Mereka sampai di depan rumah tepat pukul sembilan malam. Taehyung menyadari perubahan mood sang istri jadi dia hanya diam tanpa melakukan apapun. Bukan, bukan dia sengaja atau tidak peduli. Tapi, jika Jungkook saja diam dan tak menjawab saat ditanya, Ia bisa apa?

"Aku akan mengantar Jimin kekamarnya kamu bisa kekamar sendirikan? "

Tidak ada jawaban hanya sebuah anggukan dan Jungkook pun berlalu menuju kamarnya.

Taehyung menghela nafas lalu kemudian berjalan menuju kamar Jimin yang berada tidak jauh dari kamarnya.

Biasanya Jungkook yang akan mengganti pakaian Jimin, jadi mau tidak mau Taehyung harus mengalah pada istrinya yang sedang dalam kondisi yang tidak baik.

"Apa terjadi sesuatu disana? " Taehyung agaknya jengah, wanita ini bahkan tidur membelakangi nya.

Jungkook diam sama sekali tidak berniat menjawab.

Kembali menghela nafas.

"Jungkook? "

"Aku akan tidur dengan Jina, jika kamu merasa ingin sendiri.. "

Jungkook menolehkan kepalanya, mendelik kesal. Lalu mendengus.

Entah, Jungkook juga sedang berfikir. Seberapa beraninya Ia dengan Taehyung hingga dapat berlaku seperti ini.

"Makanya, hadap sini aku tidak ingin diabaikan.. "

Sekali lagi mendengus, tapi toh dia berbalik lalu tangannya dengan lihai Ia taruh diperut datar sang suami. Posisi memeluk.

"Ada apa? "Tanya Taehyung sambil. mengelus tangan Jungkook. Yang ditanya menggeleng kecil.

"Baiklah, tidur sudah malam.. "

-Kim-

Pagi menjelang ketika Jungkook membuka matanya yang terasa silau diterpa sinar matahari,

Siapa yang membuka jendela ?

Jungkook bangkit dan menemukan jam dinding menujukan pukul setengah tujuh. Menghela nafas sebelum mengusap wajahnya pelan.

Telat bangun.

Selesai mencuci muka dan gigi Jungkook berjalan keluar kamar, untuk membantu Bibi Jung yang mungkin sudah terlebih dahulu memegang spatula kesayangan Jungkook.

Bibi Jung memang terkadang membantu,tapi tujuh puluh persen dari bagian rumah ini Jungkook yang mengurus. Bibi Jung hanya membantu di bagian cuci baju ,menyetrika dan juga membantu Jina ,lebihnya Jungkook sendiri yang bertanggung jawab.

Termasuk makan pagi,siang dan malam semua manusia dirumah ini.

Dan disaat-saat ini lah Bibi Jung juga sangat diperlukan,karena sang nyonya sedang lelah akibat pesta semalam sekarang dirinya sedang berdiri sembari menyusun lauk ditengah-tengah meja makan. Dengan tiga orang yang sudah siap dikursi makan masing-masing.

"Mommy dimanaa?Kenapa Chim,dibangun bangun oleh mamah dan daddy?" Jungkook yang hendak melangkah mendekat,menghentikan langkahnya.

Dari sini dia dapat melihat keseluruhan dari mereka walau mereka memunggungi Jungkook.

"Mommy sedang lelah,adik bungsu ingin tidur lebih lama.. Jadi,chim hanya akan sarapan dengan mamah dan daddy.." Si kecil mengangguk,lalu dapat dilihat bahwa Bibi Jung mulai menyuapi anak hyperaktif itu.

Taehyung dan Jina mulai memakan sup ikan asam yang dibuat atas resep dari Jina.

"Ini enak sekali, Bibi.. "Komentar Taehyung, Bibi Jung tersenyum kecil.

"Nyonya Jina yang memberikan resepnya, tuan. Aku hanya mengikuti apa yang Nyonya katakan.. " Jawabnya, Taehyung tersenyum. Jungkook mendengus kecil.

"Tentu dia yang terbaik dalam hal ini.. "

Perjalanannya kembali terhenti ketika dengan lugas Jina meraih teko air yang berada tepat di sisi kirinya lalu menuangkan air untuk Taehyung.

Kenapa sakit? Apalagi dia melihat dengan lembut Taehyung meraih tangan Jina yang berada diatas meja makan lalu mengenggamnya erat. Kedua tersenyum manis sekali hingga membuat senyum miris milik Jungkook keluar.

Jadi ini ya, yang diraskaan Ka Jina setiap pagi? Jungkook berkata dalam hati.

Tidak dapat menahan rasa sakitnya,Jungkook memutuskan untuk kembali kekamarnya,menguncinya dan kembali berbaring menutup mata.

Hingga lima belas menit mencoba,yang didapat hanya rasa sesak. Tidak ingin menangis maka dia dengan iseng meraih ponsel miliknya yang tergeletak begitu saja disamping nakas.

Niat awal ingin mencari makanan yang mampu mengunggah seleranya,karena Demi Tuhan. Dia tidak akan mau memakan makan yang dibuat oleh bibi Jung.

Entah kenapa,egois?

Kalau iya kenapa? Apa itu menyakiti harga diri kalian?

Saat hendak mengklik pencarian sebuah pesan masuk lewat kakaotalk.

-Jungkook?

07.15

Jungkook menjerit merasa tidak kenal dengan ID ataupun nomor tersebut.

Siapa?

07.16

Kau lupa padaku?

07.16

Bahkan tidak ingat! Siapa?

07.18

-Ini aku, Yugyeom.

07.19

Mulutnya terbuka, kaget.

Mantan pacarnya mengiriminya pesan? Untuk apa?

Pada akhirnya Jungkook hanya membiarkan chat itu terbaca tanpa niat membalas.

Sebuah ketukan menghampiri indera pendengarannya saat Jungkook masih termenung tentang mantan kekasihnya, Yugyeom.

"Jungkook? Sudah bangun? Pintu terkunci, bisa buka? Tas ku masih didalam.. "

Niat awal ingin mengabaikan, tapi toh dia berjalan dan membuka pintu.

"Jungkook-ah.. Kenapa ada apaa? "Taehyung menarik tangan Jungkook dan membalikkan badannya menghadap Taehyung.

Si wanita terdiam,

"Taehyung, mau tidak kalau aku menyuruhmu untuk menemaniku dan tidak berangkat kerja..??" Taehyung menyeritkan wajahnya.

"Apa bungsu membuat masalah? " Taehyung menatap perut, sambil. mengelus lembut gundukan kecil tersebut.

Jungkook menggeleng sedikit,

"Aku hanya ingin bersamamu.. "

"Kamu yakin? Bahkan semalam kamu tidur memunggungiku.. Dan barusan mengunci pintu.. "

Jungkook terdiam, bingung harus menjawab apa.

Otaknya mendadak tidak dapat berjalan dengan lancar.

"Baiklah.. " Jungkook berbalik lalu berjalan menuju tempat tidurnya.

"Aku ada meeting siang ini, jika sudah selesai akan ku pastikan pulang lebih cepat, okke? "

Jungkook tidak menjawab karena setelahnya Taehyung dengan cepat menyambar tasnya dan keluar dari kamar

-KimJeon-

Jungkook berjalan beriringan dengan lelaki tinggi disebelahnya memasuki restoran yang memang menjadi tujuan mereka.

Restorant yang cukup besar didalam Mall ini menyediakan beberapa mie dingin juga sup asam yang sangat mengiurkan.

"Gyeomie, kau yang traktir? " Ini adalah, pertama kalinya Jungkook pergi keluar rumah tanpa Jimin disisinya. Padahal selama statusnya menikah, wanita ini sangat menjaga posisinya sebagai ibu dan juga istri.

"Iya, Kookie.. hehehe"Lelaki yang mempunyai wajah tampan juga tinggi menjulang itu tersenyum lembut kearah Jungkook membuat yang diberi senyum sedikit tersipu tetapi pura-pura biasa.

"Kenapa tidak membawa anakmu? "

"Anak? Hey, aku bawa satu disini! "Jungkook menunjuk perutnya yang sedikit buncit. Yugyeom menatap perut Jungkook kaget.

"Kamu hamil? "Memang sih, Jungkook memakai sebuah switter abu-abu milik suaminya yang membuat dirinya tampak kecil karena switter membungkus tubuhnya.

"Yaaa, baru empat Bulan. Makanya belum terlalu terlihat besar. "

Jungkook tersenyum, tangan Yugyeom terangkat hendak mengelus. Satu dua elusan membuat Jungkook nyaman sambil menatap kearah lelaki yang sedikit tersenyum manis.

Membuat Jungkook melamun, hingga mengantuk sebelum sebuah suara yang sangat Ia kenal menginterupsi kegiatan mereka.

"Ini yang membuat panggilanku terabaikan? "Suaranya datar, sama seperti tatapannya saat Jungkook menoleh keasal suara.

"Ehh, umm.. " Jungkook gugup, tangan Yugyeom yang masih mengelus perutnya di jauhkan.

"Jungkook, apa yang sedang kamu lakukan disini dengan pria yang belum aku kenal? Sampai harus mengabaikan telpon dan chat, juga meninggalkan Jimin dirumah? "

Jungkook buru-buru bangkit,

"Gyeom,ini suamiku.." Dia meraih lengan Taehyung untuk kemudian mengandengnya posesif.

Taehyung mendengus.

"Tuan,maaf.. Tapi bolehkan aku membawa pulang istri nakalku ini? Dirumah anak kami pasti mencari-cari Mommynya..."Taehyung tersenyum walau terlihat menahan marah. Jungkook diam.

Yugyeom yang masih kaget hanya mengangguk kecil, otaknya hanya merespon bahwa dia hanya perlu mengangguk.

Lalu Jungkook ditarik setelah Yugyeom mengangguk.

"Pelan-pelan jalannya, Taehyung.. "

Taehyung berhenti tepat didepan pintu mobil mereka, sekarang mereka berada di basemen.

"Siapa dia? " Jungkook menyerit, suara Taehyung dalam dan wajahnya sedikit seram.

"Temanku.. " jawabnya sambil. menundukkan kepalanya.

"Yakin hanya teman?.. "

Jungkook mengangkat kepalanya, kesal.

"Kenapa meragukan ku? " Niat hati ingin cari pembangkit mood. Kenapa malah semakin kesal dan tidak mau melihat Taehyung, yah?

"Aku telepon tidak diangkat, kamu meninggalkan anakmu dirumah, lalu aku bertemu kamu disini bersama pria lain dan pria itu mengelus perutmu dengan santai, aku suami mu lho, kalau lupa Jungkook...?" Nada suaranya datar, tapi yang untuk kali ini Jungkook tidak takut atau menciut. Rasa kesalnya lebih mendominasi.

"Dia mantanku, mau apa? Setidaknya dia mau menemaniku keluar, tidak seperti kamu yang punya segudang pekerjaan dan mengabaikan aku.. "

Taehyung terdiam,telak kalah.

Tapi dia melakukan ini demi mereka,menghela nafas.

"Sejak kapan kamu jadi seperti ini? Merajuk?"

Jungkook memutar matanya,kesal.

Dia juga sebenarnya bingung, dari insiden kemari perasaanya terus makin memburuk ditambah tadi pagi. Maka saat Yugyeom mengajaknya bertemu dia tidak berpikir dua kali untuk mengiyakannya.

"Katakan sesuatu, bicarakan kalau memang menganjal bukan pergi dengan lelaki lain, kamu itu istriku.. "

"Aku tidak mengerti, Tae!! "teriaknya, air matanya mulai mengenang.

Taehyung menggelengkan kepalanya frustasi.

"Aku berharap banyak denganmu, Kook.. Aku tidak tau apa yang kamu pikirkan atau apa yang membuatmu merasa kacau. Jika disaat seperti ini saja kamu tidak bisa percaya padaku, bagaimana nanti saat aku butuh kepercayaanmu? "

Jungkook terdiam, sepertinya dia mulai berfikir bahwa dirinya mulai keterlaluan.

Tapi jangan salahnya dirinya, perasaannya sedang kacau.

TBC.

Kemanaaaaa itu pembacaku yang Budiman? Pada bosennn ini sih yaaa samaaa ceritanyaaaa, ahhhhhhh emg crtanya payah. Aku tauk kokk. hiks hikss...

Semalem udah jadi part ini, tapi kecapean trus keboboan. Selamat liburan selamat baca selamat nangis liat merchandise Wingstourfinal yang harganya biking kantong tiris.

Hikshikshikssssss..

Jangan lupa review sayang syaangnya akuuu...

Candnim

@candnimkth (IG)