Gundam Seed/Destiny © Bandai, Sunrise—Matsuo Fukuda and team

Tidak ada keuntungan material yang didapat dari cerita ini

Pangeran yang (Tidak) Keren © 2015 Vereinigte Autoren


Flay suka dongeng sejak masih kecil.

Dongeng yang disukainya adalah tentang kisah para puteri yang diselamatkan oleh pangeran. Pangeran-pangeran yang ditampilkan oleh buku-buku dongeng yang dibacakan orang tuanya selalu sama: pangeran berwajah tampan yang menunggang kuda putih sambil membawa pedang, nampak sangat sangat keren dengan jubah yang melambai ditiup angin.

Pada usia empat tahun, Flay sudah bercita-cita menikah dengan seorang pangeran.

Sai sudah mengenakan kacamata sejak Flay pertama kali melihatnya, ketika ia menjadi siswa baru di playgroup kompleks perumahan barunya. Pertemuan itu sangat membekas dalam kepalanya.

Tidak keren, pikir Flay tentang anak laki-laki itu. Terlebih lagi dengan dua cairan ingus yang tidak berhenti meler dari hidung bocah laki-aki itu. Sangat tidak keren, pikirnya lagi melihat anak itu menangis sambil melompat-lompat mencoba mengambil mobil-mobilan di tangan anak laki-laki tambun—yang ukuran badannya seperti saudara sepupu Flay yang sudah kelas dua SD—dari TK Nol Besar di sebelah playgroup.

Flay cilik mencibir, lalu masuk ruang kelas, memanggil guru. Rambut merahnya yang dikuncir dua dengan pita pink itu bergoyang-goyang seperti rambut boneka Barbie favoritnya yang terguncang-guncang di pelukannya ketika ia berlari masuk. Flay tahu nama anak laki-laki berkacamata beringus itu ketika gurunya memekik sambil mendekati anak itu.

Sai. Namanya Sai.

Seminggu berlalu ketika Flay menemukan dirinya jadi target anak TK Nol Besar. Tiga orang anak laki-laki, salah satunya Si Tambun yang mengganggu Sai, mengambil boneka barbienya. Boneka barbie yang mengenakan gaun puteri warna pink itu dilempar tinggi-tinggi oleh Si Tambun. Kedua temannya yang lain menarik-narik kuciran Flay.

Flay mulai menangis. Air matanya berlinang sambil memohon agar ketiga pengganggu itu berhenti dan mengembalikan Barbie.

Tapi tentu saja, mereka tidak berhenti. Hingga—

Duk.

"Jangan ganggu Flay!"

Sai tiba-tiba muncul. Topeng Ultraman menutupi separuh wajahnya. Ia segera maju menghadapi Si Tambun, mencoba mengambil barbie Flay. Kedua orang beda ukuran itu pun saling pukul, bahkan hingga topeng Sai terlempar ke tanah dan terinjak-injak.

Kedua anak laki-laki yang menariki rambut Flay tahu-tahu sudah berhenti, mendekati perkelahian itu. Perkelahian tiga lawan satu pun tidak terelakkan, jelas membuat Sai kalah. Dan Sai pun menangis keras meskipun tidak juga berhenti melawan ketiganya.

"Huwaaa!"

Para orang dewasa berlarian ke halaman, melerai keempat anak laki-laki itu. Sai kemudian berdiri di depan Flay, tangan kanannya teracung memberikan boneka barbie yang kakinya hilang satu. Wajah kotor oleh air mata, debu, dan ingus.

"Maaf, kakinya ilang," ujar Sai sambil sesegukan.

Flay tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.

Ternyata, seorang pangeran tidak melulu harus keren dengan jubah yang ditiup angin. Sai juga keren, meskipun cengeng, dan ingusnya meler.


Flay mengulum senyumnya.

Bertahun-tahun berlalu dan ingatan masa kecilnya itu akan terus terpatri dalam kepalanya. Siapa sangka, anak ingusan yang dulu menangis dengan nyaring dengan ingus yang meler telah berubah menjadi sekeren saat ini, seperti pangeran dari dalam buku dongeng.

Sai, yang kepalanya berada di pangkuan Flay itu menggeliat, namun tidak bangun.

Flay mulai memetakan wajah Sai. Jari-jarinya mengikuti lekukan-lekuk pada wajah kekasihnya itu, dari ujung dagunya, lalu bibirnya yang sedikit terbuka mengeluarkan udara hangat, batang hidungnya yang ditempeli bekas bantalan kacamata, sepasang kantung mata akibat begadang beberapa hari, lalu alisnya yang tebal, dan keningnya yang dihiasi garis-garis halus.

Flay mengeluarkan napas panjang mengingat kegiatan-kegiatan yang cukup menguras kemampuan otak pemuda itu.

"Kau ini terlalu sering memikirkan yang berat-berat sampai keriput seperti ayah saja. Tapi aku suka Sai yang seperti ini. Berusaha melakukan yang terbaik tanpa berputus asa, meskipun itu sangat berat. Tetaplah menjadi Sai yang seperti ini," bisiknya lalu mengecup kening Sai.

Rambut merahnya menutupi bagai tirai.

Angin sepoi-sepoi menerpa menerbangkan helai-helai rambutnya.

Flay tersenyum kecil lalu menarik wajahnya menjauhi kening Sai, hanya untuk beradu pandang dengan sepasang mata lain.

Entah sudah berapa lama Sai membuka matanya.

Flay terpekik kecil. Ia merasakan panas menjalar dari pipi hingga telinganya, merasa malu telah tertangkap basah mengecup kening kekasihnya itu. Apalagi ketika ia memutar kembali ucapan terakhirnya tadi, ia semakin merona, merasa ucapannya tadi cukup memalukan.

Plak.

Flay menepuk dahi Sai hingga kemerahan.

"Aduh!"–Sai terduduk sambil memegangi keningnya dengan wajah mengiba–"Flay! Sakiiit!"

"Hmpph."–Flay membuang muka–"Salahmu sendiri tidur terlalu lama. Kakiku keram menyangga kepalamu."

Sai mendengus, lalu mengenakan kacamatanya yang ia masukkan dalam saku ketika tidur tadi. "Kau tidak protes tadi."

"Kau hanya tidak dengar protesku karena kau sedang tidur."

Sai menggumam kecil, lalu membuang muka ke sisi lain. Tangannya menjulur mencari-cari tangan Flay, menautkan jari-jari mereka. Lalu ia berkata pelan, "Kapan-kapan, pinjami aku krim wajahmu, supaya aku kelihatan lebih muda."

Kulit wajah pemuda berkacamata itu memburat, kontras dengan warna kulitnya yang pucat setelah ia selesai berucap.

Flay mengiyakan. Wajah gadis itu masih dihiasi merah sisa-sisa sebelumnya.

Ting Tong.

Bel tanda pergantian kelas pun berbunyi. Sai pun mengajak Flay kembali menuju kelas mereka. Keduanya berjalan dalam diam, dengan wajah masing-masing masih dihiasi semburat merah samar. Tautan jari jemari mereka sama sekali tidak terlepas, bahkan meskipun beberapa teman mereka menggoda keduanya.

Ketika keduanya sudah sampai di depan pintu kelas 2A, Sai mengeratkan tautannya, lalu berbisik pada telinga kekasihnya itu: "Aku juga suka Flay yang selalu ada di sampingku. Tetaplah seperti itu."

Sai melepaskan tautan jarinya lalu begegas masuk kelas meninggalkan Flay yang membeku di depan pintu dengan wajah memerah.


Fin.


Sai my baeee, maaaafkan daku mem-bully-mu #peluk-peluk chibi!Sai

Ehem. Halo-halo!

Masih ingat sama challenge dari kami, kan? Yang Tebak Author itu, lho~ #senyumtigajari

Yang jawabannya nyerempet bener sih ada, tapi yang full bener semua belum ada, jadi hadiah promptnya hangus. #sad Tapi … sebagai ucapan terima kasih atas partisipasi reader Sembilan, kami memutuskan membuat beberapa drabble. Stay tuned, ya! #senyumtigajari.

Ada yang mau nebak drabble-drabble ini ditulis siapa? Tapi kali ini gak berhadiah ya *winkwink*