.

Naruto Masashi Kishimoto

Warning T rated

Genres : Romance/Drama/Fantasy/Tragedy

Main Pair : SasukeXHinata

Side pair : GaaraXHinata/TsunadeXJiraiya/KakashiXSakura

Sorceress And The Knight

06001

-Starry Sky-

Danzo akhirnya menarik diri beserta pasukannya setelah tak mendapatkan apa yang dicarinya. Kepergiannya telah menorehkan berbagai kerusakan di sana-sini, juga tak sedikit dari para murid yang terluka. Tapi, dari semua itu mereka masih bersyukur karena tak ada satu pun korban jiwa dalam pertarungan tadi.

Setelah yakin keadaan benar-benar aman, para murid mulai bergerak dengan sendirinya. Mereka saling bahu-membahu untuk membereskan semua kekacauan yang ditinggalkan oleh Danzo, juga membawa beberapa teman-teman mereka yang terluka ke infirmary. Dokter Tsunade pasti akan sangat sibuk sekarang.

Berbeda dengan Tenten. Gadis itu bergegas berlari menuju ke bagian paling atas akademi. Kiba dan Naruto mengejarnya, begitu pun dengan Ino yang melihat Tenten tampak panik. Hinata juga mengekor di belakang bersama dengan Sasuke yang terpaksa ia tarik karena Sasuke terlihat tidak memedulikan Tenten.

Sesampainya di atas Tenten terlihat murung. Perlahan air matanya mulai menetes dari sepasang manik coklat tersebut.

"Semuanya…, semuanya telah hancur…, hiks…, sob…."

Ino dan Hinata segera mendekati Tenten yang bersedih. Sasuke hanya terdiam. Bahkan Naruto dan Kiba juga tak berani bicara apa-apa. Mereka tahu bagaimana perasaan Tenten saat ini. Sedih campur kecewa. Bagaimana tidak? Mereka tahu seberapa keras usaha Tenten untuk mewujudkan acara festival musik di sekolah, tapi kini semuanya hancur begitu saja.

"Tenten…." Ino yang biasanya selalu mampu berpikir positif kali ini juga tak mampu bicara apa-apa. Ia meremas sebelah pundak Tenten untuk memberikannya penyemangat.

"Maaf…, bisakah kalian meninggalkan aku sendiri…," ucap Tenten dengan nada getir.

Tanpa banyak bicara, Ino dan yang lainnya segera pergi membiarkan Tenten untuk sementara sendirian. Yah, gadis itu pasti sedang butuh waktu menenangkan dirinya sendiri dari semua kekacauan yang telah terjadi.

.

.

"Ini semua gara-gara Danzo! Semua kerja-keras Tenten jadi hancur berantakan. Lihat saja kalau aku sampai bertemu lagi dengannya akan aku hajar!" Omel Naruto baru bisa mengeluarkan emosinya yang meluap. Sejak tadi ia memang sudah menahannya di depan Tenten agar tak membuat gadis itu semakin sedih.

"Masukkan aku ke dalam daftar kalau kau berencana untuk menghajar Danzo, Naruto," timpal Kiba ikutan merasa kesal.

"Kalian berdua apa tidak bisa tenang sedikit?" Sambar Sasuke menatap malas pada Naruto dan Kiba.

"Bicaramu itu entah kenapa membuatku kesal. Apa kau sama-sekali tidak peduli dengan perasaan Tenten?" Naruto melirik sinis ke arah Sasuke yang menurutnya terlalu datar.

"Lalu kau mau aku bagaimana?" Sasuke membalas tatapan sinis Naruto dengan tatapan yang menantang.

"Berhenti bersikap arogan dan egois! Apa kau tahu kalau sikapmu itu sama-sekali tidak mencerminkan sikap seorang teman!?" Naruto tampaknya benar-benar marah. Ia menahan kepalan tangannya agar tak melayang ke wajah si pemuda raven itu.

"Aku setuju dengan Naruto. Kau tidak seharusnya bersikap demikian." Hinata ikutan menyela dan menganggap sikap Sasuke sedikit keterlaluan. "Setidaknya kau bisa sedikit ber—"

"Kau ingin aku bersimpati? Lalu memberikannya ucapan-ucapan kosong untuk membuatnya tenang?" Sasuke memotong ucapan Hinata. Kali ini pemuda itu menatap Hinata dengan tajam, ia tampak agak gusar. "Di sini kalian yang salah. Semua sudah terlanjur terjadi dan hancur. Tenten tidak membutuhkan ucapan omong-kosong. Kalau kalian benar-benar peduli padanya, lebih baik kalian melakukan suatu tindakan," lanjutnya. "Sudahlah, aku malas berdebat dengan kalian. Lebih baik aku pergi dari sini."

Sasuke bergegas turun meninggalkan yang lainnya, tanpa menyadari kalau Naruto, Kiba dan Ino sedikit tertegun, karena ini pertama-kalinya Sasuke bicara panjang-lebar. Hinata juga cukup terkejut, kemudian gadis itu tersenyum tipis.

"Hinata, kenapa kau tersenyum?" Tanya Kiba mengerutkan keningnya.

"Aku hanya merasa ucapan Sasuke tadi memberiku suatu ide," jawabnya sambil mengerling.

"Ide?" Naruto membulatkan kedua manik baby blue miliknya, pertanda kalau sang pemilik mata tengah penasaran.

"Bagaimana kalau kita membatkan Tenten sebuah konser kecili? Apa kalian setuju?" Hinata menatap semuanya dengan penuh semangat.

"Itu ide yang bagus!" Sambar Ino.

"Oke! Ayo kita bantu Tenten!" Naruto dan Kiba mengangguk setuju.


Malam harinya

Pada malam itu Sasuke terbangun dari tidurnya. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam sambil memijat-mijat keningnya. Pandangannya teralih pada sebuah jam weker kecil, menunjukkan saat itu baru pukul 8:00 malam. Yah, sepertinya tadi ia sempat tertidur beberapa saat.

'Gadis itu….,' ucapnya dalam hati sambil mengingat kembali mimpinya beberapa saat lalu.

Sasuke masih dapat mengingat gambaran singkat itu, dimana ia tengah berdiri di depan sebuah rumah menatap hujan bersama dengan gadis kecil itu lagi. Jelas terngiang dalam pikirannya, di dalam mimpi itu ia memanggil nama gadis itu, Sakura. Sasuke semakin bertanya-tanya, apakah gadis itu benar-benar Sakura? Gadis yang sempat ia temui? Kenapa ia bisa memimpikannya berulang-kali?

"Sasuke, apa kau ada di dalam?!"

Belum sempat dirinya memikirkan tentang mimpinya tadi lebih dalam lagi, tiba-tiba terdengar suara Naruto dari arah luar, memanggilnya beberapa-kali.

Sasuke mendesah pelan, dan segera bangkit dari tempat-tidurnya. Ia tahu kalau pemuda pirang berisik itu tidak akan pergi sebelum dibukakan pintu.

"Apa yang kau inginkan Naruto?" Tanya Sasuke setelah membuka pintu sambil memerlihatkan raut wajah gusar, menandakan ia agak terganggu dengan kehadiran Naruto saat ini.

"Cepat ganti bajumu dan ikut aku," perintah Naruto yang membuat Sasuke semakin tak suka dengan sikap si pirang. Tapi, sekali lagi Sasuke tak banyak berkata. Sekian lama tumbuh bersama dengan Naruto membuatnya sudah memahami watak pemuda itu. Naruto tak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang ia mau.

"Hn." Hanya satu kata ambigu itu yang terdengar dari desah napas Sasuke.

Sasuke masuk kembali ke kamar, dan dalam waktu 5 menit ia keluar lagi. Setelah mengunci pintu kamarnya rapat-rapat keduanya pergi.

.

.

Sasuke mengikuti gerak langkah-kaki Naruto tanpa banyak bertanya. Ia memerhatikan dalam diam, dan sepertinya Naruto menggiringnya menuju ke lantai paling atas. Sedikit kerutan di kening tergambar pada wajahnya, tapi lagi-lagi ia tak bertanya.

"Ayo masuk. Teman-teman sudah menunggu di dalam," ujar Naruto sambil membuka pintu lantai atas.

"HOI, TEMAN-TEMAN! AKU SUDAH MEMBAWA SASUKE!" Kali ini Naruto berteriak.

"Hei, itu Sasuke!" Tenten bersorak sambil melompat-lompat saat melihat Sasuke datang bersama dengan Naruto.

"SASUKE, CEPAT KEMARI!" Kiba yang berada di dekat Tenten ikut berteriak sambil melambaikan tangan.

Naruto berlari menghampiri yang lain, sementara Sasuke masih tak bergeming dari pintu. Pemuda itu tampak agak terkejut sambil melihat ke sekeliling. Deretan lilin berjajar rapi membentuk suatu lingkaran besar pada tengah-tengah ruangan. Pada bagian tengah lingkaran itu ada Kiba, Shikamaru, Lee, juga Tenten. Masing-masing dari keempatnya memegang alat musik, gitar, bass, saksofon, dan piano.

"Apa ini?" Tanya Sasuke sambil berjalan menghampiri keempatnya.

"Ini adalah konser kecil kami!" Jawab Tenten dengan ceria. Sasuke mengernyit. "Hinata yang memberikan ide." Tenten menunjuk Hinata yang sedang berada pada bagian sudut sedang memasang sebuah kembang api bersama dengan Naruto.

Sasuke memandang ke arah sang gadis indigo yang sedang sibuk itu. Ia tampak begitu serius dengan kembang-api besar yang sedang dipegangnya agar mampu berdiri dengan tegak. Tak lama raut wajahnya memancarkan kelegaan. Senyum tipis turut mengukir pada wajahnya.

Sasuke masih memandangi Hinata dari kejauhan sampai tiba-tiba sang target yang sedang ia perhatikan menoleh tepat ke arahnya. Dua pasang mata saling bertemu dan terkunci dalam kehangatan malam. Seukir senyum yang kali ini lebih mengembang dari yang tadi kembali menghiasi wajah Hinata.

Gadis itu berjalan dengan mantap ke arah Sasuke yang masih berdiri dan memandanginya.

"Bagaimana menurutmu? Bagus tidak?" Tanyanya setelah berdiri persis di depan Sasuke. Kedua manik lavendernya berkilat-kilat.

"Tidak buruk juga," jawab Sasuke datar.

"Hei, kalau mau memberi pujian, gunakan kalimat atau kata yang bagus sedikit!" Hinata berkelakar dengan gaya yang sedikit jenaka, tapi justru itu yang membuatnya tampak menarik.

Sesaat keduanya hanya terdiam, menikmati angin malam yang berhembus cukup kencang di atas. Sesekali rambut Hinata yang tergerai terbawa angina, bagaikan sebuah melodi, rambut itu bergerak sesuai irama angin yang meniupnya.

Tiba-tiba terdengar lantunan melodi yang begitu lembut disertai dengan dentingan piano yang seirama. Pelan namun pasti suara Ino mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan atas tersebut.

In front of me you start emitting lights and I can't see. Where are we?

"Sasuke, ayo kita ke sana!" Hinata meraih tangan dingin Sasuke secara mendadak dan menarik pemuda yang tak sigap itu untuk mengikutinya.

Among the noisy landscape, don't disappear yet.

Hinata dan Sasuke berhenti di ujung balkon yang menjadi pembatas. "Udara malam di Konoha benar-benar sejuk, ya? Berbeda sekali dengan di Sunagakure yang terkadang dipenuhi debu dan kabut," ucapnya sambil mengangkat kedua-tangannya tinggi-tinggi, menarik napas dalam-dalam.

I can't hear anymore, but I can feel your breath.

"Ngomong-ngomong, aku tak menyangka kalau Ino bisa bernyanyi dengan sangat bagus," ucap Hinata, memuji suara indah milik Ino. Sasuke menatap ke arah Hinata dengan ekspresi bingung.

Due to this suprising outcome, oh, oh, I still hope.

"Aku tidak mengerti…," ucapnya kemudian. Hinata menoleh ke arah Sasuke. "Hm…? Tidak mengerti…? Apanya yang kau tidak mengerti?" Tanya gadis itu sambil memiringkan sedikit kepalanya. Kedua-alisnya pun ikut bertaut.

I wanna be here eternally. Like this, I want to stare.

"Kenapa kalian membawaku kemari?"

"Eh? Memangnya kenapa? Itu wajar saja 'kan?" Kali ini giliran Hinata yang terlihat bingung.

I can feel you close to me, I can't be without forever.

"Bukankah kita semua berteman, dan sudah seharusnya kita saling berbagi kebahagiaan antar sesama teman? Kalau tidak mana mungkin mereka mau memanggilmu kemari."

Make this moment eternity.

"Hh…." Sasuke hanya mendengus pelan. Satu kata 'teman' kembali terbesit dalam hatinya setelah sekian lama ia kehilangan kepercayaan pada orang lain dan memutuskan untuk melakukan semua hal sendiri, tanpa tergantung pada orang lain.

A break before this battle. I want to spend my time with you.

"Mengenai ucapanmu yang sebelumnya…, aku tahu kalau sebenarnya kau peduli pada Tenten. Kau benar, karena yang Tenten butuhkan bukan hanya sekedar ucapan simpati saja, tapi juga tindakan."

Sasuke masih diam, tapi dia memerhatikan dan mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir tipis Hinata, juga bagaimana cara gadis itu berbicara.

The promise is the next time we meet. Can you hear me breath?

"Sasuke, apa kau tahu kalau semua teman-temanmu begitu peduli padamu?" Hinata berbalik kembali menatap Sasuke yang berdiri diam di sebelahnya. Pemuda itu hanya melirik sesaat ke arah Hinata.

Even the unsurprising outcome, oh, oh everyone sometimes will be touched.

"Terkadang, tidak ada salahnya kalau kau sedikit terbuka pada mereka, Sasuke. Agar semua teman-temanmu dapat mengetahui dan memahami apa yang sedang kau pikirkan dan kau rasakan…." Hinata bicara dengan nada lembut. Gadis itu seolah dapat membaca apa yang saat ini berada di dalam pikiran Sasuke.

I wanna be here eternally. At the place no one can sees us.

"Aku juga…, ingin bisa lebih mengenal Sasuke…," Sambungnya dengan wajah yang sedikit ia tundukkan hanya untuk menyembunyikan segurat rona pada kedua-pipinya yang mungkin sudah terhias di sana.

I can see you all I need untile tomorrow, I don't need help.

"Kau harus memberi kepercayaan pada kami, Sasuke…."

Maybe, this moment is just a fantasy.

'Bukankah itu hanya akan membuat kau dan yang lain saling bergantung, dan kalian tak bisa melakukan apa-apa sendiri. Itu sama saja dengan kelemahan,' ucap batin Sasuke.

I can feel you close to me.

"Kepercayaan akan membuat kita semakin kuat, jadi…." Tiba-tiba Hinata mengangkat sebelah jari kelingkingnya. Sasuke mengerutkan dahi, berpikir apa yang sedang diinginkan oleh Hinata.

Even if I can't go back to that place, this feeling is eternity.

"Berjanjilah kalau kau akan memberikan kesempatan pada kami untuk dapat mengenalmu lebih dekat, dan kami akan membuktikan, kami layak menjadi temanmu yang terbaik!"

I wanna be here eternally. I can see you are all I need.

"Ayo, Sasuke. Berjanjilah padaku." Hinata mendekatkan jari kelingkingnya ke wajah Sasuke.

At least this feeling is eternity.

Pada akhirnya, meski dengan setengah hati, akhirnya pemuda itu berkata, "hn, baiklah."

Sementara itu di sebuah lorong jalan yang gelap dan sunyi. Tampak jelas seorang pemuda berambut merah tengah berdiri sambil bersandar diri pada sisi tembok beton yang ada pada lorong tersebut. Sebelah tangannya terlihat sedang meremas dada kirinya. Sesekali terdengar ia meringis, seperti menahan kesakitan meskipun saat itu ia tidak terluka.

"Sudah kuduga…, ternyata aku memang tak bisa benar-benar melukainya…," ucapnya dengan suara getir.

TBC


A/N : Song by Utada Hikaru, Eternally

Lagu di atas seperti penggambaran perasaan Hinata dan Sasuke di sepanjang cerita, dari pertengahan sampai akhir. Ngomong-ngomong ada yang tahu FFN sedang error? Ore mau lanjutin salah satu fic ore tapi terhambat karena tak bisa baca review TT6TT