19! An Affair chapter 10
"Cease-Fire!"
~Happy Reading~
" Jaejoongie... Joongie...Boojae Gwenchana?"
Jaejoong mulai membuka matanya yang terasa berat dengan perlahan sambil membiaskan cahaya yang masuk di sela-sela kedua bola mata bulatnya dan langsung melihat kearah Yunho yang tengah berdiri di samping ranjangnya. Tergambar jelas raut kecemasan di wajah sang suami.
" Yunnie.."
" Boojae! Astaga BooJaejoongie" Panggil Yunho sambil memeluk jaejoong, rasa khawatir akan sang malaikat yang tiba-tiba saja pingsan membuat Yunho seolah di cabut nyawanya. " Apakah kau tau boo! ketika kau pingsan. Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Kau tahu betapa cemasnya aku ketika tiba-tiba saja kau tergeletak dengan wajah pucat."
" Apakah aku ada dirumah sakit?" bukannya menenangkan sang suami yang sedang di landa kecemasan akan dirinya, Jaejoong malah balik bertanya dengan suara lemahnya. Jaejoong dapat mencium aroma rumah sakit yang khas di hidungnya begitu dirinya mulai tersadar dari pingsan, suara alat-alat rumah sakit pun langsung masuk menyapa telinganya.
" Ne. Tadi aku memanggil ambulance. Apakah kau tak mengingatnya?"
" Ingat. Sedikit... aku dibawa kerumah sakit pakai ambulance?"
" Ne" sahut Yunho Sambil memandang Jaejoong dengan sedu.
" Ketika naik ambulance aku tidak mengingat sedikitpun. Waah, sayang sekali ya. Padahal itu pengalaman pertamaku naik ambulans" canda Jaejoong sambil tertawa lemah.
"Boo..." panggil yunho dengan mata berkaca-kaca. " Dasar pabbo! Kau berhasil membuat ku cemas eoh" lanjutnya.
Jaejoong dapat melihat bahu yunho yang gemetar, meski tidak meneteskan air mata tetapi mata setajam musang tersebut terlihat sedikit memerah meredam tangis. Rupanya suaminya tersebut sangat mencemaskannya. Jaejoong pun melihat kedua mertuanya dan juga Yeji berdiri dibelakang yunho, sedangmemandang dirinya dengan wajah pucat mereka.
" Jaejoong~ah" Panggil Umma Jung sambil berjalan mendekati ranjang tempat jaejoong berbaring. Jaejoong melihat sinar mata umma Jung yang nampak sedih. " Jaejoong, kamu menjadi seperti ini pasti karena umma." Lirihnya dengan nada bergetar.
" Eommonim..."
" Maafkan umma. Umma sudah melakukan hal yang tidak pantas."
" Eommonim.."
" Umma benar-benar minta maaf. Maafkan atas segala perbuatan umma, sejujurnya umma cemburu padamu sehingga berbuat jahat seperti ini." Tergambar jelas raut penyesalan di wajah Umma Jung, mendengar ungkapan penyesalan sang mertua Jaejoong hanya bisa terdiam. Jaejoong hanya bisa mendengarkan curahan hati Umma Jung yang berdiri tak jauh dari tempatnya berbaring. Tidak, jaejoong tidak marah dengan sang ibu mertua. Jaejoong hanya merasa sedikit kesal dan jengkel dengan tingkah laku Umma Jung yang menurutnya sangat tidak menyukai dirinya itu, padahal Jaejoong sudah melakukan semua yang Umma Jung minta agar Mertuanya itu mau menerima dirinya sabagai menantu.
" Kau masih begitu muda dan perjalanan hidupmu masih panjang. Kau juga sangat mencintai anakku, Yunho. Sedangkan umma , umma merasa semakin hari semakin tua. Rasanya seperti suami dan anakku sudah tidak membutuhkan umma lagi. Umma merasa sudah tidak punya tempat lagi di hati mereka. Makanya umma sangat membencimu. Mianhae" menedengar semua keluhan Umma Jung ingin rasanya Jaejoong memeluknya. Mengatakan bahwa dia sangat menyanyangi Umma Jung meski dirinya mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan selama ini.
" Eommonim.." lirih Jaejoong
" Mianhae. Ketika kau pingsan tadi, umma seakan tersadar. Umma merasa ada beribu duri yang menancap dihati umma. Umma begitu cemas dan takut ketika kau tak sadarkan diri tadi."
Kemudian jaejoong terdiam kembali.
" Umma Merasa kamu sudah merebut yunho-ku. Umma tidak suka denganmu. Sebab itu umma jahat kepadamu. Sekarang umma benar-benar menyesal, umma merasa benar-benar jahat. Waktu kau pingsan , umma dapat melihat betapa yunho sangat mencemaskan mu dan tiba-tiba umma merasa membenci diri umma sendiri"
" Eommonim, sudahlah."
" Umma memang jahat. Mungkin ini karena appa kalian berselingkuh. Umma merasa kuat, padahal paling lemah. Sebenarnya umma tidak bisa berpisah bahkan bercerai dari chunnie. Umma memang jahat." Ujar ibu mertua Jaejoong sambil menyeka air matanya yang bercucuran dengan saputangan.
" Suie," panggil Mr. Jung dengan lembut sambil merangkul bahu istrinya. " Aku tidak pernah mau bercerai. Aku mungkin memang orang yang paling tidak ingin mengalah, tetapi aku tidak akan pernah menceraikan mu, suie" kata Mr. Jung lagi.
" Yoochunnie.." gumam Umma Jung sambil terus menangis.
" Junsuie, kau salah paham soal perselingkuhan itu. Percayalah! Kita pulang sama-sama ke Gwangju, ne!." Umma Jung pun mengangguk tanda setuju kemudian keduanya pun saling berbagi kehangatan dalam pelukan. Melihat semua itu, Jaejoong merasa terharu dan bersyukur karena mereka sudah berdamai kembali. Yunho menggenggam tangan jaejoong dengan hangat.
Tepat pada saat itu, pintu kamar rumah sakit tempat jaejoong dirawatpun terbuka. Seorang dokter dengan pakaian putih masuk ke dalam. Wajahnya terlihat lebih jauh lebih muda jika dibandingkan dengan usia Yunho. Tiba-tiba wajah yunho menegang. Beribu macam pikiran mulai menjalar di otak kecilnya, takut-takut jika sang istri menderita penyakit parah.
" Uisa! Boojae... ah.. ani, maksudku istri saya. Ada apa dengannya? Apakah ada yang tidak beres dengan kesehatanya? Parahkah?" tanya Yunho dengan tidak sabar.
" Wah..wah" seru dokter dengan name tag memotong perkataan Yunho " Tenanglah, tidak perlu panik sepertu itu Tuan Jung." lanjutnya.
"N-ne!"
" Apakah mereka orang tua Anda ?" tanya dokter tersebut sambil memandang kedua mertua jaejoong.
" Ne., Mereka orang tua saya." Jawab Yunho.
" Baiklah!" Ujar dokter Shim. Dia menatap mereka satu persatu kemudian tertawa. " perkenalkan, nama ku adalah Shim Changmin, biasa di panggil dr. Shim. Istrimu pingsan karena anemia tetapi tidak perlu cemas." Jelas dr. Shim.
" Benarkah?" tanya Yunho sambil mengela nafas lega begitu mendengar bahwa sang istri tercinta tidak memiliki penyakit yang serius.
" Tetapi Kurasa ada yang perlu kalian ketahui." Kata dr. Shim lebih lanjut dengan nada yang sedikit serius. Ingin rasanya dirinya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi terkejut mereka semua terutama yang sedang berdiri di hadapannya ini.
" Mwo? Apakah ada yang tidak beres?" tanya Yunho dengan lirih.
" Gwenchana, tenanglah. Anda ini tidak sabaran ternyata hahaha" kata dr Shim seraya tertawa sambil menepuk bahun Yunho. " Musim Panas Tahun Depan, Anda akan menjadi seorang Appa."
"oh Appa... hmm ...Ye?... MWO?/MWO? " Seru jaejoong, Yunho, Kedua orang tua Yunho bahkan Yeji dengan serempak.
menatap semuanya seraya tersenyum kemudian berkata " Chukae!Chukae! usia kandungan Nyonya Jung baru berusia 4 Minggu, masih sangat rentan. Jadi jaga kesehatan anda semaksimal mungkin, jangan terlalu banyak pikiran dan stress. Melihat dari berat bobot tubuh anda, usahakan anda perbanyak makan buah dan sayuran. "
Selamat? Jadi didalam perutku benar-benar ada aegya? Jadi, tahun depan aku akan jadi seorang Umma? Gumam jaejoong dalam hati sambil mengusap pelan perut ratanya. Entah bagaimana menyampaikan ungkapan rasa bahagia yang tengah melanda hati Jaejoong. Baby, dirinya akan segera memiliki seorang malaikat kecil yang akan menghiasi hari-hari dirinya dan Yunho, suaminya.
" Boojaejoongie." Panggil Yunho
" Yunnie."
Kemudian Yunjae pun saling berpandangan. Lalu tiba-tiba jaejoong bangkit dan melompat dari ranjang rumah sakit tersebut langsung memeluk Yunho dengan erat, sedangkan yunho memeluk Jaejoong dengan hati-hati, seolah-olah jaejoong merupakan barang yang mudah pecah.
" Boo.. Pelan-pelan! Jaga tubuhmu." Ujar Yunho dengan cemas, mendengar ungkapan kecemasan dari sang suami jaejoong pun mengangguk dalam pelukan hangat Yunho.
" Cucu pertama, ya?" tanya dr Shim kepada pasangan Jung senior.
" N-ne. Yunho satu-satunya anak kami."
" Oh,ya? Selamat menjadi kakek dan nenek!"
" Kamsahamnida uisa, sejujurnya kami cukup terkejut dengan berita bagus ini. Jadi, tahun depan kami akan memiliki seorang cucu." Kata Mr. Jung dengan haru.
" Ne,sekali lagi chukae! Saya yakin cucu anda pasti manis karena orang tuanya cantik dan tampan," ujar seraya terkekeh pelan. Sedangkan wajah jaejoong sudah memerah bak tomat matang saat mendengarkan candaan dari sang dokter. " Kakek dan neneknya juga masih muda. Kira-kira aegya kalian akan mirip siapa ya?" lanjut ramah.
" Kamsahamnida uisa, jeongmal kamsahamnida" ucap Yunho tulus. Mata Yunho dan kedua orang tuanya tampak berkaca-kaca. Mereka bertiga membungkukkan badan untuk memberi hormat kepada , kemudian Umma Jung pun berbalik ke arah jaejoong.
" Jaejoong~ah" panggil Umma Jung
" Ne. Eommonim?"
" Jaga tubuhmu baik-baik! kamu harus melahirkan bayi yang sehat. Umma tidak sabar lagi menunggu kelahiran cucu umma," katanya sambil menggenggam kedua tangan jaejoong penuh hangat.
" Ne, Kamsahamnida eommonim"
Jaejoong merasa bahagia, sangat bahagia sampai seolah-olah ini bagai didalam mimpi.
" Chunnie, kira-kira siapa nama untuk cucu kita nanti ya?" tanya umma Jung kepada Mr. Jung, suaminya. .
"hmm, Ne. Siapa ya?"
" Umma, Appa! Ini terlalu cepat. Calon aegya kami bahkan baru berusia 4 minggu" sahut Yunho sambil terkikik lucu melihat kelakuan kedua orang tuanya yang menurutnya aneh itu.
" Boo, setelah pulang nanti, kita akan memberitahu berita bahagia ini kepada orang tuamu di London," ucap Yunho sambil memandang Jaejoong.
" Ne." Sahut Jaejoong sambil memeluk Yunho dengan penuh rasa bahagia.
" Uisa, apakah istri saya sudah di perbolehkan untuk pulang?" tanya Yunho
" Ne. Jaga istri anda baik-baik, Tuan Jung." Kata itu sambil tersenyum.
" Ne, uisa. Terima kasih banyak," ucap Jaejoong sambil membungkukkan badan.
" Boo, Aku akan memapahmu," kata Yunho sambil menggandeng lengan sang istri dengan lembut.
" Aniyo, Yunnie. Aku masih bisa jalan sendiri. Aku malu!"
" Jangan, bagaimana nanti jika anemiamu kambuh lagi? Umma akan panggilkan taksi. Kamu harus jaga kesehatan, Jaejoong~ah" kata Umma Jung. Tiba-tiba saja sikap Umma Jung berubah secara mendadak seperti seorang yang berbeda. Kini sikapnya melembut, dan Jaejoong sangat terharu melihat sikap ibu mertuanya itu.
" Baiklah! Kita berempat naik taksi sama-sama. Sepertinya satu taksi cukup," ujar Umma Jung.
" Suie, tunggu dulu. Kau lupa? Kan masih ada satu orang lagi," kata Mr. Jung sambil memiringkan kepalanya.
" Nugu?" tanya Umma Jung heran.
" Ahjumma, ini saya, Yeji!" kata Yeji dari sudut kamar.
" Oh, kamu. Kamu masih disini? Kamu kan masih SMA. Ini sudah malam. Cepat pulang ke rumah!" kata Umma Jung dengan dingin. Sungguh kontras dengan sikapnya beberapa jam yang lalu.
The End
Helloo...
Mian lama baru nongol... maklum ada urusan pribadi hehehehe
Tenang ada epilogue nyy... untuk epilogue sedang dalam penulisan...
Terima kasih yang udah setia menunggu update nyy ff saya yang ba'al ini...
Mian juga jika banyak typo... maklum typo saya itu susah di hilangkan hahahahaha
Terima kasih yang udh review, read, follow, or fav FF saya... saya ucapkan terima kasih banyak...
Maaf tidak bs membalas review kalian baik lewat PM or apapun,, soalnya untuk akses sendiri saya agak susah... saya hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua...
Di tunggu di FF saya yang selanjutnya ne...
