stardust
jongdae/kyungsoo, fem!kyungsoo; prostitution!AU
semestinya do kyungsoo mempelajari kembali bagaimana menerima seseorang ke dalam hatinya.
multichapter / 10/? / standard disclaimer applied
c-h-a-p-t-e-r 10
Kyungsoo mengetuk-ngetuk meja menggunakan jarinya untuk menunjukkan jika dia dilanda serangan bosan parah. Ia setidaknya cukup bersyukur ada opsi pelayan meninggalkannya sebentar untuk melayani pelanggan lain, jadi dia bisa pelan-pelan membaca menu apa itu dan jika tidak, gambar-gambar di buku menu membantunya. Dia jadi teringat jika Yixing pernah bilang restoran cina ini tempat yang suka ia datangi, jadi ia meniatkan diri untuk memesan beberapa menu tambahan untuk Yixing dan Sehun. Kyungsoo sendiri cukup bahagia dengan jajangmyun dan air mineral botolan, meski dia tidak makan dari kemarin siang, satu porsi adalah batas yang ia beri untuk diri sendiri sebelum kalap dan makan secara rakus.
Lalu, seharusnya yang namanya norma itu adalah tidak membiarkan orang menunggu, tapi Kim Jongdae membuatnya mengetuk-ngetuk bosan dan diam-diam memaki saat Yixing mengiriminya pesan (lewat nomor Sehun) dengan bahasa Cina, dia sesungguhnya mau mengejek atau apa, hangul saja tersendat-sendat apalagi mau membaca tulisan negeri orang yang entah bagaimana bacanya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jalanan melalui kaca, secara mengejutkan ia mendapati perasaan tenang mengamati kendaraan lalu lalang. Bukan secara khusus merupakan hal yang ia senangi, tapi perasaan itu tidak dapat ia deskripsikan dengan jelas.
Gadis itu memainkan ujung jalinan rambut panjangnya dan menghela napas, setelahnya mengecek jam berapa sekarang. Ini jam dua belas siang, jam makan siang dan Kyungsoo bisa melihat satu per satu pengunjung datang memenuhi restoran yang akan ramai ini, awas saja jika dia tidak melihat Kim Jongdae. Dia akan langsung pulang, dan menginterogasi Sehun mengapa tidak bilang jika Kim Jongdae ini mengajar di sekolah yang ia masuki.
Ada langkah berderap yang menghampirinya, dan Kyungsoo semacam bersyukur dia tidak harus melakukan ancaman-ancamannya tadi. Menunggu selama hampir satu jam sia-sia itu rasanya menjijikkan, tahu. Kim Jongdae berdiri, berusaha nyengir padahal napasnya cukup terengah-engah dan perlu berpegangan pada punggung kursi. Kyungsoo balas tersenyum, sengaja meminggirkan piring jajangmyun dan botol air mineral yang telah kosong, berkata dengan suara dimanis-maniskan, "Silakan duduk, Kim Jongdae-ssi."
"Ah ya, makasih," Lelaki itu menyahut dan memanggil pelayan, Kyungsoo membiarkannya memesan makanan sebab dia tahu dia lapar. Ujung rambutnya sedikit basah oleh keringat yang turun ke pipi dan membasahi lehernya, Kyungsoo menyetujui jika orang ini terlihat sangat macho jika berkeringat. Ia ingin tertawa geli dalam hati, mengapa dalam waktu singkat seperti ini ia malah mengagumi figur seorang laki-laki. Kim Jongdae tersenyum lebar saat pelayan itu pergi, raut wajahnya membuatnya tampak jauh lebih muda. "Nona, kamu manis sekali hari ini, aku hampir saja mengira kamu seusia dengan murid-muridku tadi. Aku beruntung hari ini."
Mayoritas orang menganggap dianggap lebih muda adalah suatu pujian dan ia termasuk dalam kelompok orang itu, hanya saja tidak dengan disamakan dengan anak SMA. Enak saja, Kyungsoo mana mau disamakan dengan begundal-begundal kurang ajar yang sepertinya hanya tahu cara menghabiskan uang orangtua saja. Untung saja ini bukan wilayah pekerjaan, jadi dia bisa berkata sesukanya. "Saya menolak disamakan dengan begundal-begundal seperti tadi."
"Sebenarnya tadi aku berencana untuk mengunjungimu lagi," ujar Kim Jongdae ringan. Cerdas, dia menghindari topik ini untuk menjauhi perasaan tersinggungnya. Itu adalah manuver yang tidak buruk. "Tapi hari ini sepertinya Takdir menyukaiku, jadi aku ditemukan denganmu sekarang. Kamu jauh lebih cantik dari biasanya."
"Jadi kamu guru di sekolah itu?" Kyungsoo mengangkat alis curiga.
"Sudah selama beberapa bulan," tukasnya, sebelah tangan diletakkan di meja sementara sebelahnya lagi digunakan menopang dagu, hingga iris mata indah itu bertemu dengan matanya, saling mengunci tatapan, kemudian pecah oleh kekehan gelinya. "Tapi aku hanya jadi guru honorer di sana, jadi aku mungkin bulan depan atau depannya lagi akan pindah pekerjaan untuk mencari penghidupan yang lebih baik."
Guru honorer? Gajinya bahkan lebih rendah dari pegawai negeri sipil dan sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nah uang untuk membayarnya itu, Kyungsoo tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Jadi kamu membayar saya kemarin-kemarin pakai uang apa?" Mata Kyungsoo yang bulat secara tidak sadar membesar akibat rasa ingin tahu berlebih, badannya sedikit condong ke arah Kim Jongdae dan meniru gestur yang ia lakukan. Mulutnya memang kadang tidak bisa dijaga tapi persetan, dia memang sepenasaran itu. Langsung saja ia tembak, "Jangan bilang kamu korupsi uang sekolahan itu."
Tidak disangka Kim Jongdae terbahak sangat lebar. "Kamu prostitut tapi kamu peduli akan hal itu?"
Kalau ada yang paling tidak disukainya, itu adalah orang yang merendahkannya hanya karena pekerjaannya hanya seorang pelacur, kasarnya. Menurutnya, menjual tubuh itu bukanlah hal yang illegal dan melanggar hukum, apalagi tindakan yang setingkat kejahatan, lagipula dia sudah lama melepaskan perasaan terpaksa itu, dan inilah satu-satunya yang ia bisa lakukan. Wajahnya mungkin terlihat merah padam, tapi dia masih berupaya mengontrol emosinya dengan baik. "Tentu saja saya peduli. Jika kamu membayar saya pakai uang korupsi, suatu saat jika kasus seperti ini diungkap maka mau tidak mau nama saya akan tercatut dan saya benci itu."
Tentu saja ini adalah balasan yang baik, sebab Kim Jongdae tampak tertegun sejenak dan sikap salah tingkahnya itu lucu, kelihatannya malah abai pada makanan yang baru saja diantar ke tempatnya. Eh, tapi dia tidak benar-benar korupsi, 'kan? Jika iya maka dia yang repot, batinnya, segera menghilang saat Kim Jongdae menjawabnya dengan santai, "Aku enggak korupsi, kok. Aku memecah celengan dan memasukkan uang itu di bank."
"Sepuluh juta bukan uang yang bisa dimasukkan di celengan secara normal."
"Bisa, kok, tinggal masukkan saja seratus lembar uang seratus ribu di dalam celengan."
Kini Kyungsoo yang tampak tertegun.
Uang seratus ribu 'kan susah dapatnya, dan orang ini berkata seolah seratus lembar uang seratus ribu sama dengan seratus biji kacang goreng. Meski Kyungsoo biasanya dapat tiga ratus ribu satu kali bekerja, tapi tetap saja itu bukan perkara yang mudah disepelekan. Kyungsoo mengernyitkan dahinya.
"Kau punya pekerjaan undercover ya?"
Kali ini Kim Jongdae menatapnya dengan tatapan terkhianati, ekspresi murung dan mata cokelat indah itu berkaca-kaca (cowok apaan ini, Kyungsoo menyimpan ejekan itu dalam hati) dan tangan diletakkan ke dada secara drastis, tingkahnya yang meniru akting-akting dalam drama itu membuatnya berhasil sedikit mengeluarkan tawa. "Masa kamu tidak memercayaiku?" tuntutnya.
"Tentu saja tidak," Kyungsoo menukas, "Kamu 'kan bukan pacar saya atau apa."
"Benar, sih."
"Jadi di sekolah itu, kamu mengajar apa?" gadis itu mengalihkan pertanyaan, ini mengejutkan sebab ternyata nyaman juga dia berlama-lama dengan orang ini. Yah, meskipun tadi sempat merasa terhina, barangkali Kim Jongdae memang tidak punya intensi yang buruk, jadi dimaafkan. Kyungsoo jadi merasa bersalah telah melanggar peraturannya sendiri. "Jangan-jangan kamu beneran tahu adik saya yang mana."
Kim Jongdae terus-terusan menatapnya di mata, dia tetiba merasa salah tingkah. Ditatap lama-lama itu tidak menyenangkan kautahu, rasanya seperti seseorang berusaha mengorek apa yang sebenarnya ada di dalam isi hatimu. Biasanya hanya untuk sekadar norma kesopanan, tapi tidak begini juga. Melihat reaksinya dia tampaknya malah puas. "Aku mengajar sosiologi, dan adikmu itu yang tampan dan tinggi, bukan?"
Sosiologi, dia pikir Kim Jongdae adalah tipe yang akan mengajar mata pelajaran bidang ilmu alam. "Yang tampan dan tinggi itu banyak, tahu, dan kau pasti hanya menebak-nebak saja. Tapi tidak apa-apa, itu lebih bagus."
"Aku lumayan tahu dia. Dia cukup sering ke ruang konseling, loh."
"Hah?!"
"Karena curhatan seorang adalah rahasia, jadi maaf ya, tidak akan kuberitahu dia berbicara apa," Kim Jongdae membenarkan senyum yang terus-terusan terpajang di wajahnya, tangan meraih membetulkan poni Do Kyungsoo yang jadi sedikit berantakan. Kyungsoo sendiri tidak menyukai apa yang Kim Jongdae lakukan, namun juga tidak membencinya, maka ia hanya diam. "Yang ini kukasih tahu gratis, tapi jangan bilang-bilang: ia banyak berbicara tentang Nuna yang dekat dengannya, nah yang aku tidak menyangka itu kalau Nuna yang dimaksud adalah kamu, Nona."
Sehun ini kadang memang suka curhat ke orang yang dia anggap menyenangkan, sayangnya ada sedikit yang membuat Kyungsoo kurang percaya. Sehun terlalu terlihat rusak untuk mudah percaya pada orang, apalagi yang posisinya berada di atasnya, kecuali dirinya sendiri, mungkin. Kim Jongdae bisa jadi sedang menjebaknya untuk membeberkan lebih banyak informasi.
"Kamu suka bunga, tidak?"
Kim Jongdae menelengkan kepala, "Tidak juga, memang kenapa?"
"Pernah mengirimkan bunga berhari-hari berturut-turut pada seseorang?"
"Itu pengecut," Kim Jongdae meneguk Iced Americano yang terabaikan dari tadi, "Aku bukan tipe yang bakalan kode-kodean seperti itu. Lebih suka konfrontasi langsung, itu lebih jantan. Seenggaknya itu normaku, sih."
"Lalu mengapa mengirim pesan buat saya kemarin-kemarin? Bahkan kamu tidak tahu nomor saya." Jika dipendam rasa penasaran akan busuk dan kebenaran tidak pernah terungkap. Itu prinsip Kyungsoo, sampai sekarang efektif untuk mengatasi konfrontasi yang terjadi antara Sehun dan dia, atau Chanyeol dan dia, bahkan Jongin dan Chanyeol.
"Mataku setajam elang," Kim Jongdae menjawab dengan bangga. "Mengesampingkan bercandaan, aku hanya ingin kenalan padamu. Sayang aku tidak tahu kalau kamu illiterate. Maaf ya."
Sialan. Nadanya terdengar menghina.
"Buat apa kamu berkenalan pada pelacur yang baru kautemui hari itu, coba."
"Habisnya kamu cantik sekali, dan kamu adalah teman ngobrol yang enak. Sampai sekarang pun, aku merasa senang bisa berlama-lama ngobrol dengan kamu. Lalu yang paling menarik adalah," Kim Jongdae menarik pipi Kyungsoo yang langsung mencubit tangannya agar menyingkir dari pipinya, "Kamu jauh lebih cantik kalau tersenyum, seperti ada yang menyeretku untuk jatuh dalam artian baik saat aku melihat senyum dan tawa kamu. Sekarang ini pun, aku terhisap di dalamnya, tahu tidak, bibirmu yang berbentuk hati saat tersenyum itu sangat indah."
A/N: review dari readerdeul bikin saya semangat ahihihihi. actually i prefer kalau kalian ngomen sesuatu dari fic ini, apa yang menonjol dan berkesan buat kalian di chapter ini tapi gapapa, your reviews keep me alive wkwkwkk. saya juga pernah dalam fase susah ngomong apa dan ujungnya cuma minta next doang kok /o/ chapter ini isinya cuma pendalaman feels chensoo :* sayangnya gombalannya jongdae apa banget anjir wkwk. ditunggu ya chapter selanjutnya :**
