Kagawita Hitachi : cerita ini keren? wah, Panda senang mendengarnya /denger darimana?/
nee, sepertinya baru chapter depan Panda akan menjelaskannya, masih finishing touch untuk chapter masa lalu makhluk2 itu (?) gayakin rin lennya banyak, tapi Panda udah berusaha bikin T^T semoga suka T^T


Make Your Wish : Chapter 9 : Plan
Vocaloid is not mine, but this story is mine

Genre : Supernatural/Fantasy
Rated : T


"Diadili lagi? Hei, jangan bercanda!"

Rin memandangi Lui yang meringis kesakitan di depannya. Menatap tidak percaya pada roh di depannya. Sial. Tak ada kebohongan dalam sorot matanya. Kenapa Rin ingin sekali menyangkal? Entahlah.

"Aku...tidak bercanda.."

Rin mendecih pelan. Ia memunggungi Lui.

"Jelaskan semuanya di tempatku. Ikut aku." Rin berjalan. Lui pun terpaksa mengikuti karena ia sekarang tak punya harapan lain untuk menolong majikannya. Dalam hati ia mengumpat kesal.

"Oh, dunia fana memang banyak berubah, ya. Aku jadi ingin hidup lagi.." Len terkekeh pelan. Suzune tersenyum kecil. Suzune bercerita tentang majikannya, yang selalu ke dunia fana. Ia hanya mendengar ceritanya dari Lui, yang selalu ikut majikannya mengambil jiwa. Mereka kini tengah berbincang-bincang di dalam kamar Len, karena Len masih merasa tubuhnya sakit. Len hanya berbaring sementara Suzune berdiri di dekatnya.

"Ya, dan Miku-sama pasti membutuhkan bantuanku sekarang." Suzune tertunduk. Len mengerti situasinya. Ia hanya diam. Semua sunyi hingga terdengar suara mendekat ke ruangan mereka.

"Brakk!"

"Hibiki-san?" Suzune mengerjap heran.

"Suzune? Sedang apa kau disini?" Lui bereaksi sama. Rin kemudian berdehem keras, menyadarkan mereka. Len menatap Lui tajam.

"Kau, ceritakan dari awal." Rin melirik ke arah Lui. Lui menghela nafas pelan. Ia kemudian mulai bercerita.


"Oliver! Sialan kau!" Ingin sekali Miku mencabik Oliver yang ada di depannya. Sayang sekali kekuatannya tak berguna hari ini.

"Tenanglah, Miku. Rahasiakan ini. Kau bilang, pelayanmu tak ada hubungannya dengan ini, kan?" Oliver tersenyum kecil, mengabaikan amarah Miku yang memuncak.

"Tapi, setidaknya katakan padaku sebelumnya! Sialan!" Miku berniat memukulnya, namun tahannya ditangan oleh Oliver.

"Aku akan membantumu. Tenang saja. Sekarang, pelayanmu tidak akan terluka. Dunia hantu hanya bisa dikunjungi oleh petinggi langit. Jadi, tenanglah." Oliver memeluk Miku, mengusap kepala perempuan itu. Miku terbelalak. Kenapa, Oliver rela membantunya hingga seperti ini?

Meski ia sudah tahu jawabannya, tetap saja rasanya tidak masuk akal.

"Aku tahu, semua tidak sama seperti dulu, tapi..perasaanku tetap sama untukmu."

Apa-apaan Oliver itu?

"Oliver-sama, ada laporan dari dunia fana." Seorang masuk ke ruangan Oliver. Ia diam di tempat begitu melihat kedua insan berpelukan di depannya.

"Ah, Gumi." Oliver melepas pelukannya. Gumi hampir tak berkedip melihatnya. Miku sedikit menjauh dari Oliver.

"Ma-maaf.." Gumi berlari keluar. Jangan sampai Oliver membaca isi hatinya.

"Oliver, kau tahu itu, kan?" Tanya Miku.

"Ya, aku tahu. Miku, ada hal yang ingin aku tanyakan." Oliver melirik ke arah Miku. "Pemimpin langit mempercayai shinigami? Jangan buat aku tertawa, Oliver." Miku terkekeh kecil.

"Saat itu, kau membunuhnya. Apa maksudmu melakukan itu?" Oliver menatap Miku penasaran.

"Dia melukai pemimpin langit. Hanya itu." Miku berbalik, memunggungi Oliver.

"Kau masih peduli padaku setelah semuanya?" Oliver tidak tahu harus menanyakan ini atau tidak. Tapi ia penasaran sejak dulu. Ada sedikit rasa senang saat mendengar jawaban Miku.

"Aku hanya melaksanakan kewajibanku."

Miku pergi dari hadapan pemimpin langit itu. Meski masih kesal, ia sangat berterima kasih pada Oliver yang telah menyelamatkan pelayannya. Tanpa diketahui Miku, Oliver tersenyum.


"Rin, kenapa kau bawa roh pemuda itu kemari?" Tanya Len. "Ia yang datang padaku dari arah selatan. Sesuatu terjadi di langit. Tak lama lagi, kita pasti diberitahu Ann atau Taya." Jelas Rin. Mereka sedang berbisik satu sama lain agar tak kedengaran oleh Lui dan Suzune.

"Kau tahu, kan. Ia melukaiku hingga seperti ini!" Seru Len tertahan.

"Maaf, tapi..bisakah kalian membawa kami ke langit? Miku-sama pasti kesulitan." Suzune tertunduk.

"Kuberitahu, setelah kau bercerita tadi.." Rin menunjuk Lui.

"Kalian mungkin akan dihukum sama seperti Hatsune. Dan entah kenapa Oliver-sama mengirim kalian kemari. Ia merencanakan sesuatu." Rin ganti menatap Len.

"Dan Len terluka karenamu. Aku tak mungkin membantu kalian, seperti mengirim kalian ke langit. Aku menyayangi Len seperti adikku sendiri." Rin menatap Lui tajam.

"R-Rin, itu memalukan." Len berusaha menyembunyikan wajah merahnya.

"Kita hanya perlu menunggu Ann dan Taya datang ke dunia hantu, jika mereka tahu kalian disini, tamat riwayat kalian." Rin duduk di bingkai jendela.

"Kumohon, hanya sekali." Suzune membungkuk.

"Tidak." Tolak Rin.

"Kumohon. Kami hanya bisa mengharapkan bantuan dari kalian." Lui ikut memohon.

"Cari sendiri caranya. Aku tidak mau." Rin masih teguh. "Boleh kutahu, apa masalah diantara anda dan Miku-sama?" Tanya Lui tiba-tiba. Ia masih belum tahu apa masalah sebenarnya antara majikannya dan Rin.

"Masalah sederhana, dan kau tidak perlu tahu." Rin melompat keluar. "Rin!" Len berusaha bangun dari tempat tidurnya. Dengan susah payah, ia menuju ke arah jendela. Ia sepertinya hendak melompat dari sana.

"Len-san! Jangan bunuh diri!" Suzune menahan kaki Len. "Aku sudah mati! Lepaskan kakiku!" Len memberontak.

"Jangan mati dulu!"

"Aku sudah lama mati!"

Lui hanya swt ngeliat Suzune dan Len.


Rin tengah berjalan entah kemana. Pikirannya kacau saat roh yang mengabdi pada Miku mengatakan semua itu. Miku akan diadili lagi? Rin tahu, kali ini Miku takkan bisa lolos dari hukum langit. Harusnya ia senang. Tapi nyatanya tidak. Ngomong-ngomong soal masalah mereka, hanya satu masalah saja. Benar-benar hanya satu. Sakit sekali mengingatnya.

Rin berhenti setelah mendengar suara yang terdengar jauh di belakangnya. Rin menoleh.

"Sukone-san?"

"Rin, lama gak ketemu." Sukone Tei, wakil ketua dunia hantu saat ini tengah menghampirinya.

"Sukone-san, kapan kau kembali? Aku tidak melihatmu kemarin." Rin menatapnya heran. "Aku dipanggil oleh Taya agar memberitahumu soal Miku-sama." Tei tampak berfikir sejenak.

"Oh, jadi ada apa?" Rin pura-pura tidak tahu. "Miku-sama akan diadili lagi. Dan tak ada toleransi kali ini." Tei sedikit menunduk. "Aku sedikit kasihan pada Oliver-sama." Ujarnya.

"Kasihan?" Rin menahan tawanya.

"Kenapa kau tertawa, Rin?"

"Hatsune tidak punya rasa kasihan. Untuk apa kau mengasihani hidupnya?" Rin berkacak pinggang. "Tidak berguna."

"Aku tahu kau peduli." Tei menatapnya datar.

"Tidak. Dan tidak akan." Rin meneruskan kembali acara berjalannya.

"Rin, dia temanmu, kan?"

"Itu cerita lama. Aku mau kerja dulu."

Dan Rin berlalu dengan cepat. Tei hanya menghela nafas berat. Ia tahu Rin khawatir. Mereka berteman dekat dulu. Dan semua itu berubah saat hari persidangan Miku.

"Miku! Aku takkan memaafkanmu!"

"Rin, tenanglah." Tei menahan Rin.

"Sukone-san! Biar aku selesaikan urusanku dengan Hatsune keparat itu!"

"Rin!"

Rin berhenti berjalan. Mengingatnya saja membuatnya terasa sakit.

Miku berjalan melewati mereka dengan wajah datarnya. Sama sekali tak merasa bersalah atas perbuatannya beberapa menit lalu di persidangan.

"Hatsune Miku! Kau fikir kau siapa hingga kau membunuhnya?!" Rin masih berapi-api.

"Dan kau fikir siapa dirimu?"

Rin terdiam.

"Aku hanya menjalankan tugasku melindungi pemimpin langit." Miku berlalu. Rin merasa kesal. Kesal sekali. Bagaimana bisa Miku tak merasa menyesal sedikitpun? Kenapa?!

Rin menangis. Hatinya terlalu lelah berteriak, menyangkal kenyataan.

.

.

.

"Rin?"

Rin tersadar dari lamunannya. Len kini berdiri di hadapannya. Hantu itu tersenyum ke arahnya.

"Kenapa kau menangis?"

Rin tidak tahu kapan ia menangis. Ia hanya mengusapnya pelan.

"Kau masih memilikiku, Rin."

Rin tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Len selalu saja menghiburnya di saat ia sedang bersedih hati. Seperti waktu itu. Refleks, Rin memeluk Len erat. Benar, Len selalu bersamanya. Dan ia sudah merasa cukup.


Mikuo menatap ke arah lonceng besar di atasnya. Hanya ingin melakukannya saja, kok. Ia tiba-tiba teringat tentang Miku. Benar, Miku takkan bisa lolos kali ini.

"Mikuo."

Mikuo menoleh. Itu Ann.

"Ann? Ada apa?" Tanya Mikuo.

"Oliver-sama memerintahkan anda untuk menemui Gakupo-sama." Ujar Ann. Mikuo mengernyit. Kesambet apa sih, Oliver?

"Kenapa bukan kau atau Taya saja?"

"Kami punya tugas banyak hari ini. Mohon dimengerti." Ann membungkuk hormat, lalu pergi dari hadapan Mikuo.

"Pasti soal adikku."

Ann tidak menjawabnya.


"Gakupo! Hatsune sangat menyebalkan!"

Gumi memasang wajah kesalnya. Gakupo tentu saja tertawa melihat wajah aneh Gumi.

"Kenapa kau ketawa?!" Gumi berdecak kesal.

"Maaf, maaf. Wajahmu aneh sekali."

Gumi memalingkan wajahnya ke arah lain. Gakupo makin terbahak-bahak.

"Sudahlah, Gumi."

"Kufikir Oliver-sama akan memberiku selamat atau apa. Tapi tidak sama sekali."

"Kau seolah tidak tahu seperti apa dia di depan Hatsune."

"Kenapa Oliver-sama masih saja menyukainya?"

"Dari kemarin itu terus. Lebih baik bantu aku mengumpulkan data kasusnya."

"Enak saja."

Cklek!

Gakupo dan Gumi berhenti sejenak dari perbincangan mereka. Mikuo berdiri di ambang pintu.

"Mikuo? Ada apa?" Tanya Gakupo.

Mikuo mendengus sebal. Ia duduk di sebelah Gumi.

"Jadi, ada apa?" Tanya Gumi, melirik ke sebelahnya.

"Ann mengatakan sesuatu."

"Begitu." Gakupo mengangguk sendiri. Ia tahu. Ada satu surat dari Oliver yang belum ia balas. Bukan karena tidak sempat, tapi tidak ingin.

"Katakan saja aku sibuk."

"Ann memaksaku untuk menemuimu."

Ketiga malaikat itu terdiam.

"Jadi, ada berita baru?" Mikuo mengalihkan topik.

"Rencana Hatsune." Gumi menengadahkan kepalanya ke atas. Seolah memikirkan sesuatu.

"Rencana? Apa maksudmu?" Mikuo penasaran.

"Hatsune berencana membangkitkan kembali ancaman terbesar kita, Shion Kaito, pangeran neraka." Sambung Gakupo.

"Lalu? Bukankah harusnya ia sudah lama mati? Kita semua tahu, perempuan itu yang membunuh pangeran neraka. Ia melakukannya di hadapan seluruh anggota sidang waktu itu." Mikuo masih merasa bingung.

"Justru karena itu, ia membunuhnya. Kekuatan sebenarnya dari iblis akan bangkit setelah ia mati dibunuh dengan senjata suci. Hatsune berencana untuk menghancurkan kita semua." jelas Gumi.

"Perempuan itu gila."

"Apa tujuannya?"

Mereka bertiga kembali terdiam. Tidak mengerti juga apa maksud Miku melakukan semua ini.

"Menurut buku ini.." Gakupo mengambil sebuah buku. "Diperlukan tujuh jiwa yang berjiwa besar. Jiwa yang telah menghadapi berbagai kesulitan hidup."

"Benar."

Ketiga malaikat itu terkejut dengan kehadiran Miku yang tiba-tiba berada di antara mereka.

"!" Gumi terkejut.

"Jangan terkejut begitu. Aku tahu, takkan bisa menutupi hal ini lebih lama." Miku tersenyum.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan jiwa-jiwa yang kau dapat?" Gakupo penasaran.

"Apa ya..? Kufikir kalian juga sudah mengerti." Miku menatap mereka dengan tatapan mengejek. "Kau fikir siapa dirimu?! Berani mendekati Oliver-sama?!" Gumi berjalan menghampirinya. Gumi menatapnya tajam.

"Aku tidak tahu apa yang disembunyikan Oliver dariku, tapi ia tahu apa yang kusembunyikan. Bukankah lebih baik kau bertanya pada Oliver?" Miku menaikkan satu alisnya.

"Kuberitahu, jangan dekati Oliver-sama. Bisa saja ia makin sekarat karenamu."

"Sekarat? Kalian membodohiku. Ia baik-baik saja."

"SIAL!"

Pukulan Gumi hampir saja mengenai wajah Miku jika tidak ditahan oleh Gakupo.

"Gakupo! Kau memihak siapa?!" Geram Gumi.

"Kau ingin dicincang oleh Oliver-sama?" Gakupo menatapnya dingin.

Sukses. Gumi menjauhkan tangannya. Ia mengerti Gakupo menyelamatkannya. Tapi..tapi..

"Sialan!" Akhirnya Gumi hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada meja dekatnya. Gumi pergi dengan menggerutu.

"Gakupo-san, bisakah kau singkirkan tanganmu dari depan wajahku?" Tanya Miku. "Maaf." Gakupo menjauh.

"Tunggu saja hingga hari persidanganku. Akan kuungkapkan rahasia langit." Miku berjalan menuju pintu.

"Kau.." Gakupo mengepal tangannya.

"Ups. Coba saja hentikan aku." Miku segera pergi dari sana.

"Rahasia langit..yang mana?"


Make Your Wish : Plan


Oliver menutup pintu ruangannya. Ia terbatuk hebat. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu dan menyentuh perutnya, menahan rasa sakitnya. Inilah efek karena mengirim paksa seseorang ke dunia lain. Untung saja ia tak seperti ini sewaktu di depan Miku.

Tok Tok Tok!

"Oliver-sama.."

Oliver masih terbatuk.

"Oliver-sama, anda baik-baik saja?" tanya suara dari luar ruangannya.

Oliver tidak menjawabnya. Nafasnya memburu. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi. Ia kemudian mencoba berjalan menjauh dari pintu dan ingin beristirahat di tempat tidurnya, namun dirinya terjatuh sebelum sempat menggapainya.

Tubuh Oliver tergeletak tak berdaya disana. Seseorang yang berada di luar pintu terkejut ketika melihat ke dalam.

"Oliver-sama!" Ia panik.

Miku melihat pemandangan itu ketika tak sengaja ia lewat di depan ruangan Oliver. Keadaan Oliver benar-benar parah. Miku hanya meneruskan langkah kakinya.

"Mereka tidak bohong. "

Miku terhenti sebentar saat mendengar suara kepanikan beberapa malaikat yang sudah berkumpul di depan ruangan Oliver. Tepat di belakangnya.

"Aku harus cepat-cepat menemukan tubuh Kaito."


"Hibiki-san, jadi apa rencanamu?"

"Mereka pasti diundang untuk menghadiri sidang Miku-sama. Kita hanya harus mengikuti mereka diam-diam."

"Kenapa kau tahu, Hibiki-san? Kau peramal ya?" Suzune menatapnya. Lui hanya terkekeh kecil.

"Mungkin saja. Bukankah katanya gadis hantu itu semacam pemimpin disini?" Lui tersenyum penuh arti. "Suzune, kau ingat, dimana kau pertama kali bangun?"

Suzune mengangguk.

"Aku sudah berada disini. Kalau tidak salah di sekitar situ." Suzune menunjuk ke arah sebuah vas dekat cermin dengan bunga tulip di dalamnya. Cermin berukiran naga, sama seperti milik majikan mereka.

"Dari sana, ya?" Lui mendekati cermin itu perlahan. Rasanya ada sesuatu yang menariknya agar melihat terus ke dalam sana. Ia seolah tenggelam di dalamnya.

Lui mengedarkan pandangannya, agar tak terlalu fokus pada cermin itu. Bisa saja itu jebakan. Ia harus hati-hati. Lui hendak bertanya pada Suzune lagi, tapi, semua berbeda dari isi ruangan hantu tadi. Ia tidak tahu ini dimana. Rasanya nyaman dan sejuk. Semua terlihat serba putih. Lui hanya bisa menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Kini ia berada di sebuah hutan bambu. Rasanya familiar sekali. Apa ia sedang bermimpi karena perasaan rindunya terhadap sang majikan? Entahlah.

Ia melihat majikannya berdiri dengan hantu bernama Rin itu. Mereka saling tertawa. Lui heran. Ini sebenarnya apa? Cermin dan bunga itu bukan hiasan belaka rupanya. Ia telah terbawa masuk ke dunia-entah-apa.

Kini pemandangan ceria itu terganti dengan sebuah pemandangan mengerikan. Semua tergeletak tak berdaya. Lui melihat hantu Rin itu berdiri jauh darinya. Gerakannya seperti terhenti oleh sesuatu. Lui mengikuti arah pandangan hantu itu. Lui terbelalak. Ia melihat majikannya, membunuh seseorang dengan pedang yang ia bawa. Ia menusukkannya berkali-kali. Si korban hanya diam saja, tak memberi perlawanan yang berarti. Tunggu, Lui mengenalinya. Semua terputar kembali di dalam pikirannya.

Rambut birunya mengingatkannya pada sesuatu.

Bukankah itu jasad yang berada di dalam peti di kastil majikannya? Ia tak percaya jika majikannya membunuhnya. Ia fikir majikannya menyukai pemuda itu. Ia selalu saja menyebut namanya setiap hari, seperti memujanya. Benarkah majikannya sudah membunuhnya? Lalu untuk apa majikannya ingin membangkitkan jiwa itu kembali? Kenapa majikannya seolah mengejar target jiwa? Kenapa majikannya mempercepat jadwal kematian manusia? Dan kenapa majikannya mengabulkan harapan dari tiap jiwa yang diambilnya?

Kepala Lui terasa penuh memikirkannya. Banyak sekali pertanyaan; yang tak pernah dia tanyakan pada majikannya.

"Hibiki-san!"

Lui tersadar ketika Suzune mengguncang bahunya dengan keras.

"Hibiki-san!"

Lui jatuh terduduk. Apa-apaan yang barusan dilihatnya itu tadi? Majikannya tampak sangat berbeda dengan sekarang. Tatapannya sewaktu membunuh sangat mengerikan. Seolah tak ada yang ia inginkan kecuali nyawa yang ia bunuh saat itu.

Kenapa, Miku-sama seperti itu?

Lui berusaha menyingkirkan fikiran buruk tentang majikannya. Ia memegang kepalanya kuat-kuat. Meyakinkan diri bahwa majikannya tidak seburuk itu. Maksudnya, bukankah ia sudah baik terhadap dirinya? Bukankah Miku-sama akan mengabulkan keinginannya? Majikannya bahkan membangkitkan jiwanya kembali, meski itu pelanggaran berat. Sebenarnya, apa yang terjadi pada majikannya dulu? Apa benar semua yang ia lihat tadi?

"Itu benar."

Lui menoleh ke belakang. Hantu bernama Rin dan Len sudah ada disana entah kapan.

"Kau sudah melihatnya. Itu memang Hatsune." Kata Rin.

"Aku tak mungkin membiarkan siapapun menyakiti Rin. Karena itu, temukan jawaban kalian sendiri. Kami tak bisa membantu." Imbuh Len. Kedua hantu itu benar-benar seperti duo yang klop.

"Jawabanku..sendiri?"

"Kau sangat menghormati Hatsune, aku mengerti. Tapi, maaf saja." Rin berbalik, menghadap ke arah jendela.

"Kau dengar itu, kan? Hibiki?" Len memandangnya lurus. Bukan benci. Hanya tatapan betapa seriusnya ia dengan perkataannya.

"Kuberitahu sedikit, Hatsune membangkitkan jiwa bukan tanpa alasan. Kau atau gadis itu pasti mempunyai kekuatan yang besar, mungkin untuk tujuannya." Rin menatap ke arah luar. Memandang gagak-gagak hitam yang berterbangan. Menatap langit keabuan hingga ke batas penglihatannya.

Lui terdiam sejenak. Kekuatan? Ia hanya manusia biasa pada awalnya. Tidak mungkin dia memiliki kekuatan atau sesuatu semacam itu. Lui melirik Suzune. Jangan-jangan, justru Suzune yang memilikinya?

Tsuzuku

...

...

Panda sudah menyiapkan chapter untuk masa lalu makhluk2 itu (?) mulai bagaimana Miku dan Oliver bertemu, bagaimana kehidupan Rin di dunia fana sebagai..ups! Dame desu! XD pokoknya nantikan saja XD /siapayangnungguelo/ , ceritanya akan saya bagi menjadi 2 bagian (sepertinya) soalnya wordsnya panjang, dan kemungkinan reader-san akan merasa jenuh . *jaga-jaga* sampai jumpa chapter depan XDD

Panda Dayo