"Akashi sudah membuat hidungku patah."

"Akashi menendang kepalaku sampai aku pingsan!"

"Sei-chan waktu itu menggunting rambutku hingga tak bermodel lagi, huh."

Ahahaha.

Bolos pelajaran berjamaah bersama teman-teman tercinta seharusnya menjadi salah satu daftar acara paling ditunggu-tunggu bagi siswi SMA semacam diriku. Namun, lihatlah apa yang terjadi pada diriku sekarang: menggunakan kedua jari telunjuk tanganku untuk menyumpal telinga sembari bersenandung kecil sendirian, berusaha mengabaikan pembicaraan teman-teman 'tercinta' yang berada tepat di sekelilingku.

Aku tidak mau tahu pembicaraan mereka. Aku tidak mau tahu rencana apa lagi yang mereka buat. Aku tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Bukan–tentu saja bukan karena aku takut dengan Sei-chan. Mana mungkin aku turut campur dengan rencana yang bertujuan untuk membuat adikku sendiri merugi 'kan? Yah, abaikan saja fakta sudah berapa kali aku dibuat merugi oleh Sei-chan. Aku brocon? Hell, peduli amat dengan perkataan orang lain, yang penting aku sayang Sei-chan dari lubuk hati terdalam!

"Senpai! Senpai!" Di tengah-tengah senandung cantikku, Hayama menginterupsi dengan mengguncang-guncangkan lenganku, membuatku terpaksa melepas sumpalan telingaku. "Mayuzumi-senpai sudah selesai dengan kami. Sekarang bagian senpai, hehe."

Dengan malas, aku mendelik pada Mayuzumi yang kini memandangku lurus. Apa sih? Jangan harap aku akan mendengarkan dia ya.

"Dengar, tugasmu–"

"Jangan dilanjutkan, Chi-chan! Mau dipaksa seperti apapun, aku tidak akan ikut menjahili Sei-chan, harusnya kau sudah tahu itu 'kan?"

"Hmph," ia sedikit terkikik tertahan kemudian menghela napas, "shitteru yo. Lakukan sesukamu, toh kau tidak akan berguna."

Tanpa sadar, aku menggertakan gigiku. Haha, aku tidak pernah merasa segeram ini sebelumnya–terlebih pada orang yang berhasil membuatku menaruh obsesi padanya karena biasanya aku memang masokis pada orang semacam itu.

Baiklah, Mayuzumi Chihiro yang terhormat. Kali ini aku akan melawanmu. Aku akan melindungi Sei-chan. Akan kuperlihatkan! Akan kutunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya! Akan kubuat kau terperangah dengan sosokku yang sebenarnya! Sosokku yang absolut, sosokku yang selalu benar, sosokku yang tak terkalahkan, sosokku yang–

Eh?

Refleks, aku mengerjap beberapa kali. Kujambak rambutku sendiri keras-keras seraya membuka mataku lebar-lebar, berusaha menahan 'sesuatu' yang tiba-tiba menyusup dalam kesadaranku.

Ah, sepertinya aku terlalu bersemangat.


.

.

Secret Mission

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Story © miniReeto & megaReeto

Warning : Typo(s), OOC akut!, alur gaje, membingungkan, dsb kebanyakan kalo disebutkan satu-satu~

Note : Setting diambil berdasarkan fic miniReeto sebelumnya (Please Be Cute For Me!), atau mungkin malah sequel ya? #plak. Dimana OC/Reader adalah kakaknya Akashi, siswi kelas 3 SMA Rakuzan yang selalu berharap keajaiban adeknya jadi imut.

Saa, please enjoy!

.

.


Nebuya's PoV

Cih, aku yang dapat giliran pertama menjalankan rangkaian misi balas dendam ini? The hell. Itu artinya, aku yang lagi-lagi akan jadi objek percobaan teman-temanku yang lain dan akan menjalani derita duluan–aku belum bisa melupakan bagaimana terhinanya menjadi korban pertama saat kasus ponsel Akashi-senpai serta insiden di kolam renang waktu itu. Oh, aku merasa Kami-sama selama ini selalu menganaktirikanku… Ah, sudahlah, kenapa aku mendadak jadi orang yang melankolis seperti ini?

Di gym ini, sembari memainkan bola basket di tanganku, aku melirik pada sang target–Akashi Seijuurou. Ia sedang berdiri di pinggir lapangan sembari menenggak minuman yang diberikan Akashi-senpai padanya dengan posisi membelakangiku. Oke, Akashi-senpai lagi-lagi menyusul kesini untuk 'mengasuh' adiknya. Namun, jika aku tidak salah lihat, di tengah senyum perahu naga yang ia tujukan untuk adiknya, sesekali aku melihat ia mendelik padaku dengan aura-aura yang tidak bisa kujelaskan.

Eh? Sebentar. Sejak kapan Akashi-senpai bisa mengeluarkan aura sesuram itu?

B-baka! Maklumi itu, hei! Dia tahu rencana kami berempat, dan tentu saja sebagai kakak Akashi, dia tidak akan suka! Tenangkan dirimu, Nebuya Eikichi… Fokuslah pada apa yang sudah menjadi tugasmu sekarang!

Sedikit ragu, aku mulai berjalan mendekati duo Akashi tersebut. Seirama dengan langkahku yang semakin mendekat, Akashi-senpai yang menyadari kedatanganku pun semakin berjinjit mendekat pada adiknya sambil memberiku pandangan menusuk. Hmmph, lucu juga, apa senpai imut ini sedang berusaha melindungi Akashi dariku? Oke, dia memang brocon akut.

"A-aa… Akashi, aku ingin memperlihatkanmu teknik pass yang sudah kupelajari dari Mayuzumi-senpai," ujarku seraya menepuk bahu kapten pendek itu seraya mencoba mengabaikan tatapan tidak biasa dari Akashi-senpai.

Menyadari keberadaanku, Akashi lalu berbalik menghadapku dan mengangkat sebelah alisnya, kemudian mengangguk tanpa berkata-kata.

Gotcha. Dia memakan umpan bulat-bulat.

Detik berikutnya, aku sudah menari lincah di tengah lapangan gym dengan suara decit sepatu serta bunyi pantulan bola basket pada lantai gym sebagai pengiring permainan soloku. Satu detik, dua detik, tiga detik, oke, aku harus menghitung timing serta akurasi yang pas untuk meninju kuat-kuat bola basket ini tepat ke wajah Akashi tanpa meninggalkan jejak kesengajaan.

Akashi terus mengamatiku dari seberang sana. Dia sepertinya masih dalam mode kelelahan sehabis latihan ronde pertama tadi, dan kurasa emperor eyes miliknya tidak akan bekerja untuk sementara waktu. Baik, inilah waktunya menjalankan misi!

Dengan sekali hentakan kuat, aku memukul bola kuat-kuat ke lantai sehingga membuat bola itu memantul tinggi ke udara. Kujejakan kakiku dalam-dalam ke lantai gym, mendorongnya sekuat tenaga, kemudian melompat tinggi dengan tubuh yang sedikit terputar menyusul sang bola sembari menyiapkan kuda-kuda memukul pada tangan kananku. Kupejamkan mata sejenak seraya mengambil napas, bersiap membidik wajah–tidak, tepatnya hidung Akashi.

"Hiyaaaaaaaaahh!"

BAK!

Satu kali tarikan napas, teriakanku seketika menggelegar di segala penjuru gym seiring dengan luncuran berkecepatan cahaya dari bola basket yang kupukul menuju Akashi–meninggalkan jejak oranye yang sangat kentara di jalur lurus yang dilewatinya.

Akashi tampak terkejut melihat bola yang meluncur lurus siap menghantam paras tampannya. Sudah kuduga, dia tidak siap dengan serangan mendadak dariku! Haha, tidak ada yang lebih menyenangkan dari melihat orang tampan dipermalukan di–

DIESSHH–! BAK! BAK!

Eh?

Seberkas bayangan merah tampak menepis laju bola dan sekonyong-konyong memantulkan bola itu ke atas hingga sampai menghantam langit-langit gym dengan keras–tidak jadi mengenai Akashi. Aku melongo dibuatnya, begitupun Akashi.

"D-duh, Sei-chan! Kau tidak apa-apa 'kan?!"

Bayangan merah itu seketika berubah menjadi sesosok gadis mungil yang langsung tergesa menepuk-nepuk pipi Akashi, bertanya dengan nada khawatir. I-itu tadi Akashi-senpai? Tapi, kenapa bisa…? S-sebentar. Aku perlu waktu untuk loading.

"A-aku tidak apa-apa… nee-chan."

Nee-chan? Barusan Akashi memanggilnya nee-chan?! Mimpi apa aku?!

"Ah, yokatta…" Akashi-senpai berucap lega. "Nah, Nebuya-kun," ujarnya sembari berbalik menghadapku sambil tersenyum manis.

Glek. Demi apa. Kontan aku mengucek mataku keras-keras ketika melihat wajah Akashi-senpai.

"Lain kali hati-hati ya…"

Tidak. Dia bukan Akashi-senpai yang kukenal. Dia. Bukan. Akashi. Senpai.

.

.


Hayama's PoV

Si gorilla gagal membalas dendam. Baiklah, aku percaya, karena memang bukan hal yang mudah jika menyangkut penentangan terhadap Akashi. Tapi, dia bilang dia gagal gara-gara Akashi-senpai? Pfft, tak adakah alasan yang jauh lebih masuk akal dari itu, wahai gorilla?

"Senpai! Yo!" panggilku riang yang langsung disambut oleh tolehan kepala sang gadis terpanggil.

"Ah, konnichiwa, Kou–maksudku, Hayama-kun~ Mau pulang bersama?" balasnya tak kalah riang sambil melirik pada adiknya yang sedang berjalan di depannya. Ah, ya… Kecewa sih, dia tidak jadi memanggilku Kou-chan, tapi aku harus pengertian sekarang.

Secepat kilat aku berlari menghampirinya seraya memasang cengiran lebar. Sepanjang perjalanan pulang sekolah, aku terus berjalan berdampingan dengannya, sementara Akashi berjalan di depan kami berdua.

Aku terus berceloteh tentang ini-itu–apapun yang kualami seharian di sekolah kecuali laporan si gorilla padaku– dan Akashi-senpai tak bosan-bosannya menanggapi sambil sesekali tertawa pada candaan yang kubuat. Ah, lihatlah. Dia benar-benar seorang senpai, kakak, dan gadisyang sempurna bagiku. Baik, lembut, dan sangat keibuan…

Sosok gadis yang tidak mungkin menjadi seperti apa yang si gorilla katakan padaku.

Ah, baiklah, cukup basa-basinya. Sambil terus melanjutkan ocehanku, aku menatap punggung Akashi yang berjalan angkuh di depanku. Ini giliranku membalas dendam padanya, dan karena itu pula, kemarin aku mati-matian melatih teknik front-flip-ku untuk membuat benjolan pada kepala Akashi seperti halnya dia pernah melakukannya pada ubun-ubunku, dan tentu saja turut memikirkan strategi yang tepat agar Akashi-senpai tidak membenciku karena menyakiti adiknya. Fufu.

"Hei senpai, percaya tidak kalau aku bilang kemampuan sirkusku sudah meningkat?" Sebagai pembukaan operasi balas dendam alaku, aku membuat topik baru dengan Akashi-senpai.

"He? Maksudnya?" tanya Akashi-senpai dengan ekspresi lucu. Ya ampun, Kami-sama sedang menguji imanku. Haha, sepertinya dari awal kami memang selalu merasa gemas satu sama lain…

"Maksudku seperti ini… Hup!" Hanya dengan sekali ancang-ancang saja, aku berhasil sampai di atas pagar tembok dengan cara berjalan vertikal ala ninja.

"W-waaah…" takjub Akashi-senpai seraya menahan lengan adiknya. "Sei-chan, lihat! Hayama-kun hebat ya!"

Ah, yappari, dia titisan malaikat yang dikirim Kami-sama untukku~ ! Sudah kuduga, mana mungkin ada 'hal' semacam itu pada diri Akashi-senpai! Lihat saja, besok aku bersumpah akan menghajar si gorilla karena sudah berani mengatakan hal yang tidak-tidak pada Akashi-senpai-ku! Ahahaha!

"Sudah selesai 'kan? Ayo pulang."

Twitch.

Dahiku seketika berkedut jengkel, menimbulkan beberapa perempatan pada sekitaran wajahku. Kebanggaanku runtuh seketika oleh pernyataan acuh sang kapten cebol. Dengan gerakan elegan, ia menarik lengan kakaknya sambil berlalu angkuh, tidak terkesan sama sekali dengan atraksiku.

Oke, dimana ada malaikat, disitu pasti ada iblis yang turut mendampingi–dalam hal ini, si bungsu dari Akashi bersaudara. Ah, dik Akashi, jika memang kau tidak terkesan, setidaknya tak bisakah kau pinjamkan malaikat itu–kakakmu–sebentar untuk sekedar sejenak mengagumiku?

"A-ah, ya… Hayama-kun, ikou! Turunnya hati-hati ya!"

Baiklah, sekalian kesal, kujalankan sekarang saja misi balas dendamku!

"Lihat ini, aku juga sudah mempelajari teknik turun yang keren!" pekikku bersemangat ke arah mereka berdua. Kakak beradik Akashiyang sudah beberapa meter di depan itu pun menoleh kompak padaku. Kedua pasang mata itu memicing tajam ke arahku–eh? Akashi-senpai… ada apa dengan tatapan Akashi-senpai yang tidak biasa itu?

Hah! Baka! Itu tidak mungkin! Ini kesempatanku melancarkan serangan!

Bak kucing yang sedang kegirangan menemukan mangsanya, aku berlari di atas pagar dengan kecepatan penuh menyusul mereka berdua, kemudian dari jarak yang tepat, aku langsung melompat tanpa ragu, berputar-putar melakukan front-flip beberapa kali di udara dengan sebelah kaki terjulur ke depan–sudah kuperkirakan hanya dengan sepersekian detik saja akan menghantam telak dahi lebar sang kapten sadis sumber penderitaanku selama ini!

Ha, Akashi tidak akan bisa menghindar! Dengan ini, dendamku akan terbalas–

TRANG!

Hieekh?!

Bruk!

"Itte–!"

Entah apa yang terjadi, dalam sekejap saja, aku mendarat dengan pinggul menghantam tanah duluan. Tendangan superku tidak jadi mengenai dahi Akashi. Uh, sial. Aku menoleh ke kiri dan kanan dengan gencar, menangkap sebuah tutup tempat sampah yang tergeletak tak wajar beberapa meter di sebelahku.

Ah, kakiku sakit. Sepertinya tadi ada yang sengaja melempar tutup tempat sampah itu ke kakiku sehingga tendanganku meleset. Tapi, mana mungkin ah! Aku ini cepat! Selama ini tidak ada yang bisa menyaingi kecepatanku!

"Nee, Hayama-kun, daijoubu desuka?" Sebuah tangan bersahabat terulur di depan wajahku. Refleks aku mendongakan kepala. Ah, Akashi-senpai tersenyum padaku, menghilangkan seluruh rasa sakit yang terkumpul pada pinggulku~

"Arigatou, senp–" Aku hendak menyambut uluran tangan Akashi-senpai namun terhenti begitu saja ketika aku melihat 'itu' di wajah Akashi-senpai.

"Sepertinya kau harus latihan lebih keras lagi ya, Hayama-kun… Hihi~"

U-uso. Aku pasti salah lihat. Si gorilla juga pasti salah. Ini tidak mungkin 'kan, Akashi-senpai…?

.

.


Mibuchi's PoV

Aku menutup ponsel flip-ku perlahan. Kedua tanganku sedari tadi tidak mau berhenti bergetar gara-gara pesan laporan yang barusan kuterima dari kedua rekan seperjuanganku.

Yah, kali ini aku sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Akashi. Sei-chan menyuruhku datang malam ini ke rumahnya untuk diskusi antar kapten dan wakil kapten–yang tentu saja langsung kusetujui tanpa pikir panjang, uhuhu. Selain akan punya lebih banyak waktu untuk lebih mendekatkan diri pada kakak beradik Akashi yang manis-manis itu, aku pun jadi punya kesempatan untuk membalaskan dendam terpendamku pada Sei-chan karena sudah menggunting rambut indahku tanpa berperasaan. Hiksu.

Tapi, kali ini aku jadi ragu untuk terus melangkahkan kaki ke depan. K-kalau laporan dua orang itu benar, maka–

"Hee, Mibuchi-kun? Doumo!"

"Uwaaaah!" Aku kontan terjungkal jatuh ke belakang ketika mendengar suara halus menyapa indera pendengaranku.

"E-eh? Aku mengagetkanmu ya? Gomen!"

"A-Akashi-senpai! Kenapa ada disini?!" cerocosku cepat tanpa menggubris permintaan maaf sang gadis pemilik suara halus tersebut. Ini mungkin karma karena aku sempat membuatnya kaget saat di kolam renang waktu itu…

"Pertanyaanmu aneh, Mibuchi-kun…" Ia memutar bola matanya jenaka sebelum melanjutkan, "ini 'kan rumahku. Tentu saja aku ada disini."

Sontak aku menggaruk tengkukku sambil tertawa kikuk. Ah, ini konyol. Selama aku berpikir keras tadi, aku terus-terusan melangkah hingga tanpa sadar sampai di depan pintu rumah megah keluarga Akashi. Sekarang jadi tidak ada kesempatan untuk mundur, deh.

"Umm, masuk yuk? Sei-chan sudah menunggumu di ruang tengah~"

"Eh, i-iya! Shitsureishimasu…"

Detik selanjutnya, aku hanya pasrah membiarkan lenganku ditarik oleh Akashi-senpai menelusuri lorong-lorong rumah yang bagaikan istana ini. Senandung merdu yang diiringi hentakan kaki yang seirama dari Akashi-senpai menemani 'perjalanan panjang' kami berdua.

Kami-sama. Dilihat dari manapun, di mataku, Akashi-senpai hanyalah seorang gadis kecil jelmaan peri penebar kedamaian yang diberkati aura kebaikan di tiap jengkal tubuhnya. Laporan Hayama dan Nebuya sungguh tidak masuk akal. Tega sekali mereka memfitnah gadis manis tak berdaya ini dengan gosip yang sangat kejam!

"Nee, Mibuchi-kun…"

Aku sontak terkesiap ketika Akashi-senpai menghentikan nyanyiannya. "Ya, senpai?" tanyaku selembut mungkin, berusaha menutupi gugup yang melanda.

Akashi-senpai tidak langsung menjawab. Ia tiba-tiba berhenti menarikku–berhenti melangkah seraya memandang lurus ke ujung lorong di depan kami. "Apa Nebuya-kun dan Kou-chan mengatakan sesuatu tentangku?"

Pertanyaan itu membuatku tertegun. Oke, keanehan mulai terjadi sekarang. Seharusnya jika keadaan masih normal sampai sekarang, pertanyaan seperti itu tidak akan terlontar dari mulut Akashi-senpai. Jadi, darimana dia tahu? Apa yang dikatakan dua orang itu benar?

"Mengatakan tentang apa…? Tidak ada kok," bohongku dengan nada yang sedikit dilugukan, mencoba menghilangkan atmosfir yang tiba-tiba berubah tidak mengenakan, "kecuali bilang senpai gadis yang manis, hampir setiap hari mereka mengatakan itu padaku."

"Begitukah?" jawabnya dengan aura yang mendadak benderang tanpa menolehkan wajahnya padaku.

"Tentu saja! Kalian berdua, senpai dan Sei-chan memang anak-anak yang manis, ufufu…" Aku membungkukan badanku ke depan, hendak mencium pipi Akashi-senpai–kebiasaan yang sering kulakukan ketika merasa gemas pada senpai-ku yang satu ini. "Sungguh, aku tidak pernah berhenti berharap jika kelak punya anak, aku ingin punya yang seperti kalian~"

Tinggal beberapa senti lagi bibirku akan tepat menyentuh pipi ranum itu ketika ia tiba-tiba menoleh padaku, membuatku refleks menghentikan aksiku. Oh, aku tidak sehina itu hingga berniat mencuri ciuman pada bibirnya–hanya Mayuzumi-senpai yang berhak melakukan itu.

Walhasil, aku hanya diam di tempat sembari mengembangkan senyumku, sedikit memicingkan mata untuk melihat wajah imut yang pastinya kini dihiasi oleh semburat merah muda–

Eh?

"Apa aku masih terlihat manis dalam keadaan begini?"

Hening. Lima detik, sepuluh detik, tiga puluh detik–baik, aku kehilangan hitungan. Lidahku kelu, tidak bisa menjawab.

Hiee?! Apa-apaan dengan wajah Akashi-senpai…?! Kenapa ada 'itu' di wajahnya?! Ya ampun, ini pasti hanya halusinasiku saja…!

"Ah benar juga! Aku punya ide!"

Belum selesai kekagetanku, dari saku celana pendek yang dikenakannya, ia mengeluarkan sesuatu. G-gunting…?

Glek. Sekuat tenaga aku menelan ludah. Aku mundur beberapa langkah hingga punggungku tak terasa menyentuh dinginnya tembok. Mau apa dia dengan gunting itu? Jangan bilang kalau–

Ckris. Ckris. Ckris.

Helai demi helai surai lembut itu berjatuhan satu per satu di depan mataku yang membulat lebar. Ia memotong rambutnya sendiri tanpa ada keragu-raguan sedikit pun. D-demi apapun, Kami-sama

"Nah, kalau begini, apa aku terlihat lebih manis, Mibuchi-kun?"

Melepaskan gunting pada pegangannya, ia membiarkan suara denting nyaring yang ditimbulkan logam tajam itu menggelegar di antara kami. Ini horor, sumpah, dengan keadaanku yang sudah tidak bisa lagi mengontrol diri dari kepanikan luar biasa dan gema langkah kaki Akashi-senpai yang berjalan mendekatiku.

"Mibuchi-kun ingin memotong rambut Sei-chan untuk balas dendam 'kan?" Kemudian ia menunjuk ujung-ujung rambutnya yang kini sudah tidak rata lagi. "Apa dengan begini, dendammu sudah terbalas?"

Ah. Ahahaha. 'Itu' semakin terlihat sekarang. Sudah jelas, ini bukan sekedar ilusiku saja.

.

.


Mayuzumi's PoV

Dalam bayanganku, seluruh anggota keluarga Akashi pastinya adalah seorang yang otoriter, yang arogan, yang tinggi hati, yang sempurna dalam segala bidang–hampir mendekati pribadi psikopat. Yah, setidaknya itulah hasil konklusiku ketika bertemu sosok seorang Akashi Seijuurou di atap sekolah pertama kalinya kala itu.

Kemudian, aku diberitahu satu hal.

Akashi Seijuurou memiliki seorang kakak perempuan yang satu tingkat denganku. Dia gadis kikuk yang ternyata adalah salah satu penghuni kelas (kusebut begitu karena mengatakan teman sekelas adalah hal yang tabu) yang sama denganku. Gadis yang… biasa-biasa saja. Sikapnya manis dan amat sangat ceroboh–benar-benar standar seorang remaja putri. Bagiku, predikat 'biasa-biasa saja' tidaklah pantas untuk seorang penyandang nama Akashi. Fakta yang membuatku dulunya setengah percaya bahwa 'gadis eksperimenku' inilah yang diakui Akashi sebagai kakaknya.

"Nah, Chi-chan…" Kepala sang gadis masih tertunduk, rambut halusnya yang kini lebih pendek dari sebelumnya tergerai menutupi seluruh wajahnya.

Diam dan mencoba tenang, hal yang kini tengah kulakukan. Menunggunya melanjutkan perkataannya yang masih menggantung di udara.

"Kemarin aku berhasil menghentikan Nebuya-kun, Kou-chan, dan Mibuchi-kun lho~ Apa sekarang kau masih ingin bilang aku tidak berguna?"

Aku benci mengakui ini, tapi keadaanku sekarang mungkin sama syoknya dengan trio bodoh itu ketika mereka dihadapkan dengan pribadi janggal sang gadis terkait. Gadis yang kini melangkah mantap mendekatiku bukanlah seorang ceroboh yang mudah diperdaya seperti sebelumnya. Aura yang dipancarkannya bahkan lebih mematikan dibandingkan dengan milik adiknya.

Perlahan tapi pasti, sembari melangkah maju tanpa gentar sedikitpun, ia mengangkat wajahnya. Menampakan seringai lebar yang terpulas sempurna pada bibirnya. Menampakan kelereng berwarna emas di balik kelopak mata kirinya, yang selama ini kasat tak terdeteksi siapapun.

Oh, haha. Fine. Jadi inikah maksud dari laporan ketiga kouhai itu…?

"Maaf ya, Chi-chan… Aku tidak bisa menahan diri jika ada yang berniat menyakiti Sei-chan."

Detik ini pula aku sadar. Aku terlalu terburu-buru menilai sang putri Akashi.

.

.

.

TBC

.

.

.


A/N :

Maaf, chapter ini gajadi terakhir ;_; soalnya ternyata pas diketik jadi panjang banget, jadinya saya potong deh huwehehehe xD /slapped

Maaf lagi updatenya telat banget *lirik kalender* uh mini dan mega sama-sama sibuk ngerjain tugas selama kurang lebih semingguan ini (mini masuk mode hikikomori demi itu, seriusan /curcol?) ahaha! Jadinya chapter depan yang terakhir ya :D

Balasan review :

Akiyama Seira Sudah terjawab rencananya Mayu disini kan? Hehe. Dibonusin pula sama kejutan pemeran utama kita xD /apa. Iya, saya gamer. Jangan suruh saya ngabsen game apa aja yang udah dimainin, masalahnya banyak bingits ahaha~ xD

Hoshi Fumiko Sankyuu~~ xD Oh ngomong-ngomong soal Koganei, seiyuunya tamvan bingid yaampyuuun~ *gegulingan* #alaydetected

kisekiloverrssss Ahaha! Saya nyumbang tisu aja ya, dan smoga cepet sembuh dr anemianya xP /gatanggungjawab *ngibrit*

Dou? Silakan dikritik! Dikasih saran juga! Dan terimakasih sudah mampir ;)