Author : July
Main cast : B.A.P Bang Yongguk & Kim Himchan (BANGHIM)
Support cast : B.A.P member (Pairing DaJae & JongLo) – Bang Natasha
Gendre : Romance, Hurt, BoyXBoy / Yaoi, AU, Drama
Length : Chapter
Rate : T – M
Disclameir : The story it's mine but not for all the cast
.
.
.
.
.
Warning!
No Bash!
Just leave if you don't like the gendre or the pairing
Typo is normal ^^v
Cast akan bertambah demi kelancaran cerita
.
.
.
.
.
.
Sunlight
[Part 10]
"Cobalah untuk tidak mengingatnya dan jangan bersinggungan dengan apapun dari kejadian itu"
Himchan hanya memandang hijau daun dari pohon beringin yang berada tepat diluar jendela, tempat dimana dia sedang duduk saat ini, didepan dokter di rumah sakit. Jujur Himchan jengah dengan rentetan kata yang keluar dari mulut dokter berkaca mata dihadapannya kini karena Himchan sudah cukup hafal dengan kata-kata itu, ucapan sang dokter agar dirinya tidak mengingat kejadian dimasa lalu dan tidak bersinggungan dengan orang-orang dari masa lalunya.
.
.
.
Hoodie hitam yang melekat ditubuh Himchan, membuatnya semakin terlihat kurus. Dua minggu ini dengan intensitas efek traumanya yang sering muncul membuat Himchan sangat kelelahan, nafsu makannya menurun dan belum lagi beberapa hari belakangan rasa mual juga ikut hadir ketika traumanya muncul.
Himchan berjalan semakin menjauhi apotek rumah sakit saat sudah didapatkannya botol baru yang masih berisikan penuh butiran putih yang ampuh menghilangkan segala efek yang muncul akibat traumanya dan ada satu tambahan botol untuk mengatasi rasa mualnya.
Tidak perduli, Himchan hanya memandangi lantai putih rumah sakit dalam langkahnya menuju parkiran hingga satu panggilan yang memanggil namanya membuat Himchan harus menghentikan kegiatannya memandangi lantai putih itu.
"Ternyata benar kau"
Jika Tuhan benar-benar baik padanya, Himchan hanya ingin saat ini dia diambil nyawanya dari pada harus bertatapan dengan mata yang memandang kearahnya penuh rasa kecewa, kesedihan dan kebencian.
.
.
.
Suara bergemuruh akibat dari pertemuan awan diatas langit sana sudah beberapa kali bergema, menghasilkan petir juga kilatan yang membelah langit gelap. Surai lembut itu hanya bisa tertunduk, tangan putihnya hanya menyentuh pinggiran piring kecil yang menjadi alas dari gelas kramik berisikan kopi hitam dan seseorang yang duduk dihadapannya tidak jauh berbeda, hanya duduk terdiam dengan pandangan mata yang tertuju pada gelas kopi dihadapannya.
"Noona,,"
Sakit. Hanya satu rasa itu yang terhantar untuk Himchan rasakan kini ketika uluran tangannya yang ingin menyentuh tangan lembut dari seseorang yang duduk dihadapannya ditolak dengan cara menarik tangannya yang baru saja tergeletak diatas meja kecil diantara mereka, menolak sentuhannya dengan sangat jelas.
"Kenapa kau kembali?"
"Aah,, itu tidak penting. Yang penting jangan temui Yongguk"
"Noona,, aku,,"
"Jangan panggil aku Noona, kau bukan lagi adikku saat kau pergi meninggalkan Yongguk"
"Noona, aku mohon dengarkan aku dulu,,,"
Natasha bangkit dari duduknya, rintik hujan sudah mulai membasahi bumi bahkan kini suara riuh dari petir semakin sering terdengar saling menyambar. Menatap untuk pertama kalinya pada mata marbel yang kini sudah tergenang air mata sejak mereka duduk di café yang berada didalam rumah sakit.
"Jangan pernah menampakkan dirimu lagi dihadapan kami"
Natasha meninggalkan Himchan begitu saja tanpa memberikan waktu untuk Himchan mengatakan sesuatu sebagai penjelasan. Himchan duduk dengan menghempaskan bokongnya keras pada kursi kayu tempatnya semula, pikirannya kacau dan linangan air mata itu sudah tidak lagi bisa dibendung.
.
.
.
Himchan melajukan dengan cepat mobilnya dijalan tol ditengah hujan yang semakin deras turun dari langit gelap diatas sana, bahkan lebih dari 100 Km/jam namun dengan sekejap menginjak pedal rem untuk berhenti, alhasil membuat mobil yang dikemudikannya melenceng keluar jalur, selamat karena mobilnya tidak tergelincir dan terbalik.
"AKHH!"
Dan setelahnya hanya ada suara pilu dari isak tangis Himchan yang menggema, memenuhi ruang sepi didalam mobil mewahnya.
.
.
.
(u_u)(n_n)
.
.
.
Masuk kedalam kamar, Natasha mengunci pintu kamarnya. Kunjungannya kerumah sakit untuk melakukan medical check up hari ini malah mempertemukannya dengan orang yang sangat penting untuk sang adik. Deru nafasnya tidak teratur, amarah menghantuinya kini namun disana juga ada kecewa serta rindu yang turut hadir. Langkahnya menghampiri nakas disamping tempat tidurnya, membuka laci kedua yang ada disana.
Tangan kanan yang kini memegang selembar foto bergetar dengan hebat, tangan kirinya hanya bisa berperan meredamkan suara isakkannya dengan menempel dimulut. Disana Natasha tersenyum gemas dengan mencubit pipi chubby seorang remaja pria yang terlihat manis dengan seragam sekolahnya, mengerucutkan bibirnya lucu.
Adik manja kesayangannya, itulah seorang Kim Himchan untuknya. Kekasih dari adik kandung satu-satunya yang Natasha miliki, seseorang yang selalu menemani keseharian adiknya itu. Segala tingkah Himchan membuat Natasha sangat sulit untuk tidak menyayangi pria cantik yang berkelakuan manja itu, Natasha sangat menyayangi Himchan layaknya adiknya sendiri hingga sampai-sampai ketika Yongguk membuat Himchan menangis maka Natasha-lah yang akan maju untuk memarahi Yongguk karena sudah membuat adik manjanya itu mengeluarkan air mata dan jika itu sudah terjadi Yongguk hanya bisa berulang kali meminta maaf padanya.
Himchan pergi dari kehidupan mereka, dirinya dan Yongguk ketika Yongguk harus menjalani masa tahanannya. Natasha sangat kecewa dan sedih mendapati kenyataan tersebut, inginnya saat itu Himchan tetap bersamanya, menemaninya dalam masa berat harus merelakan sang adik kandung masuk kedalam tahanan sebagai narapidana dalam kasus pembunuhan.
Ada rasa tidak terima yang Natasha rasakan ketika Himchan pergi meninggalkan mereka kala itu. Himchan meninggalkan Yongguk yang terpuruk, seakan rasa cinta yang selama ini Himchan miliki untuk Yongguk menguap begitu saja dengan musibah yang menimpa adiknya itu.
.
.
.
.
.
-Sunlight-
.
.
.
.
.
Bibir tebal itu kembali menyesap bir yang terbungkus kaleng, tatapannya tidak terfokus pada apapun. Angin besar yang kini bertiup untuk menemani kesendiriannya di atap gedung kampus yang kosong tidak dapat mengganggu Yongguk dengan pikirannya yang terasa lelah. Sudah berhari-hari dia berusaha untuk menemukan sesuatu tentang Himchan di kampusnya namun tidak membuahkan hasil, pihak kampus terlalu ketat menyimpan informasi tentang mahasiswa mereka.
Yongguk merasa jika tidak ada pintu yang terbuka untuknya dapat menemukan kebahagiaannya. Menemukan Kim Himchan.
.
.
.
"Junhong'ssi …"
Kedua pria berseragam sekolah tersebut berhenti melangkah menjauhi gerbang sekolah, lalu berbalik untuk mendapati wajah manis dari seseorang yang juga menggunakan seragam sekolah, namun berbeda dengan yang mereka kenakan. Jungkook.
Senyum merekah diwajah diberikan Jungkook untuk menemani langkahnya mendekati Junhong dan Jhope berdiri. "Oo, Jungkook'ssi, a-apa yang kau la-lakukan disini?" Junhong nampak gugup untuk mendapati Jungkook yang datang menemuinya disekolah sedangkan Jhope hanya bisa memandangi dari ujung kaki hingga kepala Jungkook, mencoba menilai seseorang yang diketahuinya dari cerita Junhong sebagai mantan kekasih Moon Jongup.
"Maaf mengejutkanmu dengan kedatanganku. Aku hanya ingin meminta ijin padamu"
Buruk. Tentu saja Junhong bisa merasakan feeling buruk akan ucapan Jungkook dengan kata permintaan saat ini dihadapannya, apalagi Jungkook sudah sampai datang kesekolahnya. "Ijin? Untuk apa?"
.
.
.
"Kau bodoh, kau tau itu Junhongie?"
"Bagaimana kau bisa dengan mudahnya mengijinkan dia menghabiskan waktu dengan Jongup hyung? Jongup hyung itu kekasihmu dan dia hanya mantanya. Ingat, mantan"
"Aku tahu"
Jhope hanya bisa mendengus mendapati respon datar dari Junhong akan kejadian Jungkook tadi yang menghampiri mereka disekolah. Dimeja belajarnya Junhong hanya dilihatnya sibuk dengan buku-buku pelajaran, membuatnya kesal.
"Entahlah denganmu, tapi menurutku mengijinkan mereka menghabiskan waktu itu hanya akan merugikanmu. Jika benar kau mencintai Jongup hyung, kenapa kau tidak mempertahankannya. Sudahlah, aku pulang"
Menangkup wajahnya, Junhong tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Tadi, dihadapan Jungkook mulutnya dengan mudah mengabulkan permintaan Jungkook untuk bisa menghabiskan waktu dengan Jongup dalam beberapa hari dan jujur saja perkataan Jhope cukup menohoknya.
.
.
.
Cahaya lampu jadi pemandangan satu-satunya yang kini tersaji dihadapan Yongguk, angin khas malam menemani rasa kagumnya akan pemandangan yang tengah dinikmatinya, Yongguk tidak menyangka jika ada tempat seperti ini tidak jauh dari Seoul.
"Kau sering kesini bersama Jongup?"
Anggukan mantap yang Yongguk terima hingga tubuh tinggi langsing milik Junhong berbalik untuk berhadapan dengannya, tak lagi hanya fokus akan gemerlap cahaya lampu dibawah sana. "Kami sering datang kesini, bahkan disinilah Jongup hyung menyatakan cintanya padaku" Junhong kembali berpaling dari Yongguk, tidak ingin pria yang lebih tua darinya itu menangkap raut sedihnya saat ini tetapi nampaknya Junhong tidak berhasil karena Yongguk sudah bisa dengan jelas menangkap kesedihan pria bersurai abu-abu itu semenjak mereka dalam perjalanan menuju tempat ini.
Hampir setengah jam dari percakapan mereka sebelumnya, hingga kini tidak satu pun dari Junhong atau Yongguk membuka suara. Keduanya seakan terhanyut akan gemerlap cahaya lampu kota dibawah bukit sana. Yongguk menghampiri Junhong yang berdiri dekat dengan tralis besi yang menjadi penyangga, berjarak satu meter dari tabing bukit, mengambil posisi yang sama dengan Junhong.
"Jangan lakukan itu Junhongaa, berhentilah"
Tidak mengerti, Junghong memandang penuh tanya pada Yongguk akan perkataannya barusan. Yongguk tetap mengarahkan pandangan matanya pada cahaya lampu dibawah sana, mempertemukan kedua telapak tangannya untuk dikepal bersamaan.
"Berhenti menutupi perasaanmu dari sekitar, biarkan orang-orang tahu perasaanmu, tahu kesedihanmu. Jangan menutupinya dan menyimpanya sendiri. Kau akan lelah, bahkan terlalu lelah untuk berhenti"
"Aku,,"
"Melihatmu yang berusaha keras menutupi kesedihanmu membuatku berkaca, ternyata begitulah aku. Mungkin kau bisa menutupinya dari orang lain tapi tidak pada orang yang juga melakukan hal yang sama"
Junhong hanya bisa terdiam, sungguh dia saat ini sangat ingin menangis. Menangis tersedu untuk meminta Jongup bersamanya, hanya bersamanya tanpa ada bayangan Jungkook yang hadir diantara mereka, tanpa ada cinta tersisa di hati Jongup untuk Jungkook.
"Junhongaa,, menangislah dengan benar"
Tepat saat ucapan Yongguk selesai, disaat itu juga air mata Junhong mengalir untuk membasahi pipi putih mulusnya. Hanya butuh satu menit hingga akhirnya isakkan Junhong terdengar, Junhong benar-benar menangis dengan benar sekarang, dia tidak lagi berusaha untuk menutupinya lagi.
"A-aku tidak i-ngin membaginya dengan siapapun Hyung, t-tidak mau,,"
Tidak tega, Yongguk akhirnya merengkuh Junhong kedalam pelukkannya. Isakkan Junhong terdengar seperti isakkan anak kecil yang memilukan telinga, terdengar mirip dengan isakkan tangis Himchannya yang manja.
.
.
"Ada yang bisa jelaskan padaku, kenapa kalian berdua disini?"
Yongguk melepaskan rengkuhannya dari Junhong lalu memandang kaget pada sosok Jongup yang tiba-tiba hadir disana bersama mereka, sedangkan Junhong sedang berusaha untuk menghentikan isakkannya. Segala penjelasan yang ingin Yongguk lontarkan seakan hilang ketika matanya menatap sorot mata datar dengan kesan dingin yang tengah Jongup lancarkan kini, pikirnya perkataan apapun yang akan dia ucapkan tidak akan memperbaiki keadaan.
Awalnya Jongup datang berkunjung ke bukit ini karena merindukan Junhong yang mengabaikannya dan seakan menjauh darinya, yang akhirnya malah mendapati kekasihnya itu tengah menangis didalam pelukkan hyungnya, Bang Yongguk.
"Harusnya H-hyung sedang di j-jeju dengan Jungkook"
"Dan tidak akan melihat kalian disini?"
"Jongupiee,,"
"Karena Jungkook meminta ijin padaku untuk menghabiskan waktu dengan Hyung di Jeju dan harusnya kau disana bersamanya"
"Memangnya kau siapa sampai harus memberi ijin aku pergi atau tidak?"
Junhong mengangkat kepalanya, memandang sedih dan tidak percaya akan ucapan yang baru saja dia dengar dari Jongup. Benarkah? Benarkah jika Junhong kini bahkan bukan lagi siapa-siapa untuk Jongup? Ucapannya barusan membuat pikirannya dengan mudah bisa menyimpulkannya.
"Moon Jongup, kau,,?" Yongguk tidak melanjutkan pertanyaannya ketika pandangan dingin Jongup terarah jelas padanya.
"Aku sudah bilang bukan, jika aku jauh lebih mencintaimu dari Jungkook. Dia hanya masa laluku"
"Benarkah kau mencintaiku? Karena kau bahkan tidak berusaha mempertahankanku"
Jongup berbalik, berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan Yongguk dan Junhong. Namun seketika langkahnya berhenti saat Junhong membuka suara.
"Karena Hyung mencintainya. Aku tidak bodoh untuk bisa melihat betapa kau merindukannya saat kita bertemu dipesta dan bagaimana Hyung menikmati senyumannya, aku tau itu"
Jongup terdiam, tidak ada kata yang bisa dirangkainya untuk menyangkal perkataan Junhong. Dia benar jika Jongup masih mencintai Jungkook meski dalam skala kecil dan senyum itu, Jongup masih menyukai senyum manis khas Jungkook, tetapi apapun itu dia lebih menyukai segala hal dari Junhong.
"Lagi pula,,, dia sepadan denganmu Hyung, berbeda denganku"
Yongguk terkejut akan ucapan Junhong, menurutnya ucapan Junhong barusan hanya sebuah alasan bodoh. Jongup , dia tidak akan pernah mempermasalahkan hal seperti itu dan terlebih Yongguk cukup kaget karena kini ada senyum diwajah Junhong meski air matanya tetap mengalir.
"Baiklah. Kau antar dia pulang Hyung"
"Ya Moon Jongup!"
.
.
.
.
.
-Sunlight-
.
.
.
.
.
"Hyung,,"
Himchan mengerjapkan matanya yang sembab dan membengkak dengan sangat berat ketika beberapa kali bahunya mendapatkan tepukkan ringan serta suara lembut yang menyapa gendang telinganya dihari yang mulai siang. Beberapa hari ini tidak pernah dilewatkan Himchan tanpa menangis, jadi mata yang membengkak adalah bukti nyata dari kegiatannya tersebut.
Senyum iba Youngjae yang dilihatnya ketika kedua matanya bisa terbuka dengan benar, mencoba menunjukkan senyumnya pada Youngjae yang duduk disampingnya diatas tempat tidur. "Hyung mandilah dulu, aku sudah membuat makanan" ucap Youngjae masih dengan tangannya yang menyentuh bahu Himchan.
.
.
.
Tidak tahu harus berbuat apa dan berkata saat ini ketika Himchan mendapati Daehyun yang duduk di meja makan rumahnya tepat disamping Youngjae yang sudah menampakkan senyumannya. Himchan hanya bisa melangkah mendekati meja makannya dengan langkah kaku.
"Tenanglah Hyung, ada yang ingin kami bicarakan dan sebaiknya kita makan saja dulu"
Entah kemana otak jenius Youngjae, itu yang kiranya ingin Himchan pertanyakan untuk memintanya makan dengan Daehyun yang duduk dihadapannya, orang yang beberapa waktu lalu berteriak padanya, marah akan kehadirannya dan sepertinya Daehyun bisa melihat itu dengan baik.
"Aku,, hanya ingin melihat Yongguk hyung bahagia dan aku tahu jika itu dengan bersamamu"
"Ma,, maksudmu?"
"Daehyun dan aku akan membantu Hyung untuk bertemu dengan Yongguk hyung"
Himchan beryukur karena kini Daehyun ingin membantunya untuk bertemu dengan Yongguk namun perkataan Natasha padanya waktu itu serta rasa traumanya yang muncul saat bersentuhan dan bertatapan langsung dengan Yongguk seakan menjadi tembok besar bagi Himchan untuk bisa menggapai Yongguk.
.
.
.
.
.
-Sunlight-
.
.
.
.
.
"Euungh,, Dae,," tidak mau berhenti lidah Daehyun terus saja membelit lidah Youngjae untuk dirinya hisap dengan kedua tangannya merengkuh erat tubuh Youngjae dipelukkannya hingga akhirnya Youngjae mendorong pelan dada Daehyun, memberitahu jika Youngjae benar-benar ingin ciumannya berhenti.
"Wae?"
"Kau ada kuliah dua jam lagi"
Daehyun hanya mendengus malas mendengar ucapan Youngjae dengan menyandarkan bahunya pada kepala tempat tidur yang dipunggunginya. Inilah yang harus Daehyun terima jika memiliki kekasih yang memiliki otak cerdas, yang selalu mengutamakan urusan pendidikannya.
"Jangan lupa dengan rencana kita nanti sore dan kau mau makan apa?"
Mengusap wajahnya malas, Daehyun mendengus malas. "Aku mau Yoo Youngjae goreng" mendengar itu Youngjae hanya bisa terkekeh pelan. Daehyun, kekasihnya memang akan seperti itu jika Youngjae dengan sengaja menghentikan moment-moment romantis mereka berdua. Youngjae yang sudah berada didalam kamar mandi kini kembali menghampiri Daehyun yang masih saja bersandar ditempat tidur.
"Kau ingat bukan, jika aku menyukai pria yang bertanggung jawab? Dan untuk mengikuti kelas itu adalah tanggung jawab seorang mahasiswa. Jika tanggung jawab kecil saja kau suka mengabaikannya bagaimana nanti kau bertanggung jawab dengan perusahaan ayahmu atau bagaimana kau bertanggung jawab atas diriku?"
Daehyun kalah dan memang selalu kalah dengan kekasih manis tercintanya ini, Yoo Youngjae. Daehyun menarik Youngjae untuk duduk diatas kedua pahanya, tersenyum manis pada sang kekasih yang selalu bisa membangkitkan semangatnya ini dan kemudian mengusap lambut surai coklat madu milik Youngjae.
.
.
.
Sweater putih rajutan melekat pas ditubuh Himchan, dipadukan dengan jeans biru gelap yang membuat penampilannya terlihat simple namun enak dipandang mata. Mungkin bibirnya mengatup, tidak mengeluarkan sepatah katapun namun hatinya bergemuruh untuk menanti saat dimana dia akan bertemu dengan Yongguk karena hari ini Daehyun dan Youngjae berencana akan mempertemukan mereka berdua namun isi kepalanya menanggalkan rasa gemuruh itu dengan perasaan yang sesungguhnya Himchan tidak inginkan.
"Harusnya mereka sudah sampai"
Himchan menoleh kearah Youngjae yang kini duduk disampingnya dan kemudian berpaling pada pintu café bersamaan dengan Youngjae, "Itu mereka datang". Himchan jelas melihatnya, Yongguk menghentikan langkahnya ketika mata dengan sorot tajam itu melihatnya dan kemudian kembali melangkah saat Daehyun menyentuh lengannya, seakan menyadarkannya.
"Kalian berdua bicaralah"
Sebaris ucapan itu yang Daehyun suarakan sebelum menarik Youngjae dari samping Himchan, membawanya ke meja yang cukup jauh dari meja Yongguk dan Himchan berada. Himchan hanya bisa menundukkan kepalanya dalam, mencoba mengatasi detak jantungnya yang mulai berdetak dengan cepat serta mengatur nafasnya. Yongguk akhirnya menarik kursi untuk dia duduki, perasaan yang begitu banyak muncul untuk dirasakannya dalam waktu yang bersamaan dan itu cukup membuatnya sesak.
.
.
"Aku minta maaf"
Dibawah meja sana Himchan meremas keras jari-jarinya hingga memutih untuk menahan segala yang dirasakannya didalam hati dan juga yang organ-organ tubuhnya mulai rasakan, bahkan kini rasa mual itu juga mulai terasa.
Tak ada yang bisa Yongguk lihat selain surai hitam Himchan karena kepalanya masih menunduk dalam. "Maafkan aku karena aku, kau jadi menderita" ucap Himchan lagi dan jujur saja Yongguk sangat ingin merengkuh tubuh seseorang yang dicintainya itu. Yongguk hanya fokus untuk mengamati segala yang ada pada Himchan tanpa menaruh perhatian akan kata-kata maaf yang Himchan utarakan hingga akhirnya telinganya mendengar sesuatu yang menohok hatinya.
"Maaf untuk menampakkan diriku lagi dihadapanmu, aku tahu kau pasti membenciku dan itu tidak apa karena aku pantas untuk itu. Aku benar-benar minta maaf, ini terakhir kalinya"
Suasana café yang sepi membuat Youngjae dan Daehyun bisa mendengar pembicaraan kedua Hyung mereka. Youngjae bangkit dari bangkunya, berjalan menghampiri Himchan dan Yongguk karena dia tidak mengerti arah pembicaraan Himchan saat ini.
"Apa maksudnya terakhir kali Hyung?"
"Ma,, maafkan a-aku,,"
Tangis sudah tidak bisa lagi Himchan tahan dan isakkan yang muncul membuatnya semakin sulit bernafas, suara detak jantungnya yang semakin cepat itu sudah memenuhi telinganya. Himchan sudah hampir sampai batas kemapuannya untuk menahan segala rasa sakit yang menderanya saat ini. Jemarinya yang diremas keras dibawah meja akhirnya terlepas untuk menyentuh dadanya dan gestur kesakitan itu sudah cukup membuat Youngjae tanggap harus berbuat apa, dengan cepat Youngjae berlari kearah mobil Himchan untuk mengambilkan obat.
Yongguk langsung berhambur kearah Himchan, menahan tubuh Himchan untuk tidak terjatuh dari kursinya. Akhirnya Yongguk bisa melihat wajah orang yang dicintainya, meski dengan keadaan yang sangat tidak disukainya. Wajah Himchan pucat dengan buliran keringat yang membasahi sekujur wajah cantiknya dan dari yang bisa dia ingat jika berat tubuh Himchan jauh berkurang dari yang dulu.
"Kirimkan ambulance segera ,,,,,"
"Atur nafasmu Hyung"
"Chanie,,,"
Dan untuk mendengar kembali suara berat itu memanggil namanya membuat Himchan semakin terasa berat untuk bernafas, suara berat Yongguk terdengar sangat frustasi dan Himchan hanya bisa melihat Yongguk dengan pandangan memohon, mungkin memohon untuk tidak merasa sakit akan dirinya atau sekali lagi meminta maaf akan kesalahannya.
Linangan air mata masih setia turun dari sudut mata Himchan menemani semakin beratnya Himchan menarik nafasnya. Tangan Himchan terangkat dan langsung digenggam erat oleh Yongguk, "Bertahanlah, mereka akan datang. Bertahan untukku" dan yang terjadi Himchan malah memejamkan matanya, tak lagi bisa menghirup oksigen untuknya bernafas.
.
.
.
.
.
-The End?-
Apa ini? Yah, ini adalah Chapt 10 dan lagi-lagi absurd. Julz gak tahu ini bisa memenuhi ekspektasi kalian para readers atau enggak, tapi ya beginilah yang ada di otak Julz untuk kelajutan cerita di chapter ini. Semoga bisa dinikmati.
Oh ya, Julz lupa buat bilang ini di chapter 9 kalau ada kesalahan nama di Chapt 8, yaitu saat tiba-tiba ada Hyosung yang jadi teman sekelas Yongguk padahal Hyosung itu adalah sepupu Jongup yang jadi salah satu petinggi di Sogang, Julz lupa kalau Hyosung sudah dapat peran. Maaf yah, namanya juga Author abal *Peace*
.
.
.
Thanks to:
– Jung – she3nn0
Cupcake – Link account – Riani Lee – hanbinjjang
#ForeverWithBAP
#EarthNeedsRespect
Mind to review (again)?
