WISH IN BELIEVE (FANTAO ver)

Cash:

Wu Yi Fan | Huang Zi Tao | Wu Sehun | Wu Yunho | Wu (Kim) Jaejoong

Cash lainnya akan di temukan seiring dengan berjalannya waktu

Lenght: Chaptered

Rete: T

Genre: Family, Hurt/Comfort, Drama, GS for UKE

.

.

FF ini remake dari novel 'Wish In Believe' karya 'Wari Hidayati'. Terdapat pengurangan kata, penambahan kata, penggantian tempat, dan penggantian bahasa untuk menyesuaikan cerita yang ada.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ
.

.

HAPPY READ!

.

.

#11

Pagi itu Yunho duduk termenung di dalam ruangan kerjanya yang sangat besar dan mewah. Tidak seorang pun yang diperbolehkan masuk ruangan itu tanpa seijini darinya. Emosinya sangat tidak terkendali akibat kejadian semalam, Yifan anak sedang sakit dan dia sendiri masih digeluti oleh keegoisan dan gengsi meskipun perasaan menyesal telah menguasai hatinya yang dingin.

"Maaf nyonya, tuan sudah memerintahkan tidak mengizinkan siapapun masuk kedalam ruangannya."

"Ya, aku ini istrinya! Persetan dengan aturan seperti itu! Menyingkirlah!"

Samar-samar didengarnya pertengkaran yang terjadi di depan ruangannya, ia yakin istrinya datang dan ingin mempermasalahkan kejadian semalam. Mempertanyakan kenapa dirinya tak menjenguk putra sulungnya sendiri dan pada akhirnya hanya akan ada pertengkaran yang terjadi di dalam ruangan yang mewah ini. Yakinlah.

"Wu Yunho! Dengan santainya kau berada dalam ruangan ini di saat anakmu sakit! Tidak adakah sedikitpun rasa perhatianmu sebagai seorang appa huh?!"

"Keluarlah,"ucap suara itu dingin.

"Ya! Kau bahkan tidak menghiraukan perkataanku. Kau anggap apa aku selama ini, huh?! Lalu kau pikir Yifan itu siapa? Dia itu anakmu! Darah dagingmu sendiri!"

"Apa pedulinya jika dia anakku? Aku bahkan tak mengharapkan anak sepertinya yang pembangkang seperti itu! Dan kau, keluarlah sebelum aku bertindak lebih padamu!"

"Baiklah, kurasa sudah tak ada gunanya lagi aku berbicara panjang lebar dengan orang berhati batu sepertimu. Percuma saja."

Wu Jaejoong keluar dari ruangan kerja yang mewah itu, tak lupa di hempaskannya pintu yang terlihat kokok itu dengan kasar hingga mengejutkan semua orang yang berada disekitar ruangan itu termasuk sang pemilik ruangan. Jaejoong berjalan pelan menyelusuri koridor dilantai 12 itu menuju sebuah lift yang terasa amat jauh baginya. Matanya kembali memanas mengingat sikap suaminya dan anaknya yang tadi dia jenguk sebelum menuju kantor sang kepala keluarga. Ingin sekali ia bercerai dengan suaminya, tetapi apakah dengan bercerai semua masalah suadah bisa diatasi?


WISH IN BELIEVE


"Bagaimana keadaanmu, sudah baikkan?"

"Ya seperti yang kau lihat, hyung. Aku sudah lebih baik."

"Kau lebih mengetahui kondisimu seperti apa, berhentilah berpura-pura kuat. Hal itu tak akan pernah membantumu."

"Cepat sekali kau kembali, bukankah seharusnya baru besok kau pulang?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan bodoh. Dimana letak otak pintarmu itu? Bukankah kau sangat terkenal di kampus karena kepintaranmu? Apakah seperti ini yang dikatakan pintar, eoh? Cukup katakan bagaimana keadaanmu yang sebenarnya kepadaku."

Yifan hanya menghela nafas dengan kuat dan mengalihkan pandangannya keluar jendela menatap langit yang terlihat cerah dan tak berujung itu.

"Tidak ada yang bisa kulakukan. Apakah semuanya harus berakhir seperti ini? Apa aku harus menyerah sekarang juga?"

"Ketahuilah, tidak ada kata akhir jika kau belum memulainya. Tidak akan ada kata menyerah jika kau belum mencobanya. Percayalah. Jika kau telah melakukan keduanya, setelahnya kau bisa memutuskan jawabannya sendiri. Menyerah dan berakhir atau kau bangkit dan terus maju dengan keperjayaan dalam hatimu."

"Biarkah hal itu akan tetap menjadi sebuah tanda tanya dikemudian hari, hyung."

"Baiklah jika itu menjadi keputusanmu. Kita hanya menunggu waktu untuk menemukan jawabannya saja."

Kreekk...

Suara pintu kamar rumah sakit yang dibuka menjadi penanda berakhirnya pembicaraan antara Changmin dan Yifan. Tao dan Sehun masuk kedalam ruangan nan sepi itu dengan sebuah tas berukuran sedang di tangan Tao.

"Oh, dokter Shim? Annyeong."

"Annyeong, Sehuna. Annyeong, Tao-ssi."

"Annyeong, Changmin-ssi. Kapan kau datang?"

"Tadi, pagi-pagi sekali aku sudah tiba di sini. Tao-ya, jeongmal gumawo kau telah membantu menjaga Yifan dan memberitahuku tentang keadaanya."

"Ah, tak perlu seperti itu Changmin-ssi. Aku melakukannya karena hal itu adalah kewajibanku."

"Apa yang kau bawa?" sela Yifan di tengah pembicaraan Changmin dan Tao.

"Tas ini berisi pakaianku, hyung. Mulai hari ini aku akan tidur dan tinggal di sini untuk menemanimu. Tenang saja, aku sudah mendapat izin dari eomma."

Yifan hanya bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Mulutnya terbuka dan sedikit membualatkan matanya karena mendengarkan ucapan Sehun. Disaat yang bersamaan Changmin memandangnya seolah mengisyaratkan sesuatu yang hanya dia mengerti oleh dirinya sendiri.

"Kuharap semuanya akan baik-baik saja. Yifan-ah ingat perkataanku tadi, aku pergi dulu. Jika terjadi sesuatu dengan si bodoh ini segera beritahu aku."

"Tentu saja, Changmin-ssi. Selama ada kau pasti dia akan baik-baik saja."

Changmin tersenyum pada Tao sekilas dan segera pergi keluar ruangan itu dengan langkah tenangnya. Menyisakan kesunyian yang tiba-tiba kembali menyeruak di dalam ruangan itu.


WISH IN BELIEVE


Malam ini terlihat biasa-biasa saja bagi Yifan. Ia duduk termenung di atas ranjang rumah sakit menatap rembulan yang berusaha memberikan cahaya di tengah dinginnya cuaca dingin bersalju saat ini. Pandangan matanya terlihat hampa dan tak berarti, jika diperhatikan dirinya kini seperti raga yang tak bernyawa. Ia menyerah...

"Aarrghh..."

Yifan merasakan kepalanya yang sangat pusing dan sakit. Tampaknya obat penenang dan pereda nyeri tidak terlalu bereaksi terhadap penyakitnya. Yifan memegang kepalanya dan meremas rambutnya sangat kuat, ia berharap dengan cara seperti ini rasa sakitnya bisa berkurang. Ia juga mengerang tertahan menahan rasa sakit dikepalanya karena ia tak ingin Tao dan Sehun yang tertidur di sofa tak jauh darinya terbangun. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya yang sangat jelas terlihat pada wajahnya yang kini sudah terlihat pucat. Dirinya sudah tidak tahan menahan rasa sakit itu.

Yifan beranjak perlahan dari tempat tidurnya ia mencoba berjalan menuju sosok yang berada cukup jauh dari tempatnya berada. Namun, belum sampai setengah dari tujuannya kakinya tiba-tiba terasa lemas. Tubuhnya limbung dan terjatuh, menimbulkan suara kegaduhan yang cukup membuat Tao terbangun dari tidurnya dan segera menyadari hal itu.

"Omo! Oppa!"

Tao segera berlari menuju Yifan dan segera membantunya kembali ketempat tidur. Dapat ia rasakan tubuh tinggi itu bergetar saat ia memapah Yifan kembali keatas tempat tidur. Dilihat wajah Yifan yang sudah pucat dan penuh dengan keringat dingin yang sudah membasahi wajah tampannya, membuat hatinya sakit.

Ingin rasanya ia menggantikan posisi Yifan menggantikan seluruh rasa sakit yang namja-nya rasakan. Membiarkan namja-nya dalam keadaan sehat seperti sebelumnya. Tetapi pada kenyataanya saat ini hal itu hanya sebuah angan-angan yang tak akan pernah terwujud, mungkin karena Tuhan lebih menyayangi Yifan dari pada dirinya.

"Tao-ya..."

"Ne, oppa. Aku disini, mianhae aku tertidur. Katakan, kau ingin apa hm? Aku akan mengambilnya."

Yifan meraih tangan Tao yang sedang membaluh keringat yang ada di wajahnya itu dengan perlahan beralih menatap wajah Tao dengan pandangan sayu. Satu tanganya yang terlihat masih bergetar berusaha meraih wajah Tao dan mengusapnya dengan lembut. Yifan tersenyum.

"Mianhae, aku membuatmu bersedih kembali dan membuat air mata ini jatuh dari mata indahmu," ucap Yifan sambil menghapus air mata di pipi Tao.

"Gumawoyo, kau sudah datang memberikanku kebahagian disaat rasa sakit ini terus menjalar ditubuhku," lanjutnya dan kini ia mencium tangan Tao.

"Saranghaeyo, Tao-ya. Jangan pernah menyesal telah mengenalku yang rapuh ini, aku sangat bahagia bisa menjadi bagian dari hidupmu. Setelahnya, kau harus tetap bahagia," ucapnya lagi sambil mencium kening Tao. Kini air mata kembali tumpah dari dua pasang mata pasangan kekasih itu di tengah kesunyian malam yang dingin.

"Kajima oppa, nado saranghae, jangan meminta maaf dan berterima kasih padaku karena aku tak melakukan apapun untuk melangurangi sakit yang kau rasakan. Kau harus tetap kuat, karena kuyakin kau bisa sembuh. Sekarang apa yang kau inginkan oppa, aku akan melakukannya untukmu."

Yifan tak menjawab. Dituntunnya Tao agar mau tidur di sampingnya, lalu ia meraih wajah Tao agar mendekat pada wajahnya, mencium bibir plum itu sangat lama tanpa ada nafsu. Karena mereka hanya menyalurkan rasa cinta yang mereka punya. Lalu setelah itu Yifan kembali mengusap air mata yang jatuh dari mata indah itu.

Tao menerima perlakuan seperti itu dari namja-nya tak bisa menghentikan laju air matanya, malah air mata yang kaluar semakin banyak. Tanpa ragu ia menyandarkan kepalanya di kepala namja-nya itu, karena posisi ia tidur lebih tinggi dari Yifan. Sementara itu, Yifan memeluk pinggang ramping Tao dan membenamkan wajah pucatnya di leher yeoja-nya. Tapi tanpa Tao sadari, Yifan tetap mengerang tertahan merasakan sakit di kepalanya.

"Aku ingin tetap seperti ini, bisa memelukmu, bisa merasakan wangi tubuhmu, dan bisa merasakan hangatnya pelukanmu ini."

"Tanpa kau meminta pun, kau akan tetap bisa merasakan pelukkanku ini, oppa. Selamanya. Maka dari itu, kumohon berjuanglah untuk eomma-mu dan juga Sehun, dan jika aku boleh aku meminta berjuanglah untukku juga."

"Tapi ini sangat sakit sekali Tao-ya, jeongmal appo. Aku sudah lelah, aku sudah menyerah."

"Andwae oppa, jangan berkata seperti itu, kau akan sembuh aku yakin itu."

Yifan hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Tao. Ia bahkan tak yakin jika ia bisa melewati rasa sakit ini. Ia benar-benar ingin menyerah. Perlahan ia memejamkan matanya hingga tubuh itu terasa sudah tak bergetar karena manahan sakit.


WISH IN BELIEVE


"Yifan-ah... ini eomma, bangunlah nak."

Jaejoong menangis teriak di samping tubuh Yifan yang sejak semalam sudah tak sadarkan diri. Saat ia di kabari oleh Tao tentang keadaan putranya hingga siang ini Jaejoong tidak pernah beranjak meninggalkan kamar rawat Yifan. Rasanya ia sudah lelah karena berteriak terus pada dokter yang menangani putra sulungnya agar segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Karena sudah tidak ada lagi cara yang bisa dilakukan.

"Maafkan saya nyonya, sebenarnya semua ini saya lakukan karena Yifan memintanya sendiri. Maafkan saya karena selama ini saya tak pernah berhasil membutuknya."

Jaejoong menoleh dan menatap mata Changmin dengan tajam. Meminta sebuah penjelasan atas perkataanya. Karena menurut yeoja cantik itu, setiap ucapan yang keluar dari mulut Changmin mengandung banyak rahasia yang selama ini tidak diketahuinya.

"Sebenarnya saya sudah mengetahui penyakitnya sejak beberapa bulan yang lalu. Saat itu saya sudah menyuruh Yifan untuk segera mengobati penyakitnya, hanya saja Yifan selalu menolaknya dengan alasan hingga... maat nyonya. Yifan berkata kepadaku dia akan melakukannya hingga keluarganya kembali seperti semula. Belakangan ini ia tingal bersamaku. Mungkin saat ini adalah masa tersulitnya, hingga dia emosi dan egonya yang lebih mendominasinya. Yifan memutuskan dia tidak akan pernah mau melakukan operasi."

"Apa maksudmu? Kau seorang dokter, seharusnya kau bisa melakukan sesukamu. Kenapa kau malah menurutinya?!"

"Saya sudah berusaha nyonya, Yifan tetap bersikeras dengan keputusan bodohnya. Hingga saya mengetahui alasan sebenarnya dan kembali membujuknya, ia bahkan tetap tidak bergeming..."

"Alasan? Alasan apa?" potong Tao tiba-tiba, tidak sengaja ia mendegar pembicaraan itu sesaat memasuki ruangan rawat Yifan bersama Sehun.

"Tao-ssi, Sehuna."

"Marhebwa Changmin-ssi, apa alasannya melakakukan semua ini?" kembali Jaejoong mengingatkan.

"Dia akan melakukan operasi jika appa-nya yang memintanya, selama ini Yifan bertahan karena ia masih menyimpan sebuah harapan bahwa nantinya appa-nya mau mentapnya meskipun hanya sekali saja. Ia pernah bercerita kepadaku, jika dirinya sudah tak memiliki hubungan keluarga lagi dengan keluarga Anda, karena ia sudah berjanji bahwa dia tidak akan menampakkan dirinya lagi di hadapan appa-nya, Anda, dan juga Sehun. Meskipun hal itu sulit untuk ia lakukan. Oleh sebab itu, Yifan tetap bertahan dengan kondisinya saat ini, mencoba menjauh dari keluarganya sendiri dengan caranya."

Changmin sudah tak mampu menahan air matanya lagi saat ia menceritakan seluruh keluh kesah Yifan pada ibu namja itu. Tubuhnya jatuh berlutut di hapadan Jaejoong menyerah atas janjinya pada Yifan untuk selalu merahasiakan hal itu pada siapapun dan tanpda mempedulikan statusnya yang merupakan seorang dokter. Ia tidak mampu untuk melihat Yifan menderita.

"Yifan sudah seperti adik saya sendiri. Saya mohon, tolong bujuk appa-nya yang sangat di harapkannya saat ini nyonya. Saya berjanji akan melakukan hal terbaik untuknya. Saya mohon bujuknya appa-nya sebelum semuanya terlambat."

Changmin sudah tak mampu lagi untuk melanjutkan kalimatnya. Ia sudah jatuh terduduk diiringi isak tangis tak tertahan. Tao mendengar seluruh penjelasannya ia segera berlari keluar dari ruang kamar rawat namja-nya dan segera berlari menerobos lorong rumah sakit. Dadanya terasa amat sesak setelah mendengar penuturan dari Changmin tentang keinginan namja-nya yang bisa di bilang sangat berbahaya, bisa-bisanya Yifan bermain dengan takdirnya apakah Yifan tak tahu jika masih ada Tao, Sehun dan Jae ahjumma yang masih menyayanginya dan tak mau kehilangannya.

Sesampai di lobby rumah sakit segera ia menghentikan taksi yang terlihat di matanya dan segera menuju ke gedung perkantoran yang terlihat sangat besar dan megah. Wu Corp. Ia berlari-lari kecil mengabaikan setiap mata yang melihatnya dengan tatapan penuh dengan tanya, mengingat dirinya saat ini masih dalam keadaan kacau karena habis menangis. Langsung ia berhenti di sebuah meja resepsionis kantor tersebut. Dan dua security sudah menghentikan langkahnya.

"Ya! Lepaskan aku! Aku harus bertemu dengan pemilik perusahaan ini sekarang!"

"Maaf nona, orang seperti Anda tak diperbolehkan masuk."

"Wae?! Apa aku sekarang terlihat seperti orang gila, huh? Ya, aku memang gila! Kalian puas?"

"Pergilah nona sebelum kami bertindak kasar kepada Anda."

"Mwo?! Apa peduliku jika kalian bertindak kasar padaku. Sampai kapanpun aku tak akan takut dengan ancaman murahan kalian! Ya! Wu Yunho! Keluar kau sekarang!"

"Nona, diamlah dan segera angkat kaki dari kantor ini! Aish orang ini!"

"Ya! Wu Yunho! Kau takut padaku huh?! Keluar sekarang juga!"

Keadaan seketika menjadi ricuh. Orang-orang yang sebelumnya terlihat tenang dan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing kini di sibukkan dengan menonton dan menggunjing sosok yeoja manis yang berdiri di depan tepat di pintu masuk gedung kantor mereka, hingga kabar itu pun terdengar oleh sosok bertubuh besar, Yunho. Pria berbadan besar itu beranjak dari ruangan kerjanya menuju kerumunan orang yang berada di depan perusahaannya. Lalu ia menatap tajam pada yeoja yang berteriak memanggil namanya.

"Siapa kau? Berani sekali kau membuat ribut di perusahaanku?" suara berat dan dingin terdengar menyeramkan bagi siapa saja yang mendengarny, namun tidak pada yeoja bermata panda itu.

"Kau lupa padaku, huh?! Tidak kusangka orang besar sepertimu memiliki kapasitas otak yang sangat rendah, serendah dirimu!" sungut Tao tajam dan berhasil untuk membangkitkan suara ricuh di penonton.

"Apa kau sudah tak memiliki perasaan lagi? Oh, tentu saja. Kau saja tidak memiliki hati. Dirimu hanya dipengaruhi oleh harta, tahta, dan wanita saja. Apa kau nyaman dengan dirimu yang seperti ini? Tenggelam dalam sebuah penyesalan? Kau pikir aku tidak tahu bahwa dirimu sudah sangat menyesal saat ini?"

"Ya, bawa dia pergi. Dan jangan pernah biarkan dia menginjak kakinya di sini lagi."

Kedua security yang berdiri tak jauh dari Tao segera menarik Tao agar menjauh dari kerumunan. Namun, tidak mudah bagi security untuk menarik yeoja itu sebab tanpa sepengetahuan mereka yeoja itu jago wushu.

"Ya! Lepaskan aku, sialan! Kubilang lepaskan!" tubuh yeoja itu terus berontak hingga sebuah nama terucap dari bibirnya dan berhasil menghentikan langkah kaki sang penguasa perusahaan tersebut.

"Wu Yifan, dia putramu bukan?"

Yunho kembali menoleh menatap Tao dengan kening berkerut. Sepertinya ia mulai mengingat yeoja di hadapannya itu.

"Lepaskan dia," perintahnya.

"Apa kau sekarang sudah mengingatku? Aku yeoja yang bersama putra Anda di taman saat itu. Anak yang kau sia-siakan dan yang tidak kau inginkan untuk menampakkan dirinya lagi di hadapanmu, Wu Yifan. Kenapa kau berhenti saat aku menyebutkan namanya? Bukankah sekarang dia bukan bagian keluargamu lagi? Apakah kau sekarang merasa kehilangannya? Appa macam apa sebenarnya dirimu? Apakah kau sekarang seorang manusia? Bahkan kau tak pantas disebut sebagai manusia sementara hewan saja mempunyai nurani terhadap anaknya."

Tao menghentikan perkataannya, terdiam menatap tanah tempatnya berpijak. Hatinya sakit jika harus mengingat kembali kejadian yang dialami oleh namja-nya. Matanya terasa memanas hingga air matanya kembali membasahi pipinya.

"Maafkan aku yang sudah lancang kepada Anda. Yifan, dia sudah terlalu banyak mengalami kesulitannya sendiri. Dia sudah melakukan semua yang Anda inginkan, dan seperti yang Anda inginkan dia tak punya harapan besar untuk menatap Anda kembali. Mungkin juga dia sudah tak mampu lagi menapakkan dirinya pada Anda. Bukankah Anda sudah mengetahui keadaanya dari Sehun? Seluruh hasil pemeriksaan itu benar adanya. Yifan sakit, dan selama ini hal sepenting itu pun selalu dia simpan dan menanggungnya sendiri."

Tao kini sudah duduk bersimpuh di hadapan appa dari namja-nya, air matanya semakin membanjiri pipi mulusnya. Bahkan di antara sekian banyak orang yang melihat kejadian itu ikut menangis dan mengabadikannya dengan video di handphone mereka, bagaikan sebuah drama.

"Yifan kembali tidak sadarkan diri sejak semalam, keadaannya saat ini sangat kritis. Dokter yang menanganinya tidak bisa melakukan operasi karena permintaan dan janji yang mengikat di antara mereka. Yifan membiarkan dirinya semakin tersakiti kerena janji bodoh itu, janji yang tidak akan menampakkan dirinya lagi di hadapan orang-orang yang disayanginya. Dia berusaha untuk melakukan hal yang Anda inginkan, bahkan hal itu sulit untuknya. Sebuah harapan agar keluarganya kembali seperti dulu lagi, harapan bahwa appa-nya kembali seperti dulu lagi. Harapan dimana sang appa mampu menatapnya kembali meskipun hanya sekali hingga saat terburukpun akan dialaminya. Dia sudah menuruti keinginan Anda, dengan caranya sendiri. Semoga, Anda puas dengan apa yang ia lakukan kali ini."

Tao bangkit dari duduknya, lalu ia membungkukkan badan memberi hormat pada namja itu. Ia berjalan tertatih dengan langkah gontai tanpa peduli ia di pandang orang lain yang kini berubah bersimpati kepadanya. Ia berjalan menuju pinggiran jalan dengan pikiran dan pandangan hampa. Bahkan harapannya untuk melunakkan hati namja itu seakan sia-sia mengingat sikap dingin dari appa namjachingu-nya tetap terpancar dari diri namja itu.

Tao berhenti melangkah. Tubuhnya terasa sudah snagat lelah. Ia jatuh terduduk di pinggiran trotoar. Tiba-tiba tanpa ia sadari dia sudah mengejutkan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

"Aaaaaaaaarrrrrrrrrrggggggghhhhh..." teriaknya keras penuh dengan tangisan pilu.

Mungkin saat ini hanya tangisanlah yang bisa menjadi temannya. Huang Zitao, yeoja manis dengan cepat berubah menjadi yeoja rapuh kembali karena cinta. Cinta yang telah ditanamnya memlalui sebuah harapan dan keyakinan dirinya pada seorang namja yang mampu mengerti tentang dirinya.


WISH IN BELIEVE


Flashback

"Aku memiliki alasan melakukan hal itu appa. Aku tidak ingin keluarga kita hancur. Tidak masalah bagiku jika kalian tidak memikirkanku. Tapi kalian harus memikirkan Sehun. Dia membutuhkan kalian, dia membutuhkanmu appa."

"Oh, jadi kau pikir aku appa yang tidak bertanggung jawab? LALU KAU PIKIR DENGAN APA SELAMA INI KAU HIDUP, HAH?! SIANG MALAM AKU BEKERJA UNTUK KALIAN, MEMBIAYAI KEHIDUPAN KALIAN! TAPI INI BALASANMU PADAKU?!"

PLAK!

"Aku peringatkan padamu, sehebat apapun dan sepintar apapun kau, sekali lagi kau melakukan hal yang sama padaku maka aku tidak akan segan-segan untuk mengelurkanmu dari garis keturunanku! Dan aku tidak akan pernah mengaggapmu ada. Kau ingat itu."

###...

"Appa..."

"Apa yang kau lakukan di sana Wu Yifan!"

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu appa, apa yang sedang kau lakukan bersama dengan yeoja murahan itu? Tidak kusangka ternyata appa seperti ini."

"Dasar anak berengsek!"

###...

"Masih berani kau menginjakkan kakimu dirumah ini huh! Mati saja kau bereksek! Aku tidak berharap mempunyai anak sepertimu!"

"Lakukan sepuasmu appa. Lakukan bahkan hingga aku mati sekalipun. Asal jangan kau sentuh eomma-ku."

"Sudah berani kau rupannya Wu Yifan. Apakah ini yang dapati selama hidupmu? Setelah sekolah sekian lamanya?! Ini yang kau pelajari di setiap tingkatan sekolahmu, hah?!"

Plakk...

"Bawa barang-barangmu dari rumah ini dan jangan pernah kau kembali lagi, Wu Yifan. Namamu sudah aku hapus dari daftar keturunan keluarga ini."

"Aku akan melakukannya tanpa perlu appa mengucapkannya."

"Bahkan aku sekarang sudah tak sudi mendengar kau memanggilku seperti itu."

"Keberadaanku memang hanya sebentar di dunia ini, jadi kuharap appa tidak pernah menyesal setelah semua ini terjadi. Terima kasih sudah mengijinkanku untuk hidup layak selama ini. Aku tidak akan melupan kebaikanmu appa, dan selamanya appa akan tetap menjadi appa bagiku meskipun appa menetang hal itu."

"Baiklah, kurasa tak ada gunanya lagi kehadiranku di sini. Aku mungkin tidak tahu apakah appa sudah mengatakannya pada eomma tentang kejadian tadi itu atau belum. Aku tidak akan memikirkannya lagi. Kurasa itu sudah menjadi rahasia yang akan kubawa mati. Satu yang kuharapkan darimu appa, semuanya berawal dari appa dan appa-lah yang bisa menghentikannya."

###...

"Apa yang kalian lakukan! Masih berani kau menampakkan dirimu di hadapanku, Wu Yifan! Kau Wu Sehun, segera pulang! Atau kau akan selamanya keluar dari rumahku!"

"Andwae... jangan lakukan itu, jebal. Ini semua kesalahanku. Appa jangan menyalahkannya. Aku berjanji, setelah ini aku takkan menampakkan diriku lagi. Tapi tolong, aku hanya menginginkan satu permintaan saja dari appa."

"Jebal appa, berhentilah dari segala perbuatan yang appa lakukan di belakang eomma selama ini. Karena semuanya berawal dari hal terkutuk itu, appa. Dan berhentilah menyakiti hati eomma dan Sehun. Aku berjanji setelah ini akan pergi dari kehidupan kalian. Keundae, aku mohon kembalilah seperti appa yang dulu lagi. Appa masih memiliki tanggung jawab. Hanya itu saja permintaanku pada appa."

Flashback off

Yunho mengalihkan perhatiannya pada pemandangan di sepanjang jalan. Tubuhnya gemetar mengingat kilasan peristiwa dirinya dengan Yifan. Ia menggeleng kuat meredam segala pikirannya pada kejadian yang telah berlalu itu.

Sudah dua hari berlalu semenjak Tao memberi kabar tentang keadaan Yifan padanya. Tidak bisa dipungkuri bahwa ia sangat ingin tahu dan khawatir tentang perkembangan kondisi putranya. Tetapi, apakah Yifan akan meneriman kedatangannya? Apakah istri dan putra bungsunya bisa memaafkannya? Setelah apa yang ia lakukan pada mereka selama ini?

"Antarkan aku ke Seoul National Hospital sekarang," kalimat itu akhirnya berhasil keluar dari bibir hatinya tanpa cela.

Ia tak mampu lagi untuk membohongi dirinya sendiri, Yunho sangat merindukan anaknya dan keluarga kecilnya. Yunho sangat ingin melihat wajah putra yang selalu ia banggakan. Terutama, dirinya ingin meminta maaf dengan keluarga kecilnya dan memulai semuanya dari awal lagi.


WISH IN BELIEVE


Banguna bercat putih itu tampak lengang meski waktu belum menunjukkan tengah malam. Tao berdiri di depan jendela kaca yang tertutup rapat, memandang keluar bangunan bertingkat dua belas. Tidak jauh dari tempatnya berdiri duduk seorang yeoja cantik yang tampak sangat kacau. Tao melirik sekilas yeoja tersebut dan kemudian dia melangkahkan kakinya menuju tempat yeoja itu berada.

"Eomma, lebih baik sekarang kau beristirahat di dalam bersama Sehun. Di sini dingin. Lagi pula sekarang sudah pukul sepuluh malam. Eomma pasti lelah. Biarkan saya saja yang menunggu disini."

Kenapa Tao memanggil ibunya Yifan dengan eomma? Karena Jaejoong sendiri yang memintanya, mengingat Tao adalah yeoja yang pernah dibawa dan diperkenalkan oleh Yifan kepada nyonya Wu di tambah semenjak Yifan masuk rumah sakit Tao selalu merawat putra sulungnya dengan baik.

Senyuman tidak pernah lepas dari wajah sendu Tao setiap kali berbicara dengan Jaejoong. Entah kenapa ia merasa perlu tersenyum kepada ibu yang telah melahirnya namjachingu-nya kedunia ini, mungkin karena hal itu bisa mengurai beban kesedihan pada yeoja cantik itu.

"Ne, Tao-ya. Kamsahamnida. Tapi lebih baik kau yang beristirahat sekarang, karena seharian ini kau sudah bekerja dan menemani Yifan. Aku tak ingin kau sakit, hanya kau yang kuharapkan saat ini, Tao-ya."

"Arraseo, eomma. Aku akan beristirahat."

Jaejoong menatap Tao lama. Tangannya tergerak untuk mengusap lembut wajah Tao. Ia tahu jika Tao amat sedih melihat keadaan putranya, sama halnya dengan dirinya. Jaejoong memeluk yeoja manis itu. Tak jauh dari tempat mereka, sepasang mata diam-diam mengamati kejadian yang mengharukan itu.


WISH IN BELIEVE


Yunho berjalan perlahan di sebuah lorong yang terlihat sepi. Langkahnya terhenti saat melihat dua orang yeoja yang sangat dikenalnya sedang berhadapan seperti membicarakan sesuatu. Ia melihat sebuah pemandangan yang mampu membuat matanya sendu saat kedua orang tersebut saling berpelukan untuk melepaskan rasa lelah yang mereka rasakan.

Yunho kembali melangkahkan kakinya dengan pelan saat Jaejoong istrinya sudah beranjak memasuki sebuah ruangan yang diyakininya sebagai kamar tempat putranya dirawat. Pandangannya kali ini fokus pada sosok gadis yang sedang duduk sendiri di sebuah bangku panjang. Langkahnya kembali berhenti tidak jauh dari gadis itu, tepat di depan sebuah pintu berkaca kecil yang bisa memperlihatkan keadaan di dalamnya. Tangannya terangkat meraih kaca bening seolah sedang mengusap seseorang di dalamnya.

Tao termenung di sebuah bangku yang tak jauh dari pintu masuk kamar rawat namjachingu-nya. Terlalu banyak yang ia pikirkan sehingga ia tak menyadari seseorang yang sejak tadi sedang berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Dirinya cukup dibuat terkejut dengan pemandangan di depan matanya kini yang terasa seperti tiba-tiba itu. Yunho, appa Yifan akhirnya datang untuk menemui anaknya.

"Ahjussi... annyeong haseyo," sapanya gugup dan sedikit terbata-bata.

"Ah, oh, annyeong."

Yunho merasa kegiatannya diinterupsi oleh suara seseorang. Sedikit kecewa karena dia belum bisa melihat langsung keadaan putranya itu. Namun, dirinya lebih terkejut lagi saat mengetahui orang yang menyapanya. Tao kini berdiri tepat di samping tubuhnya. Dengan hanya menjawab sekedarnya saja, Yunho segera membalikkan badannya dan pergi meninggalkan gadis itu.

"Ahjussi, chamsimannyo," panggil Tao tiba-tiba dan berhasil menghentikan langkah Yunho.

"Ahjussi, tidak ingin melihat Yifan?" tanya Tao ramah.

Yunho mendengar pertanyaan itu dengan seksama. Ia sangat ingin melihat putranya tanpa harus ditanyakan lagi. Hanya saja egonya masih menguasai dirinya. Ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Tao tanpa berbalik menatapnya.

"Yifan pasti sangat dengan jika ahjussi datang," sergah Tao cepat sebelum Yunho semakin menjauh.

"Meskipun saat ini Yifan masih dalam keadaan tidak sadar, aku yakin dia dapat merasakan kau datang. Temuilah dia, ahjussi," lanjut Tao lembut. Namun yang didapatnya justru langkah kaki Yunho semakin menjauh.

'Terima kasih, ahjussi. Aku tahu kau sangat menyayanginya. Yifan akan sangat senang jika mengetahui hal ini. Kau telah membuktikkan bahwa harapnnya tidak sia-sia kali ini. Ahjussi tahu? Dia selalu yakin bahwa ahjussi akan datang untuk menemuinya. Dan hal ini kini sudah terwujud, terima kasih ahjussi,' batin Tao. Sebuah senyuman berhasil terbentuk dari bibir kucingnya kali ini.


WISH IN BELIEVE


Yunho duduk termenung mamandang langit malam tanpa bintang di taman rumah sakit tempat Yifan dirawat. Langkahnya terhenti ketika dirasa sudah cukup jauh dari ruangan anaknya. Tanpa dipedulikan cuaca dingin yang bersalju cukup tebal, ia duduk di sebuah bangku panjang. Dirinya merasa sudah tak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan keluarganya, meski kata hatinya sangat menginginkan hal itu.

Kenapa penyesalah itu datang di akhir? Kenapa tidak sejak awal saja dirinya menyesali segala keegosiannya? Benarkah dirinya sangat bodoh?

"Bodoh! Hah, yeoja itu benar. Aku sangat bodoh," gumamnya.

"Semuanya sudah membutakan diriku. Aku telah meninggalkan mereka, padahal mereka adalah harta berhargaku. Apakah tidak ada jalan lagi bagiku untuk memperbaiki semuanya?"

Yunho terus bergumam dalam hatinya sendiri di taman hingga dirinya tertidur dalam dinginnya malam. Tanpa ia sadari seseorang sedang memperhatikan dirinya.

Tao mendekati sosok yang sedang tertidur di taman rumah sakit dengan langkah teratur. Dirinya sengaja mengikuti Yunho untuk memastikan namja itu dalam keadaan baik-baik saja. Ia lalu menyelimuti tubuh Yunho dengan selimutnya untuk mengurangi dinginnya malam. Tao cukup tersentuh ketika ia tahu bahwa sosok namja dingin itu pada akhirnya telah menyadari apa yang telah ia dilakukannya. Tao duduk tepat di samping Yunho dengan senyum simpulnya.

"Ahjussi, tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau berusaha dan berubah. Tidak ada kata bodoh bagi orang yang mau mencoba dan menyadari kebodohannya. Masih banyak jalan yang bisa ahjussi lalui untuk merubah semuanya. Hanya saja selama ini ahjussi masih terfokus pada sebuah jalan di hadapan ahjussi tanpa menyadari masih banyak jalan lain yang terbuka lebar untuk membawa ahjussi kembali bisa merasakan kebahagian keluarga yang selama ini hilang."

Tao berdiri dan melangkah meninggalkan Yunho sendiri di bangku taman itu. Hatinya mungkin sudah sedikit lega melihat perubahan yang terjadi pada namja itu. Setidaknya seberkas cahaya kembali menerangi keluarga yang sudah di ambang kehancuran. Yifan kembali membuktikannya, membuktikan seluruh harapan yang selama ini terdapat dalam keyakinannya.


WISH IN BELIEVE


...

Suasana sore menampakkan cahaya surya kemerahan di ufuk barat. Cahaya yang mampu menciptakan siluet-siluet indah di atas bumi dengan goresan yang memkau. Yunho berjalan menyusuri taman.

"Tempat ini..."

Yunho mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Kakinya terus melangkah seperti menuju sebuah arah yang tidak di mengerti olehnya. Seseorang berpakain putih mencuri pandangannya. Ia berjalan pelan, tidah ingin menghentikan alunan senandung yang lembut itu.

Yunho terdiam saat dirinya tiba di samping pemilik suara yang mengalun lembut tersebut. Matanya membulat menangkap sosok namja yang masih bersenandung. Terlihat wajah damai yang di perlihatkan oleh sosok itu sambil memejamkan matanya dengan menengadahkan wajahnya ke atas merasakan terpaan angin di musim gugur.

"Yifan-ah.."

Yunho akhirnya bersuara lirih. Ia tak mungkin menyimpan rasa rindunya pada sosok itu. Ia bahkan terlalu rindu, terlalu membutuhkan sosok itu yang ada di hadapnnya kini.

Senandung indah itu terhenti. Yifan tersenyum dengan posisi yang masih sama. Mengadahkan wajah tampannya dan membiarkan angin menerpa wajahnya.

"Yifan-ah... benarkah ini dirimu?"

"Appa," Yifan menolehkan wajahnya menatap Yunho dengan gummy smile-nya.

"Senang bisa bertemu denganmu lagi, appa. Terima kasih sudah datang menemuiku."

Yifan berdiri dari tempatnya duduk tadi dan memberi hormat pada appa-nya.

Yunho kembali terkejut dengan sikap Yifan padanya yang terlihat aneh di matanya. Namja itu membungkuk hormat padanya dan segera berbalik membelakanginya. Dengan langkah perlahan Yifan meninggalkan tanpa sepatah kata apa pun.

"Yifan-ah..." panggilnya.

Langkah itu berhenti. Yifan kembali menoleh menatap dalam diam penuh senyuman. Tubuhnya itu kembali menjauh. Meninggalkan Yunho yang masih mematung si tempatnya.

"Kenapa kau pergi, Yifan-ah?"

Yunho sudah di buat panik oleh sikap Yifan yang hanya diam kepadanya. Pertanyaan demi pertanyaan kembali terlontar di bibirnya. Hal berbeda kali ini diperhatikan oleh sosok itu. Yifan menoleh dengan raut wajah yang sulit di tebak.

"Bicaralah, marahlah padaku jika kau ingin marah. Asal, jangan seperti ini padaku, Yifan-ah.." ujar Yunho pada putranya.

Yifan kembali berbalik dan semakin jauh meninggalkan appa-nya. Melihat hal itu, langkah Yunho tergerak untuk mengikuti Yifan. Ia tak ingin terjadi untuk kedua kalinya. Ia sangat membutuhkan anaknya berada di sampingnya.

"Yifan-ah, kembalilah nak..." sahut Yunho putus asa mengejar Yifan yang terasa semakin jauh. Ia menghentika langkahnya dan terus menatap punggung Yifan yang masih tertangkap di pandangan mata musang-nya.

...

Yunho tersadar dari mimpi singkatnya setelah sebuah bola milik seorang bocah kecil mengenai dirinya. Ia terperanjat kaget saat mendapati bahwa hari sudah pukul tujuh pagi. Lebih terkejut lagi saar menyadari cuaca dingin dan salju terdapat dimana-mana. Ia hendak beranjak, namun ia segera menyadari sesuatu yang menutupi tubuhnya.

Yunho bangkit dari tempatnya, merapihkan selimut yang menempel di tubuh kekarnya. Belum sampai ia pada kamar yang dimaksud, kembali ia disuguhkan sebuah pandangan yang penuh kepanikan dan kegelisahan. Terlihat jelas bagaimana ia melihat anak beserta istrinya menangis sesegukan di depan kamar ruang rawat Yifan.

'Apa yang sebenarnya terjadi?' tanyanya dalam hati.

Jantungnya berdegup kencang melawan rasa takut yang tiba-tiba mencengkramnya. Dirinya tidak berani untukmelangkahkan kakinya untuk melangkah ke tempat itu meski dirinya sangat ingin mengetahuinya.

Tao yang saat itu ada bersama Jaejoong dan Sehun hanya terdiam diri tampa ekspresi dan reaksi apapun. Yeoja manis itu berdiri dan berjalan dengan tatapan kosong ke arah tempatnya berada. Apakah yeoja itu mengetahui keberadaannya? Yunho segera mundur dari posisinya yang sedang bersembunyi.

"Anda tidak perlu bersikap seperti itu, ahjussi."

Suara itu mengejutkan Yunho. Yunho menengadahkan kembali kepalanya di hadapan yeoja manis itu. Ternyata pikirannya benar, yeoja itu mengetahui keberadaanya. Tapi bagaimana ia bisa mengetahuinya? Kembali pikirannya menerawang penuh tanya.

"Apakah Anda tidak bosan untuk bersikap seperti ini terus? Jika Anda datang kemari untuk menjenguk Yifan, maka lakukanlah. Jangan mempersulit sesuatu yang seharusnya berjalan dengan lancar."

"Tao-ssi..."

"Ahjussi heran kenapa aku bisa mengetahui keberadaan ahjussi di sini? Tidaklah sulit bagiku untuk menyadari ahjussi. Sudut mataku menangkap bayangan ahjussi di sini."

"A ne, bisakah kita berbicara sebentar?"

"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan ahjussi. Cukup ikuti kata hati Anda."

Tao dengan cepat menyanggah perkataan Yunho tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkannya. Setetes cairan bening meluncur dari kedua matanya. Tao kembali meninggalkan Yunho yang masih terdiam dengan banyak pertanyaan yang singgah di kepalanya. Akhirnya Yunho mengikuti langkah yeoja itu.

Langkah Tao terhenti tepat di depan kamar tempat Yunho di rawat, Yunho pun ikut terhenti. Rasa ragu bergejolak dalam dirinya, antara ia dan tidak. Sementara istri dan putra bungsunya masih menangis tanpa menyadari kedatangannya.

"Tao nuna..." Sehun bersuara dan segera memeluk Tao yang sudah berada di dalam kamar.

"Sehuna..."

Tao dengan lembut memanggil Sehun yang ada dalam pelukannya. Diusapnya pelan kepala Sehun sambil melepas pelukan yang perlahan longgar. Tao perlahan melihat sosok di belakang tubuhnya.

"Appa..." teriak Sehun dengan penuh haru. Reaksi serupa juga di tunjukan oleh yeoja cantik yang sejak tadi menangis.

"Yunnie..." suara lirih Jaejoong.

Suasana haru benar-benar sedang menyelimuti mereka. Air mata pun akhirnya tumpah ruah. Yunho tak bisa menyembunyikan rasa penyesalannya. Ia lalu berjalan mendekati istri dan putra bungsunya secara perlahan.

"Jae, aku tahu mungkin ini sulit. Tapi tolong maafkan semua sikap bodohku yang sudah menyianyiakanmu, menyianyiakan anak kita, dan keluarga kecil kita. Jeongmal mianhae, Jae. Aku sekarang benar-benar menyesal, Jae.." ucap Yunho pada akhirnya sambil bersimpuh pada istrinya.

"Yunnie... aku sudah memaafkanmu. Aku tahu kau nantinya akan kembali menjadi suamiku dan kembali menjadi appa untuk anak-anak kita."

"Jeongmal gumawo, Jae."

"Nde, dan terima kasih kau sudah mau datang kemari, aku yakin Yifan pasti sangat senang jika dia tahu kau datang kemari."

"Appa..." panggil Sehun.

"Sehuna, appa minta maaf jika selama ini appa bersikap kasar padamu. Kau mau memaafkan appa kan?"

"Appa, aku sudah memaafkanmu."

"Gumawo, kau memang anak appa yang hebat."

Saat ini Yunho tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena istri dan putra bungsunya sudah mau memaafkan kesalahannya. Ia segera memeluk kedua orang yang sangat di sayanginya dalam pelukan hangatnya, ia sangat merindukan pelukan ini.

.

.

.

TBC

RnR?

Terima kasih yang sudah mau menyempatkan waktunya untuk membaca ff ini, juga yang mau memfavoritkan ff ini, dan yang mau memfollow ff ini.