"Saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Rasanya melihat mayat itu sama seperti mimpi buruk.." pria tua itu mulai meracau.

Saat Kyuhyun berjalan mendekati ranjang, ia bisa melihatnya. Di dalam rongga tubuh korban yang terbuka, setangkai lili putih yang sudah layu tergeletak. Wajah kaku mayat ini menampakan ekspresi kesakitan dan di atas keningnya tergores sebuah kata,

'Lilium'

Siapa? Siapa? Siapa sebenarnya yang telah berlaku begitu kejam seperti ini?!


.

.

Lilium

Coniectura

-Dugaan-

:: Diinaa Ajeng Puspita ::

.

.

.


"Sungguh! Kupikir kau akan membawa jenazah normal sekali saja! Tapi ternyata yang ini lebih parah dari yang sebelumnya!"

"Jangan salahkan aku, pelakunya yang berbuat seperti itu,"

Setelah menyuruh bawahannya membawa si mayat untuk bisa diautopsi lebih lanjut, Kyuhyun dan yang lainnya bergegas kembali, bermaksud ke Rumah Sakit Kepolisian. Sungmin, Ryeowook juga Henry kembali ke kantor untuk menulis laporan sedangkan Kyuhyun segera menyuruh Heechul juga Leeteuk untuk memeriksa secepatnya. Kyuhyun sama sekali tidak sabar untuk mendapatkan hasilnya. Ia harus tahu, jika mungkin saja jasad kali ini memiliki atau menyimpan beberapa petunjuk penting yang memungkinkan untuk menguak identitas pelaku berdarah dingin sepenuhnya. Dan setelah menunggu sekitar lima puluh menit, Heecul dan Leetuk keluar.

Dengan wajah luar biasa lelah, Heechul mulai bicara, "Aku bahkan sudah tidak tahu lagi harus merobek bagian apa. Tubuh itu sudah terkoyak sedemikian rupa!" keluhnya.

"Tidak ada racun. Ia pingsan sebelum dibunuh murni karena kepalanya dipukul sesuatu. Kami menemukannya, ada luka cukup besar dan dalam di tengkorak bagian belakang," Leeteuk memperhatikan arloji miliknya lalu kembali melanjutkan, "Dari pembusukan yang dialami tubuh korban, kejadian pembunuhan ini mungkin sekitar dua atau tiga hari yang lalu,"

"Ah.. Kita menemukan dua lengannya kemarin di Gereja, ingat?" ujar Kangin.

Leeteuk mengangguk, "Kami sempat kesulitan mengenali wajah korban, tapi setelah kami teliti lebih lanjut dan mencari informasinya pada dokumen lama, Dia.. korban adalah seorang pria berumur tiga puluhan tahun, pengangguran dan.. ia adalah tersangka pemerkosaan yang marak terjadi akhir-akhir ini,"

Mata Kyuhyun terbelak. Pemerkosa? Mengincar pelaku kejahatan lagi? Berarti semua yang Siwon ungkapkan padanya semuanya benar.

"Tapi aku tidak mengerti… korban kali ini terlihat benar-benar mengenaskan, bukan? Dari semua luka yang didapat korban kali ini dengan korban sebelumnya sangat berbeda. Maksudku.. korban kali ini diperlakukan begitu kejam. Entah kenapa aku menyimpulkan Pelaku seperti terlampau dendam pada korban kali ini. Tubuh korban dihujami benda tajam yang kami duga seperti kapak besar, berkali-kali tanpa belas kasihan.. Potongannya kasar, tidak seperti korban lainnya.. Pelaku.. terlihat begitu emosi untuk kasus ini,

Dan yang membuatku heran, apa pelaku memang membunuh korbannya tergantung dari seberapa besar atau 'apa' kesalahan mereka?" Heechul melanjutkan setelah berhenti sejenak.

"Apa maksudnya?" Siwon bertanya. Ia tak mengerti maksud Heechul yang sedari tadi terlihat beragumentasi sendiri. Dua di antara mereka terlihat tenang, tampak tak terlalu memikirkan dugaan Heechul yang mereka sudah tahu kebenarannya.

Leeteuk sedikit ragu menjelaskannya. Ia melihat satu persatu anggota kepolisan elit di hadapannya, "Dia.. korban… setelah kami memeriksa, mengautopsinya lebih lanjut, ada salah satu bagian tubuh yang ganjil.. yang berbeda dari korban sebelumnya. Korban.. bagian rectum korban terluka parah,"

"Ma..Maksudmu dia..?"

"Ya, korban kali ini.. Pria itu diperkosa," lanjut Heechul yang kali ini membuat perut Changmin bergejolak dan mual. Ia sungguh ingin muntah saat ini juga. Sekarang, di tempat ini.

.

.

.

Kibum berjalan gontai memasuki kantor, ia merasa semua penjelasan Dokter Shin di rumah sakit tadi terasa janggal. Kini kepalanya penat dibuatnya. Tidak boleh seperti ini, ia tidak boleh berpikir yang bacam-macam, jangan terlarut dalam dugaan yang tidak masuk akal. Tidak baik bukan, jika sampai ia harus salah prasangka terhadap teman-temannya sendiri? Ia seharusnya bisa berfikir lebih positif. Berharap saja kalau semua itu hanya kebetulan semata dan semuanya selesai. Tapi entah kenapa, rasanya masih aneh.. perasaannya menjadi begitu berat. Instingnya sebagai polisi seperti mendorongnya untuk mencari tahu lebih banyak informasi juga kemungkinan. Ia merasa ingin tahu kenapa.. kenapa mereka berbuat seperti itu?

"Kau sudah kembali, ne, Kibum-ah?" seseorang menyapanya, sedikit membuat Kibum tersadar akan lamunannya. Ia menoleh dan mengangguk lalu segera menduduki kursi di meja kerjanya.

"Eunhyuk sudah tidak apa-apa?" tanya Sungmin lagi. Kibum terdiam sebentar lalu mengangguk perlahan, "Ia.. baik-baik saja, Hyung," jawabnya tenang.

Sungmin menghela nafas lega, "Syukurlah, aku khawatir sekali. Untung luka tembaknya bisa diatasi," katanya seraya menaruh beberapa lembar kertas di atas meja. "Ini laporan yang harus kau lanjutkan,"

Kibum berterima kasih. Ia membuka lembaran kertas laporan itu cepat kemudian berpaling. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruang kantor, bermaksud mencari seseorang, "Yang lain ada di mana, Hyung?"

"Ah.. mereka semua ada di laboratorium, menunggu hasil autopsi,"

"Pembunuhan Lili itu ya? Korban lainnya?"

"Iya… sepertinya korban dari potongan lengan yang kami temukan kemarin di gereja,"

Kibum mengangguk paham namun sedikit bergidik tak nyaman. Tak lama, enam sosok yang mereka bicarakan muncul dan keluar dari lift. "Itu mereka," tunjuk Sungmin. "Kalau begitu Aku kembali ke mejaku ya?" ujar Sungmin undur diri dan segera kembali ke meja kerja miliknya yang tak jauh dari ruangan Kyuhyun.

Kibum memperhatikan salah satu di antara mereka. Ah, apa memang rasa curiganya ini sudah keterlaluan? Kibum menghela nafas lelah, befikir untuk lebih baik melanjutkan pekerjaannya kembali. kalau hasil autopsi korban sudah didapat, ia pasti akan mengurusi pencatatan ulang di dokumen kepolisian. Ia tidak boleh terganggu pada prasangka-prasangka yang belum tentu benar dan yang seenaknya terus saja terngiang tak henti di kepalanya.

.

.

.

Dua pasang lengan merengkuh tubuhnya erat dari balik punggung, membuat matanya terbuka untuk sekedar melirik sosok 'pemeluk' dari cermin di hadapannya. Sosok itu kini menggunakan bahunya sebagai tumpuan kepala, hidungnya menyentuh kulit lehernya, membaui aroma tubuhnya.

"Ini di kantor, Zhoumi,"

"Aku rindu padamu," jawab Zhoumi tanpa mengindahkan peringatan kekasih gelapnya. Tangannya bergerak menelusup ke balik kemeja seragam pemuda dipelukannya itu, menelusuri kulit halusnya. Bibirnya mengecup singkat bahu yang sedikit terbuka.

"Cukup, berhenti Zhoumi," sekali lagi pemuda itu menggeram, tanda ia tidak begitu suka dengan apa yang Zhoumi lakukan padanya.

Zhoumi hanya bergumam menanggapinya. Ia membalikan tubuh pemuda itu hingga mereka saling berhadapan. Zhoumi tersenyum tulus. Jemarinya mengusap lembut dari pelipis, turun ke pipi kemudian mengangkat dagu untuk mencuri ciuman. Zhoumi tidak pernah bosan mencicipi rasanya. Bibir pemuda ini terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja. Zhoumi mencoba peruntungan untuk melanjutkan lebih dari ini. Ia memasukkan lidahnya, mengajak organ lunak lainnya menari hingga mereka hampir kehabisan nafas.

Pemuda itu terbelak. Ia meronta keras dan berhasil mendorong kuat Zhoumi untuk mundur menjauh. Dua alisnya terpaaut, iris matanya menatap tajam pria yang menjadi partner 'pekerjaannya'. Satu tamparan keras menghampiri wajah tampan pria itu. "Kubilang berhenti! Tidakkah kau sadar dimana ini?!" kecamnya seraya mengusap lelehan saliva di sudut bibirnya kasar.

Zhoumi menunduk dalam. Ia tahu toilet dalam kantor sepi tapi belum tentu aman. Seseorang atau siapun saja bisa melewatinya atau masuk begitu saja, kapan saja. Kali ini ia memang ceroboh, tapi ia sungguh tidak bisa menahan kehendaknya untuk tidak memeluk pemuda ini. Zhoumi merindukannya. Ia selalu berharap bisa bersama pemuda ini kapanpun ia mau, tidak peduli tempat atau siapapun yang melihat. Di belakang maupun di depan publik.

"Kalau melakukan hal seperti tadi lagi, aku tak segan membunuhmu, Zhoumi,"

Pernyataan dingin pemuda itu membuat Zhoumi tersadar. Jelas semua angannya tidak bisa tercapai begitu saja. Pemuda ini hanya menganggap dirinya sebagai partner kejahatan semata, tidak yang lain, tidak ada perasaan lebih dari itu. Posisi Zhoumi tidak akan berubah. Tapi tidak apa, asal Zhoumi bisa terus bersamanya, bisa menemaninya, bisa selalu ada di sekitarnya itu sudah cukup. Zhoumi akan melakukan apa saja yang bahkan melanggar pendiriannya sendiri. Ia tidak akan keberatan asal pemuda ini tidak pergi darinya. Dan saat pemuda itu mulai marah padanya, Zhoumi menjadi kalut. Ia tidak ingin.. tidak ingin..

"Maafkan aku, Dear..,"

Pemuda itu mendengus kasar, berbalik menghadap cermin kembali dan merapihkan penampilannya yang terbilang cukup berantakan. Zhoumi memperhatikannya. Ia mengingat percakapan di laboratorium tadi bersama anggota bagian forensik. Sesuatu yang mengusiknya. Ia sadar apa yang pemuda ini lakukan terhadap korban, ia membantunya bukan? Tapi Zhoumi sekali lagi harus menyesali diri yang tidak pernah bisa mengerti apa isi juga jalan pemikiran pemuda ini. Kenapa? Zhoumi sempat bertanya 'waktu itu', waktu dimana pemuda ini mengadili para pendosa itu. Malam itu, baru kali itu Zhoumi melihatnya semarah itu, berlaku sebengis itu, berteriak tak tentu, menghujat kasar dan sebagainya. Kalau tidak Zhoumi hentikan, ia bahkan tidak tahu apakah korban kali ini akan 'utuh' setidaknya untuk sekedar diautopsi. Sebenarnya apa maksudnya? Apa yang tidak Zhoumi ketahui darinya?

"Jangan terlalu berharap padaku, Zhoumi,"

Zhoumi mendongak, pemuda ini bicara apa tadi?

"Kau akan menyesal nantinya,"

"Aku sudah berjanji akan bersamamu kan? Keputusanku benar, tidak ada yang salah dan aku tidak menyesal sama sekali,"

"Aku tidak bisa membuatmu ikut campur lebih dalam masalahku. Aku ingin kau berhenti, jangan mengikutiku terus."

Zhoumi menggeleng keras. Ada apa? Kenapa ia tiba-tiba berkata seperti itu? Rasanya menyakitkan sekali.. tidak mau.. Zhoumi tidak ingin pergi meninggalkannya. seolah mengerti apa yang tengah Zhoumi pikirkan, si pemuda menghela nafas. "Perbuatanku suatu saat pasti akan terkuak oleh kepolisian lama atau tidak. Jika kau masih bersamaku, kau akan terkena tanggungannya juga,"

"Tidak apa!" Zhoumi masih saja bersikeras.

"Tidak boleh!"

"Kau mengkhawatirkanku?"

"…"

Zhoumi dengan cepat menarik lengan pemuda itu dan memeluknya kembali, tidak memperdulikan tubuh pihak lainnya menegang. "Aku sudah berjanji padamu… aku yang memutuskannya, aku yang menginginkan ini semua. Aku akan membantumu, Aku akan menjaga rahasiamu, Aku akan menemanimu. Tidak peduli siapa kau sebenarnya, tidak peduli apa yang kau lakukan pada para pendosa bedebah itu. Akan kubunuh mereka jika kau memintanya, akan kusingkirkan mereka jika itu menghalangi jalanmu… Aku sudah berjanji, Aku sudah berjanji,"

"…"

Zhoumi mulai terisak dan pelukannya semakin erat, "Jangan pergi.. Jangan pergi.. Jangan tinggalkan aku, Dear.."

Pemuda itu diam tak bergerak, matanya menatap langit-langit di saat bersamaan semua menjadi terasa sulit baginya. Sejenak ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia menghentikan semua kegilaannya selama ini? Wajahnya mengeruh, semua memorinya di masa lalu yang begitu kelam selalu bisa membulatkan tekadnya, menguatkan hatinya untuk membalas semuanya. Kalau Zhoumi seperti ini, bukankah lebih baik? Ia juga seharusnya tidak berhenti bukan? Karena semua yang ia lakukan tidak lain dan tidak bukan hanya untuk 'dia' seorang…

Ia merasakannya, tubuh Zhoumi yang gemetar masih memeluknya erat, tubuh gemetar yang sama dengan sosok yang tanpa mereka sadari berdiri di balik daun pintu toilet. Tangan orang itu bergerak kaku menutup mulut, tak membiarkan dua 'pembunuh' itu menyadari kehadirannya sebagai pihak ketiga pembicaraan mereka. Orang itu sungguh tak percaya pada percakapan yang ia curi dengar ini.

"Ya Tuhan..," bisiknya lirih. Ia kini takut luar biasa.

.

.

.

Kyuhyun menutup pintu kamar rawat inap itu dengan sedikit keras dan kini ia sedikit menyesalinya setelah mendapat beberapa teguran dari beberapa suster rumah sakit yang berjaga. Sial! Bikin malu saja! Sekarang sudah pukul tujuh malam, beberapa menit yang lalu ia baru saja menjenguk Eunhyuk. Semua ini terpaksa ia lakukan karena Sungmin yang memintanya. Kekasihnya itu berkata bahwa Kyuhyun tidak sopan, tidak menjaga sikap hanya karena siang tadi Kyuhyun memaksa pulang ke kantor padahal Eunhyuk mungkin saja masih perlu bantuan. Dan sekarang Kyuhyun harus menyanggupi permintaan Sungmin untuk meminta maaf langsung pada Eunhyuk yang padahal bisa saja ia lakukan di telepon.

Dan seharusnya Kyuhyun tidak menurutinya! Lihatlah beberapa menit sebelumnya. Ia yang datang dengan beberapa makanan kecil sebagai permohonan maaf malah diketawai habis-habisan oleh bawahannya yang seperti monyet itu! Eunhyuk tak henti-hentinya mengatai dia, dan bersikap seperti tuan besar yang menyuruh-nyuruh dengan ancaman akan melaporkan Sungmin kalau sampai Kyuhyun tidak melakukan apa yang diminta. Pada akhirnya Kyuhyun yang tidak tahan pun marah, dan mereka berdua berakhir dengan perdebatan luar biasa. Kyuhyun memilih pulang!

"Aku sudah minta maaf! Kau dimana?" tanyanya. Dua kakinya melangkah keluar lift menuju basement tempat mobilnya terparkir.

'….'

"Akan kujemput, tunggu di sana! Kita akan ke apaetementmu bersama-sama," sementar satu tangannya masih memegang telepon genggam, tangan Kyuhyun yang lain merogoh saku celana dan mencoba membuka kunci mobil.

'….'

"Tidak apa. Aku tidak keberatan bolak-balik. Jangan khawatir, Ming-ah.."

'…'

"Ya, sampai nanti,"

Kyuhyun melempar teleponnya itu ke samping kursi kemudi, menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya. Kini ia harus kembali ke kantor menjemput Sungmin, baru pulang ke apartemen mereka. Kalau diingat apartemen Sungmin yang letaknya lebih dekat dari rumah sakit ini, bisa dikatakan Kyuhyun akan bolak balik perjalanan, tapi tak apalah, Kyuhyun tersenyum senang, demi Sungmin apa sih yang tidak? Dan seketika itu seseorang yang sepertinya terburu-buru mendadak melewati mobilnya, mendadak Kyuhyun menghentikan laju mobilnya yang dirasa seperti menabrak.

Bergegas Kyuhyun keluar dari dalam mobil, wajahnya menegang melihat seseorang yang baru saja ditabraknya, "Kibum?!"

Kibum yang terduduk di aspal mendongak melihat atasannya. Kakinya terasa nyeri setelah dihantam tadi. Ia meringis. Melihatnya, Kyuhyun segera mengecek bagian tubuh Kibum yng lain. "Apa? Ada yang luka? Mana yang sakit? Astaga Kibum! Jangan menyebarang kelewat sembrono seperti tadi, kau ingin mati konyol?! Masih untung kakimu saja yang terluka!"

Kibum tidak menjawab, kepalanya terlalu banyak pikiran sekarang. Ia hendak berdiri namun kakinya terasa lemas. Kyuhyun makin khawatir melihat bawahannya. Ia segera memapah Kibum berdiri, "Aku minta mmaf Kibum-ah. Kau ingin ke rumah sakit? Kau pasti baru menjenguk Eunhyuk juga kan?"

Kibum menggeleng, "Tidak usah, aku baik-baik saja,"

"Kalau kau tidak mau, bagaimana kalau ke apartemen Sungmin? Letaknya dekat sini-"

"Tidak perlu. Dasar atasan keras kepala! Aku bilang aku baik-baik saja!"

Kening Kyuhyun berkedut. Ia jengkel sekarang, "Tidak apa apanya? Kakimu terluka! Sudah! Ikut aku ke apartemen Sungmin, akan kuobati kau nanti di sana. Jangan buat aku seperti atasan yang tidak bertanggung jawab! Apalagi aku ketua Kepolisian!"

Kibum menghela nafas dan dengan terpakasa mengikuti Kyuhyun. Selama di dalam mobil, Kyuhyun tak berhenti mengomelinya, bertanya kenapa ia terburu-buru seperti itu. Kibum hanya diam tak menanggapi, Dugaan di kepalanya kini lebih penting dari apapun. Ia akan menyelesaikannya sendiri, ia akan mengungkapkannya sendiri!.

Sesampainya di apartemen mewah itu, Kyuhyun mengantar Kibum ke lantai tempat Sungmin dan terkadang Ia biasa tinggal. "Kau membuatku seperti orang tidak sopan dengan membiarkanku sendirian di apartemen orang lain, tuan Cho!" sindir Kibum keras.

Kyuhyun menatapnya jengah "Kau di sini saja. Aku akan menjemput Sungmin dulu di kantor, Kau tunggu kami pulang. Aku yakin melihat keadaanmu nanti, Sungmin pasti akan memasakan sesuatu untukmu, Kita akan makan malam bersama," ucap Kyuhyun dan segera pergi meninggalkan Kibum yang masih saja terdiam seraya memperhatikan punggungnya yang kian menjauh.

.

.

.


To be continued


Q: Kok Chapternya pendek sih?

A: Aduuhh.. sungguh deh! saya dapet ilham cerita udah saya syukurin banget. Beneran saya minta maaf kalau memang masih pendek-pendek.

Q: Kok jadi curiga sama Kirie? siapa dia?

A: Dia memang tokoh utama yang terlibat kok, tapi nanti pasti akan kujelaskan lebih lanjut.

Q: Apa Hyukjae punya dua kepribadian?

A: Tidak sama sekali.

Q: Hae suka sama orang lain? siapa?

A: Iya. Jadi, walau Eunhyuk suka dia, jangan salah sangka Hae juga punya perasaan yang sama ya?

Q: Penasaran! Ada klue tambahan tidak?

A: Sebenarnya dari chapter lalu sudah saya sisipkan lho. Tidak sadar?

Q: Siapa pembunuhnya? Orang dalam kah? Orang luar kah?

A: Orang dalam pihak Kepolisian.


A/N: Jumpa lagi! Termasuk update kategori ASAP bukan chapter ini? *nyengirkuda*. Chapter ini memulai perkembangan kasus ^^ maaf untuk kalian yang merasa alur ceritaku lelet, tapi memang itu maksudku kok. Karena sudah update, tinggalkan jejak ya? hargai orang lain kalau kamu ingin dihargai! Tidak terima flame tapi terbuka untuk kritik yang membangun!

Semoga hari kalian menyenangkan! RnR, onegai?