Akhirnya, turnamen sepak bola telah tiba. Dan keadaan luar biasa melelahkan daripada saat latihan kemarin. Aku bahkan tidak sempat tidur tadi malam karena sibuk mengurusi seragam, memeriksa alat-alat musik dan banyak lagi. Mungkin Aku baru tidur jam dua pagi, tapi kemudian Chanyeol membangunkanku tepat pukul 2:25 pagi karena ada terompet yang bermasalah. Apa-apaan itu? rasanya baru kemarin aku memperbaiki sampah itu. Mungkin saatnya untuk membeli yang baru. Dan ya, pada dasarnya aku hanya terlelap selama 25 menit sebelum aku harus menyeret tubuhku yang lelah dan letih ini ke Stadium tempat turnamen berlangsung.
Matahari pagi bersinar terik tanpa ampun menyorot kami, beberapa adik kelas dari anggota marching band jatuh pingsan. Aku buru-buru menghampirinya dan meraih kotak pertolongan pertama yang untungnya selalu kami bawa kemanapun (salah satu tanganku memegang walkie talkie, dan satunya lagi membawa kotak P3K), bagaimanapun, hari ini benar-benar hari yang sungguh kacau.
"Ya! Jangan pingsan!" Yah, seperti inilah. Aku cepat-cepat berbalik dan mendapati Jinwhan, pemain klarinet, yang wajahnya sepucat awan tengah di boyong oleh Hanbin. Aku meraih handuk basah dan mengulas wajahnya. Tidak hanya harus menjaga mereka agar tetap bernyawa, aku juga harus selalu berjaga-jaga mendengarkan dan membalas pesan yang datang dari walkie-talkie sepanjang waktu. Rasanya aku akan pingsan juga.
"Taemin pada Kyungsoo. apakah Band-nya sudah siap?" Aku mengrenyit ketika mendengar namaku dipanggil dari bendaitu. Aku membalasnya setengah hati.
"Kyungsoo pada Taemin. Kami sudah siap."
"Kalau begitu silahkan bersiap di posisi." Mendengar itu, aku langsung menepuk punggung beberapa anggota marching band mengisyaratkan mereka untuk bersiap-siap sekaligus menyemangati mereka sebelum kemudian aku menghubungi Sehun lewat walkie-talkie. Dia kelihatannya lenyap dari pandangan kami dari tadi.
"Kyungsoo pada Sehun. Silahkan bersiap di posisi kalian. Aku akan mengirim bandnya sesaat lagi kesana."
"Sehun pada Kyungsoo. Iya. Aku sedang menuju kesana." Aku bertaruh dia tadi sedang menggoda gadis-gadis di tempat lain. Aku menggelengkan kepalaku sebelum berjalan untuk memandu adik kelas menuju posisi mereka masing-masing. Tapi kemudian, aku mendengar namaku dipanggil lagi dari walkie talkie.
"Junmyeon pada Kyungsoo. Jangan lupa rencana kita, ya?" Eh, si brengsek ini. Dari mana dia datang? Aku menatap walkie-talkie itu dengankebingungan sebelum memutuskan untuk membalas.
"Kyungsoo pada Junmyeon. Ya, biar aku menyelesaikan ini dulu."
Walkie-talkie itu mendadak senyap untuk sesaat, sebelum kemudian sebuah suara tegas yang sangat aku kenal terdengar dari benda itu.
"Tolong jangan bermain-main dengan walkie talkie."
Aku mendengus, dan tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa, menghasilkan tatapan bingung dari beberapa junior yang ada disektarku. Aku cepat-cepat menggelengkan kepala untuk menghentikan tawaku ini.
Heh,Tadi itu suara Jongin.
Marching band mulai bergerak memasuki stadium, yang berarti tugasku selesai sampai disini dan aku tidak perlu berada disekitar sini lagi (karena kini giliran Sehun dan Chanyeol yang mengatasi sisanya). Tugasku yang baru adalah, bagaimanapun, memeriksa monitor untuk mengamati keadaan apakah segalanya berjalan lancar atau tidak, lalu melaporkan semuanya pada Sehun.
Aku berjalan setengah berlari menuju area dibawah kursi penonton (dimana ruang monitor berada). Aku menyadari kalau disitu ada staf dari berbagai macam seksi, seperti tim sorak, tim teknis dan tim perancang, mereka semua mengenakan baju terusan dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tidak memerlukan waktu lama bagiku untuk menemukan monitor yang bisa kubantu karena seorang anak kelas 10 kini melambaikan tangannya memanggilku.
"sebelah sini, Hyung!"
Aku tersenyum dan berlari menghampirinya kemudian duduk disamping kursinya. Aku bisa melihat marcing band dan pasukannya sedang bergerak menuju stadium dari monitor ini. Sejujurnya, Aku tidak terlalu menaruh perhatian pada monitor, karena aku terlalu sibuk membicarakan konser Justin Bieber yang akan diadakan di London dalam waktu dekat bersama Jungkook, karena ternyata dia juga penggemar Justin Bieber sama sepertiku (Chanyeol dan Sehun tidak boleh tahu tentang hal ini).
Seperti perkiraanku, aku melihat punggung Jongin untuk sesaat. Dia mengenakan baju terusan dan sedang berjalan kesana kemari disekitar situ (Dia bekerja di tim teknis, Aku baru sadar hal itu setelah melihat dia mengenakan seragamnya). Bagaimanapun, aku ingin berpura-pura untuk tidak terlalu memperhatikannya dengan terus berbicara pada Jungkook, namun anak itu tiba-tiba saja terdiam.
"Ada apa, Jongin Hyung?"Aku langsung menoleh kebelakang saat Jungkook mengatakan itu. dan aku menemukan Kim Jongin dengan tidak sopannya bediri dibelakangku dengan satu tangan melingkar di sandaran kursiku (dan sebuah headphone besar terpasang dikepalanya) sedang tersenyum manis kepada Jungkook.
"bolehkah aku duduk disini? Ayo bertukar posisi," dia berbicara pada Jungkook. Aku benar-benar ingin memukul kepalanya saat itu juga. Jungkook jelas saja akan menyerahkan tempatnya dengan mudah, karena Jongin telah menyalah-gunakan statusnya sebagai seorang senior disini. Dasar!
Dia masih punya nyali untuk memberiku senyuman terlebarnyasebelum melepaskan headphonenyadan menyerahkan benda itu pada Jungkook,
"Nah, bawa ini juga. Junmyeon sedang memberikan perintah di saluran no 2." Dariapa yang aku tahu, itu namanya melimpahkan tanggung jawab pada oranglain.
"Apa dia bisa melakukannya?" Aku berbisik pada Jongin dan melirik Jungkook yang secara suka rela mengenakan headphone itu.
Jongin hanya tersenyum santai sebelummengenakan headphone yang tadi dipakai Jungkook. Sekarang, kami sama-sama mendengarkan saluran no 11. "tentu saja, aku tahu dia bisa"
Jongin berkata seraya menekan beberapa tombol pada keyboard untuk mengganti sudut pandang kamera agar bisa melihat marching band dengan lebih jelas, "tapi aku lebih mengetahui dirimu.."
"berhenti mengoceh.." Aku memutar bola mata dan menyuruhnya untuk menyingkir tapi harus aku akui kini aku merasa senang karena saluranku sekarang jadi terlihat lebih jelas. Aku akan memberi tahu Sehun lewat walkie-talkie saat aku menyadari ada kesalahan nanti.
Tidak terlalu lama, pasukan-pasukan dan anggota terakhir marching band keluar dari stadium. Aku mendesah lega karena semuanya berjalan denganlancar. Yah, kecuali Jimin yang memainkan serulingnya di nadayang salah, dua kali. Ingatkan aku untuk menendang bokongnya nanti.
"Jadi tugasmu sudah selesai kan hari ini?" Jongin bertanya kepadaku saat dia mengganti saluran monitor yang mengarah ke tim sorak, seperti sebelumnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa karena secara teknis, tugasku memang sudah selesai, tapi.. belum sepenuhnya.
"Aku harus menemui Junmyeon."
"Oh iya benar, Apa maksud ucapannya tadi?" Jongin mengambil kesempatan itu untuk bertanya padaku.
Aku meregangkan badan sebelum menjawabnya, "Kau tahu, dia sudah membantuku mengatasi masalah uang band.. Dia memintaku untuk membagi beberapa minuman dari kelompok marching band ke tim sorak karena sama sekali tidak ada yang membantunya dalam hal itu." Aku menyelesaikan kalimatku dan bersiap-siap beranjak dari tempat itu untuk melakukan apa yang baru saja aku katakan, tapi Jongin dengan cepat menarikku untuk duduk kembali.
"kalau begitu, kau tidak harus pergi kesana."
"Kenapa tidak?" Aku mengrenyit bingung, dan Jongin menyeringai ke arah monitor seolah-olah tim sorak telah meracuninya. Namun, Aku rasa Jongin-lah yang telah meracuni seseorang.
"karena… aku sudah membayarnya kembali. Sekaligus mengembalikan kalung ber-plat itu padanya," Jongin menjawab dengan singkat sebelum kemudian berbicara melalui walkie-talkie. "Monitor pada tim sorak. S-30 melakukankesalahan, tolong diatasi."
"Tunggu! kita belum sekesai bicara!" Aku menarik lengan bajunya yang membuat tangannya berhenti mengetik di keyboard.
"Ya, pembicaraan kita sudah selesai." Jongin membalasku seraya tertawa kecil sebelum kembali menyesuaikan sudut pandang kamera.
"Apa-apaan? Kau sudah mengembalikan uangnya? Memangnya sekolah sudah memberimu uang untuk klub kami?"
"belum..?" aku mengernyit semakin kuat.
"lalu?! bagaimana bisa kau mengembalikan uang Junmyeon?!"
"Rahasia. Monitor ke tim sorak. Tolong periksa E-14." Si brengsek ini terus saja menghindari topik pembicaraan. Aku cemberut merasa jengkel bukan main karena tingkahnya itu sebelum berdiri memutuskan untuk beranjak dari tempat itu.
"Tapi aku tetap harus pergi. Aku sudah berjanji padanya."
Dan Jongin, untuk kedua kalinya menarik tubuhku kembali untuk duduk di kursi ini. Oh tentu saja tuan muda yang- selalu-melakukan-apa-saja-seenak-jidat!
"apa kau tahu cara mengendalikan monitor ini?" Jongin malah bertanya padaku yang secara ragu kubalas dengan sebuah anggukan. "apa kau mau memakai baju terusan ini?" dia bertanya lagi, dan kini aku jadi semakin ragu, meskipun dalam hati aku benar-benar ingin mengenakan seragam impianku itu, tapi aku tidak yakin dengan apa yang ada dikepala Jongin saat ini, alih-alih, aku hanya menatapnya dengan alis yang berkerut. "Jangan terlalu banyak berpikir. Aku tahu kau sangat ingin memakainya, kan? Ikut Aku. Taeyeong, bisakah kau menangani monitor ini sebentar? Aku akan kembali secepat mungkin," Dia berbicara pada seorang junior yang sedari tadi terlihat sibuk mendiskusikan sesuatu bersama temannya, kemudian Jongin menyeret lenganku keluar dari ruangan.
Apa lagi rencananya kali ini?!
Jongin membawaku ke sebuah ruangan yang mana setahuku adalah ruang ganti untuk tim sorak. Areanya saat itu sedang sepi karena mereka semua sudah bersiap di pintu masuk stadium. Jongin mendorong tubuhku hingga punggungku membentur pintu loker, tidak terlalu keras tapi itu cukup untuk membuatku meringis, aku ingin membentaknya tapi kemudian suaraku terhenti di udara saat Jongin tiba-tiba saja menurunkan resleting baju terusannya.
"Y-YAK! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!" Apakah saat ini dia sedang berniat untuk memperkosaku?! Tidak bisa! Lantainya terlalu keras-Tunggu! Maksudku, Aku tidak akan membiarkannya melakukan itu!
Dia mengabaikan protesku dan terus menanggalkan baju terusannya. Aku mencoba menyingkir dari hadapannya tapi Jongin menghalangi jalanku dengan tangannya yang ia tumpukan ke loker disamping kepalaku, saat aku mencoba keluar dari jalan yang satunya lagipun dia melakukan hal yang sama. Pada ahirnya aku hanya bisa menutup rapat-rapat mataku dan mengutuk Jongin habis-habisan dalam hati. Aku bisa mendengar suara pakaian yang sedang di tanggalkan tanpa henti.
Setelah beberapa saat, aku merasakan ada sesuatu yang dilemparkan ke bahuku. Aku membuka satu mataku dan melihat Jongin berdiri disana mengenakan kaus putih juga sepotong boxer. Dia mendengus dan menggelengkan kepalanya seolah ingin menertawaiku. "Ayo tukar. berikan pakaianmu." Heol, gampang sekali kau bicara! Kau beruntung karena mengenakan baju terusan yang berarti kau mengenakan baju lain di dalamnya. Sementara aku? Aku hanya mengenakan sepasang kaos dan celana jeans! Jika aku melepaskannya maka..
"Mati saja sana! Aku tidak mau! aku sudah tidak ingin memakainya lagi."
"Tapi aku sudah terlanjur melepaskannya. Ayolah Soo! Kita tidak seharusnya meninggalkan Taeyeong terlalu lama mengawasi monitor."
Setelah dipikir-pikir, dia ada benarnya juga, maka dengan sedikit ragu, aku menunjukkan jariku kearahnya. "Kalau begitu, kau harus berbalik!"
Dan Jongin sontak tertawa terbahak-bahak.
Apanya yang lucu?
"kenapa? Kau malu? Kenapa harus malu, kita kan…" aku bersumpah akan mencekik lehernya sampai patah jika dia sampai mengatakan hal yang tidak-tidak, "..sama-sama pria." Meskipun dia mengatakan itu, ada seringai penuh arti saat dia mengatakan kata 'sama-sama pria' barusan. Si bajingan ini!
Memang biasanya aku selalu menyerah pada orang lain dengan mudah, tapi tidak untuk kali ini!Aku masih menunjukkan jariku kearahnya, tetap menyuruhnya untuk berbalik.
Dia terkekeh seraya menuruti perintahku dan berkata, "padahal aku hanya membutuhkan celana jeansmu. Kau tidak harus melepas semuanya karena aku sudah punya kaos sendiri. Kau harus tetap mengenakan kaos di balik baju terusan itu, jika tidak nanti bisa gatal-gatal, kau tahu sendiri kan." Oh iya. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana? Aku menatap baju terusan itu dengan bingung sebelum memutuskan untuk melepas jeans ku (tapi tetap saja aku tidak bisa melakukannya sementara Jongin menontonku 'kan?) dan melemparkannya pada Jongin. Jadi sekarang kami mengenakan pakaian yang bukan milik kami masing-masing.
Aku melihat baju terusan berwarna hijau yang aku kenakan ini dengan perasaan bangga, aku merasa sangat keren dan hidupku terasa lengkap sudah. "Aku tidak akan mengembalikan ini padamu," Aku mengancam seraya memeletkan lidahku padanya.
"Silahkan saja, kalau kau tidak punya malu mengenakan itu sampai rumah, silahkan" Dia berkata seraya tertawa kecil sebelum kemudia menyeret lenganku lagi keluar dari ruang ganti ini.
Aku berjalan kembali ke area monitor dengan sebuah senyuman tercetak jelas di wajahku, yang menghasilkan tatapan kebingungan dari Jungkook, mungkin dia heran kenapa malah aku yang datang saat tadi orang yang memerintahkannya adalah Jongin haha.Aku bisa mengatasinya nak, tenang monitor adalah hal yang kecil,percaya padaku.
Aku meregangkan sedikit otot-ototku sebelum mengambil headphone yang tergeletak di meja dan mengenakannya dikepalaku. Aku menekan tombol untuk memperjelas gambar dan melihat Junmyeon tersenyum saat memberi instruksi pada junior-juniornya. Dan itu dia, Jongin sedang berjalan kearah Junmyeon dengan sebotol minuman ditangannya.
Aku tidak bisa menahan tawaku melihat ekspresi terkejut Junmyeon saat dia menyadari kalau Jonginlah yang melayanninya, dan bukannya aku. Dia dengan cepat menekan walkie talkie nya dan meneriakkan namaku melalui saluran 11, "Kyungsoo! Apa kau sedang mengerjaiku?!" Aku bisa mendengar tawa Jongin samar-samar dibelakang. Wajah Junmyeon yang sedang kesal dan wajah nakal Jongin yang sedang mengipasi dirinya disampingnya benar-benar terlihat lucu. Aku sampai harus mati-matian menahan tawaku agar tidak mengganggu konsentrasi orang-orang.
Waku berlalu dengan cepat. Pertandingan berlangsung dengan cukup ricuh, aku tidak bisa menahan semangatku bersama mereka semua saat mengamati monitor ini (aku bisa melihat segala hal yang terjadi).
Aku mengambil alih tugas Jongin mengawasi monitor juga memeriksa berbagai peralatan. Ada lumayan banyak masalah yang terjadi, aku sampai harus terpaksa berjalan ke kursi penonton dan berbicara langsung pada anggota staf lain karena terlalu banyak orang yang menggunakan walkietalkie. Kadang sangat sulit membedakan siapa yang sedang berbicara kepada siapa disaluran tertentu.
Setiap kali aku menampakkan diri di dekat kursi penonton, Junmyeon pasti akan memasang muka masam padaku. Aku bisa melihat teman-temannya yang lain juga menertawakannya. Sementara itu, Jongin terus-terusan membuat Junmyeon kesal dengan mencoba melayaninya, karena siapapun bisa melihat dengan jelas kalau Jongin lebih seperti mengganggu dari pada membantu. Hal itu nampaknya menjadi bahan candaan bagi orang-orang yang berkerja di daerah kursi penonton. Aku sendiri hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Jongin masih bersedia menjadi asisten pribadi Junmyeon selama acara berlangsung. Namun, dia masih punya waktu untuk menghampiri dan memeriksa keadaanku sejak tadi. Setiap kali dia datang kepadaku, dia akan membawa sebotol minuman atau makanan ringan. Aku tidak bisa untuk tidak curiga kalau dia telah memaksa seseorang untuk pergi ke Mouse Rabbit dan membeli semua ini, karena aku ragu jika panitia akan membagikan roti bread panda's yang terkenal mahal dan enak ini kepada tim sorak (jika iya, maka Junmyeon harus mengeluarkan banyak uang karena hal itu). Tapi bagaimanapun, Jongin hanya dengan malu-malu membantah kalau dia telah membelinya untukku, setiap aku bertanya, dia selalu bersikeras kalau makanan dan minuman ini dia ambil dari kursi penonton. Mungkin dia pikir aku ini terlalu naif. Tapi terserahlah, aku sedang tidak ingin berdebat dengannya, yang penting rotinya enak.
Disamping memberikan makanan dan minuman itu, Jongin juga secara konsisten bertanya bagaimana keadaan di ruangan ini, atau apakah aku sudah kelelahan atau tidak. Dia bahkan juga menawarkan untuk menukar kembali pakaian kami, tapi aku terlalu malas untuk melakukan itu. Jadi setiap dia bertanya aku hanya akan menjawab kalau semuanya baik-baik saja.
Akhirnya, langit sudah berubah menjadi gelap dan raungan manusia meletus dari stadium. Tim kami memasukkan bola ke gawang lawan. Mereka berhasil menjaga skor di 1-0 sepanjang sisa pertandingan. Angka itu terpampang cerah di papan nilai sebagai bukti atas kemenangan yang sudah lama kami tunggu.
Euforia kemenangan pecah di tengah-tengah lapangan, kami berteriak, saling merangkul dan memeluk satu sama lain lalu melompat-lompat sebagai bentuk perayaan kemenangan ini.
Rasanya sungguh menyenangkan hingga aku tidak bisa menuangkannya lagi dalam kata-kata. Semua rasa lelahku hilang seketika saat aku menyaksikan hasil perjuangan kami selama ini. Aku melihat banyak teman-temanku membasahi pipi mereka dengan air mata. Pandangan mataku juga sempat bertemu dengan Jongin yang terlihat bersiap akan meneteskan airmatanya namun dengan cepat dia usap, aku tersenyum, namun bukan jenis senyum dimana aku sedang mengejeknya melainkan lebih kepada senyum yang menenangkannya. Karena aku sendiri merasa akan meneteskan airmata sesaat lagi.
Ahirnya perjuangan kami terbayar sudah.
Master David menyuruh kami semua untuk turun kelapangan dan berkelompok membentuk sebuah lingkaran besar sebelum kemudian meneriakkan kata "WE ARE ONE!" secara lantang bersama-sama.
Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan pernah melupakan moment yang hebat ini.
Aku sedang mengobrol bersama beberapa alumni dan juga teman-temanku setelah permainan berakhir saat sebuah suara yang terdengar mengerikan dan familiar di telingaku, menghentikan percakapan kami.
"Kyungsoo! Aku sudah mencarimu dari tadi!" Ah! Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapakah orang itu. Aku mulai menduga kalau Wendy diam-diam memasang sebuah GPS ditubuhku atau sesuatu. Bagaimana caranya dia bisa menemukan Aku di tengah lautan manusia seperti ini? -_-
"oh, pacarmu datang ya? Kalau begitu kami pulang dulu -ah, aku berencana untuk berkunjung ke sekolah minggu depan, sampai jumpa nanti, Kyung!" Kyuhyun Hyung salah satu alumni sekolah kami (yang juga merupakan teman Ryeowook Hyung) berkata seraya menepuk bahuku, aku hanya bisa tersenyum masam mendengar perkataannya sebelum kemudian melambaikan tanganku pada beberapa alumni yang kini beranjak pergi.
"Ya, sampai bertemu lagi, Hyung"
Dengan perginya Kyuhyun Hyung, sekarang saatnya aku menghadapi gadis pendek yang berdiri disampingku ini. "Kau mencariku? Ada apa?"
"Soo. Aku tidak tahu kalau kau jadi tim teknis juga!" ternyata dia menyadarinya, Wendy tahu kalau selama ini aku bekerja dengan marching band (yang kekurangan seragam) dan bukan tim teknis. Aku tidak seharusnya mengenakan baju terusan yang kebesaran ini. meskipun begitu, entah kenapa aku masih memiliki perasaan janggal untuk menjawab pertanyaan Wendy.
"Ini.. milik Jongin. Kami bertukar pakaian tadi." Wendy memberiku senyuman lebar yang membuatku sedikit merasa bersalah.
Senyumnya yang menggemaskan itu bertahan beberapa saat sebelum akhirnya dia menggandeng lenganku dengan ekspresi memohon di wajahnya. "Ayo makan malam." Yah,lagi-lagi sepeti ini. Aku tiba-tiba merasa cemas tentang hal ini.
Aku menatap wajah Wendy saat mendengar teman-temanku merencanakan sesuatu seperti membuat pesta untuk merayakan kemenangan hari ini, nanti malam.
Sekarang apa?
Dan disinilah aku sekarang, berusaha menyamankan posisiku yang sedang duduk di sebuah kursi restoran mewah yang cukup aku kenal (karena pada dasarnya restoran ini terletak tidak jauh dari rumahku). sebenarnya aku sudah sering mendengar Wendy ingin makan di tempat ini dari dulu namun belum pernah kesampaian (karena restoran ini hanya buka dimalam hari). Akhirnya keinginannya terpenuhi kali ini, karena dialah orang yang dari awal menentukan tempat ini bahkan sampai memesan makanannya sendirian. Aku sendiri sudah sering datang ke restoran ini, baik itu bersama teman-temanku (saat kami punya uang) atau bersama ayah yang setiap gajian akan membawaku ke tempat ini.
Tapi aku bingung, memang kapan tepatnya aku mengiayakan ajakannya tadi? Aku rasa tidak sama sekali?
Wendy hanya menyeret lenganku seperti biasa dan mengasumsikan kalau aku benar-benar ingin pergi makan malam dengannya, segala sesuatu harus sesuai dengan keingingannya saat berhubungan dengan Wendy, dan aku adalah seseorang yang selalu menjadi korban asumsinya, selalu.
Awalnya aku pikir kami hanya akan makan berdua saja kemudian sesudah itu aku bisa pulang ke rumahku dengan tenang, namun, sepertinya Wendy memang tercipta untuk membuat hidupku tidak nyaman karena, tidak hanya menyeretku, dia juga menelepon Soojung dan mengundangnya untuk makan malam bersama, yang berarti hidupku berahir sudah sampai disini. karena jika ada Soojung, Jongin pasti harus datang juga.
Aku dan Jongin tidak punya pilihan lain selain pasrah. Meskipun begitu, kami menyempatkan diri untuk menukar kembali pakaian kami di ruang ganti tim sorak, namun tidak seperti sebelumnya, ruang ganti tim sorak saat itu lumayan ramai, jadi kami tidak terlalu banyak berbincang tadi. Aku juga baru menyadari kalau Jongin ternyata membawa baju ganti selain baju terusannya (lalu kenapa tadi dia meminta Jeansku? Si bajingan ini!).
Dan sekarang keadaannya adalah, aku dan Wendy duduk saling berseberangan dengan Jongin dan Soojung di meja bundar yang cukup luas ini.
"Aku senang ternyata Jongin dan Kyungsoo itu lumayan akrab. Tahu begitu, kita bisa double-date dari kemarin-kemarin. Ya kan Soojung?" Suara Wendy yang ceria melengking dari arah sisiku. Soojung hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil. Aku merasa semakin tidak nyaman mendengar perkataan Wendy barusan.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan Jongin sekarang, yang pasti aku mendapati suasana ini sungguh sulit untuk dihadapi.
Pikiranku kosong untuk beberapa saat, dan sepertinya saat itulah pesanan kedua gadis ini datang. Aku tidak mau repot-repot mempermasalahkan makanan yang di pesankan oleh Wendy untukku, karena aku tahu itu tidak ada gunanya, dan sejujurnya menu makanannya juga tidak terlalu buruk.
"Aku sudah memesan bulgogi, itu makanan kesukaanmu 'kan, Kyungsoo?" Wendy berkata seraya tersenyum padaku yang kubalas dengan senyuman juga, meskipun agak sedikit ragu. Err, sejak kapan menu itu jadi menu favoritku?
"Terima kasih." Tapi terserahlah, ini tidak seperti aku tidak menyukainya juga^^
"Em, Aku juga memesan ayam goreng kesukaanmu, Jongin. Aku sangat memahamimu, iya kan?" aku mendengar suara Soojung dari seberang meja, dan kenapa mereka terdengar seperti tengah berlomba untuk terlihat menjadi lebih baik dari satu sama lain?
Aku melirik Jongin yang sudah memasang senyum masam di wajahnya sebelum dia melirikku dan membalas perkataan Soojung dengan suara pelan. "ya, terima kasih banyak." Alisku terangkat secara otomatis. Kenapa kau bertingkah seperti itu? Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini.
Saat aku tenggelam dalam pikiranku, macam-macam menu pembuka mulai berdatangan di meja kami.
"Ini untukmu, Soo!" Wendy dengan cepat mengambilkan sedikit daging ham panggang ke piringku saat itu juga. Soojung sepertinya tidak mau kalah karena kini dia juga menaruh sepotong ikan salmon dalam saus ikan di piring Jongin. padahal aku juga ingin ikan salmonnya!
Aku memutuskan untuk menahan sedikit rasa rakusku dan berlaku seperti layaknya pria sopan, "Oh, kalau begitu ini untukmu." Aku menaruh sepotong cumi-cumi goreng di piring Wendy yang sukses membuatnya terlihat bersemangat dan dengan cepat mengangkat piringnya untuk dipamerkan kepada Soojung, dasar gadis ckckck. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka berdua. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat tingkah para gadis ini.
Soojung hanya menunduk karena Jongin masih sibuk menuangkan air ke semua gelas milik kami, sehingga dia tidak bisa mengambilkan makanan untuk ditaruh di piring Soojung. Aku bisa melihat Soojung menarik-narik lengan baju Jongin dengan tangannya yang lentik."Jongin… kau tidak mengambilkan aku makanan?"
Jongin menoleh dengan tatapan bingung sebelum menyadari apa yang sedang terjadi dan dengan cepat mengambil sesendok keju goreng untuk diletakkan di piring Soojung, "Ini.. Maaf, tadi aku sibuk menuangkan minuman untuk semuanya." Tapi Soojung tidak nampak senang dengan hal itu.
Aku mengerutkan alis penasaran karena Soojung terlihat jadi semakin kesal sekarang. Namun, Jongin nampaknya tidak sadar akan hal itu dan malah meletakkan sepotong daging salmon yang dia ambil dari piringnya ke piringku.
"aku ingin menukarnya dengan daging ham, kemarikan." Si brengsek ini mulai bertingkah sok tahu seperti Wendy.
"Lucu sekali. Memang kapan aku mengatakan ingin menukarnya? Tapi ngomong-ngomong, terimakasih untuk salmonnya, aku juga sebenarnya ingin mencicipinya sedikit" Aku berkata seraya menusuk sepotong daging ham dengan garpu dan memasukkannya kedalam mulutku. Aku tidak akan membiarkan Jonginmencuri daging hamku. Dia mendengus, aku memberi mimik muka mengejek padanya. Apa kau idiot?
"Kalau kau makan semua itu sendirian, salmon dan babi-nya nanti akan bertarung di tenggorokkanmu, lalu duar!"dia mengungkapkan lelucon yang aku ingat sering di putar channel 9 saat aku SMP dulu, benar-benar garing.
"Kau itu sangat buruk dalam membuat lelucon asal kau tahu, tapi baiklah.. berhubung kau terlihat menyedihkan sekarang, jadi aku akan membagi daging ini denganmu" Aku kemudian menyendok sedikit bulgogi ku dan kuletakkan di piringnya meskipun pada kenyataannya dia telah memberiku setengah dari seluruh porsinya. Haha, lihatlah wajahnya yang cemberut di buat-buat itu, menjijikan.
Jongin tidak terima karena aku tidak membalas 'jasa'nya dengan cukup, hingga akhirnya, terjadi sebuah peperangan diantara kami berdua untuk memperebutkan siapa yang boleh makan apa. Peralatan makan kami menjadi senjata saat kami mencoba mencuri makanan dari piring satu sama lain. Kami membuat kegaduhan sebelum salah satu dari kami menyadari ada sesuatu yang salah.
Jongin menyadarinya lebih dulu dariku. Dia langsung berhenti bertarung denganku saat itu juga dan mengalihkan perhatiannya pada Soojung. "Apa ada yang salah, Soojung? Kenapa kau diam terus Hm?"
Aku melihat Soojung cemberut sehingga aku memutuskan untuk sedikit menurunkan tingkat kenakalanku. Aku juga tidak lupa untuk memeriksa apakah Wendy juga merasa kesal (hanya berjaga-jaga barangkali 'kesal' merupakan penyakit menular) namun aku lihat dia masih tersenyum dengan riang seperti biasa. Sebaliknya, dia terlihat terhibur dengan pertarungan antara diriku dan Jongin barusan.
"Kenapa kau memberiku keju goreng…? Apa kau lupa kalau aku sedang diet?" dilihat dari alisnya yang berkerut cukup dalam, Soojung sepertinya merasa sangat kesal saat ini. o-ow, sepertinya keadaan sudah mulai memanas.
Aku dengan cepat meraih gelasku yang berisi air untuk kuminum dan berpura-pura tidakmenyadari apa yang sedang terjadi.
"Oh… M-maaf." Jongin mencoba meluruskan keadaan dengan memberikan salad warna warni di piring Soojung. "Lihat, Rocket Salad ini punyamu, kan? Aku ingat. Lihat?" aku, entah kenapa, tidak suka melihatnya melakukan hal itu –Kyungsoo bodoh! Sadarlah kau ini siapa!
Aku menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan pikiran itu sebelum kemudian menoleh ke arah Wendy, aku lihat dia sedang meraih sepotong daging babi dan kimchi spaghetti. Aku senang karena gadis yang satu ini tidak pemilih dan juga tidak cepat kesal. Aku suka hal itu.
Setelah Jongin mencoba meluruskan keadaan untuk waktu yang cukup lama (lama karena Soojung memang sudah kesal sejak tadi) senyum Soojung akhirnya merekah juga karena Jongin tidak berhenti menyodorkan salad dan menggodanya sepanjang waktu.
Aku hanya mampu menatap mereka berdua dengan sebuah perasaan aneh mengganjal dihatiku. Sendok dan garpu ditanganku terasa semakin berat. Terlalu berat sehingga rasanya aku tidak mampu mengangkatnya untuk sekedar menyuapkan makanan kemulutku, aku hanya berakhir dengan memainkan makananku di pinggiran piring.
"Kyungsoo… Kyungsoo… Kyungsoo!"Aku tersentak kaget saat menyadari Wendy memanggil namaku. Aku dengan cepat mengenyahkan lamunan anehku dan menoleh padanya.
"hm?"
"kenapa kau tidak memakan makananmu? Apa kau tidak suka dengan Bulgoginya? Aku bisa memesan yang lain lagi kalau kau mau."
"tidak, tidak. Bukan itu. aku bukan orang rakus kau tahu?" Aku dengan cepat membantahnya dan dia hanya terkekeh melihat reaksiku. Meja kami berubah hening untuk beberapa saat, sebelum kemudian Wendy kembali bersuara.
"Jung, apa kita bicarakan sekarang saja?" aku dan Jongin sontak menatap kedua gadis ini dengan penasaran karean Wendy mengatakan sesuatu yang terdengar aneh bagi kami. Soojung terlihat sedikit ragu sebelum dia mencolek bahu Jongin.
"Ada apa?"
"Jongin, apa minggu depan kau ada acara?" Jongin nampak sedikit bingung namun tetap mengambil teleponnya untuk memeriksa jadwal.
Wendy juga menyuruhku untuk melakukan hal yang sama, Namun, apa aku terlihat seperti orang yang mau repot-repot membuat jadwal kegiatan-diri sendiri dan mencatatnya di handphone. Aku hanya menggunakan metode mengingat asal kalian tahu. Dan dari apa yang aku ingat, minggu depan sepertinya aku tidak sibuk.
Jongin berhenti berkutat dengan handphonenya dan mengatakan kalau dia tidak memiliki acara. Wendy menyenggol lenganku, "bagaimana denganmu?"
"aku rasa, aku juga tidak punya acara, memangnya kenapa?" meskipun aku sudah melontarkan pertanyaan itu, aku sebenarnya tidak yakin apakah aku ingin mendengar jawabannya atau tidak. Saat melihat Wendy tersenyum sangat lebar, aku tiba-tiba saja merasa ada hal buruk yang akan terjadi.
"kemarin Soojung memenangkan sesuatu." Wendy yang pertama membuka mulut sebelum dia mengisyaratkan sesuatu pada Soojung sampai dia menunjukkan sesuatu yang terlihat seperti sebuah vocher hadiah. Wendy tidak perlu menungguku untuk bertanya karena kemudian dia melanjutkan, "Soojung mendapat voucher hadiah dari sebuah resort di Dongdaemun. Vouchernya untuk dua kamar di hotel di dekat pantai! Bagaimana kalau kita pergi bersama? Hm? Hm?" Di titik ini, Wendy bergelayut dilenganku seperti seekor koala. Jadi sekarang apa? Aku mencuri pandang kearah Jongin, yang juga tengah menatapku bingung. Mungkin sama bingungnya dengan tatapanku padanya, karena rasanya akan canggung sekali jika kami berempat pergi bersama dalam sebuah perjalanan seperti ini.
"bagaimana, Kyungsoo? Kita berangkat, iya kan?!"seperti inilah Wendy,penyakitnya ini sudah tidak bisa ditangani lagi.
Sementara itu, Soojung terlihat tenang dengan memberikan sebuah senyum manis pada Jongin, "kita pergi bersama ya, Jongin."
Tidak ada lelaki didunia ini yang bisa menolak sesuatu seperti itu.
Setelah acara makan kami selesai dan membayar tagihan yang totalnya mencapai 4 digit, Wendy dan Soojung pulang lebih dulu menggunakan Taksi, aku atau Jongin tidak bisa mengantarkan mereka karena setelah ini kami memiliki acara sendiri.
iPhoneku berbunyi keras tepat saat taksi biru muda itu pergi. Aku meraihnya cepat-cepat dan melihat layarnya menemukan wajah Chanyeol yang sedang tersenyum bodoh terpampang disana.
"Apa?"
"APA KAU TELAH SELESAI MELAYANI TUAN PUTERI?!" Aku tersentak keras mendengar teriakan Chanyeol itu dan sukses membuat Jongin menertawakanku (Sungguh memalukan).
"Kenapa kau harus berteriak seperti itu berengsek?! Dan dimana kau sekarang?! Bising sekali!"
"Di restoran! Semuanya sudah disini kecuali kau dan pangeranmu!" orang ini kenapa sih?! Tadi tuan puteri dan sekarang pangeran?!
"Iya, iya! Aku dan pangeran sedang berjalan menuju kesana. Tuan puteri sudah pulang terlebih dahulu. Nanti jangan lupa semir sepatu kami sampai kinclong saat kami sampai disana. Kami akan tiba 20 menit lagi. Sampai bertemu dan jadilah kacung yang baik!" Aku membalas leluconnya yang sama sekali tidak lucu itu dan langsung menutup panggilan karena suaranya semakin bising. Ada suara dengungan musik (acara kami bukan di klub malam, tapi di restoran yang ada live-band-nya) dan disana juga ada teman-teman kami, yang juga membuat kegaduhan. Aku seratus persen yakin kalau restoran itu sudah diporak porandakan oleh mereka semua.
"Jadi restoran apa?" Jongin bertanya kepadaku saat dia mencegat sebuah taksi untuk kami. Aku membuka pintu dan masuk kedalamnya sebelum berkata kepada Pak supir,
"ahjussi, Restoran Vivapolo."
Tidak butuh waktu lama untuk kami tiba ditempat itu. Sebenarnya, aku tidak butuh petunjuk karena kami juga sering datang kesini hanya untuk sekedar berkumpul bersama. Aku tidak tahu kenapa kami memilih tempat ini. yang aku tahu, semua tempat rasanya akan tetap menyenangkan selama itu adalah bersama dengan teman-temanku.
Jongin dan aku keluar dari taksi dan berjalan menuju tempat dimana teman-teman kami berkumpul. Aku mendengar sambutan yang keras dan gaduh dari mereka saat kami datang. Lebih terdengar seperti lolongan serigala lapar sebenarnya, Heol, apa semua anak dari sekolah kami semuanya datang ketempat ini? Zona disekitar sini diisi oleh teman-teman sekelasku. Kira-kira ada 40 sampai 50 orang.
"Ciee! Pasangan baru sudah datang! Woo!~" Chanyeol si berengsek itu berkoor tidak jelas kepada kami, terlihat seperti sudah mabuk berat (dan sepertinya memang iya) kemudian mengajak yang lainnya untuk ikut menggodaku. Rasanya aku ingin menggali tanah dan mengubur tubuhku sendiri didalamnya. Namun, Jongin hanya tersenyum kemudian menarik tubuhku dan merangkulku di bahu dengan tenang. Keadaan semakin ricuh.
Candaan macam apa yang sedang dia lakukan?! Restoran ini bisa meledak karena sorakan gaduh anak-anak ini!
"Hey Jongin! Berhenti bermain-main. Kyungsoo, duduklah!" Terima kasihTuhan, karena telah membuat Junmyeon mengatakan sesuatu yang telah menyelamatkan hidupku. Aku menerima ajakan Junmyeon dengan senang hati. Teman-teman Jongin sendiri juga memanggilnya sehingga dia bergabung bersama mereka di meja lain.
Aku menyamankan diri di kursi kosong yang sengaja disiapkan untukku. Ada banyak adik kelas yang duduk disekitar sini. Anak-anak yang sangat membantu dalam acara sepak bola kemarin, tim sorak, pasukan marching band, anggota parade, tim kursi penonton, dan banyak lagi.
Tapi hal yang paling mengejutkan adalah…
Kris!
Kris juga datang!
Kris adalah salah satu sahabat karibku (Dulunya dia anggota band juga, tapi hanya untuk sesaat. Dia terlalu malas untuk latihan jadi dia memutuskan untuk keluar. Dasar pemalas.) Dia anak yang lumayan baik.
Dia tampan, tinggi (sebenci apapun aku mengakuinya, tapi dia jauh, jaauuh lebih tinggi dariku), dan lebih dari itu, dia juga menyenangkan juga setia kawan, dia juga cukup disukai banyak orang. Kekurangannya adalah, dia lumayan keras kepala dan ceroboh. Ditambah lagi, dia mempunyai tampang yang menyebalkan sehingga dia seringkali dijadikan target bulan-bulanan oleh kakak kelas dan siswa dari sekolah lain, bahkan tidak jarang juga sampai baku hantam. Baru saja tahun kemarin dia berkelahi dengan seseorang yang kebetulan merupakan keponakan dari kepala sekolah. Kurang beruntung baginya, Kris harus dikeluarkan dari sekolah gara-gara kejadian itu (Saat itu kami sangat membenci kepala sekolah. Sebenarnya, sampai sekarang juga sih).
Walaupun dia dikeluarkan, kami masih tetap berhubungan. Kami masih sering berkumpul di suatu tempat atau kadang dia yang datang dan main kerumahku. Tapi, akhir-akhir ini kami jarang berhubungan (karena aku sibuk mengurusi turnamen sepak bola ini) hingga sekarang.
"Hey, bagaimana kabarmu?!" Aku menepuk bahunya (tidak terlalu susah karena kami dalam posisi duduk) sebagai sebuah salam.
"Kabar baik. Di sekolah baruku ada banyak gadis cantik, jadi aku lumayan bahagia," dia langsung menyombong. tentu saja dia merasa bahagia, di sekolahannya yang dulu (yang mana adalah sekolah kami) yang bisa dia lihat hanyalah anak laki-laki. Kris dipindahkan ke sebuah sekolah internasional di Incheon.
Aku mendengar sebuah suara deheman yang berasal dari Yixing yang duduk tidak jauh dari meja kami. Itu terlihat seperti Yixing merasa tidak nyaman dengan apa yang Kris katakana barusan. Sebenarnya, itu sudah bukan rahasia lagi bagiku jika Yixing menaruh perasaan pada Kris bahkan sejak dia masih berada disekolah kami dulu (aku ingat dia adalah orang yang paling terpuruk saat Kris dikeluarkan dari sekolah), sejauh ini hanya aku dan Chanyeol yang mengetahui hal itu, dan kami tidak punya niat untuk mengatakannya pada siapapun karena tentu, Yixing memang bodoh dan lamban sampai-sampai kami suka gemas sendiri ingin melakukan sesuatu untuknya. Disamping karena Kris sama sekali tidak menyukai laki-laki dengan cara itu (dia 100% straight) yang mana akan berdampak buruk jika dia mengetahui bahwa salah satu teman laki-lakinya menyukainya, kami juga tahu kalau kami tidak ada dalam posisi untuk membongkar perasaannya pada siapapun. Jadi, aku hanya bisa mengasihaninya dalam hati.
"Hey Kris, aku ingin satu, bisa kau carikan untukku?" Kalimat tidak senonoh itu bukan berasal dariku, melainkan dari Chanyeol. Dia mencondongkan kepalanya didekat kami, Aku bisa mencium bau busuk yang datang dari mulutnya.
"Ada sih beberapa, tapi para gadis juga punya standar, kau tahu."
"Ow, brengsek kau!" Well, Kris juga tidak salah mengenai hal itu. Aku mendapati ekspresi wajah Chanyeol sangat lucu. Semacam merona dan hidungnya juga merah, dia benar-benar terlihat mabuk.
Chanyeol bukan satu-satunya yang sedang 'ingin'disini, ada juga seseorang didekatnya. "Aku juga- aku juga! Bisa tidak kau carikan gadis yang blasteran Korea-canada? Seperti Wendy pacarnya Kyungsoo itu? ada tidak?" itu adalah si berengsek Jongdae yang berbicara. Perkataan Jongdae itu menghasilkan buah manis berupa pukulan keras di belakang kepala dari Minseok.
"jaga bicaramu, Kyungsoo ada disini" jika ada temanku yang otaknya paling waras, maka itu adalah Minseok. Jongdae mengusap-usap kepalanya dengan brutal. Ha! Rasakan!
"siapa peduli? Ini tidak seperti dia menyukai Wendy juga kan? Harusnya dia sudah memberikan Wendy padaku kau tahu? Lagipula dia kan sudah punya Jongin, suaminya yang baru" si berengsek ini! Aku heran berapa lama waktu yang ia habiskan untuk bergaul bersama Chanyeol sehingga bisa tertular dengan penyakit omong kosong seperti ini.
Belum sempat aku melakukan hal yang sama seperti apa yang Minseok lakukan (memukul kepalanya atau mungkin lebih buruk) handphone ku berbunyi menampilkan nama Wendy sebagai caller ID nya disana. Aku tidak punya piihan lain selain menjawab panggilan itu tapi tidak sebelum menunjuk wajah Jongdae memberinya peringatan. Dia membalasku dengan mimik muka mengejek yang semakin membuatku ingin menendang pantatnya.
Aku meninggalkan ruangan karena tidak mungkin aku bisa mendengar suara Wendy di tengah kegaduhan seperti itu. Wendy meleponku untuk memberi tahu kalau dia sudah sampai dirumah dan seperti biasa mengocehkan sesuatu seperti; jangan minum terlalu banyak, perbanyak minum air putih saat sudah merasa pusing, cepat pulang kerumah setelah acaranya selesai, dan mengirim pesan padanya saat aku sampai dirumah nanti. Ibuku saja tidak seribut ini. Ah, tapi tidak apa apa. Lebih baik ada seseorang yang memperhatikanmu dari pada tidak sama sekali, kalimat itulah yang selalu aku gumamkan untuk diri sendiri.
Wendy sedang berbicara tentang hal yang tidak aku mengerti saat aku sadar jika Kris mengikutiku keluar sini. Dia memberikan tatapan aneh seolah ingin membicarakan sesuatu denganku. Jadi, aku memutuskan untuk mengakhiri panggilan dengan Wendy, "Wen maaf, tapi aku harus pergi. Ya, aku akan mengirim pesan padamu saat aku sampai nanti. Ya, ok, bye!"
Kris menyalakan korek untuk membakar rokoknya, dia tahu kalau aku tidak merokok karena itu dia tidak mau repot-repot menawarkan rokoknya padaku. Bagaimanapun, aku merasa dia datang kesini bukan sekedar untuk merokok.
"Ada sesuatu yang salah, Kris?" Aku tidak pernah melihat wajahnya sekhawatir ini.
"Jadi kau akhir-akhir ini sering bersama dengan Jongin yah?" Argh… Akusungguh membenci pertanyaan ini. Aku mungkin akan mulai mengeluarkan sumpah serapah jika yang berbicara adalah orang lain,tapi ini Kris, dan dia sedang memasang tampang yang sangat serius sekarang.
"Iya, lumayan. Memangnya kenapa?" rasa penasaranku semakin meningkat saat ada keraguan yang kentara di wajahnya. Namun Kris terdiam cukup lama membuatku semakin penasaran, "Kris? Ayolah, katakana saja padaku, ada apa?"
"Apa dia… Maksudku, Jongin. Apakah dia masih bersama pacarnya yang itu?"
Aku sedikit bingung dengan pertanyaan Kris untuk beberapa alasan. Satu, kenapa dia tiba-tiba menanyakan tentan hal ini? Kedua? Kenapa dia tidak menanyakannya langsung kepada Jongin dan malah bertanya pada temannya?
"dengan Soojung? Ya, mereka masih bersama. Kami baru makan malam bersama tadi." Aku baru menyadari bahwa suaraku terdengar murung setelah beberapa saat kata itu terlontar. Mendadak, aku merasakan ada perasaan tajam yang menyakitkan muncul di dalam hatiku. Aku harus tetap mengingatkan diri sendiri, lagi dan lagi, kalau itu merupakan pertanda bagus bahwa mereka belum putus sampai sekarang.
Aku mengambil nafas dalam-dalam saat melirik wajah Kris yang kini mengerutkan keningnya. Nampaknya dia tidak terlalu senang mendengar jawabanku itu. Ada apa dengan orang ini?"apakah ada sesuatu yang salah Kris?" Kris masih tidak memberikanku sebuah jawaban walaupun pertanyaannya sudah kuulang berkali-kali. Dia menggelengkan kepala dan mulai menyalakan lagi rokok yang baru, sebelum mengulurkan iPhone 7 keluaran terbaru. Aku mengangkat alis"Eh? Kau sedang pamer ya? Kelihatannya aku semakin banyak dikelilingi oleh orang kaya" Aku membuat lelucon tapi Kris Nampak tidak terhibur dengan leluconku itu.
"Aku tidak pamer bodoh. Lihat saja videonya." Kenapa dia harus seserius ini sih?Aku melirik wajahya yangtampak muram, kemudian aku meraih telepon mewah itu danmengamatinya. Tapi ngomong-omong, bagaimana cara memakai bendaini? Tombol mana yang harus aku tekan?
"bagaimana caranya memakai benda ini?!" Aku komplain sekeras mungkin seraya menekan ikon secara acak tapi Kris bahkan tidak memberikan perhatiannya padaku sama sekali. Dia berjalan menjauh untuk lanjut menghisap rokoknya di sebelah sana. Aku rasa dia takut kalau asapnya mungkin akan menggangguku.
Akhirnya, entah bagaimana caranya aku tidak tahu, aku berhasil masuk ke folder video. Dan… video pornonya banyak sekali, "gilaa, dasar cabul. Sepertinya kau mengambil alih tahta Chanyeol, Kris!" Aku berteriak padanya dan berharap untuk membuatnya tertawa. Namun, dia buru-buru kembali mendekatiku setelah aku berkata seperti itu. Ekspresi wajahnya yang tidak menyenangkan membuatku kebingungan. Dia memakai telapak tangannya untuk menutupi layar dan menatapku lekat-lekat.
"Lihat ini. lalu beritahu aku apa yang kau lihat" dia berkata sebelum kembali lagi dan melanjutkan rokoknya. Meninggalkanku yang masih melongo kebingungan disini.
Satu-satunya cara untuk mencari apa yang dia maksud adalah melihat video itu. Aku mengamati video yang sudah Kris pilih dan menekan tombol putar. Itu terlihat seperti sebuah video amatir karena aku melihat wajah seorang pria mengisi seluruh layar saat dia menyesuaikan kamera sebelum berjalan ke arah tempat tidur. Aku mulai merasa tidak nyaman saat menyadari bahwa video yang sedang aku tonton ini adalah video ponro, aku bisa melihat sepasang pria dan wanita berhubungan intim di tempat tidur itu. Kameranya dipasang terlalu rendah sehingga aku tidak bisa melihat wajah si wanita (aku sudah melihat wajah si pria saat dia sedang mengatur kamera tadi. Semakin lama, aku mulai merasa ragu dengan motivasi Kris menyuruhku untuk melihat Video ini, apa dia sedang mengerjaiku?
Belum sempat aku berteriak pada pemilik handphone ini dan mengomelinya karena telah mengerjaiku, sesuatu menangkap perhatianku di video itu, tidak- itu bukan sesuatu, melainkan seseorang. Aku membuka mataku yang sudah lebar ini jadi semakin lebar sehingga aku bisa melihatnya dengan lebih jelas, hanya untuk memastikan. Pasangan itu terjatuh dari tempat tidur, jadi kini aku bisa melihat wajah wanitanya.
Aku melihat wajahnya yang cantik dan sempurna yang terasa sangat familiar bagiku dengan perasaan berkecamuk. Aku mengenali sepasang mata itu karena aku sering melihatnya. Aku mengenali bibir tipis yang merah itu karena aku sering melihatnya. Matanya terlihat sayu karena nafsu, bibirnya yang merah ia gigit karena telah dikuasai oleh keadaan.
Aku tidak pernah melihat wajahnya dalam keadaan seperti ini sebelumnya. Tapi berdasarkan apa yang aku lihat, semua indraku mengatakan bahwa gadis ini adalah… Soojung. Kekasih Jongin. ini sudah pasti kekasih temanku.
Banyak pikiran berlarian dengan cepat didalam kepalaku saat aku menatap layar dan menyaksikan semua hal yang terjadi disana. Sampai kemudian, aku merasa sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melihatnya. Aku menekan tombol pause dan mengalihkan pandanganku ke arah lain walaupun video ini durasinya masih lumayan lama.
Nampaknya Kris menyadari kalau aku sudah memahami apa yang tadi coba dia sampaikan padaku. Dia berjalan menghampiriku dan denganlembut menepuk kepalaku setelah mengambil kembali ponselnya, "Aku juga tidak sampai hati menyelesaikan video itu. Rasanya terlalu mengerikan."
"Apa arti dari semua ini?" Aku bertanya padanya nyaris berbisik, bahuku merosot tiba-tiba saja merasa kelelahan. Aku tidak pernah membayangkan harus berhadapan dengan sesuatu semacam ini.
Kris berdiri disampingku, "lelaki yang ada di video itu, dia temanku. Em, teman satu sekolah…" Dia mulai berbicara. "Soojung sudah lumayan terkenal di antara kami. Hampir semua temanku sudah pernah tidur dengannya."
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi…?"
"Dan mereka bahkan tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk melakukannya," dia melanjutkan perkataannya sambil menyembulkan asap. Aku tidak tahu apa yang Kris maksud, tapi aku benar-benar merasa jijik mendengarnya.
"h-hey, i-ini semua bisa saja salah paham, kau telah menghancurkan imej Soojung disini"
"Aku sudah… pernah berurusan dengannya secara pribadi, Kyungsoo." Aku dengan cepat menoleh ke arahnya,
"Berurusan? maksudmu?"
"Kemarin saat aku sedang di Black Pearl. Aku bertemu dengan Soojung, dia sedang berkumpul dengan banyak teman-temanku."
"lalu?"
"Saat itu dia sedikit mabuk lalu dia memuntahi pakaianku. Aku rasa, dia tidak tahu kalau aku pernah sekolah di sekolah kalian. Saat itu aku berasumsi kalau Soojung sudah putus dari Jongin."
"…."
"Kami bahkan berhasil mencapai kamar hotel, tapi aku tidak bisa melakukannya. Tidak peduli betapa seksi dan cantiknya dia, aku sudah terbiasa melihatnya dalam keadaan biasa, jadi rasanya aneh. Aku tidak bisa melakukan itu. Pada ahirnya, aku membuang sia-sia uangku hanya untuk membayar kamar hotelnya." Kris terkekeh namun aku bahkan tidak bisa berpura-pura untuk tersenyum saat ini. Aku tahu seseorang yang menyayangi teman-temannya seperti Kris tidak akan mampu melakukan hal semacam itu, bahkan walaupun dia dan Jongin tidak terlalu akrab seperti kami.
Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Kepalaku rasanya semakin kalut. Buktinya sudah terpampang nyata disini dalam bentuk video. Kris bahkan juga menceritakan padaku tentang apa yang ia alami. Tapi Aku terlalu takut, aku terlalu takut untuk mempercayai semua ini. Otakku mengatakan kalau pasti ada sebuah kesalahan yang terjadi disini. Aku mati-matian berharap kalau semua ini hanyalah kesalah pahaman belaka.
Kris sepertinya menyadari kekalutanku, karena itu dia menjulurkan tangannya dan merangkul bahuku kemudian menepuk-nepukku dengan lembut, "bagaimanapun, Jongin harus tahu bagaimana situasinya sekarang ini. Aku merasa sangat bersalah padanya, Kyung."
"bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu harus memberitahunya dengan cara apa" aku menjawab dengan nada putus asa. Kris mengangguk tanda paham. Kami berdiri disini dalam diam untuk waktu yang cukup lama sebelum Kris menepuk bahuku lagi dan mengajakku untuk kembali masuk kedalam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
Sekembalinya aku bergabung di meja, minuman keras adalah hal yang pertama kali aku minta.
"hey Kris, apa yang telah kau lakukan pada Kyungsoo?! Kenapa dia jadi seperti ini?!" Suara Junmyeon yang berteriak pada Kris mencapai pendengaranku. Aku rasa ada hubungannya dengan gelasku yang tidak pernah kosong sejak sekembalinya aku kedalam sini bersama Kris. Dan memangnya aku kenapa? Aku tidak apa-apa! Aku hanya merasa kepalaku semakin berat dan tenggorokanku sakit saat ini.
"Ambilkan Aku satu lagiiiiii," meskipun Junmyeon terus mengomeliku, aku masih memiliki Chanyeol yang senantiasa mendukungku dari belakang. Dia terus menuangkan minuman untukku hingga aku tidak ingat lagi berapa gelas minuman yang sudah aku minum. Chanyeol sendiri juga nampak mabuk, karena gelas demi gelas yang ia tuangkan kini mulai berhamburan diatas meja.
Aku mengangkat kelopak mataku yang rasanya berat untuk melihat teman-temanku yang sudah memesan sebotol Soju lagi. Segalanya mulai nampak kabur dimataku, aku rasa mataku sudah kehilangan fokusnya. Aku melihat bayang-bayang Hyunsik saat dia memukul kepalaku seraya member pengumuman pada semua orang, "Kyungsoo sudah mabuk berat"
Apa?! Aku tidak mabuk! Aku mulai merasa marah, tapi aku sedang tidak dalam suasana hati untuk bertengkar dengan siapapun, kepalaku rasanya luar biasa sakit. Aku terus menundukkan kepalaku hingga rasanya salmon dan Ham yang tadi kumakan sedang naik ke tenggorokanku. Jadi aku memutuskan untuk mengangkat kepalaku.
Aku mendongak menatap langit-langit dan bertarung melawan cahaya dari restoran itu. aku merasakan alisku mengernyit kuat seolah ada sebuah magnet yang menyatukan mereka. Tidak peduli seberapa keraspun aku mencoba memisahkan mereka, itu tidak berhasil. Semua pikiran didalam kepalaku sedang mengalami kekacauan. Aku sangat bingung. Aku tidak tahu apa yang harus Aku lakukan.
Sepotong gambar dari video tadi melintas di otakku, kini video itu rasanya terpampang jelas dihadapanku. Pikiranku berteriak tentang wanita macam apa Soojung itu. Semua hal itu, bersama dengan suara Kris yang terus berulang-ulang dengan keras didalam kepalaku, memberitahuku lagi dan lagi apa yang telah terjadi. Suatu hal dimana Jongin sama sekali tidak mengetahuinya sedikitpun.
Aku mulai membayangkan senyuman Jongin. Senyuman yang biasa dia berikan padaku, pada Soojung, dan pada semua orang. Senyum indah yang seolah tak pernah pudar. Aku tidak bisa membuat diriku memaafkan orang yang telah menghancurkan senyuman itu. Aku tidak bisa membuat diriku memaafkan orang yang tidak mampu melihat betapa berharganya Jongin itu. Tidak, tidak kepada orang yang telah membalas cinta dan niat baik Jongin dengan tindakan mengerikan sepertinya.
Hal itu sungguh membuatku merasa sakit, lebih sakit dari apa yang aku rasakan dimalam kami berdua mengucapkan salam perpisahan.
Tanganku mengepal keras sampai rasanya kukuku berhasil menembus permukaan telapak tanganku. Yang bisa aku bayangkan adalah bagaimana hancurnya perasaan Jongin nanti. Rasanya hatiku diremas begitu kuat hingga aku tidak bisa bernafas. Aku seharusnya tidak perlu tahu tentang semua ini.
Karena aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk Jongin. Atau, haruskan aku membiarkan keadaan seperti biasa saja?
Hanya ada satu kata yang ada di benakku saat ini. Kenapa? Kenapa?!
Teman-temanku masih terus berpesta pora dan tertawa tanpa ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk bergabung bersama mereka. Bukan karena aku mabuk, tapi lebih karena tenagaku sudah terkuras untuk pikiranku. Aku tahu aku tidak bisa membiarkan semua ini berlanjut. Tapi aku bahkan terlalu takut untuk mengetahui bahwa semua ini bukanlah mimpi.
Tapi mungkin bukan disitu saja letak ceritanya. Soojung mungkin punya alasan (yang sama sekali tidak bisa ku bayangkan) untuk melakukannya. Atau mungkin itu bukan Soojung sama sekali.
Aku berteriak dalam hati, memberitahu diriku sendiri lagi dan lagi agar tidak terlalu mudah percaya pada segalanya. Karena pada akhirnya, orang yang akan merasa paling kehilangan dan yang paling hancur berkeping-keping disini adalah Jongin. Temanku.
Aku… tidak ingin mempercaya semua ini…
"Kyungsoo, ada masalah apa?" Aku mendengar suara berat yang familiar mengganggu jalan pikiranku. Aku membuka mata untuk melihat orang dihadapanku ini dengan senyumnya yang konyol terpasang diwajahnya.
"Siapa yang membiarkan dia mabuk berat seperti ini? Kulitnya sudah merah semua," Jongin menoleh kesekitar untuk bertanya pada teman-temanku.
"Iya, iya. Kau rawat dia sana. Pacarmu itu benar-benar lemah menghadapi alkohol," Hongbin berkata sambil saja aku masih memiliki sisa tenaga, aku akan menendangpantatnya dengan keras. Tapi tidak. Tidak untuk malam ini.
Aku duduk diam dan mengamati Jongin saat dia duduk disandaran tangan kursiku (jadi saat ini posisi kepalaku setara dengan perutnya). Dia menikmati waktu mengobrol bersama teman-teman kami. Sesekali, Aku mendengarnya tertawa. Tapi kadang, dia menoleh padaku dengan ekspresi hawatir diwajahnya, mungkin karena aku kini terlihat seperti mayat hidup.
"Kyungsoo! Segelas lagi, segelas lagi!" Walaupun begitu, Chanyeol terus menyodorkan minuman ke arahku. Sudah pasti aku tidak menolaknya. Aku mengulurkan tangan untuk menerima gelas itu, tapi Jongin menghentikanku.
"Dia sudah mabuk berat, Chanyeol." Hanya dia satu-satunya yang berani melawan keinginanku.
"tidak bisa, Jongin! Kami sudah memesan satu botol tambahan, jadi Kyungsoo harus ikut bertanggung jawab!" suara berat Chanyeol terdengar tidak terima. Aku tidak bisa melihat dengan pasti bagaimana ekspresi wajah Jongin, tapi aku bisa melihat bayangan tangannya meraih minuman itu.
"biar aku saja yang minum" Instingku menyuruhku untuk menghentikannya dengan menggenggam tangannya.
"Jangan, biar aku saja yang mabuk sendirian"
"tenang saja, aku tidak akan mabuk. Aku bukan orang yang lemah," dia berkata dengan sedikit kelicikan disuaranya, yang membuatku ingin menendangnya saat itu juga. Namun, Aku tidak bisa melakukan hal itu. Dia mendorong dahiku dengan jarinya, sehingga aku terjatuh kebelakang dengan mudah karena aku tidak punya kekuatan untuk menahannya. "Kau itu sudah mabuk, kau sudah tidak bisa lebih mabuk lagi." Dia dengan lembut membelai dahiku dengan tangan yang sama. Aku tidak bisa menolak untuk menyunggingkan senyuman.
Aku menggenggam tangan yang berada didahiku itu dengan perasaan yang bercampur aduk, "Jongin…"
"hm? Apa?"
"Tidak peduli apa yang terjadi… Aku akan selalu ada disini untukmu, mengerti?"
Rasanya kepalaku akan meledak kapan saja. Hanya pikiran itu yang sedari tadi terngiang-ngiang didalam otakku. Sakitnya semakin parah, aku merasa akan pingsan dan tergeletak di tempat saat itu juga, namun seseorang sedang menyeret tubuhku.
"Lepaskan… lepaskan aku… Aku ingin tiduuuur…"
"Nanti, kau bisa tidur nanti, sebentar lagi." Aku langsung mengenali suara itu.
"Jongin… kau mau.. membawaku… kemanaaaaaa?" rasanya mengatakan hal itu pun sangat sulit.
"Aku membawamu ke tempat tidur agar kau bisa tidur. Ayolah, berhenti memberontak, tubuhmu ini memang kecil tapi sangat berat, kau tahu?" Jongin berbicara sambil menyampirkan tanganku di bahunya. Aku merasa pusing dan sedikit mual, sepertinya sesuatu kini tengah mendesak di tenggorokanku, "Kita udah hampir sampai," dia berkata, aku merasa sedikit lega mendengarnya.
Kami berjalan sempoyongan dan berusaha menapaki tangga menuju ke atas. Kepalaku rasanya seperti dipukuli saat Jongin berusaha membuka sebuah pintu. Aku membuka mataku dan menyadari dengan cepat kalau ternyata.. ini adalah kamar Jongin. Aku cepat-cepat memejamkan mata lagi. Kenapa aku bisa berada disini?! Aku ingin pulang ke rumahku saja!
"Rumahku! Antarkan ke rumahku! Rumaaah! Aku ingin pulang ke rumaahku!" Aku mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk melepaskan diri saat aku menyadari tempat apa ini. Walaupun, sebenarnya aku tidak terlalu yakin, kenapa aku harus mempermasalahkannya.
Jongin mempererat pelukannya di pinggangku. "sudahlah, jangan keras kepala. Kau sudah mabuk berat, memangnya kau mau pulang dan dimarahi oleh ayah?" dia meneruskan omelannya yang tidak aku mengerti apa maksudnya.
Sesaat kemudian, saat kesadaranku kembali lagi, punggungku sudah beralaskan kasur yang empuk. Rasanya seperti surga. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar menyesuaikan posisi tidur yang benar.
Aku bergerak kesana kemari di atas kasur karena tubuhku rasanya tidak nyaman. Jongin akhirnya membantuku untuk berbaring dengan posisi yang lebih baik. Kepalaku sakit luar biasa hingga aku terpaksa mendorong bahunya untuk berhenti,
"Kyungsoo, bolehkah..?" Apa yang harus aku katakan? Rasanya kepalaku akan meledak sebentar lagi. Aku bahkan tidak punya tenaga lagi untuk mengucapkan sepatah katapun.
Pusing ini rasanya semakin lama semakin parah, hingga aku memutuskan untuk membuka mata dan hal pertama yang aku lihat adalah wajah Kim Jongin, yang kini bergerak mendekati wajahku, cukup dekat untuk aku bisa merasakan hembusan napasnya.
Detik itu juga, saat dimana aku melihat sepasang mata elang hitam yang menatapku itu, aku langsung lupa akan rasa sakitku. Rasanya aneh, ada sesuatu di mata Jongin yang sungguh memikat, sampai aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Seolah-olah sepasang mata itu telah mengunci mataku supaya tidak meninggalkannya.
Aku menatap jauh kedalam manik bercahaya yang secara perlahan bergerak mendekat dan semakin mendekat itu. Wajah kami berdua sangat dekat hingga aku bisa merasakan hidungnya menyentuh hidungku. Aku bisa merasakan tangan Jongin membelai pipiku dengan lembut saat bibir kami perlahan saling bersentuhan.
Namun kemudian..
"Ugghhh! Hoeek!" Gawat! Gawat! Gawat! Aku sontak mendorong Jongin sekuat tenaga dan berlari ke kamarmandi kemudian memeluk toilet."Hoooeeek!"
"tsk, kau muntah ya? Dasar lemah." Aku bisa mendengar ejekan Jongin tidak jauh dari tempatku berada, tapi aku sedang tidak berminat menanggapinya, karena bagiku, mengeluarkan isi perutku adalah prioritas utama saat ini. Aku bisa mendengar kekehannya sebelum aku merasakan ada sebuah tangan yang menggosok punggungku. "Keluarkan semuanya, supaya terasa lebih baik"
berbicara memang gampang, tapi melakukannya susah tahu! Aku berusaha semaksimal mungkin, memaksa tubuhku agar mengeluarkannya, tapi tidak berhasil. Jongin menggosok punggungku untuk waktu yang lumayan lama, "sebenarnya kau jadi muntah atau tidak 'sih?" Aku rasa dia menyadari kalau aku sudah terlalu lama memeluk toilet dan tidak ada yang terjadi.
"Aku inginn… tapi… tapi aku tidak bisa." Pada akhirnya, aku tidak punya pilihan lain selain menerima situasi mengerikan yang harus kuhadapi ini, walaupun rasanya masih sangat mual. Aku sadar kalau aku tidak bisa diam terus-menerus disini berteman dengan sebuah toilet dan menjadi beban bagi Jongin, yang sejak tadi menggosok punggungku. Jadi, aku memutuskan untuk menyerah dan membiarkan Jongin membantuku untuk kembali ke tempat tidur. Saat kepalaku terantuk-antuk karena berjalan, aku sadar kalau disinilah batasku.
"Hoooooeeeeeekkkk." Dan aku memuntahi tubuh kami berdua. -_-" Kakiku mendadak menyerah untuk bertahan saat tembakanpertama berhasil diluncurkan. Aku berada di lantai kamar mandi, ditengah-tengah genangan (muntahan) itu, merasa sungguh kelelahan.
"Kau tidak apa-apa, Soo?!" Rasanya aneh karena Jongin tidak berteriak memarahiku atas apa yang telah Aku lakukan. Alih-alih, dia malah duduk dan membantu menopang tubuhku yang sudah tidak bisa ku gerakkan ini. Aku tadinya berniat untuk memberitahunya bahwa aku baikbaik saja, tapi saat Aku membuka mulutku…
"Hoooooeeeeeekkkk." tembakan kedua datang. Aku benar-benar kehilangan kendali. Aku tidakk sedang bercanda! Saat ini, yang aku tahu, karena sudah terlanjur muntah, mungkin lebih baik kalau urusannya diselesaikan sekalian sampai benar-benar tidak tersisa. Aku tidak peduli apakah aku memuntahi orang lain saat ini. Katakan saja, aku sedang mengambil keuntungan dari niat baik Jongin karena dia tidak memarahiku. "Hoooooeeeeeekkkk."
"Sudah keluar semua?" Dia terus menggosok pungungku saat aku muntah beberapa kali lagi. Pada akhirnya, aku bisa merasakan kalau isi perutku sudah kosong sekarang, aku mendesah panjang.
"Semuanya sudah keluaaaaar."
"Yakin?" Jongin bertanya sekali lagi sebelum kemudian mengangkatku untuk membersihkan badan di bathtub. Kami berdua benar-benar bau busuk karena muntahanku. Kalau sekarang aku muntah lagi, mungkin gara-gara bau busuk itu.
Aku duduk di pinggiran bak mandi, merasa sudah benar-benar lemas. Aku mendadak menjadi Kyungsoo yang jinak, dan memperbolehkan Jongin melepas baju dan celana jeansku hingga tidak tersisa. Aku menundukkan kepala dan membiarkan air dari shower mengalir melewati sela-sela rambutku. Sementara itu, Jongin juga melepas bajunya sendiri sehingga kami berdua sama-sama hanya memakai celana dalam.
"Apa yang kau lakukaaaan?" aku berubah gelisah, biasanya orang mabuk memang seperti itu kurasa.
"apanya yang apa? Tentu saja aku ingin membersihkan tubuhku sendiri" Dia membalasku sambil tertawa, kemudian menarik shower dan membilas tubuhku. Aku mengapitkan kedua tangan untuk menutupi tubuhku saat menyadari Jongin berusaha menyabuniku,
"s-sekarang apa yang akan kau lakukan padaku?!"
"Kalau kau tidak mau mandi sekarang, aku aku akan menyeretmu ke garasi dan memaksamu tidur disana." Dia mengancamku sebelum mengangkat lenganku dan melumuri seluruh tubuhku dengan sabun. Aku tidak bisa membantah perkataannya karena aku juga setuju kalau aku benar-benar merasa kotor saat ini.
Aku duduk diam dan membiarkan Jongin membersihkanku. Kesadaranku sedikit demi sedikit mulai kembali. Pada akhirnya, Aku benar-benar memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dan menyadari kalau Jongin saat ini sedang memandikanku.
Kalau dipikir-pikir, mandi dengan mengenakan celana dalam seperti ini, rasanya tidak nyaman.
"Jongin…"
"Apa? Kau sudah merasa baikan?" Dia bertanya seraya mencuci rambutnya sendiri.
"sudah. Emm.. Apa kau tidak merasa kurang nyaman?"
"Apa maksud pertanyaanmu itu?" Dia kembali bertanya saat berbalik untuk membilas rambutnya.
"memakai celana dalam saat mandi…" Walaupun Aku sadar kalau pertanyaanku itu aneh dan terdengar mesum, tapi aku merasa diriku belum sepenuhnya sadar sehingga mepunyai keberanian untuk melontarkan pertanyaan itu. Jongin seketika menghentikan pergerakannya.
Dia memutar wajahnya yang tampan menghadapku dengan alis terangkat, mengejekku, "lalu? Kau mau aku melepaskan celana dalamku begitu?"
"Apa kau biasanya memakai celana dalam juga saat mandi bersama teman-temanmu waktu kemah dulu?" Aku membalasnya dengan sebuah pertanyaan, menolak untuk menyerah.
"Tidak. Aku telanjang bulat," dia tertawa. Aku sudah jelas tidak mau membayangkan itu di kepalaku.
"Iya, dan ini kan rumahmu. Bukankah seharusnya kau melakukan sesuatu yang menurutmu nyaman?" Kenapa aku terus berbicara seperti ini?! Dasar mulut sialan. Aku akan menamparmu saat kekuatanku sudah kembali nanti.
Jongin terdiam sesaat setelahmendengar pertanyaanku, lalu kemudian dia meneruskanmembilas rambutnya. Ketika dia akhirnya selesai, dia meraih sebuahhanduk untuk mengeringkan tubuh kami berdua.
"Hey…" dia mulai berbicara. "Aku bukan pria yang baik… dan aku tidak ingin menjadi lebih bajingan lagi dari saat ini." Melihat senyumnya yang nampak kesepian itu, entah kenapa membuat dadaku menjadi sesak.
Jongin menyunggingkan sebuah senyuman untuk sesaat, kemudian aku merasakan bibirnya yang lembut perlahan menyentuh dahiku.
"Hal ini sudah cukup membuatku merasa senang… kita harus tidur. Dan jangan sampai muntah di kasur," dia berkata sebelum menyeretku untuk mengganti pakaian sehingga kami bisa beranjak tidur.
Kami tidur bersebelahan satu sama lain dengan sebuah bantal ditengah-tengah kami sebagai pembatas. Tapi anehnya, aku merasa sangat aman hanya dengan menggenggam tangannya seperti ini.
Kalau semua yang dia lakukan kepadaku tadi adalah sesuatu yang biasa Jongin berikan pada Soojung juga…
… maka aku tidak ingin kebaikannya menjadi sia-sia.
TBC
tolong jangan katakan ini 'TBC dengan tidak elitnya' lagi karena, YANG ELIT ITU YANG KAYA APA SIH? TTTT
dan meskipun updatean-nya agak ngaret ya (ngaret banget) karena jujur, ahir-ahir ini aku lagi fokus ke masalah real lifeku.. jadi aku agak males ngedit ini hehe maaf. tapi kemudian keajaiban datang, aku secara tiba-tiba baca review kalian dan ngeliat banyak yang review ff ini, bahkan ada yang review marathon juga (aku sampe ngakak-ngakak baca review kalian) mood ku langsung kembali penuh. yuhuu. kalian itu emang ajaib ya bisa naikin mood orang gitu aja hihi makasih ya^^
dan jeng jeng jeng ada beberapa couple yang aku tambahin disini entah kalian sadar atau enggak, meskipun kayanya gak sesuai keinginan kalian, tapi aku udah berusaha ngambil kesempatan di part yang se-tepat mungkin buat nambahin couple-couple itu, jadi mungkin buat couple yang kalian inginin kaya chanbaek atau hunhan masih belum kesempatan, yang sabar dulu aja yaa hehe entar kalo ada kesempetan admin tambahin kok. oh ya, kalian pengen gak aku bikinin scene spesial antara Jongin sama Junmyeon? yang Jongin ngasih uang junmyeon ama kalung berplatnya? karena di novel aslinya gak ada tapi di seriesnya ada, jadi aku ada niatan buat bikin sendiri, tapi terserah kalian juga sih.. gak mau juga ga apa apa hehe.
nah segitu aja deh cuap-cuapnya, kalau begitu sampai ketemu di chap depan yaa semuanya
xoxo~
bye~
