Disclaimer: Squad, Valentia, Josephine, Yukika, Popurin, and Jaychun are not my character. These characters belong to their respective owner. The other characters are all mine. And yes, the ECO world is not mine, it's GungHo's.


Epilogue


Kakinya menjejak lantai putih berkilau, menimbulkan suara khas cekit, cekit,yang selalu muncul di kala suatu beban bergesekan dengan lantai es. Pandangan mata emasnya itu ia fokuskan pada sebuah portal di depan dirinya, portal menuju dunia luar. Ia sama sekali tak menghiraukan hawa dingin yang menusuk. Rupanya dirinya kebal terhadap hal tersebut. Dan dengan satu langkah tegas, ia melangkah menuju portal tersebut.

Seandainya saja ia bisa membawa motor yang baru-baru ini didapatnya, tapi sayangnya kondisi geografis North sama sekali tidak mendukung dirinya untuk bepergian dengan sepeda motor kesayangannya itu.

Hmph. Geografi. Ingatannya melayang kembali, melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu, dan juga beberapa puluh tahun yang lalu. Ironis.

Serbuan angin dingin jahat langsung menerpa mukanya, tapi ia tak peduli. Sambil merapikan hakama hitam miliknya, ia berjalan menuju seseorang—atau sesuatu—yang tampaknya sedang berdiri di tebing jurang yang agak curam. Perlahan, tangannya memasuki sakunya, dan mengeluarkan sebuah kristal yang berpendar aneh. Tanpa membuat orang itu terkejut, ia menyodorkan kristal tersebut kepada orang itu, yang ternyata adalah seorang Icy. Seorang Icy dengan kecantikan yang khas.

"Ini—Mysterious Crystal terakhir," sahut Blade Master itu dengan suara serak. Rupanya, sudah berjam-jam yang lalu ketika ia terakhir kali menggunakan suaranya. "Sekarang, jumlahnya genap seratus buah..."

Akhirnya Icy itu menyadari keberadaannya. Ia berbalik ke arah Blade Master itu, dan kemudian menerima kristal dengan pendar aneh tersebut sambil membungkuk dan berkata, "Tuan Squad..."

Sang Dominion tanpa sayap dan ekor itu mengernyit tak setuju. Ia berkata, "Sudah kubilang jangan panggil aku dengan embel-embel 'Tuan'."

Icy itu membungkuk kembali. "Baiklah. Squad—sama."

"Bah. Sama saja..." Squad menggeleng. Beberapa salju yang menghinggapi baju hakamanya ikut bergoyang lemah, dan akhirnya terjatuh di bawah.

"Ini karena kami semua menghormati Anda, Squad-sama," Icy itu menjelaskan sambil tersenyum. "Kebaikan, kesabaran, dan keteguhan hati Anda membuat kami semua terpana. Baru kali ini kami menyaksikan bentuk cinta paling suci seperti ini. Mungkin, hanya karena kehadiran Anda dan Putri Josephine sajalah yang dapat memberi inspirasi dan kehangatan di pulau Icy ini selama tiga puluh tahun terakhir." Icy itu memandangi pulau kecil yang menjadi tempat kediamannya selama ratusan tahun itu dengan pandangan sayu.

Diberi pujian seperti itu, semburat rona merah muncul di pipi Squad. "Well, kau terlalu memuji, Ryana. Aku hanya... menemukan sesuatu yang lebih penting untuk dipedulikan dan disayangi daripada diriku sendiri," ucapnya. Ia juga ikut memandangi pulau kecil itu, dan dalam hati mengagumi keindahannya dalam cengkeraman salju abadi yang tak pernah berakhir.

Icy yang bernama Ryana itu kembali memandangi mata emas sang Blade Master. "Dan menurut saya, itulah bentuk asli dari cinta suci. Kisah Anda seharusnya diketahui oleh seluruh penduduk benua Acronia, satu demi satu." Icy itu mengangguk-angguk, rupanya ingin agar semua orang lain juga bisa merasakan betapa mengharukannya kisah Squad.

Squad tertawa kecil. Senyum yang muncul di bibir Squad tampak seperti mengejek dirinya sendiri. "Sayangnya, itu sudah terjadi."

"Oh ya?" Ryana tampak tertarik, mendorongnya untuk melanjutkan.

Namun, ternyata Squad malah menjadi kesal saat mengingat-ingat salah satu versi cerita dari seorang gadis yang seminggu lalu barusan dia temui di bekas kediaman Josephine itu.

"Ya. Dan itu pasti gara-gara... cecunguk kecil itu!" Squad mengertakkan gigi. "Pasti Scone yang menyebarluaskan saat ia masih hidup dulu!"

Scone, setelah berhasil selamat dari petualangan mereka di Light Tower, melanjutkan hidupnya sebagai seorang Kodama yang menyamar menjadi Ice Stone. Dia pergi ke mana-mana, mencapai segala sudut dari segala negara, hanya untuk meningkatkan kemampuan berdagangnya. Sekarang Scone dikenal sebagai seorang Ice Stone yang paling sukses. Namun sayangnya, seperti salah satu pepatah Morg, tak ada kayu yang tak lapuk. Scone, setelah menempuh perjalanan kehidupannya selama tiga puluh tahun sebagai salah satu Kodama yang paling sukses, harus menutup mata kayunya untuk selamanya, tiga puluh tahun yang lalu.

Tiga puluh tahun yang lalu. Dan Squad sendiri hanya terlihat menua selama beberapa tahun. Mungkin, ia sudah hidup terlalu lama.

Ryana yang mendengar perkataan Squad menjadi agak kebingungan. "Bukankah seharusnya Anda senang, Squad-sama? Anda menjadi terkenal, bukan?"

Hal yang dikatakannya itu tampaknya membuat kemarahan Squad semakin menjadi-jadi. "Apa-apaan dikenal?! Jalan ceritanya berubah total, tauk!" Squad tak menyadari wajah Ryana yang sedikit berjengit saat ia mengucapkan kata terakhir. "Dia bercerita seakan aku tak punya nama, dan hanya dipanggil sebagai 'Ksatria Berambut Emas'! Sedangkan hanya namanya dan—dan nama Wendy—yang disebutkan, dengan benar! Dan yang paling parah adalah mereka salah menyebut Chiburi sebagai 'Chibry'!" Squad meluapkan kemarahan sepuasnya. Napasnya tersengal-sengal, rupanya ia terlalu banyak menggunakan oksigen yang tentu hanya berkadar tipis di dataran tinggi North ini. Sedangkan Ryana sendiri masih tampak berjengit setelah digunakan Squad sebagai sasaran pelampiasan kemarahannya.

Squad, setelah beberapa menit berlalu, rupanya menyadari kesalahannya. Ia berdeham kecil dan kemudian berkata, "Maaf. Aku terlalu terbawa emosi."

Icy itu mengangguk cepat-cepat dan berkata, "Tidak apa-apa. Wajar jika Anda merasa kesal seperti itu, Squad-sama."

Pemuda itu kemudian menenangkan dirinya. Tidak lucu kalau seseorang seperti dirinya bisa tersengal-sengal seperti itu, padahal dia dikenal sebagai salah satu Blade Master paling terlatih dan paling kuat di seluruh benua Acronia. Ia kemudian berpikir, kalau ia menceritakan versi Valentia kepada Ryana, mungkin hal itu akan membuat kemarahannya surut. Maka ia bercerita kepada Ryana tentang dongeng tersebut, dengan Ryana mendengarkan di sampingnya dengan penuh minat.

Setelah Squad selesai bercerita, Ryana melebarkan matanya. "Wow. Benarkah seperti itu dongengnya? Itu keterlaluan." Meskipun begitu, ia menutupi mulutnya yang ternyata tersenyum kecil karena ia tampaknya menganggap bahwa hal tersebut—agak lucu.

Namun, Squad tahu isi hatinya. Wajah Squad berubah masam. "Yeah, aku tahu dimana letak lucunya."

Dikatai begitu oleh Squad, wajah Ryana langsung merona biru pucat dan ia langsung mengganti mimik mukanya dengan wajah tenang tanpa emosi yang biasa menghiasi raut mukanya. Cepat-cepat ia berujar, "Jangan begitu marah, Squad-sama. Tanpa usahanya, nama Josephine tak akan dikenang, bukan?" Ryana hampir saja menghembuskan napas lega saat wajah Squad melunak begitu ia menyebut kata 'Josephine'. "Dan setidaknya dia bercerita bahwa dongeng tersebut berakhir bahagia. Tentunya dia memiliki pengharapan besar... akan kebahagiaan Anda, Squad-sama."

Pemuda berambut keemasan itu mengangkat bahu sambil bergumam, "Mungkin saja. Tapi mungkin juga tidak. Dia itu suka sekali mengejekku, kau tahu?" Ia kembali teringat akan pertemuan pertamanya dengan Scone.

Ryana memandanginya dengan lembut. "Apakah Anda tidak ingin mengingat diri Scone-sama dengan lebih baik...?"

"Bukan begitu," Squad menggeleng cepat-cepat. "Aku hanya marah saja karena segalanya tidak berakhir dengan bahagia, sama seperti yang disebarluaskan olehnya." Squad memejamkan mata, berusaha untuk mencegah agar matanya tidak memanas. Berbagai kenangan berkelebatan di otaknya. Sedih maupun senang. Gembira maupun menderita.

Kehidupan maupun kematian.

"Mungkin sebentar lagi, akan ada akhir yang bahagia," Ryana meyakinkan Squad dengan pandangan bersinar. Saat Squad mengarahkan pandangan ke Ryana dengan bingung, Ryana kembali melanjutkan, "Setelah persiapan selesai, saya akan melakukan ritual pemurnian jiwa untuk Putri Josephine. Sementara itu, bersabarlah, Squad-sama..."

Sebentuk kabut putih muncul di depan Squad saat ia mendesah. "Baiklah... Terima kasih sekali, Ryana..."

xoxoxoxox

"Belrone. Belroooooone."

Ia sedang berada di depan sebuah igloo, sebuah rumah berbentuk kubah yang dibuat dari salju yang mengeras. Di tanah sedingin tanah North, sebuah igloo menjadi pemandangan yang biasa di tengah kepungan salju yang tak ada habis-habisnya. Namun, hanya ada satuigloo yang terdapat di pulau Icy. Dan di depan iglooitulah Squad berdiri, memanggil-manggil nama seseorang.

"Belruuuuuoooooooooooooooooon neee—"

Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari dalam dinding salju itu. "Ya, ya, ya! Tunggu sebentar..." Pintu terbuka, dan dari dalam rumah tersebut muncullah seraut muka boneka kayu Pino yang berwarna putih pucat. Mirip sekali Scone.

Boneka tersebut terkejut mendapati Squad telah berdiri di depannya, dan berseru dengan senyum kekanak-kanakan, "Ooh, Paman Squad! Masuklah!"

Rumah tersebut, meskipun agak kecil, di luar dugaan ternyata cukup nyaman dan hangat. Di seberang pintu terdapat tempat tidur mini dengan berlembar-lembar selimut tebal. Terdapat pula meja, kursi, dan beberapa buku di sudut lainnya. Di tengah, sebuah tungku perapian mini sedang menyala-nyala. Beberapa buah kursi lain tampak bertengger di sekelilingnya, memberi kesan ramah.

Squad menghirup udara nyaman itu dalam-dalam sebelum menuju ke sebuah kursi yang terletak di dekat tungku dan kemudian duduk di atasnya. Belrone mengikutinya dari belakang, dan menempatkan dirinya untuk duduk di kursi di sebelah Squad. Blade Master itu memandang sekelilingnya sebelum berkomentar, "Rapi dan nyaman seperti biasa, Belrone."

Belrone tak mampu menahan senyum bangganya. "Aku selalu membersihkannya setiap hari. Jaga-jaga kalau-kalau paman datang."

Tawa kecil keluar dari mulut Squad. "Anak pintar. Rupanya kamu tidak mewarisi sif—err, maksudku, rupanya kamu lebih baik daripada kakek buyutmu," Squad berhenti sejenak, memandanginya dengan senang. Benar. Belrone adalah anak dari cucu Scone. Ras Pino memiliki cara yang aneh untuk menghasilkan keturunan, yaitu dengan mencari sendiri kayu yang mereka butuhkan dan memahat anak mereka di kayu tersebut dengan kemampuan mereka sendiri. Namun ia masih belum tahu bagaimana sebuah jiwa bisa merasuki sebuah boneka. Felrone—ayah Belrone—tentu sangatlah terampil sehingga dapat menciptakan anak sebaik ini.

Sedangkan Scone sendiri... Squad ingin sekali tahu tentang apa yang dipikirkan oleh ayahnya ketika ia memahat boneka anaknya.

"Bagaimana kabarmu, Belrone?"

"Tentu baik. Aku barusan pulang dari luar, menukarkan beberapa barang untuk mendapatkan segunung harta karun dari Pefang, Proon, Skeleton, dan lain-lain... bahkan aku berhasil mendapatkan beberapa kristal," Belrone berdiri lalu menuju tumpukan karung di sebelah meja dan menunjukkan isinya kepada Squad. Ada berbagai macam barang, mulai dari permen, tulang, topi berbentuk aneh-aneh, kristal, dan lainnya.

Belrone memandangi kristal tersebut dan bergumam, "Aku masih belum mengerti kenapa penguin gembrotseperti mereka punya fetish terhadap barang berkilau. Maksudku, sampai Piece of Memories milik Tita saja mereka punya!"

"Sama, aku juga," Squad menyetujui sambil mengangkat bahu.

Mendadak, dari luar terdengar suara aneh yang mirip seperti suara Belrone. "Belrone, chirp, ini Chiburi, burrm."

Senyum merekah di kedua wajah itu. Belrone segera berlari menghampiri pintu dan kemudian membukanya dengan tergesa. "Oh, Chiburi! Kau datang di saat yang tepat, tahukah kamu?"

Ia kemudian mempersilakan sebuah boneka kayu lainnya masuk. Boneka itu tampak kebingungan dan berkata, "Tidak, chirp, Chiburi tidak tahu, burrm. Ada apa, nyoron~?"

Belrone kembali tersenyum dan berucap, "Paman Squad ada di sini, lihat!"

Senyum yang mengembang di wajah Squad sangatlah lebar saat ia melihat Chiburi dalam bentuk seperti ini. "Halo, Chiburi..."

Chiburi, yang sekarang merupakan kembaran Belrone, memakai media boneka kayu sebagai pengganti tubuhnya yang rusak saat pertempuran di Light Tower bertahun-tahun yang lalu. Sebelum mereka berdua memutuskan untuk pergi ke North untuk melakukan sesuatu tentang jiwa Josephine, ia terlebih dahulu berkeliling, entah itu untuk mencari sesuatu yang bernilai untuk dijual ataupun hanya sekedar koleksi. Dan pada saat itu pulalah dia menemukan tubuh Chiburi yang hancur, namun dengan 'hati robot' yang masih dapat berfungsi. 'Hati robot' ini berfungsi seperti sebuah motherboard dalam tubuh robot, jadi dengan sedikit kerja keras dan setumpuk uang dari Scone, akhirnya Chiburi berhasil mendapatkan tubuh boneka kayu Pino ini.

"Chiburi senang sekali bertemu Squad, chirp, dan juga Belrone, skitt skitt!" serunya dengan gembira dan langsung berlari ke arah Squad.

"Ahahaha... Chiburi... kau tetap lucu dan polos seperti biasa. Kurasa bentuk tubuh Pino lebih cocok dibanding bentuk Guttinger-mu, Chiburi. Tapi tentu saja, kamu lebih menyukai bentuk aslimu..." Squad memandanginya dengan perasaan sayang. Kalau Chiburi dalam bentuk seperti ini, kenapa ia malah ingin menjadikan Chiburi sebagai seorang anak, ya?

Ha-ha. Keinginan menjadi seorang ayah? Tahan dulu, Squad.

"Tidak, chirp, Chiburi cukup senang dengan tubuh seperti ini, burrm. Chiburi ingin melupakan kesedihan tentang kakak, burrm," Chiburi mengangguk-angguk. Squad tersenyum. Setelah ia dihidupkan kembali dalam bentuk tubuh Pino, ia menangis berhari-hari karena 'hati robot' kakaknya tak dapat diselamatkan lagi.

"Kamu sudah dewasa sekarang, Chiburi. Aku senang kamu sudah tidak menyimpan kesedihanmu lagi."—sungguh, lho. Tenggelam dalam kesedihan yang berlebihan itu tidak baik, sama sekali tidak baik.

Ia mengangguk-angguk lagi, rupanya sangat senang. "Terima kasih, skitt skitt! Chiburi pergi dulu, chirp, Chiburi ingin membantu Icy yang cantik, skitt!"

"Buahahaha... rupanya robot itu juga sudah mengerti tentang perasaan cinta, eh?" Belrone terbahak.

Sebuah robot, mengerti tentang perasaan cinta? Itu mustahil, tapi benar terjadi. Ternyata, percobaan Eliminator terhadap 'sebuah robot yang ia tidak tahu namanya itu' melibatkan Chiburi. Itulah sebabnya kenapa Chiburi berhasil bertahan dari proses pencucian otak yang dilaksanakan Eliminator olehnya. Perasaan sayangnya kepada kakaknya jauh lebih kuat dibanding memori dan kenangan palsu yang ditanam secara paksa di otaknya.

Squad tersenyum, dan ikut tertawa. "Sepertinya kamu benar. Hahaha..."

xoxoxoxox

Mereka semua berdiri mengelilingi sebuah kaca es indah. Jika memperhatikan ke dalam kaca es tersebut, di dalamnya ternyata ada seseorang. Seseorang yang sudah lama menghuni kaca tersebut tanpa kehidupan...

"Sebaiknya.. sekarang dimulai. Ritual pemurnian jiwa tahap terakhir..." Ryana memulai, dan mengangguk ke arah Icy-Icy lainnya.

Sebenarnya Squad sendiri sangat sungkan untuk meminta bantuan mereka agar menyembuhkan dan mengembalikan jiwa Josephine yang rusak. Namun, ternyata mereka lebih dari senang saat menerima pekerjaan tersebut, dan sekarang hal tersebut merupakan sebuah kebiasaan yang berlanjut selama tiga puluh tahun terakhir.

Squad tidak benar-benar mendengarkan berbagai doa dan kristal yang diberikan kepada kaca es tersebut. Mata Squad hanya terpaku pada manusia yang terperangkap dalam kaca es tersebut. Manusia yang membuatnya jatuh cinta. Membuatnya merasakan berbagai pengalaman hidup. Membuatnya menyadari, betapa fananya sebenarnya kehidupan ini...

Es mulai mencair. Entah kenapa sepertinya Squad malah maju menuju es tersebut, dan perlahan menyentuh es tersebut. Ryana, meskipun menyadari Squad yang perlahan maju dan mendekati es tersebut, sama sekali tidak mencegahnya. Begitu tangannya menyentuh es itu, panas dari jari tangannya mempercepat melelehnya es.

Ia mendongak. Josephine, mengenakan pakaian yang sama di hari ia diculik oleh si Eliminator. Josephine, wajahnya diliputi kekosongan selama bertahun-tahun. Ia mengangkat tangannya, dan menyentuh pipinya. Panas. Itu artinya ritual dari Icy itu berhasil. Perlahan Josephine mulai membuka matanya...

"Jo-Josephine..." ia berkata dengan pelan saat Josephine mulai mengenalinya. "Tak apa-apa... aku di sini..."

Josephine membuka mulutnya dan kemudian berkata pelan, "Aku terbebas... dari belenggu jahat itu..." Air matanya mulai bercucuran tak terkendali, tangannya menggenggam tangan Squad dengan erat. "Oh, betapa senangnya, betapa leganya aku..."

Tentu saja. Tiga puluh tahun menjalani hidup sebagai jiwa yang rusak, hal ini bukanlah disebut perkara gampang. Pasti ia sangatlah ketakutan...

"Ya, Josephine... kamu akhirnya bebas..." Squad berbisik di dekatnya. Ia menyadari, betapa ia mencintai wanita ini. Betapa ia merindukan suaranya, senyumnya, seluruhnya...

Senyum mengembang secara perlahan di mulutnya. "Squad... Lama tak jumpa... Selama ini, aku selalu memimpikan... suatu hari, engkau akan berada di sisiku saat aku berhasil terbebas dari belenggu mengerikan itu... engkau akan membelaiku lembut dan berkata 'Tak apa-apa, aku di sini...' dan ternyata aku benar, kan? Kamu selalu... menungguku... Squad..."

Kali ini, Squad-lah yang menggenggam tangan Josephine dengan erat. "Josephine... maafkan aku..."

"Untuk apa kamu meminta maaf? Sudahlah. Bukankah kamu juga sudah meminta maaf belasan tahun yang lalu? Permintaan maafmu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memaafkanmu sejak dahulu..."

Perkataan itu mengingatkannya tentang seseorang dari masa lampau, seseorang yang telah menghilang dari kehidupannya sejak lama. Ini membuat dirinya semakin menderita. Andai saja ia lebih kuat... dia tak akan membiarkan Kematian merenggut orang-orang yang ia sayangi dan cintai satu per satu...

"Squad, tidak ada yang abadi di dunia ini," Jose berucap, tangannya bergerak ke atas untuk mengusap pipi Squad. "Aku pun sebentar lagi harus meninggalkan dunia fana ini dan menuju dunia selanjutnya, untuk mengalami Petualangan Selanjutnya... Lihat, Squad," Jose menunjuk ke arah timur. Squad ikut menoleh ke arah tersebut. "Cahaya kecil, namun semakin tampak besar... maukah kamu ikut bersamaku, Squad? Menuju cahaya tersebut, bersama-sama?"

Waktunya telah tiba. Squad merasa ia sudah melakukan segala sesuatunya dengan tepat, maka ia menyetujui ajakan Josephine dengan senyum tulus. "Ya, kurasa begitu, Jose..."

"Tunggu. Paman tidak berpikir untuk... meninggalkan kami, kan?"

Di belakang mereka ternyata telah berkumpul seluruh penduduk Icy Island. Bahkan, Chiburi juga hadir di sini. Squad tersenyum.

"Sayangnya ya, Belrone. Aku sudah terlalu lama hidup di dunia ini... terlalu lama menanggung beban seperti ini. Kurasa aku sudah lelah, pada akhirnya..." Ia menggeleng.

"Chirp chirp..." Chiburi berbisik.

Squad menolehkan pandangannya ke arah Chiburi. "Bagaimana, Chiburi? Bolehkah aku pergi?"

Chiburi tampak berpikir, kemudian berkata, "Kalau Squad akan merasa bahagia, chirp, Chiburi juga akan bahagia, burrm. Apalagi dengan Sang Titania yang cantik, skitt!"

Senyum yang ada di ujung bibir Squad lebih mengembang saat ia mendengar perkataan Chiburi. "Terima kasih, Chiburi. Ryana, terima kasih atas segala bantuanmu... tanpamu, Josephine tidak akan pernah sembuh dari kutukan Nightmare..." Ia menundukkan kepala dengan hormat.

"Saya merasa terhormat bisa membantu Anda, Squad-sama. Seperti yang saya bilang, kehadiran Anda dan Putri Josephine di sini memberikan inspirasi dan kehangatan bagi kita semua di daerah terpencil ini. Selamanya Anda akan kami kenang, Squad-sama. Dengan begitu, mungkin kepergian Anda tidak akan terlalu membuat kami sedih. Karena Anda akan selalu berada di dalam hati kami semua," ucap Ryana yakin. Meskipun begitu, hatinya tetap sedih karena kenyataan bahwa orang yang dikaguminya tersebut akan menghilang, makin terasa dalam hatinya.

"Aku merasa tersanjung, Ryana, terima kasih..." Ia berkata dengan berbinar. Namun, ia kemudian menoleh ke arah Belrone, dan mendapati bahwa boneka kayu tersebut sedang terisak-isak. "Jangan menangis, Belrone, bukankah ayahmu bilang kamu harus kuat?"

"M-memang b-benar, tap-p-pi aku tet-t-tap m-merasa sed-d-dih... Ak-k-u akan b-berusaha unt-t-tuk menja-d-di kuat, P-paman..." ucapnya di sela-sela isakannya. Rupanya perpisahannya dengan Squad sangat membuatnya sedih.

Squad mengangguk ke arahnya. "Anak baik... aku yakin, kau akan menjadi kuat, Belrone."

"Hati kalian sangatlah baik. Aku berterima kasih kepada kalian... sekaranglah waktunya, Squad. Berpeganganlah padaku..." Jose mengulurkan tangannya ke arah Squad. Squad menyambutnya, dan perlahan cahaya melingkupi mereka berdua, sesaat membuat mereka berpendar, dan kemudian—hilang.

"PAMAN SQUAD!"

"Chirp..."

"Terima kasih, Squad-sama..."


FIN


Did you enjoy the ride? R&R please? =)