di fakultas teknik, tepatnya di jurusan arsitektur. Tetapi, entah mengapa rasa kagum itu menguap begitu saja bersamaan dengan kecemburuan yang dirasakannya. "Biar kuantar," pintanya yang terdengar seperti perintah.
"Tidak perlu," tolak Hinata sembari melirik arloji di pergelangan tangan Sasuke. Sepertinya ia akan sedikit terlambat. "Aku akan naik taksi ke Stasiun Tokyo. Dengan kereta, mungkin dalam lima menit aku sudah sampai di Akihabara. Lagipula, cafe yang disebutkan oleh Sai-san mudah dicari, katanya paling dekat dengan Stasiun Akihabara…"
Sasuke mendengus bosan. "Tunggu di sini." Tanpa menunggu balasan, ia sudah kembali ke mobilnya dan memutar arah menjauhi garasi. Ia juga tidak meminta persetujuan Hinata ketika memasukkan gadis itu ke mobilnya. Dengan kata lain, ia memaksa.
.
.
.
Hinata dapat menemukan Sai begitu memasuki lantai satu gedung Yamanaka. Sai pun langsung menyadari kehadirannya dan melambaikan tangan dengan ramah. Pria itu duduk di kursi yang paling dekat dengan jendela kaca, dan mudah ditemukan di tengah cafe yang kebetulan sedang lengang.
Bagus, sekarang pasti Sasuke bisa mengawasi setiap gerak-geriknya dari dalam mobil hitamnya. Apalagi bagian depan cafe milik keluarga Yamanaka ini hanya dilapisi kaca bening yang tebal, sehingga seluruh isi cafe dapat terlihat dari luar sana.
Setelah mengucapkan salam, Hinata menduduki kursi di seberang Sai. Kali ini ia tidak lupa untuk membawa saputangan pria itu dan langsung mengembalikannya sebelum ia terlupa lagi. Pria itu menawarkan untuk memesan sesuatu, namun ia cepat menolaknya secara sopan dengan alasan diburu waktu.
Melihat Hinata yang seperti ingin segera meninggalkan tempat duduknya, tanpa basa-basi Sai meletakkan selembar foto usang di meja, yang kemudian didorongnya mendekati gadis bermata pucat itu. Ia dapat menangkap ekspresi bingung Hinata atas tindakannya. Mungkin Hinata juga bingung melihat wajah-wajah yang masih asing baginya, kecuali jika ia pernah menonton suatu tayangan di televisi yang menampilkan Hyuuga Hiashi.
"Saya yakin Anda adalah Hyuuga Hinata."
Ekspresi Hinata sukar dibaca sebelum terkesiap dan memahami arah pembicaraan Sai. Alisnya hampir bertautan, berbagai pertanyaan bermunculan tanpa ampun di benaknya yang sibuk.
"Maksud Anda?" tanya Hinata dengan sedikit tergagap. Ia menunggu jawaban Sai dengan gelisah.
"Anda adalah putri sulung dari ayah angkat saya, Hyuuga Hiashi." Sai menunjuk gambar Hiashi menggunakan telapak tangannya, kemudian beralih ke gambar ibu angkatnya. Ia mencoba mengabaikan Hinata yang tengah terbelalak. "Beliau adalah mendiang ibu Anda."
"Tidak…" desis Hinata dengan bibir bergetar, "Tidak mungkin…" Ia menelan sesuatu yang terasa mengganjal tenggorokannya, sebelum kembali mengeluarkan suaranya, "Lelucon macam apa ini?"
"Saya bahkan tidak membutuhkan bukti dari laboratorium untuk meyakini bahwa Anda adalah bagian dari keluarga Hyuuga." Ekspresi Sai begitu datar, senyum belum sekalipun tampak di wajahnya.
Dengan perasaan yang campur aduk, Hinata berusaha menahan tangisnya. Ia bahkan belum menemukan alasan untuk menangis, tetapi air mata terasa mendesak keluar. Tangis sudah sampai di tenggorokannya, mengganjal sebagai gumpalan yang menyakitkan dan menyesakkan. Ia terkekeh getir, mengingat selama ini tidak pernah mengenal sosok orang tua kandungnya. Dan sekarang tiba-tiba seseorang yang belum lama dikenalnya, memberitahunya bahwa ia adalah putri dari orang-orang kalangan atas yang sejauh ini di antara mereka merupakan majikannya.
"Saya tidak percaya…"
Dengan itu, Hinata meninggalkan Sai dan bergegas memasuki mobil Sasuke yang diparkir di halaman cafe. Ia belum menghiraukan pertanyaan yang berkali-kali dilontarkan oleh Sasuke, dan hanya menutup kedua matanya menggunakan salah satu lengannya.
Seharusnya ia bahagia karena ternyata masih memiliki orang tua, tetapi ia malah belum bisa menerima kenyataan yang baru didengarnya. Jika orang tuanya berasal dari keluarga kaya, mengapa ia tinggal di panti asuhan sejak bayi? Sejauh yang ia ingat, ia hidup hanya dengan kasih sayang ibu asuhnya serta perhatian dari teman-teman yang senasib dengannya. Mereka adalah keluarga tunggalnya, hingga ia diadopsi di usia dua belas tahun dan tinggal bersama sepasang suami istri yang menjadikannya sebagai pelayan para keluarga kaya.
Jika ia hilang saat masih bayi, ia yakin keluarga kaya raya layaknya Hyuuga tidak akan sulit untuk menemukannya kembali. Lantas, alasan apa lagi selain ia memang ditelantarkan sejak bayi? Mungkin kehadirannya tidak diharapkan oleh keluarganya sendiri, atau bahkan malah mempermalukan mereka. Jika seperti itu, lebih baik ia tetap melanjutkan hidupnya yang seperti ini. Toh, sampai ia mengikuti upacara kedewasaan pun ia bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri, tanpa bantuan dari mereka yang disebut-sebut sebagai orang tua kandungnya.
Mungkin memang jauh lebih baik jika berpura-pura tidak pernah bertemu dengan Sai. Tetapi, jauh di lubuk hatinya, ia begitu merindukan sosok orang tua kandungnya. Selama ini ia masih berharap untuk bertemu dengan mereka yang menjadi perantara hadirnya ia ke dunia. Ia membohongi dirinya sendiri bila ia mengatakan tidak ingin bertemu dengan mereka.
Namun kenyataan yang paling menyakitkan adalah; ibunya telah meninggal. Ia tidak percaya. Ia tidak ingin percaya.
.
.
.
Malam harinya kediaman keluarga Uchiha didatangi oleh Hyuuga Hiashi yang masih membutuhkan bantuan kursi roda. Sai dengan setia mendampinginya. Ia menemukan tempat tinggal terbaru Hinata setelah memohon pada Konan agar diberitahu tentang identitas pasangan suami istri yang telah mengadopsi Hyuuga Hinata. Ia telah menemui orang tua angkat gadis itu, dan Hiashi tidak sabar menunggu hingga esok untuk mengajak putrinya pulang. Ia bahkan tidak memedulikan kondisi kesehatannya yang belum sepenuhnya membaik, dan ia juga tidak sempat untuk memikirkan tentang penampilannya. Sekarang yang terpenting baginya adalah Hinata, ia ingin putri sulungnya kembali.
Uchiha Fugaku dan Mikoto cukup terkejut dengan kedatangan kepala keluarga Hyuuga. Bagaimanapun selama ini mereka tidak mengenal seorang Hyuuga Hiashi dengan baik. Tidak seperti keluarga Yamanaka atau Sabaku yang memiliki hubungan saling menguntungkan dengan keluarga Hyuuga, anggota keluarga Uchiha yang kebanyakan berprofesi di bidang hukum jarang menemukan celah untuk berinteraksi dengan keluarga pebisnis tersebut. Namun sebagai tuan rumah yang baik, mereka memberikan sambutan hangat kepada setiap tamunya tanpa terkecuali.
Kedatangan keluarga Hyuuga cepat didengar oleh Sasuke yang tak sengaja mendengar obrolan dua pelayannya yang kebetulan berpapasan dengannya di koridor. Pasti berita tentang kedatangan keluarga terpandang itu telah menjadi perbincangan di antara para pelayannya malam ini, atau mungkin sampai besok. Ia tentu tidak mungkin lupa dengan fakta mengejutkan yang tadi diceritakan oleh Hinata sambil menangis tergugu di pelukannya. Intuisinya yang tajam membuatnya memahami akan maksud dari kedatangan kepala keluarga bermata unik tersebut tanpa harus dikatakan di hadapannya.
Sasuke membatalkan niatnya untuk memasuki kamarnya dan bergegas menuju paviliun di samping rumahnya yang menjadi kediaman para pelayan keluarga Uchiha. Ia berpapasan dengan Hinata yang mengekor kepala pelayan di jalan setapak yang menghubungkan rumah utama dengan paviliun. Tanpa bertanya pun ia tahu kemana tujuan mereka. Pasti Mikoto yang telah memerintahkan kepala pelayan agar memanggil Hinata untuk dipertemukan dengan orang tua kandungnya.
Mengabaikan kepala pelayan yang protes terhadap tindakannya, Sasuke tetap menarik Hinata menuju rumah utama. Gadis itu masih bungkam dan sama sekali tidak melakukan perlawanan. Tubuhnya ada di sana, tetapi pikirannya seperti tengah melayang entah kemana. Sasuke menaiki tangga menuju lantai dua, tak menghiraukan kepala pelayan dan dua pelayan lainnya yang berusaha menghentikannya dengan suara mereka yang bersahutan memanggilnya.
Langkahnya semakin lebar tanpa melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Hinata ketika pintu kamarnya sudah di depan mata. Derap langkah tiga orang di belakangnya terdengar semakin keras sebelum ia memasuki kamarnya, meninggalkan debaman pintu diikuti suara kunci yang diputar di lubangnya.
Suara-suara wanita itu masih terdengar untuk beberapa saat, sampai berhenti dengan sendirinya karena mungkin sudah menyerah menghadapi tuan mudanya yang keras kepala.
Di dalam kamar, Sasuke menyandar di pintu sembari memeluk Hinata, membiarkan punggung gadis itu bersandar sepenuhnya di dada bidangnya. "Tetaplah di sini…" lirihnya.
Sasuke sedikit melonggarkan pelukannya ketika merasakan tetesan air di lengannya. Tanpa memutar tubuh Hinata pun ia sudah bisa menebak kalau gadis itu sedang menangis sekarang. Ia punya alasan untuk melarang Hinata menemui orang yang mengaku sebagai ayahnya. Bukankah selama ini gadis itu baik-baik saja tanpa kehadiran mereka? Sejauh ini Hinata mampu bertahan hidup tanpa merepotkan mereka, kecuali jika mereka menghitung biaya persalinan di masa itu.
"Jangan biarkan mereka berbuat sesuka hati kepadamu…" desisnya tajam.
Sasuke mulai melepaskan pelukannya saat pintunya diketuk dari luar.
"Sasuke, biarkan Hinata menemui ayahnya…" Mikoto berbicara dengan nada memohon.
Ketukan yang ditimbulkan oleh Mikoto masih berlanjut karena Sasuke tak kunjung membuka pintu kamarnya.
"Kau yang sejak kecil terbiasa hidup bersama kedua orang tuamu, tidak mungkin mengerti perasaan Hinata saat ini…" tutur Mikoto, masih dengan suaranya yang terdengar lembut. "Hinata pasti ingin bertemu dengan orang tua kandungnya…"
Sasuke melirik Hinata yang masih menunduk, belum mengeluarkan sepatah kata pun untuk membenarkan ucapan Mikoto. Karena itu, ia memutuskan untuk tetap mengunci rapat pintu di belakangnya.
"Tidak akan pernah ada sosok yang bisa menggantikan posisi ayah dan ibu bagi anak-anaknya. Kau pun tidak mungkin bisa menggantikan peran ayah Hinata…"
Kemungkinan besar malam itu Hyuuga Hiashi harus pulang dengan tangan kosong dan merasakan perih di hatinya atas penolakan putrinya.
.
~oOoOo#0#oOoOo~
.
.
.
.
.
.
.
6 Februari 2012
Terima kasih banyak semuanya…
Kritik dan saran?
