CHAPTER 10
.
.
.
Junki memarkirkan mobilnya di wilayah parkir terdekat di sayap kiri rumah sakit. Saat Sehun menelepon dengan kabar terkini soal Baekhyun, ia langsung menghubungi Soyou. Wanita itu skeptis pada awalnya. Namun wajah khawatir Junki mencubit sisi hatinya. Pria itu memang berkata benar. Adiknya, Byun Baekhyun, baru saja pingsan dan sesuatu bisa saja terjadi dengan kandungannya.
"Permisi." Junki mengatur nafasnya saat berada di muka UGD. Ruangan sibuk itu agak senyap. "Pasien bernama Byun Baekhyun dibawa kesini pagi tadi. Boleh kami menemuinya? Kami kakaknya."
Suster itu mengangguk dan mengetik sesuatu pada komputer di hadapanya. Alisnya kemudian tertaut. "Pasien bernama Byun Baekhyun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dua jam yang lalu, Tuan."
"Boleh aku tahu dimana ruangannya?"
"Lantai dua, nomor 3801."
Junki mengangguk cepat. "Terima kasih."
Tanpa menunggu balasan sang suster, Junki menggandeng Soyou keluar dari selasar UGD. Gadis itu diam sejak tadi, lebih pada bingung harus melakukan apa. Perjalanan berjam-jam membuat fokusnya berkurang. Rasa rindu membuncah yang ia simpan untuk adiknya juga membuat pikiran sang dara sulit bersatu dengan keadaan.
"Tujuh delapan, Tujuh sembilan, Delapan puluh,….."
Soyou menunjuk ruangan tertutup di ujung selasar yang mereka pijak. "Disana!"
Kedua orang itu berjalan cepat dengan langkah yang teratur, berusaha keras untuk tidak membuat suara yang keras. Jantung Soyou berdetak lebih kencang. Sebulan mungkin bukan waktu yang sebentar bagi kebanyakan orang, tapi baginya berpisah sehari dengan Baekhyun pun sudah menjadi neraka. Namun, sebentar lagi, ia akan kembali memeluk Baekhyun, adik tersayangnya.
Dan, batas diantara mereka pun terhapus. Pintu ruang rawat terbuka bertepatan dengan Sehun yang akan keluar.
Baekhyun disana. Di atas ranjang rumah sakit, terduduk dengan mulut yang sibuk mengunyah pisang. Soyou menghentikan langkahnya. Junki pun tertegun. Takjub dengan bagaimana ada pria sempurna seperti Baekhyun. Wajahnya seratus persen mirip Soyou. Bagai pinang dibelah dua.
"Baekhyun-ah…"
Baekhyun terdiam. Namun mata sayunya memerah, menahan tangis. "N-noona…"
Soyou tidak lagi menunggu. Gadis itu berlari dan langsung memeluk tubuh kecil adiknya dalam rengkuhan yang erat. Baekhyun menyambutnya dengan cepat. Airmata juga membasahi pipinya selagi ia menangis keras di pelukan sang kakah. Sebuah beban di hati Baekhyun terangkat. Kakak cantiknya telah disini, malaikat pelindungnya ini tidak berhenti menyayanginya.
"Noona, noona. Baekhyunie rindu. Hiks!"
.
.
"Aku mengerti. Jadi kau sudah ada disana?"
Junki mengangguk. Walau Hyeri tidak akan melihatnya di seberang sana. Sudah hampir tengah malam dan dirinya masih berada di rumah sakit tempat Baekhyun di rawat. "Baekhyun mengalami kram yang normal. Sebenarnya dia tidak boleh stress dan banyak pikiran."
"Kkkk. Tentu saja. Apa kau familiar dengan situasi itu, Junki-ya?"
"Ya." Junki tanpa sadar tersenyum dan mengulum bibirnya. "Persis ketika Noona mengandung Chanyeol. Noona selalu kram jika sedang merindukan Hyung."
"Ah, kau masih ingat rupanya. Anak nakal itu bahkan sudah berani memihak ayahnya sejak ia masih menjadi gumpalan darah. Sekarang calon cucuku juga melakukan hal yang sama. Apa-apaan ini."
Junki tersenyum semakin lebar. Senang dengan kenyataan bahwa Hyeri menerima Baekhyun dengan tulus. "Istirahatlah, Noona. Kau baru saja sampai. Bagaimana Chanyeol?"
"Dia langsung tertidur seperti bayi besar begitu menginjak kamarnya. Aku berencana membawanya ke rumah sakit jika ia mengalami gejala muntah seperti sebelumnya."
"Itu lebih baik."
"Jja, aku akan tidur. Tetap hubungi aku tentang keadaan Baekhyun."
"Tentu, Noona."
Dan sambungan pun terputus. Junki menyimpan kembali telepon genggamnya kedalam saku celana. Atensinya kini beralih kembali ke dalam ruangan Baekhyun. Disana, Soyou dan Baekhyun tertidur dalam satu ranjang dan saling berpelukan. Bibir Junki kembali mengukir kurva senyum.
"Paman punya ide lain untuk membawa Baekhyun ke Seoul?"
Junki menoleh dan menemukan Sehun telah berada di sampingnya. "Memangnya idemu sudah pasti tidak berhasil?"
"Tidak sepenuhnya. Tapi aku ragu sekali." Sehun menatap Junki. "Membawa nama Chanyeol bukan lagi pilihan. Baekhyun akan mengalami kram lagi."
Dalam hati Junki setuju dengan perkataan Sehun. Chanyeol telah mengukir kenangan buruk pada Baekhyun. Siapapun yang berada di posisi Baekhyun akan mengalami hal yang sama. Trauma dan perasaan benci bisa menghancurkan. Kandungan Baekhyun harus sehat. Hyeri dan Yoochun menantikan sekali bayi ini. Lagipula, Chanyeol kini menjadi urusan mereka. Baekhyun dan bayinya saat ini resmi menjadi tanggung jawab Junki.
"Bukankah rumah Bibi Han bersebelahan dengan rumah salah satu karyawanku?"
Sehun mengangguk. "Ya. Yuta memang karyawanmu. Dia tidak ada hubungannya. Perilakunya baik pada Baekhyun. Dia juga punya pasangan yang sedang hamil. Paman mau apa?"
"Kau ini bicara apa?" Junki kesal sendiri. Sehun pasti berpikir ia akan melakukan hal buruk. "Aku ini sedang menimbang segala kemungkinan. Carikan aku hotel terdekat. Besok pagi kita kerumah Yuta bersama."
Sehun hanya mengangguk. "Baik, Paman."
.
.
Baekhyun mengangkat satu alisnya, heran. Yuta dan Winwin datang menjenguk di pagi berikutnya. Winwin terus menerus menampakkan wajahnya yang berbinar. Yuta juga tersenyum lebar. Rasanya, aura positif tiba-tiba saja memenuhi kamar rawat Baekhyun.
"Ada apa sebenarnya? Wajah kalian jadi aneh begini." Tukas Baekhyun. Winwin bertepuk tangan kecil.
"Kami akan pindah ke Seoul. Yuta pindah tugas ke kantor pusat."
"Apa?" Baekhyun cemberut. "Jadi kita tidak akan bertetangga lagi?"
"Masih, tenang saja." Sebuah suara menyambar seiring pintu ruangan yang terbuka. Sehun masuk dengan senyuman lebar yang membuat matanya kian sipit. Ia melangkah menuju ranjang Baekhyun. "Rumah yang ditempati Yuta dan Winwin berada tepat di sebelah rumah yang akan kau tempati."
"Huh?" Mata Winwin kian bersinar terang. "Kau juga akan ke Seoul, Baekhyun?"
"Aku…"
"Soyou Noona juga akan tinggal bersamamu." Sehun menatap kakak Baekhyun tersebut. "Iya, kan, Noona?"
"Huh?"
Soyou menatap Baekhyun dan Sehun bergantian, bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba. Ujung matanya kemudian menangkap sosok Junki yang berada di luar ruangan. Pria itu mengangguk, sebuah tanda yang cukup untuk Soyou mengerti. Pria itu telah berusaha membuat Baekhyun kembali ke ibukota. Bahkan hingga melibatkan perusahaan dan karyawannya. Soyou lalu tersenyum lebar.
"Tentu saja! Baekhyunie mau kembali tinggal dengan Noona, kan?"
.
.
"Begitukah? Syukurlah. Jangan lupa berikan reward khusus kepada keluarga Bibi Han. Aku benar-benar berterimakasih atas jasanya."
Chanyeol—yang baru saja melangkah masuk ke dapur untuk minum—mengernyit melihat ibunya duduk di salah satu kursi makan sambil menelepon. Pemuda itu membuka kulkas dan mengambil satu botol minuman isotonik untuk kemudian diteguknya. Suara kulkas yanh tertutup membuat Hyeri menoleh.
"Akan kuhubungi lagi." Bisiknya di telepon dan kemudian memutus sambungan. Ia lalu menoleh sepenuhnya pada Chanyeol. "Bagaimana perutmu? Sudah baikan?"
"Ya. Tidak mual lagi seperti kemarin. Ibu sedang menelepon siapa tadi?"
Hyeri menaikkan satu alisnya. "Oh, Pamanmu. Kenapa? Kau merindukannya?"
"Tidak mungkin aku merindukannya."
Chanyeol berdecak dan kesal sendiri dalam hati. Dirinya yang berada jauh dari tanah kelahirannya ini adalah berkat Junki. Pamannya itu benar-benar serius soal melemparnya kembali pada Yoochun dan Hyeri jika gagal membawa Baekhyun pulang. Sial sekali. Chanyeol bisa mati bosan disini. Segala pergerakannya pasti akan terus dipantau Yoochun.
"Chanyeol-ah, mari berbicara sebentar."
Chanyeol kembali berdecak malas dan berbalik untuk melangkah kembali ke kamarnya. "Aku masih mengantuk."
"Ini soal Baekhyun. Kau belum menceritakan apapun dari sisimu tentang anak itu. Apa yang terjadi di Bucheon?"
Langkah Chanyeol kemudian berhenti. Ia berdiri mematung tanpa berbalik menatap Hyeri yang kini menghela nafas, heran dengan sikap anaknya sendiri. Chanyeol pun tidak tahu ada apa dengan dirinya. Hatinya masih sulit terbaca dan logikanya tidak bisa menafsirkan perasaannya. Pertanyaan Hyeri kembali membuat ujung hatinya tercubit.
"Tidak masalah jika kau belum ingin bercerita. Tapi," Hyeri menarik kursi dan duduk diatasnya dengan mata yang terus menghujam punggung Chanyeol. "Apa sebenarnya perasaanmu padanya? Chanyeol-ah, apa kau mencintai Baekhyun?"
Chanyeolie, kau mencintaiku, kan?
Buku jari Chanyeol memutih seiring genggamannya yang mengerat pada botol di tangannya. Memori pria itu memaksanya kembali terbang ke masa-masa yang seharusnya tidak boleh ia ingat. Begitu cara Chanyeol menjalani hubungan. Semua akan ia anggap tidak pernah terjadi. Tidak ada yang bisa membuat prinsipnya luntur.
Tapi, Baekhyun melakukan hal sebaliknya.
Bayangnya membuat Chanyeol menggila. Chanyeol tidak mengerti…
…..jangan-jangan dia juga mencintai Baekhyun?
.
.
.
.
.
To be continue...
