Main Cast : Chanyeol X Baekhyun
Other Cast : Temukan di dalamnya :)
Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM
.
Previous Chapter
.
"Baekhyun.. lihat apa yang ku ba—
Semua buah itu mendadak berjatuhan dari tangannya. Luhan terbelalak gemetar melihat siluet seseorang membawa Baekhyun pergi. Siapa Dia? Mungkinkah pria itu menculik Baekhyun dan mencelakainya?
"T-Tunggu! LEPASKAN ANAK ITU!" Teriak Luhan seraya mengejar pria tinggi itu.
.
.
"BAEKHYUN! TUNGGU!"
Love Of Fallen Leaves
Chapter 10
.
.
.
"BAEKHYUN!"
Panggilnya lagi untuk kesekian kalinya, semakin terdengar serak... kala tubuh kurusnya memaksa berlari lebih cepat, berharap jerihnya kali ini tak sia-sia.
Oh sungguh!bagaimana mungkin dirinya selengah ini, meninggalkan Baekhyun sendiri dan lihat kini!
Pria asing membawanya pergi begitu saja,
Bagaimana jika pria itu pembunuh bayaran atau mungkin mata-mata yang ingin melenyapkan janin itu?! rutuk Luhan, semakin menyalahkan dirinya sendiri
"YACK! BERHENTI!"
.
.
.
.
"Lima tahun berselang tanpa kami tau kabar Pangeran, mungkinkah sesuatu yang buruk telah terjadi?" Gumam Kyuhyun sedikit bersenda pada bocah yang kini menggelayut di punggung lebarnya. sementara seorang bocah mungil lainnya, tampak mencengkeram ujung pakaiannya dan mengekor kemanapun dirinya pergi.
Baekhyun sempat terdiam, tertegun akan kalimat yang sebenarnya tak terlalu lugas Ia pahami. "Ahjjussi pergi" lirih Baekhyun, menganggap itu adalah hal paling buruk yang terjadi padanya, Ia kembali menatap redup, saat mengingat pria yang selalu bersamanya itu, kini tak lagi menggenggam tangan kecilnya. Bahkan Baekhyun tak tau, dimana Chanyeol saat ini. Dirinya yang mendadak ditinggalkan ataukah sesuatu yang lain telah terjadi pada Ahjussinya.
Kyuhyun mengernyit curiga. "Ahjjussi?" gumamnya sedikit menoleh ke belakang. Dan Baekhyun hanya menganggukkan kepala pelan.
"Chan—yeol Ahjjussi" Jelas Baekhyun.
DEG
Kyuhyun mendadak menghentikan langkahnya, dan makin tercengang melihat anak itu merangkul erat lehernya bahkan menenggelamkan wajah pucat itu di tengkuknya, seakan menjadikan dirinya pengganti dari visual seseorang.
Tapi mengapa Chanyeol?! bukankah Dia Raja—
("—hyun!")
Kyungsoo berjengit, lalu menarik-narik tangan Kyuhyun. "Ahjjusi... mendengarnya?" Ujar Kyungsoo waspada, memaksa pria tinggi itu untuk memasang pendengarannya. "Ahjjussi mendengar suara seseorang?" Ulang Kyungsoo lagi, sambil menengadah menatap Kyuhyun.
("Baekhyun!")
Baekhyun mengerjap cepat, ia mengenal suara samar itu. "Luhan Hyung" gumamnya spontan. Dan memaksa menoleh ke belakang
Tampak... jauh di ujung hutan itu, seorang namja kurus... berlari payah merangsak semak belukar di sekitarnya.
"Hyung!" Pekik Baekhyun.
"Ahjjusii! itu Luhan Hyung!" Teriak Baekhyun lagi sambil menepuk-nepuk bahu Kyuhyun, hingga pria dewasa itu memutar tubuh demi melihat siluet pria cantik yang dimaksud Baekhyun.
Kyuhyun mengernyit, memandang was-was pada sosok yang mulai mendekatinya... dan terlihat penuh amarah itu.
"S-SIAPA KAU?!" Jerit Luhan pada akhirnya, sebatang kayu kering pun tergenggam kuat di tangannya. Siap Ia gunakan untuk memukul,jika sewaktu-waktu terancam.
"L-LEPASKAN ANAK ITU!" Sentaknya lagi pada Kyuhyun, bahkan semakin berang mengangkat batang kayu kering itu.
"Ah... sepertinya kau mengambil sudut pandang yang salah Tuan" Ujar Kyuhyun sedikit menunjukkan aksen formalnya. Sejenak Ia menajamkan mata, membaca lekat bahasa tubuh dan raut panik itu. Ia tau... pria berparas manis di hadapannya kini, sepertinya sangat dekat dengan Baekhyun.
"Aku hanya menjemput anak ini"Tukas Kyuhyun lagi, membuat Luhan terhenyak.
"Menjemputnya?" manik rubah Luhan mulai menelisik lekat, hingga mendadak terbelalak begitu menyadari pakaian asing yang dikenakan pria itu. Bukan milik Silla, melainkan—
"G-goryeo?" Gagap Luhan, semakin mencengkeram kuat senjata kayunya.
"K-kalian ingin menculiknya untuk menuntut balas?! anak ini sama sekali tak ada sangkut paut dalam dendam kalian! Lepaskan Dia!"
"Ikutlah bersama kami" Sergah Kyuhyun sambil tersenyum ramah. "Dan kau akan tau semuanya, bahkan jati diri anak ini sebenarnya" ujarnya lagi sembari memutar tubuh untuk kembali melanjutkan langkahnya.
sementara Baekhyun hanya diam menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar itu, terlalu ciut melihat Luhan tiba-tiba semarah itu bahkan hingga membawa senjata kayu.
"Tapi kau—
Luhan terdiam, melihat bagaimana cara pria itu memperlakukan Baekhyun dan seorang bocah mungil yang mengikutinya. Mungkin pria itu memang bukan sosok yang berperangai buruk.
"Haruskah aku mengikuti orang ini?"
.
.
Silla
Hanya terdiam meresap hening disekitarnya, obsidian yang selalu menatap angkuh itu... kini seakan kehilangan biasnya. Menatap redup pada ranjang besar tak bertuan di sudut kamar.
Masih lekat Ia rasakan, bagaimana sosok mungil yang kerap memenuhi hatinya itu merengek dan melompat-lomat rusuh untuk mengusiknya.
Bahkan tawa kecilnya pun...seakan tak pernah hilang dalam benaknya.
Ia reflek menyimpul senyum.
Ah! Raja Silla itu hanya seorang diri di kamar ini. Dan senyumnya mungkin bentuk rindu untuk sosok yang kini jauh dari pandangannya.
Hingga tiba-tiba seseorang memasuki kamar yang terbuka itu, dan memanggilnya pelan.
"Hyung.. hingga saat ini Yang Mulia Ratu—
"Kita menjemput anak itu sekarang" Sergah Chanyeol, membuat panglima kerajaan itu hanya menghela nafas pelan. Rasanya, isi kepala Chanyeol hanya dipenuhi oleh Baekhyun. Semua akan terucap percuma jika itu bukan tentang Baekhyun.
"Ini sudah terlalu larut. Akan lebih baik jika kita melakukan perjalanan esok hari Hyu—
"Esok hari?" Chanyeol menatap Sehun jengah. "Aku tak memilki waktu selama itu. Persiapkan dirimu, aku ingin menjemputnya sekarang" Tukas Chanyeol seraya berlalu meninggalkan kamar megah itu. Ia merasa semakin tak sabaran ingin memacu kuda hitamnya untuk mencapai perbatasan Silla. Tentu saja, karena di tempat itu, Ia bisa merengkuh namja kecilnya.
"Tapi butuh waktu 2 hari untuk—
Sehun kembali menelan ucapannya sendiri, begitu sadar Chanyeol telah menghilang di balik pintu. membuatnya berdecak pelan, tidakkah Raja Silla itu mendadak memiliki pribadi kekanakan?
Dan Ia tak bisa mengelak apapun, jika Penguasa Silla itu sendiri yang berkehendak.
.
.
"I-ini.." Luhan tergagap, begitu memijakkan kaki di penghujung hutan itu. Banyak Ia lihat perapian dan beberapa lalu lalang di sekitar. Luhan tau itu sebuah desa kecil... tapi terasa berbeda kala penghuninya berpenampilan lusuh.
"Sisa Goryeo" Ujar Kyuhyun. "Inilah kami...di atas tanah, yang tak lagi kami miliki. Tapi tetap bersembunyi di tanah Silla ini" Gumam Kyuhyun lagi sembari membenarkan posisis Baekhyun yang telah terlelap di punggungnya, dan mempersilakan Luhan untuk berjalan mendahuluinya.
Luhan tertunduk sungkan. Tak percaya... Pria itu masih berbesar hati bersikap seperti ini padanya. sedangkan Dia tau...Ia seorang penduduk Silla.
"Semua Rakyat Goryeo hidup di sini?"
Kyuhyun tersenyum getir. "Seperti yang kau lihat. Sebagian dari kami yang selamat... berusaha menata hidup di desa ini"
Luhan tercekat, menatap nanar di sekelilingnya. Banyak penduduk tertidur di naungan tak beratap rapat. Bahkan jerit tangis anak pun terdengar bersahutan, mungkinkah mereka lapar?
Ya, Luhan tau benar. Silla telah menaklukan negri Goryeo...untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Dan disinlah Ia melihat... buah dari peperangan itu.
Sisi yang lemah akan tersingkir, dan tetap bertahan hidup dalam keterbatasan ini.
"Mengapa kau bersikap baik padaku? Kau tau... aku salah seorang penduduk Silla"
"Karena kau telah menjaga Pangeran Baekhyun"
Luhan terbelalak, nyaris menganggapnya sebagai bualan. 'Pangeran' Dia bilang?
"Dan kami sangat berterima kasih akan hal itu" Lanjut Kyuhyun lagi, sembari membuka sebuah pintu gerbang. Sementara bocah bernama Kyungsoo terlihat berlari mendahuluinya ke dalam.
.
.
Luhan menahan lengan Kyuhyun. "T—tunggu! apa maksudmu dengan pangeran? B-baekhyun—
"Dimana? Dimana Putraku?!"
Luhan kembali berjengit, begitu seorang pria muncul dari balik sebuah rumah. Dan menggeleng tak percaya, saat menyadari siapa pria itu. Tapi... ada apa dengan sebelah kakinya?
"Tidakkah ini menjawab pertanyaanmu?" Ucap Kyuhyun, melirik Luhan yang masih tergagap di sisinya. Lalu Ia putuskan untuk melangkah mendekati Pria yang begitu tertatih ingin menghampirinya itu.
.
.
"Yang Mulia... kami kembali bersama Pangeran Baekhyun. Sungguh suatu anugerah... Langit melindunginya hingga saat ini" Ujar Kyuhyun, menunduk penuh hormat.
Bulir bening merembas, seakan tak terbentuk lagi perasaan macam apa yang kini terbias dari matanya. Kala melihat buah hati yang dirindukannya kini benar-benar nyata dilihatnya.
"Putraku?" Ujarnya serak, kala menyentuh kepala namja mungil itu. Dia benar-benar Putra kecilnya.
Yonghwa memaksa mengambil alih tubuh Baekhyun, tak peduli sebelah kakinya yang tak terlalu sempurna, membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh begitu saja.
"Yang Mulia!" Pekik beberapa orang di sekitarnya.. panik, berusaha ingin membantu. Tapi Yonghwa mengelak...memaksa semua orang itu untuk membiarkannya sendiri. Apapun itu... Ia hanya ingin merengkuh putra kecilnya.
"Baekhyun..." Yonghwa tergugu, masih dengan memeluk erat tubuh mungil itu. "Baekhyun Putraku"
"Ungh!"
Baekhyun mulai terbangun dan menggeliat tak nyaman, merasa terbanting lalu didekap erat. Itu benar-benar membuatnya sesak. Belum lagi... rasa basah yang mengalir di pipinya.
Memaksanya membuka mata perlahan, namun detik itu pula Ia nyaris menjerit melihat seorang Ahjjusi... menangis sambil mengusap kepalanya berkali-kali.
Siapa Pria itu? Mengapa Dia menangis?
"A—Ahjjus—
"Ayah di sini... Ayah bersamamu Nak"
Baekhyun mengerjap, terlalu bingung dengan semua ini. "A—ayah?"
"Ya... Ayah di sini"
Namun, tiba-tiba saja Baekhyun gemetar dengan mata membulat lebar. begitu sekelebat ingatan sekan mencekik benaknya.
Baekhyun mengingat banyak raungan kesakitan di sana, pedang saling beradu, dan darah yang menggenang dimana-mana.
("Mereka semua mati...karena Ayahmu")
Ucapan Chanyeol mendadak terngiang. Semakin jelas... kala melihat wajah Yonghwa.
("Ayahmu seorang pembunuh ... Baekhyun, Dia Ingin membunuhmu")
Baekhyun semakin gemetar. Dan mendadak mendorong kasar tubuh Yonghwa untuk melepaskan diri. "A—AAAHHH!" Jeritnya ketakutan, meronta payah dalam rengkuhan Ayahnya.
Sontak membuat beberapa pasang mata di sekitarnya panik, tak terkecuali Raja Goryeo itu.
"Apa yang terjadi? Baekhyun kau mendengar Ayah?"
"Hks!" Baekhyun menggeleng kasar. wajahnya semakin memucat akibat terlalu hebat meronta... hingga mendadak sesak, dan melunglai begitu saja.
"Baekhyun?" Panggill Yonghwa
"Y-yya! apa ini? Apa yang terjadi pada putraku?!" Racaunya kalut. Membuat Kyuhyun bergerak cepat mengangkat Baekhyun, dan membawanya ke ruangan. Sementara beberapa dayang dan pelayan terlihat membantu Raja Goryeo yang panik itu, untuk bangkit.
Luhan masih diam mematung, terlalu kebas... melihat apa yang baru saja terjadi. Sebuah keluarga yang dihancurkan, lalu dipertemukan dengan kenyataan yang lain. Dan lagi, apa yang kelak Raja Goryeo itu rasakan, jika tau... putra semata wayangnya kini—
"Yang Mulia... apa yang telah anda lakukan?" Gumamnya, untuk penguasanya sendiri.
.
.
.
Satu hari kemudian
"Baekhyun tak mengingatku?" Yonghwa menghela nafas getir kala menatap sosok mungil yang masih terlelap di atas ranjangnya.
Kyuhyun berdehem, berniat sedikit meringankan hati Yonghwa. "Hal yang sama, saat Pangeran Baekhyun melihat hamba dan Tuan muda Kyungsoo"
Sementara Luhan hanya menggaruk belakang kepalanya kikuk. Ia sama sekali tak mengetahui apapun sebelum Baekhyun bersamanya.
"Sepertinya, Pangeran mengalami suatu kecelakaan yang membuatnya demikian" Ujar Kyuhyun lagi seraya melirik Luhan.
Luhan meneguk ludah payah "A-aku sebenarnya tidak—
"Ah... Tunggu, siapa pemuda ini?" Sergah Yonghwa, begitu baru menyadari... seseorang yang lain rupanya bersamanya semenjak kemarin. Dan Dia datang bersama Baekhyun.
"Luhan... Dia yang selama ini merawat dan menjaga Pangeran Baekhyun"
Sepersekian detik Yonghwa tercengang, memandang takjub pada pria berpenampilan rakyat Silla itu. Tapi setelahnya ia tersenyum lebar.
"K—kyuhyun~ssi. Aku bukan—
"Aku benar-benar berterima kasih atas kebaikanmu. aku pikir, diriku telah terpuruk... karena selama ini yang ku tau, Putraku telah tewas ditangan manusia bengis itu. Tapi rupanya kau menyelamatkanya... langit benar-benar memberkatimu Luha—
"Yang Mulia" Sergah Luhan seraya bersimpuh.
Tak pelak membuat Yonghwa dan Kyuhyun mengernyit melihatnya.
"Aku bukanlah seseorang yang menyelamatkan atau bahkan merawat Pangeran Baekhyun" Ungkap Luhan. Tak ingin membuat keyakinan itu semakin berlarut.
"Karena sebenarnya... yang merawat dan menjaga Pangeran Baekhyun selama ini adalah—
Luhan menatap lekat kedua mata Yonghwa. "Raja Silla sendiri. Park Chanyeol"
"Apa?"
Seakan tak jemu. Luhan kembali mengangkat wajah... berusaha melugaskan semuanya di sini. entah berakibat baik ataukah tidak.
Ia hanya ingin Raja Goryeo itu mengetahui hal pelik macam apa yang sebenarnya terjadi, semua tentu untuk kebaikan Baekhyun dan keluarganya. Karna Ia tau... Pria itu berhak atas Baekhyun. Dia ayahnya!
.
.
Esonya
Dua hari terlampaui untuknya, malam dimana Ia beranjak bersama beberapa pasukan berkuda miliknya. Kini telah sepenuhnya berangsur pagi. Dan di sinilah penguasa Silla itu, menghentikan pacu kudanya tepat di sebuah desa yang tenang.
Tampak banyak petal semi berguguran... dan kicau burung di sekitar pepohonan rindang itu.
Tempat yang cukup nyaman, pikirnya.
Dan Ia rasa... Baekhyun menyukai tempat ini.
Sehun terlihat berjalan mendekat, lalu mempersilakan Panguasa Silla itu untuk turun dan mengikuti langkahnya.
"Rupanya, Kau menemukan tempat yang cukup aman untuknya" Tukas Chanyeol seraya berjalan lebih cepat, menelisik setiap tempat itu. Ingin melihat kekasih kecilnya.
Banyak penduduk bersimpuh dan mengucap pujian demi pujian saat melihatnya.
"Luhan.."
Hingga panggilan Sehun menyentak sadarnya, membuatnya turut mengikuti langkah pemuda itu mendekati seseorang berparas manis.
"Hyung... Dia yang kupercaya menjaga Baekhyun di sini" Ujar Sehun, terlihat antusias saat memperkenalkan sosok cantik itu pada Chanyeol.
Sementara, Luhan hanya menggigit bibir bawahnya bahkan sesekali memalingkan wajah ke lain arah.
Membuat Sehun mengernyit, raut wajah itu membuatnya yakin... ada yang salah di sini.
"Kami datang untuk menjemput anak itu" Ujar Sehun sambil menatap teduh.
Tapi Luhan hanya diam menunduk, seakan menyembunyikan sesuatu.
"Di mana Baekhyun?" Sehun memegang kedua bahu kecil itu sedikit mengguncangnya, merasa tak tenang dengan mimik wajah namja cantik itu.
"..."
"LUHAN!" Bentak Sehun.
"Keluarganya membawanya kembali" Lirih Luhan dengan wajah tertunduk.
Chanyeol terbelalak lebar, dan beralih mencengkeram kedua bahu Luhan."A-apa?"
"Maafkan hamba Yang Mulia"
"APA MAKSUDMU KELUARGANYA?!" sentak Chanyeol mendadak geram. Baekhyun tak memiliki siapapun... hanya dirinya! ya... anak itu miliknya dan hanya bergantung padanya.
"R-raja Goryeo. B-baekhyun bersama Ayahnya"
Chanyeol stagnan, merasakan jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. cengkeraman itupun terlepas... membuat Luhan jatuh melemas karena takut. Beruntung, Sehun menangkapnya cepat.
"Y—yonghwa?" Gumamnya terbata. Chanyeol mengingatnya...
ya! sangat mengingatnya. Bagaimana Ia menjatuhkan negri itu, dan menaklukan kekuasaannya...tak cukup sampai di situ. satu-satunya bias penerus negri itupun Ia rampas. Bahkan menodainya dengan hasratnya.
Tapi kini, bias itu kembali pada pemiliknya. Penguasa Goryeo yang masih hidup.
Tidak!
Ia yang menginginkan Baekhyun di sini. Karna anak itu telah menjadi miliknya
lantas apa yang harus dilakukannya? memohon setelah semua yang dilakukannya pada negri itu?
ataukah menyerang paksa untuk membawa Baekhyun kembali padanya?
"Tunjukkan dimana anak itu berada" Lirih Chanyeol... terlihat menatap kosong ke depan, seolah tak memiliki ambisi apapun, selain ingin melihat Baekhyun.
Luhan mendadak terbelalak lebar, lalu bersimpuh untuk memeluk kaki Chanyeol. Meski tak sepenuhnya menerka, tapi Ia mengenal betul sifat penguasanya.
"H-hamba mohon Yang Mulia, jangan menyerangnya. A-anak itu membutuhkan keluarganya. M-mereka j-juga sudah tak memiliki apapun lagi" Mohon Luhan, berusaha menarik simpati.
Chanyeol berdecih dan memandang Luhan geram. "Akupun berhak atas anak itu!" Desisnya dingin.
"T—tapi Yang Mulia—
"TUTUP MULUTMU! DAN TUNJUKKAN TEMPAT ITU!" Sentak Chanyeol seraya kembali mencengkeram lengan kurus Luhan.
"Hyung... tenanglah—
"AARGHHHH!"
BRAKKK
Chanyeol menggebrak kasar meja di sisinya, dan begitu terengah akibat amarah. Jika saja dirinya tau semua akan berujung seperti ini, sungguh! Ia tak mungkin membiarkan Baekhyun pergi hanya demi kepuasan Rakyat Sillanya kala itu.
Berapa lama lagi Ia harus menahan diri untuk melihat anak itu?
Ia nyaris menggila tanpa Baekhyun di sisinya.
.
.
.
Goryeo
"Sooyoung~ah... apa Baekhyun baik-baik saja?" Celoteh Kyungsoo saat melihat dayang itu kembali memeras kain hangat dan meletakkannya di dahi Baekhyun.
Wanita itu terdiam, sejenak menyeka rembasan bening di pelupuknya lalu tersenyum kala menatap Kyungsoo. "N-nde... Baekhyun Hwangja baik-baik saja Tuan" Lirihnya tercekat.
Ia semestinya bahagia, kembali dipertemukan setelah selang waktu 5 tahun lebih dirinya kehilangan Baekhyun.
Tapi mengapa harus dalam kenyataan seperti ini? Bagaimana jika sesuatu di dalam perut anak itu terus membesar? tidakkah takdir terlalu kejam untuknya?
ah! sungguh Ia benar-benar tak berharap mendengar penuturan seseorang bernama Luhan itu. Semua pasti bualan bukan?
"Tapi mengapa kau menangis?" Ulang Kyungsoo merasa terusik dengan raut dayang pengasuh itu.
"A-ah! debu masuk kedalam mataku. Ahaha...bisahkah kau meniupnya?" Jawab Sooyoung berpura-pura sambil membuka sebelah matanya yang berair.
'BFUHHHH!'
"Aiy! Mengapa kau meniupnya sekeras itu!" pekik Sooyoung panik, merasakan matanya benar-benar perih sekarang.
"Kau yang memintanya!"
"Aisshh! tapi aku hanya—
"A—ahjjussi"
Keduanya seketika terperanjat begitu mendengar igauan lirih itu.
"Baekhyun, kau bangun?" pekik Kyungsoo seraya merangkak mendekati Baekhyun.
Dan tersenyum lebar melihat namja kecil itu membuka matanya secara perlahan.
Baekhyun mengernyit. merasa asing dengan kehadiran dua sosok itu. ah! bocah itu Kyungsoo... tapi siapa wanita di sisinya?
Seperti tak asing, tapi Baekhyun tak mengingatnya.
Tak satupun tau, apa yang terjadi pada Baekhyun. Benturan saat dirinya jatuh disungai beberapa tahun silam, sejatinya meninggalkan luka di kepalanya. Hingga ingatan masa kecilnya sempat terhapus, dan hanya menyisakan kesehariannya saat di Silla.
"Ah! Kau tak mengingatku? Baiklah... kita memulainya dari awal Hwangjanim" Sooyoung terkekeh, lalu meraih tangan Baekhyun untuk digenggamnya. "Perkenalkan... aku—
"Uhmp!" Tiba-tiba Baekhyun melepas genggaman itu untuk membekap bibirnya sendiri.
"Baekhyun?" Panggil Sooyoung cemas. begitu bocah itu memaksa bangkit ke sisi ranjang yang lain
"Uhmp! Hoekkhhh! Ahjjus~ Uhmpph!"
"Astaga! Baekhyun!" Sooyoung berlari panik untuk merengkuh Baekhyun, tapi anak itu kembali menyedak mual dan terbatuk payah. Tak memberinya pilihan lain selain memijit tengkuknya, membiarkan Baekhyun puas menyentak semua isi perutnya. "Cepat panggil Tuan Kyuhyun kemari" Ucap dayang itu pada bocah di sisinya. Dan Kyungsoo hanya mengangguk patuh lalu lari secepat yang ia bisa.
"Ughn! H—Hoekhh! Nghhh! Ahjjusiiii—"
Sooyoung terbelalak lebar melihat Baekhyun semakin melemas pasi. "YANG MULIA! TUAN KYUHYUNN! Ya Tuhan...Apa yang harus kulakukan?" Racau dayang itu semakin kalut, bahkan gemetar melihat anak dalam rengkuhannya itu tersengal. tapi siapa yang dipanggilnya sedari tadi?
Mungkinkah Raja Silla itu?
Sooyoung menggeleng, lalu mendekap erat Baekhyun. "Kumohon jangan memanggilnya! Jangan pernah memanggilnya"
.
.
Skip Time
Baekhyun terduduk dan bersandar lemas di kepala ranjang. Tubuhnya tak lagi menyentak mual seperti beberapa saat yang lalu, tapi tatapan itu tetap saja terlihat sayu... seakan Baekhyun tengah mengharapkan seseorang datang detik itu juga.
"Kau ingin memakan sesuatu?"
Baekhyun menggeleng pelan, lalu kembali menatap keluar jendela.
"Ah...atau ingin bermain di luar bersama Tuan Muda Kyungsoo?"
"..."
Tak ada jawaban, selain isyarat dirinya tak menginginkan apapun.
Hingga tiba-tiba saja, jemari mungilnya meraih lengan Sooyoung dan menatapnya pias. "Aku ingin bertemu Ahjjussi" Lirihnya, berharap wanita itu mengerti dan bisa membawanya bertemu dengan Chanyeol.
Sooyoung tergugu, Ia hanya bisa memeluk tubuh ringkih itu dan kembali berbisik. "Kumohon... jangan memanggilnya"
"Wa—wae?" Baekhyun mulai terisak. "Aku ingin bertemu Ahjjusii!" Rengeknya serak.
"Dia bukan seorang yang layak kau kenal, jangan memanggilnya"
"AHJJUSSIII!"
"Kumohon Baekhyun Hwangja"
"Hks!"
.
.
"Apa yang harus kulakukan Kyuhyun~ah" Gumam Yonghwa, masih mengawasi putranya dari balik pintu kamar yang terbuka itu. Dua hari setelah Baekhyun kembali padanya, tapi tetap saja menyisakan sesak untuknya. Kenyataan Baekhyun yang masih tak bisa disentuh olehnya tentu melukai nuraninya sebagai Ayah.
Dan anak itu hanya bisa terbuka pada dayang pengasuhnya, meski nyatanya Baekhyun... tak sepenuhnya bisa mengingat.
"Bagaimana caraku menyampaikan semua kenyataan ini pada anak itu? Baekhyun masih tak mengenali siapapun. Bahkan, kabar Ibunya yang sudah tiada... mungkin tak akan tersampaikan"
"Kita harus bersabar... Yang Mulia" Ujar Kyuhyun menenangkan.
Yonghwa menghela nafas pelan. Ya... mungkin Ia memang harus bersabar. karna kesabaran itu pula yang membawanya bertemu dengan putra kecilnya.
Namun tatapannya mendadak nanar begitu mengingat suatu hal. "Kau tau sebuah rahasia yang selalu kujaga dari anak itu"
Kyuhyun tertegun, menatap lekat pada Raja yang masih berlarut dalam wajah sendunya. "Nde... hamba mengetahuinya Yang Mulia"
Yonghwa memejamkan mata lalu terkekeh getir."Mengapa diriku selemah ini.. membiarkan Putraku terenggut dan menghancurkan rahasia yang selalu kujaga melebihi hidupku sendiri"
Kyuhyun beralih menepuk bahu Yonghwa dan meremasnya pelan, berharap sedikit mampu menguatkan pria itu.
Ia sepenuhnya memahami... seberapa remuk batin Yonghwa. Menerima kenyataan pahit itu bertubi-tubi... tumbangnya Goryeo, kematian Ratu Seohyun dan kini kenyataan Putra semata wayangnya tengah mengandung dari seseorang yang menjadi dendamnya. Tentu tak bisa diulaskan lagi, betapa berdukanya Penguasa Goryeo itu.
"Lakukan apapun untuk mengembalikan ingatannya" Yonghwa mengepalkan tangan kuat. "Dan hapus semua hal tentang keparat itu dari Putraku, aku tak peduli meski itu termasuk darahnya dalam perut Baekhyun"
Kyuhyun tercengang, menatap Yonghwa dengan mata terbelalak lebar. "Y-yang Mulia—
"Karena aku tak menginginkan janin itu"
.
.
"Aku tak ingin melihatmu terbaring sepanjang hari di ranjang, cha... cobalah untuk menghirup udara segar di luar" Ujar Sooyoung antusias, masih berusaha membimbing Baekhyun untuk melangkahkan kakinya, meski sebenarnya anak itu masih bertopang padanya. Ah! kemana perginya bocah yang dulu kerap menjerit rusuh itu?
"Hwangjanim... ingatkah kau, saat merengek semua manisan persik ini?"
"Ugh!" Baekhyun tiba-tiba saja limbung begitu merasakan kepalanya berdenyut pening.
"B-baekhyun apa kau mual?"
'
"Ahahaha!"
"Aisshh! Baekhyun Hwangjaa! jangan berlari seperti itu!"
"Ahahaha!"
"YACK! Bocah nakal! Kau tak mendengarku!"
Sekelebat ingatan mulai terngiang, tawa riang dirinya dan seorang wanita yang mengejarnya itu—
"Mereka mendekat! Ppali! Ppali! Keluar dari tempat ini"
"Sooyoung! kau ikut dengan kami...ayo keluar!"
"Sooyoung! SOOOYOUNG!"
Baekhyun semakin menjerit, memegangi kepalanya... kala ingatan itu semakin berputar pening dalam kepalanya.
Sooyoung nyaris menangis, terlalu panik melihat namja mungil itu mendadak seperti ini"Jangan sakit! Kumohon! Baekhyun Hwang—
"S-soyoung"
Dayang itu mematung begitu mendengar panggilan lirih itu, Ia memegang kedua bahu kecil itu ... memaksanya untuk menatapnya.
"K-kau memanggilku?" Sooyoung menatap penuh harap. kedua matanya pun tampak kebas penuh air mata. "Kau memanggil namaku?! Kau mengingatku Baekhyun?" Racaunya tak tenang.
"Sooyoung.." Panggil Baekhyun lagi. Membuat dayang pengasuh itu mendekapnya erat... dan menangis keras.
"Kau kembali! hks... kau kembali Baekhyun Hwangjaaaa"
Namja mungil itu diam dengan mata mengerjap. Masih membiasakan diri dengan sebagian ingatan yang mulai kembali. Baekhyun tau... wanita itu lebih dari sekedar pengasuh untuknya. Terlalu kuat... bahkan seperti nurani seorang Ibu.
Hingga tiba-tiba saja, Baekhyun terbelalak dan memaksa menatap wanita itu. Yakin, Sooyoung akan mendengarnya kali ini. "A—ahjjusii! Bawa aku bertemu dengannya Sooyoung" Pinta Baekhyun, menjadikan lengan wanita itu sebagai penopangnya untuk bediri.
Sooyoung terbelalak lebar seakan ingin menentang. Tapi Baekhyun tak peduli.. Ia tetap bangkit berdiri ingin berlari menuju pintu gerbang.
"Tidak Baekhyun Hwangja" Kekeuh Sooyoung berusaha menahan tubuh kurus itu.
"B-bukan di sini! Aku ingin kembali!" Ronta Namja mungil itu, berusaha melepaskan rengkuhan tangan dayang itu. Baekhyun merasa ini bukanlah tempatnya, Ia hanya ingin kembali kepada Chanyeol.
"Tempatmu di sini! Tidakkah kau mengingat kami semua?"
"Hks!Ahjjusii... Baekhyun bersama Ahjjusi!"
Jerit Baekhyun, bahkan karena teralu hebat meronta... Ia tersungkur di tanah. membuat dayang itu semakin tak sampai hati melihatnya.
"Baekhyun kumohon.." Ujar Sooyoung, masih berusaha merengkuh tubuh mungil itu dan menangkup wajah piasnya. "Jangan seperti ini" Lirihnya, membiarkan bulir bening itu jatuh cepat dari pelupuknya. Adakah yang lebih menyakitkan selain melihat tangis anak itu? Ia rasa tidak ada lagi. Tapi apa yang sebenarnya dilakukan Raja Silla itu, hingga Baekhyun menjadi serapuh ini.
"Bawa Baekhyun bertemu Ahjjusi... nee?" Rengek Baekhyun.
Wanita itu semakin tak sanggup berdiri pada pendiriannya. Ia membelai wajah sembab itu dan kembali membawanya ke dalam dekapannya. "Apapun akan kulakukan untukmu. Berhentilah mena—
"Baekhyun.."
Keduanya seketika terkesiap. Begitu seseorang memanggil.
Terdengar lirih, tapi Baekhyun benar-benar mengenali pemilik suara itu.
"A-ahjjusi.." Gumamnya seraya memutar tubuh ke belakang.
Dan di sanalah Ia melihat sosok Pria yang selama ini dirindukannya benar-benar nyata berdiri di hadapannya. Baekhyun terbelalak lebar. "Ahjjusii!" Panggilnya lagi, memaksa bangkit... untuk berlari meraih pria itu, sebelum sosoknya kembali menghilang.
Baekhyun begitu terhuyung, menangis tersendat-sendat namun tetap memaksa melangkah ke arahnya. Membuat Chanyeol berlari lalu menangkapnya sebelum bocah mungil itu kembali tersungkur di tanah.
GREB
Waktu seakan terhenti. Hanya isak dan tangis Baekhyun yang memenuhi pendengarannya kali ini. Ia merindukannya...
Setengah mati, bahkan nyaris membuatnya gila tanpa Baekhyun di sisinya. berulang kali Ia mengecupi puncak kepala Baekhyun, dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh bocah itu dari tengkuknya.
Oh sungguh! tak ada yang lebih membuatnya merasa penuh, selain merengkuh tubuh mungil itu.
tapi rasanya... itu tak cukup.
Rindu itu semakin menjadi kala Baekhyun terus menerus memanggilnya.
Ia menarik tengkuk anak itu, merunduk lalu—
"Mppfthh"
Menciumnya di hadapan banyak pasang mata. Tak terkecuali pasukan berkuda miliknya yang masih menunggu titah darinya. Chanyeol sama sekali tak peduli. Selama Ia bisa kembali merengkuh dan mencumbu namja kecilnya seperti ini.
Sooyoung terbelalak, nyaris terjengkang melihat pria itu melakukan hal tak sepantasnya pada Baekhyun.
Seharusnya ia memisah keduanya.
Tapi kakinya tetap mematung, dan melihat semuanya mengalir...
Hingga isakkan Baekhyun terhenti. Tergantikan senyum yang belum sama sekali pernah Ia lihat.
'Chupp'
Chanyeol kembali memberi kecupan pelan di bibir atas Baekhyun, kala mengakhiri pagutan basah itu.
"Berhentilah menangis" Bisiknya, seraya menyeka air mata Baekhyun dengan Ibu jarinya.
"Mengapa Ahjjussi pergi?" Lirih Baekhyun seraya kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang itu.
Kedua obsidian itu berangsur redup. tak bisa menepis... jika apa yang dikatakan anak itu memang benar adanya. Meski bukan atas kehendaknya... tapi Ia benar-benar menyesalinya.
"Aku—
Chanyeol mencium lama kening Baekhyun. "Tak akan meninggalkanmu lagi, cukup untuk saat ini" Bisiknya menenangkan.
Lama Ia bertahan, menyandarkan dagunya di puncak kepala Baekhyun dengan mata terpejam. Terlalu menikmatinya
Namun tiba-tiba saja semua mendadak berubah, begitu seseorang menarik namja kecil itu hingga terlepas dari rengkuhannya.
"Ahh! Ahjjussii!"
"Baek—
"Untuk apa... kau menunjukkan wajah picik itu di tempat ini"
Seorang pria muncul, berjalan tertatih dengan beberapa pelayan yang membantu menopang tubunya.
Chanyeol berjengit, tak menduga... Yonghwa yang masih hidup itu bertahan dengan kaki yang cacat.
"Kurasa kau tak memiliki kepentingan lain, setelah mendapat kekuasaan yang kau inginkan... Park Chanyeol" Yonghwa menatap tajam, terlihat menghunus... begitu hanya siluet Chanyeol yang memenuhi pandangannya.
Beberapa pasukan berkuda itu terlihat bergerak waspada, merasa sang Raja kini mulai terancam. Namun Chanyeol mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat pada semua prajurit dan pengawal itu untuk tetap tenang.
"Aku datang bukan untuk mematik api. Tapi aku ingin menjemput apa yang telah menjadi milikku"
Yonghwa terkekeh hambar, melihat Penguasa Silla itu membusungkan semua keangkuhannya.
"Milikmu?" Yonghwa melirik Kyuhyun di sisinya, memberinya isyarat untuk membawa Baekhyun kedalam menjauhi semua orang itu.
"T-turunkan aku!" Jerit Baekhyun meronta, kedua tangannya terlihat menggapai-gapai kebelakang. Seolah ingin meraih Chanyeol.
Tapi tetap saja semua berbuah percuma, pintu besar itu... menjadi sekat untuknya. Hingga ia sama sekali tak bisa melihat Chanyeol. "Hks! AHJJUSIII!"
Chanyeol memaksa ingin mengejar, namun puluhan rakyat Goryeo mendadak menghalanginya. "Yonghwa! apa yang kau lakukan padanya?!"
"KAU! Pertanyaan itu lebih pantas untukmu! Hal bejat macam apa yang kau lakukan pada putraku?!"
Chanyeol tercekat. Seakan tersedak nafasnya sendiri. Ia mengepalkan tangan kuat,berusaha menahan amarah untuk tak menyerang Yonghwa detik itu juga.
"Serahkan anak itu padaku. Dia telah menjadi milikku"
"Putraku bukan barang yang bisa kau rampas" Yonghwa beralih memutar tubuh berniat meninggalkan tempat itu.
"Yonghwa! Biarkan Baekhyun bersamaku! Anak itu tak bisa tanpa diriku!"
Yonghwa berdecih, tetap berjalan meninggalkan pria yang semakin goyah pada pendiriannya itu.
"YONGHWA!"
BRAKK
Pintu itu tertutup rapat, hanya menyisakan ratusan rakyat Goryeo yang sebagian menatapnya ciut dan sebagian lagi memandangnya dengan tatapan menghunus.
SRAATTTT
Terdengar lecut panah, melesat kearahnya.
KLANK
Namun dengan cepat pedang Sehun menangkisnya, hingga patah menjadi dua bagian. Nyaris... Raja Silla itu terluka, bahkan mungkin saja terbunuh.
Sehun berdecak geram kala melihat pergerakan pemanah itu dari ujung atap sebuah rumah. Ia merampas busur panah seorang pengawal, lalu membidik penyerang itu.
"Hentikan..." Ujar Chanyeol tiba-tiba seraya menahan tangan Sehun. "Jangan membunuh. Jangan melukai seorangpun di tempat ini" Lirih Chanyeol masih dengan wajah tertunduk.
Sehun menatapnya tak percaya, tak hanya pertahanannya yang melemah, bahkan Dia hampir terbunuh. Tapi bagaimana mungkin Raja Silla yang angkuh itu mendadak seperti ini. Sehun hanya menghela nafas gusar, dan beralih mendelik awas kesekitar seraya menamengi Chanyeol.
"Sebaiknya lekas pergi dari sini Hyung, tempat ini tak aman" Ujarnya, mempersilakan Penguasa Silla itu untuk bergegas.
Tapi... Pria itu terlihat stagnan, seakan berat membawa langkahnya pergi.
"Hyung!" Panggil Sehun berusaha menyadarkannya.
Tapi Chanyeol hanya menatapnya sekilas, Ia tau... Pria itu ingin bertindak gila memasuki kediaman itu untuk menemui Baekhyun.
"HYUNG!" teriaknya keras tapi percuma, Chanyeol tetap berlari nekat ke dalam. Tak memberinya pilihan lain selain turut mengejarnya, setelah sebelumnya memberi isyarat pada semua pengikut itu untuk mengawasi pergerakan ke sekitar, dan sebagian kembali ke istana untuk menyampaikan berita ini.
BRAK! BRAKK!
"YONGHWA!"
Teriak Chanyeol seraya menggebrak pintu kayu itu, berharap lekas tumbang detik ini juga.
"AKU HANYA INGIN BERTEMU DENGANNYA! IZINKAN AKU MELIHATNYA!" Teriaknya lagi, tersemat rasa putus asa di dalamnya.
Tapi jangankan bergeming. Berdecit saja..tidak. Pintu itu tetap tertutup rapat. Serapat hati seorang pria yang sama sekali tak menginginkan kehadirannya.
"YONGHWAA!" Chanyeol semakin kebas menyadari perasaanya sendiri, masih tak bisa menerima semua mendadak seperti ini. Terlebih.. Ia pun tak percaya, penolakan keras Yonghwa akan memupuskan harapannya bertemu dengan Baekhyun.
Tidak! Ia tak bisa menerimanya begitu saja.
"Kau tak tau apa yang diinginkan anak itu Yonghwa!" Racaunya lagi masih mencoba peluang. "YACKK! YONGHWA!"
Raja Silla itu mengepalkan tangan kuat. Tak pernah sebelumya Ia merasa direndahkan seperti ini. Dengan kekuasaannya Ia sebenarnya bisa meluluh lantahkan kediaman di hadapannya kini, dan merampas Baekhyun. Tapi—
Rasanya dirinya tak lagi memiliki nyali sebengis itu, jika menyangkut sosok yang kini mengandung darah dagingnya. Ia tak mungkin kembali menghancurkan keluarganya, dan menyulut penyesalan yang lain.
"Hyung, perlukah aku memaksa ke dalam... untuk membawa anak itu?" Tawar Sehun, tak ingin harga diri Chanyeol semakin rapuh dengan sikapnya yang seperti ini.
Chanyeol terdiam. Tak menjawab apapun selain menatap ke sekitar...
lebih tepatnya pada semua penduduk yang terlihat mengawasinya ketakutan dari balik rumah tak beratap rapat itu.
Setitikk celah mulai ia rasakan.
"Tak perlu kekerasan.." Gumamnya tiba-tiba, membuat panglima kerajaan itu mengernyit heran.
"Aku tau cara mengetuk hatinya" Lanjutnya lagi, kali ini dengan melangkah pergi menuju kuda hitamnya. Menarik pelana... lalu—
"HAKK!"
Teriaknya kala kuda itu menyentak dan berlari lebih cepat, diikuti para pengawal dan prajurit yang sedari tadi berjaga di sekitar.
Sehun hanya memandang kepergian Raja itu. Dan tetap berdiri di ambang pintu yang masih tak terbuka.
"T-tuan"
Hingga tiba-tiba saja suara seorang wanita seperti memanggilnya.
ia mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari sumber suara itu. Dan begitu melihat ujung gaun di balik sebuah dinding pembatas, Sehun beralih mendekatinya.
Sehun menyipitkan mata. "Kau—
"Aku hanya seorang abdi, yang menginginkan kebahagiaan Baekhyun Hwangja" Sergah wanita itu, tetap menundukkan kepala tak ingin menatap Sehun.
"..." Sehun terdiam. Menunggu Dayang itu mengusaikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan padanya.
"J-jika suatu hal tentang anak itu berjalan salah. Bisakah aku mencarimu? Karena aku merasa kau seorang yang dipercaya Raja Silla" Tukas Sooyoung, semestinya ia tak perlu membuka diri pada sosok yang sebenarnya musuh untuknya, tapi ia kembali mengingat, betapa sesaknya melihat Baekhyun berulang kali meronta ingin menemui Penguasa Silla itu, dan kini pun mereka kembali terpisah.
Sooyoung hanya berusaha mencari opsi lain, jika hal itu kembali terjadi. Demi apapun itu, Ia tak bisa melihat tangisan anak itu.
Karena ia telah menganggap Baekhyun seperti putranya sendiri.
"Apa maksudmu?" Ucap Sehun curiga.
"Baekhyun tak pernah berhenti memanggil dan mencarinya. anak itu akan semakin melemah dalam kondisi seperti itu. Aku akan mencari tempat rahasia agar mereka bisa bertemu. Kumohon bantuanmu Tuan" Lugas Sooyoung lagi sembari membungkuk.
Sehun tertegun.
Diantara kerasnya penolakan Goryeo. Ia masih menemukan secercah harapan seperti ini. Tentu ia menerimanya dengan sangat baik. Semua jelas beralasan, karena Baekhyun sendiri... sebenarnya membawa kebahagiaan untuk Negrinya. –Silla-
"Baik Nona, Raja akan berterima kasih atas kebaikan hatimu"
Dayang itu kembali menegakkan tubuh, lalu memohon diri sebelum rakyat Goryeo yang lain mengetauhi dirinya tengah berbincang dengan seorang yang terlarang.
.
.
Petang kian menjelang, sebagian membawa angin beku... hingga memadamkan api penerang di sekitar desa kecil itu.
Semestinya malam yang dingin itu mampu membuai siapapun untuk terlelap pulas. Tapi tidak untuk beberapa sosok yang kini masih terjaga. Memandang cemas bahkan gelisah pada sorang namja mungil yang kian menggigil akibat demamnya.
"Baekhyun Hwangja... tak bisa menelan apapun Yang Mulia" Adu Sooyoung panik, sempat ingin menyentak kesal. Jika saja Yonghwa tak sekeras itu, dan berbesar hati membiarkan Raja Silla menemui Baekhyun, mungkin anak itu tak akan semiris ini.
Yonghwa mendesah berat sesekali Ia menyentuh wajah Baekhyun. Namun hanya sesak yang ia rasakan kala menyadari suhu tubuh anak itu sangatlah tinggi.
"Carikan tabib terbaik di desa ini" titahnya pada beberapa pelayan di belakangnya.
"Hks... Ah—jjussi" Gumam Baekhyun. Wajahnya yang pucat seakan tak mampu menutupi... Baekhyun benar-benar merindukan pria itu.
.
.
"Aku akan membawamu padanya... bertahanlah sedikit lagi" Bisik Sooyoung, sambil menyeka keringat dingin itu.
.
.
.
Esoknya
Pagi itu, Seisi desa mendadak riuh, semua bersorai dan tak sedikit bersujud... begitu rumah mereka penuh dengan persediaan makanan.
terlihat melimpah... tak hanya makanan bahkan ratusan pekerja asing tampak menata rumah mereka. menjadikannya hunian yang layak untuk ditempati
tapi siapa?
mengapa hanya dalam hitungan jam, semua mendadak seperti ini?
"Apa yang terjadi?" Gumam Yonghwa terlihat bingung, melihat kebahagiaan rakyatnya. Mustahil makanan dan para pekerja tak dikenal itu jatuh dari langit begitu saja.
"Entahlah Yang Mulia... sejak petang mereka telah datang dan membawa semua persediaan makanan itu" Ujar Kyuhyun sambil menyimpul senyum. Tentu Ia tak bisa pungkiri... dirinya cukup senang melihat tawa goryeo, setelah bertahun-tahun lamanya mereka hidup dalam keterbatasan.
Hingga tiba-tiba saja keduanya dikejutkan dengan pasukan berkuda. Tapi kali ini mereka tak membawa pedang dan busur yang mengancam.
Melainkan pakaian, benih dan buah-buahan segar... untuk mereka bagikan pada setiap penduduk yang mereka lewati.
"Apa yang sedang terjadi di sini, mustahil jika—
"Untuk Yang Mulia"
Ia tertegun, begitu seorang anak perempuan memberinya buah apel... lalu gurat curiga itu berangsur menjadi tawa bahagia.
Sementara itu sosok pria yang sedari tadi mengawasi desa itu, terlihat menyimpul senyum... Ia beralih ingin menampakkan diri untuk memasukki Desa itu. tapi—
"Belum saatnya Hyung. Raja Yonghwa mungkin akan terkejut melihatmu... dan menolak semua yang kita lakukan"
Chanyeol terdiam. Menimang ucapan Sehun... mungkin ada benarnya. Raja keras kepala itu pasti menolak jika tau... siapa yang melakukan semua ini untuk Rakyatnya.
Chanyeol menghela nafas, memutar tubuh untuk kembali. Satu hari lagi... ia kembali meregang rindu itu untuk kekasih mungilnya. Ah! Lebih baik beradu perang...daripada bersusah payah menaklukan hati seseorang hingga seperti ini. Tapi Bagaimana lagi, Ia mencintai anak itu. Tentu keluarganyapun harus Ia taklukan. Rutuk Chanyeol pada dirinya sendiri
"Hyung.." Panggil Sehun, sedikit menyimpul senyum melihat perubahan sikap Raja itu tidakkah Chanyeol mendadak menjadi pendengar yang baik?. Meski ia tau, Pria itu benar-benar tersiksa menahan diri.
"Hn.." Gumam Chanyeol, seraya menepuk-nepuk kuda hitamnya. Bukan untuk ditunggangi melainkan... menuntunnya untuk berjalan bersamanya.
Lihat!
Dan Dia menjadi pribadi yang sedikit aneh.
Sehun kembali mengulas senyum tipis. "Kau akan segera bertemu dengannnya" Ujar Sehun kemudian,
Membuat Chanyeol tersendat lalu memutar tubuh cepat menghadapnya. "Jangan bercanda denganku"
"Saat bulan terlihat di pucuk pinus ini. Pergilah ke ujung desa. Kau akan menemukan sungai kecil... bawa langkahmu di balik hulunya, dan kau akan menemukan cintamu di sana" Ujar Sehun kala membaca sehelai kain putih bertiuliskan pesan dari seorang dayang yang dikenalnya.
Chanyeol membulatkan mata lebar, lalu meraih kain kecil itu dari tangan Sehun.
"Siapa yang menulisnya?"
"Seseorang yang kupercaya... dan akan kaupercaya pula"
Debaran itu kembali Ia rasakan, seakaan memantul keras dalam dadanya kala penantiannya mulai terjawab. Meski sebenarnya belum bisa Ia pastikan.
tapi setidaknya Ia masih bisa memegang harapan itu, tak peduli apa yang kelak terjadi. Ia hanya ingin melihat dan merengkuh Baekhyun.
Ya! Hanya untuknya...
.
.
.
Malamnya
Kedua mata itu perlahan terbuka, sedikit mengernyit kala membiasakan diri dengan lilin penerang di sekitarnya. Berapa lama Ia tertidur?
Entahlah... Tapi itu membuat kepalanya berdenyut hebat.
"Ssh...Ah!" Desisnya seraya memegangi kepalanya.
Pandangannya masih berkunang, dan Ia merasakakan tubuhnya semakin memberat.
Anak itu tak menyantap apapun semenjak kemarin, tentu bukan main lagi lemas yang dirasakannya kini.
Semilir angin mulai menerpa wajah tirusnya, membuat Baekhyun lekas tersadar ada ruang yang terbuka untuknya saat ini.
Dan benar saja, jendela di sudut kamar terbuka. Ia berusaha bangkit merambati dinding demi mendekatinya. Barangkali ia bisa keluar dari sini lalu mencari Ahjjusinya.
"Baekhyun"
Namun tiba-tiba seseorang menggeser pintu dan memanggilnya,
membuatnya terkejut dan terjerembab begitu saja
"Apa yang kau lakukan nak?" ujar Yonghwa cemas, berjalan lebih cepat dengan penyangga untuk mendekati putra kecilnya.
Baekhyun panik. Jika seperti ini ia tak akan bisa berlari keluar. Ia mencakar-cakar dinding berharap bisa melompat detik itu juga, tapi naas... tubuhnya terlalu lemas, hingga hanya merosot dan tersengal payah dalam dekapan Yonghwa.
"Ayah mohon jangan memaksakan tubuhmu seperti ini nak" Lirih Yonghwa getir.
"B-baekhyun ingin bertemu Ahjjusi! Ayah bisa mengantar—
"LUPAKAN ORANG ITU! DIA TELAH MENGHANCURKANMU! MENGHANCURKAN AYAH!"
Gertak Yonghwa kalap. Merasa Pria bernama Chanyeol itu tak pantas terucap dari bibir putranya. tapi Yonghwa sama sekali tak mengetahuinya, gertakkan kerasnya membuat Baekhyun terkejut hebat... Hingga hanya terperanjat kaku tanpa suara.
"B-Baekhyun—
Namja mungil itu mendadak tersengal, tangannya terkunci... terkepal erat. membuat Yonghwa semakin kalut dan merasa bersalah. "Baekhyun? Kau mendengar Ayah nak? Ada apa dengan nafasmu?"
Baekhyun sama sekali tak merespon, anak itu tetap tersengal...seakan sulit mengais nafas. Tentu bukan main lagi perasaan bersalah Pria itu.
.
.
.
.
"Untuk sementara ini, jangan mengejutkannya dengan bentakan ataupun suara yang keras Yang Mulia. Hamba rasa... kondisinya yang tak stabil membuat jantungnya lemah" Ujar tabib itu seraya meracik herbal. "Terlebih... Baekhyun Hwangja pun harus membagi energinya untuk janin yang dikandungnya"
Yonghwa terduduk lemas.
Kalimat terakhir Pak Tua itu benar-benar menikam telak ulu hatinya. Baekhyun yang mengandung... telah menjadi rahasia umum. tak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, itu sudah terjadi... janin itu benar-benar hidup di dalam perutnya.
Hanya tersisa satu pilihan...
'Menggugurkan kandungannya'
Tapi itu terlalu riskan dilakukan sekarang, sementara kondisi Baekhyun seringkih itu
.
.
.
Beberapa Saat Kemudian
"Maafkan Ayah ... Baekhyun" bisik Yonghwa seraya membelai kepala namja mungil itu.
Baekhyun yang sedari terbangun, hanya memandang kosong keluar. Tak sedikitpun berniat menatap siapapun lebih-lebih menjawab setiap gurau yang di dengarnya.
Kyuhyun mendekat dan berujar pelan"Yang Mulia, ada baiknya jika anda mengizinkan Raja Silla itu untuk sekedar menjenguknya. Demi—
"Tidak!" Sentak Yonghwa tegas.
"Aku tak akan mengizinkannya menginjakkan kaki di tempat ini barang sedikitpun. Baekhyun hanya belum terbiasa saja" Kekeuh Yonghwa sembari menarik selimut Baekhyun hingga sebatas dadanya.
"Biarkan seperti ini. Cepat atau lambat Baekhyun akan terbiasa. karna ini rumah dan keluarganya" Yonghwa beralih mengelus wajah Baekhyun, memadangnya teduh... lalu beranjak pergi dari kamar itu. Ada baiknya Ia memberi sekat untuk Baekhyun, menyesuaikan diri di tempatnya sendiri.
Sementara Kyuhyun hanya menghela nafas dan turut keluar meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
"Annyeong.."
Kedua matanya sedikit mengerjap, begitu seorang wanita datang dan melambaikan tangan tepat di hadapannnya. Wanita itu tersenyum... terlihat cerah kala membuka cawan kecil, dan membiarkan beberapa kunang-kunang berterbangan di sekitarnya, bahkan beberapa hinggap di kepala Baekhyun.
"Ah cantiknya.." Puji Sooyoung, menatap gemas pada namja mungil yang terbaring itu.
Semestinya anak itu bersorai girang, dan melompat rusuh untuk menangkap semua kunang-kunang itu. Oh ayolah! Ia tau... Baekhyun sangat menyukai serangga ini.
Tapi—
Mengapa hanya wajah sendu dan pucat itu yang terlihat? kemana perginyan binar menggemaskan itu?
Sooyoung beralih menatap langit, sedikit menarik nafas kala menyadari bulan perlahan memanjat malam... bahkan nyaris di puncak pepohonan.
Ia menggenggam tangan Baekhyun lalu memandangnya lekat. "Apa kau bisa berjalan?" Tanyanya memastikan.
"..."
Baekhyun hanya diam, dan lebih memilih menggeser tubuh membelakanginya.
"Seseorang menunggumu" Bisik Sooyoung lagi. sedakit menarik rasa ingin tau Baekhyun. dan benar saja anak itu mulai menoleh padanya.
"Kau bisa berjalan? aku akan membawamu padanya"
Baekhyun mengerjap. "Ahjjusii?"
Wanita itu mengangguk cepat. Berusaha meyakinkan Baekhyun.
Detik itu pula, kedua manik yang semula sayu... kini terlihat membulat antusias. "Baekhyun bertemu Ahjjusi?"
"Benar... jangan membuatnya terlalu lama menunggu, Hwangjjanim"
.
.
.
Derik serangga, kian bersahutan... mengiring malam yang sejatinya semakin larut. Tapi dua Pria itu tetap membawa langkahnya menyusuri bantaran sungai itu, menjadikan gemericik air yang terdengar menjadi satu-satunya pemandu untuknya.
"Inikah hulu sungai itu?" Gumam Chanyeol seraya mencari-cari tempat yang dimaksud dalam pesan itu.
Tapi Ia tak menemukan apapun, selain semak dan air yang terus beriak di depannya.
"Hyung... lihat semak itu" Ujar Sehun seraya mendekati semak tersebut. Chanyeol mengernyit... semakin Ia berjalan mendekat, semakin Ia melihat ada ruang yang lain di dalamnya.
"Kurasa ini tempatnya...ini sebuah gua dengan jalan penghubung di dalamnya" Ujar Sehun begitu menyibak semak berdaun lebat itu.
Chanyeol tersenyum tipis, semakin tak sabaran dan tak berharap wanita itu tak bermain dengan pesannya.
.
.
Detik berganti menit, terus berulang hingga satu jam terlampaui. Bahkan bulan pun tak lagi berada di puncak pinus.
Ia terlalu lama menunggu, namun sosok mungil yang dinantinya itu tak kunjung terlihat.
Berulang kali Ia menghela nafas. Semakin yakin... itu hanya sebuah harapan yang pupus. dan pesan itu... mungkin hanya sebagian lelucon seseorang untuknya.
"Kita kembali. Wanita itu hanya mempermainkanku..." Kekeh Chanyeol hambar seraya bangkit ingin mengambil langkah. "Tak seharusnya kau mempercayainya" Ujarnya lagi pada Sehun yang masih kekeuh pada keyakinannya.
"Ugh!"
"Perhatikan langkahmu..."
Namun,langkahnya mendadak tersendat begitu mendengar suara seseorang.
"hks! aku tidak bisa! Kepalaku sakit!"
Chanyeol terbelalak lebar. Ia mengenal rengekan itu. Membuatnya melangkah semakin ke dalam berusaha mencari sosok mungil itu.
.
.
"Kita hampir sampai...bertahanlah sedikit lagi"
"Hks! jangan memaksaku! Sakit Sooyou-
"Baekhyun.."
Namja mungil itu berjengit. Mengangkat wajah cepat, dan—
"AHJJUSSIIII!" pekikkannya pecah begitu saja.
Ia memaksa merangsak turun ingin meraih Chanyeol, tak peduli batuan yang licin bisa saja membantingnya detik itu juga.
"Y-yya! berbahaya! jangan berjalan seperti itu!" Jerit Sooyoung panik, masih berusaha keras menahan Baekhyun. Bagaimana jika terjatuh, Ya Tuhan! anak itu sedang mengandung.
"Serahkan padaku" Ujar Chanyeol tiba-tiba, seraya mengangkat bridal tubuh mungil itu. Membuat Sooyoung menunduk sungkan, dan mempersilakan Chanyeol berjalan lebih dulu.
"M-maaf membuat anda menunggu lama. Karena seperti yang anda lihat... Baekhyun tengah sakit" Jelas Sooyoung
dan Chanyeol hanya menatap sendu bocah yang kini menggelayut erat dalam rengkuhannya.
Tubuhnya semakin ringan. Tak perlu dijelaskanpun Ia tau... kondisi anak itu tengah tak baik-baik saja.
.
.
.
Suasana mendadak senyap, hanya dirinya dan Baekhyun dalam ruang yang sebenarnya terasa kedap itu. Entah, bagaimana Ia mengulaskan semuanya saat ini. tapi satu yang pasti... dadanya kembali terasa penuh dengan Baekhyun bersandar nyaman dalam pangkuannya.
"Sakit hn?" Bisik Chanyeol seraya menyingkirkan surai hitam Baekhyun dari pundaknya, lalu mengecup lama tengkuk putihnya.
"Nnh~" Namja mungil itu mulai melenguh, sedikit memiringkan kepala... hingga Chanyeol bisa meruam lebih... perpotongan lehernya.
"P-pusing Ahjjuss~ akkh!" Baekhyun berjengit dan memekik keras, begitu pria itu menghisap kuat pangkal lehernya. Meninggalkan spot merah matang di bagian itu, tak peduli siapapun bisa saja melihatnya.
Biar saja mereka tau... karna anak itu hanya miiliknya.
.
.
.
"Ngh~ ah! mmmnn" Baekhyun memejamkan mata erat, dengan kepala menengadah... kala pria itu membawa lidahnya turun dari dada hingga perutnya, menjilat perut sedikit datar itu dengan gerakan memutar, membuat Baekhyun semakin resah menggelengkan kepalanya... saat menerima cumbuan basah itu.
'Chuppp'
"Aku merindukanmu..." Bisik Chanyeol usai memberi kecupan lama di pusar Baekhyun, sesekali menghisapnya dan memainkannya dengan giginya. Seakan tak puas... melihat namja mungil itu menggelinjang dan merengek di bawahnya.
Pria itu beralih mengangkat pinggul Baekhyun, membuat rektum yang sedari tadi berkedut itu... kini benar-benar memenuhi pandangannya. Rasanya... terlalu lama Ia tak melihatnya, semakin membuatnya tak sabaran ingin mencumbunya bahkan memenuhinya dengan seperma panasnya.
.
.
"Ahjjusii~ Nghh"
"Hn.." Gumam Chanyeol di sela-sela kecupannya pada pangkal paha itu, sedikit bergerak ke kiri hingga nyaris menjilat rektum merah itu.
Tapi—
Baekhyun mendadak bangkit, dan memeluk erat kepala Chanyeol.
"Baekhyun tidak bisa...jika Ahjjusii pergi" Lirihnya
Membuat pria itu terdiam, bahkan tercekat menyadari air mata Baekhyun membasahi tengkuk dan punggungnya.
Ah! apa yang baru saja dilakukannya. Tidakkah anak itu masih terlalu ringkih untuk dicumbunya? tapi mengapa Ia tak bisa membedakan rindu dan juga hasratnya sendiri?
Chanyeol beralih meregangkan rangkulan itu, menatapnya begitu teduh lalu menyeka air mata di pipinya.
"Berhentilah menangis" Bisiknya tepat di bibir basah itu, melumatnya sesaat... hingga Baekhyun berhenti terisak. Ia beralih menutup rapat pakaian Baekhyun, sebelum dirinya lepas kendali dan kembali menyerang bocah manis itu.
"Tck!" Decaknya, saat menyentuh pipi tirus itu. "Apa kau melewatkan makanmu lagi?"
"..."
Baekyhyun hanya diam, lebih memilih memandangi pria berwajah stoic itu. hingga Ia merasa terpuaskan, meski nyatanya... Baekhyun sama sekali tak merasa puas. Ingin terus memandangnya lagi dan lagi.
"Kau tak ingin mendengarku?"
Baekhyun menggeleng. "Baekhyun tidak makan jika Ahjjusi pergi"
Pria itu terkekeh hambar. Rengekan macam apa ini... terasa sesak dan tak seperti biasanya. Ia menangkup wajah mungil itu dan mengecup kilat puncak hidungnya."Makanlah dengan benar, demi bayi ini" Ujarnya seraya menyentuh perut Baekhyun.
Sontak, apa yang diucapkannya itu membuat Baekhyun mengerjap tak mengerti. "Bayi?"
Chanyeol kembali terkekeh. Baekhyun terlalu lugu untuk menyadari semuanya... dan jikapun Ia melugaskannya pada anak itu, entahlah akan dimengerti atau tidak.
"Hn... Kau mengandung anakku"
Baekhyun menunduk, menyentuh perutnya dengan kesepuluh jarinya. "Ahjjusi dan Baekhyun memiliki anak?" Tanyanya masih dengan mata tak berkedip menatap perutnya sendiri.
"Itulah yang terjadi padamu saat ini " Jawab Chanyeol seraya menarik dagu Baekhyun dan mencium mesra bibir tipisnya.
"Hmpfthh... Mnh~"
.
.
.
.
"Ahjjussi.."
"Hn.."
"Baekhyun hamil, jadi Ahjjusi tidak akan pergi lagi ne?"
"..."
.
.
.
.
To Be Cont...
.
.
Alooohaaa Gloomy datang lagi bawa Chapter 10 nya. Dudududu Yonghwa belum merestui
Sengaja ga ada spoiler hehe
Review ne, kalau ga review ga mau update huhu
Chapter ini, biarkan Seulgi ngumpet dulu yaaa (Fokus ke CB dan besan)
NC nya agak dikurangi ya? atau malah pengen vulgar kaya biasanya hehe?
saya ngikut pokonya.
pertanyaan kemarin
*Usia Raja Silla adalah ...
31 Tahun
Berikut nama yang beruntung :)
-PureLight26
-socloverqua
(Please Check PM )
IG : Gloomy_rosemary
dan untuk :
Takikeii,honeymellow_, daeri2124 , LyWoo , Natsumi Shinju, yuanitadian , Tiara696, Freakyducky04, restikadena90 , chanbaekdear6104 , aruni bukan arumi , melia sengga, baby chanbaek , socloverqua, inchan88 , PureLight26, Shengmin137 , CussonsBaekby , Ricon65, Lussia Archery, Eun810 , Sii may c, haruka no hikari, baekielove, Anuchanyeoltegan , Siti855 , sehunluhan0905, , HeeJusy, Park RinHyun-Uchiha , myzmsandraa99 , NaBlue , baek55, baekachu, CB046194 , Asandra735 , MadeDyahD , Cbhs, bee , LightPhoenix614 , Incandescence7 , eunsoobyun pcy , MinJ7, Yeolliebee, ExoPlanet, mons'cbhs'kjd , realbaek21, chan 92, ceciliagata , galuhnoph , booyaamii , Byun Agatha, Adndpwh, Byunsilb , baekkumaa , SMLming , raeheepark6104 , veraparkhyun , fallingforyeol , Markeu Noona , korocbhs6104 , AlexandraLexa, daebaektaeluv, annahkyungie , , Anisya Kinanti, Byunsunny6104 ,jjaeseopj , rosaa , deppsoohh, park yeolna, lupa, Hirahirama, chanbaekssi , ChanBaekGAY, Zhinchan, dwiyuliantipcy , LUDLUD, SNF, byunresa , yousee , xiaolu , n3208007 mimikyuu, Chanbaekssi26, shin rae s , BananaOhbanana , TobenMongryong, selepy, inchan88, Hirahirama, byankai, ocan , pongpongi , ByunniChen , myliveyou , narsih chanbaek3769 , knightwalker314 , hamdan, neemoth19 , zahrazhafira335, minami Kz , Okiniiri-Hime, Baek13erry , HHM , vkeyzia23 , inchan88 , juanie, Nurfadillah, chanbyun0506 , dytdyt, AidakaZi, dan All Guest
Terima kasih banyak sudah mereview di ch 9 kemarin
Dan untuk Rayhandacbhs gomawooo sudah membuat video yang mengesankan :)
Jangan lupa review lagi neee...
Saranghaaaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
Annyeooooooong
