REMEMBER ME, HANA!

By

QiQi Airin

HunxHan

GS, Romance, Hurt

Disclaimer : semua tokoh milik orang tua mereka masing-masing. Sementara semua kejadian dalam cerita ini adalah murni hasil imajinajis saya :v

Happy Reading :D

_HunxHan_

Chapter 10

Preview: "Kau tidak suka pada Luhan 'kan?" Baek Hae mengangkat alisnya. Ia tak tahu kemana arah pertanyaan Kris sebenarnya. "Kau ingin sesuatu yang menghebohkan?" tanya Kris lagi sebelum Baek Hae sempat menjawab pertanyaannya. Baek Hae tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan wajah penasaran. Jika menyangkut Luhan, gadis yang paling ia benci, asalkan bisa membuat gadis itu tampak hina Baek Hae akan melakukan segalanya.

_HunxHan_

"Berikan ponselmu!" Kris menengadahkan tangannya pada Baek Hae. Gadis itu langsung memberikannya walaupun masih merasa heran.

Kris tampak serius mengutak-atik ponsel milik Baek Hae, mendekatkannya dengan ponselnya sendiri. Beberapa klik-an, ia mengembalikan ponsel milik Baek Hae.

Baek Hae langsung memeriksa ponselnya. Tanda bluetoothnya menyala. Kris mentransfer beberapa berkas untuknya. Gadis itu tak sabar ingin langsung membuka. Satu klik saja muncul empat foto yang dikirimkan Kris.

Mata Baek Hae melotot melihat foto itu.

"Bo-bo ya?" ia langsung mengangkat kepalanya memandang Kris. "Apa maksudmu—,"

"Kau lihat baik-baik!" Kris langsung menyela, membuat Baek Hae kembali memandang layar ponselnya. Orang-orang di foto itu sama sekali tak ia kenali, membuatnya terbingung.

"Kau tak perlu tahu mereka semua," Kris seolah bisa menebak wajah bingung Baek Hae. "Cukup perhatikan wajah wanitanya. Kalau kau sudah tahu, terserah apa yang ingin kau lakukan. Asal kau tidak menyebut-nyebut namaku."

Baek Hae mengangguk tanpa memandang Kris yang pergi meninggalkannya usai berkata demikian. Ia langsung fokus pada satu wajah saja, sesuai yang dikatakan Kris. Tangannya tak henti menggeser layar hingga menampilkan satu-persatu slide, walau sebenarnya ia jijik melihat foto itu.

Sampai beberapa detik kemudian, mata Baek Hae melotot lebar dengan bibirnya yang menganga.

_HunxHan_

"Oh Sehun!"

Sehun menoleh mendapat tepukan pelan di pundaknya. Joon Myeon, dengan Baek Hyun berdiri membuang muka di belakangnya.

"Seharian ini kau mengacuhkan kami," gerutu Joon Myeon. "Dan kalian berdua," ia gantian menoleh pada Sehun dan gadis di belakangnya. "Sebenarnya apa yang terjadi?"

Baek Hyun melirik Sehun. Tatapan mata mereka bertemu, namun Baek Hyun langsung membuang pandang. Ia tak berani menatap Sehun setelah apa yang dilakukannya kemarin. Dan ia juga belum mempersiapkan dirinya menerima penolakan Sehun.

Sementara Joon Myeon semakin curiga karena mereka berdua saling diam.

"Tidak ada," ucap Sehun setelah jeda panjang. "Kami biasa-biasa aja 'kok. Ya 'kan, Baek Hyun?" Sehun mencoba memperbaiki suasana yang kaku itu.

Baek Hyun menoleh pada Joon Myeon. "Dia benar. Kau terlalu berprasangka," ucapnya tanpa memandang wajah Sehun.

"Aku pulang duluan, ya! Luhan sedang sakit. Dia di rumah sendiri," pamit Sehun. Tanpa menunggu anggukan mereka berdua, ia langsung pergi.

Joon Myeon dan Baek Hyun hanya mampu menyaksikan punggung Sehun yang perlahan menghilang di kejauhan.

"Kau pasti sudah menembaknya," ujar Joon Myeon.

"Dan kau pasti sudah tahu jawabannya," jawab Baek Hyun acuh sambil membenarkan letak tasnya, lalu ia pun pergi.

_HunxHan_

"Sepertinya cukup," gumam Sehun memandang dua bungkus nasi goreng dalam plastik di tangannya. Setelah membayar pada penjual, ia pun bergegas menuju rumah yang hanya tingga beberapa puluh meter lagi dari tempatnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Pertanyaan Joon Myeon kembali berkelebat. Sehun memperlambat langkahnya. Ia hampir lupa perbuatan Baek Hyun kemarin setelah kejadian yang menimpa Luhan. Sehun nyaris lupa. Dan setelah itu semua, bagaimana mungkin ia bersikap biasa-biasa saja pada Baek Hyun?

Sehun menghela nafas. Langkah lambatnya telah sampai membawanya ke rumah lengang itu. Ia menggeleng beberapa kali sebelum membuka pintu, mencoba menghilangkan bayang-bayang kejadian kemarin yang kembali menghampiri.

Suara televisi terdengar cukup keras saat ia masuk. Sehun langsung melangkah menuju ruang utama. Lantas ia tersenyum. Televisi yang menyala itu sedang menonton penontonnya yang tidur di sofa. Sehun meletakkan bungkusan ke atas meja makan dan menghampiri sofa.

Mata itu terpejam, dengan tangannya yang masih memegang remote. Sehun berlutut tepat di depan posisi kepala Luhan. Ia membelai pelan rambutnya, ingin membangunkan namun tak tega.

"Oppa!"

Tiba-tiba Luhan bersuara serentak dengan matanya yang terbuka, membuat Sehun terlonjak kaget hingga menabrak meja yang ada di belakangnya.

"Ya!" pekik Sehun seraya berdiri. Ia mengelus dada. Luhan benar-benar membuatnya terkejut. Dan gadis itu malah terkekeh sambil duduk. "Kau senang kalau aku terkena serangan jantung, hah?" omel Sehun. Ia duduk di samping Luhan. "Ternyata kau hanya pura-pura tidur."

Luhan masih tersenyum geli, membuat Sehun ikut senang. Sepertinya kali ini Luhan cepat menghilangkan kesedihannya. Ia sudah bisa tertawa sekarang, bahkan sempat mengerjainya.

"Oppa," Luhan memutar duduknya menghadap Sehun. Wajahnya mulai serius. "Kau bertemu dengan Kris tadi?" tanyanya.

Sehun mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa?"

Luhan menggeleng. "Aku kasihan padanya. Sepertinya Kris orang baik, tapi kenapa aku sampai lupa padanya? Apa aku karena aku tak pernah menggambar wajahnya?" mata Luhan memandang lurus ke televisi dengan bibir manyunnya.

Sehun memandangnya lekat. Ia tak suka dengan kalimat Luhan barusan, setelah apa yang dilakukan Kris padanya. Kris tidak pantas disebut orang baik, karena memaksa Luhan mengingat masa lalu yang tak bisa diingatnya. Daripada orang baik, Kris lebih pantas disebut egois.

"Luhan-ah!" Sehun menarik tangan Luhan hingga gadis itu menolah padanya. "Aku tak peduli siapa Kris di masa lalumu," ucapnya sambil meraih pipi Luhan. "Kalau kau melupakannya, itu karena dia telah melakukan sesuatu yang buruk padamu, seperti teman-temanmu yang lain, dan mungkin . . . kakek nenekmu."

Luhan diam. Perkataan Sehun memang benar. Tapi, berdasarkan suara-suara yang berkelebat kemarin, Luhan menemukan suara Kris yang berujar lembut padanya, tanpa hinaan.

"Aku tidak tahu," ucap Luhan setelah diam. Ucapan itu lebih pada dirinya sendiri. Mengapa ia bisa sampai lupa pada Kris jika memang Kris adalah temannya yang baik? dan usaha Kris yang mencoba mengembalikan ingatannya.

Luhan mendadak terenyuh. Rasa iba dan kesal muncul berbarengan. Iba pada Kris yang 'menuntut' untuk diingat, dan kesal pada dirinya yang begitu mudah melupakan orang. Hal itu membuat matanya berair.

"Luhan-ah?" gumam Sehun bingung melihat air mata Luhan yang siap menetes.

"Aku benar-benar bodoh!" Luhan mulai terisak. "Aku hanya ingin melupakan orang-orang yang membenciku, tapi kenapa aku harus lupa pada orang yang baik padaku?"

Sehun tertegun mendengar ucapan Luhan. Dengan menganggap Kris sebagai orang baik, sepertinya Luhan tak mendengar ucapannya. Atau mungkin, dari awal Sehun telah salah menilai Kris? Luhan kehilangan semua masa lalunya, itu berarti Kris terhapus dari memorinya bukan karena lelaki itu telah melakukan kesalahan pada Luhan. Dan ada kemungkinan, jika ingatan Luhan tentang Kris kembali, maka ia pun akan kembali dengan Kris, entah sebagai teman akrab ataupun kekasih.

Dua pilihan itu sama-sama tak disukai Sehun.

Pada akhirnya ia hanya akan menjadi seorang kakak untuk Luhan.

"Oppa, bagaimana jika suatu hari nanti aku lupa padamu?" tanya Luhan dengan nada menyakitkan.

Sehun menatap mata Luhan dalam-dalam. Tentu saja dia tidak menginginkan hal itu terjadi. Lagipula, tidak ada alasan bagi Luhan untuk melupakannya. "Kalau begitu, akan kubuat kau tidak akan pernah melupakanku!" ucapnya lirih, lalu mengecup lembut bibir Luhan.

Luhan terbelalak kaget dengan perlakuan mendadak Sehun, tanpa memberinya kesempatan untuk bersiap, tanpa menatap matanya lebih lama. Luhan bisa merasakan kepanikan Sehun dari bibirnya. Kakak angkatnya itu benar-benar takut jika Luhan sampai melupakannya. Perlahan kelopak matanya melemah dan ia pun terpejam.

Hangat. Hanya itu yang dirasakan Sehun saat ini dalam mata terpejam. Tangannya bergerak menyusuri rambut Luhan, dan menyisir lembut dengan jemarinya. Bagai alunan nada yang slow ia bergerak lebih maju, bersiap menuju tahapan selanjutnya dengan menggerakkan bibirnya agar bibir Luhan terbuka.

Aku mencintaimu, Sehun-ah! Aku sangat mencintaimu!

Suara itu mendadak berkelebat, membuat bibir Luhan yang tadinya manis kini terasa hambar. Sehun sepontan melepas kecupannya dan menghindari tatapan mata dengan Luhan. Ia sadar belum sepenuhnya bisa melupakan kejadian itu. Baek Hyun telah mencuri ciumannya kemarin. Sehun tertunduk dalam sambil memijat pelipisnya.

Luhan sendiri tak kalah kaget. Ia terpaku memandang Sehun. Matanya nanar. Mungkin Sehun berpikiran sama dengannya, bimbang dengan perbuatan mereka. Konflik batin yang ia rasakan sendiri mungkin juga dirasakan oleh kakaknya itu. Lembut Luhan menyentuh pundak Sehun.

"Maafkan aku," rintihnya.

Sehun langsung mengangkat kepala, bingung dengan permintaan maaf Luhan.

"Oppa, sebaiknya kita hentikan saja. Kita belum apa-apa 'kan? Berarti masih belum terlambat. Kau juga merasa tidak nyaman 'kan?"

Dahi Sehun berkerut. "Apa maksudmu?"

Luhan terdiam sesaat. Ia menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Aboeji pasti akan memarahi kita. Dia tak akan setuju."

Sehun menarik telapak tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Ia paham sekarang. Luhan sepertinya terganggu dengan status dirinya yang merupakan anak adopsi sekaligus adiknya Sehun, dan ia mengira Sehun juga berada dalam kekhawatiran yang sama.

"Kalau aboeji tidak setuju, maka akan kuputihkan semua rambutnya," guyon Sehun, membuat Luhan tak kuasa menahan gelinya.

"Lalu kenapa wajahmu cemas?"

Sehun tak menjawab. Wajahnya langsung berubah datar. Tentu saja ia tak ingin menceritakan kejadian memalukan itu, dimana dirinya menjadi 'korban serangan' Baek Hyun.

"Apa sebenarnya kau sudah punya pacar?"

Luhan masih memburu, sampai Sehun tak bisa mengeluarkan suaranya.

"Jangan bilang kau berselingkuh dari pacarmu?"

Kali ini Sehun tak bisa menahan geramnya. Ia tahu Luhan tak serius, tapi pertanyaan tak masuk akalnya itu akan terus memberondong bak peluru jika Sehun tak segera membungkamnya. Maka, sebelum sempat Luhan bersuara lagi, dengan gesit Sehun menariknya dan langsung merengkuh bibirnya. Untuk yang kedua kali.

"Kalau kau bertanya lagi," Sehun melepas rengkuhannya, "maka akan kubungkam bibirmu dengan cara yang lain. Mengerti?"

Luhan mengangguk patuh dengan polosnya. Ciuman Sehun cukup membuatnya terdiam, tak berani berkata lagi. Wajah serius itu membuatnya tak berani membayangkan 'cara lain' apa yang dimaksud.

Sehun tersenyum. Luhan benar-benar tak berkutik. Ia mengusap bibir merah Luhan dengan jempolnya. Sehun tak peduli lagi dengan perlakuan Baek Hyun yang meninggalkan ingatan buruk. Hanya jika ada Luhan bersamanya, Sehun tak peduli dengan apapun. Hanya untuk melihat bibir itu selalu tersenyum, Sehun akan melakukan apapun.

_HunxHan_

Sehun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan satu benda mungil yang ia beli tempo hari. Sambil mengangkat benda itu, ia memandang Luhan yang berjalan ke arahnya setelah menutup pintu rumah.

"Luhan-ah!"

"Hm?!" tangan Luhan urung menutup gerbang saat Sehun memanggilnya.

Tanpa basa-basi, Sehun menyentuh dahi Luhan, lalu menggeser poninya dan mengumpulkannya ke bagian kanan. Ia menahannya beberapa saat, barulah benda mungil tadi ia sematkan untuk menahan uraian rambut kecil itu agar tak jatuh menutupi dahi.

Mata Sehun membola. Ia berdecak kagum. Sempurna. Jika dari awal penampilan Luhan 'segar' begini, ia tak akan pernah menyetujui ucapan Baek Hae yang menyebutnya Sadako.

Luhan menyentuh jepitan yang baru saja disematkan Sehun. Ia hampir menariknya, namun Sehun langsung menahan tangannya.

"Jangan! Aku suka melihatmu seperti ini," ucap Sehun.

"Apa aku tak terlihat seperti Sadako lagi?" tanya Luhan dengan polosnya. Sehun tersenyum geli. Ia menarik pelan ujung rambut panjang Luhan, lalu menciumnya.

"Kalau ada yang berani menyebutmu Sadako, maka akan kuhajar saat itu juga. Termasuk diriku," Sehun melepas rambut Luhan. Ucapan manisnya itu malah membuat Luhan tersenyum sambil geleng-geleng.

"Ayo!"

Sehun mengulurkan tangannya setelah Luhan menutup gerbang rumah mereka. Gadis itu menatap tangannya heran, lalu ganti menatap wajahnya. Walaupun begitu, ia tetap memberikan tangannya dan Sehun pun langsung menggenggamnya.

"Kau ini aneh sekali, Oppa!"

"Aneh apanya!? Kau 'kan kekasihku," jawab Sehun enteng.

Luhan tersenyum. Bahagia. Ia teringat saat Sehun membelanya di depan Baek Hae, saat Sehun menyuruhnya duduk di boncengan sepeda, saat Sehun sedang mencarinya di kegelapan, saat Sehun selalu menggenggam tangannya. Luhan ingat semua kejadian yang ia lewatkan bersama Sehun. Semuanya tak ada yang luput dari ingatannya. Ia menoleh pada Sehun yang sedang memandang lurus ke depan, sambil berharap dalam hati agar memorinya tak pernah menghapus wajah yang telah mengubah hidupnya itu.

_HunxHan_

Tentu saja, Sehun harus melepas tangannya saat turun dari bis. Bagaimanapun juga dirinya dan Luhan adalah saudara, dan Sehun tahu batasannya jika di luar rumah. Ia tak ingin orang-orang di sekolahnya menganggapnya aneh, dan menjadikan dirinya dan Luhan sebagai bahan gosip. Sehun pun yakin Luhan paham hal itu.

Namun hari ini sedikit aneh. Walaupun ia dan Luhan berjalan normal seperti biasa, para siswa yang kebetulan berada di sekitar mereka berdua melirik mereka sambil berbisik-bisik. Bahkan beberapa siswa yang kebetulan berpapasan dengan mereka, langsung berhenti dan memberikan jalan dengan tatapan aneh. Sehun tentu merasa terganggu. Mungkinkah mereka telah mencium keanehan hubungan kakak adik antara dirinya dan Luhan?

Sehun menoleh ke samping. Wajah Luhan tampak datar seperti biasa. Ia tersenyum geli. Luhan masih sama seperti dulu. Sifat tidak pedulinya masih ada. Sehun berpikir mungkin ia harus meniru Luhan untuk hal-hal tertentu, seperti yang terjadi sekarang.

"Kenapa keluarga Oh yang terhormat itu mau menerima orang seperti dia?"

Sehun langsung menghentikan langkahnya. Pembicaraan itu tertangkap pendengarannya. Ia langsung menoleh ke sumber suara itu. Beberapa siswi yang sedang berbicara itu tampak terkejut dan langsung pergi. Sehun tahu ada banyak marga Oh di sekolah ini, tapi ia yakin yang ia dengar barusan adalah tentang dirinya.

"Oppa, aku ke kelas dulu, ya!" pamit Luhan. Sehun menoleh dan langsung mengangguk. Namun kemunculan Joon Myeon yang tergopoh-gopoh dari tangga membuat Luhan tak jadi melangkah.

"Luhan!?" Joon Myeon berhenti tepat di depan Luhan. Ia menatapnya bingung, lalu ganti memandang Sehun. Joon Myeon ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya seperti tak bisa bergerak.

"Katakan saja!" Baek Hyun muncul dengan langkah santai. Ia membawa selebaran di tangannya. Begitu sampai di hadapan mereka bertiga, Baek Hyun mengulurkan tangannya pada Sehun, bermaksud memberikan selebaran yang ia pegang.

Namun Joon Myeon langsung menarik tangannya. "Ya!" ia mendekatkan wajahnya ke telinga Baek Hyun. "Ada Luhan disini," bisiknya.

Baek Hyun sepontan menoleh pada Luhan. Ia terhenyak melihat penampilan Luhan yang berbeda hari ini. Tadi Baek Hyun memang sengaja melewati gadis itu karena tak ingin melihat wajahnya. Yang paling menarik perhatian dan membuatnya panas adalah jepitan mungil motif sakura yang nangkring di kepalanya. Baek Hyun menajamkan matanya dengan dahi mengernyit.

"Memangnya kenapa kalau ada Luhan?!" nada sengit Baek Hyun membuat hening suasana. Seketika dirinya langsung menjadi pusat perhatian.

Sehun memandang Joon Myeon dan Baek Hyun bergantian. Ia masih tak tahu apa yang terjadi. Saat akan bertanya, Baek Hyun menghampirinya dan membuka halaman dalam selebaran yang ia pegang tadi, lantas memampangkan ke depan mata Sehun.

"Kau lihat ini, Sehun!" serunya lantang.

Dahi Sehun berkerut. Gambar yang sedang ditunjukkan Baek Hyun sungguh memalukan dan tak pantas dilihat. Gambar berwarna itu berbentuk empat grid. Isinya sama, seorang wanita, dan pria yang disensor wajahnya. Hanya posisi dan tempatnya yang berbeda. Ia pun merebut kertas itu dan dibiarkan menggantung di tangannya.

"Apa-apaan ini! Kenapa ada gambar seperti ini di buletin sekolah? Siapa yang bertanggung jawab?!" ucap Sehun marah.

Baek Hyun terheran sesaat. Lalu ia sadar Sehun pasti hanya melihatnya sekilas dan langsung menutupnya. Ia merebut kembali selebaran berbentuk buletin itu dan membukanya untuk Sehun.

Sementara Joon Myeon melirik Luhan. Gadis itu datar-datar saja. Joon Myeon tak bisa menebak bagaimana reaksi Luhan setelah melihatnya juga.

"Kau lihat baik-baik ini siapa!" tegas Baek Hyun.

Sehun menghela nafas untuk menenangkan dirinya sebelum menuruti ucapan Baek Hyun. Ia tak langsung memandang gambar tak senonoh itu, melainkan membaca headline besar yang tertulis di atasnya.

Bintang dewasa dari Jepang ini ternyata ibu kandung siswi kelas 2 EXO High School, eja Sehun dalam hati. Matanya lalu bersirobok dengan foto yang ukurannya lebih kecil di sudut bawah. Ia terbelalak lebar. Tak percaya dengan penglihatannya, Sehun kembali merebut kertas itu dengan kasar dan memandangnya lebih dekat. Matanya kembali menatap foto wanita pada foto empat grid itu. Walaupun ekspresi aneh itu menutupi wajah aslinya, Sehun bisa mengenali bahwa wanita itu sama dengan wanita yang fotonya selalu terpajang di meja belajar Luhan.

Sehun menelan ludah. Ia menurunkan tangannya dan memandang Luhan yang sedang menatapnya bingung. Gadis itu berjalan mendekatinya sesaat setelah ia memandangnya. Sehun tak mampu bersuara saat Luhan tepat di depannya, dengan wajah polos seperti biasa.

"Apa ada yang aneh?" tanya Luhan sambil berusaha melihat kertas yang dipegang Sehun. Sehun langsung menyembunyikan ke balik punggungnya.

"Hm?!" mata Luhan menyiratkan kebingungan.

Sehun tak tahu harus bilang apa. Ia sendiri masih terkejut dengan apa yang baru dilihatnya. Melihat wajah Luhan di depannya, seperti melihat versi lain dari wanita di gambar tak senonoh itu, membuatnya tersiksa. Mereka begitu mirip.

Baek Hyun geram melihat Sehun yang diam mematung, tanpa ada keinginan membiarkan Luhan melihat buletin itu juga. Ia pun maju, merebut paksa kertas itu dari Sehun dan melemparkannya pada Luhan. Sehun yang tak siap dengan tingkah Baek Hyun jadi tak bisa mengelak. Ia pun tak bisa merebut kembali kertas itu dari Luhan karena Luhan telah membukanya.

"Biarkan dia melihat wajah ibunya yang menjijikkan itu!" seru Baek Hyun sinis.

Luhan diam. Ia terpaku menatap kertas yang ada di tangannya. Wajah datarnya tampak tegang. Bibirnya terkatup rapat. Poninya yang tersampir menampakkan matanya yang membola. Tangannya pun gemetar. Bagaimana pun mimik wajah di gambar itu, Luhan tak mungkin tak mengenalinya. Wajah orang yang sangat ia sayangi. Wajah orang yang tak pernah meninggalkannya. Mama.

"Ternyata Baek Hae tak sepenuhnya salah selama ini. Kau memang anak pelacur!" Baek Hyun menambah panas suasana.

Luhan mengatupkan bibirnya. Hinaan Baek Hyun mungkin benar, melihat bentuk tubuh empat pria yang berbeda-beda di setiap grid foto. Baek Hyun mungkin benar, dan apakah karena ini ia dijauhi dan dihina teman-temannya di masa lalu? Bukankah mereka hanya anak-anak?

"Cukup, Byun Baek Hyun!" bentak Sehun membuat Baek Hyun terlonjak kaget.

Sehun berjalan menghampiri Luhan yang masih memandang kertas itu. Ia menarik kertas itu, meremasnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Dengan tangan terangkat seperti masih memegang kertas itu, Luhan tak memandang matanya. Gadis itu tertunduk dalam, membuat bulir air matanya berjatuhan ke lantai tanpa melalui pipinya. Sehun langsung menarik tubuh Luhan ke dalam pelukannya.

Perbuatannya itu membuat siswa-siswa di sekelilingnya terbelalak kaget. Mereka sampai membekap mulut mereka dengan tangan. Terlebih Baek Hyun yang tak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa marahnya yang memuncak.

"Itu . . . itu mama," Luhan terisak. Suara putusnya nyaris tak terdengar.

Sehun terperanjat mendengar ucapan Luhan. Nafasnya yang tercekat di tenggorokan menyesakkan dadanya. Ia merasakan perihnya kalimat itu, saat Luhan mengakui ibunya. Luhan tak mengelak. Gadis itu sama sekali tak mengelak. Ia bisa saja memberontak dan berteriak di hadapan semua orang bahwa wanita itu bukan ibunya. Lagipula Sehun yakin tak ada seorang pun yang tahu kebenarannya, apakah wanita itu memang ibu Luhan atau bukan. Kecuali orang-orang yang mengenal Luhan sangat dekat. Dan itu hanya segelintir.

Tapi dia Luhan. Gadis polos yang sangat menyayangi ibunya. Tak peduli bagaimanapun keadaannya.

Sehun melepaskan pelukannya namun tangannya masih menggenggam erat bahu Luhan.

"Lalu kenapa kalau dia ibumu?" Sehun mengeraskan suaranya, agar semua orang mendengarnya. "Kau tetaplah Luhan. Adikku."

Kali ini Baek Hyun tak bisa lagi meredam emosi. Ia menghampiri mereka berdua dan langsung menarik Sehun dengan kasar.

"Apa kau sudah gila, huh?! Kau sudah gelap mata!? Kau—,"

"Sehun-ah!"

Ucapan Baek Hyun terputus ketika Joon Myeon datang tergopoh-gopoh dari luar. Baek Hyun dan Sehun memandangnya heran. Mereka sama sekali tak menyadari kepergian Joon Myeon dan tiba-tiba ia muncul dengan tergopoh-gopoh dari luar.

"Gawat!" seru Joon Myeon dengan nafas tersengal. "Buletin ini juga dipasang di semua papan pengumuman."

Sehun melotot kaget mendengar ucapan Joon Myeon. Semuanya sudah direncanakan dengan rapi, Sehun yakin itu. Ada seseorang yang memang sengaja mengorek informasi tentang ibu kandung Luhan, dan menyebarkannya dengan tujuan mempermalukan Luhan.

Sehun bahkan sama sekali tak mengetahui kenyataan itu. Dan Luhan. Sehun menoleh pada gadis tertunduk itu. Meski mungkin ia tahu, pasti ia tak ingat lagi.

Sehun memicingkan matanya. Rahangnya mengeras dengan giginya yang gemeretak. Hanya satu orang yang tahu tentang masa lalu Luhan, juga dengan keluarganya. Sehun benci mengakuinya, tapi orang itu benar bahwa ia tak tahu apa-apa mengenai Luhan. Luhan yang dulu.

"Sehun-ah! Ayo kita cabut semua buletinnya," Joon Myeon menyodorkan kumpulan kunci yang terikat menjadi satu pada Sehun. "Aku sudah mendapatkan kunci cadangan semua papan pengumuman. Ayo!"

Sehun mengangguk. Ajakan Joon Myeon membuatnya semangat. "Luhan-ah, tunggu di sini sebentar," ucapnya pada Luhan, lalu ia menyusul langkah Joon Myeon yang telah berjalan duluan.

Luhan mendongak. Ia menggeleng, tak ingin Sehun meninggalkannya dalam keadaan seperti itu. Sayangnya Sehun tak sempat melihat gelengannya. "Oppa!" Luhan berniat teriak namun hanya suara parau yang keluar. Ia memulai langkah untuk menyusul Sehun, namun Baek Hyun langsung menarik tangannya.

"Kau benar-benar tak tahu malu!" maki Baek Hyun. Dengan kasarnya ia mendorong tubuh Luhan hingga gadis itu terjerembab ke lantai.

Tak ada yang membantunya berdiri. Mereka semua hanya diam menyaksikan, sambil berbisik-bisik.

Baek Hyun masih meneruskan aksinya. Ia memungut gumpalan kertas yang dibuang Sehun, membukanya dan mengayun-ayunkannya dengan kasar di depan mata Luhan.

"Kau lihat bagaimana ibumu menghidupimu selama ini!" umpatnya, lalu melemparkan kertas itu ke wajah Luhan.

Luhan memalingkan wajahnya sambil menunduk. Air mata mengalir tak henti. Luhan tak ingin lagi melihat gambar itu. Ia berharap bukan ibunya yang berada di foto itu. Tapi Luhan tak bisa mengelak dari kenyataan. Kenyataan yang tak pernah ia tahu selama ini.

"Kau tidak malu menatap wajah Sehun, huh?! Kau tidak malu tinggal dengan keluarga Oh Hyuk Ahjusshi yang terhormat? Kau pikir, setelah Ahjusshi tahu semua ini, dia masih akan membiarkanmu tinggal di rumahnya?!"

Luhan tak bisa melawan. Kondisi ini berbeda saat Baek Hyun menyerangnya untuk tidak mencintai Sehun.

"Kau tahu, Sehun adalah Ketua OSIS yang disegani, dikagumi, dihormati. Tapi setelah semua orang tahu bahwa keluarganya memungut anak pelacur, reputasinya hancur. Dia dan keluarganya tak akan dihormati lagi. Kau lihat kan bagaimana para siswa memandangnya saat ini. Dan itu semua gara-gara kau! Kalau kau masih punya rasa malu, seharusnya kau menjauhi keluarga terhormat yang telah kau cemari!" dengan mata merah kesetanan Baek Hyun menuding-nuding wajah Luhan, seolah telunjuknya itu sebuah pisau yang bisa menembus mata indah gadis itu.

Luhan bangkit. Telinganya sudah cukup panas mendengar ocehan Baek Hyun. Sambil berjalan menaiki tangga menuju kelasnya Luhan menyeka air matanya. Baek Hyun benar. Andai Luhan mengetahui dari dulu mengenai ibunya, ia tak akan pernah mau menerima kebaikan keluarga Sehun. Andai Luhan tahu, ia tak akan pernah mau menerima pertemanan Kyung Soo. Biarlah dirinya bersama sang ibu hidup bersama, tanpa ada orang lain yang mengusik.

Dan suara hinaan dari masa lalu itu, sedikit demi sedikit Luhan mulai bisa memahami.

Dan sekarang, kejadian itu mungkin berulang.

Semua mata tertuju padanya saat Luhan baru memasuki kelas. Mereka bahkan menyingkir saat Luhan melintas menuju bangkunya. Gadis itu berjalan dalam menunduk. Ia tak berani menoleh sedikitpun. Celakanya, jepitan yang menahan poninya itu membuat wajah-wajah sinis itu masuk pandangannya.

Dan Kyung Soo termasuk salah satunya.

Luhan teringat ucapan Baek Hyun. Kemarin, dahulu, Luhan memang tak mengetahui kenyataannya. Namun kini ia sudah tahu, dan ia tak berani menatap wajah sahabatnya. Malu. Baek Hyun memang benar. Seharusnya ia malu. Luhan tak peduli pada orang lain, namun untuk orang-orang terdekatnya, Luhan benar-benar tak memiliki tenaga untuk mengangkat wajahnya.

"Luhan-ah!" Kyung Soo menghampiri bangkunya. Ia tak dapat menahan diri melihat Luhan yang tertunduk bagai tersangka kasus, padahal gadis itu tak terbuat apa-apa. "Ini bukan bibi Miwa 'kan?" Kyung Soo menunjukkan buletin yang dipegangnya.

"Itu mama," Luhan langsung menjawab, sambil mengalihkan pandangannya.

Kyung Soo menatapnya nanar, tak percaya dengan jawaban Luhan yang langsung membenarkan. Ia juga tak menyangka, sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu yang penting selama ini, mengenai identitas ibunya.

"Wae, Luhan-ah?! Aku pikir kita sahabat selama ini, tapi ternyata hanya aku yang menganggap begitu."

"Do Kyung Soo-ya! Tak usah sedih seperti itu."

Kyung Soo menoleh. Sementara Luhan tetap menunduk. Ia tahu siapa pemilik suara yang siap menambah kacau suasana itu, setelah kakaknya yang memberi 'ceramah' habis-habisan tadi.

"Kau pikir," Baek Hae merangkul bahu Kyung Soo lalu menoleh pada Luhan," anak mana yang akan mau menceritakan pekerjaan kotor ibunya. Benar 'kan, Luhan?!"

Luhan diam. Ia tak perlu meluangkan waktu untuk menanggapi ucapan tak penting Baek Hae, seperti sebelum-sebelumnya.

"Apalagi pekerjaan ibunya adalah pelacur. Tidak-tidak," Baek Hae menggeleng, "pelacur masih lebih mulia. Mereka hanya bekerja dalam kegelapan malam, dan akan menjadi orang biasa saat siang. Sedangkan ibunya, tak peduli siang malam, asal ada kamera, uang, lelaki, dia siap kapan saja. Bahkan ribuan orang telah menyaksikan," Baek Hae tertawa puas. Melihat dua sahabat yang saling membuang pandang dan menciptakan jarak, Baek Hae benar-benar bahagia.

"Coba lihat, disini ada empat pria berbeda. Kira-kira ayah Luhan yang mana ya?"

"Kalau ibunya artis dewasa, bukan cuma empat pria itu saja. Pasti banyak."

"Kudengar film dewasa Jepang paling laris di dunia."

"Dimana kita bisa cari koleksi film ibunya Luhan ya?"

"Ternyata Luhan si pendiam itu benar-benar anak pelacur."

"Pantas saja banyak lelaki yang suka padanya. Semasa hidup ibunya dulu juga dikelilingi lelaki."

"Pantas wajahnya cantik. Ayahnya banyak."

"Hahahahahahahaaa."

Luhan semakin tertunduk dalam. Bisikan-bisikan yang tadinya samar kini berani terang-terangan. Entah siapa saja yang mengatai, Luhan tak melihatnya. Luhan tak ingin melihat mereka.

De javu. Luhan merasa pernah berada dalam situasi seperti ini. Hinaan mereka. Tatapan-tatapan tajam. Penolakan. Benci.

Luhan mengangkat tangan dan menutup kedua telinganya. Ia masih tak ingat, tak ingin mengingat. Namun kondisinya sama. Kebencian dari orang-orang yang tak pernah ia tahu sebabnya.

Mungkinkah karena ibunya? Mungkinkah mereka tahu pekerjaan ibunya?

Luhan mulai terisak. Bahkan sepanjang ingatannya yang masih utuh, ia sama sekali tak tahu mengenai 'pekerjaan' ibunya. Luhan tak pernah tahu. Selama hidupnya di Korea, yang Luhan tahu Miwa adalah investor saham yang tak perlu repot keluar rumah untuk bekerja. Semuanya telah diatur oleh jasa manajer investasi yang terpercaya. Miwa hanya perlu menambah modal dan menerima dividennya.

Luhan tak pernah tahu bagaimana kehidupan mereka di Jepang.

Kecuali suara-suara anak kecil yang menghinanya, dan kakek nenek yang memarahinya.

Wajah Kyung Soo berubah iba melihat Luhan berlinang air mata dengan kepala tertunduk. Menghadapi ejekan dari teman-teman cewek memang bukan hal baru untuk Luhan, namun baru kali ini ia melihat sahabatnya itu menangis sesenggukan.

Dan Baek Hae ada benarnya. Tidak ada anak yang mau menceritakan pekerjaan orang tuanya yang dipandang hina oleh orang lain. Ia mulai berpikir. Mungkin saja itu hanya masa lalu, karena selama mengenal Luhan dan ibunya, Kyung Soo jarang sekali melihat Miwa keluar rumah.

Baek Hae masih terbahak saat Kyung Soo menyikut pinggangnya, agar gadis yang tak disukainya itu melepas rangkulannya. Kyung Soo ingin mengatakan sesuatu untuk membela Luhan, namun seseorang yang baru masuk kelas mendahuluinya. Kris.

"Sampai kapan kalian bisa puas menghina teman sekelas kalian, huh?!"

Suara lantang itu langsung mendiamkan mereka semua. Ia berjalan ke arah bangkunya yang terletak di belakang Luhan, namun berhenti saat menghampiri bangku Luhan.

"Luhan, kau tidak apa-apa?"

Baek Hae terbelalak melihat perlakuan Kris terhadap Luhan. Ia tak mengerti. Lelaki yang memberikannya informasi mengenai ibu Luhan malah bersikap lembut. Tunggu. Apakah ia telah salah menyangka? Mungkinkah Kris memanfaatkannya untuk mencari perhatian Luhan saat gadis itu berhasil tersudut?

Baek Hae mengepalkan tangannya. Sepertinya benar. Ia tak berpikir begitu sebelumnya, karena terlalu bahagia setelah mendapatkan kunci untuk menghancurkan Luhan. Parahnya lagi, Baek Hae sama sekali tak mencantumkan sumber asli pada buletin yang digawanginya. Jika terjadi sesuatu padanya gara-gara buletin itu, jelas dirinya tak bisa menyeret Kris untuk ikut bertanggung jawab.

_HunxHan_

"Sehun-ah, bagaimana?"

Sehun duduk di bangkunya dengan nafas sedikit tersengal. Setengah hari di sekolah ia habiskan untuk mengurus buletin laknat yang telah mencoreng nama Luhan. Mulai koordinasi dengan Ketua OSIS yang menjabat sekarang dan klub jurnalis yang berwenang menerbitkan buletin.

"Anak-anak klub jurnalis sudah menarik peredaran buletin. Awalnya mereka keberatan karena menurut mereka berita tentang ibu Luhan bisa menaikkan pamor klub mereka."

Joon Myeon menyimak dengan seksama penjelasan Sehun. Begitu juga dengan Baek Hyun.

"Aku mengancam akan menutup klub mereka karena telah memasukkan gambar porno dalam buletin. Walaupun fakta, tetap saja melanggar aturan. Akhirnya mereka setuju."

"Kau benar-benar kakak yang hebat, Sehun-ah!" puji Joon Myeon. "Darimana mereka dapat foto-foto itu?"

"Mereka bilang dari website, domain Jepang. Aku juga tak yakin."

Tiba-tiba Sehun melirik tajam pada Baek Hyun, membuat gadis itu bergidik. Baek Hyun tahu apa maksud tatapan Sehun. Pasti mengenai Baek Hae. Adiknya itu sekretaris klub jurnalis. Dan Baek Hyun bukannya tidak tahu mengenai berita ini. Baek Hae tentu saja sudah duluan menunjukkan padanya.

Sayangnya, semuanya tak sesuai harapan. Ia pikir Sehun akan memandang Luhan hina setelah melihat foto ibu kandung adiknya yang menjijikkan itu. Ternyata Sehun malah membelanya mati-matian.

"Ada apa ini?" tanya Joon Myeon bingung saat menyadari tatapan tajam Sehun pada Baek Hyun.

"Baek Hyun-ah, kau tidak ingin mengatakan sesuatu?!" pertanyaan Sehun bernada perintah.

Baek Hyun menatap Joon Myeon dan Sehun bergantian. Wajahnya tampak gugup. "A-aku tidak tahu apa-apa. Aku tak pernah ikut campur urusan Baek Hae dan klubnya," jawab Baek Hyun sedikit terbata.

Sehun tak meneruskan pertanyaan selidiknya. Ia memutuskan untuk keluar dari kelas. Saat ini ia hanya ingin melihat Luhan.

"Kau benar-benar tidak tahu?" Joon Myeon meneruskan pertanyaan Sehun saat pemuda itu sudah keluar.

Baek Hyun diam. Ia bahkan tak berani menatap mata Joon Myeon. Tanpa menjawab pun lelaki itu pasti sudah bisa menebak. Joon Myeon tak pernah bisa dibohongi.

"Baek Hyun-ah?!"

"Benar!" Baek Hyun menyahut cepat dengan nada tinggi. "Aku tahu semua. Aku tahu apa yang akan dilakukan Baek Hae dan aku mendukungnya. Aku pikir Sehun akan membenci Luhan dan aku bisa masuk ke dalam hidupnya setelah itu," jawab Baek Hyun panjang tanpa jeda, membuatnya terengah. Helaan nafasnya berbenturan dengan isakan hingga air matanya tak dapat ditahan lagi.

Joon Myeon diam kali ini. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Baek Hyun, menandakan rasa simpatinya. Baek Hyun memang salah karena mendukung perbuatan adiknya yang tak benar. Tapi Joon Myeon bisa memahami perasaannya.

_HunxHan_

"Kau sudah tahu 'kan?"

Luhan bertanya tanpa memandang wajah Kris.

"Bukankah kau mengenaliku? Kau pasti sudah tahu 'kan selama ini?"

"Oh," Kris tersenyum sini. Ia melipat kedua tangannya di dada, "Jadi sekarang kau sudah mengakui dirimu adalah Hana?"

Luhan tak menjawab. Bukan itu jawaban yang ingin didengarnya. Sampai kapanpun Luhan tak akan mengiyakan orang yang menyebut nama Hana untuknya. Tidak akan. Ia pun berniat kembali masuk kelas. Tak ada gunanya bertanya pada Kris.

"Iya aku tahu!" Kris langsung menjawab saat Luhan membalikkan badannya. "Aku tahu, karena itu aku meninggalkanmu dulu."

Mata Luhan melebar dalam tunduknya, namun ia tak berbalik. Jawaban Kris barusan, Luhan sama sekali tak mengingatnya. Bahkan kedekatannya dengan Kris saja Luhan tak pernah ingat.

"Aku hanya anak kecil waktu itu," Kris menarik tangan kurus itu, membuat Luhan berbalik menghadapnya. "Aku simpati melihatmu yang terus diejek oleh teman-temanmu. Mungkin karena kita sama-sama murid baru di sekolah itu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa saat orang tuaku melarang untuk berteman denganmu."

Luhan diam, namun matanya memandang wajah Kris dengan seksama. Kris tampak tak berbohong dengan ceritanya. Semakin lama Luhan mengamati, wajah tampan blasteran itu semakin tampak tak asing di matanya.

Ada yang berputar di kepala Luhan saat Kris perlahan menarik bibirnya membentuk senyuman. Benar. Wajah itu. Wajah yang tersenyum saat mengulurkan tangan padanya. Saat semua anak-anak menjauhinya.

Namun kemudian, bayangan itu berganti. Wajah itu juga tersenyum saat melepas tangannya, mendorong tubuhnya hingga jatuh, sambil menyatakan penolakan untuk berteman lagi.

"Aku tak bisa berteman denganmu lagi. Maaf."

Luhan tersentak. Ia langsung bergerak mundur. Suara itu kini disertai dengan gambaran. Ya. Luhan melihat wajah Kris dalam kepalanya. Wajah anak-anak yang tak jauh berbeda dengan sekarang. Wajah tersenyum yang tadinya ramah namun berubah marah.

"Ada apa?" tanya Kris begitu melihat wajah Luhan seperti orang bingung.

Luhan menggeleng. "Benar. Kau memang meninggalkanku. Kau mengabaikanku. Entah mengapa aku bisa mengingatnya."

Kris mengerutkan dahinya. Ucapan Luhan memunculkan pertanyaan besar dalam benaknya. "Ingat? Apa kau hilang ingatan?" tanya Kris. "Apa kau juga tak ingat bahwa kau sebenarnya—,"

"Sudah cukup!"

Suara lain memotong ucapan Kris. Kris dan Luhan sama-sama menoleh. Sehun sedang berjalan menghampiri mereka. Jaraknya sudah tak terlalu jauh.

"Oh Sehun," gumam Kris. Seniornya itu tampak baru datang dan tidak sedang mengintai atau menguping pembicaraan mereka. Sepertinya ia hanya menangkap ucapan terakhir dari perkataannya.

Sementara Luhan langsung menunduk saat Sehun berhenti di hadapan dirinya.

"Apa kau berniat memaksa Luhan untuk mengingatmu seperti waktu itu, huh?!" nada bicara Sehun membentak. Ia meraih tangan Luhan dan menggenggamnya.

Kris terperangah melihat adegan itu. Tatapan Sehun yang tajam dan sinis serta genggaman tangannya yang erat pada Luhan. Sehun seperti sedang melindungi Luhan darinya.

"Hah!" Kris tersenyum miris. Perbuatan Sehun berbanding terbalik dengan keinginannya. Kris salah. Salah besar. Ia tak mengerti jalan pikir Sehun yang berbeda dengannya. Apa karena dirinya masih anak-anak waktu itu.

Kris meninggalkan Luhan bukan hanya karena paksaan orang tuanya. Dirinya memang berasal dari keluarga terhormat, dan terbiasa hidup dalam kehormatan. Saat mengetahui Luhan, gadis cantik yang disukainya ternyata putri seorang bintang dewasa, Kris benar-benar merasa jijik. Untuk dirinya yang baru berumur dua belas tahun waktu itu, Kris merasa bergaul dengan Luhan bukanlah hal yang pantas. Ia cukup mengerti mengapa gadis secantik Luhan dijauhi teman-temannya waktu itu.

Tetapi apa yang dilakukan lelaki gagah dihadapannya saat ini? Bukankah seharusnya ia malu memiliki adik angkat yang ternyata anak wanita berprofesi yang dianggap hina oleh masyarakat? Bukankah seharusnya ia meninggalkan Luhan seperti yang diharapkan oleh Kris?

"Kajha, Luhan-ah!" Sehun menarik tangan Luhan. Ia merasa tak punya urusan lagi dengan Kris, walaupun kecurigaannya masih ada. Sehun curiga bahwa Kris-lah yang telah memberikan foto porno itu pada Baek Hae, karena kenyataannya ia tak menemukan konten apapun saat mengetikkan nama ibu Luhan di search engine, dari domain manapun. Dan saat mencari di search image memang muncul nama wanita itu, namun namanya berbeda dengan nama ibu Luhan. Dan hal itu tak bisa dijadikan acuan. Seperti umumnya, mungkin ibu Luhan menggunakan nama lain sebagai nama panggungnya.

Sehun memang merasa miris saat tahu. Tapi bagaimanapun juga, gadis yang tangannya sedang ia genggam sama sekali tak bersalah. Itu bukan salahnya. Sehun hanya akan menunggu penjelasan dari sang ayah yang sedang berada di luar negeri saat ini.

Di tengah perjalanan, Luhan menarik tangannya dari genggaman Sehun. Sehun lantas menoleh, dan mendapati gadis itu masih tertunduk.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun cemas.

Luhan mengangguk dalam tunduknya. "Aku baik. Karena itu jangan pedulikan aku lagi," jawab Luhan, membuat Sehun mengernyitkan dahinya.

TO BE CONTINUED . . .

Hai haaaiiiii,, kali ini Qi2 update sedikit agak cepat

Sebenarnya agak susah ya nulis chap ini, banyak scene2 yang Qi2 bingung cara narasiinnya, hehehe. Tapi akhirnya jadi juga, xixixixii.

Oh iyya mungkin ada yang kecewa, penasaran2 sama masa lalunya Luhan tapi ternyata yang bermasalah adalah ibunya, hehehe. Well, di sinopsis udah Qi2 tulis kan, masa lalu ibunya yg buat Luhan bagai di neraka. Dan masa lalu Luhan sendiri, sebenarnya dia punya masa kecil yang nggak bahagia gara-gara ibunya, dan itu sekilas-sekilas ingatan yang berhasil diingat Luhan. Dan nanti bakal ada penyebab Luhan sampek nggak bisa ingat masa lalunya (selain alam bawah sadarnya yang nggak mau) yang jelas masih berhubungan sama pria yang di mobil itu. Lalu Sehun mungkin bakal nyuekin Luhan untuk sesaat dan sedikit lama (wkwkwkwkk malah nyepoiler). Udah ah, biar aja ceritanya mengalur dulu, banyak2 kasih bocoran malah nggak ada yg penasaran nanti :v

Lanjut Qi2 mau balesin review, dan untuk chap depan, bakal ada kejutan dari Baek Hae. Untuk chap selanjutnya lagi (atau yang selanjutnya selanjutnya lagi :v ) bakal ada kejutan dari Baek Hyun, dan Sehun juga. Xixixixiii

Ramyoon ternyata Kris membongkar identitas ibu Luhan :'( jahat ya Kris, tapi tenang aja, dia tetap baik di hati Qi2, wakakakakakkk

Zyxzjsb Baek Hae insaf kalau udah dikeluarkan dari sekolah :v tunggu aja scene itu pasti ada nanti

Luharnshi iyya kasihan lulu, tapi tenang aja semua akan bahagia pada waktunya :v

LeeEunKi tenang Luhan pasti akan bahagia kok, walau masih harus tersakiti. Terimakasih sudah mampir Kak, ditunggu reviewnya lagi hehehe *maksa -_-'

Ohfelu wkwkwkwkwkkk. Sebenarnya gak ada yang salah dengan masa lalu Luhan, dia hanya mengalami konflik batin aja krn merasa dibenci, tapi itu berdampak sama sifatnya juga, yang jadi pendiam dan gak mau bergaul. Apalagi sekarang Luhan udah tahu kalo ibunya ternyata 'nganu'.

SherlyOh baca terus tiap chapnya ya, biar tambah nggak kuat :v

ElisYeHet, Seravin509 ini udah next ya, selamat membaca :D

JunaOh Kris cuma ngetes Sehun aja, Sehun bakalan ninggalin Luhan apa nggak setelah tahu tentang ibunya. Ini udah next ya, lumayan cepat kan, hehehe

Chaa iyya Kris pernah ninggalin Luhan, tapi Sehun nggak, hehe. Ini udah lanjut ya, makasih fightingnya :D

Baekhughug wkwkwkwkwkk sabar-sabar Kak. Kris nggak sejahat itu kok. Baek bersaudara nanti masih ada scenenya lagi, xixixixii

SH94LH7 mimpi itu juga ada alasannya. Mungkin di chap depan bakal Qi2 bongkar, mungkin loh ya,,

auliaMRQ serem ya kalo obsesi, bisa menghalalkan segara cara nih, hehhehe. Tapi kayaknya scene jahat Kris cuma berakhir sampek sini aja

cicifu ini udah lanjut ya :D makasih udah baca :D

ohjasmine12 ini udah next ya, selamat membaca :D

mydeer Kris benar-benar so sweet, sampek bantu nyebarin foto syur emaknya Luhan XD wkwkwkwk. Ini udah update ya :D

cheery ini udah next ya :D

yousee ini udah next chap ya :D Kris nggak bakalan melakukan kesalahan lagi kok :v

HunHanCherry1220 iyya nih Kurisu maksa banget, hehehe, sampek kerja sama ma musuh Luhan, xixixixiii. Entar ketahuan dia yang ikut andil baru tahu rasa XD remember me sebenarnya si Sehun. nanti ada bagian dimana Luhan benar-benar lupa sama Sehun, yah karena kesalahan Sehun juga aslinya, xixixixii

OhHeeRa itu sekilas ingatan Luhan tentang masa kecil yang tidak bahagia gara-gara pekerjaan ibunya. Dan nanti bakal ada penyebab Luhan memutuskan punya 'penyakit' lupa, hehehhee.

Akashi Ryuuna arigatou Ryuuna-san, ureshiiii :D makasih untuk setia menanti :D

Okke sampai jumpa chap depan :D