SUMMER FALTER (Indo Trans)
by: zuzuzu (asianfanfics)
Kai, Kyungsoo
Romance
Rated M
.
translated by: exoblackpepper
.
Read the original story!
www asianfanfics com/story/view/540554/summer-falter-romance-exo-kai-kyungsoo-kaisoo
(ganti spasi dengan tanda titik)
.
.
.
Chapter 9
.
.
Suara Jongin menghancurkan semua pertahanan yang telah Kyungsoo buat untuk dirinya selama ini. Tak menjadi masalah jika hanya ia yang menderita, tapi mengetahui penderitaan Jongin membuatnya tenggelam dalam lautan derita. Suara Jongin masih berpengaruh pada hati Kyungsoo, dan mengendap menjadi racun yang menariknya jatuh semakin dalam.
Kyungsoo memanggil nama Jongin berkali-kali dalam hatinya, seakan hanya kata itu yang ia tahu. Penyesalan mendominasi dirinya, tapi pilihan yang telah ia pilih sudah benar. Tak ada yang bisa ia lakukan, ia tak bisa menghapus luka yang telah ia tinggalkan pada Jongin, dan ia tak mampu mengucap maaf atas segala yang telah ia lakukan. Ia hanya bisa menangis.
Membaca semua pesan dari Jongin hanya membuatnya semakin sakit, jadi ia menghapus semua itu tanpa ragu. Menghapus genangan airmatanya, ia memaksa dirinya untuk mengendalikan diri, namun rasa sakit itu amat konkrit. Ia tahu ia harus kuat, tapi mungkin tidak untuk saat ini. Sebelum ia meninggalkan rumah ibunya, ia berjanji untuk tidak membawa kembali patah hati yang ia pernah ia rasakan, atau bahkan membiarkan dirinya tenggelam dalam kisah cintanya yang hancur, tapi tetap saja, luka-luka itu menolak untuk sembuh.
Sebelum ia berdiri, pintu tiba-tiba terbuka dan Kyungsoo dengan cepat berbalik dan memperbaiki wajahnya agar Baekhyun tidak melihat keadaan menyedihkannya saat ini.
"Yah! Kau siapa?"
Tapi itu bukan suara Baekhyun. Suara itu terdengar berat, dan Kyungsoo terlonjak melihat sosok yang tidak ia harapkan untuk ia temui.
Itu Jongin.
.
.
Jongin merasakan sebuah tatapan heran dari sosok tak dikenal didepannya. Ia merasa nafasnya tercekat. Ia menatap sepasang mata yang sangat familiar. Lebar dan bersinar, dan untuk sesaat Jongin merasa dirinya telah gila. Apa sekarang ia berhalusinasi? Karena ia melihat sosok Kyungsoon dan mata indahnya sedang menatapnya saat ini.
Tapi kemudian, sosok asing yang berdiri diseberangnya bukanlah Kyungsoon maupun halusinasinya.
Dia seorang laki-laki.
Kyungsoo tak dapat merasakan detak jantungnya. Seluruh sistem tubuhnya tersita kepada pria yang telah ia hancurkan. Ia merasa seperti terkena serangan jantung yang amat sangat menyakitkan. Pelupuk mata Kyungsoo menggenang, dan ia tak menyadari itu karena sosok yang telah lama ia rindukan. Ini bukan Jongin. Orang ini seperti tanpa nyawa. Orang ini kurus kering, berkantung mata hitam, dan kulitnya luar biasa pucat. Orang ini sangat depresi untuk dilihat—sosok yang dulu sempurna sudah hancur.
Mereka saling menatap, dan setiap detiknya menghabiskan deru nafas. Kehadiran masing-masing dari mereka menyiksa satu sama lain, dan tatapan mereka bergetar. Kyungsoo terpaku dan ia merasa sebuah kapak menghujam dadanya dan rasanya ia ingin jatuh sebentar lagi.
"Kau siapa? Apa yang kau lakukan disini?!" Jongin berteriak menuduh dan matanya menggelap.
Bibir Kyungsoo bergetar. Dia tak percaya kalau ini adalah Jongin; yang dulu konyol dan sehat sekarang berubah drastis.
Terganggu akan respon lamban Kyungsoo, Jongin menghela nafas berat. "Maaf Tuan tapi anda melewati—"
"Aku tinggal disini." Akhirnya, Kyungsoo menjawab.
Jongin tersentak sebelum mendengus mengejek.
"Tidak, kau tidak tinggal disini, kau salah kamar."
"Tidak. Aku tinggal disini." Kyungsoo tak tahu kenapa tiba-tiba ia berani berbicara.
"Kubilang, kau tidak—"
"Kai apa yang kau teriaki—" Baekhyun melangkah cepat sebelum ia syok melihat sosok Kyungsoo. Mata kecilnya melebar dan mulutnya terbuka tanpa kata-kata.
Melihat ketegangan diantara Jongin dan Kyungsoo, Baekhyun panik. Pikirannya berantakan dan ia tak bisa berpikir jernih.
Jongin tak dapat melepas tatapannya pada orang asing itu tanpa mengetahui kenapa dirinya terengah-engah. Ia tak tahu kalau ia mengalami masalah pernafasan, tapi sepasang manik orang asing itu—memberinya rasa sakit. Ia membenci bagaimana cara orang asing itu menatapnya, karena itu sangat familiar, sakit yang begitu familiar.
Baekhyun menggeleng lalu menutupinya dengan tawa aneh. "Ya Tuhan.. K-kau sudah sampai..." Pria kecil itu menghampiri Kyungsoo dan melemparnya tatapan penuh arti. "A-aku minta maaf kalau pria ini.. menakutimu.. Dia bukan.. orang yang seperti itu kok..." Nada bicara Baekhyun jelas mengarah pada Jongin. "Uhhh.. Bisakah kau meninggalkan kami sebentar Kai?"
Ekspresi Jongin menunjukkan kalau ia terganggu. Ia tidak bergerak tapi ketika Baekhyun melemparnya tatapan geram, Jongin mendengus sebelum membalikkan badan dan keluar dari gedung.
Setelah mengecek keadaan sekitar, Baekhyun mengunci pintu kamar, dan menatap Kyungsoo dengan helaan nafas. Kyungsoo masih terdiam kaku. Ia merasa seluruh tubuhnya sedang dikikis dan tak dapat berfungsi dengan baik. Hal yang baru saja terjadi bahkan jauh dari ekspektasinya.
"A-apa yang terjadi disini?" Kyungsoo bertanya dengan nada kebingungan, dan nada bicaranya menuntut banyak penjelasan.
Baekhyun menghela nafas dan menekuk wajahnya. Ia menggigit bibir bawahnya dan bernafas lagi. "Baiklah... Kyung... Aku minta maaf!" Wajah Baekhyun mengerut. "Aku benar-benar ingin memberitahumu tapi aku takut malah semakin menambah masalahmu d-dan Kai sangat, sangat depresi dan aku tak dapat mengusirnya dan hanya itu yang dapat kulakukan untuknya—ia sangat menyedihkan, lebih dari menyedihkan dan aku merasa tidak enak tapi aku memikirkanmu jadi aku menyerah lalu semua jadi berantakan—"
"Baekhyun..." Kyungsoo menyela perkataannya, dan sahabatnya membeku dan butuh udara. "Aku tidak... mengerti... semua... yang kau katakan."
Baekhyun terduduk diatas matras, dan ia memberi Kyungsoo tatapan yang membuat jantung Kyungsoo berdetak abnormal.
"Kai tinggal di apartemen kita sekarang.."
"Apa?" teriak Kyungsoo syok.
Baekhyun mengernyit kasihan sambil menatap mata ketakutan Kyungsoo. "Dia... Dia depresi... d-dan dia tak bisa tidur... D-dia sedang mengalami masa-masa sulit..."
Sebuah tombak besar menghujam dada Kyungsoo. Tenggorokannya terasa sakit, seperti dipenuhi duri-duri yang mencekiknya.
"Dia hancur Kyungsoo, dan dia seperti membunuh dirinya sendiri; dia tidak makan... dan dia tidak tidur..."
Kyungsoo tak lagi dapat merasakan jantungnya lagi; sangat sulit untuk bernafas.
"Semua orang memberitahunya untuk istirahat namun ia tidak bisa tidur... Dia tak dapat tidur dimanapun... kecuali disini.." kata Baekhyun, "di kasurmu.."
"Ta-tapi k-kenapa?! Tidakkah ia membenciku?! Tidakkah ia ingin mengutukku?"
"Ya dia melakukannya!" kata Baekhyun, "Tapi ia masih menunggumu..."
Kesunyian menyelimuti mereka berdua. Kyungsoo merasa nafasnya melemah. Ia menatap tanah, tak mengerti dan kaget dengan apa yang barusan ia dengar. "T-tapi harusnya ia sudah move-on Baek..."
Baekhyun menghela nafas. "Ia butuh waktu Kyungsoo... Dua bulan terlalu singkat. Kupikir sebulan penuh musim panas tak cukup baginya untuk menerima kenyataan kalau semua telah berakhir."
Penyesalan Kyungsoo menyebar keseluruh relung dadanya, dan penyesalan ini menusuknya hingga ke ulu hati. Ia pikir Jongin akan dengan mudah melewati semua ini, tapi malah, Jongin terjatuh ke lubang yang sangat dalam. Rasa sakit ketika mengetahui keadaan Jongin yang seperti ini, mempersulit Kyungsoo. Ia adalah alasan mengapa Jongin hancur, dan ini harus dihentikan—secepatnya.
"Jangan salahkan dirimu Kyung... Ini bukan salah siapa-siapa. Kau tahu itu; semua akan tetap sama tak peduli pilihan apa yang kau pilih."
Dengan gemetaran, Kyungsoo mengangguk.
"Ia harus pindah."
Baekhyun melihat Kyungsoo dengan sedikit khawatir.
"Dia seharusnya tak berada disekitar hal-hal yang mengingatkannya padaku.."
Mata Baekhyun bergetar panik. "Uhh Kyung?.. Me-mengenai itu..."
Kyungsoo melempar tatapan takut pada sahabatnya.
"Kai.. Sebenarnya telah membayar biaya sewa apartemen kita.."
"Apa?!"
Baekhyun meringkuk malu. "Aku tak sanggup menabung untuk biaya sewa kita waktu itu ka-karena a-aku.. juga.. sibuk dengan... sesuatu.. d-dan—"
"Apa maksudmu 'sesuatu'?" pekik Kyungsoo.
"Kyung... Aku... bisa dibilang... tidak... tinggal... disini lagi..."
"Baekhyun apa yang sedang kau bicarakan?!"
"Chanyeol-dan-aku-berpacaran-jadi-sekarang-aku-tinggal-bersama-dia-selama-berminggu-minggu!" ucap Baekhyun cepat dengan mata tertutup.
Kyungsoo sejenak merasa bumi telah berhenti berputar. Apa telinganya bermasalah? Apa ia tak salah dengar? Dia... dan Chanyeol—pria yang amat dibenci pria mungil itu sampai selamanya—berkencan?
Baekhyun menghela nafas, membaca wajah syok Kyungsoo. "Aku tahu.. Aku tahu.. Hukum karma berlaku, yeah yeah.."
Kyungsoo sekali lagi, kehabisan kata-kata.
"Aku jatuh cinta pada laki-laki mental itu okay?" Baekhyun mendesah. "Berhenti menatapku seperti itu."
Kyungsoo menepuk keningnya dan mulutnya terbuka. "Sepertinya aku akan sakit—"
"Kyungie—"
"Jadi secara tak langsung kau bilang padaku kalau kau sudah tidak tinggal denganku lagi,"
"Bu-bukan bukan bukan bukan bukan Kyung! Bukan itu maksudk—"
"Baekhyun," Kyungsoo mendesah lemah. "Aku tak marah, dan aku tak'kan marah."
"Kau tahu aku tak akan melakukan itu Kyungsoo, kita lewati ini bersama.."
"Tapi tak selamanya kau berada disisiku Baekhyun. Kau punya hidupmu sendiri." ucap Kyungsoo dengan senyum tipis. Tanpa berkata-kata, Baekhyun hanya bisa menghela nafas.
"Hey mengapa kau merengut?" Kyungsoo mencoba membuat suaranya terdengar sedikit bersemangat. "Kau hanya tinggal di sebelah! Bodoh!" Ia terkekeh datar. Perlahan, wajah cemas Baekhyun berubah menjadi sebuah senyum kecil.
"Tapi itu bukan masalahnya sekarang, masalahnya adalah.. kita harus membuat Jongin keluar dari apartemen ini..." lanjut Kyungsoo. "Kita harus membantunya move on... dan ketika kita dapat melakukan itu, segalanya akan baik saja.."
"Baiklah..." Baekhyun mengangguk, akhirnya bernafas lega. "Aku akan bicara padanya."
.
.
Jongin kembali ke komplek apartemen saat jam lewat makan malam. Sesampainya ia diujung tangga, Baekhyun mengajaknya bicara.
"Sudah kubilang, Kyungsoon telah merencanakan semua ini, dan lelaki yang baru saja datang pagi ini, adalah penghuni baru apartemen kita dan sudah tercantum di—"
"Aku tak peduli, aku tak akan pergi." kata Jongin penuh penekanan sebelum berjalan dengan susah payah ke kamar.
"Kai!" Baekhyun berteriak dan mengikuti si keras kepala Jongin yang ingin membuka pintu.
"Serahkan padaku." kata Jongin serius, menahan Baekhyun dengan tangannya dan membuka pintu. Ketika ia masuk, ia melihat si pria mungil sedang mengepel lantai, dan hatinya serasa ditusuk akibat keberadaannya. Kyungsoo membeku saat ia bertemu dengan mata Jongin.
Jongin mendekat satu meter dari Kyungsoo, melipat tangannya didepan dada. Lelaki mungil itu menatapnya dengan mata bulat itu lagi, dan itu membuat jantung Jongin mulai berpacu, tapi ia mencoba mengindahkannya.
"Baiklah Tuan, aku pikir Tuan Byun telah memberitahumu tentangku dan aku tahu kau telah menyewa apartemen ini untuk dirimu sendiri, tapi..." Jongin mengalihkan pandangannya, sedikit tidak nyaman dengan debaran aneh didalam dadanya. "Aku telah membayar biaya sewa kamar ini bahkan sebelum kau datang, bisa dibilang, aku masih punya waktu untuk menggunakannya."
Kyungsoo tak percaya orang yang sedang berbicara padanya sekarang adalah Jongin-nya. Ia menjadi dingin dan pemarah, dan sulit bagi Kyungsoo untuk tidak menyalahkan dirinya.
"Aku mengerti itu Tuan," kata Kyungsoo, dan berkata seperti itu pada Jongin memberi sensasi aneh pada mulutnya. "Tapi... pemiliknya telah meninggalkan apartemen ini dan kupikir aku punya hak untuk menggunakannya sesuka hatiku."
"Dan siapa yang memberitahumu pemiliknya telah pergi?!"Mata Jongin berkilat marah. Ia menatap kebelakang, tepat pada wajah gelisah Baekhyun. "Hyung apa yang lelaki ini bicarakan?!"
"Aku tidak tinggal disini lagi Kai." Baekhyun berkedip mengalihkan pandangan.
Jongin menatap kembali lelaki mungil itu. "W-well asal kau tahu bukan hanya dia yang tinggal disini."
"Well Tuan, Tuan Byun telah memberitahuku kalau gadis yang merupakan teman sekamarnya telah pergi berbulan-bulan lalu, dan gadis itu bilang dia tak akan kembali lagi."
Mata membulat marah, Jongin mendekati Kyungsoo yang membuat lelaki mungil itu gugup.
"Dia akan kembali!"
Kyungsoo mencoba untuk tetap tenang, meski jarak diantara mereka membuatnya ingin memeluk lelaki itu erat.
"Kapan?" Kyungsoo bertanya dengan nada tajam, melangkah mundur. Mata Jongin terbakar, dan rasanya ia ingin membakar orang asing itu.
"Kau.. tak.. tahu.. apapun.." Jongin menunjuk wajah Kyungsoo dengan jarinya pada setiap kata.
"Ambil semua barangmu dan pergi!" teriak Kyungsoo, menunjuk pintu.
"Aku tak mau!" ucap Jongin.
Manik Kyungsoo bergetar. "Akan kulaporkan ini pada polisi aku bersumpah—"
"Lakukan saja."
Hampir lengah, Kyungsoo melempar tatapan SOS pada Baekhyun, dan kemudian, Baekhyun menghampiri dan menggenggam lengan Jongin. "Kai kumohon.."
Jongin menyeringai, melepas genggaman Baekhyun di lengannya. Ia mengunci tatapannya pada si orang asing. "Keluar dari kamarku.."
"Ini bukan kamarmu! Airhead (tolol)!" teriak Kyungsoo, dan meskipun ia mencintai Jongin, ia juga sangat marah sekarang.
Jongin tercengang. Hanya kekasihnya yang memanggilnya dengan kata itu. Semua yang orang asing itu lakukan sangat mencerminkan Kyungsoon, dan Jongin ingin berteriak, ia ingin melampiaskan seluruh amarahnya pada pria ini dan ia tak mengerti mengapa orang asing itu begitu membuatnya gelisah.
Jongin mengepalkan tangannya. "Hanya satu orang yang meninggalkan ruangan ini, dan itu bukan aku.."
Kyungsoo tahu seberapa keras kepalanya Jongin, dan semua serangannya bahkan tak mampu membuat pria itu mundur. Mengenai ia yang sudah menyewa kamar ini sejak lama hanyalah bohong belaka, dan memanggil pihak berwenang adalah ide yang buruk. Kyungsoo berpikir untuk mengalah, namun ia sadar, ia tak bisa meninggalkan Jongin seperti ini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada pria itu? Jongin akan menjadi lebih buruk jika ia tak tahu bagaimana cara untuk memulihkan dirinya sendiri dan akan terus menenggelamkan diri didalam memori-memori cinta. Jika ini tetap berlanjut, Jongin tak akan bisa diselamatkan. Ia perlu berhenti membawa dirinya sendiri ke neraka karena ia terlalu berharga. Yang ia butuhkan adalah kepedulian, tapi Kyungsoo tidak tahu siapa yang berani melakukan itu selain dirinya.
Kyungsoo menekan bibirnya dan menghirup nafas dalam-dalam.
"Dan orang itu juga bukan aku.."
.
.
"Kau yakin mengenai ini?" tanya Baekhyun.
Sudah tengah malam dan Kyungsoo dan Baekhyun bersandar pada railing koridor, mencari udara bebas setelah konflik beberapa waktu lalu. Kyungsoo berbalik dan menatap pintu apartemennya, menghela nafas pada seseorang yang sedang tidur didalam.
"Yeah.."
"Aku benar-benar minta maaf Kyung, aku—"
"Bukan salahmu Baek, akulah yang membuat kekacauan ini, aku harus memperbaiki diriku sendiri.." Kyungsoo menunjukkan senyum sedih. Ia menghela nafas. "Ngomong-ngomong.. Kenapa kau tak memberitahu aku tentang.. hubunganmu.. dengan Chanyeol huh?"
Berbicara tentang Chanyeol, pria mental itu belum pulang. Baekhyun tahu ia sedang menghadiri pesta dengan Kris dan Tao lagi, namun ia mulai khawatir.
"Well, aku tersadar kalau ia tak buruk juga.." Baekhyun terkekeh, dan itu membuat Kyungsoo terkekeh juga disaat yang bersamaan. "Dan dia benar-benar mencintaiku.."
"Ahuh?" goda Kyungsoo.
"Hey bisakah kita jangan membicarakan ini? Itu membuatku.. canggung.."
Kyungsoo tertawa, dan entah bagaimana, berada bersama Baekhyun membuat situasi menjadi tidak terlalu muram. Musim panas begitu membuatnya kesepian, dan setiap kali ia ingin berhenti mengeluhi penderitannya, ia sangat kesepian dan tak dapat bangkit. Melihat luka yang telah ia lewati, Kyungsoo tahu ia menjadi semakin kuat. Orang tegar juga pernah menitikkan airmata, tapi kemudian mereka mengangkat lagi pedang mereka dan berjuang lagi. Ia tak ingin menangis lagi. Ia bukan seorang gadis lagi, dan laki-laki tidak menangis semudah itu. Jadi mulai sekarang, ia akan mencoba yang terbaik untuk menjadi lebih kuat. Ia akan mencoba menghadapi setiap masalah dengan sebuah senyum di wajahnya.
Jadi keesokan harinya, Jongin keluar lebih awal dan Kyungsoo memulai rencananya. Ia meminta kode kunci apartemennya diganti, dan ketika Jongin pulang malam itu, Kyungsoo dihadapkan dengan suara ketukan di pintu.
"Kau pikir kau siapa?!" Jongin menggeram. Ia marah besar ketika Kyungsoo membuka sedikit pintunya untuk pria itu.
"Aku tahu kau telah membayar biaya sewa apartemen ini Tuan Airhead (tolol), tapi aku adalah pemiliknya sekarang.." ucap Kyungsoo dengan nada menyebalkan.
Mata Jongin terbakar.
"Jadi.. Aku tak mau kau berpikir kalau aku munafik, jadi.. begini kesepakatannya," kata Kyungsoo. "Kau bisa tinggal disini, tapi aku tak akan memberitahumu kode kuncinya. Jadi.. kau harus ketuk pintu."
"Are you fucking kidding me—"
Kyungsoo tersenyum.
"I'm not."
.
.
to be continued.
.
A/N:
Hey guys aku sangat, sangat, sangat, sangat, sangat minta maaf atas keterlambatan update pendek ini.
Aku benar-benar sedang mengalami writer's block karena beberapa masalah pribadi, (sampai sekarang, sebenarnya) jadi pleeease maafkan aku jika update ini mengecewakan ekspektasimu (dan aku tahu update ini sangat shitty dan aku sendiri juga tidak puas tapi aku tidak akan merevisi ini) aku benar-benar sedang kacau dan... dan.. /menunduk/ AKU SANGAT MINTA MAAF! (T_T)
T/N:
yang nunggu yaoi scene, sabar ya~ aku cuma nge-translate disini, jadi ga bisa nambahin atau ngurangin scene
terus... aku cuma mau bilang... kalian baca ff ini coba deh pelan-pelan, dinikmati, sambil dibayangin. Disana uda dijelaskan kok detil2nya, dan Kyungsoo disini udah jadi cowo (ga akan berubah2 gender lagi smpai bbrapa chap kedepan), so jangan tanya lagi ya ;w;
sorry kalau ada bberapa typo dan translate-an yg aneh n mmbingungkan, translating isn't that easy serius deh '-'v
thanks a lot juga utk kalian yg uda menikmati ff ini, baik yg ngereview maupun engga, aku hargai banget /love sign/
.
THANKS FOR 300+ REVIEWS! LOVE YA ALL!
.
saranghaja,
exoblackpepper
