Tittle: Lady Rose

(10th Chapter)

Present by RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)


Jika tertawa kau manis sekali, jadi lebih seringlah tertawa.

Kyungsoo telah duduk menghabiskan malam di ruang kerja Kai. Dia mengunci ruangan ini dari dalam setelah memberitahu Ravi. Menikmati alunan musik yang lembut. Walau matanya fokus pada layar laptop. Beberapa kali gadis itu mengernyit, artikel yang tadi siang ia terima tidak ada di internet. Ya Tuhan. Kyungsoo bukankah itu sudah berlalu selama dua puluh tahun.

Ia menjadi ragu tentang kebenaran kasus ini, tidak pernah disinggung apapun. Tidak ada kabar, bahkan yang menyerupaipun tak ada.

Ia menghela napasnya, bersender di kursi putar Kai yang empuk. Matanya terpejam menikmati kedamaian. Aroma maskulin Kai masih tertinggal di kemeja yang Kyungsoo gunakan saat ini.

Apa dia merindukan pria itu? Yeah... Kyungsoo mulai mencintai pria itu. Bukan sekedar karena dia bisa berlindung di balik kekuasaan Kai.

Lelaki itu, senyumannya yang paling menawan. Membuat hati tenang dan bahagia. Entahlah, itu terjadi begitu saja. Mengingat sisa kontrak mereka, hati Kyungsoo merasa nyeri. Apa dia harus menempuh perpisahan setelah ini? Apa yang bisa Kyungsoo lakukan? Dia jadi berharap banyak pada Kai.

Tiba-tiba dia teringat ucapan Sehun tempo hari, sudah bisa ditebak pasti pemuda itu yang mengirimkan artikel ini padanya.

'Sehun? Sebenarnya kau siapa?'

Kyungsoo membatin. Bukankah hidupnya begitu tenang. Setidaknya dalam sebuah hubungan, lalu kenapa sekarang begitu rumit. Ia bahkan berpikir Sehun ada di masa lalunya, apakah bagian yang terlupakan salah satunya adalah Sehun?

Jemari Kyungsoo mengetuk meja beberapa kali. Dalam beberapa detik matanya terbuka. Ia bergegas mematikan laptop dan semua yang menyala di ruangan itu. Keluar dan mengunci kembali ruangan.

Ravi! Setidaknya dia harus bertanya pada Ayah angkat Sehun untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Secangkir hot cinnamon milk mix dan sepiring kue kering yang manis. Kyungsoo bersorak menerima pemberian Ravi. Pria tua itu kembali ke bangunan utama setelah Kyungsoo membangunkannya. Dia mengadu kesulitan tidur dan merasa lapar. Jadi Ravi yang telah setengah mengantuk hanya menerima panggilan Kyungsoo dengan tersenyum ramah.

Masih jam sebelas malam. Tidak terlalu dini hari, tidak terlalu gelap karena bulan di luar sana bersinar terang setelah badai kemarin malam.

Ravi menarik kursi dan duduk di depan meja bar. Berhadapan dengan Kyungsoo yang menikmati cemilan malamnya. Sejak kedatangan Kyungsoo, rumah ini menjadi sedikit ramai. Penuh warna dan kemarahan Kai bahkan tak terlihat lagi. Tuan besar mereka menunjukkan kebenaran tentang dirinya. Yeah, Kai memang baik pada para pelayannya. Tapi tidak sekali dua kali dia juga terlihat marah besar. Bahkan dikategorikan sering.

"Nona menyukainya?"

"Hm?" Kyungsoo mendongak dengan mulut penuh kue kering. Ravi sedikit tertawa lalu meminta maaf pada Kyungsoo. "Maaf Nona, anda benar-benar lucu. Tolong seka bibir anda dengan ini," dengan sopan ia berikan kain bersih pada Kyungsoo membuat perempuan itu merasa malu.

"Aku merasa lebih baik. Makananmu yang terenak. Hmm sudah berapa lama sejak kau bekerja dengan Kai? Dia beruntung sekali menikmati makananmu setiap hari."

Ravi terkekeh. Tidak menyadari maksud pertanyaan Kyungsoo. Pria tua itu tampak berpikir. "Baru lima tahun Nona." Ravi menuangkan kembali minuman untuk Kyungsoo. Nonanya itu makan dengan lahap.

"Yeah, sejak Sehun bilang ada temannya yang akan bekerja di sini. Dan tuan muda setuju saja ketika aku yang menjadi kepala pelayan."

"Jadi... Kau tidak pernah bertemu dengan Kai sebelumnya?"

Ravi terkekeh lagi mendengar pertanyaan Kyungsoo. "Tidak, tuan muda baru pertama datang kemari."

"Bukankah dia berteman dengan Sehun? Anak angkatmu?"

Ravi baru saja mengernyit mendengar pertanyaan Kyungsoo, terdengar begitu antusias dan lelaki tua itu menggaruk kepalanya bingung. "Yeah,,, mereka berteman karena aku mengirim Sehun bersekolah ke luar negeri."

"Kau pasti sangat menyayangi Sehun," Kyungsoo mengesap minumannya, ia mengintip Ravi dari balik bulu mata letik yang kini mulai sedikit mengintimidasi.

Tapi tidak. Yang ingin Kyungsoo tahu adalah masa lalu Sehun.

Gotcha!

"Istriku mengalami kecelakaan lalu lintas. Sebuah kecelakaan beruntun di pinggir kota, yang menewaskan Istriku dan kedua orang tua Sehun. Saat itu Sehun baru berumur Lima tahun. Ibu dan ayahnya adalah dokter sama seperti istriku. Aku merasa kasihan lalu setelah itu kuputuskan menjadikan Sehun anakku. Mengurusi semua keperluannya. Namun ternyata dia anak yang periang, bahkan setelah kecelakaan itu. Dia yang menenangkan aku. Berkata semua akan baik-baik saja."

Kyungsoo menekan dadanya yang terasa sesak. Jadi, kenapa dengan sebuah kecelakaan lalu lintas?

"Maafkan aku tuan," Kyungsoo meletakkan cangkir minumnya. Jemarinya dengan pelan menepuk punggung tangan Ravi menunjukkan sebuah keterkejutan. "Tidak apa Nona. Lagipula itu hanya masa lalu. Mau saya perlihatkan album photo kami?"

Ravi berjalan keluar sebentar, pergi ke ruang pribadinya dan kembali dengan beberapa tumpuk album photo. Ia membuka dan memperlihatkan pada Kyungsoo.

"Sehun itu sangat suka belajar, dia suka sekali memintaku membelikannya buku bacaan. Saat itu aku bekerja di perusahaan asuransi, tidak banyak waktu yang aku punya untuknya. Jadi dia pergi ke kelas persiapan hingga malam hari. Nona tahu Carl International School? Ahh dulu pertama kali Sehun belajar di sana itu hanya sebuah bangunan dua tingkat yang sangat kecil. Aku ingat hari pertama mengantarnya ke sana. Dia kembali dengan pelajaran yang ia dapatkan."

Ravi terus saja membalikkan album photo sembari tersenyum. Nampaknya pria tua ini sangat bahagia memiliki Sehun. "Mengingat Ayah dan Ibunya adalah seorang dokter jadi kupikir itu alasan dia ingin menjadi dokter juga. Hari itu CIS belajar tentang cita-cita. Saat pulang ke rumah kulihat dia sedang menggambar di lantai. Dia bilang akan bercerita tentang cita-citanya besok di depan kelas bunga matahari, Sehun bilang dia punya teman rahasia di kelas bunga matahari yang aku tidak boleh bertemu."

Tinnnnnnn

"Wahhh kuenya sudah matang lagi," Ravi bergegas turun dari kursi. Ia pergi mengurus oven manualnya. Kyungsoo ikut melompat turun dari kursi tinggi itu.

"Aku akan ke atas. Terima kasih makananmu Ravi."

"Ya Nona. Aku akan membereskan semua ini baru kembali ke belakang."

Kyungsoo mengangguk mendengar ucapan Ravi. Perempuan itu menghembuskan napas berat. Ia telah mengunci pintu kamarnya.

'Teman rahasia?'

'Kelas bunga matahari?'

'Bunga matahari?'

Kyungsoo berpegangan pada gagang pintu. Kepalanya pening memikirkan semua itu. Oh Sehun. Kau lebih membuat sakit kepala daripada Kai. Setidaknya begitulah pemikiran Kyungsoo saat ini.

Bahkan Kyungsoo sempat berpikir dia adalah teman rahasia Sehun? Tidak mungkin. Perempuan itu menggeleng dengan ekspresi lucu. Kyungsoo lebih tua satu tahun dari Sehun. Lagipula, apa dia pernah berada di CIS? Kyungsoo tidak sabar menunggu esok hari, dia akan menemui ibu panti. Harus.


~ RoséBear~


Wajah manis tanpa make up yang berlebihan, gaun selutut yang membentuk lekuk tubuh Kyungsoo. Mengembang di bagian bawah. Bergoyang di hentak angin kala perempuan itu bergerak. Dia tersenyum sumringah, sangat menawan membuat hangat di sekitarnya walau di atas sana langit sedikit gelap.

Dia baru saja akan duduk di meja makan saat ponsel di genggamannya bergetar. Itu panggilan dari tuan besarnya, Kai.

'Apa yang akan kau lakukan Kyungsoo?' Lelaki itu segera menyergap dengan pertanyaan menuntut saat di layar ponsel nampak wajah manis Kyungsoo.

"A-aku akan sarapan."

'Oh maaf. Kau baru akan sarapan? Bersama siapa? Apa yang Ravi hidangkan untukmu?' Kai terlalu cerewet.

'Yak KAI! Kita hampir terlambat. Cepatlah siapkan dirimu.'

Kyungsoo bisa mendengar teriakan yang mana bisa dipastikan jika itu adalah Chanyeol. Mereka telah melakukan perjalanan hanya berdua, sebuah perjalanan bisnis.

"Kalian akan pergi? Kau tampak sangat lelah Kai," gumam Kyungsoo pelan. Ia memperhatikan bagaimana kondisi suaminya. Sedikit menyesal tidak bisa pergi, setidaknya dia bisa membantu pria itu bersiap jika ikut.

'Aku tersiksa tidak bisa menyentuhmu Kyungsoo. Chanyeol begitu berisik! Kalau begitu aku tutup panggilannya. Nanti kuhubungi lagi.'

Kyungsoo mengangguk pelan. Ia menerima rasa cinta Kai. Sebuah flying kiss, dan saat Kai mendekatkan wajahnya ke ponsel barulah Kyungsoo sadari. Lelaki tan ini nampaknya butuh bercukur, bulu-bulu halus mulai tumbuh di sekitar mulutnya.

Kyungsoo hanya perlu menghabiskan sarapan. Ia juga meminta Ravi membungkus beberapa cookies untuk dibawa ke panti asuhan. Hatinya sangat senang tiap kali berkunjung ke sana.


Hanya butuh beberapa saat untuk Kyungsoo tiba di panti asuhan. Dia mendapat sambutan hangat, sebuah pelukan dari nyonya Kang.

"Bagaimana kabarmu nak?"

"Aku baik ibu," tidak bisa dipungkiri, sebenarnya Kyungsoo masih menahan nyeri dari sisa seks marathonnya bersama Kai saat beberapa anak menabrakkan diri untuk memeluk Kyungsoo.

"Masuklah. Kau bilang ada yang ingin dibicarakan."

Bangunan itu punya sedikit halaman yang penuh tanaman. Semakin banyak saja sejak yayasan berkata akan membiayai kehidupan di panti asuhan.

Kyungsoo tidak membuang banyak waktu, dia mendatangi ruang nyonya Kang, sebuah ruangan minimalis di lantai pertama dengan jendela menghadap halaman samping. Jika tirai di geser, orang di dalam bisa melihat aktivitas diluar. Kyungsoo melakukan itu, ia melihat sosok Mark di atas kolam pasir. Sedang bermain bersama beberapa mainan dan para saudaranya yang lain.

"Jus buah pir. Mimi membuatnya untukmu."

Ia berbalik dan menerima segelas minuman. Kyungsoo mengikuti langkah Ibu panti. Keduanya duduk di sofa, saling bersebelahan. Ibu panti menunggunya hingga Kyungsoo meneguk minumannya. Barulah ia tersenyum dan menepuk pelan tangan Kyungsoo.

"Kau tampak kurang sehat. Apa kau baik-baik saja? Kai masih memperlakukanmu dengan baik bukan?" Tanya ibu panti memastikan. Selama ini Kyungsoo sering bercerita mengenai kehidupannya. Tidak semuanya, hanya sebagian kecil saja. Tentu saja bagian yang menyenangkan, kebaikan yang Kai berikan misalnya.

Ia tersenyum. "Tentu ibu. Dia sedang pergi ke luar kota."

"Dia pasti sangat sibuk. Kau tidak apa di tinggalkan?"

Kyungsoo membola tidak mengerti ucapan ibu panti. Seperti memahami arti tatapan Kyungsoo, wanita paruh baya itu memberi sedikit jarak. "Dia sebenarnya lelaki yang baik. Lima bulan kalian telah tinggal bersama sebagai suami istri. Tidakkah kau merasakan memiliki tanggung jawab atas dirimu sendiri Kyungsoo?"

"Maksud ibu?" Kyungsoo memutar sedikit tubuhnya agar bisa menghadap ibu panti. Oh come on, ia punya tujuan lain bertemu wanita ini, prihal orang tuanya. Lantas kenapa membahas Kai?

"Tidak perlu kau pikirkan. Jadi? Kau bilang ada yang ingin kau tanyakan."

Kyungsoo mengangguk cepat. Ia hampir saja lupa tujuan awalnya. Walau sedikit ragu, Kyungsoo memberanikan diri.

"Tentang orang tuaku," Kyungsoo memberikan jeda pada perkataannya. Ia sempat melihat ketegangan ibu panti namun kemudian wanita tua itu bergeser merapat pada Kyungsoo. " kenapa tiba-tiba kau ingin bertanya tentang orang tuamu sayang?"

Hati Kyungsoo mencelos. Inilah kenapa tidak pernah ada yang mau membahasnya. Akan menyakiti satu sama lain. "Aku hanya ingin mengetahuinya ibu. Tapi... Akhhh!" wajah Kyungsoo berkerut menahan sakit yang tiba-tiba. Kepalanya seperti dihantam suatu benda keras.

'Kyungsoo~'

'Ayah! Ibu!'

"Kyungsoo! Kyungsoo! Kau baik-baik saja sayang?" Ibu panti mengguncang tubuh Kyungsoo. Barulah Perempuan itu memejamkan matanya erat sebelum membuka kembali. Napasnya pendek-pendek.

Melihat itu, Ibu panti bergegas mengambil air mineral dan memberikan pada Kyungsoo. "Minumlah sayang." Ia membantu Kyungsoo meneguk minumannya.

"Sedikit lebih baik?"

"He um." Hanya sebuah deheman yang bisa Kyungsoo tunjukkan.

"Kepalaku belakangan ini sering sakit ibu."

"Apa yang terjadi sayang? Apa ada sesuatu yang seharusnya ibu tahu tapi tidak kau katakan?"

Sejenak Kyungsoo tampak ragu namun kemudian ia mengangguk. "Seseorang bertanya tentang kelas persiapan dan itu membuatku tidak terlalu asing. Ibu... Apa aku pernah berada di Carl International School?"

"Siapa yang telah bertanya padamu?" Wanita itu menatap Kyungsoo dalam.

"Ibu... mengenai keluargaku. Apa tidak ada korban lain dalam kecelakaan itu?"

Wanita tua itu menarik Kyungsoo dalam pelukannya. Mengusap punggung sempit Kyungsoo berusaha menenangkan. "Tidak sayang. Jangan pikirkan sesuatu yang telah berlalu. Detektif Han sudah bilang itu kecelakaan tunggal yang menewaskan ibu dan ayahmu. Bukankah dokter juga bilang ingatanmu tentang kecelakaan itu hilang karena benturan keras yang kau terima. Jangan pernah mencoba mengingatnya lagi sayang. Itu sudah berlalu sangat lama. Dan yahh kau pernah mengikuti persiapan di kelas mawar. Makanya kau amat menyukai bunga mawar. Kau bilang gurumu di kelas mawar sangat cantik."

Dalam pelukan ibu panti, Kyungsoo mengangguk. Walau dia tidak ingat sepenuhnya tetang penjelasan dari nyonya Kang. Tapi cerita ini terdengar begitu hangat.

"Kau masih merasa pening? Apa kau mau beristirahat sebentar di sini?"

Kyungsoo menggangguk pelan. "Aku boleh tidur di ruangan ini?"

"Yah. Ibu akan mengambilkan selimut untukmu nak."

Kyungsoo mengangguk. Ia hanya perlu menunggu beberapa menit saja sampai ibu panti kembali dengan kain tebal. Ia berbaring berusaha menyamankan posisinya. Jemari Kyungsoo menahan kepergian ibu panti.

"Ibu tidak berusaha menutupi apapun dariku 'kan?"

Perempuan itu menepuk pelan punggung tangan Kyungsoo yang mengapit di ujung pakaiannya. "Tentu saja anakku. Istirahatlah di sini."

Tidak butuh waktu yang panjang. Kyungsoo menyapa kegelapan dalam bayangannya. Ia terlelap hingga napasnya begitu teratur.

Di ruangan terpisah, wanita tua itu berseder di balik pintu. Apa? Apa yang mengusik Kyungsoo? Kenapa dia menanyakan kasus itu saat ini?

Ibu panti berjalan menuju kamarnya, ia membuka sebuah kardus berisikan beberapa buku. Bibir wanita tua itu melengkung menemukan kontak seseorang di sana.

"Dr. Im?"

"Maaf mengganggu. Aku,,, teman detektif Han. Kang Seul Gi. Ahh dokter pernah menangani kasus..."

"Tidak perlu kau sebutkan. Aku mengingatnya. Oh bagaimana kabar anak itu? Sudah lima tahun kau tidak melaporkan kabarnya padaku sejak..."

"Kematian detektif Han. Tadinya kami baik-baik saja dokter. Tapi... Bisakah aku menemuimu? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan." Wanita tua itu menghela napas dalam. Ia berseder di tembok sembari memandang langit-langit ruangan.

"Yeah tapi kini aku tidak di rumah sakit lagi. Kau tahu, usiaku sudah sangat menua jadi datanglah ke tempatku mengajar."

"Heum... Dokter?"

"Ya? tapi Bisakah hari ini?"

"Oh baiklah jika itu keinginanmu. Akan kukirimkan alamatnya padamu."


~ RoséBear~


Siang hari saat Kyungsoo tiba-tiba terjaga. Ia merasa sedikit lebih baik. Ia rapikan bekas tidurnya. Berjalan pelan ke luar ruangan. Mendapati Mimi, penghuni panti yang paling tua. Adik manisnya itu baru selesai mencuci piring bersama adik-adik yang lain.

"Kakak sudah bangun?"

"Ibu dimana?"

Ia mendekati Kyungsoo. "Ibu pergi setengah jam yang lalu. Dia bilang ada janji dengan teman. Jadi ibu berpesan jika kakak mau pulang bawalah kantung buah ini," Mimi menyerahkan kantung plastik berisikan buah pir.

"Baiklah."

"Kakak?" panggilan Mimi membuat Kyungsoo menatapnya bingung. "Lelaki yang mengantarmu tadi juga berpesan agar menghubunginya jika kakak ingin pulang. Tadi dia mengantar ibu menemui temannya. Tapi karena kakak masih tidur jadi kami melarangnya masuk. Kakak marah?"

Kyungsoo menepuk pelan kepala adik perempuannya itu. "Tidak. Aku bisa pulang naik taksi."

"Tidak!" Mimi berseru mengerutkan Kyungsoo. "Dia berpesan kakak tidak boleh pulang naik taksi."

"Baiklah. Aku akan menghubunginya."

Kyungsoo mengeluarkan ponselnya. Itu barang pemberian Kai beberapa waktu lalu. Ia menghela napas berat. Hanya ada kontak Kai, ibu panti, Jenny dan Ravi. Pada akhirnya Ravi -lah yang ia kirimi pesan. Sebagai kepala pelayan di mension Kai, setidaknya Ravi bisa memberi sedikit instruksi cepat untuk menjemput Kyungsoo.

Ia berdiri di depan gerbang hanya beberapa detik dan sebuah mobil berhenti di depan Kyungsoo. Ia terkejut mendapatkan siapa yang menjemputnya. "Masuklah. Kau mengirim pesan pada Ayahku. Sebuah kebetulan aku berada di dekat sini."

Kyungsoo ragu untuk masuk. Tentu saja karena itu adalah Sehun. Kenapa pemuda ini berada di sini? Baiklah. Keberadaan mereka memang dekat dengan pelabuhan di mana Sehun sedang di tugaskan. Tapi, apa dunia memang benar-benar sempit?

Berusaha menghilangkan keraguannya Kyungsoo masuk setelah melambaikan tangan pada Mimi. Ia sibuk dengan ponselnya. Entahlah untuk alasan apa Kyungsoo ingin menghubungi Ravi kembali. Hanya ingin memberitahu jika dia sudah mulai jalan. Namun kemudian sebuah dering terdengar di bagian belakang mobil.

"Oh kau menghubungi Ayah? Ponselnya kubawa. Jadi Nona Do? Ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi?"

Kyungsoo menelan ludahnya kasar. "Ti-tidak ada. Aku ingin cepat pulang,"dengan gugup Kyungsoo berusaha menutupi gemetar pada tubuhnya.

Sehun. Pemuda ini tak menoleh setelah menunjukkan lokasi ponsel milik Ravi di belakang mereka. Ia fokus pada jalanan. Sementara Kyungsoo berusaha menyamankan diri. Situasi sungguh canggung. Mereka tidak bercakap apapun apalagi ponsel Kyungsoo tiba-tiba kehabisan daya. Rasa kantuk menyerang padahal dia baru saja bangunan tidur.


~ RoséBear~


Proses negosiasi hari ini berjalan lama. Chanyeol yang pertama terdengar merenggangkan tubuhnya. Ia sudah duduk berjam - jam tanpa berdiri dan itu membuat tubuhnya lelah.

"Kau ingin makan siang di mana hyung?" Kai yang berjalan beberapa langkah di depan masih sibuk mengutak atik ponselnya tidak mengabaikan Chanyeol.

"Ayo makan sup daging. Ada tempat yang sangat populer di kalangan penduduk sini."

Pria itu hanya lebih tinggi beberapa centi saja dari Kai. Ia rangkulkan tangannya yang panjang dan tak ada penolakan dari adik kecilnya itu. Mereka menjadi dekat sejak beberapa tahun karena pemaksaan dari Baekhyun dan kini hanya ada mereka berdua di kota ini.

Chanyeol menerima laporan dari Kantor mereka jika keadaan di sana semakin membaik berkat usaha negosiasi Kai dan Chanyeol. Jadi tinggal sehari lagi. Masih ada dua orang yang harus mereka temui lagi dan hari ini setidaknya mereka bisa menikmati sup daging.

"Absolutely delicious!" Ucap Chanyeol sedikit berteriak. Dia telah menikmati sup daging yang luar biasa menyegarkan.

Kai menyeka bibirnya. "Kenapa kau sangat bahagia hyung?" Entahlah kenapa Kai sangat ingin menanyakan hal ini pada Chanyeol.

Pria di hadapannya masih saja betah tersenyum. "Tentu saja. Kau tahu Kai? Bukankah pernah kukatakan Baekhyun akan memberiku seorang anak, dia baru saja melaporkan perkembangan bayi kami padaku."

"Apa? Kapan kau menerima kabar darinya?"

"Beberapa jam yang lalu."

Kai membanting tubuhnya ke senderan kursi. Mereka tidak akan menjadi pusat perhatian para pengunjung sebab ruangan yang di pesan adalah private room. Hanya ada mereka berdua saja di sini. Menikmati pemandangan salah satu pelabuhan tersibuk dari lantai atas.

"Kau sendiri. Sudah lima bulan bukan? Bagaimana kau akan mengakhiri kontrak itu?"

Wajah Kai mengeram, ia menolak untuk memandang Chanyeol. "Aku tidak akan mengakhiri kontrak kami."

"Kau?" Pria tinggi menjeda ucapannya. Tatapan Chanyeol berubah horor. "Kau menyukai istrimu?" Seketika gelak tawanya menggelagar membuat Kai memandang dengan tatapan membunuh.

"Uhhhhhh." Chanyeol berseru pelan. Ia menarik tubuhnya sedikit menjaga jarak dari Kai. "Mencintainya? Akhhh!" Kali ini pria itu berseru keras bersamaan sebuah tepuk tangan yang amat memekakkan telinga. "KAI! Kau benar-benar jatuh cinta pada istrimu? Woaghhhh! Marvelous!"

"Hyung!" Panggilan Kai lebih terdengar seperti gumaman. Lihatlah pemuda itu kini, menarik kedua tangannya melipat di dada dan mata kelamnya menatap Chanyeol tajam.

"Jika benar perkataan Baekhyun beberapa waktu lalu. Ini pertama kalinya kau merasa mencintai seseorang? Lima bulan Kai! Kau tak pernah memiliki hubungan dengan seorang wanita lebih dari satu minggu. Dia membuatmu tak pernah menyentuh wanita lain."

"Hyung!" Peringatan Kai kali ini lebih dalam. Dia baru saja berpikir akan beranjak namun diurungkan.

"Yah. Kuakui aku mencintainya. Aku tidak bisa melepaskan Kyungsoo. Bahkan bukan sekedar ingin memilikinya, tapi aku sangat ingin menjaganya. Melindunginya lalu membuatnya bahagia, aku tersiksa tiap kali melihatnya terdiam, bahkan menangis kala ia bermimpi buruk. Itu menyiksaku hyung."

Chanyeol terdiam mendengar kalimat Kai yang lumayan panjang. "Ingin kubantu mencaritahu tentang Kyungsoo? Terakhir kau bilang dia berasal dari panti asuhan di pinggir Kota."

Kai menghela napas. "Daripada Kyungsoo. Aku lebih ingin kau mencari informasi tentang Sehun."

"Heoh? Sehun? Oh Sehun?" Mata Chanyeol membulat tidak mengerti. Pikirannya melayang jauh, dia memang tidak mengerti pertemanan Kai dan Sehun. Itu terjadi begitu saja sebelum Chanyeol mengenal Kai. Seingat Chanyeol ia tak membawa pengaruh buruk, Sehun seorang dokter yang sangat pintar. Begitulah Baekhyun berkata setelah mereka berada di rumah sakit yang sama. Sehun itu junior Baekhyun, dan dia sedikit punya obrolan dengan Sehun saat pemuda itu tinggal bersama di mension Kai.

"Kyungsoo... Entah kenapa dia membicarakan tentang Sehun."

Sesaat Chanyeol tersenyum lembut. Ia berdiri dari tempat duduknya. "Itulah kenapa kau sangat tidak ingin meninggalkan istrimu. Baiklah, bukankah sebaiknya kau panggil istrimu kemari Kai? Kau pernah melakukannya saat perjalanan ke Macau. Lagipula besok hanya dua janji saja. Hari ini aku yang traktir makan siangmu."

Chanyeol berlalu begitu saja. Meninggalkan Kai yang masih menatap layar ponselnya. Sejak tadi ia tidak bisa menghubungi Kyungsoo.

"Jenny... Aku tidak bisa menghubungi Kyungsoo. Kemana dia?"

'Nona... Nona... Dia..'

"Jangan coba membohongiku. Katakan dimana dia sekarang?"

'Maaf tuan, Nona belum kembali. Nona memintaku tidak memberitahu tuan. Nona ingin ke Panti asuhan seorang diri, Nona bilang dia merindukan panti asuhan.'

"Sejak kapan dia pergi? Bersama siapa? Kenapa kau tidak mengikutinya?"Kai sadar suaranya telah membuat takut pelayan muda di seberang sana. Tapi Kai berusaha untuk tenang. Jenny telah mengajari Kyungsoo banyak hal dan membuat ia berbaik hati pada pelayan ini.

"Jenny," panggil Kai mengingatkan.

'Pagi ini setelah sarapan. Nona pergi bersama Taeyong.'

Kai bernapas sedikit lega. "Baiklah. Beritahu aku jika mereka sudah kembali."

"Kai! Apa kau akan duduk di sini selamanya? Ayo kembali ke hotel." Itu panggilan Chanyeol yang muncul kembali dari pintu geser. Dengan sedikit enggan pria tan bangkit dari kursinya sebelum Chanyeol mengulangi teriakannya.


~ RoséBear~


Rosehip adalah buah dari biji bunga mawar. Buah itu kemudian di ekstrak untuk mengurangi risiko jantung. Begitulah dia bekerja.

"Kyungsoo.. Kau tidak ingin bangun?" suara lelaki itu terdengar samar.

"Ya Do Kyungsoo! Apa kau akan tidur sepanjang waktu? Aku membawamu kemari bukan untuk tidur," dan semakin jelas.

Degh

"Di-dimana aku? Yak! Apa yang kau lakukan? Kau? Kau gila Sehun! Lepaskan aku!"

"Ahhhh! Gadis ini. Tidak bisakah kau pelankan suaramu?"

Pria yang baru saja diteriaki Kyungsoo itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ia menggeleng pelan sementara kakinya melangkah mendekati Kyungsoo.

"Kau tidak ingat rumah ini?"

Kyungsoo duduk di kursi roda yang mengikat tubuhnya. Ia tidak bisa lagi berteriak karena Sehun mengikat mulutnya dengan sapu tangan.

Pemuda itu mendorong Kyungsoo setelah menggeser pintu kaca, terdengar suara deritan yang cukup kasar menandakan betapa tuanya bangunan tempat mereka berpijak saat ini.

Dia ada di beranda lantai dua sebuah bangunan. Dengan pembatas yang hanya setengah meter, Kyungsoo bisa melihat halaman sebuah rumah yang luas. Langit tidak cukup cerah, berkabut seperti akan menangis.

"Setiap kali berdiri di sini aku merasakannya. Tidakkah kau merasakannya juga Kyungsoo?"

Ia didorong semakin mendekati kayu pembatas. Ya Tuhan. Jika menoleh ke bawah, Kyungsoo menyadari semak belukar memenuhi halaman. Ia mulai ketakutan. Kenapa dia bisa berada di sini? Bermimpi?

"Kau tidak bermimpi Kyungsoo. Kupikir ini adalah kamarmu. Apa kau tidak pernah berdiri di sini Kyungsoo?" Sehun berdiri di belakang Kyungsoo. Tubuh pria itu sedikit menunduk, mendekatkan mulutnya pada telinga Kyungsoo.

"Sebuah kebetulan kau datang sendiri ke hadapanku. Aku tidak pernah melupakanmu, setiap saat aku meluangkan waktu mencaritahu keberadaanmu."

"Shhnmmnhhnnn hn."

"Kau bicara sesuatu Kyungsoo?"

Air matanya mengalir. Tubuhnya bergetar, Sehun terlalu dekat.

"Tidakkah kau mengingat sesuatu tentang rumah ini?"

Mata bulat itu menampakkan betapa komposisi bagian putihnya lebih banyak. Sehun telah memaksanya menatap lurus ke bawah. Ayunan tua di dekat pohon besar tak terurus. Sama seperti bagian lain dari rumah ini.

"Tidak ada seorangpun yang menginjakkan kaki di rumah ini selama bertahun-tahun. Aku baru membelinya melalui pelelangan pada hari itu. Jadi ini sekarang menjadi milikku, khusus kubeli agar kau bisa bebas melihat-lihat seisi rumah. Mau kubantu Kyungsoo?"

Kursi roda itu di putar. Mereka menjauhi angin sore. Kamar ini penuh debu, kayu lapuk dan terlalu menyeramkan. Kyungsoo memejamkan matanya...

'Kyungsoo~'

'Kyungsoo kau sedang mewarnai?'

'Kyungsoo~ sudah bisa membaca sebuah buku?'

Napasnya terputus-putus. Kenapa saat dia memejamkan mata bayangan seorang anak perempuan melintas. Itu dirinya? Tubuh Kyungsoo mengikuti guncangan cukup kasar kala Sehun memaksa kursi roda itu menuruni anak tangga. Ia tidak akan jatuh jika Sehun tidak melepaskan pegangannya, tubuh Kyungsoo terikat kuat pada kursi roda.

Lantai pertama rumah ini cukup luas. Anak-anak bisa saja bermain kejar-kejaran di sini. Tapi kenapa sekat yang dibuat begitu pendek. Tidakkah rumah ini terlalu luas dan begitu banyak pintu.

Trang

Cahaya lampu yang tadinya redup menjadi terang benderang. Membuat silau penglihatan Kyungsoo.

"Aku akan mengajakmu berkeliling."

"Hmphhhhh!" Kyungsoo berusaha berteriak. Tapi hanya gumaman yang membuat Sehun terkekeh.

"Baik. Kita selesaikan tour pertama Kyungsoo. Kau bisa beristirahat di salah satu kamar. Tidak asing bagimu bukan?"

Pemuda itu membawanya menuju satu pintu bercat putih. Kamar ini begitu kontras dengan bagian lain dari rumah. Kenapa begitu bersih? Sangat nyaman untuk dihuni anak perempuan. Kasur berseprai kuning, lemari hias dengan warna merah muda. Tidakkah ini begitu ceria?

'Kyungsoo, masuklah kemari.'

Suara itu lagi. Kyungsoo menggigit keras kain yang mengikat mulutnya. Matanya terpejam begitu erat menahan sakit di kepala dan sakit itu perlahan menghilang bersamaan dengan kesadarannya.


~ RoséBear~


Beberapa saat yang lalu sebelum penculikan itu terjadi. Di suatu tempat, walau banyak pengunjung yang datang namun tetap terasa tenang. Ketegangan itu tak berlangsung lama di bagian sudut kafe.

"Hah! sudah kuperingatkan itu bisa terulang kembali. Itulah kenapa aku ingin kalian melapor perkembangannya setiap semester padaku."

Dokter Im, wanita tua itu memijit pelipisnya mendengar cerita ibu panti mengenai Kyungsoo.

"Hah," sekali lagi wanita dengan kerut permanen di area wajahnya itu mendesah pelan. "Sekarang apa yang ingin kau lakukan Ibu Kang? Detektif Han sudah meninggal lima tahun lalu. Apa kau akan terus berbohong pada anak itu?"

"Sebisa mungkin. Walau dia bukan lagi bocah tujuh tahun. Menurut dokter, bagaimana risikonya jika dia mengetahui kebenarannya?"

"Yang aku takutkan, peristiwa dua puluh tahun lalu terulang lagi. Maka usaha detektif Han menjadi sia-sia." Perempuan itu bicara sepelan mungkin sembari menyesap minumannya.

"..." tidak ada jawaban dari lawan bicaranya yang tampak kebingungan saat ini.

"Bisa... Secepatnya kau bawa dia padaku?"

"..."

"Kang Seulgi. Kau bisa?" Perempuan tua itu bahkan mengulang pertanyaannya.

Pada akhirnya ibu panti menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Dr. Im.


~ RoséBear~


Ketika senja berubah menjadi gelap. Satu-persatu bintang di langit mulai menampakkan diri. Suasana sepi di jalanan, terdengar beberapa kendaraan berlalu lalang.

"KAI! Apa yang terjadi?" Pria itu bahkan baru lima belas menit memejamkan matanya. Ia terbangun tiba-tiba karena suara teriakan Kai serta dentuman luar biasa yang dibuat pria tan itu di kamar hotel yang mereka tempati.

"Aku harus kembali hyung." Ucapnya cepat.

"Apa?" Chanyeol benar-benar tidak percaya. Namun ia harus percaya saat melihat pria tan sedang mengenakan pakaiannya. Pria itu dengan sigap mengenakan jeans dan kemeja hitam senada. Penampilannya sedikit kacau, hampir menyentuh tengah malam dan dia yakin Kai belum tidur sejak pembicaraan mereka mengenai rencana esok hari.

"Kyungsoo belum kembali ke rumah. Pasti terjadi sesuatu di sana."

"Kau akan pulang? Menggunakan apa?" Chanyeol bertanya setengah berteriak.

"Kereta terakhir dari Busan menuju Seoul."

"Yak! Yak! Kai! Yaishh!"

Teriakan Chanyeol sudah pasti tidak akan dipedulikan Kai. Ia baru saja mendapat pemberitahuan dari Jenny. Gadis itu terisak sembari menghubunginya. Ponsel Kai memang mati saat dia mengisi daya dan dia baru mengaktifkannya setelah perbincangan dengan Chanyeol. Seisi rumah sudah mencoba mencari namun tidak menemukannya...

Mutiara yang indah dan begitu berkilau.

Ada di dalam kerang yang berada di laut terdalam.

Cinta itu tumbuh begitu saja seperti mutiara. Tumbuh tanpa mengenal tempat. [Scepticism]


To be continue...


Well, Tidak ada cara merasakan sebuah cerita menjadi luar biasa kecuali kalian menemukan waktu yang tepat untuk membaca. Corect me if you find some typo and mistake in my stories.

Good morning and sleep well.

-no preview for chapter 11-

[171004, Percayalah, pikiranku hanya terhubung padamu -Lady Rose]