[Bonus Chapter]
Annyeong ~
Gamsahamnida kepada readers and reviewers terhormat ^^
Sarang he!
WARNING! WARNING! INI BONUS CHAPTER!
Nah, kenapa ini bonus chapter? Tentu saja karena Konflik NamJin belum selesai dan chapter ini nyempil secara tiba-tiba dan diluar keinginan semua haha #disayatNamJinShippers
Tenang, part 2 NamJin bakal nyusul, meski belum tau kapan #kalinidimutilasiNamJinShippers
Ani... begini... berhubungan Swag Rapper kita lagi Ulang Tahun ... makanya saya bikin ff ni persembahan khusus untuk Yoongi hoho ~ apalagi, apalagi ya ... Rated chapter kali ini M dan sejatinya saya belum mau bikin hubungan YoonMin sejauh itu, saya masih mau bikin Jimin itu polos, bersih dan belum terjamah (?), jadi chapter ini bisa dianggap ada hubungannya atau tidak dengan chapter2 selanjutnya ... saya lagi iseng hahaha
Btw, saya masih amatir dalam menulis smut and adegan dewasa, makanya tolong dimaklumi kalo anda kurang sreg saat membacanya hahaha ...
Dimulai dengan uke talk dulu ya haha...
Well, selamat membaca ^^
.
.
Bibir Jimin mengulum menahan sabar. Desahannya kasar namun sedikit tertahan dan satu tangan Jimin menyapu perlahan wajahnya yang barusan basah karena muncratan Seokjin.
Cepat-cepat Seokjin melap mulutnya, "maaf, Jimin!"ujarnya bergegas memberikan tisu kepada Jimin, "maaf, ya. Aku tidak sengaja. Habis, tiba-tiba saja kau berkata seperti itu."
"Gwenchana, Hyung. Gwenchana,"ucap Jimin sok bijak mengangguk-angguk paham sambil mengeringkan mukanya.
"Mianne.."
"Nah, jadi bagaimana menurutmu, Hyung?"tanya Jimin serius, "apa saja yang harus aku siapkan?"
"Eee..."Seokjin mengalihkan pandangannya dari Jimin. Jujur, dia tak tahu -lebih tepatnya masih terlalu malu- harus menjawab apa. Memang selama ini mereka saling berbagi cerita tentang percintaan masing-masing, tapi kali ini Jimin membicarakan hal yang benar-benar bersifat intim dan terlalu sulit jika harus diterangkan secara gamblang.
"Boleh tahu kapan Hyung pertama kali melakukannya dengan Namjoon-hyung?"
Mata Seokjin membulat, semakin sangsi untuk menjawab Jimin. Sekilas ia melihat raut Jimin yang serius menunggu perkataannya, membuatnya menghela napas dan akhirnya mau membagikan kisah 'dewasa' nya kepada Jimin.
Seokjin memperbaiki posisi duduknya. Kepalanya celingak-celinguk memastikan sekitar, kemudian tubuhnya dicondongkan sedekat mungkin dengan kepala Jimin. Jari telunjuknya bergerak-gerak, agar Jimin melakukan hal serupa.
"Jiminie, yang kau maksud 'pertama kali' itu,"bisik Seokjin, "benar-benar pertama kali atau pertama kali melakukannya tanpa paksaan?"
Heol! Sontak Jimin tak bisa bernapas dibuatnya. Segera ia menatap lekat wajah Seokjin, "maksudnya,"ujarnya kagok dengan raut pucat, "jadi, Hyung pernah, mustahil, jadi, Namjoon-hyung pernah memperko-mph."
Telapak tangan Seokjin langsung menutup mulut Jimin kuat-kuat, "iiiish! Jaga kata-katamu,"tekannya setengah berbisik, "bukan begitu, dengarkan aku dulu."
Jimin mengangguk pelan. Mulutnya pun dilepas oleh Seokjin.
"Kau ingat sewaktu Namjoon dan Hyosang bertengkar?"
Jimin mengangguk cepat.
"Nah, kau tahu kan, ketika itu kami belum pacaran. Namjoon melakukan itu semata-mata karena emosi dan dipenuhi oleh ehm, hawa nafsu. Karena itu aku menganggapnya bukanlah yang pertama bagi kami. Menurutku first time kami dihitung sejak pacaran."
Mulut Jimin membulat. Pipinya ikut memerah seperti Seokjin. Dunia NamJin memang berbeda, meski dulu Yoongi juga nyaris akan seperti itu.
"Jadi, kapan pertama kalinya sejak pacaran?"
"5 Maret 2013..."cicit Seokjin.
"Heol! Itu kan hari jadian kalian berdua, Hyung?"
Seokjin mengangguk tersenyum malu.
"Daebak! Jadi kalian langsung."
"Kau tahu kan, waktu itu kami sudah sama-sama dewasa..."
"Daebak... Lalu? Setelah itu bagaimana, Hyung? Ah! Ani, ketika itu bagaimana, Hyung? Tolong ceritakan detailnya, Hyung. Maksudku, setelah kalian berciuman dan telanjang. Apa, apa yang- Aw!"
Seokjin memukul kepala Jimin, "hei, tak mungkin aku menceritakannya sejauh itu kan?"
"Kan aku butuh referensi, Hyung,"ketus Jimin mengerucut lucu.
"Kau tidak butuh referensi apapun, Jiminie."
"Tapi, Hyung. Ini kan hadiah 'dariku' mustahil aku malah menyerahkan semuanya pada Yoongi-hyung."
"Nah, benar kok. Sebenarnya kau tidak usah memusingkan hal itu dari sekarang, serahkan semuanya pada Yoongi. Ketika itu aku juga belum mengetahui apa-apa, Jiminie. Jujur, kepalaku hanya dipenuhi oleh Namjoon. Dan waktu itu semuanya murni arahan Namjoon. Kau tidak lupa kejadian kalian di Jepang beberapa minggu lalu, kan? Terlepas dari hubungan kalian dan dirimu yang masih polos, apa yang kau rasakan itu wajar, Jiminie. Untuk 'pertama kali'nya, yang kau butuhkan hanyalah kesiapan batin. Dan juga fisik tentunya. Kalau soal 'ini' dijadikan sebagai hadiah, kesediaan dirimu itu sudah lebih dari cukup kan. Secara nalurinya kita memang mengandalkan kok. Bukan diandalkan."
"Kalau itu aku juga sudah mengerti, Hyung. Maksudku, apa ada tips-tips untuk memberikan kenikmatan lebih kepada dominan kita. Hyung pasti sudah banyak belajar dari pengalaman pertama sampai sekarang kan."
Seokjin terdiam. Barusan dia tidak salah dengar kan.
"Kau bilang apa tadi, Jiminie?"
"Begini, aku ingin tahu cara-cara Hyung memanjakan dan memberikan kepuasan lebih kepada Namjoon-hyung. Mungkin aku juga bisa melakukannya untuk Yoongi-hyung."
Wah. Beruntung sekali, kali ini mulut Seokjin kosong tanpa air ataupun makanan. Kalau tidak, pasti wajah Jimin kembali menjadi korban. Sejak kapan bocah polos, tidak, tidak, sejauh ini pembicaraan mereka terkadang memang menjurus ke konten dewasa, tapi tetap saja, sejak kapan dongsaeng dihadapan Seokjin ini meminta saran seperti itu?
"YA! Jiminie!"
"Wae, Hyung?"
"Aigoo! Kau diracuni siapa hha?"
Jimin menatap heran dengan raut polos, "maksudnya diracuni, Hyung?"
Seokjin menghela napas panjang, berdiri dan beranjak pergi.
"Eh? Tunggu, Hyung! Ke mana, Hyung?"
Seokjin memutar bola matanya dan tetap melangkah pergi.
"Hyuuunggg~"susul Jimin.
.
.
Klise. Tapi memang inilah hadiah terindah yang bisa Jimin berikan untuk Yoongi seorang, yaitu dirinya...
You can take me raw
.
.
"Sibuk melihat apa, hm?"
Jimin langsung mendongak.
Hiii! Yoongi-hyung! Cepat-cepat Jimin menyembunyikan handphonenya, "oh, selamat datang, Hyung,"gugupnya.
"Well, aku pulang..."
Yoongi menghempaskan diri di sofa, duduk tepat di samping Jimin. Matanya tertutup rapat pertanda letih, tapi kepalanya menghadap kekasihnya dan jemari kurus Yoongi memukul-mukul pelan bibirnya minta-
Cup
Ciuman singkat langsung Jimin berikan -sepertinya Jimin berpikir lebih cepat ketika waspada-. Sebentar Yoongi membuka mata dan tersenyum puas, kemudian merebahkan diri, menjadikan paha Jimin sebagai bantal. Kedua matanya tertutup kembali, berniat untuk tertidur.
Jimin bernapas lega. Untung saja Yoongi tidak sempat melihat apa yang sibuk ia cari di internet sedari tadi. Kalau tidak...
"Apa handphonemu sudah ada anti virusnya, Jiminie?"ujar Yoongi datar.
Sontak mata Jimin membulat lebar.
Perlahan Yoongi membuka matanya. Tersenyum simpul, Yoongi meraih telinga Jimin, "kau sadar tidak sih, lihat, bahkan telingamu ikut memerah."
Oh, Jimin langsung tak berkutik. Mengutuk dirinya yang tadi terlalu fokus -fokus malu-malu, fokus takut-takut- sampai-sampai kehadiran Yoongi terlambat ia sadari.
Yoongi mendengus. Senyumnya semakin lebar mendapati wajah Jimin yang terlihat lucu. Dan kantuknya menguar entah ke mana. Jemari di telinga Jimin itu bergerak perlahan menelusuri tengkuk, mengarahkan Jimin untuk membungkuk lebih dalam.
Bibir mereka bertemu.
Segera Jimin menutup mata seperti Yoongi. Rasa malu karena ketahuan melihat yang 'tidak-tidak' seketika terganti dengan rasa nikmat karena mulut Yoongi.
"Nngh..."
Tanpa melepas ciuman mereka secara perlahan Yoongi bangkit dan bergerak menindih Jimin Tangan yang lalu mengurung itu, pelan-pelan bergeser turun guna semakin mendekatkan tubuhnya dengan Jimin. Dua dada itu tertempel erat seperti mulut mereka.
"Nnghh..."
Sepasang lengan mengalung di leher Yoongi, jari-jari pendek itu meremas surai Yoongi, berbohong untuk menginginkan lebih. Karena nyatanya napasnya mulai terkuras habis dan lidahnya sudah kewalahan membalas lidah Yoongi.
"Haaah... haa... haahhh..."
"Jiminie, haah,"Yoongi menyapu lembut sebelah pipin Jimin, "yang lainnya sedang tidak ada di dorm kan..."
Jimin masih sibuk mengatur napas. Tapi dirinya tetap menjawab dengan anggukan lemah. Yoongi kembali menciumnya, lebih lama dan jauh lebih fulgar dari sebelumnya.
"Ngh!"
Ceruk leher Jimin dilahap Yoongi.
"Nnnggghhh!"
Sembari lima jari itu mulai menjalar ke bagian bawah tubuhnya dan perlahan masuk ke dalam boxer Jimin.
Jimin menyadari sesuatu. Cepat-cepat ia menahan tangan Yoongi, "tu, tunggu, Hyung."
"Nngh!"
Tapi Yoongi kini malah mengulum dan mengisap nipple Jimin yang masih terbungkus kaos agar pegangan Jimin melemah.
"Hy, Hyuuung... nnghh.. tunggu. Tunggu, Hyuuung... nngh..."
"HYUNG, TUNGGU!"teriak Jimin.
Semua gerakan Yoongi terhenti.
"Tunggu, Hyung...haaah"Jimin menatap lekat wajah Yoongi.
Sedetik kemudian kedua mata Yoongi mengerjap cepat, tubuhnya berangsur menjauhi Jimin lalu duduk memijak lantai, "ma, maaf, tanpa sadar aku sudah-"
"Ani!"cepat Jimin memeluk Yoongi dari belakang, "kau boleh melakukannya, Hyung..."ujarnya lemah benar-benar menempelkan wajah pada punggung Yoongi, "waktu itu sebenarnya kita akan melakukannya juga, kan, Hyung?"
"Tapi tetap saja, Jiminie,"Yoongi memutar tubuhnya, menyapu lembut pipi Jimin, "ketika itu tidak jadi kan. Sejak itu kau tidak menggubrisnya sama sekali. Lagipula setelah aku pikir baik-baik, sebenarnya wajahmu saat itu mengatakan kau belum siap kan."
"Tapi aku sudah siap sekarang, Hyung."
Yoongi meraih dagu Jimin, membuat wajah mereka hanya terpaut tiga senti, "hei, kau tahu selama ini aku sudah berusaha menahan diri, kan,"ujar Yoongi dingin, tatapannya berusaha menusuk pandangan Jimin. Sedikit kesal karena tadi Jimin menolaknya tapi sekarang malah seolah-olah sengaja mengundangnya.
Jimin menelan ludah.
"Kalau kau besikeras aku tak akan segan-segan lagi, Park Jimin."
"Tapi tidak malam ini, Hyung."
"Hha?"
"Ani... itu, ee..."gagap Jimin.
Baiklah, Yoongi sudah tak ambil pusing lagi. Dia melepas kaosnya.
"Wa! Hyung!"pekik Jimin panik.
Dan Yoongi melepas kaos Jimin.
"AKU INGIN KITA MELAKUKANNYA SAAT KAU ULANG TAHUN, HYUNG!"
Hening.
Jimin menutup erat kedua matanya, sedang Yoongi menyatukan alisnya.
"Hhaaa?"
"Aku ingin, aku ingin,"Jimin menangkup wajah kemerahannya, "aku ingin kita melakukannya untuk pertama kali tepat ketika kau berulang tahun, Hyung..."
"Hhhaa?"
"Ne... Aku berencana memberikan 'diriku' sebagai hadiah ulang tahunmu, Hyung."
"Haaah,"seketika Yoongi mendesah panjang, matanya terpicing, "aigooo, aigooo,"pangkal hidungnya dipijit-pijit, "Jiminie, jebal. Umurmu sudah berapa hm?"
"Eh?"
Yoongi langsung menggendong Jimin.
"Hyung?"
Membawa kekasih manisnya itu menuju kamar.
Jimin bertanya-tanya, namun sepertinya mulai mengerti ketika Yoongi membaringkan dan menindihnya di tempat tidur.
"Hyung?"tanya Jimin khawatir.
"Sejak kapan kita harus memusingkan tanggal hha? Aku akan menyerangmu habis-habisan malam ini."
Hiiii!
.
.
(mulai~ mulai ~ haha)
.
.
Ruang temaram itu memiliki suhu rendah. Namun dua penghuninya bukan main merasakan panas di sekujur tubuh mereka. Yang menindih semakin berkuasa dalam pertarungan sesama lidah, menakhlukkan rongga mulut itu hingga yang kalah semakin merasa frustasi dan mengemis jeda untuk sekedar mengambil satu tarikan napas saja.
Permohonan dikabulkan, ya benar, hanya untuk satu tarikan saja.
"Hah, hah, haa-"
Setelahnya dua mulut itu kembali tertempel erat dan bergerak secara sepihak. Bibir itu tlah membengkak, mengeluarkan desahan terburu setelah diserang habis-habisan.
"Hah, hah, hah, haah..."
Sorot mata Jimin menjadi sayu. Ia masih terengah dengan pikiran kosongnya. Sedang Yoongi sudah mulai menciumi, menjilat dan menggigiti lehernya.
"Nngh! Nngh! Nngh..."
Jejak kemerahan menghiasi kulit Jimin. Dua nipple nya menegang seiring dengan bertambahnya jejak itu di mana-mana.
"Nngh!"
Dua tangan Jimin mengalung di leher kekasihnya. Jemari Yoongi memelintir, sedang mulutnya mengisap secara brutal. Sepasang tonjolan di dada Jimin itu dimainkan penuh nafsu oleh Yoongi.
"Aah... aaannghhh..."erangan Jimin menjadi, "angh! Hyuuung..."
Cepat Yoongi meraih tangan Jimin, melepas rangkulan di lehernya, mendudukkan Jimin dan memposisikan punggung Jimin bersandar di dadanya. Ia yang memeluk Jimin dari belakang memasukkan satu, dua, tiga jari kirinya ke dalam mulut Jimin, mempermainkan lidah Jimin dengan itu. Sedang jemari kanannya mengarah ke bawah. Menyapu perut, paha dan berhenti pada batangan (?)Jimin yang sudah mengeras.
Falus itu dikocok. Perlahan, kemudian semakin cepat dan agresif.
"Aaah! Hheiuuung! Anngh!"
Jimin meregang. Bagian bawahnya semakin memanas, air liurnya mulai tumpah. Leher, bahu dan sebagian punggungnya sudah penuh dengan jejak gigitan Yoongi.
"Hheiuuungh..."
Tangan itu bergerak lebih gusar lagi. Dan jemari dimulut Jimin keluar. Yoongi kembali memelintir, mencubit, menghukum nipple Jimin hingga tak kalah memerah dengan bekas darinya di kulit Jimin.
"Ah! Ah! Ah!"
Bertambah cepat. Yoongi mengocok bagian bawah Jimin semakin cepat, semakin terburu semakin kasar hingga ia dapat mendengar desahan Jimin yang semakin tak teratur dan semakin menggila.
"Nnngh! Haah! Hhah! Hyung! Ah!"
"Ah! Ah! Ah! Yoon- aannnggghh..."
Cairan putih menyembur membasahi tapak tangan Yoongi.
"Hhaaah... hah, hah..."
Yoongi langsung merengkuh tubuh lemas Jimin. Napas beratnya menyapu telinga Jimin, "Jiminie... tak ada pengaman, apa tidak apa-apa melanjutkannya?"tanyanya lembut, kontras sekali dengan yang tadi. Well, meski dia mengancam akan menyerang Jimin habis-habisan, tetap saja ia tak tega jika Jimin kesakitan.
"Gwenchana, Hyuuung... haaah..."jawab Jimin lemah. Jarinya meraih kepala Yoongi, wajahnya menoleh ke belakang guna mengecup pipi Yoongi penuh sayang, "you can take me raw, Hyung..."
Sebentar Yoongi mendekap erat tubuh Jimin lalu membaringkannya hati-hati. Ia meraih bantal, menghimpitkannya dibawah pantat Jimin. Jarinya yang masih basah dengan cairan Jimin, salah satunya bergerak masuk pada lubang merah jambu yang berkedut itu.
"Nnnghhh..."lima jari Jimin mencengkram sprai dan lima lainnya, satu-satu bergantian ia gigiti untuk menahan perih dari lubang bawahnya.
"Nnnghh... Hyuuuung..."
Jari kedua dari Yoongi. Air ludahnya diteteskan di sana agar mengurangi rasa sakit Jimin.
"NNGHH!"
Yoongi menghentikan pijatan tiga jarinya, "Jiminie, gwenchana?"tanyanya khawatir.
"Hiks... Nehh..."
Sejenak Yoongi terdiam. Cairan bening mulai merembes dari kedua mata Jimin.
"Jiminie..."panggil Yoongi lembut.
"Hiks..."
"Sakit sekali, ya?"
"Hiks, gwenchana, Hyung... Seokjin-hyung bilang memang sangat sakit ketika pertama kali melakukannya, jadi aku sudah siap menahannya..."
Yoongi tersenyum simpul meski rautnya masih khawatir melihat Jimin yang sekuat tenaga menahan perih. Tiga jarinya kembali bergerak, perlahan dan sangat hati-hati membuka akses untuk dirinya nanti.
Dan Jimin semakin berjuang menahannya. Keringat dingin bercucuran dari keningnya, gigi-giginya teradu kuat, matanya memicing erat dengan alis yang terpaut tegas.
Cukup menghabiskan waktu lama, karena Yoongi sangat pengertian dan memperlakukan Jimin secara lembut dan penuh kasih. Lalu akhirnya bagian tubuh Jimin sudah cukup siap untuk dimasuki.
Yoongi mencium kening Jimin, menyibak surai Jimin dan menyapu lembut pipi Jimin, "Jiminie, aku akan masuk..."bisik Yoongi dengan suara beratnya.
Jimin mengangguk lemah. Kontras dengan jantungnya yang seakan meledak saat itu juga. Sesaat lagi Yoongi akan memasukinya. Sesaat lagi Yoongi akan menyatu dengan dirinya, "sarang he, Hyung..."haru Jimin.
"Nado, Jiminie... Sarang he. Aku sangat mencintaimu."
Yoongi mengecup singkat bibir Jimin. Kemudian punggungnya bergerak naik. Satu tangannya mengangkat satu paha Jimin, membuat betis Jimin tertumpu di ceruk lehernya. Satu tangan Yoongi yang lain, memegang batangannya, perlahan memasukkannya ke lubang Jimin.
(GYAAAAAAA! Bentar! Bentar! Saya malu banget ngetik adegan ini! GYAAAAA! TUHAAAANN Sejak kapan saya jadi semesum ini?! AW! Sakit! #ditabokreaders, okeh okeh saya lanjutin, maaf numpang lewat)
Sakit.
Padahal milik Yoongi baru bergerak memasukinya.
Sakit sekali.
Milik Yoongi mulai masuk lebih dalam lagi.
Jimin melotot. Napasnya tercekat. Sumpah. Apa tubuhnya robek sekarang.
"AARGGHHTT! Sakit Hyung! Hyuuung!"
Tetap saja Yoongi tidak berhenti.
"NNNGHHH!?"
"Tahan sedikit, Jiminie..."
"Hiks, hiks... Hy-"
"AARGGHT! Hyung!"
Pinggul Yoongi mulai bergerak.
"Aaangh! AH! AH!"
Tubuh Yoongi seketika turun begitu dua tangan Jimin hendak menggapainya untuk menahan sakit. Sepasang lengan itu merangkul erat leher Yoongi.
"AH! ANGH!"
Yoongi mempercepat temponya. Seraya menciumi mulut Jimin, telinga Jimin dan leher Jimin.
"ANNGH! AH! Hyung! Hyung!"
Air mata Jimin sudah mulai berhenti, karena rasa sakit yang sempat seolah-olah membunuhnya tadi perlahan berubah menjadi sebuah kenikmatan.
"Jiminie...hhaah..."
"Yoongi-hy, Ah! Yoongi-hyuuung..."
Milik Yoongi keluar masuk menggagahi lubang Jimin. Tempat tidur terguncang dan berderit keras.
Kaki Jimin yang memeluk pinggang Yoongi terlepas karena sekujur tubuhnya semakin menegang dan semakin terbakar.
"AANGH! AH! HYUUNG!"
Tergesa-gesa, kasar, Yoongi menyerang Jimin habis-habisan.
"AH! AH!"
Lagi. Lebih dalam lagi, lalu keluar dan masuk kembali mengoyak tubuh Jimin.
"AANGH! AH! AH!"
Rangsangan mereka menguat.
"HYUNG!"
"Jiminie."
"AH! YOONGI-HYUNG!"
"Jiminie!"
"HYUNG!"
"Jiminie!"
"HY-!? AH! AH! Aaaannnghhh! Aaaanngh..."
Perut Jimin basah karena cairannya. Dadanya kembang kempis. Tubunya lemas seketika.
Yoongi mengeluarkan miliknya. Cairan putih langsung merembes dari pantat Jimin. Dia lalu merebahkan diri tepat di samping Jimin. Jemarinya kemudian ditautkan erat dengan jemari Jimin. Yoongi tersenyum lembut, mengecup kening Jimin, "aku mencintaimu..."
Jimin menangis. Tangan lunglainya bergerak lemah merangkul Yoongi, "nado...hiks, hiks..."
"Jiminie."
"Ne?"
"Boleh aku minta tambahan ronde?"
"Eeeh?"
.
.
-END-
.
.
WAAA! GAMSAHAMNIDA YANG NYEMPETIN BACA CHAPTER GAJE INI!
HOW? HOW?
Ugh! Ga bagus ya?
Aah! Terserah! Yang penting saya mau nulis YoonMin!
Boleh curhat ga?
Terapi jantung saya tadi malam!? V App Live! Holy grail!
Nyadar ga kalo sejak Jimin muncul dia curi-curi liat dgn tatapan yang pengen bgt meluk Yoongi! Asli! Bukannya saya lho, tapi tangan Jimin itu emang keliatan gatel bgt supaya bisa megang2 Yoongi! Tatapannya itu lho! Plis Jimin, loe polos bgt sampai2 mudah bgt ngebaca niat loe!
Saoolooooohhhh! Ga kuat saya! Mana abis itu byk bgt lagi skinship mereka bdua!
Sumpah! Saya ngeliat aura di mereka itu kaya aura orang pacaran lho! Anjiiiir! Mati suri saya tadi malam!
GYAAA! Kapan mereka nikah hha!? Kapan!?
