TITLE : Popular Boy and His Ideal Type (Chapter 10)

AUTHOR : NinHunHan5120

GENRE : Yaoi, boys love, romance, friendship, school life

LENGTH : Series

RATING : T

CAST :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

And Other (Find by yourself)

SUMMARY : Chanyeol sang idola sekolah yang tidak pernah merasakan jatuh cinta tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang yang tidak tertarik padanya. Sehun namja tampan yang tergila-gila pada kakak kelasnya yang cantik. Dapatkah mereka berdua mendapatkan hati namja ideal mereka?


^_Author's POV_^


TING TONG

Chanyeol yang baru saja selesai sarapan –walau sekarang sudah jam sepuluh- terlonjak ketika bel apartemennya berbunyi. Dengan santai ia berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu ia mendapati seorang yeoja paruh baya, seorang namja paruh baya, dan seorang namja mungil nan imut. Senyum Chanyeol merekah melihat mereka.

"Keluarga Byun, silahkan masuk," Chanyeol mempersilahkan mereka masuk dengan membuka pintu lebar-lebar dan dirinya sedikit menepi.

"Kami tidak akan berlama-lama, Chanyeol-ah. Kami hanya mengantar Baekki. Pesawat akan berangkat setengah jam lagi," ucap tuan Byun.

"Kami hanya berpesan padamu untuk menjaga Baekki. Kalau dia nakal laporkan saja pada kami maka kami akan membatalkan pemberian eyeliner," lanjut nyonya Byun dengan nada mengancam. Baekhyun merengut mendengar kalimat terakhir.

"Kalian baik-baik ya. Kalau ada apa-apa hubungi kami," pesan tuan Byun sebelum mendorong Baekhyun masuk. Chanyeol membantu membawakan koper.

"Kalian bisa mempercayakan Baekki pada Chanyeol," seru Chanyeol kepada tuan dan nyonya Byun ketika pasangan tersebut meninggalkan pintu apartemen Chanyeol menuju lift.

Chanyeol menutup pintu setelahnya. Namja jangkung itu menghampiri Baekhyun yang duduk di sofa putih panjang.

"Selamat datang di apartemen Park Chanyeol. Semoga hari anda menyenangkan. Anda mau pesan apa?" tanya Chanyeol berdiri di depan Baekhyun bak pelayan restoran.

"Aku pesan agar Park Chanyeol pergi dari hadapanku," ucap Baekhyun.

"Pesanan segera dilaksanakan,"

Chanyeol pergi dari hadapan Baekhyun. Baekhyun tersenyum tipis karena dengan mudahnya Chanyeol mau menurutinya. Namun rasa senangnya tak berlangsung lama kala mendapati tempat kosong di sampingnya tiba-tiba terisi. Ia menoleh kaget mendapati Chanyeol duduk di sampingnya.

"Kalau aku tidak boleh berada di hadapanmu, maka aku akan berada di sampingmu. Bukankah begini lebih romantis? Kau sangat mengerti, Baekki," puji Chanyeol. Baekhyun mengernyit dan menggeser duduknya menjauhi Chanyeol.

"Oh iya, lebih baik sekarang kita menata barang-barangmu di kamar. Setelah itu kita pergi keluar. Ini hari Minggu yang cerah. Aku ingin pergi jalan-jalan... bersamamu," ucap Chanyeol disertai senyuman bodohnya.

"Memangnya aku mau?" ketus Baekhyun.

"Tentu kau harus mau. Atau kau tidak mendapat eyeliner?" ancam Chanyeol.

Baekhyun mendecih sebal. Namja manis itu menarik kopernya menuju ke kamar.

"Apa kau tahu dimana ruanganmu?"

Chanyeol menyusul Baekhyun dan mengambil alih pegangan koper dari tangan Baekhyun. Namja jangkung itu menarik koper Baekhyun menuju salah satu kamar diantara dua kamar. Karena noona-nya sering main ke apartemennya jadi Chanyeol menyewa apartemen yang terdiri dari dua kamar.

Baekhyun mengikuti Chanyeol dari belakang seraya menenteng tas ranselnya. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang melihat Chanyeol yang menata pakaiannya di lemari. Ia bertindak layaknya seorang bos.

Baekhyun yang sedang asyik memainkan ponselnya tiba-tiba terganggu dengan suara tawa Chanyeol. Ia melirik tajam Chanyeol yang tengah menahan tawanya.

"Ada apa?" tanya Baekhyun curiga.

Chanyeol dengan tampang tanpa dosanya mengangkat boxer yang bergambar helo kitty warna pink. Kemudian namja itu tertawa terbahak-bahak membuat wajah Baekhyun langsung memerah karena malu dan juga marah.

"Itu milik Luhan hyung!"

...

...

...

"Hatchi!"

Tiada hujan tiada badai tiba-tiba Luhan bersin. Namja cantik yang baru saja keluar dari apartemennya itu mengusap hidungnya yang gatal.

"Aku bosan sekali. Kenapa Baekki tidak mengangkat teleponku?" Luhan bertanya pada angin seraya menatap bosan pada ponselnya.

Namja cantik ini mengerucutkan bibirnya lucu. Ia kesepian di hari Minggu ini. Ia bingung mau kemana dan pergi dengan siapa. Sahabatnya entah kenapa tidak bisa dihubungi. Ia sempat berpikir mengajak Sehun, tapi ia baru ingat kalau ia sedang marah pada namja tampan itu. Setelah berpikir cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Myeongdeong seorang diri.

...

...

...

"Bisakah kau belanja yang penting-penting saja? Boros sekali," dengus Sehun karena sedari tadi Hani membeli barang-barang yang tidak terlalu penting.

Mereka berdua kini sedang berada di Myeongdeong. Sebenarnya Sehun menolak mentah-mentah, tetapi karena Hani memaksanya dan mengancam akan mengadukan pada appanya, maka dari itu ia terpaksa mengiyakan.

"Bisakah kau lebih sopan kepada orang yang lebih tua? Kenapa kau tidak pernah memanggilku noona?" gerutu Hani seraya memilih-milih sepatu.

"Ck, untuk apa aku memanggilmu noona? Eommaku lebih tua daripada eommamu. Seharusnya kau memanggilku oppa,"

Hani hanya menatapnya berlagak ingin muntah sebelum beranjak ke kasir.

"Sehun-ah, aku masih harus berbelanja tas. Tak apa kan kau menungguku lagi? Sebentar saja," mohon Hani.

Sehun menatapnya remeh. Tentu saja ia tahu bahwa kata sebentar yang dimaksud Hani tidak benar-benar sebentar. Tadi yeoja itu mengatakan hanya sebentar membeli sepatu, namun satu setengah jam kemudian baru selesai. Sehun yang jengah mengiyakan saja permintaan Hani, namun ia punya rencana tersendiri. Hitung-hitung balas dendam karena sudah membuatnya menderita.

"Kalau begitu aku akan jalan-jalan di luar. Kalau sudah selesai hubungi aku," kata Sehun. Tanpa menunggu persetujuan Hani, Sehun pun langsung keluar mall meninggalkan yeoja yang mengeloyor ke toko tas.

Sehun berjalan menyelusuri jalanan Myeongdeong dengan kedua tangan ia masukkan ke saku jaket biru tuanya. Sebenarnya namja itu tidak punya tujuan apa-apa berjalan-jalan di Myeongdeong. Hanya saja karena ia bosan menemani sepupunya yang berbelanja dan ia hanya menjadi obat nyamuk, maka dari itu lebih baik ia berjalan-jalan. Lumayan mencuci mata dan ia pun mulai lapar karena sudah berjam-jam menemani yeoja itu yang tak kunjung selesai hingga sekarang.

Saat hendak memasuki cafe, tiba-tiba mata elang Sehun menangkap siluet Luhan beberapa meter di depannya. Namja tampan itu mengurungkan niatnya masuk ke cafe dan lebih memilih untuk menghampiri pujaan hatinya tersebut. Namun belum sampai mencapai tempat Luhan berpijak, langkah Sehun langsung terhenti ketika ada seseorang lain yang menghampiri Luhan. Matanya melotot ketika melihat orang itu. Pada jaraknya yang tak jauh dari dua orang tersebut Sehun dapat mendengar percakapan mereka walau tidak terlalu jelas.

"Tidak baik namja secantik dirimu jalan-jalan sendirian. Bagaimana jika ada yang menculik?"

"Kris? Apa yang kau lakukan disini?" kaget Luhan karena tiba-tiba Kris sudah ada di sampingnya.

"Aku hanya tidak ada kerjaan. Kau sendiri?"

"Sama sepertimu,"

"Oh ya, bagaimana kabarmu, calon adik ipar?" tanya Kris seraya merangkul bahu Luhan yang membuat namja yang mengawasi mereka diam-diam dari belakang menggeram marah.

Pipi Luhan bersemu merah ketika mendapat panggilan itu dari Kris.

"Baik. Kau sendiri?"

"Seperti yang kau lihat. Calon kakak iparmu ini semakin hari semakin tinggi. Atau calon adik iparku ini yang semakin pendek?" ejek Kris. Luhan langsung memukul bahunya.

"Daripada sendirian, bagaimana kalau kita jalan-jalan berdua? Mumpung tidak ada Sehun," tawar Kris. Luhan berpikir sejenak sebelum tersenyum dan mengangguk.

"Ide yang bagus. Kajja. Cuaca hari ini cerah sekali," ujar Luhan ceria.

Sehun yang melihat mereka berjalan berdua pun mengikuti dari belakang. Dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Bisa-bisanya Kris mendekati Luhan disaat dirinya tidak ada.

...

...

...

"Sudah kubilang itu milik Luhan hyung, bukan milikku. Kenapa kau terus tertawa?" kesal Baekhyun karena sedari keluar dari apartemen Chanyeol, namja jangkung itu tidak berhenti menertawakan penampakan boxer hello kitty di dalam koper Baekhyun.

"Memangnya aku percaya?"

"Percaya atau tidak percaya, yang jelas itu bukan milikku! Luhan hyung tidak sengaja meninggalkan boxernya di rumahku ketika dia menginap," tegas Baekhyun.

"Apa aku harus bertanya pada Luhan? Dan setelah itu Sehun akan menendangku ke galaxy,"

"Dasar berlebihan," rutuk Baekhyun.

Tak terasa mereka sekarang sudah sampai di tempat tujuan. Restoran. Mereka pergi makan di luar karena Chanyeol tidak mempunyai bahan apapun untuk dimasak. Bahkan ramen satupun tak ada.

"Setelah ini kau harus menemaniku berbelanja kebutuhan bulanan," ucap Chanyeol setelah mereka memesan makanan pada pelayan.

"Kenapa harus?" balas Baekhyun cuek.

"Karena kau tinggal denganku. Kalau tidak mau, kau akan makan apa?"

Chanyeol tersenyum licik melihat Baekhyun yang mati kutu.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang.

...

...

...

"Lu, apa kau lapar?" tanya Kris.

Luhan mengangguk imut. Kris tersenyum dan mengusak rambut karamel Luhan.

"Kajja kita cari makan. Kau mau makan apa?"

"Deokbokki!" seru Luhan semangat.

Dan mereka berdua pun kembali berjalan berdua menuju salah satu stan makanan di Myeongdeong. Jangan lupakan Sehun yang sedari tadi mengikuti mereka kemanapun mereka pergi. Toko buku, toko boneka, kedai es krim. Sampai sekarang pun Sehun tetap setia mengikuti. Ia bahkan tidak pernah jalan-jalan berdua dengan Luhan. Tapi sekarang ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri Luhan jalan-jalan dengan Kris. Bukankah itu sangat menyakitkan? Namun kenapa pangeran tampan ini masih tetap saja mengikuti? Tentu saja karena ia tak mau hyungnya itu berbuat macam-macam pada Luhan-nya. Ia juga penasaran sedekat apa hubungan mereka selama ini. Padahal jelas-jelas ia tahu bahwa Luhan dan Kris adalah sahabat lama.

"Kris, bukankah sekarang ini kita seperti berkencan?" ujar Luhan disela-sela acara makannya.

"Apakah menurutmu begitu?"

Luhan mengangguk.

"Lalu bagaimana dengan Sehun?"

Luhan mengangkat bahu acuh.

"Lupakan saja. Dia tidak ada di sini," ucap Luhan. Dalam hati ia berpikir untuk membalas dendam pada Sehun.

Sehun yang duduk dua meja dari mereka menggebrak mejanya pelan. Namun sepertinya Kris menyadari kehadirannya. Dengan ekor matanya ia melirik Sehun dan tersenyum licik. Bahkan sebenarnya Kris sudah tahu sejak awal kalau Sehun mengikutinya dan Luhan sedari tadi. Tepatnya saat ia dan Luhan baru bertemu ia sudah tahu kalau Sehun berada di dekat mereka. Makanya ia sengaja memanas-manasi Sehun dengan cara berlaku mesra pada Luhan.

Kris menggeser sedikit posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Luhan. Hal tersebut semakin menambah api di sekitar kepala Sehun.

"Kau semakin chubby, Lu," Kris mencubit pipi Luhan.

"Aish.. Jangan menyentuhku!" hardik Luhan.

"Biarkan saja. Mumpung tidak ada Sehun,"

Sehun semakin naik pitam dan ingin sekali menjambak rambut pirang Kris saat ini juga. Tapi ia ingat bahwa saat ini ia sedang menguntit. Dan ia mengerti betul sekarang berada di tempat umum. Tidak mungkin ia mempermalukan dirinya sendiri dengan menjambak rambut Kris di depan umum, terlebih lagi di depan Luhan. Namja tampan ini masih punya harga diri.

...

...

...

Baekhyun mendorong troli kesana kemari dengan riang. Ia selalu bahagia setiap kali berada di supermarket. Ia layaknya anak kecil yang bersemangat ketika diajak ibunya berbelanja.

"Ya! Ya! Jangan cepat-cepat. Kita harus memilah-milah dahulu sebelum membeli. Bagaimana kalau makanan yang kau beli itu kadaluarsa?" tegur Chanyeol karena Baekhyun terlalu semangat mendorong troli dan memasukkan barang ke dalam troli sesuka hati.

"Kau ini seperti anak kecil saja," gumam Chanyeol.

"Aku mendengarmu, bodoh," decak Baekhyun.

Tiba-tiba mata sipit Baekhyun berbinar ketika melihat sesuatu.

"Chanyeol-ah, aku ingin membeli stroberi," seru Baekhyun seraya menunjuk buah stroberi di salah satu rak.

"Kajja," ajak Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun. Baekhyun mengikuti di belakang.

"Jika kau menginginkan sesuatu lagi langsung ambil saja. Aku yang akan membayar semuanya," ucap Chanyeol setelah memasukkan satu pak stroberi ke dalam troli.

"Jinjja?" tanya Baekhyun dengan mata berbinar. Chanyeol mengangguk pasti.

"Aku ingin bacon, sosis, es krim, minuman soda, sereal, keju, susu,"

Dan masih banyak lagi keinginan Baekhyun. Chanyeol geleng-geleng kepala mendengarkan ocehan Baekhyun. Tak ia sangka Baekhyun yang selalu jutek padanya bisa menjadi orang yang sangat imut ketika menginginkan sesuatu.

...

...

...

Drrtt.. Drrtt..

Sehun merasakan ponsel di dalam saku celananya bergetar saat ia mengikuti Luhan dan Kris di tempat parkir. Ia berhenti berjalan dan mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan masuk dari Hani.

"Ya! Oh Sehun! Kau dimana saja? Aku mencarimu kemana-mana,"

Sehun reflek menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar suara Hani yang menggelegar. Setelah menstabilkan gendang telinganya Sehun kembali menempelkan benda persegi panjang itu di telinganya.

"Kau sudah selesai?"

Hanya pertanyaan singkat itu yang keluar dari bibir tipis Sehun. Tak ada rasa bersalah sama sekali terhadap Hani yang marah akibat ulahnya. Tanpa menunggu jawaban Hani, Sehun kembali memasukkan ponselnya di saku. Ia memandang mobil Kris yang telah berlalu untuk terakhir kali sebelum berjalan menuju tempat dimana ia meninggalkan Hani tadi.

...

...

...

Chanyeol dan Baekhyun baru sampai di apartemen pukul delapan malam. Mereka terlalu lama berada di super market lalu makan malam di restoran sebelum pulang. Dan kini mereka sama-sama kelelahan.

"Mandilah. Setelah itu tidur. Kau pasti lelah," ucap Chanyeol seraya duduk di sofa ruang tengah.

Baekhyun mengangguk dan ia pun beranjak menuju kamar. Namun baru beberapa langkah namja itu berbalik menghadap Chanyeol.

"Chanyeol-ah," panggil Baehyun. Chanyeol yang tengah bersender santai di sofa mendongak melihat Baekhyun.

"Gomawo," ucap Baekhyun. Setelah itu namja tersebut berbalik menuju kamar.

Chanyeol yang mendengarnya nyaris tidak percaya. Ia mengira Baekhyun tidak sadar mengucapkannya karena namja itu terlalu lelah. Hari ini ia menemukan sisi berbeda dari seorang Byun Baekhyun. Dan hari ini pertama kalinya Baekhyun memanggilnya 'Chanyeol-ah'. Ia bahagia walau itu hanya perkembangan kecil. Tapi ia bertekad akan meluluhkan hati Baekhyun apapun yang terjadi.

...

...

...

Sehun baru saja mengantar Hani ke apartemennya dan kini ia telah berada di depan pintu apartemennya sendiri. Ia memasukkan beberapa digit angka pada layar interkom. Ia kembali menutup pintu setelah berada di dalam. Saat ia hendak menuju ke kamar, ia melihat Kris yang sedang rebahan di sofa. Ia melirik sinis pada kakaknya itu sebelum berjalan melewatinya.

"Sehun-ah, kau baru pulang?"

Sehun mengabaikan Kris dan langsung masuk ke kamarnya dengan membanting pintu keras.

"KRIS HYUNG, AKU MEMBENCIMU!" teriak Sehun dari dalam yang disambut Kris dengan tawa terbahak-bahak.

...

...

...

Baekhyun yang baru membuka matanya langsung mengerjap begitu sinar matahari yang terang menembus jendela kamar dan menusuk kelopak matanya. Ia melirik jam dinding di atas meja belajar. Pukul 06.15. Dan matanya langsung terbuka sempurna.

"Sialan, kenapa dia tidak membangunkanku?" kesalnya.

Namja manis tersebut langsung berlari ke kamar mandi yang ada di kamar.

.

.

.

10 menit kemudian Baekhyun keluar kamar dengan sudah berpakaian rapi sambil menenteng ranselnya. Ia menatap sengit kepada Chanyeol yang tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Ia duduk di salah satu kursi dengan angkuh. Chanyeol yang melihatnya hanya maklum karena mengira Baekhyun sedang datang bulan.

"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Baekhyun datar.

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Baekhyun berdecak.

"Kau sengaja ya tidak membangunkanku supaya aku tidak bisa memakai eyeliner hari ini," kata Baekhyun dengan nada meninggi.

"Ani. Aku bahkan sudah membangunkanmu sebelas kali tapi kau tidak bangun juga. Aku bingung bagaimana cara membangunkanmu. Kau tidur seperti kerbau. Atau lain kali aku memakai cara yang dilakukan pangeran kepada putri tidur?" tanya Chanyeol sambil menaik turunkan alisnya.

"Sial," umpat Baekhyun. Ia berencana untuk mengaktifkan alarm ponselnya nanti malam dengan volume sangat keras.

"Makanlah. Mungkin hari ini kita akan terlambat," ucap Chanyeol seraya mendudukkan dirinya di kursi depan Baekhyun.

Baekhyun tak habis pikir bagaimana Chanyeol bisa sesantai itu mengucapkan kata terlambat dan tidak memikirkan resikonya.

"Kalau kita terlambat itu semua salahmu," sungut Baekhyun.

"Bagaimana bisa? Aku rela menunggumu sampai bangun. Lalu sekarang kau menyalahkanku? Tidak bisa dipercaya," ucap Chanyeol pura-pura marah. Mana mungkin ia bisa marah pada Baekhyun.

Baekhyun mendengus. Daripada berdebat dan akan semakin mempersempit waktu mereka untuk cepat-cepat pergi ke sekolah, ia pun makan dengan cepat tanpa memedulikan cengiran Chanyeol.

...

...

...

"Hey, kalian berdua mau kemana?" seru pak satpam ketika melihat dua siswa dengan percaya dirinya berjalan melewati gerbang pada pukul 07.00.

Baekhyun dan Chanyeol terpaksa berhenti karena mendapat teguran dari pak satpam. Sebenarnya mereka mau bersikap biasa-biasa saja agar tidak ketahuan, tapi akhirnya ketahuan juga. Sepertinya dewi fortuna tidak berpihak kepada mereka.

"Kalian tahu sekarang jam berapa?" tanya pak satpam.

Chanyeol melihat jam tangannya malas.

"Jam tujuh, pak. Memangnya kenapa?"

Pak satpam mulai naik pitam.

"Kalian tahu kan bel berbunyi pukul berapa?"

"Tentu saja, pak. Kami kan sudah tiga tahun bersekolah disini," kali ini Baekhyun yang angkat bicara.

Pak satpam geleng-geleng kepala menghadapi dua makhluk dengan wajah tak berdosa itu.

"Lalu kalian tahu apa yang harus kalian lakukan sekarang?" tanya pak satpam lagi yang sudah kehabisan kesabaran.

Baekhyun dan Chanyeol dengan kompak menggeleng membuat aliran darah pak satpam mengalir sampai ke ubun-ubun.

...

...

...

Luhan beberapa kali melirik bangku di sampingnya dan pintu kelas bergantian. Ia menunggu sahabatnya yang tak kunjung datang. Biasanya sahabatnya itu sudah datang ketika ia datang walaupun tempat tinggalnya lebih dekat dengan sekolah.

"Apa Baekki tidak masuk?" gumam Luhan sambil sesekali melihat ponselnya.

Ia bahkan sudah mengirim pesan kepada Baekhyun belasan kali namun tak ada balasan satupun.

"Baekki, kau dimana?" gumam Luhan dengan suara agak keras.

"Xi Luhan, ada apa?" tegur Hwang seonsaengnim.

"Em.. Ani, saem," ucap Luhan malu.

"Apa yang kau pikirkan sampai tidak memerhatikan pelajaran saya?" tanya Hwang seonsaengnim dengan tangan bersedekap.

Luhan menunduk dan memilin ujung almamaternya tidak berani menatap Hwang seonsaengnim. Semua siswa-siswi di kelas memerhatikannya. Luhan yang seperti itu terlihat lebih imut dan membuat mereka semua menahan diri mati-matian agar tidak berlari ke bangku Luhan dan mencubit pipi namja cantik itu.

"Oh Sehun?" ujar Hwang seonsaengnim.

"Apa kau sedang memikirkan hoobae mu yang tampan itu?"

Sontak Luhan langsung mendongak menatap Hwang seonsaengnim dengan kedua mata membulat dan mulut menganga.

"EHEM!" Woohyun berdeham sangat keras bermaksud menggoda Luhan.

"Kalian semua perhatikan pelajaran saya karena tiga puluh menit lagi jam saya akan berakhir," kata Hwang seonsaengnim kembali menghadap papan tulis.

...

...

...

"Tadi kenapa kau sangat ketus kepada kakakmu sendiri, Sehun-ah?" tanya Jongin sambil memasukkan buku cetaknya ke dalam tas seusai bel istirahat berbunyi.

"Dia menyebalkan," umpat Sehun.

"Wae?"

"Berani-beraninya dia mendekati Luhan hyung. Aku tidak suka," kata Sehun sambil cemberut.

"Perang saudara rupanya. Daripada Luhan hyung denganmu atau dengan Kris hyung, lebih baik denganku," ucap Jongin yang langsung mendapat pukulan di kepalanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan namja pucat di sampingnya?

"Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan melaporkannya kepada Kyungsoo hyung," kata Sehun seraya beranjak keluar kelas.

"Ya! Albino! Tunggu aku!" teriak Jongin segera menyusul Sehun.

...

...

...

Baekhyun sedari tadi menggerutu tidak jelas sambil tangannya bergerak mengipasi wajahnya yang berpeluh.

"Semua ini gara-gara kau,"

"Pokoknya setelah ini kau harus membayar perawatan kulitku,"

"Aku akan melaporkanmu kepada eommaku,"

Begitulah sekiranya gerutuan Baekhyun. Chanyeol yang di sampingnya seperti biasa tidak pernah mengambil hati makian Baekhyun padanya.

Saat ini kedua insan tersebut tengah menjalani hukuman karena keterlambatan. Mereka dihukum berdiri di depan tiang bendera sampai jam istirahat pertama. Maka dari itu sedari tadi Baekhyun terus menggerutu kepanasan.

"Hey, bukankah ini sudah jam istirahat?" bukannya meladeni gerutuan Baekhyun, Chanyeol sedari tadi sibuk melihat jam besar yang terpajang di depan gedung utama.

"Sebagai permintaan maafku aku akan mentraktirmu hari ini," Chanyeol menarik tangan Baekhyun menjauhi lapangan.

Walau bagaimanapun ia memang merasa bersalah, walaupun tidak sepenuhnya salahnya. Tapi apapun akan ia lakukan untuk pujaan hatinya tercinta.

...

...

...

Luhan sedari tadi masih kesal karena sahabat sejatinya tidak kunjung menampakkan diri dan tidak menghubunginya sama sekali.

"Luhan lapar," ucap Luhan pada dirinya sendiri.

Baru saja ia beranjak seseorang sudah menginterupsinya.

"Hyung, tunggu," Woohyun menghadang jalan Luhan yang hendak menuju pintu. Luhan menatapnya malas.

"Kapan kita mengerjakan tugas Hwang seonsaengnim?" tanya Woohyun.

Karena Baekhyun tidak masuk alhasil Luhan berkelompok dengan Woohyun untuk mengerjakan tugas yang diberikan Hwang seonsaengnim perkelompok dua orang. Sebenarnya Luhan enggan berkelompok dengan namja itu tetapi hanya mereka berdua yang belum mendapat kelompok. Jadi terpaksa Luhan mau.

"Bukankah nanti kita pulang lebih awal karena guru-guru mengadakan rapat? Bagaimana kalau besok saja?" tawar Luhan.

Tanpa pikir panjang Woohyun mengangguk semangat.

"Baiklah, hyung. Besok aku akan ke apartemenmu," ucap Woohyun disertai cengiran.

Luhan hendak protes karena mereka belum menyepakati tempatnya dan Woohyun mengambil keputusan sendiri. Namun terlambat, Woohyun sudah kabur.

"NAM WOOHYUN!"

Luhan melakukan kebiasaannya meneriaki nama Woohyun. Ia hendak mengejar Woohyun keluar kelas.

"NAM WOOH –"

Langkah dan suaranya terhenti tiba-tiba ketika didapatinya Sehun yang tengah berdiri di depan pintu kelasnya dengan tersenyum tampan.

"Annyeong, hyung," sapa Sehun.

Daehyun yang kebetulan lewat heran melihat Luhan yang menganga dan mata yang tak berkedip. Dengan baik hati ia bantu namja cantik itu menaikkan rahang bawahnya dengan tangannya. Walaupun ia bukan sahabat Luhan tetapi ia miris juga melihat Luhan yang terlihat bodoh di depan namja yang menyukainya. Setelah beres ia pergi dari hadapan mereka berdua. Ia akan mengingat-ingat untuk menagih Luhan traktiran nanti karena sudah membantu namja cantik itu.

"Hyung, maukah ke kantin denganku?" tanya Sehun penuh harap.

Walaupun Luhan masih kesal dengan Sehun tapi ia tak kuasa menolak ajakan namja tampan tersebut.

...

...

...

"Sehunna, kenapa kita kesini? Bukankah kau bilang ingin ke kantin?" tanya Luhan bingung karena bukannya ke kantin Sehun malah membawanya ke atap.

"Ini kantin, hyung. Kantin kita berdua," ucap Sehun yang sukses membuat Luhan tersipu.

Sehun menuju ke sudut dinding pembatas yang teduh, diikuti oleh Luhan. Di sana sudah ada sebuah meja berukuran sedang dan dua kursi. Di atas meja itu tersedia beberapa macam makanan yang siap disantap.

"Aku tidak menyukai keramaian, hyung. Maka dari itu aku membeli makanan di kantin dan membawanya ke sini agar bisa makan berdua dengan Luhan hyung," ucap Sehun yang lagi-lagi membuat pipi Luhan merona. Entah Sehun yang pandai merayu atau Luhan yang mudah tersentuh, ucapan-ucapan Sehun selalu sukses membuat Luhan tersanjung.

Mereka berdua duduk di kursi yang bersebelahan tersebut. Dan mereka pun mulai menikmati makanan yang disajikan Sehun.

Hening menyelimuti mereka berdua. Luhan sesekali melirik Sehun. Ia menimbang-nimbang akan melontarkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya atau tidak.

"Sehunna, kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?" akhirnya Luhan putuskan untuk bertanya.

Sehun mengangkat sebelah alisnya bingung dengan pertanyaan Luhan.

"Apa yang perlu kujelaskan, hyung?"

"Tentang... Itu... Emm... Euh... Ah, lupakan," Luhan bingung bagaimana cara mengucapkannya. Ia sebenarnya ingin meminta penjelasan kepada Sehun tentang apa hubungannya dengan yeoja yang kemarin bersamanya. Tapi ia ragu, jadi ia putuskan untuk memendam pertanyaannya sampai Sehun yang berniat menjelaskan sendiri.

Luhan kembali menyantap makanannya. Namun ia risih karena Sehun memerhatikannya intens. Bukan karena terganggu, akan tetapi ia malu dan jantungnya berdebar kala mendapat tatapan seintens itu dari Sehun. Luhan pun menelan makanannya dengan gugup. Ia meraih gelas dengan tangan bergetar.

"K-kenapa kau terus menatapku? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Luhan gugup setelah meletakkan kembali gelasnya.

Sehun menggeleng.

"Semakin hari kau semakin cantik, hyung," ucap Sehun pelan.

BLUSH

Luhan tidak suka dibilang cantik oleh siapapun. Kecuali Sehun, mungkin. Entah mengapa jika Sehun yang mengatakan Luhan lebih tersentuh.

Luhan balas menatap Sehun yang masih setia menatapnya. Mereka terus bertatapan seolah jarum jam berhenti berputar. Entah siapa yang memulai tiba-tiba sekarang bibir mereka berdua sudah saling menempel. Berawal dari menempel, dilanjutkan dengan saling melumat, lalu menjilat, lalu menghisap, lalu berperang lidah, dan saling bertukar saliva. Bahkan kini tangan Sehun telah berada di tengkuk Luhan untuk memperdalam ciuman mereka. Luhan mengeratkan pegangannya pada kerah almamater Sehun agar bisa mengimbangi ciuman Sehun yang kuat.

"YA! Babo! Kenapa kau membawaku ke sini? Kau tahu aku lapar,"

"Tenanglah, Baekki. Aku sudah membawa bekal yang banyak. Di sini kan lebih romantis agar kita bisa makan berdua sa –"

Ucapan Chanyeol terhenti kala mata lebarnya melihat pemandangan dua insan yang tengah berciuman mesra. Baekhyun mengkuti arah pandang Chanyeol dan ia langsung membekap mulutnya ketika menyadari bahwa pelakunya adalah sahabatnya sendiri.

Luhan yang masih lebih sadar dibanding Sehun -yang sangat menikmati ciuman mereka- mendengar keributan dan membuka sedikit matanya. Namun matanya melebar ketika menangkap dua sosok yang sangat dikenalnya tengah menonton adegan ciuman live-nya dengan Sehun. Dengan segera Luhan mendorong dada Sehun membuat Sehun menggeram terpaksa melepaskan ciumannya. Sehun heran melihat Luhan yang seperti melihat hantu. Ia menoleh ke belakang dimana mata Luhan terarah. Ia sangat terkejut tapi wajahnya tetap datar.

"Ehem! Jadi dibalik kucing-kucingan kalian, begini kelakuan kalian di belakang?" Chanyeol yang pertama kali mengeluarkan suara setelah keheningan yang cukup lama.

"A-ani, hyung. Kami tadi tidak sengaja melakukannya," kilah Sehun.

"Rapikan dulu seragam kalian baru menjelaskan,"

Luhan dan Sehun sama-sama tidak sadar kalau baju seragam mereka telah berantakan akibat ciuman yang terbilang lumayan panas tadi. Mereka pun segera membenarkan seragam yang sudah tidak karuan bentuknya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Baekhyun.

"Tadi kami sedang makan," jawab Luhan cepat.

"Makan apa? Memakan bibir satu sama lain?" goda Chanyeol. Luhan menunduk malu.

"Kami tadi hanya terbawa suasana," Sehun terus-terusan berkilah padahal sudah tertangkap basah.

Chanyeol menghela napas.

"Sebenarnya aku tidak peduli sih apa yang kalian lakukan. Aku hanya ingin memakai tempat ini," ucap Chanyeol.

"Kalau begitu aku akan pergi," pamit Luhan dengan wajah masih menunduk.

Bagaimana tidak malu? Luhan tertangkap basah tengah beradegan kissing dengan namja yang belum resmi menjadi kekasihnya. Harga dirinya tercoreng sudah.

Namja cantik itupun meninggalkan atap dengan langkah cepat diikuti Sehun di belakangnya.

"Mereka ada-ada saja," gumam Baekhyun.

"Sehun hebat. Bahkan belum resmi berpacaran ia sudah berani melakukan hal sejauh itu. Aku salut padanya. Aku bahkan tidak pernah menyentuh bibir siapapun,"ucap Chanyeol yang dihadiahi tatapan tidak peduli dari Baekhyun.

"Cepat berikan makananmu. Aku sangat lapar," pinta Baekhyun.

"Kau mau duduk di kursi yang ditempati Sehun dan Luhan tadi?" tanya Chanyeol.

"Kau gila? Pasti disana masih ada bekas ciuman mereka," Baekhyun melirik jijik kursi yang ditempati Sehun dan Luhan tadi.

"Astaga. Mereka hanya berciuman, bukan bercinta," Chanyeol membenarkan.

"Kalau begitu kita makan di sini saja," lanjut Chanyeol.

Chanyeol meletakkan bekalnya di lantai dekat dinding pembatas. Baekhyun terpaksa menurut karena ia sudah sangat lapar.

...

...

...

"Hyung, tunggu!" panggil Sehun semakin mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Luhan.

"Hyung, apa kau marah padaku?" tanya Sehun setelah sejajar dengan Luhan.

"Tidak,"

"Mianhae," ucap Sehun.

"Wae?" tanya Luhan sedikit menoleh pada Sehun agar tidak menabrak sesuatu di depannya karena ia masih berjalan.

"Aku... Kelepasan," ucap Sehun pelan merasa malu.

"Gwaenchana. Aku –" tiba-tiba Luhan menghentikan langkahnya.

Sehun menatap Luhan harap-harap cemas menunggu kelanjutan kalimat Luhan.

"Menyukainya," ucap Luhan sangat pelan disertai pipi yang merona seraya menundukkan kepalanya. Walaupun begitu Sehun masih bisa mendengarnya.

Sehun tersenyum senang mendengar ucapan Luhan. Ia akan mempercepat rencananya untuk menyatakan cinta kepada namja yang sejak lama disukainya ini. Ia tidak mau menyatakan cinta dengan cara yang tidak elit. Ia ingin memberikan kesan yang membekas di hati dan terlupakan ketika menyatakan cinta.

...

...

...

Baekhyun dan Chanyeol sedang menikmati makan siang mereka dengan tenang di atap sekolah sampai Chanyeol menginterupsi dengan perkataannya yang membuat Baekhyun tersedak seketika.

"Apa kau berminat mengikuti jejak HunHan?"

Tentu saja Baekhyun tidak bodoh untuk tidak mengerti apa yang namja jangkung itu maksud. Ia segera meraih botol berisi air putih dan meneguknya sampai habis. Setelahnya ia menatap tajam Chanyeol yang menatapnya polos.

"Wae? Aku kan hanya bertanya apa kau ingin melakukan seperti yang HunHan tadi lakukan. Jika kau mau aku akan dengan senang hati berpartisipasi,"

Sontak Chanyeol langsung mendapat pukulan sendok di kepalanya yang tak lain adalah dari Baekhyun.

"Kau ini kenapa sih? Baru kemarin bersikap manis, sekarang sudah galak lagi," kesal Chanyeol.

"Jangan pernah bermimpi aku akan bersikap manis padamu,"

Ucapan yang diakhiri dengan gebrakan meja mengantarkan langkah Baekhyun meninggalkan Chanyeol di atap sendirian.

"Dia bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih," gumam Chanyeol.

...

...

...

Bel masuk telah berbunyi dua menit yang lalu. Para siswa sudah memasuki kelas masing-masing untuk kembali mengikuti pelajaran setelah beberapa saat beristirahat.

Terlihat dua namja mungil nan imut tengah saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing.

"Ehem," salah satu namja mungil itu berdeham namun tidak membuyarkan konsentrasi namja satunya lagi yang tengah melamun.

"EHEM," namja itu membesarkan volumenya.

Merasa terganggu akhirnya namja di sampingnya menoleh yang langsung mendapat tatapan tajam –tapi tetap imut- dari namja yang berdeham tadi.

"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"

"Menjelaskan apa, hyung?"

Namja yang lebih tua memutar bola matanya.

"Kenapa tadi pagi kau tidak masuk? Dan tiba-tiba saja kau datang bersama Chanyeol. Bisa kau jelaskan?" tuntut Luhan.

"Euh... Anu.. Itu... Aish! Aku bingung menjelaskannya, hyung. Ceritanya panjang," Baekhyun kelabakan dan mengacak rambutnya frustasi. Sedari tadi ia sibuk memikirkan tentang ini. Ia khawatir Luhan akan bertanya dan ternyata kekhawatirannya terwujud. Berterima kasihlah kepada Luhan yang kecerdasannya di atas rata-rata. Okey ini semakin ngelantur.

Karena terus mendapat tatapan tajam –tapi tetap imut- dari Luhan akhirnya Baekhyun tidak kuasa bungkam. Ia pun pada akhirnya menceritakan semuanya kepada Luhan. Mulai dari hari kemarin saat ia dipaksa orangtuanya tinggal di apartemen Chanyeol sampai bagaimana caranya ia bisa mendapat hukuman.

"MWO?!"

Ekspresi Luhan memang tidak pernah biasa jika mendapat kabar mengejutkan. Baekhyun pun sudah mewanti-wanti sejak awal. Maka dari itu sebelum selesai bercerita ia sudah meletakkan kedua tangannya di telinga.

Daehyun yang hendak menghampiri Baekhyun pun kembali tercengang melihat Luhan yang menganga. Karena ia namja yang baik hati dan tidak sombong maka ia menaikkan rahang bawah Luhan yang terjatuh dengan tidak elitnya.

"Hyung, ini semua tidak seperti yang kau bayangkan. Aku dan dia sama sekali tidak melakukan apapun," jelas Baekhyun karena mengira Luhan berpikir yang tidak-tidak.

"Kau tega menghancurkan hatiku, Baek," Luhan mulai berakting menangis.

Kini giliran Baekhyun yang memutar bola matanya.

"Kau bahkan sudah melakukan yang terlalu jauh dengan Sehun. Dan kau masih sakit hati Chanyeol dengan namja lain?" ujar Baekhyun tak percaya.

"Apa yang kalian bicarakan? Luhan hyung melakukan apa dengan Sehun? Dan ada apa dengan Chanyeol?" tanya Daehyun yang tidak disadari Luhan dan Baekhyun eksistensinya.

Luhan dan Baekhyun memandang namja itu malas. Dan tidak ada satupun yang berminat menjelaskannya.

"Ini urusan orang dewasa," kata Luhan.

Baru saja Daehyun hendak protes namun suara bel menginterupsinya. Setelah tiga kali bel berbunyi terdengar pengumuman bahwa semua siswa diperbolehkan pulang sekarang karena guru-guru akan melaksanakan rapat bulanan, dan tidak boleh ada seorangpun yang melaksanakan kegiatan di sekolah kecuali para guru. Semua siswa pun bersorak senang.

"Luhan hyung, kita jadi kan mengerjakan tugas di apartemenmu?" tanya Woohyun yang tiba-tiba sudah ada di depan Luhan.

Dengan pasrah Luhan mengangguk karena ia sudah cukup lelah berdebat. Padahal sebenarnya ia tidak setuju.

"Mengerjakan tugas apa? Apa tadi Hwang seonsaengnim memberikan tugas, hyung?" tanya Baekhyun ingin tahu.

"Iya, Baekki. Dan aku dengan senang hati memasukkanmu ke dalam kelompokku. Aku sudah mengonfirmasi kepada Hwang seonsaengnim dan beliau menyetujui kita berkelompok bertiga bersama Youngjae," jawab Daehyun sumringah.

Baekhyun hendak protes namun Luhan lebih dahulu mencegahnya.

"Tugas dikumpulkan lusa dan kau ingin tidak mendapat nilai? Sudah bagus Hwang seonsaengnim tidak memarahimu karena membolos pelajarannya,"

Perkataan Luhan sukses membuat Baekhyun tertohok. Ia tahu benar Luhan masih kesal karena ia tinggal bersama Chanyeol dan alasannya membolos pelajaran Hwang seonsaengnim juga karena Chanyeol. Atau Luhan kesal karena harus sekelompok dengan Woohyun gara-gara Baekhyun tidak masuk?

Yang terpenting memang Baekhyun harus berterima kasih kepada Daehyun karena mau menyelamatkannya.

...

...

...

"Ya! Albino! Apa perlu aku mengantarmu ke rumah sakit jiwa?" ujar Jongin yang melihat sahabat karibnya sedari tadi tersenyum tidak jelas seraya memegangi bibirnya.

"Ck. Kau bahkan lebih gila daripada orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa," ejek Jongin, namun sahabatnya itu tak juga berkutik.

Ia bingung bagaimana lagi bisa menarik perhatian namja pucat itu. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang hinggap di kepalanya.

"Luhan hyung!" seru Jongin.

Sontak Sehun langsung tersadar dari dunianya sendiri begitu mendengar nama yang menggetarkan hati dan jiwanya.

"Dimana Luhan hyung?" tanya Sehun dengan pandangan mata mengedar kemana-mana.

"Huh, sudah kuduga. Kutebak pasti kau seperti orang gila tadi juga karenanya," dengus Jongin.

Sehun baru sadar jika Jongin mengerjainya. Ia merutuki dirinya bahwasannya terlalu peka dengan nama 'Luhan'.

"Memangnya apa yang Luhan hyung lakukan sehingga memaksaku mengirimmu ke rumah sakit jiwa?"

Sehun menjitak kepala Jongin.

"Pergilah sendiri ke rumah sakit jiwa,"

Jongin mengusap-usap kepalanya yang ngilu akibat jitakan Sehun.

"Jadi kau lebih suka kuantar ke rumah sakit hewan?" Jongin masih gencar membuat Sehun kesal walaupun ia tahu sendiri jitakan Sehun sangat dahsyat.

"Antarkan aku ke hati Luhan hyung," Sehun seolah menulikan telinganya ketika teringat pada Luhan.

Jongin menatapnya malas.

"Kau tahu, Jong? Aku dan Luhan hyung telah berciuman," ucap Sehun dengan senyum lebar yang sangat jarang diciptakannya.

"Bukankah kalian memang sudah pernah? Di lapangan basket itu," Jongin mengingat-ingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.

"Memang. Tapi tadi kami melakukan lagi. Bahkan lebih dalam dan lama," ucap Sehun masih dengan wajah bahagianya.

Sontak Jongin langsung memelototkan matanya dan menatap Sehun.

"Kau... Bercanda?"

"Aku serius. Untuk apa aku berbohong?"

Kini giliran Sehun yang merasakan jitakan Jongin.

"Auw! Kenapa kau memukulku?" kesal Sehun seraya mengelus-elus kepalanya.

"Kau sudah menodai namja sepolos Luhan hyung," hardik Jongin.

"Kami hanya berciuman, tidak lebih," bela Sehun.

"Lagipula Luhan hyung saja menikmati, kenapa kau yang marah?" lanjut Sehun. Jongin berdecih.

"Ingat, Oh Sehun. Sampai sekarang saja kau belum berani menyatakan cinta, tetapi sudah berani mencium seenaknya. Kau pikir Luhan hyung namja macam apa?"

Kalimat panjang yang dilontarkan Jongin tersebut langsung menohok Sehun tepat di hati. Namja tampan tersebut memebenarkan ucapan sahabatnya dan merasa bahwa dirinya sendiri terlalu menganggap mudah Luhan. Namun walaupun merasa bersalah namja tampan tersebut tetap stay cool di depan sahabat seperjuangannya.

"Aku akan segera menjadikannya kekasihku. Lihat saja nanti," ucap Sehun percaya diri.

Jongin hanya mengendikkan bahu tak peduli atas ucapan Sehun. Pasalnya Sehun sudah ratusan kali mengatakan itu, tapi sampai sekarang bahkan ia belum melakukannya.

...

...

...

CKLEK

Luhan menutup pintu apartemennya kembali ketika ia dan Woohyun sudah masuk. Woohyun memandang sekeliling apartemen Luhan dan ia kagum karena tempat ini sangat rapi. Biasanya tempat tinggal seorang namja pasti berantakan, tapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi Luhan. Atau mungkin Woohyun meragukan jenis kelamin Luhan?

"Duduklah dahulu. Aku akan membuat minuman," ucap Luhan lalu meninggalkan Woohyun di ruang tengah.

Luhan beranjak ke kamarnya untuk ganti baju sebelum ke dapur untuk membuat minuman. Saat ia tengah repot membuat minuman tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.

"Woohyun-ah, tolong bukakan pintunya!" seru Luhan dari dapur berharap Woohyun dapat mendengarnya.

"Iya, hyung!" balas Woohyun.

Luhan lega karena pendengaran Woohyun masih berfungsi dengan baik.

Woohyun membukakan pintu dan mendapati seorang namja tinggi nan tampan dan berkulit putih pucat tengah berdiri di depan pintu dengan tatapan datarnya. Namun kali ini tatapan datarnya sedikit diwarnai dengan tatapan err... terkejut mungkin?

"Apa Luhan hyung ada di dalam?" tanya Sehun pada akhirnya setelah tersadar dari acara keterkejutannya karena mendapati namja lain yang membukakan pintu.

"Tentu saja. Inikan apartemennya. Ayo masuk," ajak Woohyun tanpa tahu arti dari tatapan Sehun yang sebenarnya. Mungkin karena Woohyun adalah orang yang tidak peduli dan tidak peka.

Baru saja Sehun mendudukkan pantatnya di sofa, sosok yang dicarinya muncul dari dapur sambil membawa dua buah cangkir dan sepiring kue coklat.

Manik keduanya pun bertemu. Luhan sedikit terkejut melihat Sehun tiba-tiba berada di apartemennya. Namja itu tidak memberitahu dahulu jika ingin mampir.

"Sehunna, kau di sini?" Luhan melontarkan pertanyaan yang jelas-jelas ia sudah tahu jawabannya.

Sehun hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi.

Luhan menghampiri mereka berdua dan meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja.

"Tunggu sebentar. Aku akan membuatkanmu minuman," ucap Luhan kepada Sehun.

Setelah itu Luhan beranjak menuju dapur lagi. Seperginya Luhan Sehun mendudukkan dirinya di samping Woohyun yang tengah memeriksa buku tugasnya.

"Hyung, apa kalian akan mengerjakan tugas?" tebak Sehun saat Woohyun mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. Ia juga sebenarnya mencoba berpikiran positif dan tidak curiga karena jujur saja ia tidak suka ada namja lain masuk ke apartemen calon kekasihnya.

"Iya. Aku meminta izin padamu untuk meminjamkan Luhan hyung sebentar padaku. Dan kumohon jangan cemburu," ucap Woohyun memohon karena ia tidak tahan jika harus mendapat tatapan tajam menusuk dari Sehun. Bisa-bisa ia pulang dengan punggung berlubang.

"Aku tahu, hyung,"

Tepat saat Sehun selesai berucap Luhan datang dengan secangkir minuman. Namja cantik itu menempati celah yang kosong diantara Sehun dan Woohyun.

"Silakan dinikmati hidangannya. Tadi pagi aku membuat cake. Ini cake pertamaku. Aku tidak tahu rasanya enak atau tidak. Aku butuh pendapat kalian untuk –"

Ucapan Luhan terhenti kala melihat Sehun melahap sepotong cake dengan rakus. Beberapa saat ia tak berkedip dengan mulut sedikit terbuka. Cukup heran dengan kelakuan namja pucat itu yang seperti tidak makan seminggu. Padahal maksud hati Sehun adalah ia ingin menjadi orang pertama yang menikmati cake pertama buatan Luhan. Dan ekspresi Woohyun pun tak jauh berbeda dari Luhan.

"Ini enak sekali, hyung," ucap Sehun setelah menelan cake-nya.

Luhan langsung tersadar dari ketercengangannya.

"Gomawo, Sehunna," seru Luhan bahagia.

Kini giliran Woohyun yang mencicipi cake itu. Kening namja itu langsung berkerut ketika menelan cake tersebut. Ia heran kenapa Sehun mengatakan bahwa cake itu sangat enak. Apa lidah mereka berbeda selera? Yang bermasalah lidahnya atau lidah Sehun? Sepertinya ia harus memeriksakan indra pengecapnya setelah ini.

...

...

...

Kedua namja berbeda tinggi badan saat ini tengah beradu tatapan tajam seolah ingin melubangi bola mata satu sama lain. Sedangkan seorang namja lagi yang berparas imut menatap mereka berdua dengan bosan.

"Kalau tahu begini lebih baik aku tak mengizinkanmu mengerjakan tugas di apartemenku," gumam Chanyeol seraya melirik Baekhyun.

Baekhyun menghela napas sabar.

"Kalau begitu aku akan pergi dari sini. Ayo, Daehyun-ah,"

Baekhyun hendak beranjak namun Chanyeol menahannya dan mendudukkan namja mungil itu kembali.

"Kajima. B-baiklah kalian boleh mengerjakan tugas di sini," kata Chanyeol dengan berat hati.

Awalnya Baekhyun ingin mengerjakan tugas di tempat lain, akan tetapi Chanyeol melarangnya dan menyuruhnya untuk mengerjakan tugas di apartemennya saja tanpa tahu bahwa teman sekelompok Baekhyun adalah Daehyun. Hanya Daehyun? Sebenarnya dengan Youngjae juga, tetapi namja itu ada keperluan mendadak, maka dari itu Baekhyun hanya mengerjakan tugas berdua dengan Daehyun. Dan hal tersebut sukses membuat Chanyeol sangat menyesali keputusannya. Membiarkan namja yang menyukai namja yang kau sukai mengunjungi apartemenmu? Hell no! Namun kali ini Chanyeol harus merelakannya karena semua ini demi Baekhyun. Lagipula mereka hanya mengerjakan tugas. Kenapa kau sangat posesif, Park Chanyeol?

...

...

...

...

...


~_TO_BE_CONTINUED_~


Big Thanks To:

followbaek | hunhan shipper | neli amelia | BaekyeolSekai | Jung Hyejin | Dasha Kim | Maple fujoshi2309 | Guest(1) | Baekhyunniee | Nino1307SJEXO | icholra | fanoy5 | Guest(2) | nisanoli | taeminho597 | icholra | Re-Panda68 | rizqibilla | Rnine21 | HyunRa | minbyuliee | biezzle | unicornslay | Guest(3) | taeminho597 | Guest(4) | hunhan shipper | Guest(5) | Always Hunhan | Chanbaek Shipper | deasyfang2 | rachel suliss | Fuji jump910 | lollyaiko | Tabifangirl | .58 | ahnjinhee2 | Beechanbaek | devrina

*maaf kalau ada yg namanya nggak kesebut*


Mianhae aku telat (banget) update. Dikarenakan aku habis ospek dan menjalani awal-awal masa kuliah yang tentu perlu banyak persiapan. Dan walaupun masih maba tapi udah banyak kegiatan dan tugas. Dan sebenarnya ini udah jadi lama tapi masih aku cek ulang dan di kostku itu jaringan internet lola banget. Tapi begitu aku pakai wifi kampus malah lupa terus mau ngepost karena keasyikan download :D. Sebagai permintaan maaf chap ini udah aku panjangin jadi 6k words,, mudah-mudahan kalian suka :D

Maaf juga kalau cerita ini makin membosankan. Dan buat ChanBaek shipper, mian aku belum bisa bikin ChanBaek sweet"an, rasanya susah banget dapat feel-nya berhubung aku hanya shipper biasa bukan hardshipper. Beda kalau HunHan kan aku hardshipper mereka jadi gampang dapat feel. Tapi akan aku usahain kok sebaik-baiknya buat kalian. Atau mungkin kalian mau ngasih saran? Boleh banget. Chap depan aku usahain banyak ChanBaek moment.

Bagi yang mau mengenal author silahkan kirim PM :)

Oh ya! Soal Luhan hengkang, lebih baik kita doakan aja semoga dia tetap hidup bahagia dan kondisinya semakin membaik. Sebagai HunHan shipper aku sedih banget, pasti setelah ini nggak akan ada lagi moment HunHan :'(

Walaupun begitu aku tetap HunHan shipper kok dan nggak akan pernah melupakan HunHan sampai kapanpun. Karena alasanku suka EXO karena HunHan jadi waktu Luhan keluar itu rasanya galau banget. Aku nangis sepanjang hari #curcol

Ya udah deh nggak usah dipikirin lagi entar nangis lagi. Aku sebenarnya punya beberapa projek FF HunHan tapi belum sempat bikinnya, soalnya ya itu, kegiatan kampus -_-

Okai, happy reading and R&R juseyo~ :)