Basyot di awal : Chap ini isinya dikit dan fokus ke Baekhyun aja. Sebenernya mau di jadiin satu sama chap depan yg akan ambil fokus ke Chanyeol, cuma ada beberapa pertimbangan hingga akhirnya dibagi jadi 2, biar adil hehe..

Mungkin bakal membosankan dan gak enak buat di baca. So, di awal ini Ayoung mau minta maaf kalo rasa ff-nya jadi datar T.T

Juga, terima kasih buat yg selama ini sudah mau nunggu Ayoung update hehe.. saranghae :*

.

.

.

Baekhyun mulai berpikir ulang tentang sebuah kepercayaan. Semenjak Chanyeol yang selalu menawarkan ketulusan nyatanya memiliki sisi hitam yang bahkan lebih buruk dari kotoran babi. Bagi Baekhyun, sebaiknya jangan mengungkap sebuah rasa percaya ketika ada sesuatu yang jahat di sela-sela itu semua hingga akhirnya kekecewaan itu akan kembali mendera Baekhyun dengan hunusan pisau yang menyakitkan.

Bersyukur Baekhyun masih memiliki kekuatan untuk berjalan meski sebenarnya dia tak cukup tangguh untuk bertahan. Pikirannya kacau, sekacau bagaimana Chanyeol meneriakkan nama Baekhyun dalam gaungan perusahaannya yang besar itu.

"Dengarkan aku!"

..dia di hentikan oleh cengkeraman kekar di lengannya.

"Ada yang benar-benar harus ku jelaskan!"

Apa lagi? Aku sudah cukup tau.

"Ini akan butuh waktu lama untuk kau mengerti tapi aku bisa memberimu penjelasan! Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan!"

"Apa yang kau tau tentang pikiranku?!"

"Aku tidak memiliki niat buruk padamu! Aku hanya ingin melindungimu!"

"Terima kasih tapi aku tidak butuh!"

"Baekhyun," lengannya kembali di tarik dan kini ia berhadapan langsung dengan Chanyeol yang mulai frustasi.

"Kau tau, Chanyeol," cengkeraman itu Baekhyun hempas meski menyisakan rasa ngilu di lengannya. "Ketika sebuah gelas sudah pecah dan kau berusaha untuk memperbaikinya, gelas itu tidak akan sama seperti semula!"

Kebencian sudah melingkup dalam diri Baekhyun dan dia terlalu tegar untuk menahan guratan air mata. Dia sudah menangis—berbagi kesedihan pada bumi dan mengharap akan ada sesuatu yang lebih baik untuk kakinya berpijak.

Semua mengakar dan menjerat, melukai hati hingga meludahkan banyak lahar kekecewaan. Chanyeol menjadikan semua semakin buruk dan bersiaplah akan kehilangan wanita itu. Wanita dengan ketegaran setipis kertas.

"Kau hanya ingin harta itu, kan?" Baekhyun merampas map yang Chanyeol bawa dan mengambil pena dari saku jas Chanyeol. Bodohnya disini adalah Chanyeol yang datang dengan lembaran perusak kepercayaan Baekhyun. Tapi dia tidak memiliki pilihan ketika di dalam kantornya, lebih tepatnya di ruang kerjanya, ada Byun Taekwon yang mati-matian menginginkan berkas ini. Tidak mungkin, kan, meninggalkan ber-ton daging pada harimau yang kelaparan?

"Mana yang harus ku tanda tangani?!" Tangannya berusaha menyembunyikan getar kecewa ketika membuka map itu dan mencari bagian kosong yang bertuliskan namanya. "Apa disini?!"

Chanyeol berusaha menahan dan merebut kertas perusak kepercayaan itu tapi Baekhyun nyatanya memiliki sedikit langkah lebih cepat untuk bertindak. Tubuhnya memberontak sekuat tenaga dan sesekali mengancam akan melakukan tindakan nekat jika Chanyeol menghalanginya.

Lalu ketika akhir dari coretan pena itu selesai Baekhyun berikan, dia telah membulatkan keputusan. Sudah terlalu banyak hal yang membuat Baekhyun muak hingga ia tidak memiliki banyak kata untuk perpisahannya dengan Chanyeol. Sebaiknya dia pergi, menghilang dan tidak akan pernah lagi kembali merengkuh kenyamanan yang Chanyeol tawarkan sebelum ada ledakan kekecewaan yang semakin parah. Map itu Baekhyun lempar tepat di depan mata Chanyeol dengan satu decihan penuh kebencian sebagai penutup hubungan mereka.

Chanyeol sendiri seperti robot rusak, kehilangan akal untuk berpikir bagaimana caranya agar dia bisa menjadikan semua ini jelas. Dia tidak ingin Baekhyun pergi, dia terlalu mencintai Baekhyun hingga melihat pundak sempit itu masuk kesebuah taksi lalu menghilang di persimpangan, Chanyeol ingin meledakkan banyak kekesalan.

Dia harus mengejar Baekhyun, bagaimanapun juga Baekhyun tidak boleh pergi. Persetan dengan keegoisan karena Chanyeol percaya semua akan kembali seperti semula ketika Baekhyun bisa mendengar penjelasannya. Entah itu hanya sekedar melewati telinga kanan dan keluar telinga kiri, atau bahkan Baekhyun menutup rapat-rapat telinganya pada setiap perkataan yang akan ia dengar.

"Tuan Chan—"

"Katakan pada Kai untuk membatalkan semua rapat hari ini." Chanyeol menerobos paksa pada kemudi mobil hitam yang di bawa oleh salah satu pegawainya itu. Dia butuh untuk mengejar Baekhyun. "Aku pinjam mobilmu."

Chanyeol melesatkan mobil itu dengan kecepatan penuh, membelah kasar ramainya jalanan, dan tak memperdulikan umpatan maupun teriakan klakson karena kebrutalannya. Kebutuhannya akan Baekhyun tak pernah sebanding dengan injakan gas juga picingan mata pada jalanan.

Rasa posesifnya pada Baekhyun terbentuk sebegitu besar hingga mengabaikan tiap kerasionalan yang seharusnya bisa Chanyeol kendalikan. Chanyeol sudah dibutakan oleh banyak cinta untuk Baekhyun hingga ketika Chanyeol bisa mencapai taksi kuning yang membawa Baekhyun pergi, dia memiliki umpatan terbesar untuk ponselnya yang berdering. Chanyeol berjanji akan memenggal kepala Kai setelah ini karena menelfon di saat yang tidak di butuhkan.

"AKU TIDAK BISA IKUT RAPAT, KAI!" Suara Chanyeol menggelegar ketika panggilan tersambung.

"Maaf, Tuan. Tapi ini bukan soal rapat."

"Lalu untuk apa menghubungiku?!"

"Ini penting, Tuan."

"Katakan dalam waktu 10 detik atau jika tidak kau akan kehilangan kepalamu!"

"Tuan Byun Taekwon menjual perkebunan dan peternakan di Jerman."

Lalu decitan suara ban yang bergesekan secara tiba-tiba dengan aspal adalah apa yang menjadi reaksi nyata atas rasa terkejut Chanyeol. Kai bersunggung-sungguh dengan 10 detik yang Chanyeol beri dan itu cukup membuat Chanyeol ingin kembali meledak.

"Transaksi akan terjadi dua hari lagi. Jika kita tidak cepat—"

"Bagaimana bisa?! Surat-suratnya semua ada padaku!"

"Saya pastikan jika Tuan Byun sudah memalsukannya. Tuan, kita harus cepat bergerak sebelum semua semakin kacau. Tuan Byun bergerak lebih cepat, bahkan tanah yang ada di Jeonju juga sudah terjual."

Desakan Kai mau tidak mau merecoki niat awal Chanyeol. Penjelasan yang sudah ia susun kuat-kuat untuk Baekhyun sepertinya harus tertunda karena ada satu bajingan yang membuat Chanyeol mengepalkan tangan. Tulang-tulang jari kokohnya yang bermunculan itu tidak sebanding dengan kemarahan dan rasa muak pada Byun Taekwon yang selalu memiliki jalan tikus kotor dan menjijikkan hanya untuk sebuah harta.

"Tuan,"

"Temani aku ke Jerman dan gunakan penerbangan paling cepat. Hubungi siapa saja yang kau kenal di Jerman dan katakan aku ingin bertemu dengan orang yang akan melakukan transaksi dengan Byun Taekwon. Juga, perintah siapa saja yang kau percaya untuk mencari Baekhyun. Temukan Baekhyun dan pastikan tidak ada hal buruk yang terjadi." Chanyeol bersiap dengan putar balik yang akan ia lakukan sebelum ia teringat sesuatu, "Dan Kai, siapkan juga berkas itu."

"Apa Anda akan melakukannya? Kita belum mendapat persetujuan dari Nona Baekhyun."

"Kita akan kalah jika tidak menggunakan berkas itu. Aku tidak ingin semuanya semakin kacau jika aku kalah."

"Baik, Tuan."

.

Di persimpangan jalan dekat rumahnya, setelah turun dari taksi, Baekhyun berusaha berjalan dengan senormal mungkin. Dia mendoktrin diri untuk kuat, meski pada kenyatannya tak sekuat itu untuk menerima kenyataan pada apa yang Chanyeol lakukan. Baekhyun juga berpikir untuk tidak menjadikan ini berlarut-larut, yang telah menjadi kesakitan hati biarlah seperti itu. Mengubahnya sekuat tenaga tidak akan pernah menemui kata berhasil jika sisa cinta di hatinya selalu mengemis untuk kembali ke labirin Chanyeol.

Dan di sinilah Baekhyun kembali berdiri, rumah sederhana yang menjadi teman bisu pertumbuhan Baekhyun kecil hingga seperti sekarang. Tidaklah terlalu muluk jika Baekhyun berharap masih memiliki sedikit tempat yang setidaknya bisa membuatnya tenang setelah ia dihancurkan oleh kenyataan yang Chanyeol siram.

Lalu ketika Baekhyun melangkahkan kakinya masuk sebuah gerbang kayu yang tidak terlalu tinggi itu, matanya memicing curiga karena dia tidak pernah salah untuk melangkah pulang. Ini benar rumahnya, satu-satunya kenangan untuk mengingat ibunya.

Tapi apa ini?

Aroma alkohol, asap rokok, teriakan pria bar-bar, dan masih banyak hal laknat lainnya menjadi sambutan yang membuat kerongkongan Baekhyun tidak berfungsi dengan benar untuk menelan ludah. Ini rumahnya, dan siapa yang telah membuat hancur fungsi rumah sebagai kenangan menjadi bar dadakan?

"Kau datang. Sudah sadar?" atensinya teralih pada wanita yang berdiri di ambang pintu masuk. Baekhyun masih mengenalinya—wanita yang beberapa bulan lalu masih sudi ia panggil 'nenek' tapi sekarang Baekhyun ingin sekali meneriaki 'brengsek'. Persetan dengan norma kesopanan jika apa yang sudah wanita tua itu lakukan sudah melebihi batas.

"Kau apakan rumahku?!"

"Rumahmu?" wanita itu mendekat dengan kepulan asap yang keluar dari mulutnya—sengaja di hempaskan tepat di depan muka Baekhyun hingga terbatuk-batuk. "Ini rumahku, Baekhyun sayang. Jangan bermimpi."

Kenyataan macam apa lagi ini? Semua datang terlalu bertubi-tubi hingga Baekhyun tidak tau harus mencari jalan keluar seperti apa.

"Tidakkah cukup dengan membuangku begitu saja?" Desisnya bersama setitik air mata yang sedari tadi mati-matian ia tahan. "Tidakkah cukup menjadikanku bahan kesenanganmu?!"

"Belum cukup!" Asap rokok itu kembali mengepul tepat di depan wajah Baekhyun. "Ini bahkan belum mencapai setengah dari apa yang harus kau tebus!"

"Kau sudah menghancurkanku!"

"Dan ibumu menghancurkan anakku!"

"Ku rasa kalian sendiri yang menciptakan semua itu!"

"Jika saja ibumu yang jalang itu tidak datang untuk mengemis tanggung jawab, Taekwon pasti sudah menikah dengan orang yang lebih kaya!"

"Kalian bajingan!"

"Dan kau jalang!"

Baekhyun menggeram, berusaha menahan sedikit lilitan dadakan pada perutnya yang merupakan kontraksi pertama sejak kehamilannya.

Bertahanlah sebentar demi ibu, nak.

Ini buruk, Baekhyun tidak bisa bertahan lebih lama atau ia akan pingsan. Dia ingin cepat pergi dan menyelesaikan lilitan pada perutnua tapi terlalu murka untuk meninggalkan banyak kemarahan pada wanita tua itu.

"Kau berhutang banyak hal padaku juga Taekwon setelah wanita jalang itu mati karena melahirkanmu! Dan kau harus membayar semua itu tanpa ada cacat sedikitpun!" Nenek kembali mendekat, berjalan memutar pada tubuh berkeringat Baekhyun dan mulai memikirkan sebuah kesenangan yang bisa di ambil dari Baekhyun. "Tapi jika kau ingin melunasi semua lebih cepat, aku bisa menawarkan pilihan."

Buruknya dari semua ini adalah remasan menyakitkan dari perut Baekhyun yang semakin parah ketika nenek mulai menarik sebelah tali dress yang Baekhyun kenakan. Baekhyun hanya bisa menahan sebatas cengkeraman seadanya. Dia tak berdaya, terlebih ketika nenek memanggil pria barbar yang sedang di kuasai alkohol untuk melihat sedikit tubuh Baekhyun yang terbuka.

"Aku buka dari 10 juta won, yang tertinggi bisa menikmati anak ini." Kata nenek dengan senyum sepihak yang menjijikkan.

Sial! Baekhyun dipertaruhkan sebagai seorang pelacur di hadapan lelaki berotak nafsu. Dia harus pergi, bagaimanapun juga Baekhyun tidak mau membiarkan para lelaki itu menyentuh setitik kulit di tubuhnya.

Dan lelang konyol itu dimulai. Mereka saling menyombongkan harga tertinggi untuk bisa menikmati tubuh Baekhyun. Tidak peduli apakah Baekhyun baik-baik saja atau sudah membatin banyak kemuakkan karena sejujurnya ini lebih buruk dari merendahkan harga diri. Sedang wanita tua dengan kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya sudah tersenyum penuh kepuasan ketika harga diri Baekhyun dipertaruhkan dalam deretan angka-angka memuakkan.

Lalu ketika seorang pria dengan kumis tebal dan badan tambun memberi nilai fantastis yang tak bisa di tandingi lagi, Baekhyun mengambil langkah seribu. Setiap langkah cepat kakinya terselip doa agar tidak ada kesialan maupun nasib tidak beruntung yang mengorbankan dirinya.

Sudah tidak tau seberapa cepat kaki Baekhyun mampu berlari untuk menghindari kejaran para pria dibelakangnya. Setiap tikungan gang-gang sempit Baekhyun lalui dan mengubur dalam-dalam rasa lelah kakinya. Hingga ketika hampir tiba di ujung persimpangan jalan, ada sebuah gang gelap yang menjadi pencapaian terakhir Baekhyun.

Dia bersembunyi di sana, menekuk rapat-rapat deru nafas juga tubuhnya agar para pria berotak alkohol itu tak menemukannya. Bayi dalam perutnya mulai bisa sedikit di ajak berdamai, seperti mengerti keadaan ibunya yang terhimpit keserakahan seorang wanita tua. Dan ketika keadaan sudah cukup aman untuk pergi, Baekhyun keluar dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tidak tau kemana selanjutnya ia akan berlindung, yang jelas Baekhyun harus pergi dari sini. Apapun itu demi dirinya juga si kecil dalam perutnya.

.

.

.

.

Luhan baru saja datang dari kampus ketika seorang wanita tergeletak tak berdaya di depan pintu rumahnya. Seketika kakinya membuka langkah lebar-lebar karena indera penglihatnya memastikan itu adalah Baekhyun dengan penampilan yang tidak karuan. Pakaian compang-camping, keringat bercucuran dan wajah pucat adalah keadaan terburuk yang pernah Luhan jumpai dari Baekhyun.

Berkali-kali Luhan menyerukan nama Baekhyun tapi wanita itu tak kunjung memberi respon. Hingga akhirnya Luhan memutuskan untuk membopong seorang diri tubuh lemah Baekhyun ke dalam rumah untuk di beri pertolongan.

"Lu.." suaranya begitu lemah ketika memanggil Luhan yang menyeka keringat dengan handuk kecil.

"Istirahatlah dulu, Baek. Aku tidak akan menuntut penjelasan apapun. Aku tau kau butuh istirahat."

"Terima..kasih.."

Luhan begitu telaten merawat tubuh lemah Baekhyun yang bahkan untuk bergerak barang satu derajat saja tidak bisa. Kemalangan pasti sudah menerpa sahabatnya ini. Dilihat bagaimana penampilan Baekhyun yang lusuh dengan mata bengkak, sudah bisa dipastikan hal ini tidak mudah dilewati seorang diri.

Luhan menyeka air mata meski ia tidak tau seberapa parah cobaan yang Baekhyun dapati. Terselip beberapa doa semoga Baekhyun dikuatkan untuk terus bertahan. Bukan demi siapa-siapa tapi demi keselamatan Baekhyun sendiri.

Setelah mengganti pakaian dan mengurus tubuh lusuh Baekhyun, Luhan berniat membuat minuman hangat yang bisa Baekhyun minum kala terjaga. Tapi baru satu langkah Luhan menginjakkan kaki di dapur, seseorang mendobrak paksa pintu depan. Sontak Luhan bergegas menemui keributan di depan dan mendapati beberapa pria berseragam polisi sedang mengobrak-abrik rumah kecilnya.

"Ada apa ini?!"

"Dimana kau menyembunyikannya?!" Seru seorang lelaki dengan tubuh besar dan tegap.

"Siapa yang kalian cari?!"

"Pak, dia ada di kamar!" Seru pria lainnya yang sudah masuk dalam kamar tempat Baekhyun beristirahat.

"Ada apa?! Katakan padaku?! Kenapa kalian membawa Baekhyun?!" Luhan berusaha menghentikan pria-pria berseragam polisi yang tengah memborgol Baekhyun.

Baekhyun yang lemah hanya bisa pasrah ketika tubuhnya dipaksa untuk bangun. Dia menggumam tidak jelas dari bibirnya yang lemah dan Luhan hanya bisa menangkap beberapa kata 'tolong aku, Lu' sebelum akhirnya Baekhyun dibawa secara paksa masuk ke dalam mobil polisi.

Luhan tidak tau harus bagaimana ketika keributan itu berakhir dengan dibawanya Baekhyun. Bukan karena rumahnya yang berantakan, tapi apa yang membuat polisi tiba-tiba membawa Baekhyun dengan cara sekasar itu.

.

.

"Penipuan jual beli tanah, pemalsuan sertifikat, dan hutang dimana-mana. Tidakkah itu terlalu berlebihan untuk wanita muda sepertimu?"

Baekhyun sedang berada di sebuah ruangan minim cahaya dengan satu meja lusuh dan tatapan dua lelaki berseragam polisi yang mengintimidasi. Tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat untuk membela dengan sama kerasnya. Tapi setidaknya Baekhyun sudah mengungkapkan pengelakan meski dengan suara lemah.

"Aku tidak melakukannya."

"Itu sudah dialog lama, Nona. Carilah yang baru agar drama kebohonganmu tidak terlalu monoton."

"Aku..benar-benar..tidak melakukannya."

"Lalu siapa jika bukan dirimu? Ayolah, bekerja samalah dengan kami agar hukumanmu tidak terlalu berat!" yang berbadan tambun mulai menaikkan nada ketika Baekhyun kembali mengelak dengan suara lemahnya. "Penipu sepertimu hanya membuang waktu! Akui saja dan hukum di negara ini akan bekerja setelahnya!"

Cacian dan paksaan untuk mengakui apa yang dituduhkan terus menjadi lagu pengiring sisa hari ini. Mereka tak mendengar apapun yang Baekhyun katakan dengan jujur—hanya peduli pada barang bukti yang baru Baekhyun lihat untuk pertama kali. Dia bahkan tidak tau jenis berkas seperti apa yang mengatas namakan dirinya untuk di palsu.

Baekhyun menerima semua meski dia cukup sakit hati harus terdampar di sebuah sel tak layak. Sel itu berisi 6 orang tahanan wanita lainnya yang sedari Baekhyun datang sudah memicing sinis. Beralaskan tikar seadanya para tahanan itu meluruhkan tubuh dan tidak memberi tempat untuk Baekhyun barang sedikit saja. Keadaan pengap juga bau kamar mandi yang berada satu ruangan dengan sel itu menjadi teman kesedihan baru yang tidak tau harus berakhir sampai kapan.

Dihari-hari setelahnya Baekhyun tetap mengatakan tidak melakukan apa-apa karena memang pada kenyataannya seperti itu. Tak jarang orang yang menginvestigasinya melayangkan nada cukup tinggi karena Baekhyun mulai bisa mengelak dengan nada tinggi dan picingan mata. Mereka tidak terima ketika Baekhyun yang sudah berstatus tahanan itu melawan dengan emosi yang meledak-ledak.

"Lu, aku tidak melakukannya." Kata Baekhyun ketika di suatu siang Luhan datang untuk menjenguk.

"Aku percaya kau tidak melakukannya, Baek."

Luhan tidak tau harus berbuat apa. Kesaksiannya tak cukup mendukung ketika polisi memiliki bukti lengkap sebuah sertifikat serta surat perjanjian jual beli yang ada tanda tangan Baekhyun. Yang bisa dia lakukan hanya menggenggam tangan Baekhyun, menyalurkan sedikit ketenangan yang entah berguna atau tidak sampai nanti kebenaran akan terungkap.

Luhan hampir datang setiap hari sekedar untuk memberi kekuatan juga membawakan Baekhyun beberapa makanan karena wanita itu tampak lebih kurus. Mereka sama-sama tidak memiliki pijakan yang kuat untuk membantu Baekhyun keluar dan lepas dari jeratan hukuman. Hingga di suatu hari, tepat di hari ke-5 Baekhyun mendekam di balik jeruji besi, dia kembali di bawa ke ruang minim cahaya.

Investigasi kembali di lakukan. Mereka kembali mencerca Baekhyun dengan bermacam-macam tuduhan dan Baekhyun dengan ringan hati tetap mengelak. Tak jarang gebrakan meja menjadi pelengkap malam investigasi ini ketika nada bicara Baekhyun membuat mereka muak.

"Ayolah! Akui saja! Jangan mengulur-ulur waktu atau hukumanmu akan semakin parah!"

"Aku tidak akan mengakui apa yang tidak aku lakukan!"

"Lalu kau pikir nama dalam surat ini nama siapa?! HAH!" Lembaran kertas itu dilempar tepat di depan muka Baekhyun ketika para penyidik kehilangan kesabaran. "Penipu tetaplah penipu! Akui saja apa susahnya?!"

"Kalian seorang penyidik, seharusnya bisa lebih jeli untuk mencari kebenaran barang bukti yang kalian miliki!"

"Kau mau meremehkan kinerja kami?!"

"Aku tidak meremehkan tapi itulah kenyatannya!"

"Apa yang kau tau tentang kenyataan jika kau sendiri adalah seorang penipu!"

"AKU BUKAN PENIPU!"

"Jangan berteriak jika tindakanmu tidak lebih baik dari sampah di luar sana!"

Mata Baekhyun terpejam rapat-rapat ketika ada satu tangan yang siap melayang menyakiti pipinya. Rasanya pasti akan sangat panas dan menyakitkan. Tapi di detik ketiga ketika mata Baekhyun sudah terpejam rapat-rapat untuk pasrah pada tindakan fisik yang ia terima, tidak ada rasa panas yang terasa.

Nafas Baekhyun sedikit tertahan ketika memberanikan diri untuk membuka mata dan melihat situasi yang mendadak hening.

Tidak ada lagi raut arogan para penyidik apalagi nada tinggi penuh paksaan. Yang ada hanya keterdiaman mereka oleh sebuah tangan lain yang mencekal rapat-rapat calon tamparan yang hampir menyakiti pipi Baekhyun.

"Kalian pikir siapa diri kalian hingga berani untuk menyentuhnya?" suara rendah dan dingin, indera pendengar Baekhyun sangat mengenal pemilik suara itu.

Park Chanyeol datang dengan urat-urat kemarahan yang dulu menjadi awal perjumpaannya dengan Baekhyun. Ini bahkan lebih dari sebuah kemarahan karena sepertinya iblis tidak menoleransi sedikit saja untuk kebaikan hati Chanyeol dalam meregangkan kepalan tangannya. "Menyentuhnya seujung jari sama saja mencari mati denganku!"

"Jangan menginterupsi penyelidikan yang sedang kami lakukan, Tuan."

"Penyelidikan kau bilang?" Dia berdecih di atas segala kesombongannya. "Penyelidikan seperti apa yang dilakukan dengan cara sekasar itu?!"

Dan ketika penyelidik lain berusaha melerai cengkeraman menyeramkan itu, meja usang sebagai saksi bisu mulai terluka karena di tendang terlalu keras menabrak tembok oleh Chanyeol.

"Chanyeol hentikan!" Segera Baekhyun menyela di antara keributan itu sebelum terjadi hal-hal buruk lainnya. Baekhyun tau betul akibat dari kemarahan Chanyeol tidak akan ada kata bercanda. Dan Baekhyun juga tidak ingin hal ini semakin panjang jika Chanyeol mematahkan tangan polisi itu.

"Hentikan penyelidikan konyol kalian karena aku memiliki bukti kuat siapa dalang di balik semua ini!"

Chanyeol menyerahkan beberapa lipatan kertas dalam saku jas dan melemparnya secara kasar pada penyelidik.

Kemarahan Chanyeol mulai berkurang ketika mendapati Baekhyun ada di hadapannya dengan keadaan malang dan tangan terborgol. Dia kembali berulah dengan nada tingginya untuk meminta kunci borgol Baekhyun dan melepaskannya.

"Kau baik? Apa mereka menyakitimu?"

Tapi Baekhyun hanya diam. Dia masih memiliki sisa kemarahan di hari lalu dan belum berniat menguranginya. Chanyeol tidak memberi penjelasan sesuai apa yang ia janjikan, hal itu tentu memperkuat spekulasinya tentang kebenaran jika Chanyeol hanya memanfaatkannya untuk sebuah harta yang bahkan Baekhyun sendiri belum tau semua itu apa.

"Baekhyun, maafkan aku karena terlambat datang untuk menyelamatkanmu. Maafkan aku."

Baekhyun dibawa dalam satu dekapan yang pernah ia damba akan selalu hadir untuk menenangkan. Tapi sekali lagi, rasa kecewa masih menjadi pemenang sehingga tidak ada respon apa-apa yang bisa Baekhyun berikan.

"Nona Baekhyun harus tetap melakukan prosedur yang ada, Tuan. Setidaknya harus ada yang menjamin jika-"

"Aku jaminannya."

"Ya?"

"Tidakkah cukup seorang suami menjadi penjamin untuk istrinya?"

"Kau bicara apa Park Chanyeol?!" Mata Baekhyun membola dengan ucapan ajaib Chanyeol. Kebodohan macam apa lagi ini? Urusannya dengan para polisi belum menemui titik terang tapi Chanyeol datang dengan topik baru yang tidak bisa dicerna dalam waktu singkat.

"Kalian butuh bukti?" Chanyeol mengeluarkan lembaran lainnya dari saku jas dan menodongkan penuh keangkuhan di depan mata para penyelidik. "Aku sudah mendaftarkan pernikahanku dengan Baekhyun secara sah di mata hukum negara. Puas?"

.

.

TBC

Info : chap depan akan jadi puncak dan terbukanya semua rahasia sebelum akhirnya kita harus say goodbye dengan wanderlust.

Saranghae dan jgn lupa kotak review di elus2 hehe