Yup, yup, saya kembali nih! Oh ya kemaren pertanyaan saya dikacangin, tapi gak papa deh T^T *gigit jari*

AN:/ Maaf kalau kalimatnya muter-muter ataupun ada emosi yang berlebihan, itu efek dari authornya yang lagi depresi berkepanjangan. Sekarang pun masih depresi berkepanjangan (endless nih! Arghh..!). Jadi, ya lagi nungguin malaikat baik hati yang mau support saya untuk bangkit(?). Udah deh, baca aja gih #plak. Chapter ini bener-bener ngebocorin semuanya.

Oh, ya jangan lupa menominasikan fanfiksi berbahasa Indonesia untuk IFA2011yang sedang berlangsung ini, ya! (dan maaf kalau masih ada typo)

Disclaimer:

Naruto © MasashiKishimoto

Can You Feel This? © HimeUguisu

Pairing:

Itachi – Ino,

Slight:

ShikaTema (sedikit-banget-tapi), SasuNaru, ItaDei (chotto, ii?), NejiGaa, maybe NejiShion? ^^a

Summary:

Chap. 10! Dia membuatku patah hati, tapi kini semua luka itu hilang tak berbekas karena kehadiran Itachi. Jujur aku menyayanginya, namun aku takut ia akan sama dengan adiknya. B'day fic for Minami22, 22 Mei 2011, RnR please.

*#*#*#*#*#*#*#*#*#**#*#*#*#*#*#*#*#*#*

Can you feel this?

A

Naruto Fanfic

By

Hime Uguisu

Birthday Fic For

Minami22

22 Mei 2011

*#*#*#*#*#*#*#*#*#**#*#*#*#*#*#*#*#*#*

Warning!:

Di chapter ini mungkin banyak menceritakan tentang Naruto dan bagian ItaIno-nya dikit. Habisnya chapter kali ini juga akan membahas flashbackrencana-rencana Naruto. Jangan sakit mata bacanya ya.

.

.

.

Normal POV

Pagi itu seorang gadis pirang yang biasa melintas di koridor itu belum nampak juga. Tentu saja, karena gadis itu sedang menjalani masa hukumannya. Dan yang ia lakukan hanyalah berdiri di depan gerbang sekolah saat ia sudah turun dari motornya. Sambil melambaikan tangan pada ayahnya, gadis itu memasang senyum palsu. Dalam hatinya ia terus gelisah. Bingung apakah yang ia lakukan itu benar? Tak mengatakan apapun pada ayahnya dan tetap datang ke sekolah seperti biasa, diantar ayahnya sampai gerbang.

Gadis itu menghela nafas dan menurunkan tangannya saat ayahnya sudah tak terlihat lagi. Sekarang ia terdiam memandang sekolahnya, tas yang ia bawa itu bukan berisi buku pelajaran tetapi baju ganti untuknya. Dengan santai Ino melangkah semakin jauh dari sekolahnya. Bodoh memang, tapi ia memutuskan untuk ke rumah Shion sambil berjalan kaki. Kemarin malam ia sudah membicarakan ini dengan Shion. Jadi, ia akan ke rumah Shion dan menunggu Shion pulang di sana. Kebetulan orang tua Shion sedang dinas dan Shion adalah anak tunggal. Jadi Shion menitipkan kunci rumahnya pada Ino.

"Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Padahal kan jarak dari rumahku ke rumah Shion lebih dekat daripada aku berjalan dari sekolah seperti ini. Ah, sudahlah.." gumam Ino sambil terus berjalan tanpa memerdulikan tatapan heran dari siswa siswi lain yang berlalu lalang sambil berbisik tentangnya.

.

.

.

Untuk kesekian kalinya Shion menghela nafas panjang. Kalau bukan karena ada ulangan hari ini ia pasti sudah menemani Ino membolos. Lagi pula orangtuanya bisa ditelepon kalau ia ketahuan membolos. Tapi berada di kelas sendirian tanpa teman yang bisa kau ajak bicara benar-benar memuakkan. Membuat semua semangat untuk belajar menguap entak ke mana. Tubuh di sana, tapi pikiran sama sekali tak ada di sana.

"Hari ini kau tidak bisa pulang cepat juga, Naru?" suara yang sudah sangat dikenal Shion terdengar. Mata itu langsung menatap tak suka ke arah pemuda Uchiha dan Namikaze yang sedang berjalan memasuki kelas. Sasuke dan Naruto pun meletakan tasnya di atas meja mereka dan melanjutkan percakapan mereka sambil duduk.

"Iya, hari ini ada sesuatu yang ingin aku lakukan di sekolah setelah pulang," jawab Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sasuke terlihat sedikit kecewa dengan jawaban Naruto. Dan Shion, hanya diam sambil menatap dengan bosan.

"Ya sudah kalau begitu kau tidak apa-apa pulang sendiri?"

"Nanti akan kutelepon supir untuk menjemputku kok, tenang saja, Sasuke" lalu cengiran rubah itu kembali muncul di wajah Namikaze Naruto. Sasuke hanya membalasnya dengan seulas senyum tipis. Menyadari tatapan tak suka dari Shion, Sasuke pun balas menengok ke arah Shion.

"Apa? Tidak punya teman, ya? Kasihaan.." ejek Sasuke dengan nada yang dibuat sok prihatin. Shion hanya mendecih kesal.

"Lalu apa urusannya denganmu, manusia?" Tanya Shion dengan nada tak perduli. Ya, memang terkesan Shion tak perduli. Tapi sebenarnya tidak begitu, justru nada seperti itulah yang memang sengaja Shion ucapkan untuk memulai perkelahian. Naruto yang melihat itu hanya berpura-pura menenangkan Sasuke. Busuk sekali memang, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Naruto ingin sekali melihat Sasuke menjambak rambut Shion, menghajar gadis itu dan mengenyahkannya dari hadapannya. Namun apa daya? Ia sedang bermain peran di sini, ingat?

"Kau itu selalu saja sombong! Kau fikir kau hebat? Bahkan membela temanmu agar tak dihukum guru saja kau tak bisa, payah!" balas Sasuke. Shion mulai kesal dan berdiri dari bangkunya. Menggebrak mejanya dan kilatan amarah di mata violet itu tak dapat disembunyikan lagi.

"Tau apa kau soal itu? Itu semua kan gara-gara guru sialan yang pilih kasih hanya karena Naruto itu anak pemilik sekolah dan kau adalah kekasih anak pemilik sekolah! Kalian semua sama busuknya!" bentak Shion. Membuat seisi kelas hening seketika. Naruto menatap tak percaya ke arah Shion dan Sasuke terdiam bungkam. "Apa? Kenapa kalian diam? Semua manusia sekarang sudah berubah menjadi makhluk yang melakukan apapun asal mendapat uang! Menyebalkan!" Shion semakin membentak dengan kencang. Ia sudah seperti mencurahkan segala pernyataan yang sejak dulu tak dapat terucap.

"Aku benci Tsunade dan semuanya terutama kau Naruto!" dan teriakan Shion yang itu adalah yang paling kencang. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan yang tak dapat didefinisikan dengan jelas. Naruto hanya menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya.

"Aku tidak melakukan apapun, apalagi sampai menyogok Tsunade sensei! Sungguh!" ujar Naruto. Kali ini ia tidak bohong juga sih, ia kan memang tidak menyuap Tsunade sensei seperti yang mereka semua tuduhkan padanya. Shion menatap Naruto sinis.

"Penjahat tak akan pernah mengaku," Shion berucap pelan dengan penuh penekanan yang menusuk. Naruto mengepalkan tangannya.

"Shion! Kau selalu menuduh orang lain tanpa sebab yang jelas, dasar aneh!" kali ini Sasuke lah yang angkat suara. Ia membela Naruto dan merangkul pemuda itu. Menggenggam tangannya dan itu membuat Shion ingin sekali melemparkan kursi kekepala Uchiha bungsu itu. Bel pun berbunyi dan Shion mengurungkan niatnya untuk membunuh pasangan loveydovey, Sasuke dan Naruto itu.

.

.

.

Jam dinding kelas menunjukkan tinggal beberapa menit lagi sampai waktunya bel tanda sekolah telah usai berdering. Waktu yang bagi orang lain sangat terasa cepat, justru kebalikannya bagi Shion. Sepanjang jam pelajaran Shion hanya melamun karena bosan. Ini memang bukan kali pertamanya ia belajar di kelas tanpa Ino, namun entah kenapa hari ini terasa begitu berbeda. Karena ia tahu, Ino tak berada di sana karena kesalahan yang tak dilakukannya.

Saat Shion sedang asik dengan pikirannya, bel itu berbunyi. Suara bahagia yang terpendam di tiap batin siswa-siswi pun semakin berteriak kencang. Shion menguap dan membereskan barang-barangnya.

"Naruto, aku pulang duluan ya!" Sasuke sudah siap keluar kelas saat guru yang mengajar sudah pergi entah ke mana. Naruto mengangguk dan masih membereskan buku-bukunya. Sasuke memberikan seulas senyum tipis sebelum akhirnya meninggalkan ruang kelas. Shion menatap curiga ke arah pemuda pirang itu. Wajahnya tersenyum, namun kalau diperhatikan lagi senyumannya itu benar-benar mengandung unsur kejahatan yang terpendam.

"Kenapa tidak pulang dengan Sasu-koi-mu itu?" tanya Shion santai begitu melewati meja Naruto. Naruto hanya menggeleng pelan dengan cengiran yang ia berikan. Rasanya Shion siap melemparkan sepatunya ke wajah Namikaze di depannya. Shion hanya angkat bahu lalu pergi meninggalkan ruang kelas. Berjalan menyusuri koridor yang masih dipenuhi oleh para murid lain yang berlalu lalang. Sesuatu membuat hatinya berdesir. Entah perasaan apa yang memaksanya untuk tetap tinggal di sekolah sebentar lagi. Saat Shion hendak melewati tangga, ia cukup kaget melihat Sasuke menunggu di bawah tangga. Iseng, ia pun menghampiri pemuda itu.

"Katanya kau mau pulang," sapa Shion yang lebih mirip seperti basa-basi. Sasuke sedikit tersentak begitu melihat Shion menghampirinya.

"Aku.. argh sudahlah, khusus saat ini aku tak menganggapmu musuh dulu. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang aneh dari Naruto," jawab Sasuke. Shion mengangguk.

"Baru sadar? Anak itu selalu aneh. Jadi apa hubungannya denganmu yang bersembunyi di sini?" Tanya Shion. Sekarang mereka berdua sudah terlihat lebih santai. Menyandarkan diri pada tembok sambil mengawasi setiap siswa yang lewat.

"Tentu saja memata-matainya dong, apa lagi?" jawab Sasuke. Barulah Shion mengerti sekarang. Mungkin ini adalah kesempatan bagus untuknya dan Sasuke, untuk mengungkap siapa Naruto yang sebenarnya secara langsung. Mengikuti insting, Shion merogoh saku blazernya untuk mengambil ponselnya. Namun saat ia hendak menelepon Ino, Sasuke menatapnya tajam.

"Awas kalau kau menelepon Ino! Dengar ya, kalau kau mau ikut memata-matai denganku, kau jangan telepon dia!" gertak Sasuke. Shion merengut kesal. Ia pun meletakan kembali ponselnya dan diam menunggu.

"Sampai kapan kita akan menunggu di sini?" Tanya Shion yang mulai bosan. Sasuke menghela nafas panjang. Namun, pemuda onyx itu tetap tak menjawab. Sebal, Shion pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi. Sampai akhirnya Naruto melewati koridor itu. Sasuke memberi kode pada Shion dengan menepuk bahu gadis itu. Mengerti, Shion menatap was was takut jika Naruto melihat mereka. Tapi sepertinya Naruto tidak menyadari mereka dan tetap berjalan santai menuju lantai atas. Setelah Naruto menghilang di tangga, barulah Shion dan Sasuke membuntuti.

"Mau ke mana dia ke wilayah kelas 3?" Tanya Sasuke.

"Ah aku tahu! Pasti ke kelas Deidara senpai!" seru Shion. Sasuke terlihat sedikit senang karena Shion bisa diandalkan dan mereka segera berjalan sambil mengawasi keadaan. Benar saja, Naruto berhenti di depan kelas Deidara. Namun mereka hanya berbincang sebentar, setelah itu Naruto kembali berjalan. Ia menuju ke atap sekolah. Di sana memang sepi, tapi itu kan tempat favorite Sasuke.

Naruto membuka pintu menuju atap sekolah. Pemuda itu lalu berjalan dan mencari posisi duduk yang nyaman. Sasuke dan Shion bersembunyi di balik tembok yang tak jauh dari tempat Naruto duduk bersandar. Pemuda itu menatap hamparan langit luas dengan sentuhan awan lembut yang memperindah.

"Yamanaka Ino, karena sekarang ia sedang diskors.. aku tak bisa melakukan apapun di sini. Eh tunggu, apa ayahnya tahu kalau ia diskors, ya? Sepertinya sih tidak, tadi pagi kan ayahnya mengantarnya ke sekolah. Howstupid.." Naruto berujar pada dirinya sendiri. Ia tersenyum saat mengingat saran dari Deidara. Kakak kelasnya itu menyarankan agar ia memberikan surat panggilan pada ayahnya Ino agar ayahnya Ino kecewa pada putri satu-satunya. Ide yang tidak buruk.

"Kau selalu terperangkap dalam permainanku berkali-kali. Huh, tapi bukannya menyerah kau malah mendekati kak Itachi. Kau tahu kan? Itu adalah kebodohanmu yang lain. Baiklah awan, aku tahu kau mungkin bosan mendengar ceritaku tapi aku bingung bercerita pada siapa lagi," Naruto masih tetap berbincang dengan awan yang tertata indah di atas sana. Sedangkan Sasuke dan Shion yang mendengar semua pembicaraannya hanya terdiam. Kepala mereka masih berusaha mencerna informasi yang baru saja disampaikan oleh indera pendengarannya.

"Sasuke.. kau sudah disisiku, tapi kenapa aku masih merasa jauh? Masih sulit menjangkaumu walau jarak kita dekat. Kenapa masih merasa hatimu tak di sana?" Naruto mengepalkan tangannya, menaikannya tinggi. Mencoba menggapai awan yang tak pernah tersentuh olehnya walau dapat terlihat jelas. Bibirnya mengukir senyum pahit yang membuatnya sesak sendiri. Membayangkan wajah Sasuke yang tersenyum padanya.

Sasuke menggigit bibir bawahnya. Menahan amarah yang berkecamuk di hatinya. Apa yang baru saja didengar olehnya memang suatu hal yang menyebalkan, namun bibir yang berujar lirih itu seakan meminta hati sang empunya untuk dihangatkan. Ia ingin marah, tetapi kenapa di sisi lain hatinya malah mengasihani pemuda yang sudah merusak semuanya itu? Kesal, Sasuke pun memilih untuk berdiri. Shion tidak melarang Sasuke, gadis itu hanya tersenyum tipis melihat Sasuke yang mulai berjalan keluar untuk menghampiri Naruto.

BUGH

Pukulan keras menghantam pipi tan Naruto yang sedang terduduk. Menarik kerah baju pemuda itu, memaksanya berdiri. Mata sapphire-nya terbelalak kaget begitu melihat kilatan amarah seorang yang selalu menemani mimpinya.

"Sasuke?" seru Naruto kaget begitu melihat siapa yang berdiri di depannya sekarang. Tangan Sasuke sudah terkepal, siap untuk melayangkan beberapa pukulan lagi. Melihat itu, Shion segera bangun dan menghampiri Sasuke juga Naruto. Gadis itu hanya diam mematung melihat kedua orang yang sama-sama sedang terkaget. Shion benar-benar bingung harus apa sekarang.

"Jelaskan padaku, Naruto! Jelaskan apa maksudmu!" bentak Sasuke. Naruto terlihat panik namun masih berusaha tersenyum.

"Jelaskan apa, Sasuke? Apa yang kau bicarakan sih?" Naruto masih bertanya seakan tak terjadi apapun.

"Jangan pura-pura bodoh! Aku dengar semuanya! Semua, jelaskan padaku semuanya!" Sasuke semakin membentak dengan kasar. Kini iris biru itu mulai memburam. Bibir yang biasa berkata manis itu tak dapat merangkai kata lagi. Tetesan bening mengalir begitu saja. Hangat, melewati pipinya sampai akhirnya menetes ke bawah. Bahunya bergetar.

"Aku.. aku.. tidak seperti.. bukan begitu.. Sasu.." akhirnya untaian kata pembelaannya terucap juga. Matanya terpejam, tak berani menatap langsung ke arah mata yang selalu membuatnya terjerat. Sasuke mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga ia dapat merasakan kukunya menyakiti telapak tangannya.

"Kau yang rusak semua ini! Jelaskan padamu semuanya atau aku tak mau lagi melihatmu!" ancam Sasuke. Shion menatap Naruto, menunggu pemuda itu menjelaskan semuanya. "Jelaskan kejadian sebenarnya malam itu!" Sasuke masih tetap memaksa. Naruto menggelengkan kepalanya, memejamkan matanya. Tidak, ia tidak ingin ini terjadi. Ini terasa begitu cepat, semuanya terasa begitu fana.

"Kenapa semuanya harus membela Ino? Ino lagi, Ino lagi! Apa istimewanya gadis itu? Seharusnya ia tidak pernah lahir!" teriak Naruto. Menepis tangan Sasuke. Melangkah mundur, menjauh dari Sasuke. "Dia harusnya mati saja! Mati!" Naruto berteriak semakin keras. Memegang kepalanya yang terasa berdenyut tiap kali memendam rasa kesal seperti ini. Ingin sekali ia berteriak, meneriaki semua yang tak tersampaikan jauh di lubuk hatinya.

"Aku benci kalian!"

Flashback

Naruto's POV

Sore itu aku terdiam di dalam mobilku. Hatiku sakit lagi. Semakin lama kupendam, rasa ini semakin menyesakkan. Aku tak pernah siap untuk melihat mereka bersama-sama. Tak bisa, aku tak bisa terus mengukir senyum saat melihat mereka bermesraan. Aku sudah tak bisa terus tertawa bersama mereka walau hatiku teriris melihat senyumnya karena 'orang itu'. Hujan turun semakin deras. Aku menyamankan posisiku sambil terus mengawasi tiap insan yang keluar dari toko buku itu.

Tak berapa lama kemudian, seorang gadis yang kutunggu keluar juga. Ia berdiri di depan toko buku itu, berlindung di bawah atap agar tak basah terguyur hujan deras ini. Aku segera mengambil ponselku, menelepon seseorang untuk segera menghampiri gadis pirang itu. Tak butuh waktu lama untuknya sampai di belakang Ino. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membekap setengah wajah Ino dengan itu. Tak ada yang melihat di sana karena memang sedang sepi. Dengan cepat aku segera menyalakan kembali mobilku dan melaju menghampiri Ino dan bawahanku.

"Cepat bawa ia masuk!" perintahku. Shino, orang yang kusuruh untuk 'menculik' Ino itu menurut dan segera memasuki mobilku ini dengan Ino yang sudah terlihat tak sadarkan diri akibat obat bius yang terdapat di sapu tangan tadi. Setelah ia menutup pintu mobil, aku kembali melajukan mobilku ke rumah Shino.

.

.

.

Kami sudah sampai di rumah Shino itu. Pemuda yang lima tahun lebih tua dariku itu adalah anak buahku, dan kali ini ia mendapat tugas special untuk membantu rencanaku. Rumah itu kosong, aku pun memerintahkan Shino untuk membawa Ino masuk. Menidurkannya di sebuah kasur yang terdapat di dalam satu-satunya kamar di rumah sederhana ini. Setelah itu, akulah yang mengatur keadaan semeyakinkan mungkin.

Kubuka blazernya lalu melemparnya ke lantai. Melepaskan ikatan rambutnya, membuat surai pirangnya terurai berantakan. Melepaskan tiga kancing kemeja putihnya. Membasahi pipinya dengan air agar terlihat berkeringat. Dan sentuhan terakhir, membuat kissmark di lehernya. Jujur, ini adalah bagian yang paling kubenci. Tapi mau bagaimana lagi? Si Uchiha bungsu itu kan tidak bodoh, ia butuh bukti yang meyakinkan. Sekarang tinggal menutup tubuhnya dengan selimut. Meletakan beberapa helai uang yang berantakan disekitar tempat tidur itu.

Sekarang saatnya kusuruh Shino tertidur di sampingnya, tentunya dengan tanpa memakai baju atasnya. Kuambil ponsel Ino dan mengetikan e-mail pada Sasuke.

From: InoFlower_Lover

To: _Sasuke

Subject: none

Sasuke-kun, maaf ya aku mau kita putus saja. Sekarang aku sudah menemukan pria yang lebih kaya daripada kau.

Sambil tersenyum licik, aku menekan tombol 'sent' dan mengirim e-mail itu. Aku masih sabar menunggu balasan dari pemuda itu. Detik-detik pun berlalu, suara dering telepon menjadi jawaban semuanya. Sasuke langsung menelepon Ino. Persis seperti yang kuperkirakan. Dengan santai kuangkat telepon itu dengan suara yang pelan agar tak terlalu terdengar jelas.

"Apa maksudmu, hah? Jangan bercanda, ini tidak lucu!" bentak Sasuke kencang. Aku berusaha menahan suaraku agar terdengar seperti wanita.

"Jangan ganggu aku lagi.. aah~ ennhh.." aku menjawab dengan suara desahan yang dibuat-buat. Tujuannya? Tentu saja agar Sasuke curiga dengan apa yang Ino lakukan. "Kau tidak usah meneleponku lagi, kau menggangguku.. ngghh.. lebih cepat Shino~" aku semakin menciptakan suara rendah yang mencurigakan.

"Shino? Siapa itu? Hei, Ino di mana kau sekarang? Apa yang kau lakukan?" dari suara Sasuke, terdengar sekali pemuda itu semakin marah. Tentu saja itu membuatku puas sekali. Rencanaku akan berhasil sebentar lagi mengingat Sasuke yang juga pemarah.

"Dengan kenalannya Naruto, sudah jangan ganggu aku!" dan dengan itu aku mematikan teleponnya. Tertawa puas. "Shino, nanti kau harus pura-pura tertidur sambil merangkul Ino saat Sasuke ke sini ya," jelasku. Shino mengangguk.

"Tapi memangnya ia akan ke sini?" Tanya Shino. Aku hanya memberi anggukan singkat sebagai balasannya. Shino adalah satu-satunya orang yang paling kupercaya dan tahu sifat busukku ini. Karena itu aku tak perlu berpura-pura baik seperti saat aku menyapa setiap orang bahkan pelayan dirumahku. Teleponku pun berdering, tanpa perlu kulihat siapa nama yang tertera di sana aku sudah tahu.

"Moshimoshi, ada apa Sasuke?" tanyaku.

"Naruto kau di mana? Apa kau tau siapa kenalanmu yang sedang dekat dengan Ino?" Sasuke langsung bertanya keintinya. Ya, dia memang tak suka basa-basi.

"Err.. bagaimana ya Sasuke, aku sudah janji tak memberitahumu soal ini," ucapku. Kudengar di sana Sasuke mengerang frustasi.

"Kumohon beritahu aku! Aku percaya padamu, kau mau mengatakannya padaku kan? Tak usah takut, aku akan melindungimu kalau Ino marah," kini Sasuke berkata dengan nada agak lembut.

"Baiklah, tapi kau janji jangan marah padaku karena aku merahasiakan soal ini padamu. Sebenarnya Ino itu selalu minta dikenalkan dengan tiap temanku yang kaya. Awalnya aku tak mau karena tak tega padamu, tapi ia selalu memaksa.. aku… aku sudah mencoba untuk menasihatinya Sasuke tapi kau tahu kan kalau Ino itu keras kepala? Maafkan aku Sasuke.. kumohon jangan bilang pada Ino kalau aku yang memberitahumu soal ini," jelasku, baiklah ini memang karanganku saja sih.

"Akh shit! Antarkan aku ke sana sekarang! Kau pasti tahu kan di mana mereka sekarang?" Sasuke bertanya.

"Kau langsung kerumahku saja, aku akan mengantarmu nanti," setelah berkata begitu, Sasuke hanya membalas dengan 'ok' lalu mematikan teleponnya. Kulirik Shino yang masih terdiam di sana. "Aku akan ke rumah dulu, kau tunggu di sini. Jangan melakukan macam-macam ya, itu akan merusak rencanaku nanti!" Shino mengangguk mendengarnya.

"Kau bisa percayakan semuanya padaku, Naruto."

.

.

.

Aku sedang berdiri menunggu Sasuke di depan rumahku. Akhirnya mobil sport biru itu pun berhenti tepat di depanku. Aku segera masuk ke dalamnya dan menunjukkan jalan menuju rumah Shino. Sepanjang perjalanan Sasuke terus bertanya-tanya tentang Ino. Dan tentu saja, aku menjawab sesuai apa yang kuuinginkan, lengkap dengan raut wajah orang khawatir yang tertindas. Perfect.

Begitu sampai, Sasuke segera turun dari mobilnya. Aku berlari mengejar Sasuke. Menahan bahu pemuda itu.

"Apapun yang terjadi, kau jangan mengamuk di sini ya. Walaupun kau marah, berjanjilah padaku kalau kau tak akan pernah mengatakan soal ini pada siapapun, ya?" aku menahan Sasuke sebelum memasuki rumah itu. Sasuke menghela nafas berat, berusaha menenangkan dirinya. Sampai akhirnya anggukan itulah yang ia tunjukkan padaku. Aku tersenyum menatapnya. Perlahan kubuka pintu rumah itu, melangkah memasuki rumah itu dengan tergesa bersama Sasuke. Saat kutunjukkan kamarnya, Sasuke segera membuka pintu itu dengan kasar dan terdiam.

"Sasuke! Kau sudah berjanji untuk tidak mengamuk di sini. Kau kan sudah melihat kenyataannya sekarang, jadi sudahlah.. lupakan Ino, aku tak tega melihatmu diperlakukan seperti ini olehnya!" kutahan dengan kuat lengan pemuda itu. Wajahnya sedikit merah karena menahan amarah. Cukup lama sampai akhirnya Sasuke kembali tenang. Ia menutup pintu kamar itu. Dapat kulihat cairan hangat itu mengalir begitu saja. Tak pernah sebelumnya kulihat Uchiha Sasuke menitikkan air matanya begitu. Ia berusaha menutupi wajahnya, mengalihkan pandangannya dariku dan berjalan duluan.

"Kuantar kau pulang, Naruto."

"Ah, iya.." aku pun mengikutinya keluar dari rumah ini. Sasuke mengantarku pulang. Setelah mobilnya sudah tak terlihat lagi, barulah aku masuk dan menyalakan mobilku yang terparkir asal di halaman rumahku. Menyalakannya dan menjalankannya menuju ke rumah Shion untuk memulangkan gadis menyebalkan itu. Aku akan menutup matanya saat ia sadar nanti dan menurunkannya dirumahnya dalam keadaan ia sudah sadarkan diri.

.

.

.

End of flashback

Kuceritakan semuanya di depan Sasuke dan juga Shion. Aku.. sudah hancur sekarang. Semuanya sudah benar-benar tak akan terjangkau lagi olehku. Dan ini semua gara-gara gadis itu! Sampai matipun aku akan menyalahkan Ino!

"Kau adalah manusia yang paling menyedihkan yang pernah kutemui!" Sasuke kembali membentakku dan meninggalkanku. Diikuti Shion yang berjalan di belakangnya. Sementara aku? Hanya terdiam di sini sambil meratapi kebodohanku. Kenapa Kau tak membantuku kali ini, Tuhan? Apa kini Kau sudah sebegitu bencinya melihatku? Apa aku tak boleh disayangi siapapun? Orangtuaku bahkan hanya memberiku kasih sayang berupa materi. Dan sekarang orang yang paling kuharapkan kasih sayang darinya malah pergi meninggalkanku dan menatapku hina? Aku mau mati saja.

.

.

.

Normal POV

"Hallo Itachi senpai di mana? Bisa tolong jemput Ino sekarang?" tanya Shion saat menelepon Itachi. Ia kini sedang berjalan menyusuri koridor dengan Sasuke yang berjalan cepat di depannya.

"Aku masih di sekolah, Ino di mana sekarang? Atau kita langsung kesana bersama saja," jawab Itachi yang sedang berdiri di samping mobilnya, membuka pintu mobil itu dan memasukinya.

"Baiklah, aku langsung ke tempat parkiran, Itachi senpai di sana kan?" Shion bertanya lagi sambil terus berjalan.

"Iya, kutunggu ya."

"Sasuke, kau mau ikut tidak ke rumah Ino?" Tanya Shion setelah memutuskan hubungan telepon dengan Itachi. Sasuke mengangguk sambil tetap berjalan menuju pintu keluar gedung sekolah itu.

"Ada yang harus kubicarakan dengannya."

.

.

.

TBC alias つづく

*#*#*#*#*#*#*#*#*#**#*#*#*#*#*#*#*#*#*

Udah tuh ya, dah di jelasin detail sebabnya, gak ada utang lagi nih saya #slapped. Tadinya ini mau diupdate 2 minggu yang lalu, cuman saya-nya gak mood dan malah stress, jadinya updatenya sekarang deh (dan ditambah dengan pulsa modem yang abis, orz).

Mungkin semakin kesini updatenya bakal gak jelas perberapa hari/minggunya. Tapi yang jelas saya bakal update hari Sabtu. Thanks banget buat kalian yang gak katarak mendadak karena baca cerita ini sampai chapter 10.