17 November 20xx, Seoul

09.10 p.m

"Hyung, anak kita bukan bantal."

"Ssh, Jiminie, aku sepertinya baru merasakan anak kita meninjuku."

"Mungkin dia kesal karena kau menidurinya seperti bantal."

Yoongi mengangkat kepalanya dan mengulas sebuah seringai penuh kemenangan sewaktu ia merasakan anak mereka kembali meninjunya di dalam perut Jimin, "Kau pasti bisa merasakannya, kan, Jiminie? Dia tidak bisa berhenti diam kalau aku berada di dekatnya!"

Jimin pura-pura jengkel, "Makanya karena kau terus berada di dekatku, anak ini sama sekali tidak pernah tidur," tetapi wajahnya kembali melunak sewaktu melihat perut buncitnya yang terekspos, bergerak-gerak sewaktu tangan Yoongi tidak berhenti menyentuhnya. "Aku penasaran, sewaktu dia lahir nanti, apakah dia akan berisik sepertimu…"

"Ada dua Min Yoongi di dalam apartemen bukanlah hal yang buruk," bisik Yoongi, masih terpana dengan gerakan anak mereka di dalam perut Jimin.

Sudah hampir dua minggu sejak ia mengkonfrontasi Chanyeol untuk mengakui tindakan pemerkosaan yang ia lakukan pada Jimin, dan kini kehidupan mereka telah kembali tenang. Tidak ada lagi pengiriman paket dari Chanyeol, tidak ada telepon misterius, tidak ada rumor yang membayangi hidup mereka. Yang ada hanya rasa antusias menunggu kelahiran anak yang mereka nanti-nantikan. Setelah mereka membuka sisi gelap Chanyeol, kini SM memberhetikan rapper sekaligus actor tersebut selama dua tahun ke depan (meski media tidak memberitahukan publik alasan di balik hiatusnya Chanyeol selama dua tahun ke depan).

Mendekati hari-hari persalinan anak mereka, Jimin dan Yoongi telah membuat kesepakatan jika anak mereka lahir nanti, keduanya akan tetap berkarir seperti biasa. Jika ada jadwal yang memberatkan Jimin, mereka akan meminta bantuan orang tua Jimin di Busan untuk merawat anak mereka. Jimin tidak ingin meminta bantuan babysitter, khawatir kalau anak mereka tumbuh besar nantinya justru ia malah terbiasa berinteraksi dengan orang lain, bukannya dengan anggota keluarganya sendiri. Juga begitu anak mereka lahir, Yoongi memikirkan kalau Jimin akan terus tinggal bersamanya—dan mungkin, suatu saat nanti, jika keduanya sudah siap, mereka akan melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Berbicara tentang pernikahan, Yoongi tidak pernah menanyakan lagi pada Jimin. Tetapi akhir-akhir ini, mengingat anak mereka tidak akan lama lagi lahir, Yoongi berpikir mungkin sudah seharusnya mereka mengikat jalinan hubungan yang lebih serius lagi.

"Hei, Jiminie," panggil Yoongi, matanya tidak lepas dari perut Jimin.

"Hmm?"

"Bagaimana menurutmu kalau kau mulai memakai nama keluargaku?"


A GENIUS IN LOVE

Bagian 10

Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!

Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos (mungkin akan banyak di chapter ini), karakter boyband lainnya.

Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV


18 November 20xx, Seoul

10.31 p.m

"Jimin bilang kalau dia sepertinya sudah siap untuk mengambil nama keluargaku," kata Yoongi pada Namjoon sewaktu mereka berdua pergi untuk minum-minum di bar.

Namjoon memasang wajah terperangah, hampir-hampir menyemburkan bir yang ia teguk. "Bagaimana kau tahu?"

"Aku menanyakannya langsung. Dan dia bilang, kenapa tidak?"

"Apa kau tidak merasa Jimin terlalu muda untuk menikah? Kukira kalian mau mengejar karir terlebih dahulu setelah anak kalian lahir."

"Tapi anak kami butuh keluarga yang lengkap, butuh sosok orang tua yang bukan hanya sekadar sepasang kekasih ataupun hanya sekadar teman tidur."

Namjoon terlihat berpikir, "Sebenarnya itu terserah pada kalian. Tapi aku tidak ingin kalian membuat keputusan yang salah. Sepertinya masih terlalu cepat untuk kalian menikah, apalagi jika kalian masih belum sepenuhnya siap membina rumah tangga," matanya tampak menerawang ke langit-langit, "Seperti misalnya aku dan Seokjin, meski kami sudah menikah selama bertahun-tahun lamanya, pasti selalu ada masalah yang terjadi di antara kami. Bahkan masalah pelik yang tidak pernah kami temui sewaktu kami masih sebatas Alpha-Omega tanpa ikatan perkawinan resmi. Hubungan yang mengikat justru lebih banyak godaan yang perlu kalian lewati."

"Aku tidak akan sepertimu yang menyelingkuhi istrimu sendiri," sahut Yoongi yakin, "Selama ini, Omega yang benar-benar menyita perhatianku hanyalah Jimin."

"Mungkin sekarang kau bisa berpikir begitu, tapi kita lihat saja bagaimana nanti."

Yoongi memasang muka masam.

"Kalaupun kau bilang begitu, aku akan tetap mengajaknya menikah tahun depan."

"Heh, bukannya tahun depan masih lama?"

"Jadi, sekarang kau setuju kalau aku menikahi Jimin lebih cepat?"

"Aku hanya menyampaikan pendapatku, Yoongi-ah. Aku tetap mendukung hubunganmu dengan Jimin, kau tidak perlu khawatir," kata Alpha bersurai coklat tersebut sambil tersenyum lepas, menampakkan deretan giginya rapi dan berwarna putih tulang. "Tapi sebaiknya kau juga membicarakannya dengan orang tuamu dan orang tua Jimin. Mungkin mereka bisa memberikan masukan."

Yoongi mengangguk pelan, "Apabila kami jadi menikah, kau akan keberatan menjadi pengiring pengantin Alpha?"

"Wah, aku tidak menyangka kau akan menawarkan posisi itu padaku. Bagaimana dengan Heechul? Kurasa dia juga pantas mendapatkannya."

"Dia akan tetap di daftar utama sebagai pengiring pengantin Alpha, kau tidak perlu khawatir."

"Daripada kau berbicara soal pernikahan, kau sama sekali belum mengklaimnya sebagai milikmu. Setidaknya tandai dia dulu sebelum dia malah direbut oleh Alpha lain—yang mungkin lebih bejat daripada seorang Park Chanyeol."

Sesuatu di dalam otak Yoongi seperti berdenting sewaktu Namjoon mengingatkan hal tersebut. Ia menjetikkan jarinya, "Aigoo! Kau benar! Aku sama sekali belum mengklaimnya! Mungkin aku harus membuat catatan apa saja yang harus kulakukan awal Desember nanti."

Namjoon menegak birnya sampai kosong, "Ngomong-ngomong, kalau kau tidak keberatan," kata Namjoon memijat ujung tulang hidungnya, merasa mulai mabuk, "Istriku mengajakmu makan malam. Tapi kali ini ia ingin kau membawa serta Jimin."

"Rupanya dia masih penasaran dengan Jimin, eo?"

"Pemikiran yang bagus menurutku, karena setidaknya kita perlu mempertemukan mereka, setelah aku berselingkuh di belakangnya dengan Jimin," Namjoon bersandar di punggung sofa, "Aku juga perlu Jimin meyakinkan Seokjin kalau sudah tidak ada apa-apa di antara kami. Apalagi Seokjin sudah cukup mengenalmu, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kalau istriku bereaksi berlebihan, kau bisa menghentikannya."

Yoongi ikut bersandar ke sandaran sofa yang empuk dan terisi oleh dakron, kepalanya ikut lunglai ke belakang. "Hmm, baiklah, aku akan menanyakan soal ini pada Jimin. Kurasa akhir-akhir ini perasaannya sudah lebih lepas daripada biasanya."

"Ne, siapa tahu juga anak-anak kita suatu saat nanti akan berteman. Setidaknya kita harus mulai dengan mendekatkan kedua pasangan kita terlebih dahulu."

"Jangan sampai mereka menjodohkan anak kita."

"Pfft," Namjoon menahan gelak tawanya, "Hal itu tidak dapat dapat kita hindari sepertinya."

Mereka minum sampai lupa untuk pulang ke keluarga masing-masing.


20 November 20xx, Seoul

05.22 a.m

Hal pertama yang dilihat Yoongi di pagi hari adalah wajah Jimin. Omega itu sudah terbangun dari tidur dan kini terduduk di atas tempat tidur di sebelah Yoongi. Kedua alisnya tampak tertaut di tengah-tengah, matanya menyipit, dan ia giginya bergemeletuk menahan bibir bawahnya. Yoongi melihat kekasihnya sedang menahan rasa sakit, karena tangannya tidak berhenti mengusap perutnya yang sudah sebesar bola basket, sementara tangan satunya berusaha menyesuaikan kondisi yang pas untuk sandaran punggung yang akhir-akhir sering ia keluhkan terasa pegal.

"Apakah sakit?" tanya Yoongi agak cemas, melihat ekspresi kesakitan di wajah Jimin, "Kita bisa ke dokter sekarang—"

"Ani—" Jimin menarik napas dan menghembuskannya dengan lega sewaktu rasa sakit di wajahnya seperti memudar, "Sewaktu pemeriksaan kita yang lalu, Choi-uisanim bilang ini hanya kontraksi palsu untuk persiapanku bersalin nanti. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan."

"Kau serius?" Yoongi masih terdengar tidak yakin.

"Sekarang sudah tidak sakit lagi, Hyung," sahut Jimin sambil mengulas senyuman.

Yoongi ikut tersenyum lega. Ia berusaha kembali tidur sewaktu melihat Jimin beringsut untuk pergi ke kamar mandi—suatu kebiasaan baru yang harus Omega itu jalani setelah usia kandungannya semakin tua. Ketika ia kembali dari kamar mandi, Yoongi langsung kembali membuka matanya.

"Kau mau ke mana?"

Jimin seperti hendak menertawakan pertanyaan Yoongi, "Pergi ke dapur, babo, untuk memasakkanmu makan malam. Juga membereskan tempat ini. Kau sama sekali tidak mau membantuku membersihkan apartemen."

"Bukannya aku sudah cukup sering membereskan tempat tidur, meja ruang tengah, dan membuang sampah, eo?"

"Kau tidak cukup rapi untuk membereskan tempat tidur, hyung," cerca Jimin.

Yoongi bergerak dari tempat tidur untuk menahan pergelangan tangan Omega itu dan menariknya dengan perlahan kembali ke tempat tidur, "Kita sama sekali belum pernah bersenang-senang selama beberapa minggu. Kau tidak akan membiarkanku menderita begini karena belum mencicipi tubuhmu sama sekali, kan, Jiminie?"

"Hyung? Kau bercanda, kan?" Omega itu menunjuk ke perutnya yang besar, "Kau masih mau menginginkanku dengan perut sebesar ini?"

"Hmm? Aku tidak melihat letak perbedaannya di mana, kau yang sedang hamil atau tidak hamil."

Wajah Jimin langsung merona merah, "Jangan mulai lagi—"

"Sekali ini saja, Jiminie—"

Jimin merapatkan kedua permukaan bibirnya, tampak berkontemplasi dengan pilihan untuk mengikuti keinginan Alpha berambut hitam tersebut atau tidak. Pada akhirnya ia menyerah dan dengan hati-hati mendudukkan diri di atas tempat tidur. Omega itu menggelinjang geli sewaktu Yoongi mulai menciumi bagian tengkuk lehernya yang terekspos, "Eww," ucapnya setengah bercanda, "Aku lupa kau sama sekali belum menyikat gigi pagi hari ini."

"Tetap saja kau menyukai bau mulutku di pagi hari, kan," balas Yoongi, masih ikut bergurau. Dengan penuh perhatian, Alpha itu membantu Jimin untuk duduk di antara kedua kakinya, sambil menyokong perut besar Jimin dengan sebuah bantalan. "Bagaimana kalau hari ini—aku menandaimu?"

Mata dan mulut Jimin membulat, sedikit tidak menduga-duga ucapan Alpha itu, "Kau serius mau melakukannya, Hyung? Butuh komitmen besar—"

"Aku sudah berulang kali mengatakannya, aku ingin menghabiskan waktu seumur hidupku denganmu," bisik Yoongi ke telinganya. Tangannya yang besar dan berbarik-barik mengusap tengkuk leher Jimin, dan tangannya yang satu lagi memijat titik sensitif di punggung Omega itu. Jimin mengerang, menahan napas, dan kembali mengerang sewaktu tangan Yoongi bergerak turun memijat bagian bawah punggungnya yang selalu terasa sakit karena terus-menerus menahan beban berat anak mereka. Yoongi meletakkan wajahnya tepat di cerukan leher Omega itu, berbisik, "Katakan kalau kau ingin menjadi milikku, Jiminie."

Jimin meremas kedua bahu Yoongi, "Umm—aah, H-hyungiee—" panggil Jimin sambil memejamkan matanya, seluruh tubuhnya seperti bergetar oleh rangsangan seksual yang diberikan oleh Yoongi, "J-jebal—jebal… Jadikan aku milikmu—"

Yoongi menggigit tengkuk leher Jimin yang terekspos dengan mudahnya, mengisap sedikit darah yang muncul di sana, sementara Jimin semakin mengeratkan pegangannya di bahu Yoongi. Mereka bertahan dalam posisi tersebut selama beberapa detik, saling menghirup aroma masing-masing, menunggu. Sedikit aneh bagi Yoongi duduk dalam posisi seperti ini, dengan anak mereka mengganjal di antara mereka. Tetapi ia tahu Jimin menikmati keadaan sekarang ini.

Jimin meremas tangan Yoongi, mengerang dan melenguh, dan memejamkan mata saat ia merasakan sesuatu yang baru menyentuh permukaan lehernya, tertanam dalam-dalam di sana.

Yoongi baru melepaskan gigitannya saat ia merasakan tendangan di bagian dadanya. "Anak ini tampaknya mulai jengkel karena kita terlalu lama di posisi ini, eo?" Yoongi terkekeh agak geli saat merasakan anak mereka kembali menendangnya dari dalam perut Jimin. "Apa kau kesal karena Appa dan Eomma terlalu lama menyesakimu?" ia bertanya pada anaknya di dalam perut Jimin.

"Dia baru saja bangun," kata Jimin pelan, "Atau kau mungkin merasa senang karena kami pada akhirnya bisa bersama-sama untuk seterusnya?"

"Bisa saja karena kau tidak sabaran untuk keluar, eo?"

Jimin memukul bahu Yoongi, "Dia belum saatnya untuk keluar sekarang, Hyung!"

Yoongi terkekeh pelan, "Tapi aku tidak sabaran untuk melihatnya terlahir ke dunia. Aku tidak sabaran untuk bisa menggendongnya," tangannya bergerak menyusuri permukaan perut Jimin. Ia tersenyum-senyum sendiri sewaktu membayangkan kembali Jimin yang selalu mengomelinya karena Yoongi tidak berhenti mencekoki anak mereka dengan iringan-iringan musik yang ia buat. Tetapi begitu Yoongi melatunkan musik klasik dengan keyboard listrik di ruang kerjanya, Jimin sama sekali tidak akan memrotesnya. "Siapa tahu aku bisa sesegera mungkin mengajarinya untuk bermain musik."

"Atau mungkin dia akan lebih tertarik untuk menari. Bisa aku rasakan dari bagaimana dia bergerak aktif di dalam sini."

"Atau mungkin pemain bola, hmm."

Jimin mengubah posisinya, menyandarkan kepala dan punggungnya di cerukan leher dan dada Yoongi, sementara Alpha itu mengusap perut Jimin dan memijatnya di beberapa tempat dengan hati-hati, "Jiminie, bagaimana kalau menurutmu kalau kita pergi ke rumah Namjoon-nim?"

"Uh—aku masih belum siap bertemu dengan istrinya, Hyung…"

"Kau takut dia akan membencimu?"

"Bukankah sudah pasti dia membenciku? Aku pernah menjalin hubungan dengan suaminya—"

"Tapi kau sama sekali belum pernah bertemu dengannya, kan?" Yoongi melontarkan pertanyaan, "Kau tidak bisa memberinya penilaian jika kau sama sekali belum pernah bertemu dengan Jin-hyung."

Yoongi dapat melihat Jimin menggembungkan pipinya, "Jadi kau sudah memanggil istrinya dengan nama panggilan sendiri?"

"Jiminie… Kau tidak merasa cemburu, kan?"

"Untuk apa aku cemburu? Dia sudah punya Namjoon-sajangnim saat ini—"

"Lihat pipimu," Yoongi menusukkan ujung telunjuknya ke pipi Jimin dengan gemas, "Kau selalu melakukan hal ini kalau kau kesal."

"Andwae, andwae, aku sama sekali tidak kesal."

"Jadi kau bersedia untuk bertemu dengannya?" Yoongi bertanya lagi.

Jimin terlihat ragu-ragu. Ia memejamkan matanya, sedikit menikmati sentuhan lembut di perutnya, "Mungkin untuk sekali ini saja, kalau kau juga ikut."

"Tentu saja aku akan ikut," ia mencium bahu Jimin dengan lamat-lamat dan mencium bekas gigitan yang telah ditinggalkannya di leher Omega itu, "Aku akan menghubungi Namjoon-nim setelah ini, memberitahu kalau kau bersedia pergi."

"Tapi bagaimana kalau ternyata dia malah membenciku setelah melihatku?" keluh Jimin, masih terdengar belum yakin seratus persen dengan keputusannya sendiri.

"Tidak akan. Kalian berdua pasti akan berteman baik. Aku jamin itu."


21 November 20xx, Seoul

05.30 p.m

Ucapan Yoongi sehari yang lalu sama sekali tidak menyurutkan rasa tegang dan panik di dalam aliran darahnya. Justru begitu mobil Yoongi tiba di depan rumah Namjoon, Jimin bisa merasakan otot perutnya seperti kembali mengeras, dan anak di dalam perutnya mulai bergerak-gerak tidak nyaman. Sewaktu Yoongi membantunya keluar dari dalam mobil, Jimin bisa merasakan punggungnya berkedut-kedut ngilu, seperti merasakan kegelisahan di hatinya.

Melihat ekspresi cemas di wajah Omega itu, Yoongi melingkarkan tangannya ke pinggul Jimin, membantunya untuk berjalan sekaligus memberi usapan agar Omega itu setidaknya merasa lebih tenang.

"Kontraksi palsu lagi?" tanya Yoongi, merasakan dirinya mulai khawatir, "Atau kau hanya merasa cemas?"

"Dua-duanya," jawab Jimin sambil menaiki undakan tangga di depan rumah Namjoon dengan hati-hati. "Kurasa aku masih merasa cemas kalau-kalau istrinya membenciku."

"Tidak akan, Jiminie," kata Yoongi meyakinkan.

Ia memencet bel rumah kediaman Namjoon dan berbicara untuk memastikan melalui mesin intercom. Tidak lama kemudian pintu terbuka lebar untuk mempersilahkan mereka masuk. Seperti sebelumnya, Yoongi disambut oleh dua anjing peliharaan Namjoon dan istrinya. Kedua anjing yang berbeda jenis tersebut tampak penasaran dengan Jimin dan tidak bisa berhenti mengendus perut Omega tersebut. Ketegangan yang dirasakan oleh Jimin sebelumnya tampak mulai berkurang sewaktu Yoongi melihat senyuman cerah menghiasi wajah Omega yang ia cintai.

Namjoon menyapa mereka tepat di depan pintu masuk. Alpha bersurai coklat tersebut tampak lusuh dalam balutan sweater berwarna prussian blue. Sebelah tangannya sedang menggendong seorang anak bayi yang sudah berusia kurang lebih sebulan. Ia tersenyum ramah saat mendapati Yoongi dan Jimin berdiri di depan rumahnya, "Ah, ternyata benar kalian sudah datang. Jangan sungkan-sungkan, silahkan masuk!"

Yoongi menyerahkan satu bingkisan berisi buah-buahan pada Namjoon, "Gamsahamnida telah menjamu kami untuk makan malam, Namjoon-nim."

"Tidak masalah," Alpha itu menepuk-nepuk bahu anaknya dengan lembut. Sewaktu matanya menangkap wajah Jimin, ia menawarkan senyuman yang paling ramah, "Oh, Chim. Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau tampak sehat-sehat saja, eo?"

Kalimat yang diucapkan oleh Namjoon terdengar tulus dan sama sekali tidak mengindikasikan nada canggung. Jimin merasakan dirinya berubah lega, "Kau juga, Namjoon-nim. Tampaknya kau sangat cocok menjadi seorang Appa."

Namjoon tertawa renyah, "Begitulah, walau beberapa hari ini aku dan Seokjin sama sekali tidak bisa tidur di malam hari karena harus menidurkan anak-anak ini." Ia membawa Yoongi dan Jimin masuk ke dalam ruangan tengahnya.

Jimin merasakan jantungnya berhenti berdegup sewaktu ia melihat seorang Omega—bersurai hitam dan berwajah begitu cantik, yang pastinya adalah istri Namjoon—sedang menyusui anak mereka yang lain sambil bersandar di atas sofa. Omega itu terlihat setengah mengantuk sewaktu Namjoon dan yang lain menghampirinya di ruang tengah, membuat Jimin sedikit terpukau dengan wajah Omega itu yang tetap rupawan meski ia sedang kelelahan.

"Jin, mereka sudah tiba."

Seokjin langsung menoleh pada Yoongi dan Jimin. Sudut-sudut mulutnya tertarik membentuk senyuman, "Ah. Oeseo osipsio." Dengan hati-hati ia membangunkan diri dari sofa setelah kembali menyelipkan putingnya yang sudah berhenti dihisap oleh bayi di gendongannya ke dalam baju. "Mian kalian tiba di sini dan harus melihat rumah kami masih berantakan begini."

"Tidak masalah, kami memakluminya," kata Yoongi dengan sopan sambil melirik sedikit-sedikit ke perut Jimin.

Jimin masih berdiri dengan agak canggung di sebelahnya sampai Seokjin memaksa mereka untuk duduk. Omega yang lebih tua itu sama sekali tidak mengacuhkan Jimin ataupun terang-terangan melemparkan ucapan sarkastik, justru ia bersikap normal seolah-olah tidak pernah ada sesuatupun yang terjadi antara Jimin dengan suaminya. Setelah menidurkan anak mereka, Namjoon dan Seokjin membawa kedua anak mereka ke dalam buaian yang berbentuk keranjang yang mereka tempatkan di atas tikar berwarna-warni menyerupai rangkaian puzzle.

"Hmm, mereka kembar, tapi wajah mereka terlihat berbeda sekali," kata Yoongi sambil mempelajari satu persatu fitur kedua anak Namjoon dan Seokjin. "Kalau tidak salah, kalian menamai mereka Jisoo dan Minhyun, kan?"

Senyuman lebar di wajah Namjoon menyiratkan kebanggaan seorang ayah pada anak-anaknya yang baru saja terlahir ke dunia. Ia menunjuk ke arah dua anaknya satu persatu, "Anak kami yang pertama, perempuan dan seorang Alpha, bernama Jisoo. Dan anak kami yang kedua, laki-laki dan Omega—kami menamainya Minhyun."

"Mereka berdua sangat mirip—Jin-hyung," Jimin ikut terpesona oleh penampakan dua makhluk kecil yang kini tertidur di dalam keranjang buaian. "Tapi bentuk wajahnya, kurasa mereka mengikuti Namjoon-sajangnim."

Jimin mengira Omega yang lebih tua itu akan mengacuhkannya, tapi justru Seokjin tampak senang dengan ucapan Jimin. Ia menepuk pundak suaminya dengan agak keras, "Kau dengar apa yang dia katakan? Jisoo dan Minhyun mirip denganku!"

Namjoon menutupi wajahnya, merasa agak malu dengan sikap istrinya, "Tentu, jagiya. Mereka mirip denganmu. Kau yang melahirkan mereka."

"Ah, benar," Seokjin tiba-tiba berdiri dari atas tikar. "Aku lupa membuatkan kita makan malam," ia hendak bergegas ke dapur. Tetapi kemudian ia kembali ke ruang tengah dan setengah membungkuk pada Jimin yang sedang duduk di atas tikar, "Jimin-ah, kalau kau tidak kesulitan, mungkin aku perlu bantuanmu untuk memasak di dapur?"

Jimin tertegun mendengar ajakan Seokjin yang sama sekali tidak ia duga. Selang berapa detik kemudian, Jimin mengangguk dengan agak malu-malu, "Sama sekali tidak, hyung."

Namjoon dan Yoongi saling berpandangan di sebelahnya, melihat Jimin berjalan dengan langkah hati-hati mengikuti Seokjin ke dapur.

Dapur mereka dua kali lebih besar daripada dapur di apartemen Yoongi. Ada sebuah meja island di tengah-tengah yang dilengkapi dengan bak cuci dan meja bar. Perlengkapan memasak tertata rapi di bawah kabinet teratas. Sebuah kulkas dengan dua pintu, sepasang microwave dan oven listrik terpajang di dinding dapur. Benar-benar seperti sedang memasuki dapur idaman yang hanya bisa Jimin lihat di TV ataupun di majalah-majalah desain kontemporer lainnya.

Jimin membantu Seokjin memotong-motong bahan-bahan makanan, sementara sang Omega yang bertugas sebagai tuan rumah menyibukkan diri dengan mengambil peralatan masak yang dibutuhkan. Suasana di dalam dapur hening, hanya ada suara ketukan ujung landai pisau yang menghantam permukaan talenan dan suara dentingan dari peralatan masak yang dipersiapkan oleh Seokjin. Bahkan Yoongi dan Namjoon yang seharusnya berada di ruang tengah, kini sepertinya sedang pergi ke halaman belakang—entah sedang mengobrolkan apa.

Kemudian suara Seokjin memanggil Jimin—sedikit mengagetkan Omega yang lebih muda, "Jimin-ah, bisakah kau membawa sayuran yang telah kau potong ke sini?"

Jimin mengikuti instruksi Seokjin dengan sikap agak canggung. Seokjin kembali mendiamkannya, sampai Omega bersurai hitam itu kembali mengajaknya bicara, "Kau pasti merasa bersalah sekarang ini."

Jimin bergeming di posisinya, tangannya memegang erat panci kecil yang setengahnya berisi air, "A-aku—" Jimin menaruh panci di atas counter top dan memegangi bagian bawah perutnya yang sudah beberapa hari ini selalu terasa kram, "Aku benar-benar menyesal—"

Seokjin meletakkan tangannya di bahu Jimin dengan gerakan perlahan, "Aku sudah memaafkanmu."

Kali ini Jimin menoleh dengan mulut terbuka karena rasa terkesima bercampur tidak percaya dengan ucapan Seokjin, "Kenapa kau memaafkanku? Aku sudah berbuat jahat padamu, berselingkuh diam-diam dengan suamimu, selama dua tahun—a-aku—" air mata mulai menggenang di mata Jimin sewaktu menatap wajah Seokjin yang tampak tenang, "Seharusnya kau mendendam padaku."

"Aku memang sempat menaruh dendam padamu sewaktu Namjoon mengakui bahwa ia berselingkuh denganmu," Seokjin mengakui, "Kau tidak tahu betapa marahnya aku pada Namjoon—dan juga padamu. Terlebih lagi aku merasa kecewa, karena suami yang telah kucintai selama bertahun-tahun, ternyata berkhianat di belakangku," Omega itu menghela napas, "Aku tidak menyangka, setelah pengorbanan yang aku harus alami setelah kehilangan anak kami—justru dia malah menyelingkuhiku dengan Omega lain."

"A-aku benar-benar minta maaf—"

"Ani, ani," potong Seokjin, "Aku sudah bilang aku memaafkanmu. Saat aku memutuskan untuk menggugat cerai Namjoon, aku pulang ke rumah orang tuaku. Mereka sangat marah mengetahui Namjoon ternyata diam-diam menjalin hubungan selama dua tahun bersama seorang Omega yang terlalu jauh lebih muda darinya. Tentu saja hal itu wajar terjadi, apalagi saat itu aku sedang hamil tua," ia mengungkapkan dengan mata yang terlihat sendu, yang semakin membuat Jimin merasa dilingkupi rasa bersalah, "Lalu Namjoon datang ke rumah orang tuaku, meminta untuk bertemu denganku. Orang tuaku melarang, tapi untung saja dia bersikeras untuk tetap menemuiku untuk memberi penjelasan. Pada akhirnya ia benar-benar datang untuk meminta maaf, dan berjanji kalau dia tidak akan mengulangi perbuatannya."

"Lalu kau percaya?" tanya Jimin heran. "Maksudku, bukannya aku bermaksud buruk, tapi—"

"Aku percaya karena aku mencintainya, dan dia juga pasti melakukannya karena mencintaiku. Dia bertemu langsung dengan orangtuaku hanya untuk meminta maaf dan mengembalikan kepercayaan mereka, apalagi kalau bukan karena dia mencintaiku?" Seokjin menoleh ke ruang tengah, di mana kedua bayinya sedang tertidur di dalam buaian, "Sewaktu melihat bayi kami untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar terlihat bahagia. Belum pernah sekalipun aku melihatnya sebahagia itu. Makanya aku berpikir, mungkin apa yang telah terjadi sebelumnya juga karena kesalahanku. Aku—aku menolak berhubungan dengan Namjoon selama bertahun-tahun setelah kehilangan anak kami yang masih di dalam kandungan. Sejak saat itu, aku seperti berusaha menjauhkan diri dari Namjoon, karena terlalu takut harus mengalami hal yang serupa untuk kedua kalinya. Mungkin karena itu, dia mencari pelarian ke pelukan Omega lain."

"Namjoon-sajangnim tentu lebih mencintaimu, daripada ia pernah mencintaiku. Bahkan mungkin seharusnya apa yang ia rasakan terhadapku bukanlah cinta," ucap Jimin membenarkan pernyataan Seokjin.

"Kau sendiri, apa kau bahagia dengan Yoongi-ah?" tanya Seokjin.

Senyuman manis mengembang di wajah Jimin, "Tentu saja aku bahagia. Dialah—yang menyadarkanku bahwa ternyata masih ada Alpha yang lebih berhak dan pantas untuk aku cintai," tangannya bergerak untuk mengusap perutnya, "Kebahagiaan kami akan semakin sempurna sampai anak ini lahir, tentunya."

"Sewaktu aku mengandung anak kami, dokter tempat aku melakukan check up sama sekali tidak pernah memprediksi kalau aku mengandung anak kembar," mata Seokjin tampak menerawang meski ia mulai sibuk mengambil peralatan masak, "Dan setelah aku melahirkan Jisoo, Yoongi menemukan kalau aku ternyata masih harus mengeluarkan satu bayi lagi. Kau tahu apa yang dilakukan Namjoon sewaktu ia tahu ternyata kami memiliki dua orang anak? Ia malah jatuh pingsan," Seokjin kali ini tertawa lepas, dan Jimin ikut tertawa bersamanya. "

"Ah, jjinja?" tanya Jimin tidak percaya, "Dia benar-benar pingsan?"

Seokjin mengangguk, "Tapi aku tahu, dia benar-benar merasa senang sewaktu tahu ternyata aku mengandung anak kembar. Dia pernah bilang, mungkin jika kami pernah kehilangan satu, setidaknya suatu saat kami akan menerima dua kali lipat."

Wajah Jimin kembali berubah cemas sambil mengusap perutnya, "Kudengar, melahirkan itu lebih sakit, berkali kali lipat daripada sewaktu heat? Dan lebih menyakitkan daripada hubungan persetubuhan pertama kali? Apa benar begitu?"

"Tentu saja sakit!" seru Seokjin menyahut pertanyaan Jimin, "Bayangkan saja, dari lubang yang hanya terbuka sebesar sepuluh senti, kau harus mengeluarkan seorang anak manusia dengan diameter kepala sebesar buah semangka! Aku benar-benar mengutuki Namjoon dan hampir mematahkan jari-jarinya sewaktu aku bersalin, untung saja Minhyun lebih kecil daripada Jisoo, jadi aku hanya perlu mengeluarkannya dalam satu dorongan."

Jimin bisa membayangkan kejadian itu tepat di kepalanya, meringis, "Begitu rupanya? Aku jadi takut membayangkan diriku harus mengalami hal yang serupa dalam beberapa minggu lagi."

"Percayalah, rasa sakit itu akan hilang begitu kau melihat anakmu," kata Seokjin menenangkan kekalutan dalam pikiran Jimin. "Kau seperti melupakan kalau kau baru saja melewati penderitaan sewaktu melahirkan. Apalagi kalau Yoongi-ah terus bersama denganmu selama persalinan."

"Dia pasti tidak akan meninggalkanku barang sedetik pun," kata Jimin menyetujui.

"Kau beruntung memiliki Alpha seperti dia," Seokjin kembali menyipitkan matanya karena garis senyuman, "Dia benar-benar berani mengutarakan pendapatnya, berani mengakui kalau dialah ayah dari bayi yang kau kandung."

Ucapan Seokjin seperti membuka kebanggan baru di dada Jimin. Ia setuju dengan ucapan Omega itu, bahwa ia beruntung memiliki Alpha seperti Yoongi.


Makan malam berlangsung khidmat untuk hari itu, meski Jimin harus memaksakan diri menelan semua makanan yang ada di depannya dengan perut yang terasa penuh. Seokjin memasakkan masakan tradisional Korea dengan bantuan Jimin. Rasa canggung yang awalnya terbentuk karena penilaian awal Jimin terhadap Seokjin, sirna sudah seketika sewaktu Omega yang lebih tua mengajaknya untuk memasak di dapur sekaligus menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka. Kini hubungan mereka sudah jauh lebih baik, dan Seokjin tidak tanggung-tanggung menunjukkan sifat aslinya yang cerewet dan senang mengundang gelak tawa—yang ternyata jauh dari bayangan Jimin—bahkan Yoongi berkali-kali tidak bisa menahan tawanya sewaktu Omega itu mengeluarkan beberapa lelucon yang menurutnya sedikit tidak pantas untuk disebutkan ("Apa benar Omega ini adalah Omega yang sama dengan istri Kim Namjoon? Atau mungkin diam-diam dia punya kepribadian ganda?" bisik Yoongi di tengah-tengah acara makan malam mereka, yang kemudian dijawab dengan cubitan keras di pahanya oleh Jimin, "Hyung, nikmati dulu makan malamnya.").

Makanan penutup dihidangkan selesai mereka makan malam. Namjoon menawari Yoongi—tanpa menawari Jimin—untuk minum wine putih. Yoongi dan Namjoon mengobrol sepanjang malam sambil meminum wine mereka di atas coffee table ruang tamu, sementara Jimin dan Seokjin mengawasi dua anak bayi yang masih tengah tertidur lelap di ruang tengah.

Penilaian awal Jimin tentang Seokjin benar-benar berbeda dengan kenyataan. Jika dulu ia selalu melihat wajah istri Namjoon melalui foto di ponsel Alpha itu ataupun melihatnya pertama kali di dalam gedung NJE-C, Jimin pasti menyangka kalau Seokjin adalah sosok yang misterius, angkuh, dan dingin. Omega itu begitu cantik dan sempurna—dengan tubuh semapai dan kulit bersih yang cemerlang secara alami—dan juga terlihat seperti seorang Omega yang berasal dari keluarga dengan kasta marga yang tinggi. Seperti bertemu dengan selebriti di kejauhan yang dikerumuni oleh banyak penggemar, Seokjin adalah sosok yang tidak terjangkau dengan kharisma yang dimilikinya.

Dan ternyata, begitu Jimin mengenalnya, Seokjin benar-benar berbeda seperti apa yang selama ini tertanam di benaknya. Sang Omega bersurai hitam tersebut memang masih memiliki kharisma seperti yang dibayangkan Jimin, tetapi justru lewat senyuman dan tawa ramahnya yang menarik banyak orang. Seokjin tetaplah cantik dan menarik di mata orang manapun, tetapi ia tidak dingin dan angkuh, justru begitu blak-blakan dan kepribadiannya membuat Jimin tidak bosan mengobrol dengan Omega tersebut. Seokjin juga memiliki pengetahuan yang luas, yang sepertinya ia peroleh karena profesinya sebagai spesialis jantung serta karena ia merupakan istri seorang Kim Namjoon. Pengetahuannya tersebut tidak membuatnya sombong, justru rendah hati, pengertian, terbuka, dan sangat menghargai apa yang selalu diutarakan Jimin.

Jimin merasa begitu bersalah pernah berselingkuh dengan suami dari Omega sebaik Seokjin, meski Seokjin berkali-kali bilang kalau ia sudah memaafkan Jimin.

Bahkan sewaktu kedua anaknya terbangun, Seokjin tanpa ragu sedikit pun menawarkan Jimin untuk menggendong salah seorang anaknya.

"Kau serius memperbolehkan aku menggendongnya, Hyung?" tanya Jimin agak sungkan dengan tawaran yang diberikan oleh Seokjin.

"Tentu saja boleh! Sebentar lagi kau akan melahirkan, ini bisa menjadi latihan untukmu menggendong anakmu ketika ia lahir nanti," jawab Seokjin dengan penuh kepercayaan diri. Ia memberikan Minhyun yang terus-menerus menatap sekeliling dengan mata berbentuk almond yang jelas-jelas diwarisi dari Seokjin.

Jimin merasa agak waswas sewaktu Seokjin meletakkan putranya di atas gendongan Jimin. Bayi itu menggeliat sewaktu Jimin membetulkan posisi Minhyun di lengannya, dan kemudian mengeluarkan suara yang terdengar seperti ocehan anak bayi pada umumnya. Jimin terpana dengan Minhyun. Ia meletakkan ujung telunjuknya ke tangan bayi itu, dan Minhyun langsung menyambar tangan Jimin dan memasukkannya ke dalam mulutnya yang mungil. Hati Jimin seperti membesar berkali-kali lipat melihat tindakan gemas putra Namjoon dan Seokjin tersebut.

"Minhyun adalah bayi yang paling tenang yang pernah kulihat," kata Seokjin memberitahu Jimin. Ia sibuk memposisikan dirinya untuk menyusui bayi pertamanya, Jisoo, "Dia cuma menangis kalau aku belum memberinya makan malam. Sedangkan Jisoo," ia menoleh pada bayi perempuannya yang mulai rewel di antara kedua tangannya, "Lihatlah, dia mulai tidak sabaran untuk menerima makan malam hari ini. Anak ini, demi apapun, dia selalu menangis hampir di setiap saat. Padahal dia akan tumbuh menjadi Alpha nantinya."

"Kurasa aku mulai bisa membedakan Minhyun dengan Jisoo," ucap Jimin sambil memainkan tangan Minhyun dengan hati-hati.

"Aku sudah bisa membedakannya lewat suara tangisan mereka," sahut Seokjin—entah ia serius atau bercanda sewaktu mengatakannya.

Jimin dan Yoongi pamit pulang ketika waktu menunjukkan pukul 9 malam. Suasana sudah menghangat di antara dua pasang Alpha Omega tersebut. Seokjin dengan rasa antusiasmenya menyuruh Jimin untuk kembali mengunjungi mereka—mengejutkan suaminya yang langsung melemparinya dengan tatapan terkaget-kaget ("Sejak kapan kalian sedekat ini?" "Oh, diamlah, Joon."). Jimin sudah tidak malu-malu lagi untuk menjawab ajakan Omega itu dengan rasa antusias yang sama besarnya dan beringsut untuk mengikuti Yoongi ke mobil setelahnya.

"Sudah kubilang, semuanya akan baik-baik saja," kata Yoongi pada Jimin sewaktu mereka berdua telah masuk ke dalam mobil.

"Aku mengerti, Hyung, aku sudah salah berasumsi dari awal," sahut Jimin sambil memasang sabuk pengaman. Ia menoleh ke arah jendela, melihat Namjoon dan Seokjin satu persatu memasuki rumah diikuti oleh kedua anjing mereka. Dalam lubuk hatinya, ia merasa lega mendapati Seokjin adalah istri dari Alpha yang dulu pernah dicintainya. "Mungkin lain kali, kita akan berkunjung lagi ke sini."

"Tentu, tentu," ia bisa mendengar antusiasme dari nada suara Yoongi.

Mereka baru sampai setengah jalan sewaktu Jimin merasakan perutnya kembali berkedut-kedut tidak nyaman—yang mungkin diakibatkan oleh kontraksi palsu yang akhir-akhir menyerang bagian otot perutnya. Ia membungkukkan tubuhnya, berusaha mengatur napas sampai rasa sakit itu hilang. Yoongi yang menyadari eskpresi kesakitan di wajahnya, memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.

"Jiminie? Kau tidak apa-apa? Apa kita perlu berhenti sebentar?"

"Tidak perlu, Hyung. Ini—" Jimin menggeleng dan mengeluarkan lenguhan pelan, "Ini hanya kontraksi palsu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Tapi aku belum pernah melihatmu sesakit ini," Alpha itu memiringkan tubuhnya sedikit untuk meringankan rasa nyeri di perut Jimin dengan pijatan-pijatan kecil, "Kalau masih terasa sakit, sebaiknya kita ke dokter atau ke rumah sakit, oke?"

Jimin hanya mengangguk mengiyakan. Matanya terpejam dan napasnya sedikit memburu saat merasakan rasa sakit masih menyerang bagian perutnya. Sewaktu rasa sakit itu menghilang, ia mulai kembali bersandar ke sandaran kursi yang terasa seperti ingin meremuk redamkan punggungnya. Bahkan beberapa kali ia mengubah posisinya, perutnya masih terasa seperti ditekan oleh beribu-ribu tangan tidak terlihat.

Mereka tiba di apartemen Yoongi tidak lama kemudian. Jimin berpegangan pada tangan Yoongi sewaktu ia keluar dari mobil, saat tiba-tiba saja ia merasakan kepala bayinya mendadak seperti turun dan kini mengganjal di antara selangkangannya. Jimin mengaduh merasakan sensasi tidak nyaman tersebut, mengagetkan Yoongi.

"Jiminie? Kau yakin tidak apa-apa?"

Jimin menggeleng, "Rasanya—" ia menarik napas perlahan-lahan, "Rasanya ada sesuatu yang salah, Hyung—" Omega itu menundukkan kepalanya sewaktu ada sesuatu di dalam dirinya yang meletup disertai oleh cairan basah menuruni selangkangannya. Terakhir ia ingat, sebelum kembali dari rumah Namjoon dan Seokjin, ia sempat mengosongkan isi kantung kemihnya di kamar mandi ruang tamu. Omega itu sempat khawatir sewaktu ia melihat sesuatu yang berlendir disertai sedikit darah muncul sewaktu ia buang air, berharap bahwa hal tersebut adalah hal biasa karena ia sama sekali tidak merasakan rasa sakit. Tetapi sepertinya hal yang lebih mengerikan di benaknya kini benar-benar terjadi tidak lama lagi.

Mata Yoongi belum pernah dilihatnya membulat sebesar itu sewaktu Alpha itu menyadari apa yang terjadi. Dengan waswas dan kalang kabut, Yoongi langsung menyuruhnya kembali masuk ke dalam mobil, sementara Jimin masih berusaha mencerna apa yang terjadi padanya saat ini. Ia mengusap perutnya sewaktu rasa sakit itu kembali muncul. Yoongi kembali ke dalam mobil tidak lama kemudian, berpenampilan lusuh dengan tas terselempang di bahu. Jimin tidak perlu bertanya tas itu apa, karena sejak beberapa hari lalu ia mulai membenahi perlengkapan untuk di rumah sakit atas perkataan ibunya. Tidak disangka-sangka ternyata ia membutuhkan tas tersebut lebih awal.

Jimin mencengkeram lengan Yoongi kuat-kuat sewaktu ia merasakan perutnya kembali mengejang lebih kuat, "Hyung, aku belum siap—" Omega itu mulai menangis, "A-anak ini belum boleh lahir sekarang—"

Keringat dingin mulai bermunculan di dahi Yoongi sewaktu Alpha itu menarik tuas mobil dan menginjak gas, "Sekarang tenanglah, Jiminie, jangan membuat pikiran aneh-aneh untuk saat ini," suara Alpha itu terdengar tenang, tapi jika Jimin tidak merasakan kontraksi di perutnya, mungkin ia bisa melihat tangan Yoongi gemetar saat ia memegang setir.

Jimin menghembuskan napas saat kontraksi itu mulai memudar. Tanpa disadarinya, keringat dingin mulai membasahi leher dan dahinya.

Anak di dalam kandungannya masih berusia 31 minggu, terlalu cepat untuknya lahir sekarang. Jimin merasa ketakutan mengingat akan banyak komplikasi dan masalah yang muncul jika ia terlalu cepat melahirkan anaknya sekarang. Terlebih lagi, ia terlalu takut menemukan anaknya terlahir dengan wajah sama persis dengan Chanyeol, seperti yang pernah mimpi buruknya berikan jauh-jauh sebelumnya.

Kekalutan dalam pikirannya membuat hati Jimin semakin bebas berkelebatan. Ia hanya bisa menangis.


Yoongi nyaris berteriak, naik pitam, sewaktu seorang perawat jaga malah menyuruhnya untuk menunggu di ruang tunggu sampai dokter yang menangani Jimin selesai menangani pasien yang lain. Kini ia bisa merasakan rasa frustasi yang dirasakan oleh Namjoon sewaktu Seokjin akan melahirkan anak mereka di rumah sakit. Untung saja dokter yang menangani Jimin segera datang untuk menyelamatkan keadaan.

Jika sebelumnya dokter yang menangani Seokjin adalah seorang Alpha, kini dokter yang menangani Jimin adalah seorang Omega berusia 40 tahunan, hal yang patut disyukuri oleh Yoongi karena ia tidak perlu khawatir Jimin akan dijamah oleh Alpha lain. Dokter tersebut langsung memanggil perawat untuk membawa Jimin ke ruang bersalin.

"Dia hampir pembukaan sempurna," kata dokter tersebut dengan wajah sedikit khawatir, benar-benar jauh berbeda dari dokter yang sepenuhnya bersemangat menangani persalinan Seokjin. Yoongi merasakan ludahnya seperti tersangkut di tenggorokannya mendengar pernyataan tersebut. "Dan air ketubannya sudah pecah. Mau tidak mau dia harus melahirkan sekarang juga."

"Anak ini belum siap—" kata Jimin pelan, wajahnya sudah penuh dengan air mata, "Aku masih 31 minggu—"

"Kalau kau tidak melahirkan anak ini sekarang juga, Jimin-ssi," dokter memberitahu dengan sorot mata serius, "Kau tidak hanya terkena infeksi, tetapi juga membahayakan anakmu. Dia bisa saja mati karena tidak mendapatkan oksigen tepat pada waktunya."

Yoongi meremas tangan Jimin, mencium dahi Omega tersebut yang sudah basah oleh keringat dingin, "Dengarkan apa yang dikatakan oleh Choi-uisanim, Jiminie. Kau tidak akan membiarkan anak kita kesulitan, kan?"

Jimin hanya bisa membenamkan kepalanya ke dada Yoongi.

Setelah Yoongi membantu Jimin berganti pakaian rumah sakit, ia menelepon kedua orang tua Jimin dan kedua orang tuanya sendiri. Ia sempat berpikir untuk menelepon Namjoon, tetapi Alpha itu pasti sekarang sedang sibuk mengurus keluarga kecilnya. Juga jika ia menelepon Taehyung, Jungkook, Hoseok ataupun Heechul, pasti justru ia malah merepotkan mereka. Untung saja malam itu, orang tua Jimin langsung mengabarkan kalau mereka akan terbang dari Busan untuk menemui putra mereka yang sebentar lagi akan melahirkan.

"Hyung—" panggil Jimin sewaktu Yoongi memasuki kamar bersalin, "Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak ini? Ini semua salahku—"

"Ssh," bisik Yoongi, memelankan suaranya. Tangannya mengelus-elus dahi Jimin, menyeka keringat yang membasahi dahi Omega itu. Rambut pirang kekasihnya kini sudah setengah basah akibat keringat dingin yang disebabkan oleh rasa sakit di perutnya. Yoongi tidak tega melihat keadaan kekasihnya, merasa patah semangat karena ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk meringankan rasa sakit Jimin. "Berpikirlah sesuatu yang membuatmu merasa senang. Anak ini akan selamat, Choi-uisanim sudah mengatakannya padamu, kan? Semuanya akan baik-baik saja," ia kembali menciumi wajah Jimin. "Kau mau kubawakan sesuatu?"

Jimin mengangguk, "Aku butuh air—"

"Baik, tunggu sebentar, oke? Kalau ada apa-apa, kau langsung panggil perawat atau dokter saja," Yoongi mengingatkan dan beranjak pergi dari sisi Jimin, dengan perasaan yang enggan dan sedikit waswas karena harus meninggalkan Omega yang ia cintai.

Tidak lama ia kembali ke ruangan di mana Jimin berada, ia menemukan Omega itu sudah merubah posisinya. Yoongi kalang kabut beralih ke sisi Jimin, menawarkan bantuan. Jimin merintih kesakitan sewaktu punggung dan selangkangannya terasa semakin pegal karena terlalu lama dalam posisi tidak nyaman.

"Kenapa kau tidak mau memanggil perawat kalau kau butuh bantuan untuk mengubah posisi, Jiminie?!" Yoongi tanpa sengaja meninggikan nada suaranya karena kekhawatirannya memuncak melihat Jimin sedikit susah payah mencari posisi yang tepat untuknya.

"Aku bisa melakukannya sendiri," sahut Omega itu bersikeras.

Setelah membantu Jimin mencari posisi yang tepat, Yoongi kembali menawarkan minuman air mineral yang baru dibelinya dari mesin penjual minuman.

Waktu terasa berjalan begitu lama, sampai akhirnya Jimin mengeratkan pegangannya pada Yoongi, "Hyung, rasanya ada sesuatu yang—mmhh…" mata Jimin terpejam, kedua kakinya kini menggelung dan tertancap di atas permukaan putih seprai. Yoongi membeliakkan matanya sewaktu ia melihat ada sedikit darah merembes keluar melalui permukaan seprai. Buru-buru ia memencet tombol panggilan dan tidak butuh waktu lama untuk dokter dan perawat tiba.

"Fully effaced, kepala bayi juga sudah berada pada posisi station zero," kata dokter pada perawat di sebelahnya—yang sedang mempersiapkan berbagai macam peralatan untuk membantu proses persalinan termasuk sebuah mesin inkubator .

Yoongi hanya bisa diam dan memperhatikan, terlihat seperti orang dungu yang tidak mengerti situasi genting di hadapannya. Remasan kuat di jari-jarinyalah yang menyadarkan Yoongi dari rasa takutnya sewaktu dokter mulai menyuruh Jimin mengejan, mendorong keluar anak mereka.

Setelah berbulan-bulan lamanya menunggu, kini ia akan melihat langsung anak mereka. Anaknya dan Jimin.

Atau mungkin itu adalah anakku, Jimin?

Kalimat itu mulai terngiang-ngiang di benak Yoongi. Tetapi hatinya bersikeras, bersikukuh bahwa anak yang dilahirkan Jimin adalah darah dagingnya, bukan anak dari seorang Park Chanyeol. Anak yang akan dilahirkan oleh Jimin ke dunia adalah anak dari seorang Min Yoongi.

Mungkin sewaktu ia melihat Seokjin melahirkan, Yoongi seperti ingin melarikan diri; ditelan bumi, atau menghilang dari peradaban. Ia merasa geli dan jijik harus menghadapi situasi di mana ia harus menyaksikan seorang anak manusia terlahir ke dunia, dengan kedua selangkangan seorang Omega yang sama sekali bukan pasangan hidupnya terbuka lebar di depan wajahnya, dengan lendir, darah, dan cairan lainnya mengotori seprai putih rumah sakit. Tetapi tidak dengan Jimin. Yoongi merasa jika ia tidak menyaksikan kelahiran anaknya secara langsung, ia akan melewatkan momen-momen paling berharga di dunia.

Ia tidak peduli jika Jimin dipenuhi oleh keringat dan dibanjiri oleh airmata, tidak peduli jika Jimin meremas tangannya begitu kuat—seolah-olah pegangan hidupnya hanyalah Yoongi seorang, tidak peduli jika Jimin mengerang kesakitan dan memaki-maki Yoongi. Karena di matanya saat ini Jimin adalah Omega yang paling cantik, ciptaan terindah yang pernah dibuatkan oleh Tuhan untuknya. Yoongi mengecup leher Jimin, menghirup aroma cherry dari tubuh Omega itu lamat-lamat, seolah-olah oksigen yang ia hirup sehari-hari hanya berasal dari aroma tubuh Jimin.

Jimin menggerung pelan, menjatuhkan kepalanya ke belakang dan memberi dorongan sekuat yang ia bisa. Yoongi tidak dapat menahan dirinya untuk berusaha melihat kepala yang menyembul di antara kedua kaki Jimin. Kepala tersebut terlihat begitu kecil di antara kedua tangan dokter. Jantung Yoongi berdentum-dentum kuat menghantam tulang dadanya, merasakan dirinya belum pernah setegang ini, bahkan lebih tegang ketika ia memberikan pidato singkat di depan berjuta-juta orang yang menyaksikan dirinya.

"Jiminie, jeongmal saranghae."

Jimin tidak menjawab ucapannya tersebut. Dahi Omega itu berkerut-kerut dan otot wajahnya mengeras sewaktu ia mencoba mengejan.

Begitu ada jeda sebentar sebentar untuk rehat, dokter kembali menyuruh Jimin untuk mendorong, dan kini anak mereka terlahir ke dunia. Yoongi sempat panik sewaktu ia hanya mendengar suara bisikan di antara dokter dan perawat disertai suara desahan napas Jimin, tetapi kemudian ia mendengar suara tangisan kecil bayinya. Terdengar lemah, tapi setidaknya ia mendengar bayinya menangis. Bayinya dan Jimin bergerak-gerak—meski gerakannya yang terlihat canggung dan terpatah-patah seperti menggambarkan ketika seseorang mengalami tremor—tetapi bayinya menangis, dan bergerak hidup.

Ia telah menjadi seorang ayah.

Yoongi tidak dapat menentukan dirinya ingin tertawa atau menangis bahagia, sehingga ia melakukan kedua-duanya. Ia kembali mencium Jimin, berbisik lirih, mengucapkan kata-kata betapa ia mencintai Omega itu. Jimin mengulurkan tangannya pada bayinya yang masih ditangani oleh dokter dan perawat, tetapi Yoongi menyuruh Omega itu agar mempercayakan semuanya pada tim dokter.

"Bayi laki-laki yang sehat," kata sang dokter memberitahu. Sementara di belakangnya perawat yang bertugas, memasukkan anak mereka ke dalam mesin inkubator. "Mungkin dia terlahir prematur, tapi berat badannya sesuai yang kami harapkan. Kami harus memeriksa keadaan bayi kalian untuk mewanti-wanti jika terjadi sesuatu yang diinginkan."

Yoongi mengangguk pasrah, masih menggenggam sebelah tangan Jimin. Omega itu tampak lelah, matanya mulai terlihat sayu karena banyak menangis malam itu.

"Beristirahatlah, Jiminie," bisik Yoongi.

"Tapi—tapi anak kita—"

"Dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Jimin hanya berbaring di atas ranjang rumah sakit sampai perawat memindahkannya ke ruang inap. Yoongi tidak melepaskan pegangan tangannya pada Jimin. Sama seperti kekasihnya, Yoongi menunggu kepastian.


Kedua orang tua Jimin tiba pukul dua malam tanpa adik laki-laki Omega itu, sejam setelah Jimin melahirkan putra mereka. Ayah Jimin, Beta berusia empat puluh tahun dengan rambut mulai dipenuhi uban dan tubuh gempal. Lucu jika Yoongi mengatakan Jimin mirip sekali dengan ayahnya, tetapi Omega itu juga mewarisi bentuk senyuman dari ibunya.

Ayah Jimin ikut menunggui bayi mereka yang masih diperiksa di NICU. Ada begitu banyak selang, saluran arterial dan tuba yang menyelimuti tubuh kecil putranya, memberi bantuan hidup untuk sang bayi yang terlahir prematur selama lebih dari 5 minggu tersebut. Seorang perawat sedang sibuk menata ulang ventilator untuk bantuan pernapasan sang bayi yang masih merah.

"Dia akan baik-baik saja," kata ayah Jimin pada Yoongi. Beta itu sama sekali tidak marah atapun menyalahkan Yoongi sewaktu mendengar bahwa putranya melahirkan secara prematur dan justru berusaha bersikap setenang mungkin agar Yoongi tidak kehilangan akalnya harus waswas menunggu perkembangan bayinya.

"Ne."

Mereka menunggu berjam-jam lamanya sampai perawat utama yang menangani bayi prematur keluar untuk memberitahukan keadaan bayi mereka. Yoongi menganggukkan kepalanya berulang-ulang sewaktu perawat memberikan penjelasan, mendengarkan dengan seksama. Ia harus menunggu sampai berminggu-minggu lamanya untuk melakukan banyak kontak fisik dengan putranya, tetapi ia diperbolehkan untuk menunggu di dalam NICU dan melakukan sentuhan ringan sampai putra mereka benar-benar diperbolehkan untuk keluar dari dalam mesin inkubator.

Meski orang tua Jimin hanya dapat tinggal di Seoul selama sehari, mereka terlihat bahagia bercampur lega sewaktu melihat cucu pertama mereka dalam keadaan yang baik-baik saja.

"Anak ini akan tumbuh sehat," kata ayah Jimin pada Yoongi sewaktu ia dan istrinya hendak kembali ke bandara hari itu, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalian berdua jangan menyalahkan diri sendiri. Jujur, justru aku senang bisa menjadi seorang halabeoji secepat ini. Jika aku pernah marah padamu, itu karena aku berpikir kalau kalian belum siap untuk menjadi orang tua. Tapi sekarang, melihat kalian, kurasa kalian akan bisa melakukannya," ia menepuk pundak Yoongi untuk memberikan dorongan semangat, "Kalau kalian butuh bantuan, kami siap untuk datang mengasuh. Jangan lupa juga untuk mengabari kami kalian akan memberinya nama apa."

Yoongi langsung tidak dapat menyembunyikan airmatanya mendengar perkataan ayah Jimin. Ia tidak malu-malu ataupun merasa canggung sewaktu memeluk Beta itu dan mengucapkan banyak kata terima kasih.

Jimin akhirnya diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit tiga hari kemudian, meski ia bersikeras untuk tinggal di rumah sakit lebih lama agar bisa mengawasi putra mereka. Yoongi memutuskan untuk cuti agar ia bisa mengantarkan Jimin ke rumah sakit dan menghabiskan waktu lebih lama di sana untuk melihat perkembangan terbaru tentang anak mereka. Selama ini mereka hanya bisa melihat bayi yang masih merah tersebut lewat kaca yang membatasi ruang NICU dengan koridor umum atau melihat langsung dengan mengenakan seragam medis yang lengkap. Bayi mereka masih terlalu rapuh untuk mengenal dunia luar dan harus membutuhkan banyak adaptasi melalui bantuan selang atau tuba berisi nutrisi yang ia perlukan.

Dan hingga saat ini keduanya belum menentukan lama, mereka menunggu sampai waktu yang dirasa tepat untuk memberikan nama bagi bayi mereka.

Namjoon datang ke rumah sakit seminggu setelah Jimin melahirkan sambil membawa Seokjin. Keduanya tampak bersimpati melihat keadaan bayi mereka, tetapi mereka tetap mengucapkan selamat atas kelahiran bayi Yoongi dan Jimin. Seokjin menjadi orang kedua tempat Jimin mencurahkan seluruh perasaannya menyambut kelahiran bayinya yang prematur, dan Omega yang lebih tua tersebut mendengarkan semua ungkapan perasaan Jimin dengan penuh perhatian, memberikannya beberapa petuah dan kata-kata berisi penyemangat. Seolah-olah mereka telah bersahabat sejak lama dan tidak pernah ada kasus perselingkuhan yang pernah terselip di antara mereka.

Sementara kedua Omega tersebut berada di ruang NICU, Namjoon dan Yoongi menunggu di ruang tunggu. Namjoon hanya sesekali menanyakan tentang perkembangan bayi Yoongi, menanyakan apakah ia sudah menentukan nama bagi putra mereka, dan apa rencana Alpha itu ke depannya begitu putra mereka bertumbuh besar. Yoongi menjawab bahwa ia masih belum tahu dan ia masih akan menunggu sampai semuanya tiba di titik di mana ia bisa menentukan semuanya.

Taehyung, Jungkook, dan Hoseok datang bersamaan, disusul oleh Heechul, Leeteuk dan Zhoumi. Mereka nyaris berkerubung di depan ruang NICU, melihat bayi Yoongi dan Jimin melalui kaca pengunjung. Taehyung dan Jungkook nyaris tidak bisa menahan air mata mereka sewaktu melihat ke dalam ruangan NICU, tetapi Yoongi justru menertawakan mereka—mengatakan bahwa mereka menangis di waktu yang salah.

Orang tua Yoongi datang di akhir pekan pertama. Ibu Yoongi tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan cucu pertamanya, sementara sang Ayah hanya bisa mengusap bahu Yoongi, menyemangati putranya. Kedua orang tuanya langsung memeluk Jimin, seolah-olah mereka sudah mengenal lama Omega itu. Kakak laki-laki Yoongi tidak dapat datang, tetapi ia mengirimkan banyak mainan dan perlengkapan bayi. Ayah dan ibu Yoongi pulang sehari kemudian.

Di minggu kedua, Jimin nyaris menghabiskan waktunya selama beberapa hari di dalam NICU dengan tidur di atas sofa, tidak mempedulikan keadaan fisiknya yang masih belum begitu baik pasca melahirkan. Tapi ia bersikeras tidak ingin meninggalkan bayi mereka sewaktu Yoongi memintanya untuk pulang bersamanya ke apartemen. Untung saja pada minggu kedua tersebut, untuk pertama kalinya, dokter mengizinkan mereka untuk menggendong bayi laki-laki mereka yang beberapa hari sebelumnya sudah tidak berwarna merah.

"Kalian beruntung Jimin melahirkannya pada minggu ke 31," kata dokter, "Bayi yang terlahir pada minggu ke-31 sampai minggu ke-33, cenderung mudah berkembang lebih cepat daripada bayi yang lahir pada minggu ke 34 sampai dengan minggu ke 37."

Yoongi hampir-hampir tidak mendengar apa yang dikatakan oleh dokter mereka karena matanya tidak lepas dari bayi mungil yang hanya seukuran dua kepal tangan orang dewasa diletakkan di atas tangan Jimin yang sedikit gemetar oleh rasa waswas akan menjatuhkan bayi mereka. Seorang perawat membantu Jimin membuka kancing baju yang ia kenakan, memberikan sentuhan antar kulit antara sang ibu dengan sang bayi. Dengan refleks, bayi mereka merapatkan dirinya ke dada Jimin, membuka mata, dan mengeluarkan suara yang lebih mirip rengekan kecil. Bayi mereka tampak ringkih di atas dada Jimin, tetapi gerakan tubuhnya menyatakan kalau ia sehat dan berkembang sebagaimana mestinya.

Jimin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bayi mereka, tampak begitu takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini. "Hyung, lihat," suaranya terdengar lirih, tapi Yoongi dapat merasakan wajah Omega itu berseri-seri sewaktu berkata, "Dia punya bentuk mata, hidung dan mulut sepertimu. Dia benar-benar mirip denganmu."

Yoongi tidak perlu berlama-lama untuk membuktikan hal tersebut. Ia nyaris bisa melihat salinan dirinya di wajah bayi mereka yang belum genap berusia dua minggu. Ingatan sebelumnya kalau ia pernah meragukan identitas bayi mereka, kini benar-benar terhapuskan. Jika sebelum-sebelumnya ia berpikir bayi mereka akan terlahir dengan wajah seperti Chanyeol, bukan seperti dirinya, kini ia seperti tidak percaya mendapati wajah bayi mereka merupakan cerminan dirinya. Yoongi tersenyum begitu lebar, sampai kedua pipinya terasa pegal, dan airmatanya berjatuhan satu persatu di wajahnya.

Ia dan Jimin mengendus untuk mengenali aroma bayi mereka. Yoongi dan Jimin saling berpandangan, tersenyum pada satu sama lain.

"Dia Omega, sama sepertimu, Jiminie."

Tangan Jimin bergerak untuk menyeka air mata yang membasahi wajah Yoongi, "Kau tidak akan kecewa karena dia adalah Omega, kan?"

"Untuk apa aku merasa kecewa?" Yoongi berbalik tanya, senyumannya begitu kontras dengan air mata yang mengalir di wajahnya, "Justru aku merasa bahagia. Belum pernah aku merasa sebahagia ini," ia mencium dahi Jimin dan kembali memperhatikan bayi mereka, "Aku bangga padamu, Jiminie. Aku benar-benar berterimakasih karena kau telah memberikanku kebahagiaan seperti ini," ucapan itu terdengar sedikit klise di telinganya, tapi Yoongi tulus sewaktu menyampaikan kalimat tersebut pada Jimin.

Jimin menatap Yoongi dan bayi mereka bergantian dengan tatapan penuh kasih sayang, "Jadi, apa kau sudah bisa menentukan kita akan menamainya siapa?"

Tidak butuh waktu lama untuk Yoongi menamai putra mereka. Berminggu-minggu di rumah sakit, ia dan Jimin tidak pernah lepas untuk mendiskusikan nama putra mereka.

"Jihoon, kurasa nama itu cocok melekat padanya," kata Yoongi, menghapus air matanya sendiri, "Siapa tahu dia akan tumbuh besar menjadi pemusik jenius seperti diriku. Dan tumbuh sama ambisiusnya seperti ibunya. Atau setidaknya lebih baik daripada Jihoon yang lainnya."

"Dia akan jadi orang hebat suatu saat nanti," Jimin tersenyum, "Yeoboseyo, Jihoon." Anak di dalam gendongannya menggeliat pelan. "Min Jihoon, eo?"

"Mungkin aku akan memanggilnya dengan sebutan Woozi," sahut Yoongi tiba-tiba.

Jimin melemparinya tatapan tajam, terperangah, "Kita sudah memberinya nama yang bagus dan kau malah mau memanggilnya Woozi?"

"Siapa tahu itu akan menjadi nama panggungnya kalau dia sudah terkenal nanti," Yoongi tersenyum jahil. Ia membungkukkan tubuhnya untuk bisa melihat Jihoon lebih dekat, "Appa akan memanggilmu dengan sebutan Woozi, kau tidak akan keberatan, kan?"

Jihoon mulai mengeluarkan seruan yang berupa lengkingan yang terdengar ringkih, seperti tersinggung karena tidak menyukai ucapan Yoongi.


25 Desember 20xx, Seoul

Pada sebulan setelahnya, Jihoon telah bertumbuh kembang sesuai harapan dokter. Jimin mulai terbiasa menyusui Jihoon tanpa bantuan tuba ataupun botol minuman bayi. Kini Jihoon juga telah bertambah nyaris dua kali lipat daripada ukurannya sewaktu ia lahir. Yoongi tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya sewaktu ia melihat wajah Jihoon semakin menyerupai dirinya. Jika saja ia bertemu dengan Chanyeol, mungkin ia akan terang-terangan menggendong Jihoon di depan muka Alpha brengsek itu dan menyombongkan bagaimana Jihoon benar-benar darah dagingnya sendiri, bukan darah daging dari seorang Park Chanyeol.

Bahkan Namjoon dan yang lain tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka sewaktu mendapati Jihoon benar-benar seperti hasil kloningan Yoongi.

"Tapi aku berdoa semoga dia tidak mewarisi sifatmu," gumam Namjoon sewaktu ia dan Seokjin bertandang ke apartemen Yoongi sambil membawa kedua anak mereka.

Yoongi hanya membalas dengan gelakan tawa.

Tepat setelah Taehyung, Jungkook, Hoseok, Heechul, dan yang lainnya bertandang ke apartemen untuk melihat Jihoon secara langsung, muncul berita ke permukaan bahwa Jimin sudah melahirkan putra mereka. Awalnya ada sedikit kecurigaan yang mencuat dan mengatakan Jimin mengandung Alpha lain, tapi begitu Yoongi membuka akun media sosial baru dan mengunggah foto bayi mereka, berita tersebut langsung menghilang seperti deburan pasir di tepian laut.

Saat natal tiba, Yoongi membeli sebuah piano dan memainkannya di ruang tengah yang telah ditata ulang untuk mengakomodasi kebutuhan penghuni baru di apartemennya. Setelah memberi hadiah natal kecil untuk Jihoon—yang berupa topi dan kaus kaki natal yang masih terlalu besar untuk dikenakan putra mungil mereka—Yoongi memainkan piano barunya. Di ujung ruangan, Jimin tengah menyusui Jihoon sambil memejamkan matanya, memfokuskan diri untuk mendengar lantunan musik dari tuts-tuts piano.

"Hyung," panggil Jimin, "Menurutmu, kapan aku bisa kembali ke NJE-C? Aku sudah mulai merindukan Taehyung dan Jungkook, juga yang lain. Aku juga ingin menari lagi."

"Kapanpun sampai kau siap."

"Tapi apa tidak apa-apa kalau aku meninggalkan Jihoon?" nada suara Jimin terdengar khawatir, "Bagaimana kalau dia ingin menyusu?"

"Kita baru saja membeli pompa ASI, kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Apa menurutmu akan berbahaya kalau aku membawa Jihoon ke tempat latihan?"

Yoongi menghentikan permainan musiknya dan menoleh pada Jimin, "Apa kau benar-benar perlu sekhawatir itu? Kalaupun kau takut untuk membawa Jihoon ke studio, kau bisa menitipkannya pada orang tuamu, kan? Mereka bersedia tinggal di apartemen kita untuk merawat Jihoon."

"Aku tidak mau menyerahkan Jihoon pada orang lain," Jimin bersungut-sungut.

Yoongi tertawa, "Putuskanlah sendiri, Jiminie. Kita sudah menjadi orang tua sekarang."

Ia hanya bisa mendengar Jimin mengerang putus asa.

Yoongi kembali memainkan piano, kali ini dari lagu yang ia komposisikan sendiri. Ia belum menentukan judul untuk lagu barunya ini, tetapi yang jelas, ia membuat lagu ini begitu Jihoon lahir. Lagu ini menceritakan tentang perjuangannya mendapatkan cinta Jimin, dan bagaimana pengalaman sesudahnya setelah Jimin menjadi kekasihnya. Terdengar gombal, tapi Yoongi bersungguh-sungguh mengutarakan isi perasaannya saat ia membuat lagu tersebut.

Yoongi hampir tidak sadar sewaktu Jimin berjalan ke arahnya, sambil menggendong dan menepuk pelan-pelan punggung Jihoon.

"Aku baru mendengar kau memainkan musik ini," kata Jimin, "Ini lagu apa?"

"Aku memang baru membuatkannya," jawab Yoongi, "Untukmu."

Ia bisa merasakan Jimin berubah salah tingkah di sebelahnya. "Apa kau sudah menentukan akan menamakan lagu ini apa?" tanya Omega itu berusaha bersikap tenang.

"Hmm," Yoongi berhenti sebentar dan berpikir, "Apa menurutmu kalau aku menamai laguku 'A Genius In Love' akan sedikit berlebihan?"

Jimin memutar bola matanya, berpikir selintas, "Tidak juga. Kau memang jenius dalam soal musik. Dan kau saat ini sedang jatuh cinta padaku," sahut Jimin mengomentari. "Koreksi, kau jatuh cinta padaku setiap harinya."

Yoongi tergelak.

Selesai ia memainkan lagunya, Yoongi bangun dari kursi dan memberi pelukan hangat pada Jimin, mengecup pelan di pipi Jimin dan di dahi Jihoon.

Yoongi menghela napas panjang, "Jiminie, kau tahu betapa aku mencintaimu, kan?"

"Tentu saja," jawab Jimin pelan. "Kau juga harus tahu bagaimana aku juga mencintaimu, Hyung."

Yoongi merasakan hatinya berdesir oleh rasa bahagia mendengar jawaban tersebut. Di hadapannya kini, Jimin benar-benar terlihat begitu indah. Bahkan lebih indah daripada sewaktu ia melihat Omega itu menari di studio, mempertunjukkan lekukan tubuhnya yang sempurna. Apalagi kini Jimin adalah miliknya seorang. Dengan adanya Jihoon di antara mereka, hubungan mereka semakin kuat dan intim, membuat Yoongi jatuh cinta pada Omega itu setiap harinya.

Yoongi memejamkan matanya sewaktu ia mendengar Jimin melantunkan lagu untuk bayi mereka.

Ah, ia benar-benar menyukai suara Jimin.

Yoongi bergerak untuk memeluk Jimin dari belakang sewaktu Omega itu selesai melantunka lagunya. Wajahnya menghadap kepala mungil Jihoon yang mulai terlihat mengantuk karena minum banyak ASI untuk hari itu, "Jiminie?" panggilnya dengan suara berat dan lirih.

"Ne?"

"Kau bilang sebelumnya kalau kau ingin segera memakai nama keluargaku, kan?"

"Hmm-mm. Memangnya ada apa, Hyung?"

Yoongi melepaskan pegangan tangannya di sekitar pinggul Jimin untuk mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sesuatu tersebut ternyata adalah sebuah boks kecil berwarna biru—warna yang disukai Jimin—dan Yoongi membuka isinya di depan wajah Jimin.

Sebuah cincin berlian.

Suara sentakan napas Jimin membuat Yoongi semakin melebarkan senyumannya.

"Bagaimana kalau kita menggelar pernikahan pada bulan April nanti?"


END


Catatan penulis:

Dan tatatata, anaknya YoonMin adalah Jihoon! Kenapa? Karena Jihoon memang mirip Yoongi haha. Ada yang tebakannya benar tidak? *liat komen* oh ada satu yang menebak benar rupanya! *tepuk tangan*

Saya update lebih cepat karena sidang saya diundur minggu depan ahaha, niatnya mau diupdate minggu depan sekalian selebrasi sidang 2 skripsi. Apalagi pas kemarin saya nonton BTS Burn The Stage (ada YoonMin moment aaa juga moment buat Namjoon huhu), saya langsung terpacu buat menambahkan beberapa bagian dan sekaligus update secepat kilat.

Ah ya, jangan lupa, masih ada epilog. Ceritanya mungkin akan lebih banyak ke interaksi Jihoon dan papa Yoongi hehe. Kenapa? Karena saya selalu membayangkan bagaimana kalau mereka bertemu dan berinteraksi suatu saat nanti. Mungkin di kolom review ada yang bisa memberi saya rekomendasi fanfic dengan pairing YoonMin/MinYoon dengan Jihoon sebagai anaknya? Saya baru ketemu 2 biji nih :"D

Yang sudah mereview sebelumnya: ChiminsCake, YMlove, Anik0405, Euphoria, HanaChanOke, LittleOoh, Aissy05, MinPark, M2M, yoonminable, Kuki Ra