Beberapa hari ini Naruto berusaha melacak keberadaan Sakura. Fikiranya tampak kacau, anak buahnya seolah tak bisa diandalkan. Sudah beberapa hari ini juga Naruto terus berkeliling mengendarai mobil berputar-putar tak jelas, menanyakan keberadaan istrinya dimana. Bahkan Naruto pulang hanya untuk tidur beberapa jam saja, selebihnya dia terus berkeliling tanpa tujuan. Sakura sangat sulit untuk dilacak, dia bahkan mengganti nomer ponselnya, begitu juga dengan managernya Ino. Terakhir kali Naruto mendatangi dan menanyakanya Ino hanya menjawab dingin tidak tau. Meskipun Naruto mencurigai Ino pasti mengetahui keberadaan Sakura. Maka Naruto menyuruh anak buahnya untuk mengawasi dan mematai Ino.

"Sakura.. kau dimana?"

Naruto berkata lirih saat mengendarai mobil. Teleponya berdering, Narutopun mengangkatnya

"bagaimana? Apa ada perkembangan?"

"kami sudah menemukanya tuan"

.

.

.

Sakura baru saja pulang dari supermarket. Dia membeli beberapa bahan makanan, sayuran dan sekotak susu ibu hamil. Sakura mengernyit, ketika hendak memasuki apartemenya ternyata gangang pintunya terbuka. Pasti Ino fikirnya, dan ketika langkah kakinya memasuki ruang tamu. Sakura membulatkan emerald hijaunya ketika melihat pria berjas rapi dan dengan irish saphire bluenya yang tajam namun menatapnya dengan lembut seolah mengharapkan sesuatu

"kau? Mau apa kau datang kemari?!"

Belanjaanyapun jatuh ke bawah lantai, emosinya melonjak

"Sakura aku mohon tenanglah. Dan dengar penjelasanku dulu, ini semua kesalah pahaman"

"tidak! Aku tak mau mendegar apapun lagi darimu! Pergi!"

"Sakura aku mohon"

Naruto maju hendak menyentuh Sakura, dan meyakinkanya akan kesalaha pahaman diantara mereka berdua. Sakura mundur, dan dia masih menatap waspada kearah Naruto yang berusaha mendekati dirinya.

Tes..

Setetes darah keluar dan membuat dress putih Sakura yang berwarna putih menjadi merah bercak darah. Dan disusul dengan tetesan darah lainya, dan kemudian mengalir dikaki jenjang Sakura.

Sakura meringis, dia merasakan rasa sakit yang bersumber pada perutnya.

"Sakura kau tidak apa-apa?"

Naruto memandangi Sakura dengan bingung sekaligus khawatir, sementara Sakura yang memegangi perutnya mematung. Perutnya bergejolak hebat, wajahnya menjadi pucat pasi dan tubuhnya terasa lemas.

"astaga forehead kau pendarahan!"

Ino baru saja sampai diapartemen Sakura terkejut

"Naruto cepatlah bawa Sakura ke rumah sakit!"

Naruto mengangkat tubuh Sakura diiringi Ino yang ikut menemani Sakura. Naruto secepat mungkin melesat menuju RS dan Sakura langsung menuju UGD untuk pemeriksaan.

"sa-kiit sekali Ino.."

Sakura meringis menahan sakit.

"forehead tenanglah. Kalian kuat"

Beberapa perawat dan dokter langsung memasuki ruangan menyisakan Ino dan Naruto diruang tunggu. Ino merasa tidak enak karena dia membohongi Naruto. Sebagai sahabat sekaligus manager tentu saja Ino akan melindungi Sakura bukan? Dari suaminya yang menurut Sakura dan Ino sudah begitu jahat.

"Sakura.. dia kenapa?"

Ino ragu, apakah Naruto sudah mengetahuinya tau belum. Tapi Naruto adalah suami Sakura, status mereka masih suami istri.

"Sakura... dia.. sedang mengandung"

Harusnya Naruto senang mendengar kabar bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Tapi melihat kondisi Sakura, Naruto sungguh takut terjadi sesuatu pada Sakura dan bayinya. Dokterpun keluar dari ruangan UGD, Sakura dipindahkan ke ruang rawat inap.

"apa disini ada keluarganya?"

"saya suaminya"

"baik silakan masuk keruangan"

Naruto mengekor mengikuti dokter ke ruangan.

"apa terjadi sesuatu?"

Naruto sudah tegang dan cemas.

"untunglah bayinya selamat. Tapi lain kali jangan buat nyonya Namikaze stres atau tertekan lagi. Itu bisa berpengaruh pada kondisi janin"

Usai percakapanya dengan dokter, Naruto hendak memasuki ruangan Sakura.

"uhm Naruto, kalau begitu aku pulang dulu"

Naruto hanya mengangguk. Ternyata pemaksaanya pada Sakura saat pulang dari pesta membuahkan hasil janin dirahim Sakura. Kacau sungguh yang ada difikiran Naruto kacau, bahkan ia ragu. Apakah pernikahanya dapat dipertahankan atau tidak, tapi bukan Namikaze Naruto namanya kalau dia sudah menyerah duluan.

"bayiku.. bagaimana dengan bayiku?!"

Narutoyang mematung langsung menghampiri Sakura.

"sssttt tenanglah. Dia kuat.. dia dapat bertahan"

Naruto mencoba mndekap Sakura, tapi Sakura menggubrisnya kasar

"Sakura..."

Naruto sekuat mungkin menahan air matanya, sakit rasanya pura-pura kuat pada hal hati terasa hancur.

"tak akan aku biarkan kau memiliki anak ini. Pergi!"

"aku mohon untuk kali ini saja tenanglah. Dengarkan aku.. kau membuat anak kita terguncang"

Rasanya Sakura tidak rela mengklaim bahwa anaknya adalah anak Naruto dan Sakura.

"apa maumu?"

"biarkan aku bertanggung jawab. Padamu juga pada anak kita"

"anak kita? Kau fikir kau bisa merebutnya dariku?!"

Kali ini Naruto merasa frustasi menghadapi Sakura.

"beristirahatlah, aku disini akan menjagamu"

"cerai"

Naruto menoleh

"aku mau kita bercerai!"

Naruto langsung memeluk Sakura. Tak peduli Sakura suka atu tidak, menolak atau tidak.

"apa-apaan ini?"

Sakura berusaha mendorong tubuh Naruto dan memukulnya. Tapi percuma saja, dia wanita tak kuat melawan pria.

"kali ini saja aku mohon dengarkan aku.. dengarkan aku Sakura-chan"

Sakura yang awalnya meronta kini terdiam. Sejujurnya dia merasa nyaman saat Naruto memeluknya seperti ini, tapi nalarnya berfikir untuk menolak dan melawan. Meskipun hati kecilnya tidak.

"antara aku dan Hotaru sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku akui dulu kami memang menjalin hubungan, tapi itu jauh sat aku mengenalmu"

".."

"foto-foto itu.. aku sedang mabuk Sakura. Aku tak dapat berfikit sehat saat itu aku mabuk sungguh, aku tak sengaja melakukanya diluar kesadaranku. Tentang perjodohan kita"

Kali ini Naruto terasa tercekak untuk memberitaukanya kepada Sakura. Naruto masih memeluk erat Sakura.

"kau memiliki jantung ibuku, sebelum meninggal dia mendonorkanya padamu"

Sakura terbelalak seolah tak percaya. Dia memiliki jantung Kushina? Jantung ibu Naruto?.

"aku mohon Sakura maafkan sikap buruku padamu selama ini, aku sungguh menyesal. Demi kita, demi anak kita kelak"

"tidak"

".."

"aku tak mau lagi meneruskan pernikahan ini"

"jadi.."

"kita tetap bercerai. Secepatnya"

Naruto melepaskan pelukanya

"baik.. akan aku turuti keinginanmu"

Naruto berbalik dan dan meninggalkan Sakura, tak kuasa menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Sakura meskipun hatinya sudah begitu tersiksa, tapi kesehatan Sakura adalah prioritas utamanya. Terlebih saat ini Sakura sedang mengandung anaknya.

.

.

diluar perawatan ruangan Sakura, Naruto melangkahkan kakinya dan menutup pintu. Sekilas menatap sakura yang perlahan mulai terpejam dan beristirahat. Mata azure itu menerawang melihat langit yang nampak mulai gelap. Kemudian lututnya terasa lemas, Naruto terduduk dibalik ruangan Sakura. Arah matanya menjadi gelap dan berkabut. Mengapa setelah semua ini, semua yang dia lakukan justru membuat Naruto kehilangan Sakura.

.

.

.

TBC

.

.

gomen up.a lama karena author habis UN.. thank's buat yang udah setia ngikutin fic gaje ini. mudah-mudahan sih gak pada kecewa (berharap)... yosh untuk fic selanjutnya author usahakan untuk tidak telat. mohon dukunganya readers :)