Gak ada acara udat edit nulisnya juga beberapa jam sebelum tidur harap maklumnya

Tulisannya jelexxx 😭😭😭

Jong-in terbangun dengan sakit kepala yang tak tertahankan . Harusnya dia bisa menolak tawaran Baekyun yang mengajaknya minum soju. Sedangkan faktanya sejak dulu, tubuhnya tak bisa toleran dengan minuman itu. Jong-in mengerang kesal, mengacak rambutnya brutal lalu tersadar bahwa saat ini ia sedang tak berada di ruangannya tapi ditempat yang tak asing dan sangat ia rindukan. Kamar Sehun, terselip perasaan sedih yang menyelimuti hatinya. Sudah lama sekali dia tidak memasuki ruangan ini. Terlalu banyak kenangan disini yang sampai kapanpun akan selalu sulit dilupakan. Jong-in mencoba mengingat lagi hari pertama Sehun mengatakan betapa dia mencintai Jong-in. Saat dimana Jong-in sulit tidur dan suara Sehun membuatnya terlelap. Kenangan indah itu...

"Kau sudah bangun. Cepat keluar dan bersihkan dapur. Luhan akan datang setengah jam lagi. Dia pasti akan mengeluh lapar. Aku tak suka dapur yang kotor." Jong-in mengangguk gugup terlalu terkejut mendapati Sehun berada dihadapanya.

"Se- tuan. Kenapa aku ada disini." Kata Jong-in tanpa menatap Sehun. Sehun mendecih.

"Jika kau akan berakhir amnesia seperti ini. Berhentilah mabuk mabukan dan bersikap tidak rasional kemudian. Menyusahkan. Aku tidak tau dimana aku harus pergi untuk menyekolahkan kucing liar sepertimu."

"Apa aku berbuat sesuatu?"

"Kau hampir merusak pintu kamarku menendangnya semalaman sehingga aku harus tidur di sofa karena kau merengek ingin tidur dikasurku. Jangan banyak bicara lagi, bereskan dapur." Sehun berjalan memutar badan untuk pergi.

"Tuan." Sehun mendengus kasar.

"Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

"Berhentilah memanggilku dengan panggilan bodoh itu."

"Benarkah, bolehkah..." Kilau mata Jong-in terlihat cerah dan bersemangat. Mungkinkah ini pertanda bahwa Sehun mulai memaafkannya. Bolehkah dia berharap.

"Hmm... Setiap kau memanggilku seperti itu. Aku merasa kau sedang mengejekku."

"Tapi aku tid-"

"Luhan sebentar lagi sampai. Bereskan dapur." Sehun pergi meninggalkan Jong-in yang tertunduk sedih. Masihkah Jong-in tetap bertahan? Sekarang Luhan adalah segalanya Kim, sadarlah.

#####

Hujan turun mengguyur SIU dengan begitu deras. Tatapan semangat Jong-in berubah menjadi lesu. Tidak ada yang tau bagaimana alam bisa berubah - ubah seenaknya. Mengeluh tak membuahkan hasil pria Tan itu lebih memilih untuk menikmati guyuran hujan yang kian menderas. Beberapa kali hembusan nafas terdengar berat. Jong-in memainkan bolpoinnya asal mengetukkan ujung bolpoin kearah kepalanya. Berfikir keras sambil membolak-balik balikan lembaran koran dengan kesal. Tak ada satupun perkerjaan yang cocok untuknya. Kebanyakan lowongan kerja membutuhkan waktu yang sangat menyita. Dia bahkan tidak bisa pulang lewat pukul 8 belakangan ini. Walaupun semua kebutuhan makan dan tempat tinggal masih ada dalam tanggungan Sehun. Tetap saja sebagai seorang manusia yang masih memiliki otak. Dia bisa berkerja untuk mencukupi kebutuhanya yang lain tanpa melibatkan Sehun. Walaupun Sehun tak pernah mempermasalahkan hal ini. Hanya saja semua kondisi yang terjadi antara dia dan Sehun kini amat sangat jauh berbeda. Kini jongin hanya seorang pembantu yang meminta belas kasihan majikan. Tak lebih. Jong-in menelengkupkan wajahnya putus asa.

"Hey! Kau begitu tampak buruk bung." Seseorang menepuk pundak nya ringan. Jong-in mendongkak kaget dan mendengus kemudian.

"Kau mengagetkanku. Lay Hyung!" Pria itu hanya tersenyum lalu menarik kursi disebelah Jong-in.

"Minumlah." Jong-in mengambil cap kopi yang ditawarkan Lay. " Akhir - akhir ini kemana kau pergi. Xiumin dan Chen, mereka merindukanmu katanya."

"Aku hanya sedang tidak punya uang."

"Ehh hey! Apa kau pikir kami hanya ingin berteman saat kau punya uang. Menjijikan sekali pikiranmu. Walaupun kita hanya berteman selama 2 tahun tapi kau Baekyun, Xiumin dan Chen sudah seperti saudara bagiku. Jangan remehkan kita."

"Ughh jangan marah aku tidak bermaksud seperti itu." Lay mendengus.

"Eh kau sedang mencari kerja?"Kata Lay sambil melirik lembaran Koran yang telah banyak lingkaran spidol. Jong-in menggaruk kepalanya. Tersenyum kecil.

"Sudah menemukan yang cocok." Menggelang.

"Kalau begitu bagaimana kalau kau berkerja diminimarket dekat tempatku berkerja. Kebetulan disana menerima lowongan untuk mahasiswa sepertimu. Disana kau di bayar perjam. Kau bisa menyesuaikan waktu kuliahmu dengan waktu kerjamu dengan nyaman.

"Benarkah? Akan ku coba." Senyum Jong-in mengembang.

"Geomaoyeoo Lah hyung." Kata Jong-in sambil memeluk Lay yang menepuk punggungnya berusaha menguatkan pria Tan itu. Tak perlu banyak kata untuk menjelaskan karena Lay tau yang terjadi dengan pria Tan ini. Kemalangan yang datang bertubi-tubi. Seluruh SIU juga tau Jong-in adalah kekasih tersayang Sehun. Dan melihat pria ini terluntang lantung Seperti ini, pastilah sesuatu terjadi. Dan Lay sudah tau ceritanya dari Byun Baek dan sebagai sahabat sudah sewajarnya dia ada disaat pria itu terpuruk.

"Apa yang sedang kalian lakukan?"

"Baekhyun!" Jong-in melepaskan. Pelukannya.

"Lay Hyung dia memberikan info tentang lowongan kerja."

"Bukankah sudah berkerja dengan tuan Oh. Lalu untuk apa lagi." Sinis Baekyun. Ah Jong-in sudah lupa, sejak kapan Byun Baekhyun si ceria berubah menjadi menyebalkan seperti ini.

"Aku hanya ingin berkerja."

"Kalau kau ingin berkerja kenapa tidak keluar dari perkerjaan pembantumu sekarang."

"Baekhyun!" Jong-in kesal karena Baekhyun membuka aibnya di depan Lay.

"Kenapa kau malu? Lagipula Lay sudah tau. Semua orang di SIU juga sudah tau kalau kau sudah jadi pembantunya tuan Oh. Sudahlah berhenti mempermalukan dirimu. Lagi pula sebentar lagi Sehun juga akan menikah dengan Luhan. Mereka akan membangun keluarga bahagia. Apa susahnya pergi lagi pula selama ini yang kulihat kau hanya menyakiti dirimu sendiri. Sehun bukan Sehun yang dulu pahamlah kau bukan manusia bodoh kau punya mata. Dan seharusnya kau sadar bahwa Sehu-"

"Baekhyun cukup. Kau sudah melampaui batas!" Kata Lay menyela. Sementara Jong-in hanya menunduk.

"Tapi dia harus tau! Dan berhenti itu yang terbaik!

"Baekhyun!" Bentak Lay menyiratkan Baekyun tentang keadaan Jong-in.

"Aku tau seharusnya aku berhenti." Jong-in tertawa hambar.

"Oh shit aku tak pernah bermaksud untuk kasar. Jong-in maaf aku sudah muak melihatmu bersedih sepeti ini!"

"Tidak apa - apa aku mengerti. Sehun punya rencana hidup yang baik kedepannya. Aku bukan siapa - siapanya lagi. Mataku sudah lama terbuka untuk ini. Jangan khawatir. Aku hanya ingin berusaha membayar hutangku pada Sehun. Setelah itu aku tak perduli lagi." Jong-in tersenyum lalu membereskan semua peralatan, memasukannya dengan terburu-buru dan pergi menghiraukan teriakan maaf dari Baekhyun dan panggilan dari Lay. Jong-in ingin tidur dia lelah. Air matanya mulai menetes pedih. Berjalan diiringi hujan, Jong-in merasakan kesakitan yang baru. Badannya bergetar hebat karena dingin dan rasa sesak dihatinya. Isakan isakan kecil mengiringi langkahnya.

"Bodoh!"

#####

Klik. Jong-in melepas sepatu basahnya tergesa - gesa. Memasuki apartemen Sehun, berharap pria albino itu tidak berada didalam dan terjebak ditengah hujan deras. Jong-in tidak ingin bertemu atau menatap pria itu. Baekhyun benar seharusnya Jong-in berhenti, Sehun punya kehidupan sempurnanya sekarang. Bagi Sehun seorang Kim bukan apa - apa lagi untuknya. Dia punya Luhan yang sempurna bahkan Jong-in mengakuinya dengan jujur bahwa dibandingkan dirinya. Kim memang bukan apa - apa.

Dengan tubuh bergetar Jong-in menatap Sehun dan Luhan yang sedang menonton tv dengan tubuh saling merangkul. Berpura-pura tak ada yang terjadi Jong-in melangkah pasti melewati kedua orang itu. Mengabaikan panggilan Sehun yang berulang kali memanggilnya. Jong-in tak perduli. Sehun tak boleh melihat keadaan menyedihkannya. Dia tak ingin terlihat lemah, apa lagi dengan adanya Luhan. Walaupun semua harga dirinya telah jatuh setidaknya berhenti terlihat lemah adalah langkah bijak.

"Apa kau tidak mendengar?" Jong-in sedikit meringis merasakan cengkraman kuat ditangannya. Sehun menatapnya tajam, seolah menyimpan kemarahan besar. Entah kenapa segala emosi bercampur dan ingin terluapkan menyerang tubuhnya. Dengan sekuat tenaga Jong-in melepaskan cengkraman Sehun.

"Jangan menyentuhku!' Raung Jong-in. Kembali melangkahkan kakinya menjauhi Sehun.

"Ada apa denganmu!"langkah kasar Sehun terdengar mengikutinya dari belakang. Membuat Jong-in lebih gemetar. Dengan cepat Jong-in menggapai knop pintu dan masuk, sayang sekali seebelum pintu tertutup Sehun sudah terlebih dulu menahannya. Kali ini Sehun tampak dua kali lipat lebih marah dari sebelumnya. Pria albino itu membuka paksa pintu kamar Jong-in dan membantingnya dengan keras.

"Brengsek ada apa sebenarnya denganmu." Sehun menyeret Jongin dan melemparkan Jong-in keatas kasur. Sementara pria Tan itu hanya menunduk, menahan air matanya kembali turun. Heh, bahkan tanpa Jong-in tutupi Sehun dapat melihat seberapa berantakannya Jong-in. Sehun melangkah mengambil dua lengan Jong-in menariknya untuk membuat Jong-in dalam posisi duduk yang tegakl lalu kemudian Sehun menjongkokan dirinya dihadapan Jongin. Pria Tan itu masih enggan mendongkak kepalanya. Isakan yang tertahan mulai terdengar.

"Kenapa kau hujan - hujanan! Bodoh. Jawab aku, kau kenapa. Siapa yang membuatmu seperti ini."Jong-in menarik tangannya pelan - pelan. Tapi Sehun menahannya dengan kuat seolah memberi tau Jong-in jika sekarang Sehun benar-benar marah.

"Luhan sedang menunggumu. Sebaiknya kau kembali." Kata pria Tan itu berusaha terdengar baik - baik saja.

"Jangan mengalihkan pertanyaan."

"Kumohon pergi!"

"Kim. Jong-in. Jawab aku sekarang!"Jong-in mengeram kesal.

"Bajingan apa kau tak punya mata hah! Aku baik - baik saja. Jangan bertingkah seolah kau perduli. Berhenti menyiksaku!" Raung Jong-in tepat dihadapan Sehun. Nafas putus - putus Jong-in terdengar menderu. Sehun melepas tautan tangannya kasar. Lalu berdiri angkuh.

" Menyiksamu sejak kapan? Apa kau gila aku bahkan merasa tak pernah melakukan apapun padamu. Kau menyiksa dirimu sendiri." Jong-in terpaku pada jawaban yang Sehun berikan. Jadi Sehun tidak menyadari apa yang telah dia lakukan? Padahal hati Jong-in sudah hancur lebur seperti ini. Terimakasih telah memperjelas semuanya. Memperjelas bahwa seorang Kim tidak berarti.

"Baekhyun benar." Mata Jong-in bertambah panas.

"Baekhyun," ulang pria albino, tangannya terkepal keras.

"Iya Kris benar, Chanyeol benar, Luhan benar dan D.o juga benar. Semua orang benar! Bahwa aku terlalu berharap. Sebesar apapun rasa cintaku padamu itu adalah kesalahan. Bahkan dunia akan membenciku jika aku tetap bertahan."

"Berhenti berkata omong kosong. Kau mempercayai mereka. Kau bukan seorang naif."tanggap Sehun dingin.

"Sehun sudah malam, ayo kembali ke kamar." Luhan. Muncul dengan raut dingin memandang Jong-in mencela.

"Kembalilah!"balas Sehun.

"Sehun bukankah besok kita akan mencari tempat pertunangan kita, kita harus bangun pagi bukan. Kau tidak akan membuat ku kecewa, kan."

"Iya." Balas kekasihnya singkat. Luhan mendengus. Dia tidak akan membiarkan Sehun berlama-lama dengan rubah ini. Bisa berbahaya.

"Kau sudah janji akan memanjakan kulit hari malam ini. Aku bahkan sudah menyiapkan lilin aroma dikamar mandi. Kau tidak lupakan akan mandi bersama denganku." Jong-in mengigit bibirnya yang mulai bergetar. Belum lagi seluruh tubuhnya menggigil.

"Iya." Balas Sehun.

"Kalau begitu ayo. Apa yang kau tunggu."

"Pergi sebelum aku hilang kesabaran."

"Apa?" Luhan sama sekali tak menyangka jika Sehun akan memperlakukannya seperti ini. Semana Sehun yang selama 3 bulan ini yang sangar mencintainya. Luhan menekan amarah dan kekecewaannya.

"Apa kau tak mendengar tunanganmu mulai merengek heh," sela Jong-in berusaha terdengar biasa. Luhan mendengus beraninya dia mengatakan hal itu. Tapi tak apa melihat Jong-in menyedihkan seperti ini sudah membuatnya puas.

"Kau akan mencari tempat untuk acara pertunanganmukan," lanjut Jong-in menatap Sehun yang juga masih menatapnya. Jong-in menghela nafas.

"Lagipula aku ingin mengganti bajuku. Lagipula kalian pasti tidak akan nyaman berada di tempat kecil ini. Kembali ke kamar hangat kalian dan nikmati acara bercinta yang sempat tertunda itu." Ujarnya menatap Luhan dan Sehun.

"Kenapa penghangat disini mati. Apa kau bodoh hanya untuk melaporkanya padaku?"

"Tidak penting." Kata Jong-in santai.

"Jong-in!"bentak Sehun.

"Sehun ayo kita pergi. Untuk apa mengasihani orang seperti dia." Luhan meraih tangan Sehun.

"Aku memang pengemis." Balas Jong-in ringan.

"Menyedihkan. Ayo sayang." Ajak Luhan.

"Pergilah,"

"Oh Sehun!"

"Xi Luhan! Kesabaranku sudah habis." Bentak Sehun." Aku akan berada disini! Aku butuh untuk menenangkan Jongin." Sontak pernyataan Sehun membuat Luhan dan Jong-in kaget.

"Kau apa?" Ujar Luhan membola. Air mata mulai mengenang di ujung mata Luhan.

"Putuskan sekarang kau pilih dia atau aku!" Kata Luhan final. Jong-in merasakan jantungnya berdebar kencang, menunggu Jawaban apa yang akan Sehun katakan. Menunggu dan berharap. Mungkinkah masih ada harapan baginya untuk bersama Sehun.

"Aku memilihmu tentu saja. Sekarang kembalilah aku akan menyusulmu sebentar lagi. Aku menenangkannya agar dia tidak membuat masalah. Kau harusnya paham Luhan." Luhan menarik nafasnya dalam melirik Jong-in yang terdiam kaku. Setidaknya dia tak usah khawatir untuk sekarang. Luhan tau Sehun pasti akan selalu memilikinya.

TBC

Maafkan gue ya buat Nini tersyikyahh... Annyeonghijumuseo...