Title:I LIKE YOU THE BEST

Pairing : Meanie, Verkwan, Soonseok, Seunghan

Author: David Rd

Language: Indonesian, Rating: Rated: T

Genre: Romance/Drama

Chapters: 10/14

Note:

Kesamaan cerita hanyalah ketidaksengajaan semata. Pernah baca cerita serupa anggap saja nasib.

Warning! Alur cerita membosankan alias gampang ditebak, banyak tipo, cerita nggak mutu, cerita terlalu pendek, bahasa terlalu formal, dll.

Don't like don't read! Comment is appreciated while no room for bashing!

The characters here belong to God and their parents.

Finally happy reading and I hope you'll enjoy it.

©2011 David Rd Copyrights

.

.

KIDNAPPED

.

.

Suara koor anak-anak di dalam aula terdengar membahana di tengah malam. Acara showcase berjalan sangat lancar sehingga guru-guru dan panitia merasa puas dengan hasil yang mereka dapatkan. Anak-anak juga terlihat sangat bahagia dan senang dengan acara ini. Walaupun awal mulanya banyak anak yang deg-degan saat akan menampilkan kebolehan mereka, tapi akhirnya sekarang mereka bisa tertawa dan menyanyi bersama di akhir acara.

"Anak-anak terima kasih atas partisipasi kalian. Baiklah karena acara ini sudah selesai, sekarang saatnya tidur. Kalian sebaiknya kembali ke kamar kalian dan tidurlah. Acara kita untuk besok pagi adalah senam dan mencari jejak. Jadi siapkan stamina kalian sebaik mungkin. Kalian mengerti?" ujar Mr. Hwang.

"Saem, bagaimana dengan kelompok mencari jejaknya?" tanya Chanwoo yang mengacungkan tangan kanannya dan melambaikannya ke kanan dan ke kiri berulang-ulang kali.

"Kami sudah mengaturnya Chanwoo-ya. Jadi sekarang kalian tidur saja, besok akan kami umumkan," lanjut Mr. Hwang.

"Ne, sonsaengnim."

Satu persatu anak mulai meninggalkan aula menuju kamar penginapan mereka. Karena terlalu senang, banyak anak yang belum mengantuk, namun karena besok paginya mereka masih mempunyai kegiatan untuk dilakukan, jadi mereka terpaksa tidur. Begitu juga dengan Mingyu dan Wonwoo.

Hansol dan Seungkwan justru kelihatan mengantuk sekali. Hansol bahkan sudah tertidur jauh sebelum Mr. Hwang memberikan perintah untuk kembali ke kamar masing-masing. Seungkwan sampai-sampai harus setengah menyeret rapper yang terus-terusan mengigau 'fufufu' siulan di lagu troublemaker. Apa si bodoh ini berpikir kalau mereka masih tampil?

"Hansol-ah, bangun dulu! Aish, kau itu berat," pemuda yang berasal dari Jeju itu menepuk-nepuk pelan pundak Hansol.

"FUFUFUFU," pemuda berwajah bule yang sedang tertidur pun menirukan gerakan Jang Hyunseung sebentar, kemudian kembali tidur.

"YAH! CHWE HANSOL!" Seungkwan berteriak karena si rapper tidak bangun-bangun juga.

Sambil celingukan, Hansol mengucek-ucek kelopak matanya dan setelah beberapa saat melihat Seungkwan yang menatapnya galak.

"Seungkwan-ah," bukannya bangun sepenuhnya, Hansol justru memeluk erat lengan kanan Seungkwan dan hampir tertidur kembali. Beruntung, saat itu sang diva mengambil langkah cepat, dia berteriak dengan keras tepat di telinga Hansol,"YAH CHWE HANSOLOOO! BANGUN ATAU KUTINGGAL KAU DISINI!"

Sontak saja Hansol membuka matanya lebar-lebar karena suara Seungkwan benar-benar bisa membuat gendang telinga pecah.

"Seungkwan-ah, kenapa kau tidak berkata pelan-pelan saja? Aku kan tidak tuli," pemuda yang menggunakan kaos tanpa lengan itu menutup kedua telinganya dan cemberut.

Sebaliknya, pemuda yang ada di hadapannya menjawab,"Kalau kau tidak tuli, kenapa dari tadi kau tidak bangun? Yah! Lihat, semua anak sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Aku tidak mau tidur di sini. Sekarang, bangun atau kau tidur di sini sendirian!"

Sambil terus-terusan mengucek-ucek matanya yang seakan sudah sangat berat dan tidak mau membuka sepenuhnya, Hansol berdiri dan mengikuti Seungkwan yang sudah terlebih dulu meninggalkan aula pertemuan dengan sedikit kesal.

.

.

.

"Yoboseyo," pemuda yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi itu menyapa orang yang ada di seberang saluran telepon.

"Hyung," tangan kanan Seokmin menggenggam handphone di dekat telinganya sedangkan tangan kirinya memegang sesuatu yang bertuliskan CAPTAIN.

"Seokmin-ah, kukira kau sedang mengikuti MT."

"Hm, iya aku sedang mengikuti MT. Bahkan sekarang satu acara telah selesai. Apa yang sedang kau lakukan?" diletakkannya tanda kapten ke dalam tas, kemudian ia keluar dari kamar sehingga tidak mengganggu Seungcheol yang sudah tertidur dengan nyenyak.

"Aku baru selesai latihan. Kau sendiri?" Soonyoung balik bertanya.

Setelah menutup pintu kamar dan berjalan menuju sebuah bangku di tengah taman, Seokmin menjawab pertanyaan Soonyoung,"Aku sedang berjalan-jalan sebentar. Entah kenapa, aku tak bisa tidur. Oya, mengenai tawaranmu waktu itu. Aku sudah memikirkannya Hyung."

Soonyoung merebahkan diri di atas tempat tidurnya dan memeluk bantal guling yang ada di sampingnya erat. Dia sudah menunggu saat ini sangat lama. Saat dimana ia akan tahu sesungguhnya apakah pilihan Seokmin.

"Lalu, apa jawabanmu?" Soonyoung memejamkan matanya seolah takut bahwa jawaban yang akan keluar dari mulut Seokmin adalah penolakan. Dia sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

"A..aku...," jeda beberapa lama, Soonyoung hanya bisa menahan napas menunggu kelanjutan perkataan mantan teman satu timnya itu,"Aku akan kembali."

Lega sudah. Sekarang ia bisa tersenyum. Seokmin bersedia kembali ke dalam team.

"Seokmin-ah, kau sungguh-sungguh?" karena takut bahwa ia salah dengar, pemuda bermata sangat sipit itu menanyakan sekali lagi jawaban mantan kapten team sepakbola sekolah mereka.

"Iya, aku sungguh-sungguh. Tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk kembali bermain bola Hyung," angin malam menyapu rambut pemuda berhidung mancung yang duduk di bangku taman .

"Aku sangat senang kau mau kembali ke dalam team lagi Seokmin-ah. Aku senang bisa bekerja sama lagi denganmu," Soonyoung makin mempererat guling di pelukannya dan menatap bingkai foto yang ada di meja dekat tempat tidurnya. Fotonya bersama Seokmin saat team mereka berhasil memenangkan kejuaraan tingkat Provinsi. Seokmin yang memakai seragam berwarna biru itu tersenyum senang sambil mengangkat sebuah trofi sedangkan dirinya memamerkan piagam tanda juara. Tangan kanan Seokmin melingkar di pundak Soonyoung dan keduanya sangat bahagia. Soonyoung ingin, ada moment seperti itu lagi. Moment dimana ia melihat Seokmin bahagia dengan tulus.

"Nado. Hm, Hyung, sepertinya ini sudah larut malam. Aku takut mengganggu waktu tidurmu, jadi sebaiknya kita sudahi pembicaraan kali ini. Aku akan menghubungimu lagi besok. Jaljayo!"

"Ne. Kau juga istirahat ya. Bukankah besok kegiatanmu masih banyak? Lee Seokmin fighting!"

.

.

.

Wonwoo menarik selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dagu. Wajahnya sangat merah mengingat kejadian di aula tadi. Bagaimana ia bisa lupa bahwa banyak orang di sana? Apa yang akan orang pikirkan ketika melihat Wonwoo tiba-tiba memeluk Mingyu saat keduanya diumumkan sebagai pemenang acara showcase.

WONWOO POV

Aish, apa yang telah aku lakukan? Jeon Wonwoo, tak sadarkah kau banyak sekali orang yang memandangmu dengan tatapan aneh. Kenapa kau tidak bisa menguasai emosimu? Aish, seharusnya aku cukup menggenggam tangan Mingyu saja untuk menunjukkan kebahagiaanku, tapi kenapa justru aku memeluknya?

Yah, apa aku mau mati? Aish, bagaimana kalau ada fans Mingyu yang tidak suka dengan tindakanku? Omo, apa yang harus aku lakukan?

Aku tahu walaupun Mingyu adalah kingka di sekolah, tidak sedikit siswa putri di sekolah kami yang diam-diam menyukai Mingyu. Beberapa di antaranya bahkan secara terang-terangan pernah menyatakan cintanya pada pemuda yang sekarang menjadi pacarku ini. Bahkan beberapa yang tidak berani menyatakan secara langsung, mereka meletakkan beberapa hadiah di atas loker Mingyu. Tapi, tak pernah sekalipun Mingyu mempedulikan hadiah-hadiah itu. Sehingga biasanya hadiah itu akan habis karena diambil anak lain atau dibawa petugas kebersihan yang kebetulan sedang bersih-bersih.

FLASHBACK

Semua anak mulai was-was saat Mr. Hwang maju ke tengah panggung di aula guna mengumumkan pemenang acara showcase kali ini. Walaupun ini cuma ajang pertunjukan bakat tingkat kelas, tapi kami semua merasa sangat deg-degan dengan hasil yang akan keluar. Menang di acara ini merupakan sebuah kebanggaan. Karena pemenang acara ini akan menjadi panitia kecil yang akan mempersiapkan sebuah pertunjukan untuk dilombakan dengan kelas lain saat Ulang tahun sekolah.

Kulihat banyak anak yang mengharapkan bahwa merekalah yang terpilih menjadi pemenang. Kalau banyak yang berharap menang, aku justru kebalikannya. Kenapa? Karena aku benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan kalau aku menang. Selain itu, aku hanya mengikuti acara ini agar aku terlepas dari hukuman yang diberikan apabila tidak turut berpartisipasi.

Di sampingku, kulihat Mingyu sedang terus menerus memperhatikanku. Wajahku langsung memerah karena dia tetap bergeming saat memandangku. Tangan kanannya menggenggam erat tangan kiriku sejak acara dimulai. Aku tak tahu kenapa kami bisa bertahan seperti ini. Untunglah posisi kami berada di belakang sehingga tidak ada anak yang mengetahui tangan kami ini.

"Anak-anak, sekarang adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Bapak akan mengumumkan pemenang acara showcase malam ini."

Semua anak menyambut perkataan guru yang sedikit botak itu dengan tepuk tangan meriah.

"Baiklah, tenang semuanya!" Mr. Hwang menyuruh semua anak kembali tenang sebelum melanjutkan,"Pemenang acara sowcase kali ini adalah...," jeda beberapa saat dan beberapa anak laki-laki seperti Hanbin, Jiwon, Junhee, dan Yoonhyoung menirukan bunyi genderang drum menambah riuh suasana.

"No Flexzone... yang dinyanyikan oleh Mingyu dan Wonwoo. Chukae untuk kalian berdua."

Entah apa yang merasuk ke dalam tubuhku, tapi seketika itu juga aku berteriak gembira dan memeluk Mingyu yang duduk di sampingku. Belum pernah aku mengikuti sebuah kontes, apalagi menang. Ini adalah pertama kalinya dan ini semua berkat Mingyu yang meyakinkanku.

Semua mata tertuju pada kami berdua, dan aku tersadar bahwa kami masih berada di antara teman-teman sekelas dan juga guru-guru. Aku berniat melepaskan pelukanku ketika Mingyu mempererat pelukannya. Semua orang menganggap bahwa kebahagiaanku wajar dan bahwa aku memeluk Mingyu karena terlalu bahagia. Namun, dari ekor mataku dapat kutangkap beberapa pandangan yang menyatakan rasa tidak senang mereka.

Aku berbisik pada Mingyu yang masih belum juga melepaskanku,"Mingyu-ya, lepaskan!"

"Hm, baiklah," dia melepaskan pelukannya dan menatap wajahku yang memerah karena malu dan mengecup kilat pipiku saat tidak ada lagi yang memperhatikan kami.

"You're so cute Hyung."

.

.

.

Kutarik selimut menutupi wajahku mengingat hal itu. Namun, seseorang menarik benteng pertahananku dan kulihat kekasihku menatapku.

"Mingyu-ya, kembalikan selimutnya," aku memohon agar ia mengembalikan selimut itu sehingga aku bisa kembali menyembunyikan wajahku.

Bukannya mengembalikan selimut itu, Mingyu justru menarikku ke dalam pelukannya. Kurasakan wajahku terbenam ke dadanya yang bidang. Kuhirup aroma parfum yang selalu menyelimuti tubuh Mingyu. Aroma yang hanya Mingyu yang memilikinya. Dia membelai pelan punggungku seolah menenangkanku yang masih terus memikirkan kejadian beberapa saat lalu. Dari posisiku sekarang, aku bisa mendengar detak jantungnya dan tarikan nafasnya yang teratur.

"Woo, kenapa kau malu dengan semua itu?" dia mulai berbicara, tapi tangannya masih membelai punggungku.

"Karena, semua orang melihatnya," aku menjawab.

"Aish, kau benar-benar lucu. It's okay, we're dating now. Tak ada salahnya kau memelukku," sekarang dia mencium puncak kepalaku. Walaupun tidak melihat wajahnya, aku tahu dia tersenyum.

"Tapi, bagaimana dengan fans mu?"

"Fans?"

"Ya, mereka yang menyukaimu Gyu," aku menatap matanya, dan dia menunduk untuk balik menatapku.

"Aku tidak peduli pada mereka. Aku tak pernah menyukai mereka, dan mereka juga tidak bisa memaksakan perasaan mereka padaku. Kalau mereka menyukaiku, seharusnya mereka senang kalau melihatku bahagia," dia kembali meyakinkanku. Aku sangat menyukai Mingyu. Walaupun ia lebih muda dariku, tapi dia benar-benar dewasa. Dia bisa membuatku yakin akan suatu hal dan membuatku lebih tegar.

"Tapi," belum sempat aku menyelesaikan kalimat yang akan kuucapkan, ia menciumku. Ciuman kami kali ini tidak seperti ciuman kami siang tadi. Karena saat ini, aku bisa merasakan bahwa ia benar-benar sedang menunjukkan padaku betapa ia mencintaiku. Bahwa ia juga memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja dan aku diharapkan tidak perlu khawatir.

Aku sangat mencintaimu Kim Mingyu. Oh, God, bagaimana kau bisa menciptakan seseorang seperti dia untukku?

End of Wonwoo POV

.

.

.

"Aish, kenapa tiap kelompok cuma tiga orang?" Seungkwan menggerutu saat berjalan menyusuri hutan yang digunakan sebagai tempat mencari jejak. Di belakangnya, Seungcheol dan Wonwoo hanya diam saja mendengarkan Seungkwan yang terus-terusan mengeluh.

Sebenarnya Seungkwan tidak berkeberatan jika satu kelompok hanya tiga orang, tapi alangkah indahnya kalau dia satu kelompok bersama Hansol. Pasti itu akan sangat menyenangkan. Bagaimanapun juga, hal itu hanyalah mimpi Seungkwan, si Princess Boo.

Seungcheol yang tidak ambil pusing terhadap perilaku Seungkwan, segera membuka peta yang merupakan bekal dari guru-guru.

"Seungcheol hyung, waegurae?" Wonwoo bertanya pada Seungcheol yang tiba-tiba saja berhenti berjalan.

Salah satu alis Seungcheol terangkat dan dengan ragu-ragu ia membolak-balikkan peta di tangannya.

"Hyung, waegurae?" Wonwoo kembali bertanya saat pertanyaan pertamanya tidak digubris oleh kekasih Yoon Jeonghan ini.

Seungkwan yang sudah berada sekitar sepuluh langkah di depan ikut menghentikan langkahnya saat mengetahui kedua temannya tidak ikut berjalan lagi. Didekatinya mereka berdua dan dipukulnya pelan kepala Seungcheol dan Wonwoo,"Yah! Kalian berdua kenapa diam saja? Kita harus segera keluar dari hutan ini." Si princess Boo terus mengomel sambil berkacak pinggang.

"Aish, sepertinya ada yang ingin mengerjai kita," akhirnya Seungcheol angkat bicara.

"MWO?" Seungkwan melotot mendengar kata-kata Seungcheol.

"Boo, bisakah kau tenang sebentar. Hyung, apa maksudnya ada yang ingin mengerjai kita?" Wonwoo sekarang berusaha menahan rasa panik yang sudah mulai muncul.

"LIHATLAH!" Seungcheol menunjukkan sebuah tanda segitiga pada peta yang dipegangnya pada kedua temannya yang masih belum mengerti ucapannya barusan,"Sekarang kita berada setidaknya di sekitar segitiga ini. Tapi apa kalian tidak merasa aneh? Kalian lihat pohon itu? Sepertinya kita sudah mengitarinya sampai tiga kali. Dan bukankah seharusnya ada tanda di sekitar tempat ini? Tanda-tanda seperti di tempat-tempat sebelumnya yang telah kita lewati."

"Jadi, maksudmu kita tersesat?" Seungkwan memotong pembicaraan Seungcheol.

"Ne, sepertinya ada yang mengubah jalur mencari jejak ini," Choi Seungcheol mengamati sekelilingnya dan tiba-tiba saja sebuah bunyi misterius terdengar.

KREK KREK KREK

Ketiga pemuda itu langsung menengok ke tempat asal suara. Wonwoo sudah benar-benar panik sekarang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau-kalau perkataan Seungcheol benar. Bagaimana kalau ada binatang buas di hutan ini? Bagaimana kalau mereka tidak bisa menemukan jalan keluar dari hutan ini? Bagaimana kalau mereka berada dalam bahaya sekarang? Dan bagaimana bagaimana yang lain.

Seungcheol berbalik menatap semak-semak di belakangnya dan melihat beberapa pohon tinggi menjulang yang terlihat ganjil. Perlahan, Seungcheol mendekati pohon besar yang dicurigainya itu.

"Hyung, ada apa?" Seungkwan juga mulai ketakutan. Jangan-jangan ada binatang buas yang sedang bersembunyi di balik pohon besar itu.

Wonwoo mendekati Seungkwan dan memegang erat lengan temannya itu. Seungkwan juga berusaha tidak menunjukkan ketakutannya, karena ia tahu hal itu hanya akan memperburuk suasana.

Selangkah demi selangkah Seungcheol berjalan ke arah pohon besar yang sekarang sudah tinggal beberapa jengkal lagi dari tempatnya berdiri. Dilihatnya bayangan hitam di sekitar pohon itu dan saat diputuskannya untuk menyergap bayangan itu terdengar teriakan,"AAARRRRGGGGGHHH."

Secepat kilat Seungcheol berbalik melihat Seungkwan yang sudah tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Dan karena lengah akhirnya Seungcheol pun tidak sadar ketika seseorang memukul tengkuknya. Seungcheol pun roboh seketika.

Kini tinggal Wonwoo seorang diri yang masih sadarkan diri. Di hadapannya kini ada dua orang berpakaian hitam-hitam dan bertopeng lengkap dengan pemukul baseball. Melihat Seungkwan dan Seungcheol roboh, tubuh pemuda kurus ini mulai gemetaran.

Salah satu dari orang itu mendekati Wonwoo dan sontak pemuda ini berteriak dengan keras. Ia mengeluarkan semua kekuatannya untuk berteriak. Ia berharap ada orang yang mendengarnya. Ia harap Mingyu akan mendengar teriakannya dan mengetahui bahwa Wonwoo sedang berada dalam bahaya.

"AAAAAAAAAAAAAARRRRGGGHH."

.

.

.

Mingyu POV

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba juga giliran kelompok kami untuk masuk ke dalam hutan. Kelompok Wonwoo sudah masuk terlebih dahulu, kira-kira sepuluh menit yang lalu karena mereka adalah kelompok pertama. Dengan sangat malas kuayunkan kaki ini mengikuti langkah Hansol dan Seokmin. Seokmin memegang peta sedangkan Hansol sibuk menyibak semak-semak yang menghalangi perjalanan kami. Inilah enaknya punya dua sahabat yang ambisius. Biarkan mereka melakukan pekerjaan dan kita tinggal bersantai.

"Yah," kupanggil kedua sahabatku itu karena aku bosan berjalan dalam diam.

Mereka menoleh dan ,"Yah! Waegurae?" Hansol menatapku dengan tatapan sebaiknya-kau-mengatakan-sesuatu-yang-penting-atau -kalau-tidak-kuhajar-kau.

"Aniyo," mengetahui temanku itu sedang serius menyibak semak-semak akhirnya kutunda niatku untuk mengajak mengobrol.

"ARRGGGHH," aku berteriak saat sesuatu hinggap di bajuku. Sesuatu yang sangat kubenci. Kumbang.

Sontak kedua sahabatku yang tadinya tidak memperhatikanku segera berbalik dan melihatku sedang bertarung dengan kumbang sialan. Yah, sebenarnya bukan bertarung, lebih tepatnya aku sedang berusaha mengusir binatang kecil menjijikan ini dari baju yang kukenakan.

Mereka berdua bukannya menolongku malah tertawa melihat ulahku yang seperti orang kesurupan ini. Hansol tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai ia memegangi perutnya dan Seokmin tidak kalah menyebalkannya, ia tertawa sambil memukul-mukulkan gulungan kertas peta ke tubuh Hansol. Aish, kenapa mereka tidak membantuku?

Kukibaskan tangan kananku pada binatang menakutkan itu dan setelah beberapa kali percobaan, akhirnya makhluk terkutuk itupun melarikan diri. Sumpah, binatang sekecil itu mempunyai kaki-kaki yang bisa menempel sangat erat pada bajuku. Walaupun binatang itu sudah pergi dan aku berhenti berteriak-teriak, tapi kedua sahabatku belum juga berhenti tertawa.

"Mingyu-ya, kau masih takut juga dengan kumbang?" pemuda berhidung mancung alias Lee Seokmin mulai mengejekku.

"Yah," kuangkat salah satu alisku dan menunjukkan muka seriusku pada mereka berdua.

"Kim Mingyu, sang kingka sekolah yang takut pada kumbang. Apa yang akan orang katakan kalau mereka melihat ulahmu tadi?" Hansol malah semakin memperburuk keadaan.

"Yah, bisakah kalian berhenti tertawa!" sekarang aku mengancam mereka berdua dengan memukul kepala mereka.

"YAH! BERANINYA KAU MEMUKULKU?" Seokmin melotot padaku begitu juga dengan Hansol.

Tiba-tiba saja

"AAARRRRGGGGGHHH."

Suara itu. Kami mengenalnya. Suara Boo Seungkwan.

Kami bertiga langsung terdiam saat mendengar suara teriakan itu. Hansol langsung saja menunjukkan muka khawatir dan cemas.

Belum cukup dengan kecemasan Hansol, beberapa saat kemudian kembali terdengar teriakan," AAAAAAAAAAAAAARRRRGGGHH."

WONWOO.

Sekarang giliranku yang panik. Kami bertiga saling bertatapan kemudian seolah memberikan tanda menyerang, Seokmin menganggukkan kepalanya. Kami bertiga langsung berlari menuju asal suara.

Aku berteriak sekuat tenaga memanggil Wonwoo sedangkan Hansol memanggil-manggil nama Seungkwan. Kami berlari seperti orang yang sedang mengejar perampok atau bahkan orang kesurupan. Tanpa lelah kami menerobos semak-semak dan kami tidak peduli saat beberapa semak berduri mulai melukai kulit kami.

Yang sekarang kami pedulikan adalah keselamatan Wonwoo, Seungkwan dan Seungcheol hyung. Kulihat Seokmin berbelok ke kanan dan begitu juga dengan Hansol. Aku mengikuti mereka namun sial, akar pohon yang muncul ke permukaan tanah membuatku tersandung dan akupun jatuh terjungkal dan sialnya lagi di depanku ada sebuah parit alam yang agak dalam.

"Mingyu-ya!" Seokmin berhenti berlari dan kembali ke arahku. Dilihatnya aku tengah terduduk dan mengerang kesakitan karena kaki kananku terluka agak parah.

Kurasakan darah mulai mengalir di kaki kananku dan celana jeans yang kukenakan sekarang sudah robek-robek tidak karuan di bagian lutut. Seluruh tubuhku kotor terkena tanah hutan yang agak basah.

Hansol dan Seokmin mengulurkan tangan mereka dan aku menerimanya. Mereka membantuku keluar dari lubang ini.

"Gwaenchana?" Hansol berusaha memastikan bahwa luka di kakiku tidak terlalu parah. Karena aku tahu bahwa ada yang lebih parah sedang terjadi sekarang, maka aku tidak menghabiskan waktuku untuk mengeluh. Kuanggukkan kepalaku dan kuberikan tatapan yakin.

"Gwaenchana. Sebaiknya kita lanjutkan mencari mereka!" usulku. Seokmin dan Hansol pun setuju dengan usulku.

Tidak berapa lama setelah kami berjalan, akhirnya kami menemukan dua tubuh tergeletak tak sadarkan diri di dekat sebuah pohon besar. Kami langsung mengenalinya sebagai Seungkwan dan Seungcheol. Tapi, dimana Wonwoo? Kenapa dia tidak ada di sini?

Seokmin menghampiri Seungcheol hyung dan Hansol mendekati Seungkwan. Mereka berdua berusaha menyadarkan dua orang yang pingsan itu.

"Yah! Hyung, bangunlah!" Seokmin menggoyangkan sedikit kepala Seungcheol dan menggerakkan tangannya serta mengecek denyut nadinya.

"Seungkwanie, bangunlah! Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini semua?" Hansol juga berusaha membangunkan Seungkwan.

"Wonwoo-ya!" kupanggil-panggil namanya dan kulihat sekeliling tempat ini. Mataku tertuju pada sebuah surat tertempel di salah satu pohon. Surat itu terbuat dari potongan tulisan majalah sehingga tidak mudah dikenali.

Kuambil surat itu dan kubaca dengan saksama:

KIM MINGYU SEKARANG KAU MENDAPAT BALASAN DARI APA YANG TELAH KAU LAKUKAN. PEMUDA YANG KUTAWAN INI AKAN MERASAKAN APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADAKU. PEMUDA INI HARUS MENDERITA SAMA SEPERTI APA YANG AKU ALAMI.

"Kurang ajar. Siapa yang berani melakukan ini semua?" aku sangat marah mengetahui bahwa orang-orang kurang ajar ini telah menahan Wonwoo. Apa yang akan mereka lakukan pada Wonwoo? Awas saja kalau mereka berani melukai Wonwoo. Aku tak akan segan-segan membunuh mereka.

Tiba-tiba saja handphone di dalam saku celanaku bergetar.

"KIM MINGYU!"

Suara itu.

"Kau merindukan pemuda dalam tahanan kami?"

"FUCK! SIAPA KAU? DIMANA KAU MENAHAN WONWOO? KATAKAN!" kuremas surat di tanganku hingga kertas itu tidak berbentuk lagi.

"Sabar Mingyu-ya, pemuda ini baik-baik saja."

"BAIK-BAIK SAJA KATAMU? SIAPA SEBENARNYA KAU? KATAKAN SIAPA KAU ATAU KUBUNUH KAU!" saking marahnya aku bahkan melupakan bahwa kaki kananku sedang cedera.

"WOW, KIM MINGYU marah rupanya. Kau ingin aku melepaskan pemuda ini?"

"CEPAT KATAKAN APA MAUMU!"

"Aha, kau menawarkan sesuatu dan aku dengan senang hati mengatakan keinginanku. Kim Mingyu, datanglah ke gedung XXXX secepatnya. Kuharap kau cukup bernyali untuk datang sendiri, dan ingat kalau kau membawa polisi. Maka riwayat pemuda Jeon Wonwoo ini akan tamat!" suara misterius itu kemudian tertawa.

"Kurang ajar kau!"

"Oya, satu lagi. Kalau kau berani membawa Hansol dan Seokmin atau bahkan sekadar memberi tahu mereka, maka aku tidak akan segan-segan melukai pemuda manis yang sekarang ada di tanganku ini. Jangan kira kau bisa mengelabuhiku, karena mata-mata dan anak buahku sangat banyak Mingyu-ya."

"Jangan sekali-sekali kau menyentuhnya! Kalau kau berani menyentuhkan tanganmu ke kulitnya, maka tamat riwayatmu BRENGSEK!"

End of Mingyu POV

.

.

.

Yunho POV

Hari ini, aku kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi Jaejoong. Sudah tiga hari Jaejoong dirawat di rumah sakit karena staminanya drop. Aku sangat khawatir padanya, apalagi setelah aku mengetahui bahwa Jaejoong telah mendonorkan ginjalnya pada Jungah. Aku tidak pernah berpikir bahwa lelaki yang selama ini kucintai melakukan sesuatu yang nekat tanpa mengatakannya padaku terlebih dulu.

Aku masih tidak habis pikir dengan tindakan Jaejoong. Kutatap lampu lalu lintas di pinggir jalan raya. Lampu masih merah saat sebuah mobil, ah tidak lebih tepatnya van berhenti di samping mobilku. Dari kaca mobil yang gelap itu dapat kulihat bahwa setidaknya ada tiga orang di dalamnya. Salah seorang di antaranya sepertinya aku kenal. Tapi, dimana aku mengenalnya?

Pemuda yang kukenal itu kelihatan sedang tidur. Namun, setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata pemuda itu tidak tidur. Bagaimana mungkin orang tidur dengan mulut dibekap dan tangan terikat? Sekarang aku yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan pemuda itu dan dua pemuda yang bersamanya. Jangan-jangan, pemuda itu korban kejahatan. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja.

Lampu berubah menjadi hijau. Dan saat itu juga aku tersadar. Pemuda di dalam van itu adalah anak Mr. Jeon, rekan bisnisku yang baru beberapa saat lalu kukunjungi rumahnya. Ya, dia adalah Jeon Wonwoo, putra temanku. Aku harus menolongnya, bagaimanapun caranya.

End of Yunho POV

TBC

Gomawo buat semua yang udah ninggalin komen dan follow ff ini.

kimxjeon: anggota tim Jooheon bisa dicari di profile-nya Monsta X chingu..

SB bukan slipingbeg: user name nya lucu banget sumpah. Btw gomawo karena udah bikin komennya genep 70.

gxbyfxckasdf: udah dilanjut ni, komen lagi donk yang panjangan dikit

bangtanxo: alasan author bikin Jooheon yg jahat itu gara2 author nge-fans sama Jooheon. So, semua bias harus dapat peran penting, dan jadilah si Jooheon ini antagonisnya, bukannya si Shownu. Mohon pengertiannya ya.. makasih

Ara94: iya ini udah dilanjut... komen lagi ya..

Gstiff: NC? Nanti bakalan ada kok di chap selanjutnya.

meanie shipper: komennya pendek banget ya...

restypw: biasnya pasti Wonho ini. Tenang, dia nggak jahat2 amat di sini. Soonseok tinggal menunggu waktu.

Photograph17, Itsmevv, utsukushii02, : sudah dilanjut

seira minkyu: gomawo udah review panjang2. Ini udah dilanjut. Jelas banget wonwoo itu kelemahannya Mingyu, kan ceritanya mereka lagi kasmaran, otomatis Mingyu mau ngelakuin apapun asal Wonwoo selamat.

Yang lainnya ditunggu reviewnya. Author bakalan update chap 11 kalo minimal 1/3 dari follower udah review.. hahaha pelit bgt ya. Bodo amat. Oya, bocoran dikit, chap depan ada semutnya.

Byeee...