a/n

ada yang suka lagu rock ga? kayak 5sos, atl, sws, fob, atau lagu kayak lana del rey, halsey ama melanie martinez?

.

.

.

.

"Ezra tampan, lalu dia yang tadi sedang bercumbu denganmu juga sangat – sangat tampan. Apa kau menggoda mereka untuk mendapatkanmu?"

"Maksudmu?" tanyaku bergetar.

"Tidak," ucapnya singkat.

"Jongin," panggil seseorang dari belakangku.

Sehun menatapku dalam dengan tatapan yang tidak kumengerti. Ia terlihat tidak terlalu suka dengan keberadaan Tiffany di sini.

"Tiffany," ia menjulurkan tangannya ke arah Sehun.

Sehun menatap tangan Tiffany yang terjulur ke depan, tanpa membalasnya.

"Oh, tough guy."

"Watch your mouth, bitch." Ucap Sehun dengan tatapan tajam yang tidak biasanya ia berikan padaku.

Suasana yang tidak kumengerti, Sehun terlihat tidak menyukai keberadaan Tiffany yang berada di sini secara tiba – tiba. Menurutnya itu merusak kesenangannya tadi.

Aku berada di sebelah Sehun, menatapnya dalam dan berhati – hati, aku takut jika aku mengeluarkan suara sedikit pun itu akan merusak situasi sekarang. Mungkin hatinya sedang tidak baik.

"Kita pergi," aku menarik tangannya ke kamar yang ia tinggali nanti.

"Hun," panggilku pelan, mencoba mencairkan situasi ini.

Apa Sehun tadi mengikutiku menemui Tiffany. Apa ia mendengar perkataan Tiffany, aku menyusun pertanyaan yang tidak mungkin kutanyakan langsung padanya. Aku takut ia marah atau tersinggung, apalagi dengan situasi yang seperti ini. Ini akan menyulitkanku untuk bertanya hal yang sensitive.

"Tiffany selalu begitu saat bertemu orang baru." Ucapku pelan.

"Aku tidak suka kau diperlakukan seperti itu olehnya."

"Kau mendengarnya?" aku bertanya takut – takut. Kuharap ia tidak begitu memperhatikan suaraku yang bergetar.

Kami duduk di pinggiran tempat tidur kamar ini. Sehun menghadap ke depan dan aku yang memperhatikan lekuk wajahnya dari samping.

"Aku tidak suka perkataannya yang meremehkanmu, Jongin."

"Biarkan dia, Hun."

"Aku keluar dulu, kurasa aku harus membantu mereka," ucapku padanya yang sudah berdiri di ambang pintu.

Ia berdiri berjalan kehadapanku mengecupku pelan. Kehangatan yang ia tinggalkan lagi membuatku bergetar hingga badanku limbung kehadapannya, lalu tenggelam dalam dekapan hangatnya yang begitu lembut. Aku menyukainya dan selalu merindukannya. Hal yang tak ingin ia tinggalkan saat bersamaku.

Aku berjalan ke dapur, menemukan ibuku dengan Tiffany sedang memotong labu, kurasa mereka akan membuat sup labu, dan masakan lainnya.

"Mom, kau sudah kembali?"

"Hmm," dijawabnya dengan gumaman.

Aku mengambil beberapa bahan yang akan dimasak lalu memotongnya, lalu mendengarkan hal – hal basa – basi yang dibicarakan oleh Tiffany dengan ibuku, seperti tanggalan, horoscope, dan lain – lain. Aku lebih memilih bergumam untuk menanggapi perkataan mereka. Tapi satu hal yang membuatku ingin menjambak mulut Tiffany. "Jongin, kau sudah putus dengan Ezra?" pertanyaan yang sama tidak pentingnya untuk ditanyakan denganku.

"Apa lelaki eksentrik itu lebih menarik dari pada dokter kaya seperti Ezra?"

"Aku belum putus dengannya, kami hanya hubungan jarak jauh." Kataku seadanya.

"Biasanya orang yang ditinggal pasangannya dengan status, ya, seperti hubungan jarak jauh akan berisiko untuk selingkuh di belakang hubungan mereka." Jujur aku ingin meninggalkan situasi seperti. Selalu begitu, Tiffany tidak pernah ingin untuk mengalah jika berhadapan denganku, ia akan mencari hal yang membuatku terpuruk hingga tidak tahu untuk melakukan apapun.

"Aku tidak berselingkuh dengan siapa pun," ucapku cepat, jelas jika aku berbohong. Salah diriku menganggap Sehun adalah selingkuhanku dari hubunganku dengan Ezra. Kurasa kami hanya berteman, cukup dengan status seperti itu.

"Lalu, mengapa kau tidak mengajak Ezra?" tanyanya lagi.

"Dia sibuk," ucapku singkat. Aku ingin meninggalkan percakapan yang tidak menguntungkan ini.

"Cukup kalian berdua," ucapku ibuku kesal dari nada suaranya.

"Jongin tolong iris bawangnya," pinta ibuku.

"Kita harus menyiapkan makan malam ini dengan cepat." Kata ibuku.

"Mom, bibi Debby di mana, biasanya ia akan membantu kita untuk menyiapkan keperluan makan malam."

"Mungkin ia menyiapkan hal lain."

Aku berpikir sesaat bahwa bibi Debby sudah memiliki anak kedua, mungkin seumuran dengan anak kelas 1 SMA, aku mengingat anaknya yang mungkin tingginya akan melebihi diriku. Kulitnya putih seperti Sehun, tinggi, dan wajah orientalnya. Bibi Debby juga menikahi orang korea sama seperti ibuku. Dulu saat dia ikut ibuku ke korea lalu ada seorang laki – laki yang memikat dirinya. Seperti drama picisan yang biasa mereka tonton. Tapi hal yang indah akan berakhir miris, bibi Debby ditinggal oleh suaminya saat anaknya seumuran anak SMP. Mungkin tiga tahun yang lalu. Aku tidak mengerti mengapa mereka harus meninggalkannya pasangannya lalu pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

"Siapa nama anak bibi Debby?"

"Jaehyun," ucap Tiffany di seberang.

Aku masih mengiris beberapa bawang dan daun bawang, kurasa mataku akan berair karena perih.

"Jongin, kuharap kau tidak akan marah, jika Mom mengatakan ini."

"Apa, Mom?"

"Ayahmu menghubungiku lagi, ia mengatakan bahwa ia akan sampai hari ini, mungkin mala mini pukul tujuh."

"Aw."

Aku meringis, kurasa perkataan ibuku membuat konsentrasiku berkurang. Aku terdiam sebentar menatap darah yang keluar dari jari telunjukku. Darah itu mengalir deras, seperti tetesan air mataku.

"Jongin kau berdarah,"

"Ahh, iya." Aku mengangkat kepalaku. Aku tersentak saat seseorang menarikku keluar dari dapur. Tatapanku mengabur, aku hanya melihat seorang lelaki tinggi semampai, dengan setelan baju seperti Sehun, dari belakang sekilas memang sepeti Sehun, tinggi, warna kulitnya, dan cara ia menarikku. Hal yang sama seperti perlakuan tadi, tidak pernah punya kesabaran.

"Bisakah kau sedikit berhati – hati, Hyung?" ucap seseorang di depanku. Menarik tanganku ke depan wastafel dekat kamar mandi.

Mataku masih mengabur karena air mata, kaget, dan aku tidak bisa berdiri dengan benar, karena masih terguncang dengan hal yang baru dikatakan oleh ibuku. Lalu aku mengingat satu hal, apakah aku baru saja dipanggil kakak olehnya, siapa dia?

"Hyung," panggilnya. Perasaanku masih kacau dan tubuhku yang limbung di rengkuhannya.

"Hmmm," pengelihatanku sudah kembali kesemula, tidak mengabur seperti tadi karena air mata.

"Jaehyun."

"Ya! Akhirnya kau ingat itu."

"Bisa tidak kau tidak selalu ceroboh, Hyung? Kau bisa mati, karena kehabisan darah tadi." ucapnya panjang lebar.

"Tinggimu melebihi diriku," ucapku melantur.

"Aku tahu kau terguncang sekarang, jangan berkata yang aneh – aneh." Ucapnya sambil membersihkan darahku, kurasa aku mengiris jariku terlalu dalam hingga darahnya tidak selesai. Apa jariku akan diamputasi? Sesosok di batinku menangis mengangkat jarinya yang berdarah sangat banyak.

"Aku mendengar bahwa ayahmu kembali." tangisku pecah dihadapannya. Mengapa seluruh orang yang berada di sekitarku selalu mengingatku dengan itu.

"Hyung," panggilnya yang kuhiraukan.

"Shhh,"

Ia masih membalut jariku dengan plester luka. Lalu ia menarik kepalaku kedekapan yang dalam, aku menangis lagi untuk kesekian kalinya. "Kuyakin kau sudah menangis kemarin karena ini, kan."

"Reaksimu sama seperti ibumu saat ia pertama kali ditelepon olehnya, ia menangis sambil memeluk ibuku, mungkin ia marah dan rindu dengan suaminya. Tapi aku tidak bisa untuk memprovokasimu untuk membenci ayahmu karena ia meninggalkanmu. Kau mungkin bisa untuk senang dan tersenyum rindu saat ia sampai."

Jaehyun menarikku dalam pelukannya lagi, aku ingin seseorang yang membuatku nyaman. Bilang aku selalu pilih – pilih dengan situasi yang seperti ini.

"Aku tidak habis pikir, mengapa kau masih bisa bertahan dengan si dokter bajingan itu, yang meninggalkanmu dengan situasi ini. Kuyakin ia tidak meneleponmu kemarin." Ucapnya panjang lebar.

"Aku melihat seseorang di kamar tamu, ia memiliki tattoo yang banyak, apa dia temanmu, Hyung?" tanyanya.

Aku mengangguk, saat kami sampai di kamar tidurku.

Lalu aku mendapati Sehun yang sedang tiduran dan novel Twilight yang ada digenggamannya, kurasa kemarin malam aku baru ingin menyelesaikan novel itu, lalu membuat makalahnya saat itu, tapi perkataan ibuku lebih mengejutkan.

"Ia, kenapa?" tanya Sehun melihatku di dekapan Jaehyun sambil menangis.

Aku bisa merasakan hawa gelap saat ini. Aku menghapus air mataku, lalu menggenggam tangannya dengan gemetar.

"Tanyakan dengan yang bersangkutan," ucap Jaehyun tidak kalah dingin dengan Sehun, lalu meninggalkan kamarku dengan tutupan pintu pelan.

"Kau kenapa?" tanya Sehun sambil mengguncang tubuhku pelan. Aku meringis dengan genggamannya di bahuku. Cukup sakit saat ia mengguncang tubuhku. Aku tidak suka pertanyaan menuntut seperti ini, ia membuatku takut. Aku membuang tatapan keluar, bingung tapi air mataku selalu jatuh.

"Jongin," panggilnya lagi. Aku tidak bisa menatap tatapan menuntut seperti itu, perasaanku takut. Seperti terancam.

Tapi kurasa beberapa detik kemudian Sehun merasakan rasa takutku, genggamannya melembut dari pada tadi.

"Jongin," panggilan halus membuatku menatap matanya yang hangat, tanpa sedikit pun rasa terancam.

"Maaf sudah menakutimu." Ia membawaku kepelukannya, aku kembali tenggelam dalam dekapan hangat.

"Hun, aku—"

"Hun,"

"Sehun," panggilku sesugukan.

"Dia kembali, dia akan datang saat makan malam," tanpa harus meneruskan apa yang harus kukatakan, kuharap ia sudah tahu apa yang ingin kutujukan padanya.

"Aku bersamamu, Jongin." Ucapnya mengecup pucuk kepalaku lagi.

"Kau harus bersiap makan malam akan segera mulai, ganti bajumu."

"Kau juga, aku tak mau ayahku marah saat melihat sosokmu, tattoomu akan membuat orang lain takut."

'Tapi kau menyukainya, kan," ucapnya di samping telingaku hingga aku bisa merasakan deru napas hangatnya yang membuatku bergidik ngeri.

"Baru sekali ini aku melihatmu membaca novel seperti Twilight tadi," kataku.

"Aku melihatnya di samping tempat tidurmu," ucapnya singkat.

"Okay." Kataku mengakhiri percakapan kami.

Aku mengambil beberapa baju yang akan kupakai, kurasa tidak usah terlalu formal, kaos dan celana jeans hitam.

"Jongin sudah pukul tujuh," ucap Sehun menarikku keluar.

Aku tak percaya bahwa Sehun sudah selesai dengan pakaiannya. Kemeja dengan kancing atas di buka, terlihat ia menutupi tattoo di sekujur tangannya.

"Makan malam akan dimulai." Ucap ibuku di depan pintu.

Meja panjang tadi dekat dapur yang tadinya tidak berisi apa pun sudah tertata rapi dengan makanan masakan ibuku ada ayam kalkun yang sudah di oven tadi, kurasa juga ada beberapa masakan bibi Debby. Lalu di hadapanku ada Jaehyun yang sedang menyiapkan minuman dan menaruh beberapa piring, kurasa Tiffany juga diundang oleh ibuku. Cahaya yang tidak begitu temaram tetapi terang menandakan kehangatan untuk keluarga ini, meski hanya beberapa orang saja.

"Aku pulang," ucap seorang di belakang. Suara berat yang membuat diriku mematung apa lagi dengan ibuku yang menatap keluar pintu kosong.

"Aku harap tidak terlambat dalam makan malam ini," suara dengan nada senang yang berada di hadapan pintu. Ia datang.

Ayahku.

Datang.

Tubuhku limbung ke samping, tapi Sehun sudah menangkapku hingga aku tidak jatuh.

"Hai, Jongin."

Ayahku.

Berada di hadapanku.

Sekarang.

Jujur aku tidak tahu untuk berlaku seperti apa di hadapannya, saat ini aku ingin memilih opsi untuk menampar ayahku atau memeluknya dengan erat.

Aku bimbang.

Aku menggenggam tangan Sehun erat, mungkin sekarang aku mencakarnya.

Ayahku merentangkan tanganya, tanda ia ingin memelukku. Aku menatap senyum yang dalam, dan matanya yang memohon untuk datang kepelukannya. Aku tidak tahu harus berlaku apa, tapi kakiku melangkah maju, otakku menolak untuk menamparnya. Aku rindu sosok ayahku yang tak pernah kutemui sebelumnya.

Dia memelukku. "Aku merindukanmu, Jongin. Maafkan aku pernah meninggalkanmu."

Aku tidak menjawab apapun atau membalasnya.

"Aku juga, Dad." Tak lama kemudian aku memutuskan untuk berkata dalam pelukannya, supaya tidak mengecewakan hatinya.

"Makan malam akan di mulai," ucap ibuku dari belakang.

Ayahku duduk di ujung tepat di tengah meja makan, menjadi pemimpin atas makan malam ini, lalu di sebelah kananya ibuku, bibi Debby berada di depan ibuku, aku di tengah ibuku dan Sehun, lalu berhadapan dengan Jaehyun, dengan sebelah Jaehyun itu Tiffany.

"Okay, mari berdoa," pinta ayahku.

"Selesai."

"Selamat makan."

Aku mengambil makanan yang aku inginkan. "Ayo, Sehun makan yang banyak," ucap seseorang dari depan, kurasa itu Tiffany, karena tidak mungkin Jaehyun. Jaehyun terlihat tidak begitu menyukai Sehun, kurasa.

"Sehun, apa kau ingin ini?" Tiffany mencoba menaruh sup labu ke piring Sehun. Sehun menjawab apapun, ia hanya menatap Tiffany kesal.

"Kau ingin ayam panggang ini," ucap Tiffany yang membuatku kesal, mengapa ia berlaku seperti ini. Kurasa kupingku sudah mengeluarkan asap karena kesal mendengar ucap – ucapannya.

"Temanmu, terlihat dingin, Jongin." Ucap ayahku.

"Hmm," gumamku kesal.

"Ahh iya, aku lupa menyiapkan minum untuk kalian," kata ibuku sambil menepuk kepalanya.

"Sudah, bi. Aku bisa menyiapkannya," ucap Tiffany melangkah keluar dari tempat duduknya. Lalu membawa teko kaca yang terlihat cukup besar untuk di bawanya.

Ia menuangi air ke gelas ayahku lalu bibi Debby, lalu Jaehyun, lalu ia memutar menuangkan airnya ke ibuku, gelasku danyang terakhir Sehun, kurasa ia sengaja untuk menuangkannya terakhir. Ia akan melakukan sesuatu.

Awalnya ia menuangkan dengan benar, lalu ia sengaja menuangkannya keluar dari gelas Sehun, lalu air jatuh celana Sehun. Basah. "Ya, Tuhan. Maaf." Ucap Tiffany merasa bersalah. Tak sengaja atau sengaja ia menyenggol gelas Sehun lalu jatuh, dan membasahi celana yang sudah basah. Aku menggeram pelan agar tidak dengar orang lain. Lalu memutar bola mataku.

"Ahh, maaf."

Tiffany mengambil kain lalu menunduk membersihkan kecerobohannya.

"Maaf," berulang kali ia mengucapkan hal seperti itu.

"Maaf, aku harus mengganti celanaku." Ucap Sehun meninggalkan makan malam ini.

"Aku selesai," mengejar Sehun. Dan tak lupa seringaian Tiffany yang menyebalkan itu mungkin ia menang dengan ini, tapi tidak dengan yang lain.

Aku menghampiri kamar tamu duduk di pinggir kamar, melihatnya mengganti celana atas ulah Tiffany.

Aku tahu pasti ia sangat kesal.

"Hun," panggilku.

"Sehun…"

"Aku ingin pergi."

"Aku ikut," menarik tangannya lalu menggenggamnya kuat.

"Tidak, kau harus menyelesaikan makan malam." Aku menggeleng, tidak dengan bertemu Tiffany lagi.

"Jongin," aku menggeleng kuat.

"Apa aku harus menarikmu ke sana?" aku menggelengku lagi.

Aku menggeleng kuat menggenggam tangannya dengan kedua tanganku. Aku sudak member wajah memohon yang biasanya tidak bisa ditolak olehnya.

"Aku ikut denganmu." Ucapku tegas.

"Pakai jaketmu," aku terpekik senang. Lalu mengambil jaket kulit Sehun, karena ia sudah memakai jaket denimnya.

"Jaket itu terlihat besar, Jongin. Apa aku harus menarikmu ke kamarmu untuk ganti bajumu juga?" Aku mengangguk.

Ia mendengus kesal.

"Pakai ini." Ia memberiku baju putih berlengan pendek.

"Malam akan dingin." Lalu ia memberi jaket kulit hitam miliku dari lemari. Ia mengambil jaket kulitnya yang tadi kubawa ke sini di gantung ke belakang pintu kamarku.

"Aye – aye Captain." Ucapku.

"Ayo," aku menarik Sehun tidak sabaran.

Aku melihat keluar rumah bahwa ada motor Sehun di parkir depan perkarangan ruamhku. "Kau membawa Marsha ke sini?" kadang aku terkikik mengatakan nama motor Sehun, ia lebih mencintai motornya dari pada dirinya sendiri.

"Hmmm, seseorang mengirimkannya."

"Tidak biasanya kau emnyuruh orang untuk membawa motormu."

"Situasi terdesak," ucapnya singkat.

"Cepat, Jongin." Sehun menarikku lalu memberi helm berwarna biru yang biasanya ku pakai. Ia mengenakan helmnya lalu menaiki motornya.

Akhirnya ia membawaku dengan motornya, memacu adrenalinku meski kadang aku terpekik ketakutan saat ia menambahkan kecepatan. Dan tidak mungkin juga polisi bisa mengejar Sehun saat ia membawa motornya.

Aku menatap ke atas merasakan angin malam yang melewati wajahku, menusuk kulitku tanpa sarung tangan, menggigil hingga aku mengeratkan pelukanku dengan Sehun, hingga aku tenggelam. Bintang – bintang sama indahnya seperti hawa di Arizona.

Aku rindu hal yang seperti ini, damai.

.

.

.

.

.

.

.

a/n

alloooooooooo, aku balik. akhirnya aku bisa melanjutkan ff ini. fwb sudah lama ridak di apdet. gua nulis ini dengan beribu - ribu lagu gua dengerin, mungkin dua album taylor swift di abisin ama gua, tapi words nya tetep dikif. maapnya selama liburan ga apdet juga. gua nya malesan sih hihihihi, tapi kalo reviewnya banyak pasti apdet cepet, misalnya dapetin 30 review di chapter ini, pasti words nya aku banyakin sama apdet kilat.