Usia kandungan Kibum sudah menginjak bulan ke lima dan ini berarti sudah sebulan pula ia menghilang dari Seoul. Ia pergi menghindari semuanya- semua yang tidak ia mengerti. Sepulangnya dari rumah sakit, tanpa memberitahukan siapapun ia pergi secara diam-diam ke rumah kakak sepupunya yang berada di daerah Busan. Namanya Kim Jaejoong, dan suaminya bernama Jung Yunho. Bersama keduanya, Kibum merasa aman karena keduanya sudah berjanji tidak akan memberitahukan keberadaanya pada siapapun, kecuali kedua orang tuanya yang memang ia kabari sebelum ia memutuskan pergi.

Kibum berdiri di ujung balkon. Angin pantai menghembus dan membelainya perlahan. Ia memejamkan kedua matanya, membuat angin membawa pikiranya pergi entah kemana. Ia suka dengan suasana ini, suasana pinggir laut yang begitu menyenangkan. Aroma laut juga ombak yang berwarna kemerahan di sore hari membuatnya mencintai Busan.

"Bummie.. ayo makan!"

Jaejoong menyadarkan lamunanya, ia berjalan keluar lalu menuruni tangga perlahan bersama Jaejoong yang masih mengenakan apron masaknya, sesampainya dibawah, ia langsung duduk dan ikut makan bersama Jaejoong, Yunho dan anak mereka, YunJae yang berumur lima tahun. Mereka saling berengkrama, Yunjae dengan antusiasnya menceritakan hari-harinya di taman kanak-kanak. Hanya Kibum yang diam dalam makanya.

"Kibum.. apa masakanku tidak enak?" Jaejoong bertanya dengan nada ragu. Melihat Kibum hanya mengaduk-aduk nasi dan lauknya membuat Jaejoong sedikit khawatir.

Kibum menggeleng. Bukanya masakan di hadapanya tidak enak, tapi ia benar-benar tidak nafsu memakan apapun, setiap kali ia ma kan rasanya ada sesuatu dalam dirinya yang menolak- membuatnya tersiksa dan ingin muntah.

"Kibummie.. makanlah.. jika kau tidak menginginkanya, paksakan demi Aegya-mu. Jebal, apa kau mau Aegya kelaparan didalam sana? Makanlah.."

Jaejoong menatap sepupunya itu dengan setengah khawatir. Tubuh Kibum begitu kurus - dan hampir lebih menyedihkan dari pertama kali ia datang dengan keadaanya yang hancur. Seperti tulang yang dibungkus kulit. Tidak ada lagi tatapan ceria, yang ada hanya tatapan sendu yang entah kemana fokusnya. Kibum, kini menjadi mayat hidup- dengan tonjolan di bagian perutnya.

Kibum mengangguk lalu mengunyah perlahan makananya. Jujur saja, ia merindukan Siwon disisinya. Melihat Jaejoong bersama suaminya bermesraan setiap hari membuatnya kangen juga pada pria yang sudah menyia-nyiakanya dulu. Mereka begitu harmonis, Jaejoong seorang istri yang baik dan seorang guru privat piano sedangkan Yunho pria tampan dengan wajahnya yang menurut Kibum lucu seperti musang, seorang arsitek yang sedangmendapat tugas proyek besar di Busan dan membuat Yunho memboyong serta kedua anggota rumah tangganya pindah dari Seoul. Kehidupan mereka makin lengkap dengan seorang putra yang lucu dan menggemaskan bernama Yunjae, yang sekarang sedang sibuk mengunyah serealnya perlahan.

Sekian lama pergi dan menghilang membuat Kibum sadar satu hal. Ia benar-benar mengandung anak Siwon. Sebelum kepergianya, beberapa orang yang menjenguknya termasuk teman barunya, Sungmin dan Leeteuk, juga adiknya Yura, membenarkan bahwa janin yang dikandungnya sekarang adalah anak Siwon dan mereka hidup bahagia sebelumnya. Mereka bahagia- setelah kecelakaan itu tampaknya ia dan Siwon sudah berbaikan.

Hati kecilnya memang selalu mengharapkan ia kembali kepelukan Siwon. Ia tidak pernah benar-benar bisa membenci namja itu ataupun mencintainya, tapi ia sudah terlalu sakit dengan semua perlakuan Siwon selama yang ini sudah sangat keterlaluan. Kibum, selamanya tidak akan bisa melupakan Siwon tapi juga tidak bisa terlalu banyak berharap dari pria itu.

Kibum berkaca pada sebuah cermin besar di depan lemarinya, ia sudah lebih dari mengenaskan sekarang. Tubuhnya menyusut, hingga tulang dadanya terlihat menonjol. Wajahnya pucat dan tampak lingkaran hitam melingkar di kedua bola matanya yang menyisakan sorot kesedihan. Tidak ada lagi Kim Kibum yang ceria. Hanya tinggal perut yang membuncit yang makin membesar dari hari ke hari yang masih menemaninya. Aegya-nya bertumbuh dengan baik dan menemaninya di masa-masa sulit.

Ia harus bertahan—bukan untuknya sendiri tapi demi bayi di kandunganya. Ia boleh membenci Siwon, tapi tidak dengan benih yang ditanam Siwon di dalam rahimnya. Ia berhak hidup dan tumbuh... berhak merasakan belaian kasih sayangnya. Setahun setelah kehilangan anaknya yang pertama membuat Kibum hancur, belum lagi dengan perlakuan Siwon setelahnya dan kehidupan mereka yang complicated. Tapi sejak ia mencoba menenangkan diri dan menerima bahwa didalam tubuhnya sekarang telah berisi sebuah makhluk yang merupakan anugerah tuhan juga hadiha terindah untuknya, ia merasa bahagia.

.

.

.

Unperfect Marriage – Chapter 10

Cast : Super junior Choi Siwon, Kim Kibum (main cast), Lee Donghae and SNSD Tiffany. SiBum, KiHae, SIFanny, KyuMin and KangTeuk

Disclaimer : They belong to God and Sm entertainment, but Siwon and Kibum is belong to me!

Warning: typo(s) , genderswitch, crack pair.

SiBum is real!

.

.

.

Sementara, di tempat lain, seorang namja sedang terduduk frustasi di atas meja kerjanya. Pakaianya acak-acakan, dengan rambut mengondrong yang dibiarkanya memanjang hingga dibawah telingadan janggut serta kumis yang tidak dicukur. Penampilanya memang terkesan keren walaupun hanya terlihat dari luarnya saja, seorang Choi Siwon sudah hancur. Sama seperti Kim Kibum yang jauh disana.

Hari-harinya memburuk. Tidak ada yang bisa dikerjakanya dengan baik selain memikirkan Kibum dan Aegya dalam kandungan Kibum. ia sungguh khawatir dengan kondisi istrinya sekarang. Tidak ada lagi seorang presdir Choi yang ramah pada bawahanya atau namja dengan senyuman jokernya. Ia hanya menjadi patung di kantor- sementara dua teman yang beralih profesi menjadi badut kantor demi melihatnya tersenyum pun tidak bisa meringankan pikiranya pada Kibum.

"Arrrgggghhh shit!" makinya kesal sambil melempar setumpuk laporan yang harus ditanda tanganinya.

Seorang yeoja dengan pakaian kerjanya yang selutut berwarna pink cerah serta rambutnya yang baru saja di cat merah masuk ke dalan ruangan Siwon. Tiffany, dengan banyak sekali map-map di dalam dekapanya langsung menaruh benda itu diatas meja lalu mencoba menenangkan Siwon sambil berjalan kearah namja itu.

"Oppa.. jangan begini.." Tiffany, mencoba menenangkan Siwon dan membelai bahu Siwon perlahan. Tidak berguna. Bukanya Siwon tersenyum ke arahnya seperti yang ia harapkan namja itu malah menatapnya dengan tatapan benci.

"Pergi..."

"Tapi Siwonnie-"

"KUBILANG PERGI!"

"Tapi-"

"PERGI! KELUAR DARI SINI! GET LOST, HWANG MI YOUNG!"

Tiffany dengan langkah cepat keluar dari ruangan Siwon diiringi dengan tatapan karyawan-karyawan yang meliriknya penuh tawa saat mendengar seorang presiden Choi, orang yang katanya memiliki hubungan spesial denganya malah membentaknya terang-terangan. Sial, kepergian Kibum sama sekali tidak membantunya mendapatkan Siwon. Yang ada hanya Siwon dengan kilatan amarah yang siap meledak kapanpun dan menjadikanya sasaran empuk.

Ia juga mencintai Siwon- dan tidak tahan melihat pria yang dicintainya menderita seperti mayat hidup. Walaupun ia sedikit bersyukur tidak ada penghalang lagi untuknya memenangkan hati Siwon, tapi rasanya hati itu sudah membeku dan mengeras- sekuat apapun tiffany mencoba mencairkanya Siwon seakan makin mengacuhkanya dan sibuk dengan dunianya sendiri.

Kangin dan Kyuhyun masuk ke dalam ruangan Siwon dan terkejut sekali dengan pemandangan di depanya. Siwon menangis, hal yang sangat langka mengingat betapa kuatnya pria itu tapi yang tersisa sekarang tinggal kerapuhanya. Ruangan itu benar-benar acak-acakan dengan kertas-kertas yang berserakan serta kopi kalengan dan puntung rokok dimana-mana. Tidak ada lagi Siwon yang memuja hidup sehat dan gila fitness, ia benar-benar terpuruk ke dasar jurang kali ini.

"Hyung, uljima.." Kyuhyun mencoba menenangkan Siwon sambil mati-matian menahan tawanya, dasar Evil, dalam pikiranya rasanya Lucu sekali, pria yang biasanya terlihat kuat menitikkan air matanya. Sementara Kangin memberikan deathglare kearahnya agar tidak tertawa.

Kangin memandang sebuah foto yang berada di genggaman tangan Siwon. Foto Kibum sedang tersenyum dan memeluk Siwon dengan hangat yang diambil beberapa hari sebelum Kibum masuk rumah sakit.

"Siwonnie.. jangan begini terus, kami akan membantumu mencari Kibum, kamu jangan khawatir. Sekarang, apa perusahaan sudah tidak penting lagi untukmu?"

"..." Siwon terdiam

"Ayolah Siwon.. kita akan mencarinya bersama.." Kangin memungut selembar demi selembar laporan yang terjatuh dilantai, lalu membiarkan Kyuhyun menyusunya dan meletakkanya lagi atasa meja kerja Siwon.

"Hyung, kau bahkan tidak memakai dasimu dengan baik"

Kyuhyun berjalan dan membetulkan letak posisi dasi Siwon yang terlihat miring. Siwon tersiksa, tapi bukan saja Siwon yang tersiksa, Sungmin juga tersiksa sekali, istrinya yang akan melahirkan itu dirumah juga selalu menanyakan kabar Kibum. Sungmin juga sangat merindukan sahabatnya itu, Leeteuk juga. Banyak sekali orang yang merindukan Kibum walaupun pastinya Siwon-lah yang paling menderita.

"Untuk proyek Busan.. kalian saja yang pergi kesana"

"Apa?"

Proyek itu akan dilaksanakan minggu depan. Sebuah proyek pembangunan resort cabang yang akan dibangun ditepi pantai dengan masterplan yang fantastis. Tidak mungkin diwakili dengan mereka berdua, proyek itu, seharusnya akan ditangani langsung oleh Siwon.

"Tapi, Hyung, aku tidak bisa. Sungmin membutuhkanku mengingat sebentar lagi sudah tanggalnya ia melahirkan..."

Kyuhyun menolak terang-terangan. Tidak mungkin ia meninggalkan istrinya sendirian dirumah dengan keadaan genting begini. sebentar lagi, mereka berdua akan menyambut kedatangan malaikat kecil dan ia tidak akan menyia-nyiakan momen berharga ini demi proyek kantornya. Lebih baik dipecat daripada ia tidak bisa menemani istrinya melalui proses sakral.

"Baiklah Kyu.. aku mengerti" Jawabnya perlahan sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"lalu, bagaimana denganmu, Kangin Hyung?"

"Aku hanya bawahanmu Siwon, kau tetap harus kesana. Bagaimana kalau begini saja, kita yang pergi kesana? Aku akan menemanimu, lagipula Leeteuk pasti mengerti disaat seperti ini kau membutuhkan teman disisimu"

"Baiklah..." Siwon menghembuskan nafasnya sambil menerawang jauh.

~SiBum~

One year Ago

"Ayo kita bercerai"

"Cerai? Choi Kibum! yang benar saja!"

Siwon menatap Kibum yang menyodorkan beberapa berkas-berkas didepan mukanya. Wajah itu tidak terlihat main-main, Kibum serius dengan ucapanya. Siwon sering mendengar bahwa sesaat sebelum meninggal, seluruh kehidupan seseorang melintas dalam benaknya. Ia baru tahu kalau itu berlaku juga bagi kehidupan pernikahan. Bayangan saat ia berjanji diatas altar sehidup semati dengan Kibum, bayangan janjinya pada gadis itu akan membahagiakanya selamanya, raut wajah bahagia kedua orang tuanya saat tahu Kibum mengandung.. semuanya terangkum menjadi satu dan membuatnya menahan diri untuk tidak menyentuh surat gugatan Kibum.

"Apa Donghae sudah mempengaruhimu, hah? Jawab!" bentak Siwon. Didalan dirinya, seolah ada sesuatu yang tidak membiarkanya langsung memeluk dan bersujud di depan Kibum agar mereka tidak bercerai. Ego-nya sudah terlalu tinggi sekarang.

"Tidak, aku sadar dengan keputusanku, aku benar-benar tidak mabuk dan tidak dengan obat-obatan" Jawab Kibum tenang namun perlahan wajahnya memerah, bulir-bulir air mata mengalir dari dua bola matanya dan terasa sangat menyiksa Siwon.

Kibum menitikkan air matanya lalu berkata terisak "Aku mencintaimu, tapi aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini, bisakah kita berpisah saja? Kau dengan kehidupanmu dengan Tiffany dan biarkan aku pergi"

"Pergi? Maksudmu kabur dengan Donghae lalu menikah dengannya diam-diam, begitu? Silahkan! Aku tidak perduli!"

Siwon berjalan keluar kamar lalu pergi ke kantor dengan rasa kesal luar biasa. ternyata, semudah itu Kibum meminta cerai darinya, pada akhirnya, pernikahan yang mereka dasari atas cinta lama malah hancur berantakan- semudah ini mengakhiri kisah cinta yang sudah dibangun dari SMA. Siwon dan Kibum akan tutup buku sebentar lagi.

"Apa.. keputusanku salah?"

Kibum masih diam. Tidak bergeming dan duduk diatas kasur sambil menahan tangisnya agar tidak tumpah lagi. Perlahan ia menutup pintu kamar yang dibiarkan Siwon terbuka saat namja itu keluar. Tidak ada yang harus disesalinya, semua murni keinginanya bukan? Tapi mengapa air mata tidak bisa berhenti mengalir? Rasanya semakin deras dan menyiksa.

Siwon mungkin sudah berubah menjadi sosok mengerikan sekarang, tapi dulu, pria itu pernah mengisi hatinya. Sekalipun sikap Siwon sudah berubah tetap saja ia masih mengharapkan pria itu berlari kembali pulang dan memeluknya hangat. Memintanya jangan pergi, mencegahnya mengajukan gugatan cerai itu. Entahlah, ia kecewa. Pada Siwon tentunya. Tidak ada kalimat maaf untuknya dan membuatnya semakin yakin untuk meninggalkan Siwon sekarang, rasanya ia ingin sekali melupakan sosok itu dan memulai hidup baru tanpa Siwon disisinya lagi. Jika perlu ia ingin mengulang waktu- menghindari takdir yang begitu menyakitkan dan membuatnya tersiksa.

End of Flashback.

Perjalanan menuju Busan tidak menyenangkan, apalagi untuk Siwon yang memang sedang kacau. Ia tidak berhenti-berhenti merokok, sesuatu yang jarang sekali dilakukanya dalam keadaan kacau sekalipun. Tapi kali ini, sosok bertubuh atletis itu bahkan menghabiskan dua bungkus dalam kurung waktu beberapa jam saja.

Mereka berhenti sejenak disebuah pom bensin dipinggiran jalan. Selagi mengisi bensin keduanya mengistirahatkan diri sejenak dan makan siang disebuah restoran yang letaknya diseberang pom bensin.

"Siwon, pesan apa?" Kangin menguncang-guncangkan tubuh Siwon yang pikiranya entah kemana itu. Refleks Siwon menoleh kearahnya sambil menaruh sebatang rokok yang masih menyala disebuah asbak.

"Sama denganmu saja, Hyung" Jawabnya singkat.

Selagi menunggu makanan datang dan Kangin yang sibuk memberi kabar pada Leeteuk, Siwon memperhatikan keadaan sekitar. Sepertinya pengunjung restaurant itu rata-rata orang yang dalam perjalanan, sama sepertinya.

Sepasang wanita kira-kira tiga puluh tahunan masuk – menggunakan mantel kulit dan tubuhnya yang terlihat pucat dan sayu. Ia sedang hamil, mengingatkanya pada Kibum. dibelakangnya, terdapat seorang namja yang diasumsikan Siwon sebagai Suaminya, perlahan turun dari sebuah motor dan menggendong sebuah tas besar. Sang wanita mencarikan kursi lalu berjalan perlahan dan memesan makanan sementara suaminya malah sudah sibuk dengan handphone digenggamanya dan bersikap acuh tak acuh.

Ia jadi teringat Kibum, bagaimanapun, mungkin kandunganya sudah sebesar wanita itu. Apakah ia masih muntah-muntah? Apa Aegya mereka masih jago menendang? Apa sudah ada kemajuan lain? ia penasaran. Kalau bisa pergi ke paranormal ia pasti akan pergi ke sana lalu mengirimkan jimat dimanapun Kibum berada. Sayangnya, ia seorang pria dengan kadar rohani yang cukup kuat dan tidak mungkin tentunya ia melakukan hal bodoh seperti itu.

Kembali ke wanit tadi—setelah memesan makananya, dengan susah payah ia berjalan kembali ke mejanya dan suaminya, sambil menenteng nampan berisi makanan cepat saji juga dua gelas cola. Rasanya Siwon ingin berjalan kearahnya, lalu membantu sang ibu hamil membawa nampan. Tidak tega dengan apa yang dilihatnya namun juga itu bukan hak-nya. ia hanya bisa menggeram melihat sang suami yang malah bersikap tidak perduli.

Seorang anak kecil tiba-tiba berlari kearah ibu hamil itu dan membuatnya kaget bukan main. Ia memekik kaget lalu terpeleset saat anak laki-laki itu tiba-tiba melintas didepanya. Ia terpeleset dengan posisi perut dibawah.

Astaga!

Siwon dengan sigap berlari kearah wanita itu, tapi ia sudah terlambat, wanita itu sudah terjatuh dan berteriak kesakitan. Sedikit takut tapi ia berusaha membantu, bersama suami wanita tersebut, ia menggotong wanita hamil itu ke sebuah kursi panjang dan membiarkannya meluruskan kakinya.

"Yeobo.. gwencana? Kau baik baik saja!?" sang pria mencoba memijit-mijit istrinya yang tengah kesakitan, terlihat gurat penyesalan dalam dirinya disertai kecemasan tingkat tinggi.

Sang istri hanya diam sambil menahan rasa sakit, bukanya marah pada suaminya ia malah tersenyum halus, seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya barusan.

"Aku tidak apa-apa.." ringisnya perlahan."Hanya jatuh.."

Siwon menghela nafas lega, syukurlah. Setelah itu ia memutuskan berjalan kembali ke kursinya yang tidak jauh dari tempat wanita itu. Namun ia bisa mendengar sayup-sayup percakapan diantara keduanya.

"Kita kerumah sakit, ne?"

"Tidak perlu yeobo... uang darimana bisa membiyayai rumah sakit? Aku tidak apa-apa.." sungguh, yang didengarnya sungguh menyayat hati. Dari sudut matanya ia bisa melihat pancaran ketulusan dalam wajah sang istri yang tidak ingin membebani suaminya, ia tahu, pasti menyakitkan sekali bagi sang istri dan berbahaya juga untuk janin yang dikandungnya.

"Kita harus kerumah sakit yeobo.. aku tidak mau ada apa-apa dengan jagoan kita.. maafkan aku yeobo, aku lalai, aku-"

Ia tertegun, dengan keadaan seperti itu sang istri masih memikirkan kondisi keuangan suaminya. Sekarang dikepalanya ia jari mengingat bagaimana Kibum selama ini, bertahan dengan dirinya yang begitu egois dan kasar. Membuatnya seakan teringat lagi segala kesalahan-kesalahan yang ia perbuat. Sikap aroganya, kata-katanya, makianya, semua seakan kembali berputar diotaknya dan membuat rasa bersalahnya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya, ia harus menemukan Kibum dan meminta maaf, ia harus melakukanya tidak perduli apapun respon Kibum.

"Ini.. untuk kalian,aku mohon, segera bawa ia kerumah sakit, sekarang." Siwon menghampiri keduanya dan memberikan segepok uang, semua yang ada di dalam dompetnya. Dengan ragu-ragu sambil mengucapkan terimakasih sang suami menelfon ambulans lalu membawa istrinya pergi ke rumah sakit.

Mendadak ia mengkhawatirkan Kibum, apakah Kibum kekurangan uang juga? Apakah Kibum tidur ditempat yang layak sama sepertinya, apa Kibum lupa meminum susu ibu hamilnya? Sungguh, Ia benar-benar hancur tanpa Kibum. ia benar-benar membutuhkan malaikat bersayap putih itu kembali lagi disisinya. Jika tidak, mungkin sampai mati ia akan menjadi sosok yang seperti sekarang, seorang Choi Siwon yang mengenaskan.

~SiBum~

Kibum terbangun ketika bayinya menendang. Setelah sekian lama hati kecilnya ketakutan setengah mati dengan perutnya yang tenang bahkan terasa hampa. Syukurlah, aegya-nya baik-baik saja. Sejujurnya, ia tidak pernah bercerita tentang apapun kepada jaejoong apalagi Yunho jika ia merasakan sesuatu yang aneh pada kandunganya. Ia tidak mau menyusahkan keduanya, bisa tinggal disini dan tidak ada yang tahu keberadaanya saja sudah cukup merepotkan.

"Tenanglah sayang.. umma ada disini.."

Kibum membelai perutnya perlahan, lapar. Langkah kakinya keluar kamar benar-benar untuk mencari makanan apapun yang berada di dapur. Kakinya berjingkat perlahan, tidak ingin membangunkan Yunho yang ketiduran di depan TV dengan channel olahraga yang masih menyala. Dengan cepat ia membuka kulkas dan hanya ada bahan mentah-ditengah malam begini, sangat tidak sopan memasak dan membuat penghuni rumah lainya yang sedang tertidur bangun hanya karena suara bertemunya penggorengan dan sudip, bukan?

Dibawah tumpukan sayur-sayuran tersembulah satu buah apel yang terlihat sangat menggoda dengan warna merah pekat. Buah yang satu itu terlihat paling menonjol diantara tumpukan dedaunan diatasnya dan begitu terlihat menggiurkan. Well, dalam kasus ini, Kibum malah menutup pintu kulkas dengan lesu. Ia sangat SANGAT tidak menyukai buah apel, memandanginya lama-lama saja membuatnya jijik. Dulu ketika kecil suaranya bisa dibilang sangat cempreng-tidak seperti anak-anak lain pada umumnya dan membuatnya minder setengah mati. Akhirnya sang Umma, mencekokinya setiap hari dengan sebuah apel sebelum makan tiga kali sehari dan membuatya benar-benar mual. Walaupun hasilnya sekarang suarahnya tidak secempreng dulu, tetap saja seolah ia memiliki trauma tersendiri terhadap buah yang satu itu.

Kruuuk~

"Aiishh.. jjinja!" rutuknya kesal setengah mati.

Meskipun otaknya mati-matian menolak tetap saja lambungnya mulai berbicara dan meminta asupan gizi. Sudah beberapa hari ini ia tidak makan dan membuat seluruh tubuhnya lemas bukan main, pada akhirnya, sambil meyakinkan diri bahwa semua ini demi Aegya yang dikandungnya ia memberanikan diri membuka kulkas lagi.

"Ini semua untuk Aegya! Jangan kegeeran ya apel!" teriaknya pada benda mati itu. Di dekatkanya buah itu ke mulutnya sambil memejamkan mata. Ugh!

Hanya satu gigitan dan ia membuka matanya, lalu memaksakan diri lagi untuk makan. Ia benar-benar lapar sampai rasanya tidak perduli dengan apa yang dimakanya. Setelah habis tanganya kemudian mencari lagi buah itu sampai dapat di dalam kulkas. Bingo! Ada dua lagi yang tersembunyi dibalik sirup botol. Dengan rakus ia melahap semuanya lalu mengelus perutnya senang sambil tersenyum.

"Aegya! Kau benar-benar bisa memaksaku makan ya, gomawo chagi"

Sementara itu, dibalik pintu kamarnya Jaejoong tertawa kecil. Syukurlah akhirnya ia melihat Kibum tersenyum meskipun hanya karena apel dan bayinya.

~HaeBum~

"Sudahlah jangan bertela-tele! Aku tidak suka itu!" donghae berteriak pada penelfon yang tidak diketahui siapa. "Tolol! Ini sudah ketiga kalinya kalian gagal menemukanya, apa kalian tahu? Rugi sekali aku menyewa amatiran seperti kalian!"

Ia membanting handphonenya kesal. Sudah sebulan dan ia bahkan sama sekali tidak menemukan keberadaan Kibum sama sekali, yeoja cantik itu kabur setelah dinyatakan sehat oleh tim medis. Hilang begitu saja tanpa jejak sama sekali. Tidak bersama Siwon atau kembali pada orang tuanya dan membuatnya khawatir setengah mati hingga terus-terusan membuatnya tidak konsentrasi di kantor.

"berpengalaman apanya? Cih. Mencari wanita hamil saja tidak bisa! Sialan! Oh Kibum tolonglah! Jangan membuatku khawatir lagi, pulanglah!" teriaknya entah pada siapa

"Sial Sial Sial!"

Ia seolah sudah tidak perduli dengan apapun lagi. Rasanya ia ingin berlari keluar dan mencari Kibum kemanapun-tapi perusahaanya sedang mendapat sorotan dari media untuk sebuah produk yang akan diluncurkan beberapa bulan lagi sehingga ia harus menjaga sikapnya dengan sebaik mungkin dan membuatnya harus bekerja ekstra lebih keras demi jabatanya sekarang.

"Kibum, sebenarnya kamu dimana?"

Ia mengacak rambutnya sendiri, frustasi. Jika saja yeoja itu bersama suaminya tentu saja hatinya sedikit lega, tapi, nasib setelah menyewa orang untuk mengawasi Siwon ternyata namja itu sama saja sepertinya- sama-sama kehilangan Kibum. dan kini mereka hancur bersama tanpa Kibum.

Ia merindukan senyuman manis Kibum, rindu dengan air wajah Kibum yang tenang, rindu dengan sikap diamnya yang selalu membuatya penasaran makin membuatnya jatuh hati, Donghae mengepalkan tanganya kuat-kuat, menahan diri untuk tidak menghantam meja kerjanya sendiri dengan tangan yang sudah memasang kuda-kuda.

"AAAARRRGGGHHH SIAL!"

~SiBum~

Siwon dan Kangin baru saja sampai di sebuah hotel dan mereka memutuskan sekamar bedua agar tidak membuang-buang uang kantor. Sesampainya di kamar keduanya langsung merebahkan diri dan melepas penat, sambil bermalas-malasan di kasur. Kangin baru saja keluar dari kamar mandi sementara Siwon memilih membenamkan dirinya diatas tumpukan bantal yang begitu empuk.

Kriing~

Perlahan Kim Youngwon merogoh saku celananya lalu menatap layar telefon miliknya.

"yeobseyo.. Teukie-ah? Ah aku baik-baik saja ini kami baru sampai.. ya..ya.. bagaimana anak-anak? Bisakah aku berbicara dengan mereka? Hem baiklah aku tunggu sayang... "

Siwon menghena nafas dan hanya bisa mendengar perkacapak Kangin yang begitu seru dengan kedua jagoanya. Seandainya Kibum masih ada pasti sekarang mereka sedang menghabiskan waktu berdua atau mungkin dalam percakapan hangat. Sungguh, ia benar-benar iri dengan keluarga kecil Kangin yang begitu bahagia, Leeteuk istri yang baik dan mereka memiliki dua jagoan kecil yang begitu menggemaskan. Rasanya sangat berbanding dengan kondisi keluarganya yang entah bagaimana nasibnya.

"Apakah aku mengganggumu?" Tanya Kangin yang tibatiba merasa tidak enak.

"tidak Hyung, lanjutkan saja, tidak apa-apa"

Walaupun Kangin kembali melanjutkan percakapan telefonya dengan istri dan anaknya ia sadar ia harus segera menjauh. Siwon sangat sensitif mendengar kata 'keluarga' sejak Kibum pergi, bagaimanapun juga, ia harus menghormati atasanya itu. Sungguh, ia dan Leeteuk sangat khawatir dengan Siwon yang makin tidak beraturan saja hidupnya. Mereka sudah menawarkan akan membantu Siwon dan menemaninya melewati masa-masa sulit, tapi pria dengan senyum joker itu selalu menolak- menurutnya ia bisa melewati ini semua sendiri. Tapi apa kenyataanya? Siwon bahkan tidak bisa lagi konsentrasi dalam pekerjaanya, jangankan hal yang seperti itu, hidup dengan baik saja tidak. Sungguh kasihan.

"Siwonnie, bagaimana dengan jalan-jalan keluar? Busan di malam hari sepertinya baik untuk refreshing setelah tadi kita lama di mobil" usul Kangin.

Siwon mengangguk, sebelum Mood-nya buruk lagi dengan cepat Kangin menyambar kunci mobilnya. Mereka berdua menelusuri jalanan kota Busan yang cukup ramai, maklum, ini malam minggu, dengan penduduk kota Busan yang hampir empat juta itu suasana jalanan-jalanannya memang tidak seramai di Seoul- tapi cukup membuat mobil-mobil di jalanan berjalan merayap, seperti mobil Siwon yang mengalami kemacetan.

"Wah mianhae Wonnie, sepertinya aku salah jalan" Kangin merutuki dirinya sendiri, maklum saja, ia sudah lama tidak pergi ke Busan.

"Gwencana Hyung... bagaimana kalau kita menepi saja, disana? Bagaimana?" Siwon menunjuk sebuah cafe kecil yang berada di pinggir jalan.

"Ide bagus, aku juga sangat haus"

Setelah memarkirkan mobil keduanya lalu berjalan beriringan ke cafe kecil yang dimaksud, Siwon duduk di salah satu kursi luar cafe mengingat suasana di dalam yang begitu ramai dikunjungi pasangan muda-mudi. Beberapa terlihat mencuri-curi pandang kearah mereka berdua dan cukup membuat Siwon risih.

"Kau memang begitu tampan Choi Siwon, lihat saja, mereka sampai melihat kearahmu seperti itu" goda Kangin.

"Ah tidak Hyung!" sanggahnya perlahan

"Cobalah untuk bersikap seperti dulu lagi, kau tahu? Semua orang mengharapkan kau kembali menjadi Siwon yang dulu, termasuk aku, Leeteuk, Kyuhyun dan Sungmin"

"Maaf Hyung, lagi-lagi aku tidak bisa, aku begitu kehilangan Kibum-tidak. Maksudku, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya. Aku begitu menyesal, Hyung. Semua yang telah aku perbuat padanya, tapi kenapa semuanya menjadi seperti ini? ia pergi disaat aku benar-benar mencintainya. Ia bahkan membenciku-sementara aku begitu menginginkanya. Aku baru tahu Hyung, rasanya sangat sakit ditinggal orang yang kucintai"

"Kalau begitu, kau harus hidup mandiri, jangan berlarut-larut seperti ini. ia tidak akan senang jika kau terus-terusan hidup dalam keterpurukanmu" Kangin menarik nafas."Aku tahu, ia masih sangat mencintaimu, mana mungkin ia akan melupakanmu begitu saja? Dimanapun ia berada, seorang istri akan selalu mengawasimu dari jauh, percayalah padaku Choi Siwon, ia juga sama tersiksanya sepertimu"

Siwon menoleh "benar begitu, Hyung?"

"Tentu saja"Kangin mengangguk mantap. "Sekarang, hiduplah dengan baik, cobalah menata kembali semuanya dan tetaplah mencarinya, apa kau mau bertemu dengan istrimu dengan keadaanmu yang sekarang? Dengan Siwon yang berantakan seperti ini?"

Sementara, tidak jauh dari sana, disebuah tempat kursus piano yang letaknya bersebrangan dengan kedai kopi tadi seorang yeoja sedang memainkan tuts-tuts piano. Jarinya cukup lincah menari sambil memainkan nada-nada indah. Sorot matanya hampa dan kosong—seolah kehilangan keceriaanya, perlahan nada-nada indah itu berubah menjadi nada kesedihan yang teratur, seolah menceritakan isi hatinya.

"Bagus sekali, Kibummie" Jaejoong masuk kedalam sambil menenteng tas kecilnya, yeoja cantik dengan rambut yang terikat itu kemudian menghampiri adik sepupunya.

"Kalau kau mau, kau bisa menjadi guru piano juga bersamaku, kau tidak akan pernah bosan bermain musik bersama anak-anak, bukan?"

Kibum tersenyum manis lalu melanjutkan permainanya, hari ini rasanya mood-nya sedang baik, seharian ini bayinya menendang dengan keras dan membuatnya sedikit tersenyum. Pemeriksaan ke dokter kandungan juga hasilnya baik-baik saja, hanya saja ia harus menambah berat badanya agar aegya tidak lahir kurus nantinya.

"Aku membelikanmu sepatu ini, bagus tidak?" Jaejoong memberikan sepasang sepatu kecil dengan rajutan bunga-bunga kecil yang begitu cantik. "Tadi disekolah Yunjae ada bazzar dan ada yang menjual barang-barang rajutan untuk bayi, kupikir, ini sangat bagus jadi.. walaupun kita belum tahu jenis kelamin Aegya, anggap saja ini kado pertama untuknya"

"terimakasih Eonnie, cantik sekali" Kibum berjalan menuju meja kecil tempat ia menaruh tas-nya. dengan langkah hati-hati wanita cantik itu kemudian memasukkan hadiah itu kedalam saku tas-nya.

"Wah baiklah.. sudah malam, sepertinya lebih baik kita tutup" Jaejoong melirik jam tangan yang melingkar manis di tanganya. Sudah pukul sembilan, karena jarak tempat kursusnya yang agak jauh dari rumah mereka biasanya akan menunggu Yunho pulang dari kantor dan menjemput keduanya. setelah membereskan tempat itu keduanya lalu menutup pintu toko dan duduk disebuah kursi panjang di depan pintu.

Kibum memejamkan matanya perlahan, sejak kandunganya membesar rasanya hanya bermain piano saja sudah membuat tenaganya terkuras habis, perlahan ia mengistirahatkan tubuhnya dan bersandar ditubuh kakak sepupunya dengan manja sambil mengelus perutnya perlahan ketika Aegya menendang-nendang lagi.

Samar-samar ketika ia membuka matanya ia membayangkan sosok Siwon yang sedang duduk sambil berbincang dengan seorang namja di kejauhan. Halusinasinya sepertinya sudah cukup tinggi sekarang, apa ia begitu merindukan Siwon sampai membayangkan namja itu ada di busan?

Dalam bayanganya Siwon tampak berbeda, tidak dengan rambut jambulnya seperti dulu tapi dengan rambut yang terlihat berantakan dan janggut-janggu halus yang tidak dicukur, aneh sekali. Ia tidak pernah melihat Siwon seperti itu sebelumnya, tapi perlahan sosok itu memelalakkan matanya ketika tidak sengaja menoleh kearahnya.

"Kibummie!" pekiknya dari jauh sambil menatap kearahnya.

Dan saat itu juga Kibum sadar-ia tidak sedang berhalusinasi, pria itu memang ada diseberang tempatnya duduk.

TBC

Mohon maaf saja baru bisa posting chapter ini sekarang ya chingggguuuuu mian mian^^

Duh galau Smtown, adakah diantara reader yang menonton? Tolong sampaikan salam saya ke Siwon oppa ya, orang tua saja tidak mengizinkan nonton krn saya sudah keburu beli tiket bigbang-_- ada yang mau tuker tiket SMTOWN dengan Bigbang? Silahkan hubungi saya di (+)228b8241 *promosi pin #plak