Calon Ayah

.

.

.

Sehari sebelum keberangkatan mereka menuju Daegu, tiba-tiba saja Yoongi dalam mood yang manja minta dibelai. Dia tidak membiarkan Jimin jauh darinya walah hanya 2 meter. Jimin, tentu saja senang bukan kepalang melihat tingkah imut istrinya ini. Tapi kalau harus selalu digelondoti, Jimin jadi risih juga.

Ini semua berawal dari percakapan mereka kemarin tentang pertemuan pertama mereka hingga liburan di Gwangju. Bernostalgia sambil mesra-mesraan di atas sofa. Dan berakhir dengan Yoongi yang tiba-tiba saja ngidam lagi.

"Jimin~"

"Iyaaa istriku yang cantik, manis, lembut, putih, baik hati dan mau melahirkan ini~"

Apaan sih Jimin. Garing. Kriyuk. Kres.

"Kangen Hoseok" kata Yoongi sambil merengut. Jimin frustasi lagi. Sumpah. Dia seperti mempunyai saingan kasat mata. "Hoseok lagi kerja, Yoon. Masa disuruh ke sini sekarang juga?"

"Yaudah besok, deh."

Duh. Pakai cara apalagi supaya Yoongi lupa sama Hoseok.

Heran Jimin, teman Gwangjunya itu pakai apa sih sampai istri tercintanya ini terpesona padanya?

"Aku hubungi Hoseok-nya dulu, ya. Kalau bisa aku kasih tau kamu."

"Bilang aja 'Yoongi kangen' pasti dia ke sini."

Ingin rasanya Jimin mendoakan Hoseok untuk jomblo terus. Jadi terpaksa Jimin meng-iyakan daripada harus mendengar rengekan sang istri.

Lalu Jimin mendapat kabar kalau Hoseok bisa datang ke rumah mereka hari ini setelah pulang kerja. Hoseok juga kangen Yoongi katanya, tapi tentu saja Jimin tidak akan membiarkan Yoongi tau.

"Aku harus siapin makanan buat Hoseok!"

"Gak perlu, yang. Delivery aja."

"Harus spesial dong~"

"Kamu gak lihat tuh perut?" Yoongi melirik perutnya yang benar-benar sudah besar. Tangannya secara alami mengelus perut besarnya. "Kamu gak boleh kecapekan sayangku. Ingat kata pak dokter, ya."

"Iya, deh." Meski kecewa karena tidak bisa memasakkan Hoseok, tapi Yoongi senang karena Jimin begitu perhatian padanya dan calon anak mereka ini. "Delivery, kamu yang bayar ya Jimin sayang."

Tapi Yoongi selalu berhasil mematahkan hati Jimin.

.

.

.

Sekitar pukul enam sore Hoseok datang dengan heboh dan dua kantung oleh-oleh khas Gwangju. Yoongi dan Hoseok sudah berpelukan di depan pintu dan menyatakan kerinduan mereka karena sudah lama sekali tidak berjumpa. Jimin hanya memandangi mereka tanpa minat.

"Bro, sudah mau jadi calon ayah." Hoseok menepuk pundak Jimin dengan akrab.

"Terus kapan situ jadi calon ayah juga?"

"Gampang bro! jodoh sudah ada yang ngatur, ya."

Mereka bertiga duduk di sofa ruang tengah. Yoongi bergelung manja pada Jimin tapi perhatiannya tetap pada Hoseok yang menceritakan kehidupannya di Gwangju. Hoseok hanya berbicara pada Yoongi jadi Jimin merasa jadi obat nyamuk di sini. Yoongi itu istri Jimin atau Hoseok sih sebenarnya? Hati Jimin berkata begitu.

"Jadi kamu kapan lahirannya Yoon?" tanya Hoseok. Matanya terus melirik ke perut besar Yoongi. "Dua minggu lagi kurang lebih. Besok aku sama Jimin mau pulang ke Daegu."

Mata Hoseok berbinar, "Wah, mau melahirkan di Daegu? Anak kamu jadi D Boy dong!"

"Yap! Kaya mamanya. Iya kan Jimin?" Yoongi kembali pada Jimin, dan Jimin hanya membalas dengan 'hm'.

"Yoongi, anu… aku boleh?"

"Boleh apaan?!" ini Jimin yang jawab. Hoseok tersentak kaget, matanya membulat. "Biasa aja dong. Gak usah teriak, gak usah nyolot."

"Lagi pertanyaan kamu ambigu, Hos."

"Please ya, ayah Jimin. Aku Cuma mau nanya: boleh pegang perut Yoongi gak? Aku penasaran itu perut besar isinya apa."

Jimin dan Yoongi saling melirik dengan kerutan di wajah mereka. "Ya isinya anak aku! Pegang aja deh, Hos. Gak usah banyak tanya!" kali ini giliran Yoongi yang nyolot.

Hoseok yang diteriaki pasangan suami-istrinya tidak merasa tersinggung karena dia diperbolehkan Yoongi memegang perutnya. Besar sekali. Pertama kali Hoseok melihatnya, dia kira itu balon. Hoseok mengulurkan tangannya menuju perut Yoongi. Dengan pelan dan sangat hati-hati. "Takut meledak, hehehe."

Jimin dan Yoongi hanya memutar mata mereka. Pantas saja Hoseok masih jomblo, ternyata faktornya ada pada dirinya sendiri. Begitu tangan Hoseok berhasil menyentuh perut Yoongi, matanya berbinar dan bibirnya membulat lucu. "Uh." Hoseok merasakan kulit yang kencang dan tegang. Sangat besar.

"besar banget, Yoon. Anak kamu kembar ya?"

"Enggak kok. Ini karena badan aku yang kecil jadi perut aku kelihatan besar."

Jimin jengah melihat Hoseok yang masih asik mengelus perut Yoongi. "Sudah, sudah. Nanti anak aku ketularan gilanya kamu."

Hoseok menjauhkan tangannya, raut mukanya memancarkan luka. "Sedih banget dibilang gila sama temen sendiri." Yoongi tertawa. Setelah itu mereka makan malam bersama. Yoongi memesan makanan dari restoran local dekat rumahnya. Dan tidak tanggung-tanggung, Yoongi memesan dengan porsi besar. Dan Jimin merelakan sedikit tabungannya untuk kesenangan istri tercintanya ini.

"Hoseok, aku senang kamu mamu mampir ke sini." Kata Yoongi dengan senyuman manis. "Iya, aku juga sudah lama gak main ke Seoul. Jimin biasanya ngajak aku liburan di sini, tapi sekarang dia udah sibuk sama istri dan calon anaknya. Aku jadi terlupakan. Hiks."

"Lebay, Hos!"

Yoongi kembali tertawa. Tawa Yoongi bagaikan virus yang menular karena Jimin dan Hoseok ikut tertawa juga. "Kalau baby sudah lahir kamu harus main ke Daegu, ya. Jangan lupa bawa pasangan biar gak ngiri liat kita." Yoongi mengedipkan sebelah matanya dan bergelayut manja dilengan kekar suaminya.

Hoseok keki tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya melihat pasangan saling mencintai di depannya ini. "Doakan ya. Aku juga capek sendiri terus. Pengen punya sandaran juga."

"Sama kursi bisa kok, Hos."

"Bodo."

Dan mari kita doakan Hoseok untuk segera mendapatkan pasangan. Juga untuk Yoongi yang akan melahirkan!

To be continued

.

.

Tenang. Aku bakal buat seri ini panjaaaaaaaaaaang.

See you next

©naranari