Hai, balik lagi, nih. Ada sedikit perubahan ending. Alias gagal tamat chapter ini. Berhubung terlalu panjang, aku buat bagian ini jadi 2. So, cerita tamat diperkirakan di chapter 11.

mike redcloud : untuk cerita Lily yang ini nggak ya. Lily saya buat masih nunggu dua tahun lagi baru ke Hogwarts. Ya, biar nemani Harry sama Ginny di rumah. Mungin di cerita lain nanti aku buat Lily udah masuk Hogwarts.

Thanks sudah setia menanti kisah lanjutan Lily, ya. Selamat membaca! - Anne ^_^


Meja makan pagi ini, membuat Lily geleng-geleng kepala. Ibunya seperti kesurupan koki handal. "Kau tak panas, kan, Gin?" Harry memegang dahi Ginny memeriksa, "banyak sekali makanannya?" gerutu Harry.

Meja makan seperti lautan segala jenis makanan. Ada pancake, sup, jus, sampai pasta tersaji lengkap di atas meja makan keluarga Potter.

"Ow, makanan ini. Kenapa aku buat banyak? Karena akan ada tamu yang ikut sarapan dengan kita. Pagi ini." Belum selesai Ginny menjelaskan siapa yang akan datang, terdengar suara wuss dari arah pintu masuk.

Lily sudah berlari keluar membukakan pintu. Harry yakin itu bukan tentangga Mugglenya.

"Uncle Neville! Mari masuk,"

Ginny tahu tamunya sudah datang, "nah, ini dia tamu kita," seru Ginny mempersilakan Neville masuk dan bergabung di meja makan. Harry sudah berhambur ke pelukan salah satu sahabat terbaiknya itu.

Neville masih menggunakan pakaian khas ala guru Hogwarts di balik jubahnya.

"Sebentar lagi kau juga akan menyusul ke sana, Lily." Kata Neville saat tahu Lily menatapnya hampir tak berkedip. "Malahan hari ini kau bisa datang ke Hogwarts," Neville menyendokkan sup ke mulutnya. Ia tahu, putri bungsu Harry itu sudah sangat menginginkan bersekolah di Hogwarts.

Harry baru sadar dengan apa yang dikatakan Neville tadi terdengar aneh, "datang ke Hogwarts? Maksudmu?" tanya Harry sampai menghentikan makannya.

"Silakan dibaca. Undangan untuk yang lain akan dikirim lewat burung hantu, tapi spesial untuk kalian, Prof. McGonagall memintaku untuk mengatarkannya langsung pada kalian."

Harry dan Ginny menerima masing-masing surat resmi berkop sekolah sihir mereka dulu.

"Peringatan 20 tahun Pertempuran Hogwarts?" tanya Harry dan Ginny bersamaan. Lily hanya bisa melongo sambil mengunyah pancakenya. Tidak tahu menahu.

"Dan semua orang yang pernah terlibat, mereka diundang. Acara akan diadakan hari Minggu. Jadi murid-murid Hogwarts juga bisa hadir di acara tersebut."

Tidak terasa sudah hampir 20 tahun tragedi besar di dunia sihir itu telah berlalu. Harry masih mengingat segala yang ia lakukan dulu dengan teman-teman dan orang-orang yang berada di pihaknya. Luar biasa berat masa itu.

"Dan satu lagi, ini dia..," Neville menyerahkan satu surat lagi untuk.., "Lily?"

"Ya, Nak. Itu untukmu!"

Surat berisi undangan resmi untuk Lily Luna Potter sebagai salah satu pengisi acara di peringatan tersebut. "Aku?" tanya Lily masih tidak percaya.

"Ya, kabar kau pandai bermain piano sudah terdengar ke telinga Prof. McGonagall. Aku bahkan ternganga saat tahu kau begitu lihai memainkan piano itu."

Lily tersenyum, begitu pula Harry dan Ginny. Harry mengacak-acak poni putrinya itu gemas. "So, kamu harus latihan dulu di Hogwarts dengan pengisi acara lain, terutama yang nanti akan tampil denganmu satu panggung." Jelas Neville lagi. Ia sudah habis satu mangkuk sup.

"Tapi aku harus sekolah sekarang," Lily bingung. Ia harus berlatih tapi ia juga harus sekolah. Ada raut kecewa di wajah lugunya. Ginny yang paham dengan kondisi putrinya lantas coba menengahi.

"Waktunya tidak sekarang kan, Neville?"

"Ow, tidak, Gin. Lily bisa latihan sepulang dari sekolah." Neville menatap Harry, "kau bisa antar Lily kan, Harry?"

"Tentu saja. Aku akan antar bidadari kecilku ini. Tenang saja,"

Dan Lily kembali bersemangat.


Huekk..

"Ehemmm.. kau tak apa, Nak?" tanya Harry melihat tubuh Lily sedikit terhuyung ke belakang. Ia baru pertama kali berapparate. Seperti Harry dulu, "hanya sedikit mual, Dad. But I'm Ok," kata Lily lemas.

Harry memutuskan untuk berhenti sejenak di lorong menuju ruang kepala sekolah. Memeluk tubuh lemas Lily dan mengusap kepala putri kecilnya seperti kebiasaan Harry setiap Lily sakit.

"Mr. Potter!"

Teriak seseorang dari arah ujung lorong. Anak kecil berambut pirang, "Scorpius? Hai, senang bertemu denganmu, Nak." Sapa Harry ramah. Ada Scorpius. Lily sadar ada anak pirang itu lagi.

"Senang bertemu dengan anda juga, Mr. Potter."

Anak ini sopan sekali, batin Harry kagum. Tidak hanya kesopanannya saja, Harry bak sedang melihat Draco saat beberapa tahun lalu. Saat mereka baru sama-sama masuk Hogwarts. Mirip sekali. Sama dengan dirinya dan Al.

"He-hai, Lily."

"Ah, hai juga Scorpius!"

Demi Merlin! Ada yang tak beres dengan dua anak ini. Harry pelan-pelan mulai menyadari suatu hal sedang mulai tumbuh. Apa itu cinta?

"Mr. Malfoy, sedang apa kau di lorong? Ada kelas apa kau siang ini?"

Neville sudah menskak mad Lily dan Scorpius sebelum keduanya bertegur sapa lebih dari sekadar 'hai' satu sama lain. "Harry! Lily! Kalian sampai juga. Ayo ikut aku."

Setelah melemparkan salam perpisahan, Harry dan Lily pergi mengikuti Neville menuju ruang kepala sekolah mereka yang baru, Prof. Minerva McGonagall. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, ada rasa yang berbeda saat Harry masuk di ruang kepala sekolah. Entahlah, meski sudah berganti kepala sekolah lagi, Hogwarts tetaplah sekolah sihir terbaik yang membuat ia besar seperti sekarang.

"Bagaimana Lily? Permulaan yang hebat, kan, sebelum kau benar-benar bersekolah di sini, kau sudah bisa masuk ke ruang kepala sekolahnya." Bisik Harry pada Lily yang sejak mereka sampai dibuat terpukau dengan kastil-kastil yang berdiri megah.

Seorang wanita tua dengan kacamata persegi bertengger di depan matanya menyambut mereka dengan senyum bahagia. "Mungkin selanjutnya kalian harus datang dari jalan lain. Agar tak ada yang tahu." Kalimat pembuka Prof. McGonagall pada Harry dan Lily.

"Senang bertemu denganmu lagi, Profesor." Sambut Harry sambil menjabat tangan mantan guru transfigurasinya itu ramah.

"Senang bertemu denganmu juga, Potter. Dan.. hei, Lily!" Minerva lantas mensejajarkan tingginya dengan Lily dan memeluknya hangat. "Terakhir aku melihatmu masih merah, Nak."

"Rambutku memang merah, Profesor." Ucap Lily mengaruk kepalanya yang tak gatal.

Harry jadi ikut tertawa melihat tingkah putrnya itu yang tampak sedikit malu-malu. "Ow, ya, mungkin yang aku lihat di St. Mungo 9 tahun lalu itu memang rambutmu, Ms. Potter." Jawab Minerva ikut tertawa.

"Kau tahu, Lils. Saat kau baru beberapa jam lahir, saat kau masih merah, profesor pertama yang menggendongmu adalah Prof. McGonagall ini, sayang. Jadi berbanggalah kamu," cerita Harry pada Lily. Yang diberi tahu hanya bisa ternganga tak percaya.

Dulu saat Lily lahir, banyak keluarga bahkan orang-orang terdekat Potter datang untuk menjenguknya. Salah satunya adalah Minerva, yang menyempatkan waktunya untuk menengok kelahiran putri ketiga dari pahlawan Hogwarts, Harry Potter.

"Yups, mungkin kita langsung bertemu dengan yang lainnya di ruang kebutuhan."

Acara ini tidak tersebar ke murid-murid Hogwarts. Sehingga untuk urusan latihan, pihak Hogwarts mengandalkan ruang ajaib itu untuk melakukan latihan khususnya untuk urusan penampilan musik.

"Wow, ini keren, Dad." Dengan masih digandeng Harry, Lily kembali dibuat tak percaya dengan apa yang ada di ruang itu. Tidak ada murid berseragam di sana. Hanya ada orang dewasa yang berjumlah cukup banyak sedang mempersiapkan beberapa alat musik orchestra serta ada pula yang berdiri berjajar sambil membawa lembaran di tangannya.

"Semua pengisi acara nanti adalah para alumni saat pertempuran Hogwarts dulu. Dan mereka itu adalah mantan murid yang pernah mengikuti orchestra dan paduan suara." Jelas Minerva pada Harry. Pantas saja, semua pemain musik dan penyanyi paduan suara tampak berusia tak jauh berbeda dengan Harry.

Seorang pria pendek dengan rambut belah tengah menghampiri Minerva, Harry dan Lily. Neville tak ikut dengan mereka, ia masih harus mengajar. "Oh Mr. Potter. Selamat datang kembali ke Hogwarts." Sapa Prof. Flitwick. ia membawa tongkat konduktor musik yang selalu ia bawa setiap memimpin paduan suara dan orchestra.

"Dan kau pasti Lily, ya. Aku tahu tentangmu, Nak. Sudah tak sabar rasanya bermain satu panggung denganmu."

Ia menyerahkan beberapa music sheet kepada Lily. Di sana tertera susunan melodi yang nantinya akan Lily mainkan dengan orchestra Hogwarts. "Sebenarnya ada satu lagi pengisi acara nanti. Berhubung ia sudah berusia 100 tahun, kesehatannya sedikit terganggu. Jadi diperkirakan besok ia baru bisa datang." Jelas professor keturunan Goblin itu.

"Siapa dia, Profesor?" tanya Harry penasaran.

Belum sempat Prof. Flitwick menyebutkan namanya, pintu ruang kebutuhan kembali terbuka oleh wanita tua berkulit gelap yang tiba-tiba masuk dan mengejutkan semuanya.

"Itu dia, ternyata ia datang!"


Lily tampak sedang memainkan pianonya dengan melodi yang ceria. Sabtu malam membuatnya lebih tertarik dengan berlatih piano dibanding jalan-jalan. Harry yang baru saja keluar dari ruang kerjanya lantas mendekat kepada Lily. Ia seperti sudah tak asing dengan lagu yang dimainkan oleh Lily itu.

"Lanjutkan," pinta Harry saat Lily melirik ke arahnya.

Ginny yang tak sengaja mendengar lagu yang dimainkan Lily ikut-ikutan duduk di samping Harry sambil menganga, "lagu itu!" bisiknya pada Harry.

Harry memberanikan bertanya setelah Lily menyelesaikan permainannya, "itu lagu untuk besok?" tanyanya.

"Bukan, Dad. Lily saja baru mencoba lagu ini tadi di Hogwarts. Prof. Flitwick yang membuat Lily memainkan ini." Katanya ringan. Badannya ia putar menghadap Harry dan Ginny.

"Prof. Flitwick?"

"Iya, Mom. Tadi setelah latihan, Profesor dan Lily saling bertukar informasi soal musik, khususnya musik Muggle. Nah, waktu Lily tanya soal musik di dunia sihir, professor tiba-tiba ngajak Lily untuk mempraktekan satu mantra barunya yang bisa menunjukkan musik pertama apa yang pernah Lily dengar."

Profesor Flitwick memang selain konduktor musik ia adalah guru mantra yang handal. Banyak mantra yang dipelajari oleh murid-murid Hogwarts dtang dari dirinya. Harrypun menerima pelajaran mantra pertamanya dari pria yang tak setinggi alat musik cello itu.

"Dan tiba-tiba Lily seperti mendengar alunan nada yang… seperti tadi yang Lily mainkan itu. Entahlah, rasanya seperti Lily sudah tak asing lagi dengan susunan nada tadi. Tapi, seingat Lily tak pernah mendengar apalagi memainkan lagu itu sebelumnya. Lily jadi bingung. Kapan, ya?"

"Lily mau tahu kenapa Lily bisa memainkan lagu tadi, padahal Lily sendiri tak pernah sadar pernah mengenal lagu itu?" tantang Ginny. Ia lantas naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya dan Harry.

Lily bingung dengan sikap ibunya yang tiba-tiba menghilang dan masuk kamar.

"Lily Luna Potter. Lagi-lagi kau membuat kami orang tuamu ini tercengang."

Pintu rumah terbuka, ternyata Ron, Hermione, dan Hugo berkunjung. Mereka bertiga baru saja menghabiskan malam minggu satu keluarga. Hermione meminta Ron untuk mampir ke rumah Harry sekalian bertanya tentang rencana menghadiri acara peringatan 20 tahun Pertempuran Hogwarts.

"Nah, kebetulan kalian datang." Seru Ginny dari atas, "ada yang ingin aku tanyakan padamu kakak ipar," Ginny sudah duduk kembali di sofa.

"Ada apa, Ginny." Kata Hermione.

Sebuah alat pemutar musik Ginny tunjukkan ke orang-orang yang sedang berkumpul di sana. "Itu, kan..,"

"Alat yang kamu berikan saat usia kandunganku masuk empat bulan," sambung Ginny lantas meletakkan benda kotak berwarna silver itu di atas meja.

"Hermione, selain membantu perkembangan janin lebih baik, apakah musik klasik yang diperdengarkan pada janin dapat membuatnya ingat kembali musik itu saat ia sudah dewasa?"

Empunya yang diserang pertanyaan hanya bisa diam.

"Lily, bisa kau mainkan lagi," pinta Ginny sok memerintah.

Alunan Canon dengan nada dasar D dimainkan Lily lagi dengan indah. Harry dan Ginny yang sudah sadar arah pembicaraan mereka hanya bisa nyengir kuda tak percaya.

"Nah, kau tau Lily. Memang kamu belum pernah memainkannya, tapi kamu pernah mendengarnya. Saat kamu masih di sini," tunjuk Ginny di perutnya, "dengan alat ini," Ginny lantas menekan tombol merah di ujung alat persegi itu. Terdengarlah alunan Canon versi orchestra dari benda mungil itu.

Lily melongo. "Itu lagu yang barusan Lily mainkan, kan?"

Saat Ginny kembali hamil, Hermione memberikan padanya sebuah alat pemutar kaset yang berisi musik-musik klasik menenangkan. Dengan berbagai penjelasan manfaat untuk janin, Ginny dan Harry iya-iya saja menerima barang pemberian kakak iparnya itu. Karena Ginny dan Harry yang sama sekali tak paham musik klasik, mereka terlebih dahulu mendengarkan beberapa judul dan memilih satu yang mereka suka.

Tibalah pada instrument Canon karya Johann Pachelbel. Ginny mencoba mendengarkannya pada perutnya yang sudah menggelembung dan reaksi Lily yang masih di dalam kandungannya seperti merespon dengan baik. Saat Ginny merasakan tendangan Lily cukup kuat diperutnya, Harry pernah berinisiatif untuk mendengarkan instrument itu pada perut Ginny. Alhasil.. itu semua berhasil. Bahkan Ginny masih sering melakukan itu sampai usia kandungannya 9 bulan.

"Jadi aku sudah mendengarnya dari dalam kandungan? Wow!"

Lily memang ajaib.


Ini sebuah tragedi yang buat aku stress.. *lebay* Niatnya ini chapter terakhir, tapi nyatanya.. terlalu panjang untuk aku satukan di chapter 10. Mungkin chapter 11 agak sedikit, aku mau coba lanjutkan lagi besok untuk revisi chapter 11. Silakan review dan ditunggu juga kalau ada yang request bagaimana endingnya. Thanks - Anne ^_^