Falling For My Husband
Chapter 9
[WARNING]
Typo everywhere
HUNHAN
BOYXBOY, MPREG, AGEGAP
DLDR – Just go away kalau ga suka
.
.
.
Luhan
Hari pertama terbangun sendiri di kamarku sungguhh aneh, tetapi setelah 4 hari – terimakasih Tuhan – semua hampir kembali normal. 1 minggu berada di pelukan Sehun dan aku sudah menjadi seorang idiot.
Yeah, minggu pertama sungguhh sulit. Karena kami berdua sepakat untuk kembali pada keadaan sebelumnya. Aku entah bagaimana masih mengharapkan sesuatu. Mungkin teks atau panggilan telepon, bahkan mungkin bunga yang dipilih oleh Jesicca; atau sesuatu yang lain. Aku tidak mengharapkan ketiadaan ini. Ketika aku bersikeras untuk kembali ke kehidupan normal kami, aku tidak sepenuhnya mengharapkan normal seperti biasanya. Oke, apakah itu masuk akal? Ya, aku meninggalakan Sehun untuk alasan yang diriku bahkan tidak bisa mengerti.
Atau mungkin karena diriku menolak proposalnya ... ketika aku sangat ingin mengatakan ya. Tetapi aku enggan dan takut untuk mengatakan ya. Jika itu pria lain, itu tidak akan sulit, tetapi ini adalah Sehun; pria yang sangat aku sayangi sejak diriku berusia lima belas tahun. Belum lagi fakta yang mencolok bahwa aku selalu berakhir menjadi sangat tidak terkendali saat didekatnya. Semua yang kami lakukan sangatlah luar biasa, namun aku tidak ingin mengambil risiko jatuh cinta padanya. Pacar pertamaku adalah seorang playboy, juga — mirip Sehun — dan aku akhirnya patah hati ketika aku menemukannya berselingkuh.
Lagipula, Sehun sudahh melakukan begitu banyak untukku. Aku tidak bisa mengambil risiko merusak persahabatan kami, atau apapun itu. Dan Sehun masih berlama-lama di dalam pikiranku. Ya, aku sudahh menghitung mundur hari-hari, bertanya-tanya kapan perasaan ini akan reda. Aku memberi waktu satu minggu lagi, dua mungkin, sebulan total untuk kembali normal. Jika tidak ada perbaikan pada akhir bulan, aku akan berada dalam masalah besar.
Sayangnya.
"Hiya, sweet cheeks!" Chanyeol mengetuk pintu sebelum membiarkan dirinya masuk ke kantorku, membawa kopi bersamanya. "Kupikir kafein yang baik akan membuat duniamu menjadi baik, kitty" Dia menyelipkan cangkir ke arahku, menyeringai seperti orang gila.
"Jangan punya kebiasaan memanggilku dengan sebutan itu, Chanyeol. Aku benci itu," Aku bergumam, sembari menyesap kopiku.
"Your loss."
Aku memutar kedua mataku ketika aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju sofa yang nyaman, biasanya aku tidur siang disana. "Bukankah seharusnya kau bekerja dengan Kris atau hal lainnya? Apa yang kau lakukan disini di jam 2 siang?"
Chanyeol menjatuhkan dirinya di sampingku, menggelitik telapak kakiku, "Well, aku datang untuk mengingatkanmu tetang reservasi makan malam yang kita rencanakan malam ini dan pesta koktail Kris setelahnya, untuk kejutan ulang tahun Kris?"
"Hentikan itu." Aku berusahan menendangnya, tetapi Chanyeol sangat cepat.
"Tickle fight!" Chanyeol menyatakan dengan keras.
Aku menggeliat dan berteriak sambil tertawa karena aku diserangnya habis-habisan.
Perang kaki dan jari kaki kecil kami terhenti ketika kami mendengar suara tenggorokan, seolah-olah mencoba untuk mendapatkan perhatian kami. Chanyeol mendongak ketika aku memutar kepalaku ke samping untuk melihat siapa orang itu.
Itu adalah Baekhyun, terlihat sangat marah ... di sebelah Sehun yang terlihat menegang.
"Apakah kita mengganggu?" Baekhun mengangkat alisnya, mata coklatnya membunuh.
Chanyeol dengan santai menggelengkan kepalanya. "Kami hanya bersantai sedikit. Ada yang bisa kami bantu?" Chanyeol kemudian melihat Sehun dengan tatapan tajam. "Kau Oh Sehun, bukan?"
Duh. Dia tahu siapa Sehun, jadi mengapa berpura-pura dia tidak? Chanyeol adalah seorang banci.
Namun, Sehun mengabaikannya. "Luhan, bisakah kita bicara sebentar?"
Tidak menatapnya langsung, aku tersipu dan menjawab. "Ya, tentu," aku menggerutu, merapikan pakaianku yang sedikit berantakan.
Shit.
"Kau bisa melepaskan kakinya sekarang," tuntut Sehun, suara dingin dan terdengar mengancam dari bagaimana dia mengucapkan kata-kata tersebut.
Chanyeol adalah tukang menggoda, karena dirinya seperti tidak terpengaruh dengan Sehun. Chanyeol malahan dengan sengaja mencium ibu jari kakiku sebelum dirinya berbisik di telingaku, "Sepertinya serigala besar adalah tipe cemburuan. Aku mencintaimu. Tetapi tolong berhati-hati dengannya? Dia tidak seperti Minho. Dia akan meninggalkanmu seperti yang lain." Chanyeol kemudian meincium pipiku dan berdiri. "Sampai jumpa malam nanti, dan jangan lupa untuk terlihat seksi." Chanyeol pergi dengan perkataan tersebut, dan tidak berusaha menyapa Baekhyun sama sekali.
Baekhyun memandangku dengan tatapan membunuh dan melihat kearah pintu sebelum kembali melihatku. Baakhyun terdengar mengeluarkan erangan mengerikan sebelum dirinya keluar dari kantorku dan membanting pintu.
Fuck, he was mad.
Aku dan Chanyeol sering bercanda seperti anak kecil, apa masalahnya sekarang? Apakah aku ketinggalan sesuatu disini?
"Apakah dia Minho?" Sehun membuyarkan lamunanku.
Masih tidak memandangnya, aku menggelengkan kepala dan berusaha untuk mencoba menenangkan diriku sebelumm perlahan aku berdiri dan menggunakan sepatu, "Tidak, dia Chanyeol, pria lainnya dalam hidupku." Biasanya aku selalu menjawab bahwa dirinya adalah sahabatku, tetapi ketika aku menatap matanya, aku mulai bertanya-tanya jika pernyataanku akan diambilnya mentah-mentah.
Melihat dia sekarang, sepertinya aku telah kembali menjadi diriku yang dulu ketika kami bersama. Aku ingin melawan kekuatan yang dia miliki, tetapi ingatan-ingatan dirinya menyentuhku secara gamblang di taman — sentuhannya, suara menggodanya yang membuaiku ke dalam hasrat seksual yang mendalam dan kekuatan yang ditimbulkan pria ini — menempatkanku kembali kedalam kapsul, satu di mana aku hanya bisa melihatnya. Aku tidak dapat mendengar siapa pun kecuali dia.
Aku menggigit bibir bawahku ketika aku teringat saat pertama kali aku merasakan dia menyentuhku. Tubuhku bereaksi dengan seperti nympho, tetapi Tuhan membantuku, ingatan itu membuat diriku gila dan aku tidak bisa membantu selain mengepalkan tanganku untuk menghilangkan pikiran tersebut. Memabukkan dan menggairahkan.
"Berapa banyak lelaki yang kau punya?"
Tunggu, apa? Aku berkedip beberapa kali, dan mengerutkan kening padanya. "Permisi?" Apakah aku melewatkan sesuatu? Aku tidak melihat dia berbicara sama sekali ... bahkan, aku pikir Sehun memiliki pikiran yang sama denganku. Atau hanya bayanganku saja.
Sehun tetap berdiri di dekat pintu, tidak repot-repot bergerak untuk menyapaku. "kau bilang Chanyeol adalah laki-laki lain dikehidupanmu. Aku bertanya ada berapa dari mereka?"
"Um,tidak banyak." Aku tersenyum, mencoba meringankan suasana, "Aku tidak memiliki banyak laki-laki seperti dirimu. Bukannya aku ingin, tentu saja." Senyumku mengecil ketika aku melihat rahang Sehun seperti menekan. "Maksudku, kau pasti memiliki lebih banyak, tetapi aku tidak akan berkeliling Seoul untuk menyamakannya denganmu...well, um, bukannya bermaksud mengejekmu. Goodness, itu bukan maksudku." Fucking shitty hell, aku mulai mengoceh tidak henti-henti dan seharusnya aku berhenti ketika melihat Sehun semakin menegang. Why, oh why did I always act like a fool when he was around?
"Kau butuh sesuatu, minum mungkin? Maaf, tetapi aku lupa alasan dirimu datang kesini, Sehun." Aku berjalan menuju mejaku, dan akan meraih telepon ketika Sehun bersuara.
"Aku tidak butuh minuman apapun, karena aku tidak akan lama. Kita belum berbicara satu sama lain selama beberapa hari dan karena aku sedang disekitar sini, jadi aku berpikir untuk mengunjungimu dan menyapa. Aku minta maaf jika mengganggumu. Sampai jumpa." Sehun berhenti sejenak, tatapannya menusukku sebelum akhirnya dia berbalik dan meninggalkan kantor.
"What the fuck was that?" Aku bergumam di ruang kantorku yang hening.
Jika dirinya inging menyapa, lalu kenapa dia bertingkah angkuh? Bingung, aku melangkah keluar dari ruanganku dan segera menuju lift berharap dapat mengejarnya, akan tetapi Baekhyun menghalangi jalanku.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi antara dan Chanyeol yang perlu aku tahu? Kita sahabat, aku akan sangat menghargainya jika aku diberitahu."
Whoaa, ada apa lagi ini? Chanyeol denganku? Apakah Baekhyun serius? Jelas-jelas Chanyeol menginginkan Baekhyun. "Ini lelucan, bukan? Kita berdua tahu kalau dia menicintai prianya. Aku harus pergi" Diriku berusaha menyingkir akan tetapi Baekhyun melirikku dengan tatapan tajam.
"Kalian berdua terlihat nyaman. Lebih seperti intim...seperti pasangan." Baekhyun terlihat sedih ketika mengucapkan hal tersebut, dan aku menyadari jika matanya mulai berkaca-kaca, "Tolong beri tahu aku jika dia mencoba menginginkanmu. Walaupun kau bilang Chanyeol hanyalah teman, kau adalah pria yang luar biasa, Luhan. Setiap orang akan buta untuk tidak menginginkanmu."
Oh my God, Baekhyun menangis. Fuck. Aku menangkup pipinya, memohon, "Sweetie, aku tidak menyukai Chanyeol seperti itu, sebaliknya juga dirinya." Aku terdiam, membiarkan semua kata-kata itu meresap, "Chanyeol menginginkanmu, tetapi kau menolaknya selama beberapa tahun terakhir, benarkan aku jika diriku salah, tetapi aku rasa perasaanmu berubah seiring berjalannya waktu, dan ini saatnya untuk megatakan padanya?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa. Aku takut. Dia mungkin akan menertawakanku." Gumannya, mengusap matanya hati-hati, "Jangan katakan apapun pada Chanyeol, untuk saat ini. Biarkan ini hanya diantara kita."
"Tentu saja." Aku mengangguk sebelum akhirnya melihat Baekhyun perlahan pergi.
Baekhyun berhenti dan memberikanku senyuman kecil, "Terimakasih sudahh jujur padaku, Luhan." Kemudian melanjutkan langkahnya, tetapi tiba tiba bersiul untuk menarik perhatianku, "Ngomong-ngomong aku lupa bertanya, apa yang diinginkan plaboy terkenal itu darimu? FH is no more?"
FH. Fake Husband
"Haa..aku ragu akan hal itu. Jadi jangan berpikiran aneh-aneh." Tukasku.
Ketika aku melihat Baekhyun kembali ke kantornya, aku bertanya-tanya tentang kunjungan Sehun. Menelponnya tidak akan cukup. Mungkin aku harus mampir kerumahnya dan apa? Bicara... tentang bagaimana canggungnya sore ini?
Aku menghela nafas, sedikit sedih dan akhirnya kembali ke kantorku.
Tidak. Aku harus membiarkan hal ini berlalu dan bersenang-senang nanti di pesta Kris.
