Rated: T

Disclaimer: All of these chara is belongs to Mashasi Kishimoto,but this fic is mine

Warning!: Gajelas, bahasa sok puitis, alur lompat-lompat, OOC dan sebagainya

NejiTen slight NejiHina

Don't like? Don't read

Couple words from author:

Hi minnaa! Senangnya bisa kembali ke sinii, setelah mencuri-curi waktu ditengah kesibukan bikin contekan (?) wkwk, engga deng author kan anak baik-baik jadi gapernah nyontek :3 #apaan meja lo tadi isinya contekan semua, thor! hus jangan umbar-umbar aib ah malu sama tetangga (?) wkwk. di chapter sebelumnya aku sempet bilang gaakan muncul selama seminggu kan? tapi baru beberapa hari aja tanganku udah gatel mau ngetik lanjutan fic ini. gatau kenapa di sela-sela belajar, ide bertebaran dikepala. kesempatan emas! yaudah langsung aku tumpahin semuanya di laptop wkwk. Dan setelah aku baca chap sembilan kemarin, aku jadi ngerasa ga enak... karena menurut aku sendiri bahasa di chap itu agak aneh ._. aku minta maaf banget yaa buat yang kecewa dengan chap 9 karena itu aku bikin keburu-buru krn ngantuk saking ngebetnya mau apdet, terus juga ide lagi seret banget pas itu, sekali lagi maaf yaa aku janji gaakan ngulangin lagi *nangis guling-guling. yosh aku mau bales review dulu yaa.

D'Michi: Hai d'michi! sepertinya aku gajadi menghilang selama satu minggu, karena ide terus bermunculan aku malah jadi gabisa konsen belajar wkwk. wah banyak sekali typosnya :O di chap ini insyaallah gaada typo nya ._. wah maaf sekali ya D'michi, pas bikin chap 9 aku dalam kondisi ngantuk dan gasempet ngedit (sok sibuk) maaf bangeett :( di chap ini aku berusaha bikin lebih lebih bagus dari chap 9, semoga d'michi suka dengan chap ini hehe, iya gapapakok d'michi aku ngerti kalo tujuan d'michi me list typo itu biar aku bisa lebih teliti hehe, makasih ya d'michi buat reviews dan typo lists nyaa. kalo soal neji atau tenten yang gugur akan terjawab di chap 11 mungkin hehe :3

yosh! tanpa banyak basa-basi ini dia chappie 10!

Chapter 10

Normal Pov

Hamparan gumpalan awan berwarna kelabu yang terhampar di langit tertangkap jelas oleh mata seorang gadis, mata hazel nya memperhatikan setiap lekuk gumpalan itu. kembali, hembusan angin musim gugur menampar lebut pipi chubby nya yang seputih gading. Dilihatnya, pohon mapple dan sakura disekitar taman belakang itu, sudah kehilangan daun-daunnya yang menandakan bahwa ini sudah memasuki penghujung musim gugur. Gadis itu tersenyum letih, merasa agak sedih karena musim gugur akan segera berakhir, musim gugur yang menciptakan banyak kenangan dikehidupannya.

Gadis itu menundukan kepalanya, lalu tersenyum kecil kala mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika malam itu, malam dipertengahan musim gugur yang dingin, ketika Neji, laki-laki yang paling dicintainya memeluknya, mendekapnya dengan erat seolah mengisyaratkan bahwa ia sangat mencintai gadis itu. kini, musnah sudah semua keraguan gadis itu tentang perasaan Neji.

"Tenten-san?" Gadis itu segera menolehkan kepalanya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Entah apa penyebabnya, tapi hati Tenten terasa tersayat ketika melihat sosok itu, sosok gadis berambut indigo yang berdiri dihadapannya.

Tenten's Pov

"Tenten-san?" Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kekalutanku. "Ah, ada apa Hinata-sama?"

"Ti-Tidak, a-aku hanya... a-aku hanya i-ingin menyampaikan ba-bahwa, ha-hari ini sampai be-besok, aku dan Tou-san a-akan berkunjung ke Su-Sunagakure, ja-jadi kau ku-kunyatakan be-bebas tu-tugas u-untuk dua ha-hari ini." ucap gadis itu sambil memalingkan wajahnya, aneh sekali. Hinata tidak pernah memalingkan wajahnya ketika berbicara denganku atau siapapun.

"A-ah begitu, terimakasih, Hinata-sama." Ucapku seraya menundukan tubuhku sedikit. Gadis itu hanya mengangguk lalu bertanya.

"A-apa kau su-sudah ada rencana, Te-Tenten-san?" Aku sedikit terkejut ketika mendengar pertanyaan Hinata yang terdengar agak aneh ditelingaku. Hinata, tidak pernah ikut campur dalam urusanku apapun itu.

"Sepertinya tidak, Hinata-sama." Ujarku sambil tersenyum samar, Hinata lagi-lagi memalingkan wajahnya, kali ini matanya terpaku pada sebuah pohon sakura yang sudah setengah botak, Hinata memejamkan matanya sebentar, seperti berusaha menenangkan dirinya. Samar-samar bisa kulihat gadis itu sedikit meringis, dan bisa kulihat kesedihan menggelayuti wajah cantik itu.

'Ada apa dengan Hinata? Apa Neji sudah memberirtahukannya?'

"Ma-malam nanti a-akan ada festival ke-kembang api mu-musim gugur, ku-kudengar da-dari Hanabi-chan, se-semua da-dayang dan peng-penghuni istana a-akan datang ke festival itu." kali ini Hinata menundukan kepalanya, menatapi tanah halaman belakang yang tertutupi oleh hamparan rumput.

"Se-sesekali ka-kau harus keluar da-dari Istana, agar ka-kau tidak stress, Tenten-san." Tambahnya sambil tersenyum kearahku, aku sedikit kaget ketika melihat senyuman Hinata. Senyuman itu, senyuman yang terpeta jelas diwajah cantiknya, seperti bukan senyuman yang biasa ia suguhkan pada semua orang. Seolah senyuman itu hanya bohong belaka, senyuman yang dipaksakan. Senyuman itu melengkung jelas dibibirnya tapi tidak menyentuh matanya, dimata itu, mata lavender pucat milik Hinata, aku bisa melihat kesedihan yang mendalam. Sebenarnya ada apa?

"Ah, akan kupikirkan nanti, arigatougozaimasu atas masukannya, Hinata-sama." Ucapku sambil menyeringai lebar. Hinata terlihat sedikit menegang sebelum akhirnya gadis itu menundukan kepalanya dan meringsut pergi.

"Sebaiknya a-aku pe-permisi dulu... a-aku harus be-berkemas."

"Biar aku bantu-"

"Tidak usah... a-aku bisa melakukannya sendiri, arigatou." Jawab Hinata yang kembali menyeret kakinya menjauhiku, sosok Hinata semakin menjauh hingga akhirnya tak terlihat lagi. Sebenarnya ada apa? kenapa Hinata jadi aneh?

xXx

Normal Pov

"Kalian harus lebih sering berlatih, apalagi saat ini Konoha mendapat ancaman serius dari Amegakure, kita harus selalu siap siaga dalam kondisi apapun."

"Baik!"

"Nah, sekarang kalian bisa kembali ke barak." Ujar laki-laki berambut coklat yang berdiri dihadapan pasukan istana. Seluruh pasukan berdiri lalu membungkuk singkat sebelum akhirnya mereka membubarkan diri. Si laki-laki berambut coklat itu menghela nafas panjang lalu menyeka bulir keringat yang mengalir di pelipisnya dengan punggung tangan. Ia menggigil kecil ketika merasakan angin sore menggelitik kulit putihnya yang lembab oleh keringat.

Laki-laki itu akhirnya menyeret langkahnya menjauh dari lapangan latihan, lalu menghempaskan tubuhnya di koridor istana yang menghadap langsung ke lapangan latihan. Laki-laki itu menegak air mineral yang ia taruh disisi koridor, tenggorokannya terasa lebih ringan ketika merasakan cairan yang dingin dan menyegarkan mengalir di tenggorokannya, setelah tubuhnya mulai segar, laki-laki itu menyapu keringat diwajah tampannya dengan sehelai handuk putih.

Wangi lavender menari-nari di rongga hidungnya ketika ia mendekatkan handuk itu ke wajahnya. Tatapan matanya yang tadinya terlihat intens dan mencekam, berubah menjadi sendu.

'Wangi ini..' Laki-laki itu memejamkan matanya, berusaha meregangkan syaraf otaknya yang mulai berdenyut karena terlalu banyak berfikir. Laki-laki itu segera menjauhkan handuk putih itu dari wajahnya dan menengadahkan kepalanya, untuk memandangi langit sore. Ya sudah kebiasaannya menghabiskan sore hari dengan memandangi langit, memikirkan sosok gadis berambut auburn yang selalu menari-nari di hatinya. Laki-laki itu penasaran, sedang apa dia sekarang? Apa gadis itu memikirkannya juga? Laki-laki itu tersenyum miris.

'Betapa aku sangat merindukanmu, Tenten.' Batinnya. Ya, laki-laki itu tengah merindukan sosok gadis mungil bernama Tenten, gadis yang selalu menghantui pikirannya sejak limabelas tahun yang lalu. Betapa ia sangat merindukan gadis itu, kesibukan berlatih membuatnya tak bisa menemui gadis itu yang bertugas sebagai dayang pribadi adik sepupunya, Hinata-sama.

Mengingat nama itu, membuat laki-laki berambut coklat panjang itu meringis kecil. Rasa kasihan kembali membelenggu hatinya. Betapa ia sangat kasihan pada gadis itu, adik sepupunya yang ternyata menyayanginya sejak lama, kenapa? Kenapa harus ia yang disayangi oleh seorang putri kaisar yang tak lain dan tak bukan adalah adik iparnya sendiri? padahal, Hinata pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya, laki-laki yang tentunya menyayanginya juga. Tiba-tiba saja, gendang telinganya menangkap suara yang terdengar seindah suara malaikat memanggil nama lelaki itu. "Neji!" si lelaki itu menolehkan kepalanya lalu tersenyum kecil ketika mendapati sosok malaikat pemilik suara itu, suara terindah yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

Neji's Pov

"Neji!"

Bisa kulihat gadis berambut auburn itu berlari kecil kearahku dengan seulas senyum yang menghiasi wajahnya. Ah, senyuman itu selalu bisa membuatku terlena seperti ini. sosok gadis itu semakin mendekat hingga akhirnya gadis yang bagaikan malaikat dikehidupanku itu, duduk disebelahku.

"Ada apa?" Tanyaku sedatar biasanya, gadis itu menoleh kearahku, bisa kulihat kedua pipinya dihiasi semburat merah, dan tak lupa dengan kedua mata hazel favorite ku itu, mata itu seolah memancarkan kilatan semangat yang meluap-luap, sebenarnya ada apa sih?

"Malam ini, malam terakhir musim gugur. Dan, nanti malam akan ada festival kembang api di alun-alun." Jawabnya dengan penuh semangat, melihat semangatnya yang meluap-luap itu membuatku hampir saja tertawa, sungguh ia terlihat sangat menggemaskan.

"Memangnya kenapa kalau ada festival kembang api?" Tanyaku secuek dan sedingin yang kubisa, meskipun aku bertanya seperti itu, sebenarnya aku sudah tau apa tujuan gadis pujaanku ini berkata seperti itu. gadis itu mengernyitkan hidungnya lalu mendengus kesal.

"Katanya, semua penghuni istana akan datang kesana, kecuali Hinata-sama, karena ia dan Hiashi-sama akan pergi ke Sunagakure sore ini." ucapnya seraya menundukan kepalanya ketika menyebut nama adik sepupuku, semangat yang tadi meluap-luap, kini mulai surut. Aku tidak suka, aku tidak suka melihatnya sedih seperti ini.

"Lalu?" Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatapku dengan ekspresi tidak percaya, ia memalingkan wajahnya lalu menopang dagu lancipnya dengan kedua tangan. "Kau ini, memang sangat menyebalkan ya." Ujarnya menatap lurus kedepan lapangan. "Aku mau mengajakmu ke festival itu tahu."

"Aku tidak suka tempat ramai." Ucapku santai, lagi-lagi Tenten menatapku dengan tatapan tak percaya lalu menggembungkan pipinya.

"Ayolah, semua akan datang kesana. Pasti sangat menyenangkan." Ucapnya sambil menunjukan tatapan puppy eyes, Kami-sama! Imanku harus kuat! "Kau kan tahu kalau aku tidak menyukai tempat yang bising dan ramai." Balasku datar, Tenten mendengus kesal seraya membuang wajahnya.

"Yasudah aku akan pergi sendiri kalau kau tidak mau menemaniku." Aku tersenyum geli. "Siapa bilang kau akan pergi sendiri?" Tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku, gadis itu melirik kearahku.

"Aku yang bilang."

"Kenapa kau berkata seperti itu, aku akan menemanimu." Tenten kini kembali menoleh kearahku, menatapku dengan tatapan tak percayanya lagi, ternyata seru juga ya membuat panda ini bingung.

"Tapi tadi kau bilang, kamu tidak menyukai tempat yang ramai dan bising."

"Aku hanya bilang aku tidak suka tempat yang ramai bukan? Dan aku tidak bilang kalau aku tidak mau menemanimu ke festival." Tenten tertawa renyah, tangan mungilnya meninju lembut pundakku.

"Kau ini, benar-benar menyebalkan ya, Neji!" Aku terkekeh, merasa sangat terhibur dengan kehadiran gadis berambut auburn disampingku ini, keberadaan Tenten didekatku, membuatku lebih rileks seolah seluruh permasalahanku diserap oleh tubuh mungil ini, atau setidaknya tubuh mungil ini menangkal semua masalahku selama beberapa saat. Aku tersenyum kecil, dan tanpa aba-abaku, tanganku menggenggam erat tangan mungilnya. Tenten tersentak kaget, meskipin begitu, gadis itu malah tersenyum simpul dan mencengkram erat tanganku, seolah takkan melepaskannya.

Normal Pov

Malam merambat dengan cepat. Suara tabuhan perkusi samar-samar terdengar oleh gadis berambut auburn yang kini tengah berkutat dengan rambutnya itu. kedua tangan mungilnya sibuk menata rambut auburn indahnya yang mulai memanjang. Gadis itu mulai merasa kasal, karena ia tidak bisa menata rambutnya, padahal hari sudah semakin malam dan ia yakin seseorang sudah menunggunya di depan istana.

"Urgh! Ayolah rambut! Bekerja samalah denganku! hanya sekali ini saja." Gerutu gadis itu kepada rambutnya sendiri. tangannya mengangkat sejumput rambutnya keatas, menggelungnya lalu menahannya dengan sebuah jepitan. Dengan perlahan, ia menarik tangannya menjauh dari gelungan rambutnya. Rambut itu tidak bergerak, yang berarti pertanda bagus baginya. Tapi belum ada setengah menit, gelungan itu lepas dan membuat helaian rambutnya mendarat dengan lembut di pundaknya. Gadis itu memekik kesal, lalu akhirnya memutuskan untuk mencepol dua rambutnya.

"Semoga saja Neji masih mau jalan denganku!" Gerutunya, (lagi). Setelah berhasil mencepol rambutnya, gadis itu menambahkan dua batang sumpit hias yang biasa digunakan untuk menyangga rambut lalu menusuknya di dua cepolan itu. Lalu ia menghiasi rambutnya dengan beberapa jepitan perak, membuat penampilannya tidak terlalu sederhana.

'Ini saat yang sangat spesial, jadi tak salah bukan jika aku berlebihan seperti ini?' Batinnya. Setelah selesai dengan rambutnya, gadis itu menatap refleksi dirinya didepan kaca. Tidak terlalu buruk, setidaknya Neji tidak akan malu membawanya jalan-jalan difestival bukan?

Tenten's Pov

Aku menghela nafas panjang, meratapi refleksi diriku yang terlihat agak aneh dimataku. Hari ini, untuk pertama kalinya aku mengenakan aksesoris rambut di rambut yang sangat kubenci ini. sebelum ini, aku tidak pernah repot-repot berdandan seperti ini, menurutku sia-sia saja, toh nantinya akan berantakan, aksesoris yang kukenakan saat ini bahkan bukan milikku, maksudnya bukan aku yang membelinya, Hinata-sama memberikan sebagian koleksi aksesoris lamanya untukku, walaupun sudah sedikit sangat sedikit usang, tapi bagiku aksesoris dari Hinata masih terlihat sangat baru.

Hari ini hari yang spesial, jadi pantas aku seperti ini bukan? Aku tersenyum samar seraya menyambar tas tanganku dan beranjak keluar dari kamarku. Koridor istana terlihat gelap dan sunyi, membuatku mempercepat langkahku. Aku tersenyum lega ketika akhirnya aku sampai di gerbang istana dan seperti dugaanku, laki-laki itu disana, berdiri di gerbang istana menungguku keluar.

xXx

Suara tawa anak kecil mendominasi telingaku kala itu, tak hentinya aku tersenyum ketika memperhatikan seluruh penduduk Konohagakure berkumpul disekitar alun-alun. Disetiap kiri dan kanan, terdapat banyak stand berjejer. Mulai dari stand makanan, minuman, cemilan, topeng, kembang gula, stand games dan sebagainya. Lampu warna warni di gantungkan di sekitar batang pohon yang sudah gundul, lampion berwarna orange dan kuning juga tak lupa diikut sertakan. Saking sibuknya memperhatikan sekitar, aku sampai lupa kalau sedari tadi Neji berjalan disampingku.

"Pertama kali ke festival musim gugur?" Aku mengangguk kecil. "Ini pertama kalinya aku datang ke festival konoha, kau tahu kan aku dan Tou-san berpindah-pindah." Neji mengangguk kecil. Sementara aku, dengan hati-hati aku melirik kesamping memandangi lelaki disebelahku secara diam-diam. Neji terlihat sangat tampan kali ini. malam ini, ia mengenakan Hakama berwarna coklat gelap, dan yang paling mencolok adalah keningnya. Jika biasanya ia menutupi keningnya dengan sebuah ikat kepala, kali ini, ia tidak mengenakannya. Segel berwarna hijau yang terpeta dikeningnya itu hanya ia tutupi dengan sejumput rambutnya. Sungguh, menurutku Neji terlihat sangat tampan, entahlah meskipun rambutnya panjang dan terkesan terlalu feminim, tapi sifatnya yang tegas, bijaksana dan dingin cukup menepis kesan feminim didirinya, dan itulah yang membuatku tertarik hingga akhirnya menyayanginya.

"Kenapa melamun? Bukankah tadi kau yang paling bersemangat datang kesini?" Tanya Neji sambil menyenggol tanganku, membuat lamunanku buyar.

"Ah, aku hanya... aku hanya merasa tidak pantas berjalan disampingmu." Neji menoleh kepadaku, memincingkan matanya. Ya itu memang kenyataannya, aku memang merasakan hal itu. sedari tadi, banyak orang yang memperhatikanku, mungkin mereka heran kenapa jendral muda yang paling terkenal di konoha bisa mengajak seorang dayang yang tak dikenal sepertiku ke festival, jika dia mau, dia bisa saja mengajak Sakura, sang anak perdana mentri konoha, atau mungkin Hinata? "Kenapa kau merasa seperti itu?"

"Entahlah... aku, maksudku lihat kau, kau seorang jendral yang terkenal. Pasti orang tidak suka melihat jendral muda sepertimu menggandeng dayang sepertiku." Neji mencondongkan tubuhnya kearahku, membuat jarak wajah kami semakin dekat. Bisa kurasakan deru nafasnya membelai telingaku.

"Jika menjadi seorang jendral berarti tidak bisa bersamamu, aku lebih memilih menjadi orang biasa saja." Deg! Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapan Neji, bisa kurasakan bulu kudukku meremang karena terpaan nafas Neji.

"Dan juga... aku tidak mengajak seorang dayang kesini, tapi seorang kunoichi hebat yang mengajakku kesini." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Neji menjauh, bisa kulihat laki-laki itu tersenyum simpul. Aku membalas senyumannya dengan seringaian kecil, dan seketika itu juga, bisa kurasakan sebuah tangan yang besar dan hangat menggenggam tanganku yang mungil. Aku tersenyum samar seraya menyenderkan kepalaku di lengan Neji (karena tubuhku yang terlalu pendek, aku tidak bisa menyenderkan kepalaku dipundaknya ketika sedang berdiri). Kami pun akhirnya berjalan-jalan disekitar alun-alun sambil menunggu acara kembang api dimulai, berbagai stand makanan kami kunjungi dan akhirnya sampailah kami disebuah stand games, dimana stand itu terdapat sebuah kolam kecil berisi ikan-ikan yang tengah berenang-renang. "Neji!"

"Ada apa?"

"Bagaimana kalau kita main itu? memancing ikan!" Neji mendengus kesal lalu berkata. "Tenten, umur kita hampir dua puluh tahun dan lihat, disana yang bermain itu anak kecil semua, apa kamu tidak merasa malu?"

"Ah! Neji, ayolah. Ayo kita mainn! Aku tidak malu, kenapa harus malu. Disana tidak tertera batas umur untuk bermain bukan?"

"Yasudah kamu main saja sendiri." ujar Neji sambil membuang mukanya, sementara aku kembali melakukan aksi ngambekku dengan menggembungkan pipiku. "Ayolah Neji, temani aku bermain!"

"Aku tidak mau, terlalu kekanak-kanakan." Aku menarik-narik lengan hakama Neji, merengek seperti seorang anak kecil yang meminta permen gulali pada ayahnya, aksiku membuat sebagian orang memperhatikanku dan Neji. Tapi aku tidak peduli, biar saja kalau mereka mau melihat.

"Neji! Ayolah aku mohon ayo kita mainn!" Rengekku, kali ini kelihatannya Neji mulai jengah dengan rengekkanku, terbukti ia menghela nafas panjang dan menoleh kepadaku. "Baiklah, baik. Aku akan menemanimu."

"Yeay!" Seruku sambil mengangkat kedua tanganku keudara. "Tapi hanya satu permainan ya." Aku mengangguk penuh semangat dan langsung menggamit tangan Neji, menyeretnya ke stand itu. setelah membayar, aku, Neji dan tiga orang anak kecil bermain di sana. Dengan susah payah aku berusaha menangkap ikan-ikan itu dengan jaring kecil di tanganku sementara Neji juga sepertinya kelihatan kewalahan, laki-laki itu tidak henti-hentinya menggerutu ketika hakamanya terkena air, atau ada yang mengganggunya. Aku hanya bisa tertawa melihat ekspresi kesal bercampur gemas diwajah Neji, jarang sekali Neji se eskpretif ini. "Bagaimana kalau kita berlomba." Usulku.

"Berlomba?"

"Ya, berlomba, siapa diantara kita yang berhasil mendapat ikan duluan dia yang menang!" Seruku penuh semangat, Neji menyanggupi tantanganku dengan senyuman penuh kemenangannya. "Baik! Mulai ya! Satu, dua, tigaa!" Greb! Aku dan Neji mulai sibuk berebut mencari ikan yang posisinya mudah untuk ditangkap dengan jaring, saking asiknya kami tidak memperdulikan anak kecil yang merengek karena terkena cipratan air atau ikan buruannya dibuat kabur olehku dan Neji. Berkali-kali aku menggenggam tangan Neji ketika laki-laki itu nyaris menangkap salah satu ikan. Diam-diam, aku memperhatikan Neji yang tengah asik berduel denganku. Tak biasanya, Neji tersenyum selepas ini dan bisa tertawa didepan umum seperti ini. kami-sama, ini adalah pemandangan terindah yang pernah kulihat, melihat orang yang paling kucintai tersenyum dan tertawa bahagia disampingku.

"Itu milikku!" Seruku sambil mengarahkan jaringku ke arah seekor ikan bersirip merah, entahlah tapi ikan itu daritadi menarik perhatianku. Tapi sebelum jaringku mendekat keikan itu, sebuah jaring yang lain sudah berhasil menangkap si ikan. "Kau kalah, Tenten." Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara, dan... ya, disampingku duduk seorang laki-laki ber hakama coklat dan berambut coklat, laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan kearahku dengan sebelah tangannya menggenggam jaring berisi ikan.

"Kau curang! Itu kan incaranku!" Erangku sambil membuang wajahku, Neji terkekeh seraya menyerahkan ikan itu ke penjaga stand untuk memasukannya kedalam kantung. "Kata-kata itu biasanya diucapkan oleh orang yang kalah." Aku menggembungkan pipiku, cih padahal tadi aku yang bersemangat berlomba, tapi kenapa Neji yang menang?

"Ini dia ikannya, terimakasih sudah bermain disini." Ujar sang penjaga stand seraya menyodorkan kantung bening berisi ikan yang tengah berenang-renang didalamnya kepada Neji. Setelah meraih kantung itu, aku dan Neji pun beranjak meninggal stand. Langit semakin gelap dan bisa kurasakan udara semakin dingin, pertanda hari sudah semakin malam yang berarti sebentar lagi kembang api akan dinyalakan. Aku melirik kesamping, kearah Neji yang berjalan disampingku. Laki-laki itu masih menggenggam kantung berisi ikan yang memiliki sirip indah itu.

"Ikannya.. indah sekali." Gumamku, perkataanku sontak saja membuat Neji menolehkan kepalanya. "Ya, siripnya sangat unik."

"Itukan ikan incaranku dari awal." Dengusku, Neji menyodorkan kantung itu kepadaku. "Ini."

"Eh? Apa?"

"Ikannya untukmu saja." Dengan ragu-ragu aku menyambut kantung berisi ikan itu lalu menatap Neji dengan tatapan bingung.

"Kenapa memangnya? Ikan ini kan tangkapanmu?"

"Aku tidak terlalu suka pada ikan, dan juga sepertinya kamu sangat tertarik pada ikan itu." aku tersenyum lebar.

"Arigatou, Neji-kun." Neji terlihat sedikit terkejut, mungkin karena aku memanggilnya dengan embel-embel kun? Laki-laki itu tersenyum lembut seraya melingkarkan tangannya di pinggangku, membuatku sedikit tersentak kaget.

"Anggap saja itu hadiah dariku, itu berarti kau harus menjaganya dengan baik." Aku mengangguk lalu menyenderkan kepalaku di dadanya.

"Tentu saja." Aku memejamkan mataku, merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika kepalaku menyentuh dada bidang Neji, kehangatan menjalar di tubuhku. Kami-sama, apa rasanya senyaman ini? apa senyaman inikah rasanya ketika kau bersama orang yang kau sayangi?

"Lebih baik kita segera ke alum-alun kalau tidak ingin melewatkan acara kembang apinya." Ujar Neji lembut, aku mengangguk kecil lalu dengan berat hati menarik kepalaku dari sumber kehangatan itu. meski begitu, tangan kami tetap mengait, saling menggenggam satu sama lain seolah tidak ingin terpisahkan.

xXx

mataku terbelalak kaget ketika melihat sejubel manusia memadati alun-alun yang tidak terlalu luas.

'Kami-sama, ternyata banyak sekali penduduk yang berantusias datang ke festival ini, kalau begini bagaimana caranya aku dan Neji bisa melihat kembang api?' Aku mendengus kesal, seharusnya aku datang lebih cepat.

"Kita tidak bisa mendekat, terlalu banyak orang." Ujar Neji, aku hanya bisa mengangguk lemah. "Ti-tidak apa-apa kok, kita bisa melihatnya dari jalanan, walaupun tidak terlalu dekat toh masih tetap indah bukan?" Ujarku berusaha terdengar tidak terlalu kecewa, namun sepertinya usahaku sia-sia, Neji pasti sudah mengetahui kekecewaanku. Laki-laki itu langsung menggenggam tanganku dan membawaku menjauh dari alun-alun.

"He-Hei! Kita mau kemana?" Tanyaku yang sedikit kaget karena tiba-tiba ditarik oleh Neji. "Kalau tidak cepat, kita bisa ketinggalan kembang apinya, Tenten." He? Maksudnya apa? akhirnya aku hanya bisa pasrah, membiarkan Neji menyeretku disepanjang jalan konoha. Nafasku tersengal-sengal karena berusaha mengimbangi langkah kaki Neji yang cepat.

"Ne-Neji, pelan-pelan sedikit, aku lelah."

"Sudahlah jangan berisik." Ada apa sih dengannya? Neji membawaku semakin jauh dari khalayak ramai, mau kemana dia? Bodoh sekali Neji, kenapa dia malah membawaku ketempat yang jauh dari alun-alun.

"Neji! Kita mau kemana? Kita semakin jauh dari alun-alun."

"Kau ini, berisik sekali." Gerutunya yang masih tetap menyeretku menjauh dari keramaian. Akhirnya aku hanya bisa diam, percuma saja berbicara dengan Neji saat ini, yang ada dia akan terus memaraihiku.

Setelah beberapa menit berjalan, kami pun sampai disebuah bukit kecil di sebelah istana. Kami melewati hutan yang sepi dan sedikit menyeramkan, kenapa Neji membawaku ketempat sepi seperti ini. apa jangan-jangan dia mau... tunggu! Kenapa aku jadi berpikiran mesum seperti ini?! Perasaanku sedikit lega ketika kami hampir keluar dari hutan, perasaan legaku hilang ketika secara tiba-tiba saja Neji menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, membuat kepalaku membentur punggungnya.

"Aduh! Kenapa tiba-tiba berhenti sih?!" Gerutuku sambil mengusap kepalaku. Laki-laki itu membalikan tubuhnya, ia berjalan mengitari tubuhku dan berhenti dibelakangku, apa yang akan dia lakukan?!

"He-Hei Neji apa yang... HEI!" Aku memekik ketika merasakan sehelai kain menutupi mataku, membuatku tidak bisa melihat.

"Apa yang kau lakukan Neji?!" Tanyaku panik, aduh sebenarnya apa yang dipikirkannya?! Kenapa tiba-tiba dia menutup mataku? kami-sama, Neji bukan lelaki cabul kan? Katakan kalau dia bukan lelaki cabul, Kami-sama!

"Bisakah kau tidak ribut lima menit saja, Tenten?" Ujarnya santai seraya mengikat kain itu dibelakang kepalaku. Tak lama kemdian, bisa kurasakan sebuah tangan menggenggam tangan kananku.

"Ikuti aku." Ujarnya lembut, entah bagaimana ketika mendengar suaranya yang lembut bak beledu itu, membuat semua pikiran negatifku hilang, seolah membuatku percaya bahwa ia tidak akan menyakitiku. Akhirnya lagi-lagi aku hanya bisa menurut, membiarkan Neji menuntunku ketempat yang ia tuju. Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Neji berhenti dan membuatku hampir menubruknya lagi.

"Kita sudah sampai." Ujarnya lagi. "Baiklah kalau begitu, aku boleh membuka ikatan dimataku ini kan?"

"Berhitung sampai sepuluh."

"Eh?"

"Berhitung sampai sepuluh, lalu setelah itu kau baru boleh membuka penutup itu." aku mendengus kesal lalu mulai berhitung.

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan..." Aku mengulurkan kedua tanganku kebelakang bersiap membuka ikatan kain itu saat bibirku mengucapkan kata sepuluh dan sret aku langsung menarik ikatannya.

"Sepu-" DUARR! Aku membelalakan kedua mataku, Kami-sama, ini...

"Luh." Neji tertawa renyah melihat reaksiku yang sangat kaget itu. sementara aku masih terpaku dengan pemandangan dihadapanku. Didepanku terpampang pemandangan warna-warni yang dihasilkan oleh kembang api yang meluncur dari alun-alun, ditambah lagi pemandangan kota yang dihiasi lampu-lampu warna-warni, menambah indahnya pemandangan.

"Indah sekali..." Gumamku yang masih terpaku dengan kembang api yang meluncur keatas.

"Aku sengaja membawamu ketempat ini, ke bukit sebelah istana. Karena bukit ini agak condong kearah alun-alun, jadi kita bisa melihat kembang api dengan lebih jelas disini dan juga... disini sangat sepi jadi kita tidak perlu berjubel-jubel dengan orang lain." Aku menoleh kesamping, memandang laki-laki yang berdiri disampingku seraya tersenyum kecil.

"Arigatou, Neji-kun." Laki-laki itu membalas senyumanku dengan senyuman lembut lalu menggenggam tanganku, dan kami pun duduk disana, dihamparan rumput yang agak menguning. Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit itu, baik aku maupun Neji lebih memilih untuk diam, menikmati pemandangan indah yang terpampang didepan kami dan menikmati saat-saat ini, saat-saat yang terasa sangat damai, saat tangan kami saling mengait.

Terimakasih Kami-sama, terimakasih banyak karena memberikanku kesempatan untuk bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. walaupun bagi kalian ini sangatlah sederhana, tapi menurutku ini sangatlah berharga maksudku. Aku tidak tahu kapan aku bisa bersama dengan Neji seperti ini, merasakan tangan hangatnya meremas lembut tanganku, menyenderkan kepalaku di bahunya yang tegap dan menghirup aroma mint yang kental dari tubuhnya. Oh Kami-sama, bisakah kau hentikan perputaran bumi sekarang? Bisakah kau hentikan waktu sekarang? Aku mohon sekali ini saja.

"Tenten?"

"Iya?"

"Arigatougozaimasu."

"Eh, untuk apa?" Tanyaku sambil melirik ke wajah tampan itu, wajah tampan milik sang Hyuuga Neji. "Arigatou karena sudah memberikan kedamaian dikehidupanku." Aku tersenyum kecil seraya melingkarkan tanganku di tangannya. "Arigatou mo Neji, karena telah memberikan banyak kasih sayang kepadaku dan... ikan ini." ucapku sambil mengangkat kantung berisi ikan yang masih kugenggam. Neji tertawa renyah lalu menyenderkan kepalanya di kepalaku, membuat helaian rambutnya menyapu lembut wajahku.

"Neji?"

"Hn?"

"Aku jadi memikirkan... Hinata." Neji tidak langsung menggubris perkataanku. "Memangnya kenapa?"

"Aku hanya... tadi, sebelum Hinata berangkat ke Sunagakure bersama Hiashi-sama, aku sempat berbincang dengannya."

"Lalu?"

"Ia terlihat sangat... sangat sedih. Aku hanya ingin bertanya, apakah kau sudah memberitahu tentang... kita?" Bisa kurasakan Neji menghela nafas panjang. "Belum, aku belum bertemu dengannya beberapa hari ini."

"Aku hanya heran, kenapa dia bisa terlihat murung seperti itu."

"Mungkin karena tidak bisa datang ke festival ini." ujar Neji santai, benar saja. Kenapa tak terpikirkan olehku. Tapi... menurutku bukan karena itu, tidak mungkin Hinata akan sesedih itu hanya karena sebuah festival yang rutin diadakan setahun sekali?

"Kau masih memikirkan Hinata?" Aku mengangguk kecil. "Aku khawatir, aku sangat khawatir kalau Hinata akan-"

"Menggunakan kekuasaannya untuk memisahkan kita? Tenten, adikku tidak akan sebodoh itu, lagipula ia belum tahu tentang hubungan kita."

"Ya, aku tahu dan... aku merasa, aku merasa seperti seorang pengkhianat, Neji." Mendengar kata-kataku, Neji langsung menjauhkan kepalanya dari kepalaku, membuatku juga menjauhkan kepalaku dari pundaknya.

"Dengarkan aku Tenten, ini memang saat yang sangat sulit. Aku tahu betul bagaimana perasaanmu, tapi setelah aku mengatakan semuanya pada Hinata, semuanya akan baik-baik saja, aku janji." Ucapnya sambil menggenggam tanganku. Aku mengangguk kecil seraya menundukan kepalaku.

"Tapi bagaimana... bagaimana kalau klan mu tidak menyetujui hubungan kita?" Tanyaku dengan suara tercekat.

"Sudahlah, kau tidak perlu mencemaskan hal sepele seperti itu." jawabnya seraya menarikku kedalam pelukannya. Tiba-tiba saja, aku bisa merasakan tangan Neji mendorongku kebelakang, membuat pelukan kami terlepas.

"Selain ikan itu, sebenarnya aku ingin memberikan sesuatu yang lebih spesial kepadamu." Ujar Neji dengan suara yang entah bagaimana terdengar –ehem- seksi. Setelah berkata seperti itu, wajah Neji semakin mendekat. Kami-sama! Jangan bilang kalau!

"He-Hei Neji apa yang kau-"

"Kau ini memang selalu berisik ya, Tenten." Ujarnya ketika batang hidung kami saling bersentuhan. Sialan! Sepertinya dia memang akan melakukannya. Aku memejamkan mataku, berusaha menguatkan batinku yang hampir limbung. Aku tersentak kaget ketika merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh... keningku. Eh?! Apa? kening? Aku membuka kedua mataku, hal pertama yang kulihat adalah leher jenjang nan putih. Aroma mint menusuk hidungku, menari-nari dirongga hidungku. Ternyata Neji hendak mencium... keningku. 'Baka Tenten! Kenapa kau bisa berpikiran mesum sih?!' Setelah beberapa detik Neji mencium keningku, laki-laki itu menarik dirinya menjauh dariku. Ia tersenyum geli ketika melihat ekspresi kagetku yang kujamin sangatlah MEMALUKAN! "Kenapa kau menatapku seperti itu, Tenten?"

"A-a-aku.. aku hanya, a-aku kira kau-"

"Akan mencium bibirmu?" Pesh! Pipiku terasa semakin memanas ketika mendengar ucapan Neji. "Ini belum waktunya, Tenten. Jadi kalau kau ingin aku mencium bibirmu, kau harus menunggu sampai kau dewasa." Ujarnya sambil menepuk kepalaku, aku mengerucutkan bibirku dan meninju lengannya.

"Kau ini! aku ini sudah dewasa tau!" Neji tertawa renyah. Sementara aku hanya bisa tersenyum tipis ketika melihat laki-laki pemilik hatiku itu tertawa dan memutuskan ikut tertawa bersamanya. Setelah puas tertawa, kami menghabiskan malam itu memandangi langit yang dipenuhi kilauan kembang api, menikmati kebersamaan kami.

Normal Pov

Kebahagiaan terasa sangat kental diantara dua sosok manusia berbeda gender yang tengah duduk bersampingan diujung bukit. Si gadis yang dari belakang terlihat seperti panda itu menyenderkan kepalanya di pundak silelaki yang berambut panjang. Semua orang yang melihat adegan ini pasti akan merasakan kebahagiaan diantara mereka. Semua kecuali seorang gadis yang diam-diam memperhatikan dua sejoli ini dari balik sebatang pohon yang berdiri beberapa meter dari pasangan bahagia itu.

Rasa cemburu dan sedih bercampur menjadi satu, menciptakan satu perasaan baru yaitu, amarah. Gadis itu mengepalkan tangannya, lalu menyeka air mata yang dari tadi sudah berjatuhan dari mata lavendernya dengan punggung tangan. Gadis itu benar-benar murka, kesabarannya sudah mulai habis ketika beberapa menit yang lalu mata lavendernya menyaksikan secara langsung, lelaki pujaan hatinya mencium kening seorang gadis yang sudah ia percaya sebagai sahabat. Ia sudah tak tahan,ia sudah tidak bisa bersabar seperti biasanya, ini sudah terlalu jauh. Ia merasa sangat menyesal karena tidak mengikuti rencana si blonde beberapa hari yang lalu.

"Apa anda tidak puas menyakiti hati anda sendiri, Hinata-sama?" Gadis yang dipanggil Hinata itu tidak menolehkan kepalanya, seperti tidak mendengar kata-kata gadis blonde yang berdiri dibelakangnya.

"Anda sudah lihat bukan? Bahwa Neji dan Tenten memang saling mencintai."

"Bisakah kau diam." Geram Hinata, gadis bermata lavender itu sedikit kaget karena mendengar kata-katanya sendiri. ia merasa bahwa ini bukan dirinya, ia tidak pernah sekalipun membentak orang, siapapun. Apa kecemburuan sudah mengubahnya menjadi Hinata yang lain?

"Aku hanya ingin mencoba membantu anda, Hinata-sama. Karena aku juga merasakan hal yang sama." Ujar si blonde seraya melangkah mendekat. Gadis itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak Hinata.

"A-aku akan ikut..."

"Eh, maksud anda Hinata-sama?"

"Aku akan mengikuti rencanamu, Ino." Ino tersenyum penuh kemenangan seraya menggenggam bahu Hinata.

"Anda tidak perlu khawatir Hinata-sama, rencanaku pasti akan berjalan dengan mulus. Dan bisa kupastikan, tak lama lagi, Tenten akan enyah dari hadapan anda dan Neji-sama."

Nah di chappie ini udah mulai keliatan alur ceritanya kan? gimana jelas kan ceritanyaa hehe, semoga begitu yaa. kalo ada yang bingung dengan cerita ini jangan sungkan-sungkan mereviews dan bertanya hehe. oke sekian bacotan author hari ini, jaa!