CHAPTER 9 –
"Oke, hari ini cukup sampai di sini. Terima kasih." Hinata membubarkan staffnya. Hari ini adalah hari pemotretan untuk album Sasuke. Mereka memilih menggunakan studio daripada lokasi di luar, mengingat udara yang masih dingin. Tidak mungkin mereka harus melakukan pemotretan berjam-jam di luar ruangan. Mereka cukup bekerja keras hari ini, sebuah grand piano berwarna putih di pindahkan ke dalam studio tadi pagi. Persiapan set pun dari pagi hari, meskipun ini pemotretan di dalam ruangan. Hinata ingin segalanya sesuai konsep yang sudah mereka tentukan. Untung saja Tenten sudah bersedia mendengarkan album itu , jadi dia bisa memberikan ide konsep yang segar berdasar album musik Sasuke.
"Kerja bagus, Hyuga-san." Guy direktur label musik Sasuke menghampirinya.
"Terimakasih, Guy-san. Terimakasih juga karena sudah mempercayakan pekerjaan ini kepada kami." balas Hinata dengan sopan.
"Kamilah yang harus berterimakasih. Kami sedikit kecolongan kali ini, Sasuke pasti sudah cerita padamu bukan?"
"Iya, dia bilang ada orang yang tidak kompeten yang mengacau.",
"Yah, kurang lebihnya memang seperti itu. Untung saja Sasuke punya teman yang berbakat sepertimu, kami tertolong."
"Terimakasih atas pujiannya, Guy-san. Apakah anda mau melihat hasil fotonya? Staff saya akan menunjukkannya kepada anda. Mori!" panggil Hinata. "Perlihatkan foto-foto tadi pada Guy-san."
"Baik, Hinata-san. Mari ikut dengan saya, Guy-san." ajak Mori.
"Kalau begitu aku tinggal dulu. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Studio sudah sepi, tersisa Hinata saja yang masih melihat-lihat. Sebenarnya dia tertarik pada piano yang ada di studionya itu. Mengingatkannya pada Hanabi. Kalau saja ada Hanabi di sini, dia pasti akan membelikannya. Agar dia bisa memainkannya setiap hari. Hinata duduk dan menyentuh tuts piano satu persatu. Nada yang indah, pikirnya.
"Aku tidak tahu kau bisa bermain piano."
"Uchiha-san!" Hinata langsung berdiri ketika melihat Sasuke kembali ke studionya.
"Tidak, tidak, duduklah." kata Sasuke, dia juga duduk di kursi di depan piano.
"Maaf, aku memainkan pianomu."
"Ini bukan milikku, ini milik perusahaan. Jadi apa kau bisa bermain piano?" tanya lagi.
"Tidak. Aku hanya menekannya asal. Tapi adikku mahir memainkan piano."
"Adikmu? Aku tidak pernah melihatnya."tanya Sasuke.
"Dia tidak ada di Jepang, dia tinggal bersama Ibuku di Amerika." jelas Hinata.
"Oh, begitu. Apa yang sering adikmu mainkan?" tanya Sasuke.
"Sesuatu seperti Canon, choplin, atau lagu anak-anak."
"Selera yang bagus." kata Sasuke sambil menekan beberapa tuts.
"Kau mau mendengar aku bermain?" tanya Sasuke.
"Tentu saja aku mau!" jawab Hinata antusias.
"Tapi ini tidak gratis. Asal kau tahu, tiket konserku mahal."
"Jadi kau mau aku membayar?" tanya Hinata.
"Iya, tapi tidak dengan uang." kata Sasuke. "Bagaimana kalau makan malam denganku?" ajaknya.
"Baiklah. Sudahlah jangan banyak bicara lagi, ayo mainkan saja." perintah Hinata kembali duduk.
"Dasar orang ini. Dengarkan baik-baik,aku tidak pernah main untuk seorang penonton seperti ini." Omel Sasuke yang kemudian memainkan jemarinya di atas tuts piano. Nada yang indah mengalun di seluruh ruangan, nada yang ringan, hangat, dan menenangkan.
Lagu yang indah, pikir Hinata. Alunan musik piano membuatnya mengingat Hanabi. Membuatnya bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya. Setiap hari saat menunggu Ayah pulang, Hanabi akan bermain piano dan Hinata akan mulai menari. Saat Ayah pulang, maka mereka akan menyambutnya dengan bahagia. Kenangan yang indah, sayangnya semuanya tinggallah kenangan.
"Hei, kenapa kau menangis?" tanya Sasuke. Dia menghapus air mata hinata dengan perlahan. "Ada apa?" tanya Sasuke lagi.
Apa dia menangis? Hinata bahkan tidak tau kalau dia masih punya air mata yang tersisa. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukan adikku." jawabnya.
"Kemarilah." Sasuke membawa Hinata ke pelukannya, menenangkan Hinata. Awalnya Hinata terkejut, dia tidak pernah dipeluk oleh seorang pria. Tapi pelukan Sasuke terasa hangat, bahunya lebar dan tangan Sasuke menenangkannya dengan mengusap punggungnya. "Kau pasti sangat merindukannya bukan?" tanya Sasuke.
"Sangat." jawab Hinata, semakin menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Sasuke.
"Terimakasih, Uchiha-san." Hinata melepaskan dirinya dari pelukan Sasuke.
"Lebih baik?" tanya Sasuke khawatir.
"Lebih baik." jawab Hinata sambil memberikan senyumannya.
"Hyuga, makan malam saja tidak akan bisa membayar penampilanku tadi." mulai Sasuke.
"Jadi?",
"Begini saja, akan kuanggap lunas. Kalau aku boleh memanggilmu, Hinata. Bagaimana?" tanya Sasuke.
"Aku tidak keberatan." jawab Hinata santai.
"Baiklah, Hinata kau juga harus memanggil namaku." pinta Sasuke.
"Uchiha-san?",
"Bukan. Sasuke.",
"Sasuke-kun?",
"Itu lebih baik." kata Sasuke tersenyum pada Hinata. "Soal makan malam, nanti malam akan aku jemput." kata Sasuke.
"Sasuke-kun, sebenarnya aku ada ide lebih bagus. Bagaimana kalau kali ini aku yang traktir? Aku akan memasak. Bagaimana?" tanya Hinata.
"Boleh juga. Aku akan datang jam tujuh."
.
.
.
.
.
"Selamat malam.",
"Selamat malam, selamat datang, Sasuke-kun." Hinata membukakan pintu apartemennya.
"Aku bawa jus jeruk. Boleh aku masuk?" tanya Sasuke sambil mengangkat barang bawaannya.
"Jus jeruk? Silahkan masuk.",
"Kau tidak bisa minum." Kata Sasuke mengingatkan.
"Haha, maaf yah. Karena merepotkanmu berkali-kali." Kata Hinata.
"Apa yang kau masak?" tanya Sasuke
"Steak. Kau suka yang mentah, setengah matang, atau matang?" tanya Hinata.
"Setengah matang saja." Jawab Sasuke. "Kau bisa memasak steak?" Sasuke mengikuti hinata ke dapur.
"Aku banyak belajar. Tenang saja, kau tidak akan keracunan." Gurau Hinata.
"Lucu sekali, kalau begitu perlu aku memperingati agen asuransiku dulu?",
"Duduklah, Sasuke-kun. Ini akan segera siap."
Sasuke duduk di sofa, menonton tv. Hinata masih menyiapkan makan malamnya, dan kenyataan bahwa Sasuke tidak bisa membantu membuatnya menonton acara tv yang sangat membosankan. Ini bukan pertama kalinya Sasuke berada di apartemen Hinata, dia sudah pernah ke sini beberapa kali.
"Sasuke-kun. Makan malam sudah siap, mari makan." Panggil Hinata.
"Wah, ini makanan restoran mahal ya?" goda Sasuke.
"Jangan banyak bicara lagi, ayo makan saja." Kata Hinata.
"Ini sangat enak." Puji Sasuke.
"Senang kalau kau menyukainya.",
"Kau bisa buka restoran dengan masakan ini.",
"Kau berlebihan, mana bisa aku menandingi masakan chef bintang lima.",
"Aku tidak bercanda, ini memang sangat enak.",
"Sudahlah, habiskan makananmu dulu." mereka berdua tenggelam dalam makanannya masing-masing. Masakan Hinata memang enak, terbukti dengan rajinnya Tenten menumpang makan di tempatnya.
"Biar aku yang mencuci piring." Kata Sasuke, dia merebut piring-piring dari tangan Hinata.
"Itu tidak perlu, kau tamuku. Kau seharusnya bersantai saja." Kata Hinata.
Sasuke tidak memperdulikannya, dia membawa piring-piring kotor ke wastafel dan mulai mencuci. "Karena kau sudah memasak, setidaknya biarkan aku mencuci piringnya. Sebagai rasa terimakasih atas masakan yang enak." Kata Sasuke.
"Kau terlalu berlebihan. Ini kan pembayaran untuk permainan pianomu tadi.".
"Jadi, kau akan memasakkan makanan seperti ini lagi, kalau aku memainkan piano untukmu?" Sasuke bergabung dengan Hinata di meja makan setelah selesai mencuci piring.
"Bisa dibilang begitu." Jawab Hinata mengambang.
"Kau orang pertama yang membayar pertunjukkan pianoku dengan masakan. Sebenarnya kau wanita pertama selain ibuku yang memasak untukku.",
"Benarkah? Tidak ada wanita yang pernah memasak untukmu? Bukankah kau punya banyak kekasih?" tanya Hinata heran.
"Kurasa mereka semua tidak bisa masak. Tapi intinya kau adalah orang yang pertama." Kata Sasuke sambil menatap langsung ke arah Hinata. "Ini sudah malam, aku akan pulang dulu.",
"Ah, baiklah. Biar aku antar ke depan." Mereka berdua berjalan dengan kikuk.
"Sekali lagi, terimakasih atas makanannya." Ucap Sasuke saat mereka sudah berada di luar.
"Sama-sama. Aku tidak keberatan memasak lagi untukmu." Komentar Hinata bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Memasak untuk Uchiha Sasuke? Pria yang dianggapnya menyebalkan?
"Aku senang mendengarnya." Kata Sasuke sambil tersenyum lebar. Mereka tersenyum bersama, seolah-olah ada yang lucu. "Kau sebaiknya masuk ke dalam, malam semakin dingin." Kata Sasuke,
"Baiklah, selamat malam.",
"Hinata." Sasuke menarik tangan Hinata, agar dia melihat ke arahnya. Sasuke menatap ke mata Hinata, perlahan-lahan dia mencium pipi wanita di hadapannya ini. "Selamat malam."
Hinata menutup pintu setelah Sasuke pergi. Jantungnya berdetak dengan kencang. Uchiha Sasuke baru saja menciumnya. Dia memang menyadari perubahan sikap Sasuke padanya. Setidaknya lebih baik daripada saat mereka pertama kali bertemu. Sasuke juga sudah menolongnya beberapa kali, dan dia tidak pernah mengambil kesempatan darinya. Meskipun reputasinya dalam hal percintaan tidak baik, tapi Hinata merasa dia menghadapi orang yang berbeda. Dia bukan menghadapi Uchiha Sasuke yang dikatakan oleh orang-orang. Melainkan Uchiha Sasuke, tetangganya yang sangat baik dan perhatian, dan Hinata tidak yakin apakah tetangga saja sudah cukup untuk mendeskripsikan Sasuke. Karena saat ini dia bahkan tidak yakin dengan perasaannya. Dia sudah menutup hatinya kepada siapapun, tapi kedatangan Sasuke membuatnya goyah. Apakah pada akhirnya pertahanannya akan runtuh, karena saat ini ada Uchiha Sasuke? Apakah arti debaran ini?
TBC
