"Kenapa kamu bolos latihan kemarin?"
Yukimura berdiri di depan Ryoma sembari melipat tangan di depan dada. Wajahnya yang biasanya ramah kini berubah menjadi sangat tegas dan sedikit menyeramkan. Ingin sekali Ryoma kabur dari sana secepat-cepatnya, hanya saja dia merasa tubuhnya tidak dapat digerakkan.
"Maaf, bucho. Aku tidak akan melakukannya lagi," hanya itu yang dapat Ryoma katakan. Padahal jauh di dalam hati dia ingin sekali menyalahkan Atobe. Hanya saja, mungkin tidak akan ada orang yang bisa percaya terhadap apa yang telah terjadi kemarin.
"Kau tahu bukan waktu pertandingan sebentar lagi? Aku tidak bisa mentolelir ketidakhadiran maupun keterlambatan sekalipun. Kamu harus mengerti bahwa semua yang ada di sini adalah orang-orang pilihan. Tidak semua bisa masuk dengan mudah! Tapi bukan berarti kamu yang masuk dengan pengecualian bisa berbuat seenaknya. Kamu mengerti?"
"Iya," ucap Ryoma singkat sembari tertunduk.
"Baiklah kalau sudah mengerti. Ayo kita mulai kembali latihan!" kini sebuah senyuman terukir kembali pada wajah sang bucho. Membuat Ryoma keheranan karena merasa lelaki di hadapannya berubah menjadi orang lain.
Latihan menjadi semakin melelahkan karena kurang dari satu bulan lagi club ballet akan mengikuti pertandingan. Tentu saja untuk club yang telah lama meraih juara 1 nasional itu, tidak akan mudah untuk melepaskan singgasananya di tahun ini juga. Apalagi berkat keberadaan Ryoma, Yukimura yakin club mereka akan memenangkan lebih banyak tropi.
Hari ini Ryoma pulang lebih lambat dari biasanya. Pukul enam dia baru melangkah keluar gerbang sekolah. Dia sedikit terlihat lemas karena memang tenaganya hampir terkuras habis. Bahkan dia tidak menyempatkan diri untuk membeli sekaleng ponta seperti biasa. "Huft…" dia mendesah untuk menghilangkan rasa lelah.
"Tadaima!" Ryoma cepat-cepat membuka sepatunya karena sudah tidak sabar untuk pergi mandi dan menyantap makan malam. Ya, dia kira malam ini akan berlalu lebih cepat berkat rasa lelahnya. Tapi, selalu ada kejutan yang siap menyambutnya.
"Oh, tumben kau pulang selambat ini?" ujar Nanjiro sembari agak berteriak dari ruang tengah.
"Ketua klub menambah waktu latihan hari ini," jawab Ryoma sembari berjalan gontai menuju ruang tengah.
"Tapi syukurlah kamu sudah pulang. Temanmu menunggu lama sekali."
"Hum…" sesaat Ryoma masih belum mencerna perkataan sang ayah. Tapi, beberapa saat setelah sadar, dia lekas berlari. Kakinya mengerem saat sampai di ruang tengah. Matanya pun dengan seketika terbelalak menyaksikan sosok yang tidak pernah disangka akan ada di sana.
"Wah wah, Kami no Ko itu benar-benar menghabisimu ya? Anh?"
"Ke-kenapa kau ada di sini?!" Ryoma bertanya sedikit berteriak. Bahkan dia sudah melupakan rasa lelahnya yang semula terasa mengganggu.
"Aku hanya ingin memberikan salam kepada keluargamu."
"Kau semakin mencurigakan saja. Ditambah lagi, buka sepatumu jika masuk rumah!"
"Oh, iya. Karena tidak terbiasa, aku jadi lupa. Tapi ayahmu bilang tidak masalah."
"Seharusnya kamu pelajari dulu tatakrama saat berkunjung ke rumah orang lain!"
"Anh? Tentu saja ore-sama sudah mengerti benar mengenai hal itu. Oleh karena itu aku membawakanmu beberapa buah tangan."
Atobe menunjuk ke arah pojok ruangan di mana beberapa buah dus besar yang entah berisi apa menumpuk di sana. Tapi, Ryoma sama sekali tidak merasa senang dengan semua itu.
"Pulang! Sebelum kuusir."
Atobe hanya tersenyum kecil dengan gayanya yang biasa. Seolah dia tidak menyadari bahwa Ryoma benar-benar merasa terganggu berkat kedatangannya yang tiba-tiba.
"Jangan begitu, Ryoma. Temanmu sudah berbaik hati datang ke sini, apalagi sambil membawa oleh-oleh segala," ujar sang ibu dengan lembut. "Jadi, ibu meminta Atobe san untuk makan malam bersama kita."
"A-apa?!"
Meski hatinya menolak habis-habisan, pada akhirnya nasib Ryoma berakhir di meja makan bersama keluarga dan tamu tak diundangnya. Sepanjang kegiatan makan, dia memilih untuk diam. Jadi, ayah dan ibunya lah yang lebih banyak mengobrol bersama Atobe.
"Oiya, kamu sendiri anggota club apa?" tanya Nanjiro penasaran.
"Aku anggota club tenis. Dan kebetulan menjadi ketuanya juga."
"Oh… tenis ya. Kebetulan sekali a-"
"Sudah kubilang aku tidak akan bergabung denganmu!" Ryoma mendadak memotong perkataan ayahnya.
"Hmf, aku tidak akan memintamu untuk bergabung dengan club lagi."
"Lalu apa maksud semua ini?"
"Kubilang aku hanya ingin menyapa keluargamu. Sekaligus meminta maaf karena tidak mengantarmu pulang kemarin."
"Aku tidak akan memaafkanmu yang sudah membuatku tersesat di kebun binatang itu!"
"Anh? Kamu memuji terlalu berlebihan. Itu hanya taman biasa, bukan kebun binatang."
Ryoma semakin jengkel mendengarnya. Apalagi karena Atobe tidak pernah bisa mengerti bahwa dia benar-benar sedang merasa kesal dan marah. Entah kenapa dia bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan seperti itu, pikirnya dalam hati.
.
"Sankyu." Ryoma meraih botol air minum yang diberikan Tezuka. Hari ini mereka kembali bermain tenis bersama di lapangan luar sekolah. Tapi, kali ini Ryoma sendiri yang memintanya langsung. Entah kenapa minatnya terhadap tenis menjadi semakin tinggi. Tapi karena tidak bisa masuk club, dia hanya bisa meminta bantuan Tezuka yang selalu dengan senang hati mengabulkan permintaannya.
"Atobe bilang, kemarin dia berkunjung ke rumahmu."
Ryoma menaruh botol minum di sampingnya setelah meneguk habis isinya. "Aku tidak mengerti kenapa dia bersikeras membujukku masuk club. Meski dia bilang tidak melakukannya."
"Lantas kenapa kamu bersikeras menolaknya?"
"Tentu saja karena aku tidak bisa berada di satu tempat dengannya! Aku tidak mengerti kenapa masih banyak yang menyukainya."
"Benar. Kamu memang belum mengerti."
"Eng?" Ryoma melirik ke arah Tezuka karena semakin tidak mengerti.
"Kamu pasti tahu, jika dibandingkan dengan club ballet, club tenis tidak ada apa-apanya dalam segi prestasi. Club ballet selalu memilih orang-orang terhebat dari para pendaftar. Oleh karena itu mereka selalu memiliki anggota berkualitas. Tapi, kamu pasti pernah mendengar bahwa club tenis masih menjadi club dengan peminat terbanyak?"
"Ya."
"Kamu tahu apa yang menyebabkan banyak orang tertarik masuk club dengan prestasi yang tidak seberapa?"
"Bukankah karena ada F4 di sana?"
"Ya, tidak salah. Tapi lebih tepatnya semua itu berkat Atobe." Kini Tezuka berhasil menarik perhatian sang adik kelas yang duduk di sampingnya. Baru kali ini Ryoma merasa penasaran dengan kelanjutan cerita yang didengarnya. Padahal dia selalu masa bodoh dengan segala hal yang berkaitan dengan sang ketua club tenis. "Sebelum kami masuk, semua club memiliki sistem sama dengan club ballet. Menyeleksi anggota yang mendaftar. Memang, semua itu berpengaruh terhadap prestasi tiap club, tapi Atobe berkata bisa saja orang-orang yang tersisih saat seleksi itu menjadi lebih kuat jika berlatih. Oleh karena itu, saat kelas satu dia menantang para petinggi club tenis. Mengalahkan semua anak kelas tiga dan dua, lalu menjadi ketua klub termuda sepanjang sejarah Teidai. Sejak saat itu, Atobe tidak pernah membatasi siapapun yang ingin masuk club tenis. Bahkan semua club mulai mengikuti caranya, kecuali club Ballet."
"Palingan dia melakukan itu karena memang terobsesi untuk menang."
"Apa salah memiliki keinginan seperti itu? Semua orang pasti memiliki keinginan untuk jadi yang terbaik. Tapi, yang kutahu Atobe jauh lebih mempedulikan anggotanya. Jika dia hanya ingin menang, dia tidak perlu mengubah sistem club menjadi seperti sekarang." Ryoma terdiam tanpa kata sembari sedikit menunduk. Tezuka tahu anak bertopi itu sedang memikirkan sesuatu dalam kepalanya. "Mungkin kamu harus mencoba untuk melihat latihan anak-anak club tenis."
"Tidak perlu. Terima kasih," tolak Ryoma dengan tegas.
"Tidak perlu datang. Kamu cukup memperhatikannya dari kejauhan. Mungkin dengan begitu kamu akan mengerti maksud perkataanku."
