Chapter 9 "Vampire and Humans"
Momo kembali mendesah kesal begitu melihat sosok Kuchiki Rukia sudah kembali dalam mode 'normal'nya. Ia mencoba meredam suara Rukia yang kini cekikikan dibalik earphone yang terpasang dikedua telinganya dan mencoba berkonsentrasi pada musiknya saja.
Seharusnya mereka berjalan-jalan menikmati minggu. Seharusnya ia merasa bahagia hari ini. Seharusnya Rukia juga tak membawa manga laknat itu saat bersamanya!
"Kyaa!!! Momo, Ren-kun ternyata sudah hamil. Astaga, aku bisa gila! Ini benar-benar menggemaskan!" pekikan Rukia agaknya sudah meningkat pada oktaf tertinggi hingga suara musiknya pun teredam oleh pekikan Rukia yang menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang.
Astaga, dimana mukanya harus ditaruh!?
Ia mulai berjalan di depan Rukia, berpura-pura tak mengenal sahabatnya yang mulai akut kegilaannya. Manusia laknat mana yang berani memberikan Rukia manga gila tersebut! Ia bersumpah akan memenggal si stalker gila yang sudah memberikan hadiah yang ternyata manga sialan itu pada Rukia.
"Momo, lihatlah perut buncit Ren-kun. Astaga, ini lebih manis daripada permen. Aku bisa diabetes." Ucapnya lagi. Tak memerdulikan tingkah Momo yang sudah kepalang malu akan tingkahnya yang berlebihan dan menarik-narik tangan sahabatnya sambil mengacungkan manganya yang terbuka dengan gambar pemuda yang duduk di sofa sambil memegang perut buncitnya.
Ia berhenti. Ingin muntah sejujurnya. Ditatapnya mata Rukia yang berkilauan karena bacaan tak berguna tersebut dan berdecak pelan. "Kenapa kau senang sekali melihat laki-laki hamil? Itu tak masuk di akal!"
"Terserah bagaimana kau menanggapinya. Belajarlah sedikit, Momo, agar kau mengerti cara kerja dunia ini dengan lebih baik." tuturnya santai meski wajahnya memasang wajah prihatin. Momo menghentak-hentakkan kakinya kesal. Kenapa malah dia yang dianggap bodoh di sini?
"Kurosaki-kun, selamatkan sahabatku sebelum aku yang menjadi gila…" jeritnya miris.
BLEACH
Genre: Romance and Fantasy and little bit of Humor
Pairing: Just let see who will be
Warning: OOC, TYPO bertebaran, alur bolak balik, cerita yang muncul tiba-tiba dari kepala author saat galau dan 100 % dari otak author yang terkadang melenceng.
Happy reading~
"Hentikan senyum bodohmu itu." Grimmjow memutar matanya dengan bosan menatap sahabatnya –ia mungkin akan mencoret Ichigo dari daftar sahabatnya- yang terus-terus saja tersenyum bodoh dengan berbagai macam kertas warna warni diatas meja makan miliknya.
Tiga hari sudah ketenangannya terganggu oleh Ichigo yang tampaknya benar-benar balas dendam padanya dengan cara mendatangi flat apartemennya sambil meminta ide padanya tentang rangkaian kata yang digolongkan romantis. Hell, tentu saja ia menganggap dirinya adalah pria romantis. Kalau tidak, bagaimana bisa Nell bisa jatuh ke dalam pelukannya?
Tapi ini Kurosaki Ichigo. Sahabat gila tak berperikemanusiaan yang tega menyedot semua idenya dan memuntahkannya begitu saja seperti sampah kemudian memakai kalimat yang tercipta dikepala jingganya tersebut seenaknya.
Dan bodohnya kenapa ia masih saja memberikan ide cemerlangnya yang dianggap sampah oleh Ichigo!?
"Grimm, kau tak berburu? Aku bisa mencarikanmu laki-laki yang lumayan tampan. Hitung-hitung kau belajar memenuhi keinginan Nell." Grimmjow meradang. Tanpa basa-basi langsung melempari wajah Ichigo dengan sandal rumahannya yang tentu dengan mudah dielak oleh Ichigo.
Ia benar-benar akan mencoret nama Ichigo dari daftar pertemanannya dan memasukkannya ke dalam blacklist vampire yang ingin ia habisi.
"Atau kau temani aku mencari mangsa sementara kau belajar dariku bagaimana caranya? Aku sudah lama tak mencicipi manusia semenjak Rukia menolakku." Ajak Ichigo, lagi-lagi dengan santai. Hitung-hitung mengingat lagi ekspresi Rukia jika ia memangsa manusia berjenis kelamin laki-laki.
"Gila! pantas saja Rukia-chan menolak orang gila sepertimu." Geram Grimmjow sambil menunjuk wajah Ichigo. Meskipun ia dapat melihat wajah Ichigo yang lebih pucat daripada biasanya dan sedikit aura vampirenya yang melemah karena sudah dua minggu tak memakan apapun, tapi mendengar ucapan gila Ichigo benar-benar membuatnya emosi hingga keubun-ubun.
Teman mana yang mengajakmu ke jalan yang salah?!
Ichigo menghentikan gerakan penanya. Agak kesal mendengar ucapan Grimmjow barusan. Dipandanginya Grimmjow dengan seringai licik yang terukir dibibir tipisnya. Grimmjow mau tak mau menelan ludahnya melihat Ichigo dalam mode normalnya yang sudah tiga hari ini menghilang.
Aura mengancamnya mendominasi.
Mungkin seharusnya ia lebih banyak berdoa mulai sekarang. Meminta pada Kami-sama agar dijauhkan dari seorang teman bernama Kurosaki Ichigo.
Ia mengikuti pergerakan Ichigo yang tengah mengeluarkan ponsel layar sentuhnya dari saku celananya dan menekan entah apa di sana. "Seharusnya kau tak berkata seperti itu, Grimm. Sahabat yang baik itu harus saling membantu melakukan kebaikan."
Ia semakin meneguk ludahnya begitu Ichigo memperlihatkannya video dirinya yang sedang berciuman mesra dengan perempuan bertubuh seksi di salah satu bar. "Bertingkahlah seperti kucing manis atau aku akan mengirim video ini pada Nell. Siapa tahu saja kau akan dapat 'ciuman sayang' dari Nell begitu dia melihatnya." Ancamnya.
Grimmjow mendecih kesal sambil mengigit bibir bawahnya. Memutar ulang rencananya untuk membantai Ichigo kali ini. "Sialan kau. Hapus dan aku akan menemanimu mencari mangsa. Kau puas?" Gerutunya kesal. Ichigo hanya terkekeh pelan dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Senang bermain dengan Grimmjow yang mudah emosian.
"Bagus dan tolong setelahnya kau belikan aku pizza double cheese tanpa bawang. Kau yang bayar."
Grimmjow bersumpah akan memesan pizza dengan toping bawang putih yang banyak untuk Ichigo diam-diam.
~~~
"Kaa-san, maafkan anakmu ini yang sudah ternodai…" Ichigo hanya memutar matanya jengah mendengar Grimmjow yang mulai bersikap dramatis di dekat dinding gang kecil pinggiran kota. Lelaki itu mulai meninju-ninju dinding bata tersebut dengan wajah muram yang sangat berlebihan.
Ia mengusap bibirnya yang masih basah dengan lengan kaosnya dan menyibak rambutnya yang sudah berantakan akibat ciuman yang tergolong 'panas' tersebut. Yang menjadi mangsanya pun kini pingsan dengan keadaan yang berantakan pula. Nyaris saja ia kelepasan sebenarnya.
Hei, dia kan sudah tak makan energi manusia selama dua minggu! Jadi jangan menyalahkannya karena sudah bertingkah kelewatan.
Sejujurnya energy manusia yang menjadi mangsanya kini bisa dikatakan lumayan –entah karena dia yang sedang memikirkan Rukia ditengah kegiatannya- makanya ia sedikit kelewatan dengan menyesap energy manusia itu hingga hampir membunuh mangsanya jika saja tak dihentikan Grimmjow.
"Kau dan otak mesummu itu. Aku akan melaporkannya pada Rukia-chan biar dia menjauhi gay mesum sepertimu." Ujar Grimmjow setelah selesai bermonolog ria akan penglihatannya yang terus menatap adegan tak senonoh Ichigo yang dikatakan menjijikkan.
Yah, walaupun tadi ia sedikit tergiur akibat tawaran Ichigo di sela ciumannya.
Ia langsung menampar dirinya dan menendang kembali dinding tak berdosa itu dengan kuat. Meratapi hobi Ichigo yang kini menular padanya. Ibunya bisa menangis menatapnya dari surga.
"Wah, wah…" Sebuah suara berat seorang laki-laki yang terdengar familiar, mengalihkan perhatian mereka berdua. Langkah kaki mendekat diiringi tepuk tangan mengejek membuat Ichigo dan Grimmjow memasang sikap defensive.
Aura mencekam mulai menyelimuti gang sempit tersebut. Langit malam tanpa cahaya bintang pun memperburuk suasana di gang gelap tersebut. Aura persahabatan antara Grimmjow dan Ichigo mulai lenyap dan berganti dengan wajah dingin mereka berdua. Mata madu dan biru itu dalam sekejap berubah merah darah.
"Apa sekarang keluarga Kurosaki, sang pemimpin vampire mulai melemah? Sangat disayangkan calon pemimpin selanjutnya malah membelok." Suara itu kembali mengejek dengan nada rendahnya.
Ichigo menyeringai begitupun Grimmjow yang tertawa mengerikan dibalik seringai tajamnya. "Kurasa kaulah yang salah memilih waktu pertemuan, pak tua. Bagaimana Ichigo? Sudah siap bertarung seperti dulu?"
"Dengan senang hati, partner."
~~~
Rukia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan lelah. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum meraih ponselnya yang ia letakkan begitu saja di sampingnya dan menatap benda tersebut dengan wajah sedih. Rambutnya setengah basah akibat selesai mandi dan ia hanya memakai piyama putih dengan gambar kelinci lucu di sekitarnya.
Apa tak ada kejutan lainnya dari stalker-san?
Ia menghela napas dan melempar ponselnya asal. Menenggalamkan tubuhnya pada boneka chappy pemberian stalker-san tersebut dengan hati gundah. Seharian tanpa gangguan sms atau gangguan dari makhluk setengah manusia membuatnya kesepian. Momo juga memilih mengabaikannya –meskipun hampir 70% dialah yang mengabaikan Momo- dan memilih menikmati makanannya di café.
Pintu kamarnya diketuk tiga kali sebelum pintu kayu tersebut di buka oleh salah satu pelayan rumahnya. Wanita itu membungkuk hormat padanya lalu menatap majikannya yang hanya mengintipnya dibalik boneka besar yang entah kapan bisa ada di sana.
"Byakuya-sama memanggil anda, Rukia-sama. Tuan ada di ruang tamu sekarang." Rukia hanya mengangguk menanggapi dan setelahnya sang pelayan permisi keluar.
Ia segera beranjak dari kasurnya dan berjalan tak semangat menuju lantai bawah dimana Nii-sama menunggu. Dilihatnya, sosok kakak tercintanya itu sedang memunggunginya dan entah sibuk melakukan apa.
"Nii-sama memanggilku?" tanya Rukia sopan. Byakuya menatap sang adik yang berdiri di sampingnya dengan pakaian tidurnya. Bibirnya mengulas senyum yang sangat tipis hampir tak terlihat.
"Duduklah. Aku ingin memberitahumu sesuatu." Perintahnya.
Rukia mengikuti perintah Byakuya dan duduk di sofa yang berhadapan dengan sang kakak. Ia sedikit bingung kenapa Byakuya memanggilnya disaat ia ingin tidur padahal selama makan malam tadi, mereka hanya membicarakan hal yang penting saja sambil sesekali melihat pertengkaran kekanakan antara Ulquiorra dan Nii-sama.
Byakuya kemudian menyerahkan selembar foto ke atas meja dan menyodorkannya pada Rukia. Gadis itu kembali dibuat bingung hingga ia mengambil foto tersebut begitu Byakuya menyuruhnya untuk menyimpan foto tersebut baik-baik.
Matanya melebar begitu melihat sebuah foto wanita yang memiliki wajah yang sama dengannya sedang tersenyum lemah menatap kamera. Wajahnya lebih pucat dari Rukia dan rambutnya sedikit lebih panjang daripada Rukia.
"Apa ini…"
"Ya, itu Hisana." Rukia merasa tercekat. Baru kali ini ia melihat sosok kakak kandungnya secara langsung. Byakuya tak pernah sekalipun menunjukkan bagaimana rupa Hisana. Ia hanya menceritakan bagaimana kehidupan istrinya itu selama ia mengenalnya.
Byakuya terdiam. Ia menelisik wajah adik iparnya yang menatap kagum sekaligus haru pada foto Hisana. Ada kesan sedih dan kecewa juga di mata sang adik.
"Hisana, sebenarnya dia tak pernah sekalipun melupakanmu. Dia selalu menangis tiap malam tanpa sepengetahuanku dan memanggil namamu dalam tidur." Byakuya tiba-tiba bercerita. Rukia mengangkat wajahnya dan diam mendengar Nii-sama nya bercerita.
"Dia meninggalkanmu di panti asuhan bukan karena keinginannya. Dia hanya ingin melindungi nyawamu dari bahaya… Maafkan aku sudah menyimpan semua ini." Matanya semakin melebar mendengar Nii-sama yang selalu bersikap angkuh dan dingin, kini menunduk meminta maaf padanya.
"Apa maksud Nii-sama dengan bahaya?"
~~~
Ichigo menghentak-hentakkan kakinya tak sabar di lantai rumahnya dengan alis berkedut dalam menatap sosok lelaki yang hanya tersenyum canggung pada Ichigo maupun Grimmjow. Lelaki yang hampir saja mereka bunuh tadi jika saja oyaji tak muncul dan menghentikan mereka dengan mudahnya.
Ia butuh penjelasan atas semuanya dari sang ayah yang kini berada di dapur untuk membuatkan minum pada lelaki yang pernah menjadi musuh mereka.
"Jaga kesopananmu, Ichigo. Dia tamu kita." Perintah Isshin. Kepala keluarga Kurosaki itu kini tampak sangat serius daripada biasanya yang membuat Ichigo langsung patuh.
Isshin menghela napas menatap putranya yang masih saja membenci tamu mereka ini meski perang sudah berakhir 17 tahun yang lalu. Masih segar diingatannya juga kala banyak vampire dan manusia yang terbunuh dalam perang mereka. Lelaki dihadapannya ini adalah vampire berbahaya yang memegang teguh untuk meminum darah manusia dibanding klan vampire milik keluarga Kurosaki.
Kariya Jin, pemimpin klan vampire tua yang menamai diri mereka bounts yang terkenal sadis dengan banyak pengikutnya yang tewas saat perang dingin dan satu-satunya vampire dari klannya yang selamat yang kemudian di kurung oleh keluarga Kurosaki sebagai penebusan dosa.
"Jangan bercanda, Oyaji. Kau masih ingat kan karena dia Kaa-san meninggal!" bantah Ichigo sambil menatap dingin Kariya yang hanya tertunduk kaku di sofa ruang tengah keluarga Kurosaki. Kedua adiknya, Karin dan Yuzu hanya mengintip takut dari balik dapur melihat onii-chan mereka benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Isshin hanya diam tanpa membantah ucapan Ichigo, memilih untuk meletakkan secangkir teh panas pada Kariya. Grimmjow yang berada di samping Ichigo pun sama sekali tak membantu karena ia juga sama dendamnya dengan Kariya karena pernah menyekap Nell sebagai tebusan.
Sebenarnya mereka berdua tak tahu alasan dibalik perang dingin tersebut namun mereka ikut membantu karena banyak rekan mereka yang menjadi korban dari kesadisan klan Bounts.
Begitu Isshin duduk di sofa yang berseberangan dengan Kariya, lelaki itu langsung membungkuk 90 derajat pada Isshin. Ichigo dan Grimmjow terdiam ditempat. Menunggu apa lagi yang akan lelaki tua itu inginkan.
"Aku tahu kau sudah memaafkanku, Isshin. Tapi aku benar-benar harus meminta maaf padamu atas kejadian dulu. Istrimu tewas ditanganku dan aku tak pernah bisa memaafkan diriku selama aku dikurung. Aku selalu dihantui rasa bersalah dan hampir gila."
Lelaki itu mengangkat wajahnya sedikit dan mereka semua bisa melihat wajah bersalah yang nyata. "Keegoisan dan obsesiku dulu membuatku buta. Aku baru menyadarinya saat aku bertemu manusia yang membuatku jatuh cinta. Manusia lemah yang membuatku nyaris gila melihatnya terluka ataupun menjadi incaran para vampire kelaparan. Manusia lemah yang bahkan masih menerimaku setelah aku berkata yang sejujurnya tentangku. Monster seperti apa aku ini."
"Aku benar-benar ingin meminta maaf pada Hisana juga. Aku sudah melukainya terlalu dalam. Apa kau tahu dimana dia sekarang?" Kariya menatap Isshin dengan pandangan memohon, namun ia tersentak begitu pandangan Isshin meredup karenanya.
Ia meneguk ludahnya entah kenapa. Firasat aneh langsung menyerbu kepalanya. "Hisana sudah meninggal sehari setelah perang dingin." Jawab Isshin. Sekelebat bayangan masa lalu dimana ia hanya bisa menatap seorang Kuchiki Byakuya memohon agar istrinya di selamatkan sebelum berubah menjadi abu dengan tatapan kosong. Sama sekali tak tahu bagaimana caranya menyelamatkan Hisana yang menjadi tokoh utama dalam perang dingin mereka.
Ichigo sama sekali tak tahu siapa Hisana itu, namun saat Isshin berkata bahwa ia bisa meminta maaf pada adik Hisana dan suaminya yang ternyata adalah Rukia dan Byakuya, ia langsung terlonjak kaget dari sandarannya di dinding ruang tengah. Matanya melebar dan Isshin menghela napas pelan sebelum menatap Ichigo dengan raut lelah.
"Kau masih tak ingat, Ichi? Wanita yang pernah melindungimu dulu dengan nyawanya? Cobalah ingat kejadian 17 tahun lalu. Kau pasti sadar kalau Rukia dan Hisana mempunyai wajah yang mirip."
Ichigo hanya mampu menggeleng pelan. Bayangan kabur itu mulai perlahan terlihat jelas. Rambut hitam sepunggung, mata ungu dan potongan poni yang benar-benar mirip dengan Rukia. Wanita yang tersenyum lemah padanya sambil berbisik maaf dengan darah yang terbatuk keluar dari mulutnya.
Dan yang ia sadari, tubuhnya hanya berlari cepat menuju Kariya dan melayangkan pukulannya pada lelaki tersebut tanpa memerdulikan pekikan adik-adiknya dari dapur maupun tarikan Isshin dan Grimmjow agar menjauh dari Kariya yang hanya pasrah ditangan Ichigo.
"Kubunuh. Aku akan membunuhmu, brengsek!"
~~~
hai, saya kembali lagi
oke, jadi ini adalah puncak permasalahannya. saya takkan memasukkan adegan action apapun karna ini murni drama romance tapi saya semaksimal mungkin akan menjelaskan kisah Hisana di chapter berikutnya. semuanya bakalan jelas kenapa Byakuya dengan mudahnya ngeizinin Ichi buat pacaran dengan Rukia padahal dia vampire *spoiler*
saya juga gk mau janji bakalan update cepet apa nggak karna saya sedang ujian semester tp saya bakalan usahain buat update cepet.
okelah, saya rasa sekian dari saya. makasih banget kepada semua reader-san dan yg udh review. i hope you guys like it.
salam hangat penuh cinta
IreneReiko-chan
mind RnR?
