"Aku pulang"

Namja berambut kecokelatan itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sebelah tangan sibuk mengendurkan dasi merah yang dikenakanya sementara sebelahnya lagi mengehempaskan tas kantor ke atas sebuah sofa sembarangan. Hari ini cukup melelahkan, namun kembali lagi kerumah seakan membuatnya semangat untuk memacu kendaraannya pulang dan bertemu dengan istrinya secepat mungkin, ia begitu merindukan Sungmin.

"Minnie? Minnie?.." Kyuhyun berjalan melewati ruang tamu rumahnya. Tidak ada Sungmin disana, padahal yeoja itu sudah kembali (setelah sekian lama) semalam. Kyuhyun mempercepat langkahnya, di kamar, di toilet , bahkan di ruang kerja pribadi Sungmin—ia tetap tidak ada juga.

Nafas Kyuhyun memburu, kemana Sungmin? Apa yeoja itu belum pulang juga? Waktu sudah menunjukkan setengah sebelas malam dan Kyuhyun tahu, sesibuk apapun istrinya ia tidak akan pernah menghabiskan waktu tengah malamnya di luar tanpa izin suaminya, Kyuhyun sangat tahu itu, lalu, kemana Cho Sungmin-nya? Cho Sungmin yang baru saja kembali. Apa Sungmin pergi lagi? Andwae! Ditepisnya pemikiran bodoh itu sembari berjalan kesana kemari mencari istrinya yang cantik bukan main itu.

"Min? Sungmin?" Kedua bola mata Kyuhyun yang tajam menangkap seseorang bergaun hitam yang berdiri membelakanginya berada di halaman belakang. Sungmin kah? Perlahan kedua kaki jenjangnya melangkah pasti berjingkat – jingkat ingin mengagetkan yeoja cantik itu. Dari jauh saja aroma tubuh Sungmin yang khas sudah tercium dan membuat Kyuhyun terseyum kecil dari belakang.

Benar saja—itu Sungmin, yang sedari tadi ia cari. Sembari menghela nafas lega ketika menemukan istrinya Kyuhyun kemudian melingkarkan kedua lenganya di pinggang Sungmin yang ramping.

"I got you, baby" bisiknya tepat di telinga Sungmin.

"Kyuhyunnie!" Sungmin kaget ketika tangan nakal Kyuhyun tiba-tiba melingkari tubuhnya, refleks, sembari menoleh kebelakang sebentar ia tersenyum, tampaklah wajah cantik dengan rambut yang dibiarkanya terurai kedepan menyunggingkan senyumn indahnya, sekali lagi.

"Kau ini.. kupikir kau kemana Min" Kyuhyun mengecup kening Sungmin dengan sayang. Sepertinya, sepasang anak manusia ini sudah melupakan masalah yang beberapa waktu lalu nyaris 'menghancurkan' rumah tangga keduanya. "Ternyata kau disini.."

"Ah karena kau sudah pulang.. ayo kita makan, Kyu" tanpa aba- aba lagi, Sungmin menarik tangan kanan Kyuhyun perlahan, ia kemudian mengajak suaminya berjalan masuk dan menuju kearah meja makan.

"Min, ada apa dengan semua ini?"

Kyuhyun memandang binggung pada meja makan yang serbetnya baru saja dibuka itu. Tersedia beberapa makanan kesukaanya diatas sana, namun Sungmin tidak menjawab, ia malah sibuk menyalakan lilin dan mempersiapkan champagne untuk keduanya. Setelah selesai dengan persiapanya, kemudian Sungmin ikut duduk bersebrangan dengan Kyuhyun sembari memandang namja itu penuh harap.

"Sebenarnya ada apa, Minnie? Kenapa tiba-tiba saja—"

"Sudah Kyu, makan saja dulu" Potong Sungmin kemudian menaruh sepotong besar daging cincang kesukaan suaminya keatas piring."Ini buatanku sendiri, loh" Lanjutnya lagi.

Bagai sapi yang dicocok hidungnya Kyuhyun mengangguk dan menuruti perintah Sungmin. Meskipun setengah takut ketika mencoba masakan Sungmin yang dikenalnya amburadul ia tetap menghargai istrinya. Dengan mata terpejam ia mengunyah daging itu, dan ajaib! Kali ini, entah mengapa masakan istrinya itu terasa enak luar biasa—tidak seperti biasanya dan membuatnya memasukkan sesuap dan sesuap dan beberapa suap lainya seperti orang rakus, menyisakan Sungmin yang hanya tertawa sendiri melihat kelakuan suaminya yang tidak biasa. Tentu saja, bertahun-tahun ia menikah ia sendiri pun belum pernah menghidangkan masakan sendiri untuk suaminya. Melihat respon Kyuhyun yang antusias sekali tentu saja membuatnya senang.

"Minnie, ini benar masakanmu?" Setelah menghabiskan nyaris seisi piring Kyuhyun baru membuka mulutnya, kemudian membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dengan serbet.

Sungmin lagi-lagi hanya tertawa, "Tentu saja, pabo! Enak kan? Jika aku sempat, nanti kubuatkan lagi kapan-kapan"

Mereka duduk berhadapan dan memulai makan malam ini dengan resmi, seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara keduanya terlihat begitu akrab dan romantis, sesekali, mereka akan saling meledek, kemudian berlanjut dengan pembicaraan yang serius tentang bagaimana Kyuhyun yang seperti anak hilang dari induknya ketika harus kehilangan Sungmin, kemudian setelah itu mereka tertawa lagi, dan begitu hingga seterusnya tak sadar sudah larut malam.

"Kupikir kita akan langsung gemuk besok, lihat saja, semua makanan yang kau masak habis semua tak bersisa sama sekali" Kyuhyun berdiri sembari mengangkat piring-piring kotor.

"Tunggu,Kyu" Sungmin menahan tangan Kyuhyun ketika namja itu berjalan melewatinya. "Sebenarnya.. ada yang harus kuberitahu padamu"

"Apa Chagi?"

"Makanya kau duduk dulu, nanti kujelaskan, ara?"

Sungmin kini mengambil sebotol champagne dari sloki es dan menuangkan minuman beralkohol itu ke gelas dihadapan Kyuhyun dan satu untuk dirinya sendiri. Setelah selesai ia mendekatkan tubuhnya dan merapat dengan Kyuhyun.

"Ada satu hal.. yang harus kuberitahu padamu, Kyuhyunnie" Ia menggigit bibirnya sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Ne, ada apa, Chagi? Tentu saja aku akan mendengarkanmu. Ayolaah, kau membuatku penasaran saja"

"Aku.. eh maksudku Kita.. Kau dan Aku.."

"Iya, Kau dan Aku, Kita kenapa, Minnie? Bicaranya langsung saja sayang, ada apa?"

"Kita berdua.. akan memiliki anggota keluarga baru"

Sungmin menatap kedua bola mata Kyuhyun yang terlihat masih binggung dan hanya melongo saja. Kesal dengan reaksi suaminya yang menurutnya sangat bodoh Sungmin lalu meletakkan tangan Kyuhyun diatas perutnya.

"Maksudku, disini Kyu, disini.." Dasar calon Appa yang bodoh! Rutuk Sungmin dalam hati.

"Jeongmalyo, Minnie? Yang benar? Kau tidak sedang bercanda, kan?"

"Pabo! Mana mungkin hal seperti ini jadi bahan bercandaan, tentu saja tidak, Kyu, kali ini.. aku serius"

"Sudah berapa lama ia berada disini, Cho Sungmin, Heum?" Kyuhyun mengelus perut Sungmin yang terasa sudah mengeras dengan sayang. Tak bisa dipungkiri, rasa bahagia dan senang luar biasa kini bersarang di hatinya. Membuatnya ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya dan memamerkan pada dunia bahwa sebentar lagi ia akan jadi seorang ayah. Namun, tentu saja Kyuhyun masih tahu malu. Apalagi berteriak seperti itu membuatnya terlihat makin bodoh saja.

"Dua bulan"

"Aish, lalu mengapa kau tidak memberitahukan berita ini dari dulu padaku, Heum? Yeoja nakal" Ia mencubit ujung hidung Sungmin perlahan.

"Habisnya.. kan aku—"

"Kau akan kuberi hukuman!"

"Kyu.. a-apa yang kau lakukan?" Sungmin menyadari betul tatapan Kyuhyun yang mulai aneh, yeoja itu berjalan mundur sedikit kebelakang, namun naas saja, sepasang lengan tegap itu mencengkramnya dengan tatapan buas sebelum ia bisa berkelit.

"Malam ini, kau akan menjadi santapanku, Minnie" Bisiknya di leher Sungmin dengan nada menggairahkan.

"ANDWAEEEE!"

.

.

.

"SECRET"

Cast :

Cho Kyuhyun

Kim Kibum

Choi Siwon

Lee Sungmin

KyuBum, Sibum and KyuMin couple.

Warning: Genderswitch, Typo(s)

Don't like the cast or plot. Do not BASH, please.

.

.

.

.

.

.

Berbanding jauh dari keluarga Cho yang sedang berbahagia itu, sepasang suami istri yang berada di jamuan makan malam perusahaan itu terlihat sunyi. Tidak ada pembicaraan berarti diantara Siwon dan Kibum disana, yang ada sesekali hanya saling bercerita didepan kolega-kolega bisnis keduanya.

Kibum menghela nafas lagi. Istri seorang pengusaha kaya raya itu serlihat tidak antusias dengan makan malam ini. sesekali, ia akan memainkan garpunya dan memilin-milin spagetti dengan malas. Ia sama sekali binggung harus bersikap apa, seolah ia tidak pernah melakukan jamuan makan malam seperti ini sebelumnya. Ah bukan begitu, ia merasa kehilangan percaya diri.

Semua orang yang berada didepannya kini begitu mengaguminya bahkan memuji-muji namanya. Choi Kibum yang cantik, Choi Kibum yang baik dan memesona. Seseorang yang pantas bersanding dengan Siwon, mendengar semua pujian itu ia hanya bisa tersenyum kecil, memandang kearah suaminya yang begitu sempurna itu. Pria baik hati yang seakan tidak pernah ingat Kibum pernah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Namja yang kini sedang sibuk berbincang dengan rekan-rekanya itu terlihat begitu gagah dengan balutan tuxedo hitam yang membuatnya seperti pangeran saja. Seperti dulu dan biasanya, Siwon memang begitu mengagumkan dan begitu sempurna. membuat Kibum merasa ia bukanlah apa-apa jika harus bersanding dengan pria sesempurna ini.

Siwon bukanlah pria yang berwajah buruk, jusrtu sebaliknya, ia begitu tampan dan memesona, ia juga seorang pria dengan harta tiada batas, dan bukan saja karena tahta yang diberikan kedua orang tuanya padanya, otak cerdasnya juga mampu memperluas lagi kerajaan perusahaan berkat kerja keras dan usaha yang selama ini dilakukanya. Singkatnya, Choi Siwon bisa memiliki perempuan manapun yang ada di dunia ini jika ia menginginkanya. Namja sepertinya, bahkan bisa memilih siapapun yang disukainya atau siapapun yang bisa menjadi barang mainanya. Tapi kenapa pria sempurna itu harus terjebak bersamanya? Bersama dengan Kibum yang sudah tega menyakiti hatinya bertahun-tahun. Mengapa Siwon masih mempertahankanya?

"Bummie.. Bummie.."

"I-iya, Siwonnie?" Kibum tersadar dari lamunan sesaatnya. Sembari menoleh kearah suaminya yang berada tepat disebelahnya ia meletakkan garpu yang sedaritadi dimainkanya keatas piring.

"Acaranya sudah selesai chagi, ayo kita pamit ke yang lainya" Bisik Siwon halus sembari meletakkan tangan disamping telinga Kibum. sementara Kibum hanya mengangguk kemudian membiarkan Siwon berbicara lagi pada beberapa orang lainya.

"Ah maaf.. sepertinya kami harus pamit duluan" Siwon berdiri kemudian membungkuk hormat pada beberapa orang dengan status sosial yang sama tingginya dengan keduanya. "Selamat malam, permisi semuanya"

Tanpa basa basi lagi keduanya kini melangkah keluar restaurant bintang lima itu. Siwon didepan mengapit tangan kanan Kibum kemudian menyatukan jari-jari keduanya dengan hangat, secara natural. Namja itu menyadari betul sikap Kibum yang begitu aneh barusan—tapi diam saja. Ia tidak mau merusak keadaan tenang dan kondusif yang sudah terjalin diantara keduanya. Syukurlah, lama-lama Kibum mulai bersikap seperti biasa lagi dan itu merupakan kemajuan yang sangat baik. Siwon tidak mengharapkan apapun, cukup Kibum disisinya saja ia sudah bahagia bahkan lebih dari cukup. Yang penting saat ini hanyalah Kibum, dan hubungan keduanya yang membaik. Hanya itu saja sudah membuatnya bahagia bukan main.

Mereka duduk berdampingan di dalam mobil mewah itu. Dalam perjalanan pulang pun Siwon masih saja sibuk berkutat dengan layar smarphonenya sementara Kibum termenung datar sembari memandangi pemandangan malam kota Seoul di balik kaca, bahkan ketika termenung pun Kibum masih memikirkan semuanya. Karena ia pendiam, Kibum tidak bisa mengekspresikan apa yang dirasanya atau apa yang dipikirkanya dengan bicara begitu saja pada orang lain. Dan pada kasus ini, Siwon. Ia tidak tahu harus memulai percakapan dengan apa atau harus bagaimana.

"Paman Jung, besok jangan lupa jam enam antarkan aku ke kedutaan. Pasporku sebentar lagi masa berlakunya sudah habis dan kita harus segera mengurusnya untuk acara minggu depan" Namja yang berada di kursi belakang itu memberitahu supir keluarganya yang hanya mengangguk. Sebenarnya tidak seharusnya Siwon memanggil pria itu paman, namun karena sejak kecil ia sudah diantar kemana-mana oleh supir kesayanganya itu ia jadi terbiasa bersikap hormat.

"Baiklah Tuan muda" Paman Jung mengangguk sembari membelokkan stirnya dengan hati-hati.

Kibum yang berada tepat disamping Siwon lantas menoleh sebentar kearah suaminya itu, namja itu sudah kembali sibuk dengan smartphonenya. Lagi-lagi, urusan bisnis.

"Memangnya, minggu depan kau mau kemana, Siwonnie?" Kibum memulai percakapan terlebih dahulu.

"Jepang" Kemudian, sang gentleman itu merapatkan tubuhnya dan merengkuh Kibum menggunakan tangan kananya.

"Berapa lama?"

"Sekitar empat hari, kurasa. Entahlah, aku juga tidak ingat. Appa dan Umma juga akan ke Jepang"

"Kalau begitu, bolehkan aku ikut, Wonnie?" Pinta Kibum dengan harap. Selama bertahun-tahun menikah Siwon memang jarang berkomunikasi tentang perjalanan bisnisnya atau apapun yang tidak ada hubungan sama sekali denganya. Namun kali ini, entah mengapa hati kecilnya ingin sekali ikut bersama suaminya. Ia tak sanggup sendirian berlama-lama dan kesepian lagi.

Siwon menyeringai kecil, "Tentu saja, Kibummie. Aku sangat senang akhirnya kau mau ikut denganku"

Kibum hanya tersenyum datar menanggapi Siwon yang terlihat begitu senang dengan kehadiranya. Sebentar-sebentar, ia akan menoleh melirik Siwon yang sedang sibuk sendiri. Hati kecilnya masih belum bisa memungkiri ada rasa menyesal yang besar telah menghianati Siwon. Karma yang didapatkanya sangat pedih—yaitu rasa bersalah berkepanjangan juga kesepian yang begitu mendalam. Baiklah, ia memang sudah dimaafkan oleh suaminya sendiri, namun bagaimana dengan Sungmin? Mereka tidak pernah bertemu lagi dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana kabar Sungmin, apakah Kyuhyun kembali lagi padanya atau yang terjadi pada Sungmin ketika tinggal bersama dengan Siwon.

Ia benar-benar manusia hina sekarang. Jika bukan karena Siwon yang berbaik hati sudah memaafkanya mungkin ia sudah jadi gelandangan atau menyandang status janda. Dan kini, setelah keadaan makin membaik, suasana hati Kibum tidak lantas membaik juga. karena masih ada satu hutang masalah yangharus diselesaikanya sebelum pada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri—Sungmin.

.

.

.

"Wonnie"

Kibum berbicara pada Siwon yang baru saja merebahkan tubuhnya diatas ranjang mereka sementara dirinya sendiri masih sibuk menghapus sisa-sisa make up dari wajah cantiknya. Setelah dirasa bersih, yeoja itu kemudian berjalan kerarah ranjang sembari menguncir kuda rambut ikalnya yang panjang.

"Hmm? Waeyo Bummie?" Namja sibuk itu refleks melipat koran yang baru saja dibukanya kemudian menggeser tubuh kekarnya sedikit hingga bersentuhan dengan tubuh mungil yeoja disebelahnya.

"Tidak apa-apa kok, hanya ingin memanggilmu saja" Jawab Kibum singkat sembari merebahkan tubuhnya diatas tangan Siwon. Kedua matanya terpejam sebentar, kemudian sebentar-sebentar mengerjap menatap pria yang tepat berada disampingnya.

"Kurasa, akhirnya kau sudah kembali lagi seperti Kibum yang dulu, Sayang, kau sudah kembali menjadi Kibum-ku, Kibum-ku yang dulu" Senyum Siwon merekah ketika namja itu membelai rambut Kibum dengan sayang.

"Gomawo.. Jeongmal gomawo.. Nyonya Choi" Lanjutnya lagi sembari mengecup kening Kibum dengan penuh kasih sayang.

Kibum hanya menyunggingkan senyuman kecil tanpa berminat membalas pujian suaminya. Tidak, ia masihlah Kibum, yeoja yang begitu jahat dan kejam. Dan Siwon, entahlah harus disebut apa suaminya yang begitu baik hati itu. Yang masih mau saja melayani seseorang sepertinya.

Sungmin. Sebuah nama yang saat ini masih tabu dibicarakan didepanya. Namun otak Kibum sendirilah yang sekolah memutar nama itu berulang-ulang seakan rekaman kaset yang tidak berujung. Siwon bahkan tidak pernah membicarakan nama itu lagi namun seolah, setiap hari Kibum tidur dan bangun tanpa bisa lepas memikirkan nama sahabatnya sendiri. Ketika tidur, ia terus menerus memimpikan Sungmin. Dan ketika ia bangun seolah tidak ada waktu kosong baginya untuk tidak memikirkan Sungmin. Terutama ketika ia sedang sendiri, nama itu pasti tiba-tiba akan melintas dalam pikiranya seolah tak bisa membiarkanya tenang sedkitpun.

"Bummie, kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah ya dengan wajahku? Heum?"

"Aniyo Wonnie" balasnya sembari tersenyum getir, "Tidak ada yang salah kok, kau masih Choi Siwon yang tampan"

"Tampan? Benarkah aku tampan, Kibummie?"

"Tentu saja, Choi Siwon, suamiku yang tampan seperti pangeran"

"Ah benarkah?"

Kibum mengangguk, "Wonnie, ini sudah malam. Mengapa masih sibuk saja membaca koran, sih? Tubuhmu kan butuh istirahat.." ia dengan cepat membalik koran yang masih setia bersama Siwon dan menaruhnya disebuah nakas kecil yang berada tepat disamping ranjang.

"Baiklah, jika itu yang diperintahkan tuan putri padaku, aku akan melakukanya" Balasnya sembari menarik selimut hingga menutupi dada mereka.

"Selamat tidur, Wonnie"

"Selamat tidur juga, Kibummie" Balasnya lagi sembari membalikkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata.

Jika aku seperti pangeran, mengapa selama ini kau memilih Kyuhyun, bukan aku?

.

.

.

~KyuMin~

.

.

.

"Ayo berangkat bersama"

"Mwo?"

Sungmin mengernyitkan alisnya ketika Kyuhyun tiba-tiba muncul dari dalam kamar dengan pakaian kerja lengkap juga kunci mobil yang sudah berada dalam genggamanya. Sembari menuangkan susu putih dalam sereal ia menatap wajah Kyuhyun yang tampak begitu serius dengan ucapanya barusan. Hey, sejak kapan Cho Kyuhyun mau mengajaknya berangkat satu mobil?

Kyuhyun menghampiri Sungmin sembari menyuap sereal yang baru saja selesai diracik istrinya, "Aku tidak mau kau terlalu lelah dengan menyetir sendiri ke kantor. Andwae, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan baby, heum?"

Namja itu memeluknya dari belakang sembari mengelus perut ratanya perlahan. sungguh, Sungmin begitu menyukai momen-momen seperti ini. bayi dalam kandunganya juga pasti sedang senang sekali sekarang mendapatkan perhatian penuh dari Appa-nya yang baru-baru ini mereka dapatkan.

"Bagaimana? Minnie, kau mau kan?"

"Terserahmu saja Kyu" Jawab Sungmin tenang lalu membalikan badanya. Kini, jarak wajah Sungmin dan Kyuhyun mungkin hanya tinggal beberapa sentimeter lagi.

"Good girl.." Puji Kyuhyun dengan tenang. "Ini baru istriku yang penurut…" Namja itu dengan tenang meletakkan jari jemari jenjangnya dipipi sebelah kanan Sungmin dan membelainya perlahan sebelum akhirnya mengecup bibir kecil milik istrinya dengan perlahan

"Kyu.. Kita kan harus ker—"

"Sssst" Namja itu meletakkan jari telunjuknya diatas bibir Sungmin yang kenyal, "Bolos sehari saja, memangnya dosa? Ayolaaah.."

Kyuhyun mengecup bibir Sungmin sekali lagi, dan sekali lagi dengan insensitas yang cukup panjang sebelum akhirnya Sungmin membalas pangutan bibir Kyuhyun dan menariknya semakin ke dalam. Memperintim ciuman keduanya. Ia bahagia, tentu saja bahkan sangat bahagia dengan keluarga kecilnya, hari ke hari Sungmin bisa merasakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri Kyuhyun dan bagaimana namja itu terlihat begitu antusias menyambut kedatangan anak mereka. Seolah mereka adalah sepasang suami isrti yang bahagia sejak awal tanpa 'guncangan' apapun. Ah biarlah, Sungmin sudah tidak ingin mempermasalahkan hal tabu itu lagi. Baginya, hidupnya kini makin lama makin baik dan seperti sekarang saja sudah cukup. Ia tidak meminta hal yang lebih dari ini, kini, yang penting adalah bayinya dan Kyuhyun.

Namja itu semakin menuntut dan mengecup pipi, kemudian turun ke leher jenjangnya secara posesif. Memberikan tanda-tanda bekas kecupan kecil disana seolah memberikan jejak kekuasaan yang jelas pada tubuh bagian atasnya.

"Nghh.. Ah.. Kyu…"

Sungmin mulai mendesah liar ketika bibir Kyuhyun mulai menjelajahi bagian atas dadanya, namja itu kemudian meletakkan kedua tangannya diatas kerah kemeja Sungmin yang memang dari tadi sudah terbuka satu kancing.

"Kyu aku harus ker—Ahh.."

"Kau bisa izin sakit hari ini, atau izin check up, atau apapun. Tak izin juga tidak apa-apa kan, Minnie? Kau kan yang punya butiknya.." Selesai dengan perkataanya Kyuhyun pun melanjutkan aksinya yang tertunda. Ia bermain-main dengan istrinya disamping meja makan kemudian mengangkat tubuh Sungmin yang mungil itu keatas meja.

"Tapi Kyu, masih banyak yang harus kuselesaikan, lagipula.. kau kan harus kerja juga Ahh…" sebelum Sungmin melanjutkan kalimatnya bibir Kyuhyun terlebih dahulu menyumpal bibirnya. Ia menikmatinya—sungguh. Tapi membayangkan tumpukan design yang harus ia selesaikan membuat Sungmin ingin sekali menghentikan aktivitas ini.

Aktivitas mereka semakin dalam. Tidak ada yang benar-benar beminat ingin menghentikanya baik Sungmin apalagi Kyuhyun. Suara desahan semakin jelas terdengar ketika Kyuhyun dengan cepat melepaskan kemeja kerja Sungmin dan meletakkan kepalanya dibalik payudara Sungmin yang terlihat begitu menggairahkan.

"Kyu.. Arghh.. ya.. ya.. disana.." Desah Sungmin ketika namja itu mengecup kedua payudaranya bergantian. Sungmin menyukainya, sangat-sangat menikmatinya apalagi ketika dua tangan liar Kyuhyun mulai melepaskan kaitan bra-nya satu persatu sementara dua tanganya melepaskan kancing kemeja kerja Kyuhyun dengan cepat pula. Ketika keduanya sudah bertelanjang dada, Kyuhyun hanya bermain 'diatas' saja. Kandungan Sungmin belumlah aman, sedikit saja guncangan bisa membuatnya rapuh. Jadi sebagai suami yang baik dan bersabar Kyuhyun mencoba menahan hasratnya untuk tidak membuka resleting rok yang dikenakan Sungmin.

"Minnie.. Kyuhyun kecil.. ia minta dimanjakan" rengek Kyuhyun ketika merasa sebuah gundukan besar pada alat vitalnya mulai menegang

"Baiklah.."

Huft. Ingin tidak ingin, Sungmin tetap melakukanya. Perlahan yeoja itu berlutut dihadapan Kyuhyun dan membuka bagian bawah celana suaminya, benar saja, junior Kyuhyun sudah mulai berurat dan menegang. Biasanya ini membuat Sungmin terangsang, tapi kali ini jangankan terangsang, ah melihatnya saja geli sekali.

"Ugh.." Sungmin mulai menghisap alat kelamin Kyuhyun, perlahan-lahan tapi mampu membuat namja itu meremas taplak meja. Dengan lincah dan profesional ia memaju mundurkan alat kelamin Kyuhyun bak permen lollipop, sesekali ia akan melepaskan emutanya dan bernafas panjang. Sungguh, kali ini ia ingin sekali muntah.

"Minnie.. faster.. Ahh…"

"Nah begitu Min—aah.. sepertinya mau keluar… "

Gulp!

Sungmin menelan ludahnya sebentar bersiap-siap menerima cairan kental berwarna putih itu keluar dari Kyuhyun junior. Kedua matanya terpejam ketika Kyuhyun junior mulai berkedut dan mengeluarkan cairan itu perlahan-lahan kemudian jadi banyak.

"Kyu.. aku—"

"Terimalah Minnie, enak kan?"

"Tapi Kyu, aku.. aku.."

Belum sempat melanjutkan kalimatnya Sungmin langsung berdiri meninggalkan Kyuhyun begitu saja ke kamar mandi tanpa berniat balik lagi sama sekali. Binggung dengan apa yang terjadi, tak lama kemudian muncullah suara Sungmin yang terdengar menggema dari toilet mereka yang tak jauh dari tempat Kyuhyun berdiri.

"Hoek! Hoek!"

Refleks Kyuhyun berjalan menghampiri Sungmin yang sedang memuntahkan isi makananya ke closet. Sembari memijat-mijat tengkuk Sungmin perlahan, namja itu menghela nafas pendek. Sepertinya, bahkan tidak ada oral seks sampai waktu yang belum ditentukan bagi keduanya.

.

.

.

~SiBum~

.

.

.

Beberapa hari kemudian..

"Berhenti Pak!"

"Disini, nyonya?"

Kibum mengangguk sebelum akhirnya kendaraan beroda empat itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang cukup mewah. Sembari merapatkan matelnya ia mengenakan kaca mata hitam, kemudian turun dengan anggunnya dari mobil itu. Menatap ragu pada bangunan besar dihadapanya sembari terdiam hendak mengurungkan niatnya.

Hari ini, Kibum datang sendiri ke rumah Sungmin. Ia sudah siap dengan resiko yang ditanggungnya, apakah Sungmin akan menolaknya mentah-mentah atau tidak, ia sudah tidak perduli. Meskipun, tidak bisa dibohongi juga jika hati kecilnya begitu ragu dan takut akan penolakan dari sahabatnya yang baik hati itu.

Ia memandang gamang pada pintu rumah yang masih tertutup rapat. Hari ini hari Sabtu dan Kibum hapal sekali jadwal rumah tangga keluarga Cho. karena sekarang sudah memiliki kantor sendiri Kyuhyun masih harus bekerja di kantor pada hari sabtu sementara Sungmin berada di rumah sendirian.

Kibum memencet bel yang tertempel di depan pintu rumah. Kedua tanganya mengepal gelisah sekali meskipun ia berkali-kali meyakinkan hati dan jiwanya untuk tidak gugup menghadapi apapun yang terjadi.

"Kibum?" Ia bahkan tidak sadar pintu sudah terbuka dan Sungmin sudah tepat dihadapan matanya. Yeoja itu masih memakai gaun tidurnya yang terlihat panjang tepat dibawah lutut.

"M..Minnie—"

"Masuklah"

Sungmin membuka pintu itu lebih besar dan membiarkan Kibum masuk ke dalam. Meskipun Kibum satang dengan pakaian yang tertutup dan kacamata besarnya itu ia tetap tahu siapa pemilik hidung mancung serta bibir sintal kemerahan yang baru saja memencet bel.

Ia mempersilahkan tamunya itu duduk disebuah sofa besar yang berada tepat di ruang tamu. Tidak ada percakapan disana, hanya gerakan tanganya yang mempersilahkan Kibum duduk lalu pergi masuk ke dalam dapur dan menyiapkan minuman serta cemilan seadanya.

Kibum menatap canggung pada Sungmin yang beru saja duduk berhadapan dengannya. Sahabatnya itu, terlihat sedikit membesar layaknya orang hamil muda. Wajahnya terlihat sedikit pucat—mungkin karena baru saja morning sickness atau sejenisnya, ia tidak mengerti. Yang jelas, wajah itu tetap menjadi salah seorang yang dirindukanya setelah sekian lama dan dengan keadaan Sungmin yang berbadan dua, membuat Kibum bahagia juga sebagai teman. Meskipun pada realitanya, pria yang menanam benih pada rahim Sungmin jugalah seorang pria yang sering serhubungan seks secara diam-diam denganya.

"Minnie.." Kibum memulai percakapan sembari memegang tangan kanan Sungmin perlahan, ditatapnya wajah Sungmin yang terlihat biasa saja, seperti tidak kaget, marah, bahagia atau apapun.

"Kedatanganku kesini.. aku ingin meminta maaf padamu Min, atas semua yang pernah kulakukan selama ini.. apapun itu, semuanya"

"Kesalahan apa maksudmu, Bummie? Aku tidak mengerti"

Sungmin tersenyum perlahan sembari mengelus tangan Kibum. tidak ada raut wajah yang marah, atau seperti yang dibayangkan Kibum pada awalnya. Sungmin seakan sudah melupakan apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu! Ajaib sekali dan membuat Kibum sedikit mengenyit heran.

"Jika yang kau maksud dengan kesalahan adalah perbuatanmu dan Kyuhyun, aku sudah memaafkanya. Ya, pada awalnya, aku memang marah dan kecewa sekali dengan perbuatan kalian berdua. Tentu saja, bagaimanapun juga, aku ini manusia biasa, yang membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan lukaku dan mencoba memaafkan"

"Tapi kau tetap sahabatku, Kibummie. Dan apalah artinya persahabatan jika kita tidak berusaha untuk memaafkan? Aku benar tidak?"

Kibum hanya mengangguk canggung. Semudah inikah bagi Sungmin untuk memaafkanya? Rasanya ia masih tidak percaya. Ini benar-benar diluar akal sehatnya.

"Tapi seperti yang kau tahu Min.. aku.. sudah melakukan kesalahan besar dan itu pasti menyakitkan hatimu kan? Min, tolong hukum aku seberat-beratnya, jangan membiarkanku seperti ini akulah wanita jalang itu Min.. kumohon, beritahukan aku hukuman apa yang kau inginkan untukku, kau—"

"Paboya, Choi Kibum" Sungmin terkekeh kecil sembari mengelus perutnya perlahan. "Untuk apa aku marah? Tidak ada gunanya, nasi sudah menjadi bubur dan semua itu pada akhirnya kujadikan pengalaman hidupku, kok"

"Tapi, aku mengenalmu sudah cukup lama, Sungminnie. Aku tahu tidak semudah ini kau memaafkan orang,apalagi, kesalahanku sudah menggunung, ak—"

"Seharusnya, kau berterimakasih loh, suamimu itu, Siwonlah yang telah membuatku jadi lebih dewasa seperti sekarang, berkatnya aku jadi sadar aku tidak sendiri, pada intinya, kami senasib sepenanggungan, terutama Siwon sih, mendengar ceritanya membuatku sadar masih ada yang lebih sakit dariku, namun masih kuat bertahan hingga bertahun-tahun, jadi, apakah tidak egois namanya jika aku terus-terusan membenci kalian berdua sementara Siwon yang tahu sejak lama saja masih bisa menahan dirinya?" kata 'kalian' yang dimaksud Sungmin pastilah merujuk kearah Kibum dan Kyuhyun. Dan membuat Kibum hanya bisa menunduk malu sembari menyesali perbuatanya.

"Oleh karena itu, jangan kecewakan hati Siwon lagi, ne? sudahilah penderitaanya selama ini, Bummie, kau meminta hukuman dariku kan? Sebagai hukumanya, mulai dari sekarang kau harus bisa menjadi istri yang baik untuk Siwon. Jangan sekali-sekali membuatnya sedih atau mengecewakanya lagi. Ara? Kau harus berjanji padaku, Bummie, Mau berjanji?"

Dua kari kelingking dari dua perempuan cantik yang berbeda itu bertautan satu sama lain. Keduanya tersenyum perlahan menandakan hubungan mereka yang telah membaik. Ya, Sungmin memang sudah memaafkan Kibum sejak lama meskipun tak bisa dipungkiri lagi, mencoba memaafkan dan bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa itu sangat susah. Namun ia sudah membuktikan pada semuanya ia bisa membuang sifat kekanak-kanakan yang selama ini melekat padanya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

"Aku janji"

.

.

.

TBC

Anyeong~ setelah sekian lama saya hiatus saya akhirnya comeback loh^^

Mohon maaf dan terimakasih untuk semua readers yang masih menunggu kelanjutan ff ini. so, keep review and wait for new chapter ya^^

Btw, adakah diantara readers yang mau nonton MuBank? Aku doain deh semoga jadi nonton dan mudah-mudahan uang kalian terkumpul untuk ketemu Siwon dkk sekali lagi, kekeke~
untuk yang nanya twitter bisa follow aku di RANARAWR. Pin bbm-nya nggak bs aku sebar tp bisa nanya kok ke twitter, hehe thanks^^