Me Chapter 10

Author : Zaky UzuMo

Pair : KyuHyuk, MinHyuk, HaeHyuk DPL(dan pair lainnya)

Rate : T

Genre : Entahlah~

Disclamer : semua Chara milik Tuhan YME, ortu mereka, SMEnt, dan diri mereka sendiri. Dan cerita gaje ini punya Zaky ^_^

WARNING! EYD, Typo(s), alur kecepetan, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainya)

Oke, readerdeul langsung baca aja, ne!

Pai, pai! ^^

Oia, ini umur para chara :

Hyuk sama Hae SMP kelas 1

Ming sama Wook SMA kelas 1

Kyu anggep aja umur 20an (^,^)b

Author POV

"Hyung~" rengekan manja Eunhyuk tak mengganggu kegiatan yang sedang dilakukan Sungmin. Namja manis yang sama sama bermarga Lee itu asik membaca novel yang di tinggalkannya selama sang dongsang sakit.

"Ne, wae Hyukkie?"

Bibir plum Eunhyuk mengerucut kesal mendapat jawaban singkat dari hyung kelincinya itu, "Yaa~ hyuungg~"

Sungmin sedikit melirik namdongsaengnya yang dengan manjanya berguling guling di sampingnya. Sedikit menggelengkan kepala maklum dan helaan nafas kecil keluar dari mulut Sungmin saat melihat tingkah kekanakan dongsaengnya.

"Hyuuunng~" kembali namja berjuluk monkey manis itu merengek sambil mngerucutkan bibir plum manisnya.

"Ne, wae saengi?" dan akhirnya Sungmin mengalah dengan menutup novelnya dan berniat melanjutkannya nanti.

"Hyung.." sedikit nada ragu tersirat dalam nada bicara Eunhyuk membuat sang hyung mengerutkan sedikit keningnya.

"Ne, waeyo saeng?" tanya Sungmin lembut sambil mengusap penuh sayang surai coklat kemerahan Eunhyuk sayang.

"Berapa lama aku tak sadarkan diri di rumah sakit, hyung?" manik coklat terang Eunhyuk menatap lurus manik foxy Sungmin, meminta jawaban yang sebenar benarnya dari hyungnya itu.

Sungmin terdiam sejenak, berusaha merangkai kata yang sekiranya tepat untuk menjawab pertanyaan 'umum' sang dongsaeng, "Hm kira kira dua minggu, Hyukkie.."

Eunhyuk tampak murung sejenak. Di dalam fikirannya mulai muncul banyak hal yang bergulung saling mengaitkan satu sama lain. Dan dengan helaan nafas kecil namja manis itu meneruskan pertanyaannya, "Apa selama aku tak sadar hyung.. menemukan sesuatu?"

Sungmin tampak berfikir sejenak, mengingat ingat hal apa saja yang dilakukannya selama sang dongsaeng terlelap dalam mimpi jauhnya, "Hm.. ya, ada sedikit hal yang baru ku ketahui. Yah, tapi itu tak terlalu penting untuk mu, saengi."

Dan jawaban Sungmin membuat bibir plum merah Eunhyuk mengerucut sebal, "Yak, kenapa kau tak mau cerita, hyung~?"

Sungmin terkekeh kecil melihat dongsaengnya yang kembali merajuk manja, "Iya, iya.. akan hyung ceritakan, oke?"

"Ung~!" pipi chubby Eunhyuk menggembung dengan bibir yang makn mngrucut karna Sungmin yang iseng mncubit hidungnya gemas.

"Ceritakan sekarang, hyung~" kembali namja manis bersurai coklat kemerahan itu merajuk manja pada hyung semata wayangnya itu.

"Ne~ akan hyung ceritakan." jari jemari Sungmin menyusuri lembutnya surai sang dongsaeng penuh kelembutan.

"Jadi, apa yang hyung temukan? Sesuatu yang menarik kah?" Eunhyuk membalikan tubuhnya dan raut wajahnya menunjukan ekspresi rasa ingin tau dan penasaran yang sangat.

"Jadi, yang hyung dapatkan adalah.." Sungmin sedikit menarik nafas pelan dan melanjutkan kata katanya, "Kenapa key umma, pemilik panti asuhan dan manula yang waktu itu hyung tunjukan pada mu. Kau ingat panti itu kan, Hyukkie?"

Manik Eunhyuk mengerjap sejenak, berusaha mengingat ingat tempat yang dikatakan oleh hyung kelinci manisnya itu. Dan setelah beberapa ingatan tentang dia yang membantu hyungnya untuk membagikan kue dan saat saat dia bermain dengan beberapa anak anak di panti asuhan yang dikatakan hyungnya itu Eunhyuk pun mengangguk dengan semangat, "Ne, aku ingat hyung!"

"Di sana tempat yang kau bilang lebih menarik dan mengasikan dari pada taman bermain kan?"

Pertanyaan penuh semangat Eunhyuk membuat seutas senyum senang terlukis di bibir Sungmin, "Ne, dan memang begitu kan?"

"Nee~ di sana memang sangat menyenangkan, hyung~ ah, iya! Bagaimana jika lain kali kita mengajak mereka berkemah di bukit itu?"

Sungmin terkekeh maklum melihat tingkah kekanakan dongsaengnya, "Ne. Kau mau tau kelanjutan ceritanya, Hyukkie?"

"Mauu~! Tentu aku mau mendengarnya, hyung!"

Sambil tersenyum manis, tangan Sungmin mengelus dan mengusap lembut rambut Eunhyuk, "Jadi, saat kau belum bangun dari tidur lelap mu, aku bertemu dengan Key umma. Saat itu aku menceritakan tentang mu yang tak kunjung bangun."

Eunhyuk terlihat sangat mengamati setiap perkataan Sungmin dengan seksama. Dari bibir yang biasanya berisik itu tak keluar sepatah kata pun guna menyelak cerita hyungnya. Dan belaian lembut Sungmin pada rambutnya pun tetap terasa selagi hyungya itu terus bercerita.

"Lalu Key umma menceritakan sesuatu yang mengejutkan! Ternyata.."

"Ternyata apa, hyung?" tanya Eunhyuk penasaran. Ah, hyung manisnya ini memang senang membuatnya penasaran!

"Kau tau, Key umma mengurus sendiri panti Kim itu. Selama ini banyak manula dan beberapa anak muda yang membantunya mengurusi panti Kim itu seperti ku yang menanyakan kemana anak atau istrinya. Tapi Key umma bilang, dia tak memiliki istri. Karna yang dia miliki adalah 'suami'." ucap Sungmin dengan sedikit penekanan pada kata 'suami'.

Manik Eunhyuk sedikit membulat kaget mencerna ucapan Sungmin, "Maksud hyung, Key umma itu seperti umma dan appa?"

Sungmin mengangguk pelan dan ringan sambil tersnyum kecil, "Ne, Key umma sama seperti umma dan appa. Lalu beberapa teman teman ku semakin penasaran dengan siapa dan dimana suami dan anak Key umma. Tapi setiap kali ditanyakan soal suami dan anaknya Key umma hanya mengatakan bahwa suaminya telah lama pergi lebih dulu."

"Lantas di mana anak Key umma, hyung?"

Pertanyaan polos Eunhyuk memang selalu sukses membuat Sungmin tersenyum lembut, "Key umma tak pernah menceritakan tentang anaknya. Kami semua juga tak tau siapa anaknya. Entah namja atau yeoja."

"Tapi, saat setelah aku menceritakan tentang mu Key umma mengajak ku ke sebuah kamar rawat yang terletak cukup jauh dan agak tersisih dari kamar kamar rawat lainnya. Dan di sana lah Key umma menceritakan semuanya."

Sungmin menutup sejenak ke dua kelopak matanya dan membukanya kembali sambil melanjutkan ucapannya, "Menceritakan kenapa selama ini dia tak pernah mau membahas tentang anaknya. Kenapa dia tak pernah membawa atau sekedar mengajaknya untuk mengurus dan melihat lihat panti yang dikelola cukup lama oleh ummanya itu."

"Itu karna.. yang berada dalam kamar rawat itulah anaknya. Yang terlelap dalam mimpi panjang itu adalah putranya. Namja muda yang hanya mampu bertahan hidup dengan semua alat alat kedokteran penyambung nyawa dan nafasnya, dan selang infus juga alat bantu pernafasan yang terpasang di tubuhnya lah putra tunggalnya. Anak yang sangat dirindukannya selama ini."

Eunhyuk tertegun mendengar penuturan Sungmin. Dalam fikirannya membayangkan seperti apa perasaan Key yang kehilangan suami dan harus terus menatap menunggui anak semata wayangnya dalam tidur panjang nan lelapnya. Sampai sebuah pertanyaan kecil dengan rasa ingin tau diajukannya pada hyungnya yang masih membelai lembut helaian rambut coklat kemerahannya, "Siapa nama anak Key umma itu, hyung?"

Sungmin menatap sebentar pancaran mata polos dongsaengnya itu dan menjawbnya sesuai ingatannya, "Hm, kalau tak salah namanya Hyun? Ah, aku lupa menanyakan namanya pada Key umma."

"Hyun? Dari mana kau bisa mengatakan namanya Hyun sementara kau tak menanyakannya pada Key umma, hyung?" Eunhyuk menatap bingung hyungnya ini, ya bagaimana hyungnya ini bisa tau nama namja itu?

"Aku melihatnya sekilas dari papan nama yang ada di pintu kamar rawatnya, Hyukkie. Sama seperti yang ada di kamar mu itu." Sungmin meraih segelas air putih yang ada di pinggir meja nakan di samping tempat tidur Eunhyuk dan meneguknya perlahan.

"Hm, Hyun, ya.. Hyunnie.. itu nama yang lucu~" celetuk Eunhyuk sambil membayangkan sosok 'Hyun'.

"Hahaha.. ne, kau benar juga, Hyukkie. Ah, sekarang sudah hampir waktunya makan siang! Kajja!" tangan lembut Sungmin menarik pelan tangan Eunhyuk, mengajaknya untuk turun ke meja makan.

"Ne, kajjaa~! aku juga sudah lapar, hyung~!"

x.x.x

"Hyung~" bibir manis Lee bungsu mengerucut kesal saat seusai makan hyung kelincinya tak juga mau memberitahu kelanjutan ceritanya tadi.

"Ne, wae saeng?" tanya Sungmin santai, seolah tak tau apa yang diinginkan sang dongsaeng manisnya.

"Jadi bagaimana dengan A-chan? Apa dia bisa kembali ke tubuhnya? Atau.. dia memilih pergi ke alam barzah?" Eunhyuk memberondong pertanyaannya pada Sungmin dengan nada ragu diakhirnya.

"Menurut mu, Hyukkie? Ah, lagi pula itu hanya fiksi. Apa kau percaya ada orang yang hidup di tubuh orang lain seperti A-chan dan Yu-chan, hm?" tanya Sungmin balik sambil menatap lembut ke arah namdongsaeng tunggalnya itu.

"Hum.. ya.. sedikit." jawab Eunhyuk sambil memamerkan cengirannya, "Tapi aku percaya jika A-chan akan mendapat yang terbaik."

Kepolosan Eunhyuk mengundang kikikan kecil Sungin, "Ya, kau memang sangat polos, Hyukkie." jari jemari lembut Sungmin membelai helaian surai coklat Eunhyuk, "Ya, A-chan memang mendapat yang terbaik. Karna dia tak mau menyusahkan Yu-chan dia memilih alam barzah."

"Mwo?! Tapi, tapi A -chan tau kan kalau Yu-chan ingin bersamanya?" sahut Eunhyuk yang seddikit tak terima dengan jawaban yang dia dapat.

"Tapi apa kau lupa jika keberadaan A-chan juga membuat Yu-chan terlalu bergantung padanya dan melupakan kehidupan nyatanya?" manik foxy Sungmin menatap lurus dan menyorot lembut iris coklat Eunhyuk, "Karna itulah keberadaan semu A-chan harus dihapus. Menurutnya itulah yang terbaik, agar Yu-chan mau berpaling pada dunia yang sesungguhnya."

"Lalu sebenarnya A-chan itu apa, hyung?"

Sungmin menghembuskan nafas kecil sambil tersenyum dengan santainya, "Entahlah. Bagaimana menurut mu, Hyukkie?"

"A-chan.. dia seperti orang yang jiwanya tertinggal di dunia? Dan Yu-chan, teman terdekatnya bisa merasakan keberadaannya dan membuatnya tetap mempercayai bahwa A-chan masih hidup."

Senyum manis Sungmin kembali mengembang mendengar penuturan Eunhyuk. Tangannya membelai lagi rambut lembut Eunhyuk perlahan, "Ya, kau benar. Karna merasa A-chan lah satu satunya yang bisa mengerti dirinya, Yu-chan tak rela melepas kepergian A-chan kan? Dia membohongi dirinya sendiri bahwa A-chan masih hidup bersamanya."

"Tapi apakah A-chan yang 'asli' sudah tenang disana, hyung?" kembali pertanyaan polos dan spontan meluncur dari pihak sang dongsaeng.

Sungmin tersenyum lembut, "Tidak." dengan sedikit jeda Sungmin melanjutkan kalimatnya, "Tidak sampai Yu-chan menerimanya pergi."

"Jadi.. 'A-chan' bukan jiwa yang tertinggal.."

Ya, sedangkan dia jiwa yang tak bisa pergi.

x.x.x

x.x.x

"Waktu mu hampir habis, Kyu."

Ucapan Zhoumi yang lalu menggaung merusak hening fikiran Kyuhyun. Bibirnya berdecak kesal tiap kali mengingat kedatangan Zhoumi yang selalu yang selalu mengingatkan batas 'waktu'nya.

"Kembalilah Kyu. Menyerah saja soal dendam mu."

Senyum remeh terlukis sempurna di paras mengagumkan Kyuhyun. Dan sesekali decakan kesal bercampur muak menguar.

"Lupakan dendam mu, Kyu."

'Heh, bagaimana aku bisa lupa pada perbuatan yeoja jalang itu.' nada sarkastik Kyuhyun mengalun hanya dalam hatiya, 'Si busuk yang menghancurkan hidup ku dan membunuh umma.. tak akan ku maafkan!'

Krak!

Besi yang menopang dan menyambung bingkai jendela yang menjadi sandaran sekaligus pegangan tangan Kyuhyun sedari tadi remuk dan terlepas dari engselnya saat jari jemari Kyuhyun mengepal erat. Aura gelap Kyuhyun menguar bebas dalam ruangan di atas atap yang cukup luas itu.

'Akan ku bawa dia sebagai pengganti mu, yeoja sialan.' batin Kyuhyun penuh dendam dan kebencian. Dan jangan lupakan seringai licik khas sang iblis yang terpatri mulus di paras sempurna 'Kim' Kyuhyun.

x.x

"Hahaha.. tangkap aku, Hyukkie~!"

"Yak, Minnie hyuuuunnngg! Tunggu akuu~"

Dalam bola mata Kyuhyun yang terpantul di luar sana adalah sepasang namja anggota keluarga Lee yang kini menempati rumah yang awalnya dimiliki atas nama keluarga Cho ini. Ke dua namja itu asik bermain main di taman belakang rumah 'mereka' yang tak terlalu luas itu dengan riangnya. Saling mengejar dan berteriak satu sama lain, membuat keringat mengucur jatuh bebas membasahi baju yang mereka kenakan. Sedangkan namja yang mengaku bermarga Kim itu terus memaku perhatiannya pada sesosok namja manis yang berlarian dengan semangat dan sedikit rasa kesal yang menggores paras bak yeojanya saat mengejar sang hyung yang terus meledeknya.

'Lee Hyukjae..'

Grak!

Geram kembali merasuk dan menyebar dalam benaknya, membuat genggamannya pada bingkai jendela mengetat erat dan kembali meremukan besi besi penyangganya. Hembusan nafasnya tak turut membuang penuh dalam dadanya yang terus menekan luapan emosinya hingga naik ke ubun ubunnya saat manik obsidiannya terus menangkap bayangan sosok Lee Hyukjae di sana.

'Hyukjae..' mata yang menyorot penuh dendam itu berganti memancarkan rasa yang tak dapat diungkapkan kata melalui pantulannya di balik kaca jendela tuanya.

'Hyukkie..' air wajah Kyuhyun mengeras, bibirnya terkatup rapat dan matanya terus menatap lekat sang namja penyandang nama Lee terakhir dalam keluarga kecilnya itu.

Bisakah kau melukainya lagi hei, Kim Kyuhyun?

x.x.x

x.x.x

"Hyung?" manik coklat indah Eunhyuk mengerjap erjap saat sinar mentari yang awalnya hanya menyelinap di antara gorden dan bingkai jendelanya menyebar membanjiri wajah manisnya yang masih sedikit kusut khas orang baru bangun tidur.

"Ne, kau sudah bangun, Hyukkie." senyum hangat Kyuhyun langsung menyambut penglihatan Eunhyuk yang masih sedikit kabur.

"Ng.. ne, hyung~" tangan mungil itu mengusap usap matanya yang masih terasa berat, "Aku masih mengantuk, hyung~ bolehkah.."

Bibir plum namja manis Lee itu terbuka lebar. Bibir plum sewarna cherry-nya melebar saat Eunhyuk menguap ringan, "Bolehkah aku tidur lagi, hyung?"

Kembali Kyuhyun memamerkan senyum hangatnya. Kaki kaki jenjangnya melangkah mendekati Eunhyuk yang masih terduduk di kasurnya sambil sesekali menguap kecil dan menggosok matanya, "Anni, Hyukkie. Ini sudah cukup siang dan kau harus bangun. Arraseo?"

Ingin sekali rasanya namja manis bungsu Lee ini menggembungkan pipinya dan mem-pout-kan bibir manisnya saat mendengar jawaban Kyuhyun. Sedikit degusan nafas sebal, Eunhyuk dengan gerakan perlahan khas slow motion(?) menggeser letak selimutnya dan mulai menjejakan kakinya di lantai.

Hap!

Belum sampai kaki itu menyentuh lantai sepasang lengan kekar menangkap dan memapah tubuh kecilnya. Membuat dua tubuh itu berhimpit dan hanya berbatas dua lembar baju yang menutupi masing masing jasad berbeda usia mereka.

"Kalau kau masih pusing duduklah dulu, Hyukkie." ucap Kyuhyun lembut, "Akan ku siapkan air hangat untuk mu, Hyukkie." lanjut Kyuhyun sambil melangkah ke kamar mandi di kamar Eunhyuk.

Kyuhyun sama sekali tak menggubris perbuatannya barusan yang nyaris membuat jantung namja berusia belasan itu berdebar tak karuan. Menyisakan Eunhyuk dengan parasnya yang sedikit memerah dan terdiam di atas kasur king size-nya.

'Kyuhyun hyung..' tanpa sadar Eunhyuk mengigiti bibir bawahnya dengan dada yang menyesak dan sedikit terasa nyeri. Rasa sesak dan teriris tipis yang membuat tangan kecilnya meremas pelan bagian kiri baju depannya, tepat di dada kirinya.

'Kyuhyun hyung..' nafas Eunhyuk memberat, matanya terasa perih.

'Apa..'

'Apa tujuan mu, hyung?'

Dan setetes bening asin air mata Eunhyuk jatuh di atas punggung tangannya yang berpangku pada paha mungilnya yang sibuk meremas celananya sampai mengetat kusut. Kusut tak berbentuk seperti perasaannya sekarang ini.

Ya, Eunhyuk bukanlah anak bodoh yang tak peka dan tak mengerti pesan lain dari kelakuan Kyuhyun padanya. Dan setitik perasaan takut menguar dari balik sana. Menguar dan meluas sampai melahap bagian bagian perasaan lain yang juga dirasakannya saat Kyuhyun di sampingnya. Sesaknya kembali muncul dan mendobrak pertahanan kokoh pelupuk matanya. Terus berusaha menerobos untuk jatuh bebas dari pipi putih mulus nan chubby milik namja Lee itu.

'Sakit.. kenapa rasanya sakit..'

Klek!

"Air panas mu sudah siap, Hyukkie." kembali tanpa rasa bersalahnya Kyuhyun menghampiri Eunhyuk yang nampak tertunduk dalam duduknya, "Ada apa, Hyukkie?"

Nada lembut dalam ucapan Kyuhyun tak membantu Eunhyuk merubah posisinya. Lee cilik itu sibuk mengatur air wajahnya setenang dan seceria mungkin demi menghapus rasa takutnya. Dan entah bagaimana, sesuatu dalam dirinya menyatakan bila rasa takutnya pada Kyuhyun muncul itu akan membuat sang namja Kim berbahagia. Yah, ini keberuntungan atau kebalikannya? Oh, siapa yang tau?

"Ne, gomawo, hyung." ucap Eunhyuk dengan senyum normal-nya sambil menatap ke wajah rupawan Kyuhyun.

"Aku akan menyiapkan baju mu selagi kau mandi, Hyukkie." senyum tipis Kyuhyun yang biasanya mampu menghipnotis banyak gadis berhisteris ria tak membuat rasa nyaman datang menghapus takut dalam batin Eunhyuk yang terus bergemuruh.

"Tak perlu, hyung. Aku bisa melakukannya sendiri." Tak ada getar dalam suaranya namun desir yang menyudutkannya masih terasa dalam dada Eunhyuk.

Dan dengan senyum tipis andalannya Kyuhyun kembali bersuara, "Baiklah. Ku tunggu kau di meja makan, Hyukkie."

Blam

'Mungkin.. sedikit air panas bisa menenangkan ku..' batin Eunhyuk seraya beranjak ke kamar mandi. Dalam fikirannya masih menggaung tentang rasa takutnya pada Kyuhyun.

'Apa.. yang membuat ku takut padanya?'

'Kau menyadarinya, Hyukkie?'

TBC

Mianhae~ jongmal mianhaeyo eondeul~

Zaky kebanyakan tugas sekolah jadi ga sempet ngetik~ terus kena WB juga ToTv

Oia~ semoga chap depan Zaky bisa namatin FF ini terus ngelanjutin utang utang FF ku yang lain~ ^^a

Dan seperti biasa~

RnR plus RCL yaa~ ^o^/

Salam manis,

ZUM