Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.


place

i stand alone
in the lonely corridor
and i see what other people see
in me.
my steps aren't mine only
my position is seen
by many sides.
and you come
with your shadow
looming
like a thousand puzzles
let's see them
with other eyes.

#

Erzsi baru saja menutup pintu kamarnya dan berbalik ketika petugas pintu-ke-pintu itu lewat di koridor. Mereka bertatapan sekian lama, hingga kemudian petugas itu mengangguk dan tersenyum, lalu menundukkan kepalanya seraya mendorong kereta yang penuh dengan handuk bersih, plastik-plastik untuk yang kotor, lalu sabun dan sampo cair berbotol-botol, sikat gigi dalam kotak-kotak rapi, linen-linen wangi. Erzsi mengenali orang ini. Begitu sering berpapasan dengannya di koridor di jam-jam sibuknya. Pernah pula membantunya yang kehilangan kunci kartu saat bersama Gilbert.

Perempuan itu bersandar pada bingkai pintu, menunggu Gilbert keluar dari kamar di ujung lain koridor itu. Matanya masih mengamati gerakan si petugas, yang berhenti pada ujung sebelah kirinya, membersihkan lantai yang ditutupi oleh karpet berwarna hijau muda.

Ia tak mendengar Gilbert menutup pintu. Baru disadarinya kedatangan lelaki itu saat dia bertanya dengan setengah berbisik, "Sesuatu mengganggumu?"

Erzsi segera berjalan, Gilbert mengimbangi. "Ya, sedikit." Ia mengangkat bahu sambil menggeleng ketika menatap Gilbert, ini bukan seperti yang kaupikirkan, orang itu tak menggangguku. "Apa yang petugas tadi tahu tentang kita, ya, hm?"

"Mungkin dia hanya berpikir kita sebagai eksekutif-eksekutif yang selalu terburu-buru." Gilbert menekan tombol turun untuk mereka. "Tak tahu bahwa kita sudah capek dengan urusan kolektif sejak kita mengadakannya masih bersama lilin-lilin dan pena bulu, sampai sekarang dengan tablet dan telekonferensi yang menyebalkan karena hologram-hologram itu merusak mataku."

"Mata tua," komentar Erzsi. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai. "Apakah orang-orang seperti mereka ... menyukai keberadaan orang-orang seperti kita atau tidak?"

Bunyi denting dan lift yang terbuka menunda jawaban Gilbert. Dia mengerutkan kening ketika melangkah ke dalam dan perlahan melihat bayangan Erzsi pada pintu yang mulai tertutup. "Sejak kapan kau mulai memikirkan pendapat orang lain?"

"Sejak aku tahu bahwa kita bisa melihat dengan mata majemuk."

Lift itu berlalu hingga sebelas lantai tanpa ada orang yang menghentikannya.

"Tapi itu melelahkan. Kau jadi bingung ke mana kau harus berpihak," Gilbert menjawab setelah sekian lama. Tatapannya kosong.

"Kebenaran memang selalu abu-abu." Erzsi melangkah keluar dari lift lebih dahulu. "Kebenaran tidak pasti hanya datang dari kita. Bisa jadi dari orang lain. Atau gabungan keduanya ketika kita memahami."

"Kata-katamu tua sekali, Erzsi."

Erzsi tertawa kecil. "Memang tua, 'kan?"

#