Previous Last Chapter

...

Setelah itu Naruto dan Mio pun pergi menuju taman kota, disana kebetulan pohon sakura sudah tampak menggugurkan Daunnya. Suhu disekitar Tenguu city hanya berkisar 24 derajat celcius, tentu ini sangat cocok bagi keluarga untuk berekreasi.

Mereka pun berpiknik bersama ditaman kota, setelah itu Naruto juga mengajak Mio kepusat dunia game, disana mereka sangat bersenang-senang. Tanpa disadari Naruto juga merasa senang dengan kehadiran Mio disisinya itu.

begitu juga denga Mio, Mio merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama Onii-chan tercintanya itu , akan tetapi dirinya juga merasa iri ketika ia melihat salah satu anak kecil yang sedang diperhatikan oleh keluarganya pada saat ia dan Naruto piknik ditaman, entah mengapa pristiwa itu kembali muncul dibenaknya ketika melihat kehangatan keluarga tepat dihadapannya itu.

Dan setelah mereka melakukan hal itu semua, Naruto pun mengajak Mio menuju Bukit didaerah selatan Tenguu city. Naruto sangat menikmati pemandang senja disana, akan tetapi ia juga melihat gelagat aneh dari Mio, sepanjang perjalanan Mio hanya diam saja, Naruto begitu khawatir dengan imoutonya itu, pada akhirnya Naruto kemudian memutuskan bertanya pada Mio.

"nee, Mio-chan, ada apa, apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Naruto memecah lamunan Mio

Perkataan Naruto sendiri membuat Mio tersadar.

"eh tidak kok Onii-chan, tidak ada apa-apa" ucap Mio

Akan tetapi sayangnya mata Naruto tidak bisa dibohongi, dirinya bisa melihat betul sorot mata ruby milik Mio mengatakan hal sebaliknya.

"kamu tidak bisa berbohong Mio-chan, aku tahu bagaimana kamu yang sebenarnya, jadi kalau ada masalah tolong ceritakanlah, jangan di pendam saja" ucap Naruto

Yah kali ini Mio sadar kalau dirinya memang tak bisa berbohong dihadapan Naruto, dirinya juga bukan pembohong yang handal bila berhadapan dengan Naruto.

"gomenne Onii-chan, aku memang pembohong yang payah, sebenarnya aku hanya kepikiran suatu hal" ucap Mio

Naruto sendiri mengangkat sebelah alisnya sebagai tanda keheranan karena maksud perkataan Mio barusan.

"Suatu hal, jadi hal apa yang kamu pikirkan Mio-chan?" tanya Naruto

Setelah ditanya hal itu Mio pun terlihat mengeluarkan ekspresi sendunya, wajah hanya tertekuk dan poninya menutupi mata ruby yang indah itu.

"jujur saja melihat banyak keluarga yang piknik hari ini, aku malah iri pada mereka semua, apalagi anak mereka begitu beruntung masih bisa mendapatkan kasih sayang, masih bisa memanggil Tou-san, Kaa-san, atau Nee-chan, mereka terlihat begitu hangat dengan kasih sayang mereka, sedangkan aku telah kehilangan semua hal itu." Ujar Mio dengan nada lirih

Naruto sendiri hanya memasang ekspresi parau melihat Mio yang sekarang

"rasanya menyakitkan melihat mereka Onii-chan, aku merasa aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku merasa kalau aku hidup dalam kesendirian, aku merasa sangat kesepian, aku benar-benar iri pada mereka hiks..hiks..hiks" ucap Mio dengan tangis yang mulai membasahi pipi lembutnya itu.

"Mio..." gumam lemah Naruto

"Hiks..Hiks.. Onii-chan apa aku salah yah mengatakan hal itu semua, apa aku salah yah kalau aku iri pada mereka, apa aku ..." ucap Mio menangisi kesedihannya itu.

Seakan-akan tidak ingin melihat Mio terus menangis, Naruto pun dengan spontan memeluk Tubuh surai Crimson maron itu, dia juga membelai puncak rambut gadis itu, seakan-akan memberikan ketenangan bagi sosok yang ia peluk.

Tentunya Mio pun sangat kaget dirinya dipeluk kembali Naruto.

"Onii-chan" gumam Mio

Tetapi Naruto tak menggubris panggilan Mio, dirinya masih tidak ingin melepaskan pelukannya itu, dirinya paham sebegitu menderitanya Mio, dirinya juga pernah merasakan hal yang sama. kesepian itulah mimpi buruk yang pernah ia hadapi waktu kecil, lahir tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya, dikucilkan karena sebagai jelmaan Monster berekor sembilan, dicaci maki, dijauhi bahkan Naruto juga pernah dipukuli oleh warga Konoha yang membencinya. akan tetapi semua itu berubah disaat ada yang mengulurkan tangannya, mereka semua menyelamatkan Naruto dari Neraka yang bernama kesepian, yah mereka semua adalah Iruka-sensei, Kakashi-sensei, Sasuke, Sakura, Hinata, kakek Hokage, Kurama dan para Roockie Konoha yang selalu peduli padanya. Naruto juga berterima kasih pada mereka, karena berkat mereka Naruto kini menjadi Naruto yang sekarang. Dan sekarang ia tak ingin lagi melihat orang yang disayanginya itu merasakan hal yang sama dengannya, oleh karena itu Naruto bertekad kuat untuk tetap bersama dengan Mio walau apapun yang terjadi.

"sudahlah, kamu pasti membutuhkannya bukan, hanya ini yang aku bisa lakukan untuk menenangkanmu Mio-chan" ucap Naruto dengan nada parau

Sontak Mio langsung membalas pelukan hangat itu, dirinya hanya meneteskan air mata didalam pelukan Naruto.

"sudah keluarkan semuanya, tak apa kok, kamu boleh menangisi hal ini, tapi tolong Mio-chan berjanjilah jangan pernah bilang kalau kamu sendirian, kamu tak pernah sendirian, ada Onii-chan yang akan menemanimu, Onii-chan janji akan selalu bersamamu." ucap Naruto

"hikkss..hikksss..hiksss..Onii-chan janjikan tidak akan pernah meninggalkan aku " ucap lirih Mio

"yah, Onii-chan berjanji dengan jalan hidup Onii-chan kok" ucap Naruto dengan nada tegas.

"Hikss...Hiks... Arigatou Onii-chan.. Daisuki" ucap lirih Mio.

Selang beberapa menit berpelukan, Naruto pun mulai tersadar kalau ini sudah terlalu lama ia memeluk gadis itu.

"Nee, Mio-chan sekarang apa kamu bisa melepaskan pelukanmu?" tanya Naruto

Perkataan Naruto tentunya membuat sadar Mio, tanpa disadarinya ia sudah lama memeluk pemuda bermata blue shapire yang ia cintai itu, tentunya semburat merah muncul akibat sikapnya yang barusan ia lakukan itu.

"Eh.. yah Onii-chan" ujar Mio dengan gugup dan melepaskan pelukannya itu.

"Sudahlah tidak apa, sekarang bagaimana Mio-chan, apa kamu sudah tenang sekarang?" tanya Naruto

"aku sudah tak apa kok, Onii-chan" cicit Mio

"hehehe baguslah asal kamu tahu Mio-chan, kalau Onii-chan benar-benar tak sanggup melihatmu menangis" ujar Naruto

"eh kenapa begitu Onii-chan?'" tanya Mio

"jika kamu ingin mendengar alasan Onii-chan, apa kamu mau mendengar cerita tentang Onii-chan?" tanya Naruto

"Hmm tentu saja, ceritakan saja Onii-chan" ucap Mio

"baiklah aku akan menceritakanya, tapi sebaiknya kita duduk dibangku yang berada diujung sana, lebih nyaman kalau bercerita disana" ucap Naruto

"umm, baiklah kalau begitu" ucap Mio

Naruto dan Mio kemudian duduk bersama disebuah bangku yang berada ditaman bukit Tenguu city.

Pada akhirnya Naruto pun memutuskan untuk bercerita kepada Mio, menurutnya Mio salah satu orang bisa dipercaya, dan saat inilah yang tepat bagi Naruto untuk menceritakan siapa jati dirinya yang sebenarnya.

Naruto pun mulai bercerita dari jati dirinya sebagai mantan jelmaan monster rubah berekor sembilan, kelahiran dirinya dan insiden penyerangan Kyuubi, masa kecilnya yang suram, tumbuh menjadi Shinobi konoha, kematian Hokage ke 3, pertarungannya melawan Sasuke dilembah akhir, dirinya yang diincar oleh organisasi jahat Akatsuki, kematian Jiraiya, insiden penyerangan Pain terhadap Konoha dan juga Perang Dunia Shinobi ke 4, semua ingatanya itu ia perlihatkan lewat Ethernal Mangekyou Sharingan miliknya.

awalnya sih Mio benar-benar terkejut kalau Naruto bukan berasal dari Dunia ini, akan tetapi dirinya masih percaya bahwa Naruto tetap salah satu Onii-chan yang ia percaya dan juga ia cintai tentunya. Naruto juga menjelaskan sedetil mungkin tentang Kekuatan miliknya, Alasan ia kenapa bisa sampai disini, dan juga tak lupa berpesan untuk merahasiakan semua ini.

"aku tak menyangka kehidupan Onii-chan jauh lebih berat dibandingkan yang baru aku lalui, hiks.. dibandingkan Onii-chan, hidup aku masih jauh dari kata penderitaan" ucap Mio

"hei, hei Mio-chan, jangan menangis dong" ucap Naruto

"Hikss..Hikss.. tapi Onii-chan" ucap Mio dengan nada parau

"sudah-sudah jangan menangis lagi, kamu itu jelek kalau menangis" ucap Naruto sambil menyeka air mata Imouto yang ia sayangi itu.

Sontak Mio pun agak menggembung pipinya karena Naruto bilang kalau dirinya jelek kalau sedang menangis.

"Mou, Onii-chan" ucap Mio.

Sedangkan Naruto hanya terkekeh pelan melihat sikap Mio itu, setelah dirinya selesai tertawa dirinya pun melanjutkan ceritanya.

"lalu Mio-chan, kamukan sudah mengetahui jati diriku, apa kamu nanti akan menjauhiku?" ucap Naruto dengan nada sendu

"Tentu tidak Onii-chan!, aku gak akan pernah menjauhimu kok, itukan jatidiri Onii-chan yang sebenarnya, malah aku kagum loh, Onii-chan sudah kayak pahlawan super bagiku, punya kekuatan luar biasa " ujar Mio dengan penuh rasa kekaguman.

"Ah benarkah, aku kira kamu akan menjauhi ku hehehehehe" ujar Naruto sambil cengengesan

"Tidak, apapun yang terjadi Mio tak akan pernah menjauhi Onii-chan dan juga apapun yang Onii-chan lakukan, aku percaya kok semuanya demi kebaikan, karena itu aku akan selalu mendukungmu Onii-chan" ujar Mio

"hehehe yah Onii-chan paham, jadi sekarang apa kamu tahu maksud Onii-chan tadi menceritakan hal itu?" tanya Naruto

Sedangkan Mio sendiri hanya menggelengkan kepalanya karena ia kurang begitu mengetahui apa maksud Naruto menceritak hal ini padanya. Naruto pun lalu melanjutkan ceritanya kembali

" Mio-chan, asal kamu tahu, Onii-chan menceritakan hal ini agar kamu tahu selain kamu masih ada Onii-chan, Onii-chan juga pernah mengalami hal ini, jadi berjanjilah untuk tidak menangis lagi, karena jujur saja Onii-chan tak sanggup bila melihat kamu menangis lagi." ucap Naruto sambil menujukan kelingkingnya

"iah Onii-chan.. aku janji tidak akan menangis lagi" ucap Mio sambil membalas dengan menyatukan jari kelingking dirinya dan Onii-chan yang ia cintai itu.

Dan semenjak saat itulah ikatan antara Naruto dan Mio semakin erat, meski Naruto hanya menganggap Mio sebagai Imouto kawaii nya, akan tetapi hal itu tak menjadi masalah bagi Mio, sebab yang utama baginya adalah bisa melihat Naruto tersenyum dan bisa bersama dirinya.


Narutoo disclaimer Masashi Kishimoto

Date a Live/デート・ア・ライdisclaimer TachibanaKōshi

The Judgement

Summary: Kemenangan Naruto dalam perang Dunia Shinobi ke 4 harus dibayar mahal dengan kematian Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke.akhirnya para bijuu memutuskan untuk memberi 50% cakra milik mereka dan mentransplantasi mata Sasuke kepada Naruto guna untuk mengirimnya kemasa lalu guna merubah takdir, akan tetapi dirinya malah terjebak di dimensi yang penuh dengan Spirit, dikarenakan akibat kegagalan perpindahan dimensi.

Bagaimanakah keputusan Naruto menghadapi semua yang dialaminya?

Chara : Naruto , FemShidou(Itsuka Shiori), Tohka

Rated : M

Genre : Romance, Sci-fi, Hurt/Comfort, Adventure

Warning : FemShidou, Ooc, Semi canon, Harem Naruto, tidak suka tidak usah dibaca

Maaf kalau ada kesamaan cerita dengan fic lainya atau kesalahan penulisan karena fic ini karena setiap manusia tak lepas dari kesalahan.

RnR please .. hehehehehe

Author note

Sandalphon :nama Tenshi atau Jutsu

「Sandalphon.」 : Percakapan intercom

'Sandalphon' : percakapan batin

"Sandalphon" : percakapan langsung

Sandalphon : istilah asing

Sandalphon : istilah asing

[Sandalphon] : suara Yoshinon, boneka tangan milik Yoshino.


Arc Three : Killer Kurumi

Chapter 10 : Kurumi Disaster part One

Suasana makan malam di kediaman Uzumaki tiba-tiba menjadi hening tanpa suara ketika Mio selesai menceritakan pertemuannya dengan Naruto, baik Tohka, Yoshino hanya bergelut dalam pikiran mereka masing-masing sedangkan Mio dan Naruto agak memandangi keheranan melihat ekspresi rumit Tohka dan Yoshino.

' Hiks.. aku tak menyangka kalau Naruto-san, begitu banyak mengalami penderitaan dan masa lalu yang begitu pahit, ini tidak ada bandingannya dibandingkan dengan diriku yang lemah ini, tapi dirinya tetap bisa tersenyum dan berdiri tegar diatas semua penderitaannya itu ' pikir Yoshino

' Naruto, bahkan selalu tersenyum dan mencoba selalu tetap berdiri meskipun terjatuh, Hiks.. diriku yang dahulu benar-benar bodoh selalu mengganggap diriku yang paling menderita, padahal penderitaan Naruto jauh lebih besar dan dia tidak pernah mempermasalahkan itu semua..' pikir Tohka

"Kalian kenapa, apa ada masalah?" tanya Naruto dengan nada Khawatir.

"yah sedari aku menyelesaikan ceritaku, kalian masih diam, apa ceritaku tadi menyinggung perasaan kalian yah?" tanya Mio

Tohka dan Yoshino pun tersadar dari lamunanya mendengar perkataan Naruto.

"eh, tidak kok, kami tidak tersinggung, lagipula Naruto memang orang yang baik Mio-chan, dia juga dulu pernah menyelamatkan ku kok, benar kan Yoshino" ucap Tohka sambil melirik Yoshino

"ucapan Tohka-chan memang ada benarnya, Yoshino dan Yoshino juga berhutang budi sama Naruto-kun, dia memang orang baik, bukan begitu Yoshino" ucap Yoshinon

"ah.. yah. Naruto-san adalah orang baik kok, kami mana mungkin tersinggung karena cerita Mio-san" cicit Yoshino

"ah, kalian bisa saja, aku Cuma melakukan hal yang pantas aku lakukan itu saja kok" ujar Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.

"tidak usah merendah juga Onii-chan, menurutku juga Onii-chan adalah kakak terbaik yang aku miliki" ujar Mio dengan nada gugup

"Soukka, terima kasih atas pujiannya, tapi walau begitu aku hanya ingin menjadi diriku saja kok" ujar Naruto sambil tersenyum cerah.

Melihat Naruto tersenyum, tentu bagi Tohka, Yoshino dan Mio, senyuman Naruto itu layaknya cahaya yang menyinari hatinya, mereka seakan-akan terbius oleh cengiran khas Naruto itu, senyuman yang mampu melunakkan hati seperti baja sekalipun, sebuah senyuman yang mampu memberikan rasa aman dan tenang. Mereka begitu terbius, sampai-sampai dibalik paras ayu mereka, kini timbul bercak cat merah yang menghiasi wajah putih porselen mereka.

Tapi bagi Naruto, karena dirinya tidak peka dengan situasi, dirinya kemudian hanya menatap keheranan mereka bertiga.

'apa mereka sedang kesurupan yah, kenapa tiba-tiba mereka melamun dan menatapku dengan sedemkian rupa' pikir Naruto

"Oi, kalian bertiga kenapa menatapku seperti itu, apa ada yang salah dengan wajahku" ujar polos Naruto

Tohka, Yoshino dan Mio pun tersadar, sontak mereka bertiga salah tingkah karena ucapan polos Naruto itu.

"eh..tidak, tidak kok, tidak ada yang salah, benarkan?" ucap gelagapanTohka sambil melirik Yoshino dan Mio

"ah yah itu benar" ucap Yoshino dan Mio dengan nada gugup

Sedangkan Naruto sendiri yang tidak peka sama situasi hanya mengernyitkan alisnya.

"Oh, ku kira, ada yang salah dengan wajahku hehehe" ucap Naruto sambil cengengesan

'Dasar tidak peka' ucap batin Tohka dan Mio secara bersamaan.

"Oh yah, Mio-chan, ngomong kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Naruto

"Eh?" gumam Mio dengan nada kaget.

Mendengar pertanyaan Naruto, Mata Mio tampak menyiratkan pandangan yang sulit diartikan.

"mungkin nanti Onii-chan bisa mampir kekediamanmu ketika ada waktu senggang?" Ucap Naruto.

"Kalau itu… tidak semudah itu.. Onii-chan pergi kesana.,." ucap Mio.

"Hmm memangnya kenapa, apa salah Onii-chan mengunjungimu?" tanya Naruto.

"Bukan begitu, tapi…" Mio memainkan kedua telunjuknya. "Bisa di bilang aku tinggal diasrama khusus sekolah, jadi tidak sembarang orang masuk kesana, lagipula aku disana juga sudah bekerja…" ucap Mio dengan penuh kebohongan.

Mio sepertinya tidak ingin mengatakan pada kakaknya bahwa Ia seorang anggota elit JGDSF maupun anggota AST. Mungkin Ia tidak ingin membuat Onii-chan nya khawatir.

"bekerja, jadi Kau sudah bekerja?" tanya Naruto

"Tidak, bukan itu maksudku…" Mio

"jadi maksu.." ucapan Naruto terpotong disaat..

"Sampai jumpa lagi, semoga hari mu menyenangkan Onii-chan!" ucap Mio sambil melarikan diri

Yah tepat sebelum Naruto menyelesaikan ucapannya dia kabur dan melarikan diri seperti kelinci.

"Eh? Tungg— ah… apa-apaan itu tadi…" ucap Naruto.

'apa yang kau sembunyikan dariku Mio-chan' pikir Naruto sambil mengingat perkataan adik angkatnya itu.


Skip Time

Keesokan harinya. * Kiin Koon Kaan Kooon *, suara biasa bel bergetar gendang telinganya.

Jarum jam menunjukkan waktu 08:30am, Tamae-sensei datang untuk memulai kelas pelajarannya. Teman-teman sekelas Naruto yang sedang mengobrol di mana-mana, bergegas satu sama lain untuk kembali ke tempat duduk mereka.

"... Aare?" gumam Naruto

Di tengah-tengah kekacauan. Naruto yang telah kembali ke tempat duduknya sebelumnya memiringkan kepalanya sedikit.

Meskipun bel sudah berbunyi, Kurumi masih belum muncul di dalam kelas.

Tohka tampaknya berpikir hal yang sama, melihat sekeliling lingkungannya.

"Muu, sepertinya Kurumi terlambat yah di hari keduanya setelah pindah sekolah disini." ucap Tohka

Saat yang sama Tohka mengatakan bahwa.

"-dia tidak akan datang." Ucap Origami

Di sebelah kiri Naruto itu, terdengar suara tenang.

Origami tidak berpaling sama sekali, hanya menggunakan matanya untuk melihat Tohka saat berbicara.

"Nu? Apa maksudmu? Tanya Tohka

"Artinya ini. Tokisaki Kurumi, dia tidak akan datang kesekolah ini lagi." ucap Origami

"Eh? Itu maksudnya-" ucap Naruto

Naruto membuka mulutnya untuk berbicara, akan tetapi tiba-tiba pintu kelas terbuka* kacha *, Tama-chan-sensei ternyata sudah memasuki kelas dengan memeluk buku absensi ditanganya. Setelah itu, murid-murid dikelas memberikan salam Tamae-sensei.

"Tentang itu ..." gumam Naruto

Meskipun ia sangat prihatin tentang kata-kata Origami, tapi ia tidak bisa mengabaikan panggilan. Naruto dan murid kelas 11 – 4 duduk setelah memberikan salam.

"Oke, baik pagi semuanya, sebelum kita mulai pelajaran hari ini, ibu akan mengabsen kalian satu-persatu." Ucap Tamae-sensei

Mengatakan bahwa Tama-chan-sensei membuka buku dan mulai membaca nama-nama siswa.

"Tokisaki-san."

Tama-chan membacakan nama Kurumi itu. Namun, tidak ada jawaban.

"Aare, Tokisaki-san tidak hadir rupanya, padahal ini hari kedua dia bersekolah disini." ucap Tamae-sensei

Tama-chan menampilkan ekspesi mengernyitkan alisnya dan membalik halaman dari buku absensi.

Pada saat itu.

"—Hadir." Ucap Kurumi

Di bagian belakang kelas, suara familiar terdengar.

"Kurumi?" pekik Naruto

Melihat ke belakang, mata Naruto melebar. Itu benar, dibagian pintu kelas sudah terbuka, dan disana berdiri sosok gadis surai hitam panjang yang tak lain dan tak bukan adalah Tokisaki Kurumi, dia berdiri dengan menampilkan senyum hangat dan tangannya sedikit terangkat.

"Eh Tokisaki-san. Kau terlambat." Ucap Tamae-sensei

"Aku benar-benar minta maaf. Aku merasa tidak enak badan dalam perjalanan ke sekolah tadi." Ujar Kurumi

"Eh? Ar, kamu baik-baik saja? Apakah kamu tak ingin pergi ke ruang kesehatan terlebih dahulu ...?" tanya Tamae-sensei.

"Tidak, tidak apa-apa sekarang sudah mendingan. Maaf saya telah membuat Anda khawatir." Ucap Kurumi

Kurumi memberikan busur, berjalan menuju tempat duduknya dengan langkah ringan.

"kenapa dia, ... dia bisa berada di sini?" gumam Origami sambil membulatkan matanya

Naruto mendengar gumaman Origami agak sedikit Keheranan. Sedangkan Origami kini terlihat dalam wajahnya itu menampilkan ekspresi tidak percaya.

"Eh ...?" gumam Naruto

Origami masih mengerutkan alisnya shock saat ia menatap Kurumi.

Meskipun tidak ada perubahan jelas dalam ekspresi nya. Tapi - Naruto tahu sangat jelas untuk beberapa alasan. Saat ini, Origami adalah tanpa diragukan lagi sangat terkejut.

"Ori ... gami?" panggil Naruto

Naruto lembut memanggil namanya.

Ujung jari Origami gemetar sedikit, bahkan pergeseran garis nya terlihat dari Kurumi.

"—Baiklah, kalian tunggu sebentar disini, ibu akan mengambil beberapa materi tambahan yang tertinggal diruang guru, untuk sementara ini kerjakan tugas yang ibu berikan oke." Ucap Tamae-sensei

"Baik.." ucap para murid.

Tidak lama setelah itu, Tama-chan-sensei meninggalkan kelas.

Pada titik ini, handphone di saku Naruto mengeluarkan nada dering yang menyegarkan. Beruntung Hp nya berdering saat ini. jika itu berdering sepuluh detik sebelumnya mungkin Hp Naruto sudah disita.

Melihat layar. Hal ini menunjukkan nama Itsuka Kotori.

"Halo? Kotori?" ucap Naruto

"-Nn. Naruto."

"Ada apa, Kotori, bukankah aku lagi dikelas sekarang." Ucap Naruto

"Aare? Kenapa tak disetting dalam mode diam saat disekolah, bukankah itu yang kamu katakan sebelumnya? " ucap Kotori dengan nada menyindir.

"Guh ..." gumam Naruto

"Yah, lupakan saja. ... Selain hal itu, Naruto. Situasi yang mengerikan telah terjadi." Ucap Kotori

"Apa yang terjadi ...?" gumam Naruto

"Nn. ... Ini benar-benar membuatku sakit kepala. Aku benar-benar tidak membayangkan bahwa hal seperti itu bisa terjadi dalam kehidupan nyata." Ucap Kotori

Dihadapkan dengan seperti cara yang negatif berbicara, panik Naruto yang membuncah dalam dirinya. Naruto berusaha memaksa volumenya turun saat ia menggunakan tangannya untuk menutupi handphone sambil terus.

"Apa, tepatnya terjadi? Tanya Naruto

"Nn, mengenai itu-" ucap Kotori

Pada titik ini, bahu Naruto tiba-tiba terasa menusuk. Kurumi memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.

"Apa yang kau lakukan? Naruto-san?" ucap Kurumi

"...! Aa, aaah ... aku mendapat telepon, jika ada perlu bisakah tunggu sebentar?" ucap Naruto

Seperti kata Naruto itu, Kurumi secara mengejutkan, membungkuk dalam-dalam.

"aku minta maaf. Aku sangat menyesal sudah mengganggu Naruto-san." Ucap Kurumi

"Aaah ... Tidak apa-apa. Aku juga tidak keberatan." Ujar Naruto

Naruto mengatakan sambil tersenyum dalam kesulitan, sekali lagi berfokus pada percakapan telepon.

"—maaf, Kotori bisa dilanjutkan pembicaraannya? Apa yang sebenarnya terjadi-?" ucap Naruto

"Tunggu sebentar Naruto. Baru saja ... yang kau bicara dengan siapa?" tanya Kotori

"Eh, maksudmu ...?" tanya Naruto

Dihadapkan dengan nada Kotori yang serius secara tiba-tiba, Naruto mempertanyakan kembali.

"Seperti aku tanyakan barusan, Kamu sedang berbicara dengan seseorang di sampingmu. Jadi aku bertanya siapa orang itu. Tohka? Tobiichi Origami? Atau Tonomachi Hiroto?" tanya Kotori

Rasanya seolah-olah Kotori menginterogasi tersangka, Naruto sedikit membalas dengan protes.

"Hei apaan itu. Kenapa kamu marah?. Tadi cuma ada yang memanggilku itu saja." Ucap Naruto

"sudahlah cepat katakan saja padaku." Ucap Kotori

"Itu tadi Kurumi yang memanggilku." Ujar Naruto

Setelah itu, Kotori diam dan tak berkata-kata apapun.

"Kotori? Apa yang salah." Tanya Naruto

Naruto bertanya dalam kebingungan. Kotori kemudian berbicara pada Naruto.

"Naruto. Datanglah ke laboratorium fisika saat istirahat makan siang. Aku punya sesuatu yang ingin kamu lihat." Ucap Kotori

"eh laboratorium fisika ...? Mengapa harus-" ucap Naruto

"Baiklah sudah dulu, pastikan kau datang oke." Ucap Kotori langsung memutuskan sambungan teleponnya

"eh, apa apaan itu ..." gumam Naruto

Kini Naruto dalam kebingungan, ia tampaknya mengeluh sambil bergumam. ◇

01:20 pm. Bel istirahat makan siang pun terdengar.

Setelah siswa membungkuk, guru pun meninggalkan kelas, para murid pun berhamburan keluar ruang kelas, mereka sepertinya sudah tidak sabar untuk istirahat makan siang.

Tentu saja, Tohka tidak terkecuali. Tanpa bicara, ia mengatur meja bersama-sama dengan mata berbinar.

"Naruto! Saatnya untuk makan siang!"

Sambil mengatakan hal itu, ia mengambil kotak bento miliknya yang tersimpan dalam tas. Tapi kali ini Naruto hanya menampilkan reaksi yang agak memiringkan kepalanya.

Biasanya dalam keadaan ini di sebelah kiri Naruto juga sudah ada Origami, dia menciptakan situasi persatuan antara tiga faksi ... Namun Origami tidak bergerak dari mejanya selama hari.

Melihat ke arah itu sambil bingung. Origami terlihat menampilkan ekspresi termenung, menatap tangannya sambil.

"...?"

Meskipun itu adalah beberapa kekhawatiran, tapi mau dia makan siang atau tidak adalah kebebasan Origami itu. Naruto berada di tengah-tengah mengambil kotak bento-nya dari tasnya - ketika gerakan tiba-tiba berhenti.

"Ah ... Itu benar." Gumam Naruto

Omong-omong, ia menyebutkan bahwa ia akan pergi ke lab fisika selama istirahat makan siang. Meskipun waktu tidak ditentukan ... tapi kalua mengenai Kotori. Rasanya seolah-olah ada hukuman yang akan menunggu jika ia terlambat.

"Maaf, Tohka. Aku harus pergi keluar sebentar." Ujar Naruto

"Nu?" gumam Tohka

Tohka yang sudah membuka kotak bento-nya, menatapnya dengan ekspresi sendu.

"Naruto, mau pergi kemana? Kalua begitu bisa aku ikut bersamamu!" ucap Tohka

"Ah -..." gumam Naruto

Naruto hanya menggaruk wajahnya dengan menampilkan ekspresi bermasalah. Jika Kotori ingin dia pergi ke lab fisika, itu sesuatu yang pasti berhubungan dengan Ratatoskr. Sepertinya untuk saat ini Tohka tidak boleh tahu tentang hal itu.

"Maaf, Tohka, tapi kali ini aku tidak bisa membawamu pergi bersamaku. Kamu makan siang saja terlebih dahulu. Oke?" ucap Naruto

Sambal berkata hal itu Naruto kemudian berjalan menuju koridor. Dan hanya menampilkan lambaian tangannya pada Tohka

"Ah-Naruto ..." gumam Tohka

Suara Tohka yang kesepian terdengar dari belakang Naruto itu. Sebuah perasaan yang kuat bersalah tumbuh dalam dirinya. Naruto hanya ringan menggeleng, berjalan menuju koridor.

Naruto kemudian terus berjalan, menaiki tangga, mencapai lab fisika setelah banyak kesulitan.

Naruto mengetuk pintu, setelah itu, seolah-olah sudah ada yang menunggu, dengan tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya

* kacha *.

"-Kau Lambat." Ucap Kotori

Kotori yang mengenakan seragam sekolahnya, menunjukkan wajah cemberut dan menggertakan bibirnya.

"kau tahukan, aku saja pergi kesini tanpa makan siang terlebih dahulu, lalu aku juga harus membuat beberapa alasan pada Tohka agar aku bisa pergi." Ucap Naruto

"hah baiklah, cepat masuk. Waktu kita tidaklah banyak." Ucap Kotori

Kotori menunjuk Naruto saat ia berkata demikian, membiarkan Naruto memasuki ruangan.

Pada titik ini, Naruto tiba-tiba menyadari bahwa Kotori bisa bebasnya masuk kedalam lab Fisika.

"Jangan bilang, kau menyelinap kesini?" tanya Naruto

"Itu benar. Kau tahu sendirikan tidak ada siswa sekolah menengah pertama yang berkeliaran bebas disekolah menengah atas!" ucap Kotori

"Aahh, itu benar."

Naruto mengangguk dan setuju, dan melihat ke dalam lab fisika.

Di bagian terdalam dari laboratorium di atas kursi putar, orang diharapkan telah duduk di sana – dia ssalah satu anggota Ratatoskr 's Petugas Analisis serta guru fisika Raizen High School, Murasame Reine.

"-Nn, kamu sudah tiba, Nato" ucap Reine

Seperti biasa dia memanggil nama Naruto dengan Sebuah julukan yang tidak ada hubungannya dengan namanya itu (Dia sepertinya terlalu malas untuk mengoreksinya), Reine kemudian menunjuk kursi di sampingnya. Sepertinya Reine mempersilahkan Naruto untuk duduk disana.

Setelah itu Kotori duduk di sampingnya seakan-akan berusaha mengawasi Naruto. ... terlihat pengaturan posisi tempat duduk sama persis pada saat dua bulan yang lalu ketika ia melakukan pelatihan galge. Ini membawa kembali beberapa kenangan yang tidak diinginkan Naruto.

"... Kalau begitu, hal apa yang ingin kalian sampaikan?" tanya Naruto

Setelah Naruto selesai mengatakan hal itu, Kotori kemudian menunjuk monitor yang tepat berada didepanya itu.

Reine kemudian menggerakan mouse dengan tangannya, dan setelah itu layar menunjukkan sebuah gambar.

Terlihat dalam gambar itu terdapat beberapa sosok gadis cantik yang parasnya berbeda-beda, di atas ilustrasi, ada kalimat yang menunjukan judulnya [Falling in Love• Mylittle Itsuka 2 ~ Cinta, itu menakutkan ~] "

"apa sekuel terbaru ...!?" gumam Kaget Naruto dan Tubuhnya bergetar shock,

"Aaah, maaf bukan ini.." ucap Reine

Kemudian Reine sekali lagi menggerakan mousenya, dan mengklik sebuah video yang berada didalam folder.

"nah ini dia" ucap Reine

Saat Video itu terputar, gambarnya sangat gelap.

Pada saat ini, Naruto hanya diam. Layar yang baru saja gelap itu, kemudian menunjukkan gambar lain.

-Dalam Gang sempit, terlihat Kurumi menghadapi seorang gadis dengan surai Crimson maroon bergaya twintail.

"Nn? Ini adalah ... Mio-chan?" gumam Naruto

Itu benar, gadis-gadis yang berada di dalam gambar, yang Kurumi dan Mana.

"Nnn, kau mengenali gadis itu?" tanya Kotori

"ah maaf, aku lupa memberitahumu, Mio itu adalah adik angkatku, kemarin saja dia datang berkunjung kerumahku setelah masa pertukaran pelajarnya selesai" ucap Naruto

"ah, aku tak menyangka kau memiliki adik angkat yang menarik" ucap Kotori

"eh apa maksudmu?" tanya Naruto

"kau akan mengetahui alasannya, untuk sekarang lihat dan perhatikan saja." Ucap Kotori

Naruto kemudian fokus kembali melihat video yang ditayangkan

"apaa...?" gumam Naruto

Sambil bergumam, Naruto mengerutkan keningnya. Di sudut daerah pemukiman penduduk, kini terlihat beberapa manusia memakai baju besi mekanik.

"AS ... T?" gumam Naruto

Naruto mengatakan hal itu sambil setengah tertegun.

AST, Anti-Spirit Team. Manusia yang terlatih dan memiliki kemampuan tempur yang mengerikan, mereka bertujuan untuk menghancurkan makhluk berbahaya bagi dunia yaitu, Spirits. Itulah pikir Naruto.

Dalam gambar, Naruto bisa melihat secara sekilas Tobiichi Origami berada disana.

setiap anggotanya sudah dilengkapi dengan senjata berat. Seperti saat Roh yang menimbulkan Spacequake, mereka bergerak menggunakan persenjataan itu sebagai standar prosedural dalam menumpas Spirit.

". Nn ini adalah rekaman yang sudah diambil oleh pihak Ratatoskr kemarin sore, seperti yang kamu lihat Naruto, AST sudah bergerak" ucap Kotori

"mengapa AST bisa mengetahui hal ini..." ucap Naruto

"konyol sekali pertanyaan mu itu, tentu saja mereka kan sudah merasakan kehadiran Spirit." Ucap Kotori

Kotori mengatakan seolah-olah itu tidak menyangkut dirinya, Naruto menelan ludah keras.

"Tapi pada waktu itu ... spacequake yang tidak terjadi kan? Warga sekitar juga tidak mengungsi, kenapa mereka bisa berbuat sejauh ini-" ucap Naruto

"... Selama Spirit berkeliaran bebas didunia, AST tetap menempatkan Spirit sebagai potensi yang berbahaya, jadi kali ini mereka sepertinya menumpas keberadaanya sebelum sang Spirit itu mengamuk dan menimbulkan bahaya bagi umat manusia."

"..."

Setelah Reine berkata itu, Naruto pun menahan napas.

Tapi sekarang dalam benaknya ada yang mengganjal, kaganjilan itu bisa dirasakan Naruto ketika ia melihat keberadaan adik angkatnya, Naruse Mio.

"Mio, kenapa dia bisa berada disana?" gumam Naruto

Detik berikutnya setelah Naruto berbicara. tubuh Mio bersinar dengan cahaya redup, setelah itu armor mekanik putih muncul di seluruh tubuhnya.

"apa ..." gumam Naruto yang shock melihat hal itu

Itu sedikit berbeda dalam bentuk dari anggota AST lain, tetapi tanpa keraguan itu merupakan Realizer.

Seolah menanggapi lawan, Kurumi menyebar tangannya, pada saat yang sama bayangan di kakinya merayap tubuh Kurumi itu, membentuk gaun.

Dekorasi di rambutnya, tubuh nya mengenakan bustier, dilengkapi dengan gaun yang memiliki embel-embel dan renda. Semua yang disorot dengan warna hitam yang mengingatkan orang-orang dari malam yang gelap, serta kemilau merah seperti darah.

Dan terakhir, rambutnya diikat.

Dan semua itu terjadi dalam waktu beberapa detik saja.

"Astral Dress..." gumam Naruto

Naruto berbicara dalam keadaan linglung.

Astral Dress. pelindung Pribadi yang memiliki Roh. Sebuah membran kekuatan ilahi yang melindungi Spirits.

Kurumi mengangkat tangan kanannya di atas kepalanya. Setelah itu, bayang-bayang sekali lagi merangkak naik tubuhnya, membungkus tangan kanannya.

Pada saat itu, tubuh Kurumi terbang tinggi ke langit.

"Eh-?" gumam Naruto

Tidak dapat memahami apa yang baru saja terjadi di dalam Video, Naruto mengeluarkan suara bodoh.

Namun di Detik berikutnya, Naruto mulai memahami apa yang terjadi.

Peralatan di bahu Mio mengeluarkan cahaya terang, memukul perut Kurumi itu.

Tubuh -Kurumi bergetar.

Tapi kenapa. Alih-alih mengatakan itu karena takut akan teror, itu lebih seperti dia menikmatinya.

Setelah itu, ia sembuh sendiri setelah beberapa detik.

Kurumi mengeluarkan serangan mendadak seakan mencoba untuk melakukan serangan balik, namun sebelum itu, serangan Mio menembus tubuh Kurumi itu.

Kali ini, dalam gang sempit, darah segar berceceran.

Setelah itu, pisau cahaya milik Mio memenggal kepala Kurumi itu yang sedang berbaring di tanah tanpa bergerak menghadap ke atas.

Bahkan tidak kesempatan baginya untuk menyerang Mio.

Pada akhirnya Kurumi tewas akibat sayatan dibagian leher.

"Guh ..." gumam Naruto

Dia tidak bisa membantu tetapi menoleh sambil menutupi mulutnya.

Karena adegan lebih realistis, realitas itu datang setelah beberapa saat. Setelah Mio menyelesaikan Eksekusi Kurumi itu, Naruto kemudian menyadari bahwa kerongkongannya terasa akan mengeluarkan sesuatu, rasa nya ingin muntah melihat kejadian itu. Walau dirinya sudah pernah mengalaminya pada saat perang Dunia Shinobi ke 4, akan tetapi dirinya juga tetap manusia normal pada umumnya. Dia dahulu melakukan pembunuhan karena terpaksa, bukan seperti ini, dengan dingin membunuh seseorang.

Terdengar suara dari giginya * kachi kachi * , meskipun itu tidak dingin, tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar.

Mereka dengan tenang melakukan suatu pembunuhan secara sadis, padahal yang mereka bunuh adalah sosok eksistensi yang menyerupai manusia. Bisa dikatakan AST juga sudah kehilangan rasa kemanusiaan mereka kalau berhadapan dengan Spirit.

Meskipun itu hanya sebuah gambar, namun setelah melihat tontonan itu. Tidak ada yang bisa menyalahkan Naruto untuk bereaksi seperti itu.

-terlihat dilayar sosok Mio, berbalik seolah-olah dia telah menyelesaikan misi. Setelah menghilangkan CR-Unit yang dikenakannya, kembali ke pakaian sebelumnya.

Naruto mengerutkan keningnya. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah.

Tidak ada bau, atau merasa sakit, hanya melihat adegan membuat Naruto merasa seperti itu, namun Mio yang merupakan biang keladi insiden ini, tampaknya tidak merasakan apa-apa dari apa yang baru saja dia lakukan.

Dia tidak merasa bersalah.

Dia bahkan tidak jijik melakukan hal itu.

Bahkan disaat ia memenggal kepala Kurumi, dirinya masih menampakan sikap yang tenang.

Terlihat bagaikan pembunuh berdarah dingin.

Tugasnya bahkan sangat brutal, mungkin hanya satu kalimat yang dipikirkan Naruto tentang Mio- bahwa dia telah terbiasa melakukan hal itu.

Mengulangi tugasnya yang tak terhitung jumlahnya, Mio sudah tidak peduli lagi dengan rasa kemanusiaan.

"Ini adalah ..." ucap Naruto

Naruto pun berkata, setelah memaksa menghilangkan perasaan jijiknya itu.

"Seperti yang kau lihat…Tokisaki Kurumi dibunuh oleh Naruse Mio dari AST kemarin. Benar-benar kematian yang sempurna. Tidak diragukan lagi, dia memang sudah mati." Ucap Reine

" Tapi itu tidak.." ucap Naruto

Namun, Naruto tidak berhasil untuk melanjutkan.

Karena sekarang, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Kurumi itu tak berdaya dan tewas didalam Video-

Pada saat ini, bahu Naruto gemetar. Kemudian Kotori pun berbicara.

"-Tapi Kita masih, harus melakukan sesuatu." Ucap Kotori

Sambil mengatakan hal itu Kotori menunjuk Naruto dengan telunjuk jarinya itu..

"pada intinya, sekarang Kurumi masih hidup dan dia masih berada disini, jadi pertempuran belumlah selesai, dan oleh karena itu kau harus mencoba menyegelnya, besok hari libur perayaan sekolah, kau bisa mengajaknya kencan dan meningkatkan kembali tingkat cintanya kepadamu " ucap Kotori

"... Ha?" gumam Naruto

Terlihat peluh membasahi wajah Naruto.

"-meski kau tahu apa yang akan terjadi-" ucap Naruto

"Diam kau." Ucap Kotori

Memprotes suara Naruto itu, disela tengah oleh Kotori.

"Justru karena kita sudah tahu apa yang akan terjadi. Tidak akan ada jaminan bahwa dia akan hidup kembali" ucap Kotori

"Uu ..." gumam Naruto

Itu benar. Kurumi aman saat ini (meskipun aneh untuk mengatakan seperti ini), tapi dia mungkin tidak bisa menghidupkan kembali dirinya pada waktu berikutnya.

"Seperti saya katakan, kita tidak bisa melakukannya jika kita tidak segera bertindak. Fakta bahwa Kurumi masih di sini telah disaksikan oleh Tobiichi Origami. Kemungkinan besar berita itu telah disampaikan ke AST .- Tentu saja, Naruse Mio juga. " ucap Reine

"... Ss." Gumam Naruto

Mendengar nama itu, Naruto menunjukkan ekspresi sedih.

Mengingat adegan barusan. Dirinya tak menyangka kalau adik angkatnya itu bisa melakukan hal tersebut, bahkan dirinya bertindak layaknya Anbu Ne yang memiliki pengendalian emosi, dia menggunakan metode yang berpengalaman untuk membunuh Kurumi.

"... Mengerti. Aku akan mencobanya..." Ucap Naruto

Sebelum Kurumi terbunuh lagi.

Sebelum Mio melakukan pembunuhan lagi.

"—aku akan membuat Kurumi, jatuh cinta kepadaku." Ucap Naruto

Meskipun ia membawa tekad berat, tapi ia merasa jijik untuk beberapa alasan.


Disisi Origami

Setelah mengkonfirmasi bahwa Naruto meninggalkan kelas dari sudut matanya, Origami perlahan berdiri.

Meskipun fakta bahwa Naruto tidak makan siang, meninggalkan Yatogami Tohka belakang memang menjadi perhatian - Namun, ada sesuatu yang harus dia lakukan sekarang.

Melewati Tohka yang sedih dan kecewa, ia berjalan menuju kursi target.

"-Saya Memiliki sesuatu untuk dikatakan." Ucap Origami

Dan kemudian, melemparkan tatapan dingin, berbicara kepada pemilik kursi

"Ini ... Origami-san benar. Apakah Anda ingin sesuatu dariku?" ucap Kurumi

"Kemari." Ucap Origami

Origami ketus menjawab, dan berjalan keluar dari ruang kelas.

Kurumi kemudian melangkah mengikuti Origami, ia buru-buru berdiri dengan wajah panik. Sekarang Origami tahu identitas aslinya, ia hanya merasa tidak senang.

Sama seperti itu, Origami tidak melambat, Kurumi pun bergegas menuju pintu atap.

Sebelumnya, ia juga membawa Naruto ke lokasi tersebut. Biasanya tempat ini tak pernah dikunjungi orang-orang, itu adalah tempat yang nyaman di mana orang dapat berbicara tanpa intervensi apapun.

"Haa ..., haa ..." gumam Kurumi

Mungkin itu karena berlari menaiki tangga dalam satu pergi, Kurumi menghela, tangannya bersandar di pegangan.

Setelah puluhan detik kemudian, ketika napasnya kembali normal, Kurumi bersuara.

"Tentang itu ... Apakah ada masalah? Kau tahu Aku belum makan siang ..." ucap Kurumi

Origami menghadapi Kurumi, ekspresi nya tidak berubah saat ia menjawab.

"Kau, kenapa kau masih hidup?" tanya Origami

"Eh ...?" gumam Kurumi

"—Kau, Seharusnya sudah mati kemarin." Ucap dingin Origami

Itu benar. Kemarin Origami pasti melihatnya.

Kurumi yang memiliki empat anggota tubuhnya dipotong dan kepala hancur oleh Mio, dibunuh dengan sempurna.

Meskipun ia mengerti kekuatan Mio, tapi Ryouko masih berkumpul Origami dan anggota AST lainnya, untuk mengelilingi Roh dalam kasus Mio tidak bisa menangkap itu.

"..."

Alis Kurumi berkedut.

Beberapa detik kemudian, dengan menggunakan mata kanannya yang tidak tercakup, ia mengamati wajah Origami itu.

"-Aah. Aah, begitu, Kau pasti di sana dengan Mio-san kemarin bukan." Ucap Kurumi

"...!"

Begitu Kurumi berakhir kalimatnya, Origami cepat mundur dari tempat aslinya.

Tidak ada alasan di balik tindakannya. Hanya otak yang merasa ada sesuatu yang berbahaya, peringatan Origami untuk melarikan diri.

"Yah! Yah! Reaksi itu tidak buruk sama sekali. Benar-benar indah. Namun." Ucap Kurumi

"-Ss !"

Origami menahan napas. Sebelum ia berhasil mundur, sesuatu menyambar pergelangan kakinya.

Setelah melihat lebih dekat, bayangan Kurumi telah diperluas tanpa kusadari dia - Dari sana, dua lengan putih keluar dari dinding.

Selain itu, bayangan terus perlahan-lahan tumbuh di daerah permukaan, memanjat ke dinding.

Dan dari sana, tak terhitung lengan tumbuh, menahan lengan dan kepala Origami dari belakang.

"Ku-" gumam Origami

Meskipun ia berjuang, namun jari-jari ramping tidak melepaskan tubuh Origami itu. Sebaliknya, kekuatan meningkat, menekan Origami kedinding.

"Kihihi, hihi, tidak ada gunanya. Bahkan jika kamu berusaha melawan itu tidak ada gunanya." Ucap Kurumi

Kurumi tertawa.

Kurumi mengenakan senyum bengkok di wajahnya yang tak bisa dibayangkan beberapa menit yang lalu, membiarkan tertawa yang hanya akan menyebabkan menggigil ketika mendengar tawanya itu.

" Apa kau sudah membersihkannya? Ituloh Ma-yat-ku?" ucap Kurumi

Kurumi mendekati Origami sambil menggaruk rambutnya. Tiba-tiba, mata kiri tersembunyi di balik pinggiran poninya ditunjukkan. Warnanya Emas murni. Terlihat ada 2 jarum disana, ada jarum besar dan kecil, disana juga terdapat deret angka Romawi yang berjumlah 12 buah, wujudnya seperti jam.

"Kau ingin tahu tentang diriku, dan kau bahkan nekat berbicara denganku sendirian, mungkin saja kau terlalu ceroboh? Dan bahkan kau mengambil kesulitan, untuk memilih lokasi di mana orang akan jarang pergi eh." Ucap Kurumi

"..."

seperti yang dikatakan Kurumi. Pada akhirnya itu dia keliru, Origami telah salah perhitungan. Mengancam Roh dengan kata-kata seperti itu, dia terlalu ceroboh.

"Kau-, apa ... tujuanmu yang sebenarnya?" ucap Origami

Meskipun tenggorokannya ditahan, ia masih berhasil membuat suara. Setelah itu, sudut mulut Kurumi terangkat.

"Ufufu, jujur saja sebenarnya aku ingin bersekolah saja? Tapi, tujuanku paling penting adalah-" ucap Kurumi

Setelah berhenti sejenak, Kurumi membawa wajahnya lebih dekat ke jarak di mana Origami bisa merasakan napasnya.

"-Naruto-san." Ucap Kurumi

"- !"

Mendengar nama Naruto itu, Mata Origami melebar dan shock.

Melihat reaksi itu, Kurumi tampak sangat bahagia, senyumnya melebar lebih jauh.

"Dia adalah laki-laki yang terbaik, Dia benar-benar terhebat bagiku... dan terlihat sangat lezat kau tahu, Aah, Aah, aku tidak sabar, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku ingin dia, aku ingin kekuatannya. Aku ingin dia menjadi milikku, aku ingin menjadi satu dengannya " ucap Kurumi

-sebuah Tremor. Origami merasa punggungnya basah disertai dengan keringat dingin. Dia benar-benar, tidak menyadari bahwa Roh ini akan menargetkan satu orang - dan selanjutnya orang itu adalah Naruto, itu benar-benar keluar dari perhitungan nya.

Akan Tetapi. Sebuah pertanyaan muncul dalam benak Origami pada waktu itu.

Ungkapan yang Kurumi yang ia sebut barusan. Apa yang dimaksud dengan [kekuatannya] -

"..."

Jalan pemikirannya, terganggu oleh Kurumi.

Tangan Kurumi mulai bergerak melintasi tubuh Origami itu.

"Origami-san, Tobiichi Origami-san kau juga -... Sangat kuat, kau tahu Betapa indahnya, kau begitu lezat Aah, aku tidak tahan, aku tidak bisa menerimanya, Aku ingin makan... kamu sekarang. "

Pipi memerah, terengah-engah, tangan kirinya pindah ke dada, sementara tangan kanan dimainkan dalam rok.

Mengatakan bahwa, ia memperpanjang lidahnya, meninggalkan jejak saliva di wajah Origami itu.

"Kuhhh ..." gumam Origami

"Aah, aah, tapi aku tidak bisa. Aku tidak boleh. Meskipun ini akan menjadi sia-sia, tapi aku harus menyimpan kenikmatan ini sampai bagian terakhir." Ucap Kurumi

Kurumi menggelengkan kepalanya, meninggalkan ciuman di leher Origami itu, menjauh dari tubuhnya.

"ufufufufu, aku akan mengurusmu setelah Naruto-san .- Semoga kau menjadi lebih lezat." Ucap Kurumi

Dengan mengatakan bahwa, Kurumi berbalik, berjalan menuruni tangga.

Setelah sosoknya menghilang, lengan mengikat Kurumi sekali lagi kembali ke bayangan.

"... Uhuhuhuk." Origami terbatuk

Origami berjongkok ke lantai dan mulai batuk.

Bayangan diperluas sepanjang lorong, seolah-olah itu kembali ke tuannya, mulai menyusut ke arah koridor.

"Naru, to-" gumam Origami

Meskipun ia tidak tahu mengapa, tapi Kurumi, dia menargetkan Naruto.

Ini akan buruk jika dia tidak memberitahu markas tentang hal itu. Tidak, tidak peduli bagaimana kau berpikir tentang hal ini, mereka tidak akan pernah percaya bahwa Roh akan menargetkan individu.

-Jika Origami tidak dapat melindungi Naruto kali ini.

Origami menggertakkan giginya, erat mencengkeram tinjunya.


Disisi Tohka

"... Muu." Gumam Tohka

Tohka duduk di kursi dan mendongak untuk melihat jam di atas papan tulis.

Istirahat makan siang hampir berakhir.

Perut mengeluarkan suara * Gururu * . Tidak makan apa-apa sejak sarapan, Tohka yang pemakan besar sudah di ambang keruntuhan karena kelaparan.

Namun, ia tidak membuka bento-nya. Meskipun Naruto menyuruhnya untuk mulai makan ... Tapi Tohka merasa bahwa itu akan terasa lebih baik jika Naruto makan dengan dia, jadi dia memilih untuk tidak makan bento-nya.

"Naruto ..." Gumam Tohka

Siswa yang sedang bermain di luar sudah perlahan-lahan kembali ke kelas. Beberapa orang tidak sabar untuk pelajaran berikutnya.

Namun, masih belum ada tanda-tanda Naruto hadir disana.

"UU UU ..." gumam Tohka

Tidak tahu mengapa, matanya mulai terasa panas, dan merasa bahwa itu semakin sulit untuk bernapas melalui hidung.

Perlahan-lahan menggosok pergi lendir nya, menyeka matanya. Lengan seragamnya menjadi basah. -Hanya Saat ini.

"-Aare? Apa yang terjadi denganmu Tohka-chan?" ucap Ai

"Kenapa kau tidak memakan bento milikmu?" ucap Mai

"Kelas akan dimulai tahu!" ucap Mii

Trio perempuan memasuki kelas dan berbicara dengan Tohka, terlihat sepertinya mereka makan siang di luar.

Mereka adalah gadis-gadis yang kenal Tohka cukup baik. Jika ia ingat benar nama mereka Ai, Mai dan Mii. Sepertinya mereka begitu dekat karena nama mereka terdengar mirip.

"Uwaa! Ada apa Tohka-chan! Jangan menangis!" ucap Ai

"Apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini !?" ucap Mai

"menjijikan, kalau memang dia menyakiti Tohka-chan aku akan menghajarnya !" ucap Mii

Tiga orang dikelilingi Tohka, berbicara dalam harmoni. Bahu teman sekelas laki-laki memberikan tremor kekerasan.

"Tidak, itu tidak seperti itu! Tidak ada yang melakukan apa-apa!" ucap Tohka

Tohka melambaikan tangannya buru-buru, menjelaskan kepada trio.

"Eh eh? Benarkah?" ucap Ai

"Lalu, kenapa?" ucap Mai

"Alergi Pollen? Apakah kamu karena allergi terhadap sesuatu?" ucap Mii

Tohka menggeleng, matanya melihat kotak bento yang berada tangannya.

"Naruto, dia masih belum kembali. ..., aku merasa tidak banyak berbicara dengan Naruto hari ini, hanya seperti itu, aku tidak tahu mengapa, aku... . " ucap Tohka dengan nada lirih

Setelah dia mengatakan itu, air mata besar mulai jatuh dari matanya.

"Aaah! Tohka-chan sudah cukup!" ucap Ai

"Aku tidak percaya bagaimana bisa, Uzumaki-kun mengecewakan gadis sepolos ini!" ucap Mai

"Menjijikan, Mari kita memenggal kepalanya dan memberikannya pada babi!" ucap Mii

Trio itu berteriak marah. Tohka sekali lagi menghentikan mereka panik.

"Tidak, itu tidak, Naruto tidak berbuat kesalahan apapun! Ini hanya, aku ..." ucap Tohka

Tohka mencoba ulang kata-kata kata-katanya dengan kosakata yang terbatas, pertama menjelaskan bahwa itu bukan kesalahan Naruto, tapi alasannya adalah bahwa ia telah menjadi terlalu terbiasa untuk memiliki Naruto disisinya.

Setelah mendengar itu, Ai, Mai dan Mii semua mengangguk kepala mereka.

"Jadi untuk Tohka-chan, selama Anda dapat berbicara dengan Uzumaki-kun, makan bersama-sama dengan dia dan bermain bersama dengan dia, Anda akan SUPER BAHAGIA kan?" ucap Ai

Kata Ai. Tohka mengangguk kepalanya.

"Guu, bagaimana. Kali ini kita buat Uzumaki-kun tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi" ucap Mai

Sambil mengatakan hal itu Mai juga mengusap air mata Tohka. Mata Tohka melebar karena perkataan Mai barusan.

"Menjijikan, tapi idemu ada benarnya Mai." Ucap Mii

Mii mengatakan dengan ekspresi serius, Tohka memiringkan kepalanya.

Trio memandang Tohka, tiba-tiba menampar paha mereka dengan "Yosh!"

"Aku akan memberikan ini untuk Tohka-chan!" ucap Ai

Ai mengatakan, mengambil dua lembar kertas dari sakunya.

"Ah, Ai, itu ...!" gumam Tohka

"Ya, tiket ke akuarium Tenguu Gojuusou ...! Besok ulang tahun sekolah kan? Tohka-chan, ambil ini, dan pergi ke sana dengan Uzumaki-kun besok!"

"Ai! Maka itu berarti Anda dan Kashiwada-kun-" ucap Mai

Mai ingin melanjutkan berbicara, Ai diperpanjang lengannya untuk menghentikannya.

"Jangan katakan lagi! Tohka-chan akan merasa buruk ..." ucap Ai

Seperti Ai mengatakan, Mai dan Mii meraih bahu Tohka dengan ekspresi menahan air mata mereka.

"Tohka-chan ...! Silahkan kamu harus menerima ini ...!" ucap Ai

"Ai! Silakan, bawa ini demi Ai ..." ucap Mai

"Nu, Nuu ...?" gumam Tohka

Tohka merasa bahwa dia tidak bisa merusak suasana saat ini, setelah ragu-ragu untuk beberapa saat, dia polos mengambil tiket dari Ai., seketika Ai linglung dan kehilangan keseimbangan.

"Tohka-chan ... kamu dan Uzumaki-kun harus mencapai kebahagiaan ... ... ah." Ucap Ai

"Ah, Aiiiiiiiiiiiii!" ucap Mai

"gawat dia tidak akan bertahan lebih lama lagi!" ucap Mii

"...!? ...!?"

Tohka tidak tahu apa yang sedang terjadi. rasanya seolah-olah jika dia menerimanya, dia akan melakukan sesuatu yang salah. Tohka mengembalikan tiket ke tangan Ai dengan mata berkaca-kaca.

"Fuooooo!" ucap Ai

Ai seperti langsung dihidupkan kembali.

"Ai!" ucap Mai

"Ini sebuah keajaiban!" ucap Mii

"Salah salah salah." Ucap Ai

Ai yang tiba-tiba tenang, sekali lagi lulus tiket untuk tangan Tohka itu.

"kamu tidak bisa kembalikan ini Tohka-chan. Ambil ini dan ajak Uzumaki-kun bersamamu."

"mengajak?" gumam Tohka

"Ya. Hanya mengatakan mari kita pergi kencan besok." Ucap Ai

"...!"

Dengan kata-kata, mata Tohka tumbuh lebih luas. Sebuah tanggal, yaitu mengacu pada suatu kegiatan di mana anak laki-laki dan seorang gadis keluar dan bermain.

-Ah, Itu indah.

Setelah berpikir erat, rasanya seperti dia tidak pergi dengan Naruto berkencan baru-baru ini. Memiliki tanggal setelah begitu lama. Kalau sudah seperti itu, itu akan menjadi besar.

Namun, masih ada satu masalah.

"Aku, aku harus mengajak ... dia?" ucap Tohka

Tohka mengatakan saat berkeringat panik.

"Ya. Hanya sekali, hanya sekali. Kadang gadis yang meminta duluan tidak buruk juga kok." Ucap Ai

"B, tapi ... Bagaimana jika aku ditolak ..." ucap Tohka

Tohka tampak gelisah saat ia mengatakan begitu. Trio mengangkat bahu mereka, mendesah dengan "Fuu".

"Ok ok. kamu tidak dapat berpikir tentang ditolak sekarang, meskipun jika gagal kita masih akan menghukum Uzumaki-kun dengan memamerkan dirinya di depan umum, tapi kami akan memberikan kepadamu langkah rahasia." Ucap Ai

"Rahasia, langkah rahasia ...?" gumam Tohka

"Benar. Singkatnya itu berarti bermain dengan nafsu manusia. Jika Tohka-chan melakukan langkah tersebut, kamu akan dapat memperoleh kekuatan untuk mengendalikan sebuah negara sekalipun!" ucap Ai

"N, tidak, aku tidak perlu hal seperti itu ..." ucap Tohka

"Baiklah aku paham begini saja, pertama-tama ..." ucap Ai

Tohka mendengarkan Ai berbicara tentang langkah rahasia sambil menganggukkan kepalanya sepanjang waktu.


Skip Time

Ketika pelajaran terakhir berakhir, Naruto segera bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju arah Kurumi itu.

Saat ini, ia bisa merasakan tatapan malu-malu dari Tohka di sisi kanannya serta tatapan dingin dari Origami di kirinya, ia memutuskan untuk mengabaikan mereka sambil terus bergerak maju.

"Kurumi, apakah kamu punya waktu sebentar?" tanya Naruto

Mengatakan bahwa, ia menunjuk ke arah koridor, setelah itu ia berjalan keluar dari kelas, Kurumi diikuti belakang.

Setelah berjalan ke lokasi tanpa orang, ia berbalik menghadap Kurumi.

"Naruto-san, ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Kurumi

"Aa, aaah. Maaf karena begitu tiba-tiba ... Kurumi Apa besok kamu memiliki waktu luang?" tanya Naruto

"Ya, ada kok." Gumam Kurumi

"Tentang itu, apakah itu mungkin, aku bisa membawamu di sekitar Kota untuk sekedar berjalan-jalan ...?" tanya Naruto

"Eh? Itu ..." gumam Kurumi

"Kamu, pahamkan ... Singkatnya ... kencan, itu yang aku maksud." Ucap Naruto dengan nada gugup

Seketika, ekspresi Kurumi sangat cerah.

"benarkah itu?" tanya Kurumi

"Ah, aah ... iyah, jadi apa kamu bisa Kurumi" ucap Naruto

"Tentu saja. aku malah senang bisa berkencan denganmu." Ucap Kurumi

"Ah yah, kalau begitu... besok pukul 10.30, aku akan menemuimu di depan loket stasiun Tenguu." Ucap Naruto

"Ya, aku akan menunggumu Naruto-san!" ucap Kurumi

Kurumi mengatakan dengan tersenyum. Naruto kembali ke kelas setelah mengangkat tangannya dan berkata "Kalau begitu, sampai ketemu besok.". ucap Naruto

Pada saat ini, Naruto membuka pintu kelas, ia menemukan Origami berdiri di sana.

"... Hyi ...!?" pekik Naruto

"-Apa Kau katakan padanya?" tanya Origami

Menatap Naruto dengan tatapan tajam, suara tenang nya terdengar keluar tanpa intonasi.

"Tidak, tidak, tidak ada apa-apa." Ucap Naruto

"Jawab aku. Ini adalah penting-" ucap Origami

Jika dirinya terus diinterogasi seperti ini, Naruto bisa mendapat masalah seperti bocornya informasi bahwa dirinya sudah mengajak Kurumi berkencan. Naruto kemudian mengabaikan Origami, ia melewati Origami, berjalan ke mejanya dan mengambil tasnya.

"Aku, aku harus pergi dulu karena sesuatu! Tohka! Ayo pulang!" ucap Naruto

"Nu? Uu, umu!" ucap Tohka

Mengatakan bahwa, ia melarikan diri sebelum interogasi. Tohka nyaris berhasil bereaksi saat ia mengejar Naruto.

"Haa ... Haa ..." ucap Naruto

Menjalankan beberapa saat, setelah memastikan bahwa Origami tidak bisa mengejar dia berani untuk memperlambat jejaknya.

"kenap tiba-tiba terburu-buru, Naruto!" ucap Tohka

"N, tidak kenapa-kenapa kok, ayo pulang Tohka." Ucap Naruto

"Nn, umu ..." gumam Tohka

Tohka mengangguk kepalanya masih merasa bingung.

Meskipun ia merasa terkejut ... Nah, tidak perlu bertanya lebih lanjut. Naruto memasuki koridor, mengubah sepatunya di pintu masuk dan keluar dari sekolah.

Dalam perjalanan kembali.

" Na…na..Naruto aku bisa bicara padamu tidak ...!" ucap Tohka

Tohka yang selalu fasih berbicara, tiba-tiba berbicara sedikit panik.

"Nn? Ada apa, Tohka?" tanya Naruto dengan raut wajah kebingungan

"Aanoo. Tentang itu ... !" gumam Tohka

Pada titik ini Tohka sedang membalik-balik tasnya mencari sesuatu - Untuk alasan yang tidak diketahui ia diam-diam melihat sekeliling, melihat ke bawah sambil tersipu-sipu.

"hmm, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Naruto

"ah tidak ada, sudahlah ...! Ayo cepat kita pulang!" seru Tohka dengan nada gugup

Tohka melihat sekeliling saat ia paksa mengatakan, tampaknya ingin Naruto untuk memimpin jalan saat ia perlahan mengikuti di belakang.

"Ada apa denganya? ..." gumam Naruto melihat tingkah aneh Tohka

Meskipun merasa penasaran tentang tindakan aneh Tohka, tetapi mereka terus tetap seperti ini karena mereka berjalan pulang.

Meskipun ia tidak yakin mengapa, tetapi dalam perjalanan kembali, Tohka masih tidak menunjukkan wajahnya.

Tidak lama kemudian, mereka akhirnya mencapai kediaman Uzumaki dan Residensial para Spirit.

"Ooh, Tohka, kamu bisa pulang terlebih dahulu, makan malam sekitar 5 jam lagi, nanti aku aku akan memanggilmu setelah makan malam siap" ucap Naruto

Tapi rasanya ucapan Naruto terasa diabaikan oleh Tohka.

Alasannya sederhana, Tohka tidak berjalan menuju apartemennya, tapi menuju kediaman Uzumaki.

"Tohka? Bukankah seharusnya kamu mengganti pakaianmu terlebih dahulu?" tanya Naruto

"! Itu, tidak apa-apa, cepatlah buka pintunya!" ucap Tohka

"Haa ... baiklah." Ucap Naruto dengan nada pasrah

Sebenarnya Tohka datang kerumah Naruto bukanlah hal yang tidak wajar karena Naruto biasanya menyiapkan makan malam untuknya. Jadi tidak ada masalah kalau datang lebih awal. Naruto pun mengeluarkan kunci dari sakunya, membuka pintu.

"Tadaima." Ucap Naruto

Naruto dan Tohka melepas sepatu di pintu masuk dan memasuki rumah, hanya seperti itu ia berjalan ke ruang tamu, Naruto pun sedikit melakukan peregangan ringan di sofa, setelah menempatkan tasnya ke bawah.

"Nn -..."

Pada titik ini, suara * kacha * bisa didengar.

Sepertinya Tohka yang mengikuti di belakang Naruto baru saja mengunci pintu masuk. Tohka memasuki ruang tamu dengan kepalanya masih diturunkan.

"Nn? Memang kamu datang lebih awal, tapi kamu mau menunggukan kalau soal makan malam." Ucap Naruto

"..."

Namun Tohka tidak membuat jawaban, bukannya ia meletakkan tasnya, meraih tangannya dalam, mengambil dua benda tiket seperti.

"Na, Naruto, tentang ... itu." Ucap Tohka dengan nada gugup

Setelah itu, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya seolah-olah dia baru ingat sesuatu.

"oh, iya aku ingat, aku harus melakukannya dengan benar ya ..." gumam Tohka

" hee ...? Melakukan apa?" gumam Naruto

Sama seperti Naruto yang tersisa dalam kebingungan, Tohka buru-buru berlari menuju jendela ruang tamu, menarik tirai tebal.

"Hei, hei, Tohka ...?" ucap Naruto

"Tunggu sebentar! Oke, mulai persiapan!" ucap Tohka

"Persiapan ...? apa maksudmu...?" tanya Naruto

Namun, Tohka masih tidak menjawab.

Kali ini dia mengambil memo dari tasnya, menempatkannya di atas meja.

Kemudian, ia meletakkan tangannya di pinggul dengan ekspresi bermasalah, perlahan-lahan menggulung roknya. Sebuah teknik yang sering digunakan untuk merayu. Paha Tohka yang putih secara bertahap menunjukkan diri mereka sendiri.

"Hei, hei, Tohka ...?" ucap Naruto

Tidak dapat memahami alasan atas tindakan Tohka itu, Naruto mengerutkan kening saat wajahnya menetes keringat.

Berikutnya Tohka melonggarkan simpul kupu-kupu di seragamnya, membuka kancing bajunya dari atas. Selanjutnya... dia benar-benar meluruhkan empat kancingnya. Dari kesenjangan antara kemeja, dada putih Tohka telihat dan bisa dilirik, Naruto pun kaget dan membatu melihat hal itu.

"Haaaaa….!? " pekik Naruto

"Na, Naruto!" panggil Tohka

"apaaaa.. yang sedang terjadi.." pekik Naruto

Setelah itu Tohka terputus kata dan tak menjawab, lalu ia menggunakan mulutnya untuk menahan tiket, pergi merangkak, layaknya membuat pose macan tutul betina. Di samping itu, wajahnya merah seperti tomat dimasak.

"Aapaapaaan kamu ini !? " pekik Naruto

Tetap saja Tohka terus berjalan layaknya macan tutul betina, Naruto pun mundurkan langkahnya dan ingin melarikan diri akan tetapi langkahnya terhenti ketika ia tak sengaja menabrak sofa dibelakangnya, alhasil langkahnya pun terhenti.

"Kamu sebenarnya mau apa sih!" pekik Naruto

Naruto berbicara dalam kebingungan, Tohka tampak menyesal saat ia berkata "Ini, tidak bekerja ...!", Mengambil tiket dari mulutnya. ... Apakah tidak bekerja atau tidak, dia benar-benar tidak mendapatkan petunjuk atas apa yang dipikirkannya.

Namun Tohka melihat memo itu di atas meja sekali lagi,

"Yosh ...!"

Dia bergumam seolah-olah berusaha untuk meningkatkan semangatnya sendiri, mengambil tiket.

Meskipun, kali ini ia menempatkan tiket di dadanya yang terbuka - dan kemudian "Nn?" memiringkan kepalanya.

Itu tampak seperti mereka tidak akan tetap dalam posisi. Oleh karena itu Tohka sedikit membungkuk ke depan, dengan menggunakan tangan kirinya di dada untuk membuat belahan dada dan meletakkan tiket di dalam, setelah itu dia memberi Naruto lihat.

"Apppaa ...!?" pekik Naruto

Merasa seperti dia baru saja melihat sesuatu yang buruk, Naruto tanpa sadar mengambil langkah mundur, akan tetapi ia baru sadar kalau dirinya sudah mati langkah. Tohka sendiri langsung bergerak dan menaiki Tubuh Naruto dan mengeksposkan belahan dada putihnya itu, telihat dibagian belahannya itu ada secarik kertas terselip didalamnya

"Naruto ... Aku boleh tanya sesuatu tidak!" ucap Tohka dengan nada sensual

"Oo, oh ... Apa itu?" ucap Naruto dengan nada gugup

"bisakah kamu pergi berkencan denganku besok nanti?" ucap Tohka

"Ha ...? berkencan...?" ucap Naruto

"Uu, nn ...!" gumam Tohka

Tohka dengan berlebihan mengangguk, menampilkan tiket di dadanya.

... kini terlihat situasinya seakan-akan apakah dia meminta Naruto untuk mengambilnya dari sana.

"Tidak mau yah?" ucap Tohka dengan nada lirih

Jika Naruto tidak mengambil tiket dari sana, tindakan Tohka itu mungkin akan naik pada ingkat lain.

Naruto juga seorang siswa di SMA, dia juga seorang anak mengalami pubertas. Tidak mungkin untuk mengatakan bahwa ia tidak tertarik, tapi dia tidak bisa hanya mengatakan apa-apa seperti itu.

Wajahnya menetes dengan keringat, gemetar tangan perlahan membentang ke arah belahan dada Tohka itu.

Dan, dengan sangat hati-hati untuk tidak menyentuh payudara Tohka, ia mengambil tiket darinya.

"Oo, oohh baiklah !" gumam Naruto sambil menarik kertas yang berada dibelahan payudara Tohka dengan cepat

Setelah mendengar perkataan Naruto. Sontak ekspresi Tohka pun cerah, dan ia memperbaiki postur tubuhnya.

"Wah, ternyata ini berhasil, persis seperti mereka bilang" gumam Tohka dengan nada ceria

Sedangkan Naruto hanya sweetdrop melihat tingkah Tohka.

Detik berikutnya, Tohka menormalkan kembali pakaiannya, termasuk kemejanya juga dan langsung mengambil tasnya.

"Kalau begitu, besok kita ketemuanya di sebelah patung Pachiko jam 9 pagi yah, janji lho!" ucap Tohka

Sambil mengatakan itu Tohka pun kemudian pulang ke apartemenya. berjalan menyusuri lorong, membuka kunci ke pintu masuk dan keluar dari kediaman Uzumaki.

"hehhh, apa ini ...?" gumam Naruto

Naruto bengong bergumam, matanya jatuh ke tiket di tangannya. Sepertinya tiket ke akuarium. Di mana asalnya.

Setelah itu, matanya bergerak ke memo yang Tohka ditempatkan ke meja. Di atasnya, dengan kursif menulis kata-kata [Teknik rayuan Tohka-chan]. Bagian bawah ditulis berikut.

①berpose seperti macan tutul betina.

②gunakan belahan payudaramu untuk menahan tiket

③ jika keduanya tidak bekerja, serang dia secara frontal.

... Meskipun ia tidak terlalu yakin, tapi sepertinya sudah sangat berbahaya sekarang.

"Haaa ini ..." gumam Naruto dengan nada sweetdrop

Tingggggg

Pada saat bersamaan Smartphone milik Naruto pun mengeluarkan bunyi, kemudian Naruto pun melihat Smartphone miliknya, rupanya ia mendapatkan pesan dari Line miliknya, disana ia menerima pesan dari Itsuka Shiori sahabat dekatnya itu

' Naru, Gomenne kalau kemarin aku bersikap cuek sama kamu, aku bukan bermaksud melakukan hal itu.. ' ucap Chat Line Shiori

Naruto pun kemudian membalas Chat itu.

' ah, tidak apa, aku mengerti kok, mungkin saja kamu lagi pengen sendirian, aku paham kok dan aku juga tidak marah kok Shiori-chan ' balas Naruto

Tingggggggggg

'Yokkata, aku kira Naru marah, Naru bisa minta tolong gak ?' ucap Chat Shiori

'hmmm, tentu saja bisa, aku kan sahabat dekat kamu, masa tidak mau menolong. Kalau boleh tahu emangnya mau minta bantuan apa?' balas Chat Naruto

Tinggggggggggg

'besok kan libur, Naru bisa gak nemenin aku pergi ke Tenguu Quinted, soalnya aku mau beli seri Novel terbaru dan sekalian makan bersama gtu, kan udah lama kita gak menghabiskan waktu berdua' ucap Chat Shiori

Naruto pun mengernyit melihat pesan ia baca itu, ada apa gerangan tiba-tiba Shiori mengajaknya pergi berdua layaknya kencan

'Eh jadi maksudnya ini yah?' balas Chat Naruto

Tinngggggggg

' Mou, bukan itu maksudnya Naru, masa pergi bersama dengan sahabat dikira kencan sih,' tulis Chat Shiori

' Eh, Gomen-gomen bukan maksudku begitu' balas Chat Naruto

Tinggggggggg

' Mou yah sudah, gmna Naru bisa gak nemenin aku, kali ini aja Please?, aku takut kalau pergi sendirian' ucap Chat Shiori

Naruto pun berpikir sejenak, dia sedikit menimang-nimang, kalau tidak pergi bersama Shiori nanti malah dirinya mengecewakan dia, tapi kalau pergi.., pada akhirnya pun tanpa sadar Naruto pun memutuskan untuk pergi bersama Shiori.

Tinggggg

' kok diam Naru, apa kamu keberatan yah ?' ucap Chat Shiori

' ah, tidak kok, aku tidak keberatan' ucap Chat Naruto

Tingggggg

' ah beneran Naru, kamu gak keberatan kan?' ucap Chat Shiori

' iyah, beneran kok, besok kita pergi bersama yah' balas Chat Naruto

Tiinngggggggg

' Yokkata, Arigatou Naru, besok jam 09.45 aku tunggu yah diloket Stasiun Tenguu, datang yah Naru ' ucap Chat Shiori

' yah sampai juga besok Shiori-chan' balas Chat Naruto

Naruto pun menyudahi acara Chattingnya bersama Shiori, tapi dia masih berpikir tumben-tumbenan Shiori-chan mengajaknya pergi berdua, biasanya dia pergi bertiga bersama Kotori. Ini benar-benar mengganjal pikirannya

Pada titik ini, Smartphone di sakunya mulai bergetar. Melihat layar, itu dari nomor yang dia tidak tahu.

Merasa sedikit aneh, ia menjawab telepon, dari ujung telepon terdengar suara tenang.

"Moshi Moshi." Ucap Origami

"Nn ...? Suara ini, kamu ... Origami?" tanya Naruto

"Iya Nih." Ucap Origami

Origami memberikan jawaban singkat untuk mengakui, tetesan keringat membasahi wajah Naruto itu.

"Aare ...? kok kamu bisa mengetahui nomor milikku?"

Origami tidak menjawab, setelah hening sejenak, ia terus berbicara.

"Besok adalah hari libur kan ." ucap Origami

"? Aa, aah ... itu benar" ucap Naruto

"Kau, tidak boleh dibiarkan sendirian." Ucap Origami

"Eh ...?" gumam Naruto

Naruto menjawab shock, Origami terus berbicara tanpa perubahan intonasi nya.

"jam 11 pagi. Aku akan menunggumu di plaza di luar stasiun Tenguu." Ucap Origami

"Eh tunggu-?" gumam Naruto

"kamu harus datang yah." Ucap Origami

Setelah itu dia mengakhiri panggilan telepon.

... Pada akhirnya, tidak satu pun pertanyaan Naruto itu dijawab.

"Hah ada apa dengan dia, tiba-tiba saja begini" gumam Naruto

Setelah itu Naruto pun sadar kalau dirinya sudah terjebak dalam 4 kencan dengan 4 gadis berbeda di hari yang sama.

"Haaaaa.." pekik Naruto

Dan benar saja Naruto harus menjalani 4 kencan sekaligus, di esok hari.

To be Continued...


Yosh akhirnya selesai juga Chapter 10 . . Yosh Chapter 10 ini sebenarnya hanya menceritakan kebenaran fakta bahwa Mio adalah anggota JGDSF, selain itu Naruto juga malah terlibat 4 kencan sekaligus, wah makin ribet donk, jadi ikuti terus cerita ini jika anda penasaran , maaf mungkin banyak typo . dan banyak kekurangan lainya.

Silahkan RnR Minnaa...