KUROSHITSUJI FF: Children of Demon

Disclaimer: Toboso Yana

Chapter. 9: That Butler, Envy

"KEMBALIKAN NIISAMA PADA LUCIA!" bersamaan dengan teriakan Lucia, seluruh benda yang berada yang ada di sekeliling gadis berambut pirang itu melayang dan menyerang Ciel yang masih berdiri terpaku—tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Untungnya ketika melihat semua benda – benda berbahaya itu mendekatinya, Ciel kembali tersadar dan segera menahan serangan – serangan itu dengan kekuatan iblisnya—menyebabkan benda – benda itu tak jadi mengenainya dan mulai berjatuhan ke tanah.

Di sisi lain, Lucia yang melihat serangannya dipatahkan dengan mudah oleh Ciel menjadi semakin kesal. Ia menatap tajam ke arah Ciel, bersiap kembali menyerang anak laki – laki itu. Ciel yang menyadari bahwa Lucia bermaksud menyerang sekali lagi, dengan cepat berlari menerjang ke arah Lucia sebelum gadis itu kembali menerbangkan benda – benda di sekelilingnya. Sayangnya, Ciel melakukan tindakan yang salah. Begitu ia dirinya telah hampir menggapai Lucia, Ciel merasakan rasa sakit yang membara di sekujur tubuhnya—membuatnya tersungkur di tanah.

Ciel menjerit dan menggeliat kesakitan di tanah—berusaha meredam rasa sakit dan panas yang membakar tubuhnya. Tapi sayangnya, rasa sakit itu tak kunjung hilang dan malah semakin menjadi – jadi. Dengan sedikit kekuatannya yang tersisa, Ciel mengangkat kepalanya dan menatap kesal pada Lucia yang berdiri di hadapannya—menatapnya dengan tatapan dingin penuh kekejaman, disertai senyuman iblis yang tak kalah mengerikan dengan senyum Sebastian saat membantai musuh – musuhnya.

"Kuso…" gumam Ciel, tak mampu untuk berbuat apa – apa.

Tak lama, Ciel melihat Lucia berjalan mendekatinya. Seketika itu juga Ciel menyadari bahwa gadis itu berniat untuk membunuhnya. Ciel yang kesal karena kalah dari Lucia dan tak mampu berbuat apa – apa memejamkan mata dan bergumam dalam hati, Sebastian…

"OJOUSAMA!" tiba – tiba terdengar suara Sebastian dari belakang Lucia.

Lucia melirik ke belakang dan melihat ayah serta kakak kembarnya berdiri di sana—menatapnya dengan tatapan tak percaya.

"Sebastian…" gumam Lucia.

"Yamenasai, Ojousama!" seru Sebastian.

"Gak mau…" gumam Lucia, lalu kembali menatap Ciel yang masih tersungkur di bawah kakinya.

"Nona!" seru Sebastian lagi, tapi tetap tak dihiraukan oleh Lucia.

Ciel yang melihat Sebastian hanya berteriak tanpa bertindak apa – apa untuk menolongnya merasa heran. Apa yang kau lakukan, Sebastian? Kenapa kau tak segera menghentikan anak ini?

"Tuan Muda," kini Sebastian beralih ke Lucifer yang hanya berdiri diam dan menatap ke arah adiknya.

"Eh?"

"Tuan Muda, segera hentikan Nona!" seru Sebastian. "Kalau Anda yang memberikan perintah, Nona pasti akan menurut!"

Lucifer menatap Sebastian yang memandanginya dengan tatapan penuh kecemasan. Kecemasan untuk Ciel. Seketika Lucifer merasa ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya. Sesuatu yang membuatnya mengalihkan pandangannya dari Sebastian dan mewarnai mata biru safir-nya dengan warna hitam kelam.

"Gak mau…"


Lucifer POV

Semuanya berawal ketika aku masih berusia 6 tahun. Saat itu Sebastian, untuk pertama kalinya, mengajarkan kami kesenian, mulai dari seni musik, dansa, sampai melukis. Aku masih ingat dengan baik hari di mana Sebastian menyuruh kami untuk membuat sebuah lukisan dengan tema bebas. Lucia yang selalu pandai dalam melukis, membuat sebuah lukisan seorang gadis yang tubuhnya dikelilingi—atau lebih tepatnya, diikat oleh duri – duri mawar. Lukisannya yang terkesan sangat hidup itu tentunya mendapat pujian dari Sebastian.

Sebagai kakak, walau merasa bangga pada bakat Lucia, aku tentunya tak akan mau kalah olehnya. Maka, aku pun menggambar pemandangan gunung dan padang rumput yang luas dan disinari oleh terang dan hangatnya sinar mentari. Namun, ketika aku memperlihatkan lukisan itu pada Sebastian, reaksi Sebastian berbeda dari apa yang kuharapkan. Walaupun ia tersenyum dan berkata bahwa lukisanku sangat bagus, tapi aku dapat melihat rasa tak suka terpantul di mata kemerahannya. Tetapi aku tak berkata apa – apa, hanya membalas senyumannya dan segera kembali ke kamar, di mana aku merobek dan menghancurkan lukisan yang dengan susah payah kubuat itu.

Di sini, di mansion Keluarga Middleford, tempatku dilahirkan dan tempat di mana aku menjalani kehidupanku selama 11 tahun tanpa mengenal dunia luar, selain dari cerita Sebastian atau dari buku – buku di perpustakaan. Tak sedikit keinginanku untuk bisa keluar dan menjelajahi seluruh pelosok London—melihat – lihat seperti apa manusia – manusia yang tinggal di luar mansion ini. Namun, Sebastian selalu berkata bahwa ini belum waktunya bagiku dan Lucia untuk melihat dunia luar. Aku yang mempercayai Sebastian akhirnya menyerah dan menunggu saat yang tepat seperti yang dikatakan Sebastian.

Jangan salah! Aku sama sekali tak merasa kesepian. Di dalam mansion yang besar ini, tak hanya ada aku, Lucia, dan Sebastian. Ada pula para pelayan yang selalu menemaniku bermain, juga ada Cecil, kucing hitam tua, yang dulu dipelihara oleh ibuku. Tetapi, kemudian hal itu terjadi dan dalam sekejap aku tersadar oleh sesuatu. Sebastian, butler dan juga ayahku, seberapa besar pun perhatian yang diberikannya untukku, selalu ada satu hal yang membuatku merasa kalau sebenarnya Sebastian tak pernah menyukaiku. Kenapa? Apa karena dia seorang iblis yang tak bisa mencintai? Bukan! Sebastian selalu menjaga Lucia dengan baik, dan selalu merasa khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Apa karena aku tak punya ikatan kontrak dengannya? Bukan! Kalau begitu, seharusnya Lucia yang sama – sama tak terikat kontrak dengannya juga tak perlu dihiraukannya.

Lalu aku pun berhenti sejenak dan berpikir. Sebastian selalu memperlakukanku dan Lucia dengan cara yang berbeda. Saat menatap Lucia, Sebastian memandanginya dengan tatapan bangga dan senang. Tetapi saat menatapku, Sebastian selalu menyimpan sebuah perasaan yang berbeda di matanya. Apa itu? Benci? Bukan. Jijik? Bukan. Kecewa? Ya, itu adalah perasaan kecewa yang amat sangat besar, sampai aku yang masih berusia 6 tahun itu pun bisa merasakannya. Tapi kecewa karena apa? Aku lalu mencari tahu dengan segala cara. Aku mulai memperhatikan semua pelajaran yang diberikan Sebastian agar mendapat pujian darinya, aku memberikannya hadiah kartu ucapan beserta sekuntum bunga mawar putih pada hari ayah, aku mematuhi setiap peraturan yang diberikan Sebastian, hanya untuk membuat rasa kecewa itu menghilang dalam pantulan matanya. Tapi tak ada satu pun yang berhasil. Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan hal itu?

Pertanyaanku itu terjawab ketika aku berumur 10 tahun, ketika aku menemukan sebuah buku yang berjudul 'The Book of Phantomhive Family' di salah satu rak buku di ruang belajar. Di sana terdapat foto Ciel Phantomhive, saudara sepupu dan juga tunangan dari Nenek Elizabeth, yang juga adalah majikan Sebastian sebelum ia bertemu dengan ibuku. Aku langsung terkejut begitu melihat kemiripan wajah anak laki – laki itu dengan ibuku. Tak hanya wajah, bahkan aura yang terpancar dari diri mereka pun sama. Dingin dan tak punya emosi. Lalu aku tersadar, Lucia pun sama seperti ibu dan Ciel ini, yang selalu tampak tak berekspresi dan dengan pandangan mata yang dingin—seolah memandang rendah pada orang lain. Aku dengan cepat berlari ke kamar dan menatap pantulan diriku di cermin. Mata berwarna kemerahan yang kuwarisi dari Sebastian terpantul di sana, namun aura yang keluarkan dari mataku berbeda dari Sebastian. Mata Sebastian sama seperti mata ibu, mata Lucia, juga mata si Ciel Phantomhive. Sedangkan mataku bersinar hangat dan berkilau bak matahari. Berbeda dari dari Lucia yang tak pernah menunjukkan emosinya, aku selalu terbuka dan ceria.

'Begitu, ya? Jadi itu yang diingkan Sebastian?' aku tersenyum pedih begitu menyadari arti kekecewaan Sebastian.

Sebastian adalah iblis, tentu saja ia menyukai sesuatu yang gelap, yang kejam sepertinya. Dan tanpa kusadari, cermin di hadapanku pecah dan hancur berkeping – keping. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi berusaha menjadi anak baik yang penurut. Karena aku tahu, seberapa keras pun aku berusaha, Sebastian tak pernah menginginkan aku. Aku tak akan pernah bisa menjadi seperti apa yang Sebastian inginkan.


Normal POV

"Gak mau…" gumam Lucifer.

"Tuan Muda?" Sebastian terkejut mendengar jawaban Lucifer.

"Aku yang memerintahkan Lucia untuk membunuh Ciel Phantomhive. Kenapa aku harus menghentikannya?" ujar Lucifer seraya mengangkat wajahnya dan menatap Sebastian sambil menyeringai.

"Tuan Muda, apa yang—"

"Ini semua salahmu. Kau ini butler-ku, Sebastian. Itu berarti kau hanya boleh mematuhi perintahku! Kau hanya boleh setia padaku!" ujar Lucifer. Mata kebiruannya perlahan berubah semakin gelap.

Sebastian terdiam sekejap mendengar perkataan Lucifer. Ia tahu jelas apa maksud perkataan anak laki – lakinya itu. Seketika mata merah Sebastian bersinar—menambah pekat warna merah pada matanya. "Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini, Lucifer?" ujar Sebastian membuat Lucifer, bahkan Ciel yang masih bergelut dengan rasa sakit di tubuhnya, terkejut karena Sebastian memanggil Lucifer dengan namanya secara tidak hormat.

Lucifer seketika mundur selangkah, menjauhi Sebastian. "Urusai! *Omae wa akumade shitsuji da! Kau tak punya hak untuk melarangku!" seru Lucifer.

"Akumade shitsuji? Itu memang benar. Tapi, tentunya Anda tidak lupa kalau saya memiliki satu peran lagi di keluarga ini, Tu-an-Mu-da," ujar Sebastian seraya berjalan mendekati Lucifer yang terus berjalan mundur setiap kali Sebastian berjalan mendekatinya. "Perintahkan Lucia untuk berhenti sekarang, Lucifer," ujar(baca: perintah)nya lagi.

"Gak! Aku gak mau!" seru Lucifer tetap bersikeras.

Sebastian menghela nafas. "Sou desu ka? Kalau begitu, apa boleh buat," Sebastian lalu membalikkan badannya dan menatap ke arah Lucia yang masih menyiksa Ciel.

Sebastian mengernyitkan mata, lalu kembali membuka lebar matanya dalam sekejap.

"KYAAAA!" seketika teriakan kesakitan Lucia menggema di angkasa, dan ia pun terjatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.

"LUCIAAA!" seru Lucifer lalu berlari menuju adiknya yang tak sadarkan diri.

Ciel yang tiba – tiba merasa rasa sakit di tubuhnya menghilang, mengambil kesempatan dan berdiri dari tanah dan berlari menghampiri Sebastian yang berdiri di belakang Lucifer yang kini memeluk adik kesayangannya yang tak sadarkan diri itu di kedua lengannya, sambil memanggil – manggil nama gadis itu—mencoba membangunkannya.

"Apa yang kau lakukan. Sebastian?! Kenapa kau melakukan ini pada Lucia?!" seru Lucifer. Air mata kemarahan mengalir dari mata kebiruannya.

"Saya minta maaf karena harus bertindak kasar. Tapi kalau saja Anda mau mendengarkan perkataan saya, hal ini pasti tak akan terjadi," ujar Sebastian.

Lucifer terdiam dan kembali menatapi adiknya yang tergeletak di lengannya.

"Siapa gadis itu sebenarnya? Apa dia iblis?" tanya Ciel pada Sebastian.

Sebastian menatap Ciel sebentar, lalu berkata, "Bisa dibilang begitu…"

"Apa maksudmu?" tanya Ciel heran.

Tapi sebelum Sebastian menjawab pertanyaanya lagi, tiba – tiba sebuah angin yang kuat menghantam dirinya dan ia pun terlempar ke belakang.

"Bocchan!?" seru Sebastian, terkejut melihat Ciel yang terhempas dan menabrak meja taman.

"Aku tak apa," ujar Ciel seraya bangkit dari tumpukan meja dan kursi yang menimpanya.

Sebastian mengalihkan pandangannya pada Lucifer yang berada di hadapannya.

"Tuan Muda, apa yang Anda lakukan!?" seru Sebastian.

Lucifer tak menjawab dan hanya berdiri sambil menggendong Lucia di kedua lengannya, lalu berjalan pergi meninggalkan Sebastian—masuk ke dalam mansion.

"Tunggu, Tuan Muda!" seru Sebastian. Ia bermaksud mengejar Lucifer, tapi tiba – tiba ia merasakan seseorang mencengkeram lengannya. Ia berbalik dan melihat Ciel telah berdiri di belakangnya.

"Jelaskan semuanya padaku, Sebastian. Siapa mereka berdua sebenarnya?" ujar Ciel seraya menatap Sebastian dengan serius.

Sebastian terdiam dan hanya bisa mengangguk.


Lucifer POV

Aku menggendong Lucia yang tak sadarkan diri masuk ke dalam mansion. Begitu berada di dalam mansion, Celine, James, dan Heidy langsung berlari menghampiriku.

"Tuan Muda, ada apa?! Apa yang terjadi pada Nona?!" seru ketiganya, cemas.

"Tak apa. Lucia hanya kecapekan," ujarku. "Celine, tolong bawakan sebaskom air dingin dan kain untuk mengompres Lucia."

"Ba-baik, Tuan Muda!" seru Celine.

"Ingat, jangan buat kesalahan kali ini. Kalau perlu pakai saja kacamata khususmu itu saat bekerja, biar kau tak menumpahkan airnya," ujarku.

Celine sedikit terkejut mendengarku menyuruhnya memakai kacamata khusus yang selalu digunakannya hanya ketika ia bekerja sebagai assassin. Ia mengerti dengan sangat baik bahwa ketika aku menyuruhnya memakai kacamata itu adalah ketika aku memberikannya tugas yang penting.

"Saya mengerti, Tuan Muda," jawab Celine, kali ini dengan nada serius. Lalu ia pun segera berlari ke dapur, menjalankan tugasnya.

"James, tolong buatkan sup hangat untuk Lucia. Dan, Heidy, kau bantulah James mempersiapkan bahan – bahannya," ujarku.

"Siap, Tuan Muda!" seru James dan Heidy dengan nada yang tak kalah seriusnya dengan Celine tadi. Sepertinya mantan pegulat dan mantan ilmuwan gila itu telah mengerti keseriusan dari tugas yang kuberikan itu.

Aku kembali berjalan ke kamar Lucia. Dan begitu sampai di depan kamar adikku, aku membuka pintu kamarnya dengan menggunakan kekuatan iblisku, lalu masuk ke dalam kamar dan membaringkan Lucia di tempat tidurnya. Begitu selesai membaringkan Lucia dan menyelimutinya, aku menatap ke cermin yang berada di samping tempat tidur Lucia. Kuhiraukan mata kebiruan yang menatapku balik dari dalam cermin, lalu aku membuka pita hijau yang melingkari kerah bajuku perlahan. Tanpa mengalihkan pandangan dari cermin, aku membuka jas abu – abu kesukaanku dan melemparnya ke lantai beserta pita yang tadi kulepas, kemudian membuka kancing kemejaku sampai mencapai dada. Tak lama, tampaklah sebuah simbol bintang iblis yang bersinar kebiruan di dadaku. Aku mengalihkan pandanganku dari cermin ke Lucia, adikku yang terbaring di tempat tidurnya. Aku lalu berjalan kembali ke tempat tidur, dan duduk di sudutnya. Aku mengelus kepala Lucia dengan lembut, lalu menundukkan kepalaku dan berbisik di telinganya, you'll be alright, my dear. I will be with you...always…


Ciel POV

Mataku terbelalak dan tubuhku terpaku di tanah—terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan Sebastian.

"Tuan Muda Lucifer dan Nona Lucia adalah half-demon…"

Aku tak bereaksi—masih shock akan informasi yang baru saja kudengar.

"Lebih tepatnya lagi, mereka berdua adalah anak saya dan Nona Ciel," ujar Sebastian lagi.

Ini gila! Apa Sebastian sadar akan apa yang baru saja diucapkannya?! Ok, kalau dia bilang kalau kedua anak itu adalah iblis yang diadopsi oleh si Ciel Middleford itu untuk menjadi anaknya, aku mungkin masih bisa percaya! Tapi ini-?! Ini gila! seruku dalam hati.

"Saya tak akan berbohong pada Anda, Bocchan," ujar Sebastian.

"Kau kira aku bisa percaya begitu saja?!" seruku, akhirnya.

"Saya tak heran jika Anda meragukannya," ujar Sebastian.

Aku menatap Sebastian dengan tatapan tak percaya. "A-apa kau mau bilang kalau kau menyuruhku percaya bahwa iblis sepertimu menikah dengan manusia!?" seruku.

Sebastian tertawa kecil. "Menikah? Itu mustahil. Yang saya lakukan dengan Nona Ciel sama sekali tak membutuhkan pernikahan atau hal bodoh apalah itu," ujarnya seraya menyeringai.

Aku merasa kalau wajahku sedikit memerah—entah karena kesal atau karena—ah, tidak! Sudah pasti karena kesal!

"Permintaan terakhir Nona Ciel adalah memberikannya keturunan untuk meneruskan keinginannya," ujar Sebastian. "Tentunya, sebagai butler yang handal, saya tak mungkin menolak permintaan itu, bukan?"

Perkataan Sebastian membuat aku ingin menghancurkan kepalanya saat itu juga. Tapi aku bersabar karena masih ingin mendengarkan penjelasannya lagi. "Huh! Butler handal macam apa yang berani menyentuh majikannya sendiri!" ujarku. "Kalau hanya ingin anak kan bisa dengan berbagai cara! Misalnya, dengan mengadopsi, atau kalau perlu kau tinggal mencarikannya pria untuk dinikahi!"

Tiba – tiba aku merasakan aura sekitarku mendadak menjadi berat dan dingin. Aku menatap Sebastian, dan terkejut begitu melihat Sebastian telah dikelilingi oleh aura hitam kelam.

"Mencarikan Nona pria untuk dinikahi? Hahaha…Anda bercanda, Bocchan. Saya tak mungkin melakukan hal bodoh semacam itu. kalau sampai hal itu terjadi, saya lebih memilih untuk membunuh seluruh pria di London yang berani mendekatinya," ujar Sebastian dengan senyum iblisnya.

Aku terhenyak mendengar ucapan Sebastian. Aku baru saja ingin bertanya apa maksud dari perkataannya, tapi tiba – tiba aku teringat akan perkataan Ciel Middleford malam itu.

'…karena Sebastian 'jatuh cinta' padaku…'

Aku mengepalkan tanganku dan memberanikan diri bertanya, "Hei, Sebastian, apa jangan – jangan kau jatuh cinta pada putri Lizzy?"

Sebastian sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, namun ia balik membuatku terkejut dengan senyuman dinginnya dan berkata, "Ya, bisa dibilang begitu…"


Sebastian POV

Saya dan Tuan Muda Ciel kembali memasuki mansion untuk melihat keadaan Tuan Muda Lucifer dan Nona Lucia. Selama perjalanan menuju kamar Nona Lucia, Ciel-bocchan hanya diam dan tak berbicara sepatah kata pun. Sepertinya saya telah berhasil membuatnya terkejut dengan cerita saya tadi. Yaah, saya rasa siapapun tak akan percaya jika mendengar kalau seorang iblis seperti saya bisa memiliki anak dari seorang manusia.

"Sebastian-san," panggil Celine yang baru saja keluar dari kamar Nona Lucia.

"Ah, Celine, bagaimana keadaan Nona?" tanyaku.

"Nona masih tertidur," jawab Celine. "Tapi, ano…Sebastian-san, Tuan Muda berpesan bahwa kau tak boleh masuk ke kamar Nona."

"Eh?"

"Lalu untuk Tuan Ciel, Tuan Muda berpesan agar Anda menunggunya di ruang latihan anggar. Katanya ada yang ingin Tuan Muda bicarakan dengan Anda," lanjut Celine.

Ciel-bocchan terlihat sedikit terkejut, tapi tetap menjawab, "Aku mengerti."

"K-kalau begitu, saya permisi dulu," ujar Celine seraya segera beranjak dari hadapan kami.

"Apa mau anak itu kali ini?" ujar Ciel-bocchan.

"Saya rasa Tuan Muda ingin menyelesaikan permasalahan ini dengan Anda secara jantan," ujarku, menyeringai.

Ciel-bocchan menatapku dengan serius. "Sebastian, kau merencanakan sesuatu, kan? Apa yang kau pikirkan?"

Saya tersenyum. "Maaf, saya tak mengerti maksud Anda."

Ciel-bocchan terlihat sangat kesal mendengar jawaban saya, dan saya menikmati ekspresinya itu seperti biasa.


Normal POV

Ciel dan Sebastian menunggu kedatangan Lucifer di ruang latihan selama 20 menit. Ciel yang tak suka menunggu mulai kehabisan kesabaran. Namun begitu ia ingin protes dan mengeluarkan kekesalannya, pintu ruang latihan terbuka dan Lucifer pun muncul di hadapannya.

"Kau lama!" seru Ciel kesal.

Lucifer terdiam sejenak. "Aku rasa dengan kekacauan ini kau pasti sudah tahu siapa kami sebenarnya, kan, Ciel Phantomhive?" ujar Lucifer.

"Aa…aku sudah dengar dari Sebastian, dan aku tak bisa mempercayainya!" ujar Ciel.

Lucifer tertawa kecil. "Itu terserah kau mau percaya atau tidak," ujar Lucifer seraya mengambil sepasang pedang yang berada di sudut ruangan. "Tapi terlepas dari semua itu, aku sangat menghargai kalau kau mau mendengarkan ceritaku kali ini," lanjut Lucifer seraya melemparkan sebuah pedang kepada Ciel, yang ditangkap dengan baik oleh Ciel.

"Apa itu?" tanya Ciel.

"Aku tak akan basa – basi, Ciel. Karena itu, aku akan memperlihatkannya langsung padamu lewat pertandingan ini!" ujar Lucifer, lalu menyerang Ciel dengan pedangnya.

Ciel menangkis serangan Lucifer, dan ketika pedang mereka saling bertabrakan, seketika sebuah ingatan memenuhi kepala Ciel bagai menonton cinematic record.


"Lucifer-sama! Lucifer-sama! Apa yang Anda lakukan?! Cepat turun dari sana!" seru Sebastian.

"Aku ingin melihat dunia luar, Sebastian," seru Lucifer dari atas pohon.

"Jangan bodoh, Lucifer-sama! Anda bisa jatuh!" seru Sebastian lagi.

Lucifer yang merasa tersinggung dengan ucapan Sebastian, membalikkan tubuhnya dengan cepat dan bermaksud untuk memrotes perkataan Sebastian yang mengatainya bodoh. Namun sayangnya, ia kehilangan keseimbangan dan tergelincir dari pohon.

"Lucifer-samaa!" seru Sebastian begitu melihat Lucifer bergelantung di pohon tertinggi di halaman mansion itu.

"JANGAN MENDEKAT, SEBASTIAN! INI PERINTAH!" seru Lucifer, membuat Sebastian yang bermaksud untuk meolongnya, menghentikan langkahnya.

"Lucifer-sama…" Sebastian tak bergerak dan hanya memandangi Lucifer yang masih berusia 10 tahun berusaha sekuat tenaga menyelamatkan dirinya sendiri tanpa bantuannya. Sejujurnya ada sedikit perasaan cemas di hatinya saat melihat Lucifer, tetapi rasa cemas itu segera hilang dan beganti dengan rasa bangga ketika melihat anak laki – lakinya itu berhasil turun dari pohon dengan kekuatannya sendiri.

Lucifer yang merasa senang karena berhasil turun dari pohon tanpa bantuan Sebastian, baru saja akan membanggakan dirinya, tetapi ia terhenti begitu melihat senyuman dan tatapan mata Sebastian.

"Anda baik – baik saja, Bocchan?" tanya Sebastian seraya tersenyum.

Dalam sekejap, Lucifer merasa seluruh pandangan matanya tertutup oleh warna biru yang dingin, yang membuatnya tak bisa bergerak, dan menghancurkan seluruh akal sehat di dalam pikirannya.


Ciel kembali tersadar dari ingatan singkat yang baru saja dilihatnya. "Apa itu tadi?" ujarnya pada Lucifer sambil kembali mempertahankan dirinya dari serangan Lucifer yang membabi-buta.

"Kau belum mengerti? Baiklah, akan kuperlihatkan yang lain padamu," ujar Lucifer, lalu sekali lagi mengirimkan ingatannya pada Ciel


"Lucia, Lucia! Aku punya rahasia besar lho!" seru Lucifer yang berusia 11 tahun, pada adik kembarnya.

"Apa?" ujar Lucia tanpa berekspresi.

"Aku abru menyadari kalau aku ini immortal! Aku tak bisa mati selamanya, Lucia!" seru Lucifer. "Kalau dipikir – pikir, wajar juga sih! Kita kan setengah iblis!"

Lucia memandangi kakaknya, lalu berkata, "Lucia tidak immortal."

"Eh? Apa maksudmu? Kau juga kan setengah iblis. Bagaimana mungkin kau tidak—"

"Oniisama dan Lucia berbeda…" ujar Lucia memutus perkataan Lucifer.

Lucifer menjatuhkan dirinya ke lantai saking terkejutnya. "Masa sih? Jadi hanya aku saja…?" gumam Lucifer. Tak lama, setetes air mata jatuh dari pipinya ke lantai. "Kalau Lucia tidak immortal, itu berarti suatu hari Lucia akan mati. Mati meninggalkanku…sendiri…"

"Oniisama tidak sendiri…" ujar Lucia.

Lucifer mengangkat wajahnya dan menatap adiknya dengan mata berkaca – kaca. "Apa maksudmu aku tidak sendiri? Aku akan sendirian, Lucia! Yang mencintaiku hanya kau saja! Ayah—Sebastian membenciku! Baginya aku hanya pengganti Ciel Phantomhive!" serunya, lalu kembali menundukkan kepalanya.

"Itu tidak benar," ujar Lucia seraya memeluk Lucifer. "Ayah akan memilih Niisama. Niisama adalah iblis yang hebat. Niisama berbeda dari Lucia, dan berbeda dari ayah. Hanya Lucia yang tahu kemampuan kakak yang sebenarnya. Niisama hanya perlu membangkitkan kekuatan itu saja."

"Tapi…bagaimana caranya?" tanya Lucifer.

Lucia tak menjawab pertanyaan kakaknya. Ia melepas pelukannya dan dengan kedua tangannya, ia mengangkat wajah Lucifer agar berada tepat di hadapannya.

"Lucia…?"

"Lucia akan membantu Niisama. Lucia adalah jiwa Niisama yang satu lagi, karena itu kekuatan Lucia pun adalah kekuatan Niisama. Lucia akan mengikat kontrak dengan Niisama. Dengan begitu kekuatan Lucia akan menjadi milik Niisama sepenuhnya," ujar Lucia.

Belum sempat Lucifer bertanya lebih lanjut, Lucia sudah lebih dulu menempelkan bibirnya ke bibir kakaknya itu. Dan seketika, sekeliling mereka dipenuhi oleh cahaya biru yang berasal dari lambang faustian yang terbentuk di bawah mereka. Cahaya itu kemudian semakin lama semakin mengecil dan kemudian mengendap di dada Lucifer.

"Kontrak telah dibuat…" ujar Lucia.


"Kau sudah paham sekarang, Ciel?" ujar Lucifer seraya kembali menyerang Ciel.

Ciel terpental ke belakang, namun ia tetap berdiri dan mempertahankan tubuhnya agar tak terjatuh. Ciel terdiam beberapa saat. Matanya tertutup oleh poni-nya. Sebastian menatap heran pada kedua majikannya itu. Bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan keduanya.

"Apaan itu? ternyata hanya seperti itu, ya?" gumam Ciel.

"Apa?!" Lucifer merasa sedikit kesal mendengar ucapan Ciel.

"Jangan bercanda!" seru Ciel tiba – tiba. "Kau membenciku karena kau menganggap Sebastian membandingkanmu denganku?! Yang benar saja! Seberapa menyedihkannya kau ini!?"

"Menyedihkan, katamu?! Apa yang kau tahu tentangku?!" seru Lucifer seraya menyerang Ciel dengan kekuatan penuh, menyebabkan Ciel terdorong sampai ke tembok.

"Aa, aku tahu semuanya! Kau ini hanya anak menyedihkan yang hanya bisa bergantung pada orang lain!" seru Ciel sambil menahan serangan Lucifer. "Memangnya kenapa kalau kau seorang diri?! Memangnya kenapa kalau semua orang tak mengakuimu?! Apa kau tak punya kekuatan untuk bisa berdiri sendiri?! Dasar bocah manja!"

Lucifer semakin kesal dan berubah ke wujud iblisnya. "Aku tak mau dikatai manja olehmu!" serunya seraya menghantam Ciel dengan pedangnya.

Ciel terjungkal di lantai, tapi segera bangkit kembali. "Huh! Benar – benar memuakkan! Jadi ujung – ujungnya, kau hanya ingin Sebastian mengakuimu sebagai anak dan bukan hanya sebagai majikan, begitu?! Kau hanya ingin Sebastian menyanyangimu, begitu?! Jangan bercanda! Kau pikir Sebastian itu siapa?! Yang tak tahu apa – apa itu kamu, tau!" seru Ciel seraya mengeluarkan semua kekuatan iblisnya dan menerjang ke arah Lucifer dengan kecepatan tinggi.

Cepat—aku tak sempat menghindar! Lucifer memejamkan mata bersiap menerima serangan Ciel.

Tetapi, anehnya, walau menunggu beberapa lama, ia tak merasakan apapun. Ia membuka mata dan melihat apa yang terjadi.

"Hhh…Anda benar – benar majikan yang merepotkan, Lucifer-sama…"

"Se-Sebastian?!" Lucifer terkejut melihat Sebastian yang berdiri di hadapannya, menahan serangan Ciel.

"Apa yang kau lakukan, Sebastian?" tanya Ciel.

"Melindungi anak dari bahaya adalah tugas orang tua, bukan, Ciel-bocchan?" ujar Sebastian seraya tersenyum.

Ciel menurunkan pedangnya dan melompat mundur. "Huh! Memangnya kau pantas bicara seperti itu!"

Sebastian hanya tersenyum.

"Sebastian, apa yang—" Lucifer masih terkejut mendengar tindakan dan perkataan Sebastian.

Sebastian berbalik dan menatap Lucifer. "Hhh…bukannya ini semua salah Anda? Karena Anda terlalu berlebihan, sehingga membuat orang – orang salah paham."

"Salah paham? Apa maksudmu?" tanya Lucifer bingung.

"Tuan Muda, apa masih ingat apa yang terjadi saat Cecil mati?" tanya Sebastian.

Lucifer terlihat sedikit terkejut. "Kau tahu tentang kematian Cecil?!"

"Tentu saja, Tuan Muda. Anda pikir bisa menyembunyikannya dari saya?" ujar Sebastian.

Wajah Lucifer memucat.

"Tuan Muda, Cecil tidak dibunuh oleh anjing liar seperti kata Anda," ujar Sebastian. "Yang membunuh Cecil adalah Anda, bukan?"

"A-apa maksudmu, Sebastian?! Aku tidak—"

"Tak apa, Tuan Muda. Anda memang tak perlu mengakuinya," ujar Sebastian.

"Eh?"

"Karena walau saya berkata seperti itu, tapi saya tahu Anda bukanlah pelaku yang sebenarnya," ujar Sebatian.

"Tu-tunggu, Sebastian. Apa maksudmu aku tak membunuh Cecil?!" seru Lucifer.

"Seperti yang saya bilang, Tuan Muda. Yang membunuh Cecil adalah orang lain, bukan Anda. Anda hanya dijadikan media oleh orang itu," jelas Sebastian.

"Ta-tapi, aku tak mengerti. Bagaimana bisa—"

"Tuan Muda, apa Anda ingat bagaimana cara Anda membunuh Cecil?" tanya Sebastian.

Lucifer berpikir sebentar. "Tidak, aku tak begitu ingat," jawabnya.

Sebastian tersenyum. "Tentu saja Anda tak ingat. Karena Anda hanya dibuat percaya oleh ingatan palsu yang ditanamkan pada diri Anda. Benar, kan, Nona Lucia?" ujar Sebastian seraya menatap ke arah pintu ruang latihan yang terbuka.

"Lucia?!" Lucifer terkejut Lucia yang muncul dari balik pintu ruang latihan.

Lucia berjalan masuk ke ruang latihan dengan tenangnya. Di kedua lengannya ia menggendong boneka Phantom Rabbit kesayangannya. "Niisama…" gumamnya pelan.

"Nona Lucia, pelaku sebenarnya yang telah membunuh Cecil dan membuat Tuan Muda Lucifer membenci Ciel-bocchan adalah Anda, bukan?" ujar Sebastian, mengejutkan Lucifer dan Ciel.

"Lu-Lucia, apa itu benar?!" tanya Lucifer.

Lucia terdiam sebentar, lalu menjawab, "Hai, oniisama…"

To be continue…


A/N: OK! Memang chapter ini berbeda sekali dari yang author sampaikan di chapter lalu. Seharusnya memang seri Phantomhive Arc berakhir sampai di sini, tapi setelah lama berpikir, author untuk memperpanjangnya satu chapter lagi berhubung author mendapatkan ide baru untuk mengisi chapter ini, yaitu kisah tentang masa lalu Lucifer dan Lucia. Singkatanya, chapter ini dan chapter berikutnya akan membahas tentang masa kecil si kembar yang tak pernah diketahui oleh Sebastian.

Satu lagi alasan penambahan chapter ini adalah karena author masih belum mendapat keputusan yang bulat tentang bagaimana ending dari Phantomhive Arc ini. Sejauh ini hasil vote kemarin masih seri, n author sendiri juga masih bingung harus memilih yang mana. Mohon dimaklumi... :)

Ah, lalu author juga ingin minta maaf karena terlambat upload. Maklum, author lagi sibuk sama skripsi n baru ada waktu sekarang untuk melanjutkan fanfic ini. Tapi tenang saja! Author sama sekali tak ada niat untuk membuat fanfic ini hiatus atau semacamnya, walau mungkin nanti bakal agak telat lagi update chapter berikutnya...#digebukramerame So, silakan terus lanjut baca fanfic ini, hahahha...

Sekian dari author...

See you on the next chapter...

Ciao^_^)/