Tittle : "LOVE LOVE LOVE"
Author : Desta Soo~
Main Cast :
-Do Kyungsoo (Girl)
-Kim Jongin / Kim Kai
Support Cast :
-Oh Sehun / Kai's Friend
-Lee Jongkook / Kyungsoo's Friend
-Han Minyoung (OC) / Kyungsoo's Eomma
-Do Minjoon (OC) / Kyungsoo's Appa
-Kim Jonghyuk (OC) / Jongin's Appa
-Yoo Innah (OC) / Jongin's Eomma
-And Other! (Seiring berjalannya cerita maka cast akan bertambah!)
Genre : Fluffly, Romance, Familly, Little Hurt
Length : Chaptered!
Disclaimer : "FF ini murni hasil pemikiran Desta Soo. Jika ada kesamaan dalam alur maupun cerita dengan milik orang lain, mohon beritahu Desta Soo lewat kolom Review!"
Summary : "Do Kyungsoo adalah siswi 'beasiswa' di sekolah XO HIGH SCHOOL yang sangat membenci kata 'Pem-bully-an'. Tapi, 'Pembully' nomor 1 dikelasnya membantu Ia ketika dirinya sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya rumah sakit sang Ibu. Namun sayang dibalik itu semua, ternyata sang pembully memiliki 'alasan' tertentu saat membantunya!"
.
.
THIS IS KAISOO GS FANFICTION... IF YOU DON'T LIKE IT, I HOPE YOU GO AWAY FROM HERE !
.
.
.
WARNING !
DON'T LIKE 'SUMMARY', DON'T READ THE 'STORY' !
.
.
.
.
SORRY FOR TYPO !
.
.
.
.
NO SIDERS !
.
.
.
.
ENJOY !
.
.
.
.
CHAPTER 10
.
.
.
.
*0* === HAPPY READING === *0*
.
.
.
Preview chapter 9
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyungsoo takut karena Kai kini sudah menatapnya dengan pandangan dingin seperti biasanya.
"Apa kau sadar ucapan mu barusan sudah membuat ku cemburu?" tanya Kai masih dengan posisinya yang hampir menghimpit Kyungsoo dijok mobilnya.
"Demi tuhan Kai menyikir dari ku! Kau..." Kyungsoo tidak dapat menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Kai memajukan wajahnya kedepan hingga menyisahkan jarak kurang dari enam senti lagi diantara keduanya. Perlahan Kai memiringkan kepalanya kekiri lalu memejamkan matanya dan mulai lebih mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo. Kyungsoo? Wanita itu tidak tau harus melakukan apa selain menutup matanya rapat-rapat tidak siap untuk menerima 'sesuatu' yang akan terjadi sebentar lagi diantara keduanya.
Kai semakin memajukan wajahnya tanpa ragu dengan kedua matanya yang terpejam erat ketika Ia merasakan hembusan nafas Kyungsoo mengenai wajahnya. Semakin wajah mereka mendekat semakin bergemuruh pula detak jantung keduanya hingga tinggal jarak satu senti lagi bibir keduanya menyatu sesuatu yang tidak diinginkan Kai terjadi...
'GUK GUK GUK'
...Suara anjing mengonggong dari kursi jok belakang membuat dua pasang mata yang tengah terpejam itu terbuka secara bersamaan lalu bertatapan satu sama lain sebelum menolehkan kepala mereka kearah belakang secara bersama dan mendapati seekor anjing berwarna cokelat berbulu lebat tengah duduk setelah berdiri menatap keduanya dengan mata yang berkedip lucu.
"Monggu/Monggu.." ucap Kyungsoo dan Kai bersamaan dengan mata yang membulat sempurna.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 10 !
.
.
Kyungsoo segera mendorong tubuh Kai agar menjauh darinya setelah Ia melihat Monggu, anjing lucu nan penurut itu kini tengah menatap posisi mereka dengan mata yang berkedip lucu sebelum Ia keluar dari dalam mobil Kai dan pindah posisi menjadi duduk di jok belakang mobil sport pemuda tan itu untuk menghampiri Monggu.
"Aigoo Monggu-ya... Aku merindukan mu.." kata Kyungsoo yang langsung membawa anjing lucu berbulu lebat itu kedalam pangkuannya. Ia mengelus bulu-bulu halus Monggu dengan sayang yang disambut dengan gerakan aktif dari Monggu seperti ingin memeluk Kyungsoo. Wanita itu segera membawa Monggu dalam pelukannya masih dengan tangannya yang setia mengelus bulu-bulu hangat anjing itu seperti seorang ibu yang tengah memeluk anaknya dengan sayang.
"Pindah kedepan!" seru Kai bersuara. Kyungsoo menolehkan kepalanya kedepan melihat wajah Kai yang dingin tengah menatap dirinya dan juga Monggu melalui kaca spion dalam mobil, setelah itu Kyungsoo kembali bermain dengan Monggu mengabaikan perintah Kai padanya tadi.
"Bagaimana kabar mu, Monggu-ya? Aku merindukan mu karena sudah seminggu kita tidak bertemu.." ucap Kyungsoo sambil menatap mata anjing itu dengan tatapan rindunya sebelum Ia mencium bagian hidung Monggu lalu kembali tersenyum setelahnya pada anjing itu. Kai mendecih pelan setelah mendengar ucapan Kyungsoo barusan sebelum kembali membuka suaranya untuk berkata pada wanita itu.
"Aku bilang pindah kedepan!" ulangnya lagi, namun kembali diabaikan oleh Kyungsoo. Kai yang merasa diabaikan segera menekan klakson mobil sportnya lama sehingga membuat suara yang sangat bising disana tanpa berniat untuk menghentikan gerakan tangannya itu.
"Yak! Kau gila, eoh?" ucap Kyungsoo menyaringkan suaranya berharap bisa didengar oleh Kai karena pemuda itu masih setia menekan klakson mobilnya. Kai tak menjawab. Pemuda tampan itu masih setia meletakkan tangan kanannya diatas klakson mobil tanpa mengidahkan ucapan Kyungsoo barusan. "...Demi Tuhan Kai, kepala ku pusing mendengar suara klakson mu itu.." kembali Kyungsoo berkata dengan nyaring berharap Kai berhenti menekan klakson mobilnya.
Kai berhenti menekan klakson mobilnya lalu menoleh kebelakang, "Pindah kedepan sekarang atau kau ingin aku menekan klakson mobil ini lebih lama lagi sehingga semua orang yang berada didalam sana datang kesini?" katanya dengan tangan kiri yang sudah siap menekan kembali klakson mobilnya. Kyungsoo mendecih.
"Kau gila... Yak! Kim Kai berhenti ku bilang!" Kyungsoo kembali berteriak saat pemuda didepannya itu kembali menekan klakson mobilnya tanpa henti, membuat beberapa siswa yang berada diparkiran menoleh kearah mobil sport berwarna hitam yang terparkir dibagian tengah parkiran itu. "...Baik-baik! Aku pindah kedepan sekarang!" kata Kyungsoo mengalah. Kai berhenti menekan klakson mobilnya lalu menatap Kyungsoo dari kaca spion dalam mobil dengan wajah dingin, sebelum menggerakkan kepalanya untuk menyuruh Kyungsoo cepat-cepat duduk disamping jok kemudinya.
Kyungsoo melepaskan kedua tangannya dari masing-masing telinga Monggu sebelum menggendong anjing lucu itu untuk keluar dari jok belakang agar berpindah ke jok depan disamping kemudi mobil Kai.
"Ayah mu gila, Monggu-ya.." bisik Kyungsoo pada telinga Monggu saat Ia berada diluar mobil Kai. Ia segera masuk untuk duduk di jok samping Kai dan langsung memakaikan sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Jika sudah melihat Monggu kau langsung melupakan ku." dengus Kai tak suka sebelum Ia melajukan mobil sportnya keluar dari lingkungan sekolah dengan wajah merajuknya untuk mengantar Kyungsoo pulang. Kyungsoo yang berada disamping Kai tidak menanggapi ucapan pemuda itu karena sekarang dia kembali sibuk dengan Monggu 'anaknya'.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Keesokan harinya.
Di ruang kepala sekolah XO High School, Luhan tengah duduk berhadapan dengan sang kepala sekolah ditemani menejernya sebagai wali Luhan untuk mendaftakan diri agar bisa menjadi siswi disekolah ini. Setelah mengisi beberapa kata pada lembar formulirnya, Luhan tersenyum ketika sang kepala sekolah mengatakan bahwa Ia sudah resmi menjadi salah satu siswi di XO High School dan bisa memulai sekolahnya esok hari. Ia menjabat tangan pria berjas itu dengan wajah yang tak pernah luntur senyum. Setelahnya Ia keluar dari rungan kepala sekolah yang berada dilantai tiga ini diikuti sang menejer bersamanya.
"Unnie... Kau bisa menata ulang jadwal pemotretan ku untuk kedepannya, kan? Aku ingin bersekolah besok dan aku harap jadwal pemotretan nanti tidak ada yang mengganggu kegiatan belajar ku. Apa itu bisa?" tanya Luhan pada sang menejer setelah keduanya keluar dari ruang kepala sekolah.
"Tentu Han... Aku akan menjadwal ulang semua jadwal pemotretan mu sehingga kau bisa bersekolah dengan konsentrasi besok." jawab menejer cantik itu, lalu Ia mengelus kepala Luhan dengan sayang.
"Ahh.. Unnie~ Terima kasih... Kau memang menejer sekaligus unnie terbaik yang ku miliki didunia ini." katanya sebelum Ia memeluk tubuh wanita berpakaian modis itu dengan manja.
"Aigoo~ Ingatlah usia mu, Han.. Kau itu sudah remaja yang sebentar lagi akan menjadi dewasa, jadi berhentilah bertingkah manja seperti ini." ucap menejernya.
"Tidak mau! Kau unnie ku, keluarga satu-satunya yang menemani ku di Korea, jadi aku akan bersikap manja terus pada mu sebelum kau menikah dengan pria tiang itu." kata Luhan pada menejernya dengan wajah yang cemberut. "...Rasanya aku tidak rela jika suatu saat nanti kau meninggalkan aku setelah menikah dengan pria itu, unnie.." Luhan menunjukkan wajah sedihnya sekarang.
"Hey cantik, lihat unnie!" seru menejernya. Luhan langsung menatap wajah menejernya. "..Meskipun aku akan menikah nantinya aku juga tidak akan meninggalkan mu sendirian, Han.. Paman dan bibi sudah menitipkan puteri manjanya ini pada ku jadi aku harus menjaga dan merawatnya sebaik mungkin selama Ia berada di Korea.." ucap menejer Luhan sambil mencubit gemas pipi wanita bermata rusa dihadapannya itu.
"Janji tidak akan meninggalkan ku sendirian?" kata Luhan sambil mengulurkan jari kelingkingnya kedepan. Sang menejer segera menanggapi.
"Kau seperti anak kecil saja, Han.." ucapnya.
"Ayo berjanji pada ku.. Meskipun kau menikah dengan pria itu kau akan tetap bersama ku, unnie.." rengek Luhan manja, wanita itu menggelengkan kepalanya setelah melihat aksi manja Luhan padanya sebelum Ia mengulurkan jari kelingkingnya pada Luhan.
"Ya, Aku janji.." jawab menejernya. Luhan tersenyum lalu kembali memeluk tubuh menejernya itu yang sudah Ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Seorang wanita cantik bertubuh semampai berjalan menelusuri lorong dilantai satu sekolah XO High School menuju lantai dua dimana kelas barunya berada. Wanita itu berjalan bak model yang sedang ber-cat walk diatas karpet merah. Mengingat dia adalah seorang model yang tengah naik daun di Eropa sana, tentu saja banyak pasang masa menatap wajah dan juga tubuh indahnya tanpa bisa berkedip khususnya anak murid laki-laki. Ia tersenyum ramah pada beberapa siswa-siswi yang Ia jumpai disepanjang lorong bermaksud untuk menyapa teman sekolahnya itu.
Ketika telah sampai dikelas bertuliskan 2-D pada papan di bagian atas pintu berwarna cokelat itu, wanita cantik tadi memasuki kelas barunya lalu tersenyum ketika Ia melihat seorang pemuda tampan berkulit sama dengannya -putih bak albino- tengah duduk dengan sebuah buku yang terbuka diatas meja dihadapannya.
"Hai.. Sehun!" seru wanita itu, membuat siswa yang Ia panggil menoleh cepat kearahnya dengan pandangan terkejut. Wanita tadi melambaikan tangan kanannya menyapa pria tampan berwajah 'dingin' itu sebelum melangkah maju menuju siswa yang tengah menatapnya dengan pandangan sulit diartikan. Setibanya disamping meja pria berwajah 'dingin' tadi Ia kembali tersenyum manis pada pemuda itu. "Hai..." sapanya lagi masih dengan senyuman diwajah cantiknya.
Pria berkulit putih yang disapa langsung berdiri dari posisi duduknya dengan wajah terkejut. "Luhan... K-kenapa kau bisa berada disini?" tanyanya dengan rasa terkejut yang luar biasa. Ia menatap penampilan wanita dihadapannya itu dari atas kepala hingga ujung kaki dengan bibir tipisnya yang terbuka sedikit seperti ingin berkata lagi.
"Ada apa?" tanya wanita itu dengan mata rusanya yang ikut menelusuri tubuhnya sendiri yang sudah dibalut dengan seragam kebanggaan XO High School dengan rapinya.
"Jangan katakan jika kau..." pria putih tadi menggantung pertanyaannya saat menatap wanita itu dengan pandangan sulit diartikan. Wanita itu hanya mengedipkan matanya polos menunggu ucapan selanjutnya pria yang Ia panggil 'Sehun' tadi. "...K-kau sudah resmi menjadi siswi disekolah ini?" sambung pria putih tadi setelah beberapa detik menggantungkan kalimatnya.
Wanita cantik itu tersenyum manis. "Iya. Aku sudah resmi menjadi siswi di XO High School mulai kemarin. Lihat ini.." wanita cantik tadi menunjukkan name tag miliknya kepada Sehun. "..Luhan. Nama ku. Dan aku akan sekelas dengan mu mulai sekarang, Sehun-ah." jawab wanita itu dengan wajah senangnya. Sehun tak mengatakan apapun lagi selain menatap wajah wanita cantik yang Ia cintai ini yang masih tersenyum manis kepadanya dengan pandangan yang sulit dimengerti.
.
.
.
.
Keadaan kelas 2-A begitu tenang ketika pelajaran Victoria saem berlangsung. Semua murid yang berada dikelas unggulan ini mengerjakan tugas yang diberikan Victoria beberapa menit lalu dengan guru cantik itu sendiri tengah memeriksa kertas jawaban ulangan milik murid kelas 2-B dimejanya.
Beberapa menit diawal semuanya berjalan lancar bagi Kyungsoo. Ia mengerjakan soal latihan yang diberikan Victoria saem dengan buku catatan miliknya sebagai panduan untuk mengerjakan soal-soal matematika itu. Sementara Kyungsoo tengah mengerjakan soal-soal dari Victoria saem dengan serius, Kai yang berada dipojok kelas hanya mencoret-coret buku tulisnya dengan tulisan abstrak disertai wajah bosannya yang sangat ketara dengan tangan kiri yang Ia gunakan untuk menyanggah kepalanya agar tidak jatuh keatas meja didepannya untuk tertidur.
Ketika Kai mengangkat kepalanya dari buku tulis yang Ia coret-coret tidak jelas, kedua Indera penglihatannya menangkap tubuh Kyungsoo yang tengah mengerjakan soal dari Victoria saem dengan membolak-balik buku tulis dihadapannya sebelum kembali menggoreskan tinta hitam pulpen miliknya keatas buku pelajarannya sendiri. Kai tersenyum jahil lalu menuliskan beberapa kata diatas buku tulisnya sebelum merobek kertas itu dan Ia buat gumpalan abstrak dan melemparkannya kearah meja Kyungsoo.
PUKK
Kertas itu jatuh tepat diatas meja Kyungsoo yang membuat wanita cantik itu berhenti menggerakkan tangannya untuk menulis guna mengambil gumpalan kertas dihadapannya. Ia menoleh kebelakang tepatnya kearah kursi milik Kai dan mendapati pemuda itu tengah tersenyum lebar kearahnya. Kyungsoo meletakkan gumpalan kertas yang Ia pegang kearah sudut atas mejanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya untuk menyelesaikan soal-soal dihadapannya.
Kai mengahapus senyum lebar diwajahnya saat melihat Kyungsoo kembali mengerjakan tugasnya dengan mengabaikan gumpalan kertas yang Ia lempar kearah wanita itu tadi. Ia kembali menuliskan sesuatu diatas buku tulis miliknya lalu kembali melemparkan gumpalan kertas itu kearah meja Kyungsoo. Kyungsoo menghela nafasnya saat satu lagi gumpalan ketas mendarat tepat diatas mejanya. Ia kembali menyingkirkan gumpalan kertas yang Ia yakini berasal dari Kai -lagi- diatas sudut samping kanan mejanya. Merasa diabaikan lagi, Kai kembali mengulangi perbuatannya dengan melemparkan gumpalan kertas yang Ia buat sedikit lebih besar dari sebelumnya kearah Kyungsoo.
PUKK
Kyungsoo menggigit bibir bagian bawahanya sebentar sebelum menolehkan kepalanya pada Kai dengan pandangan kesalnya. Ia mengangkat kertas yang baru saja Kai lempar guna ditunjukkan kepada pemuda tan itu sebelum Ia menghadapkan tubuhnya kedepan dan melemparkan kertas ditangan kanannya tepat kearah meja Victoria saem. Kai langsung menundukkan kepalanya saat mendapati Victoria saem mengangkat wajahnya dari kertas ulangan yang tengah Ia koreksi menatap murid-muridnya.
"Siapa yang melempar kertas ini?" tanya Victoria sambil mengangkat gumpalan kertas yang jatuh diatas mejanya dengan mata yang menatap muridnya satu-persatu. Semua siswa yang berada dikelas 2-A -kecuali Kyungsoo dan Kai- saling berpandangan satu sama lain sebelum menggelengkan kepala mereka berbarengan.
"Lihat saja isinya saem, siapa tau kau mengenali tulisan yang ada didalamnya." seru seorang murid. Kai langsung merutuki siswi yang berkata tadi dalam hatinya dengan umpatan kasar. Victoria hendak membuka gumpalan kertas tadi namun terhenti ketika salah seorang muridnya berteriak kesakitan.
"Akh.. Sakit... Saem.."
Semua murid langsung menolehkan pandangan mereka kearah pojok kelas dan mendapati Kai tengah memegangi perutnya sambil mengaduh kesakitan. Victoria segera berdiri dari duduknya lalu mengahmpiri Kai yang tengah kesakitan itu.
"Kai.. Ada apa? Apa yang sakit?" tanya Victoria panik.
"Perut ku saem.. Akh.. Rasanya sakit sekali.." kata pemuda tan itu. Kai menolehkan pandangannya kearah Kyungsoo yang masih setia mengerjakan soal-soal menghitung dihadapannya tanpa menoleh kearahnya sedikitpun. "Awas kau Kyungsoo.." katanya dalam hati sebelum Ia kembali berteriak kesakitan.
"Ayo kita ke ruang kesahatan, Kai.. Aku akan mengobati mu disana.." ajak Victoria. Kai menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, saem.. Aku tau saat ini kau pasti sedang sibuk. Biarkan Kyungsoo saja yang membawa ku ke ruang kesehatan, saem." ucap Kai.
Victoria segera menolehkan kepalanya kearah Kyungsoo lalu memanggil siswi itu. "Kyungsoo.. Tolong antar Kai ke ruang kesahatan sekarang.." ucapnya. Kyungsoo menoleh lalu menggelengkan kepalanya pada Victoria.
"Tidak bisa saem.. Aku sedang mengerjakan soal dari mu sekarang. Suruh Krystal-ssi saja yang mengantarnya ke ruang kesehatan." tolak Kyungsoo sesopan mungkin. Victoria langsung menolehkan pandangannya kearah Krystal menyuruh muridnya itu untuk mengantar Kai ke ruang kesehatan segera.
"Tidak mau!" seru Kai menolak. Victoria kembali menolehkan kepalanya kearah Kai dengan dahi yang mengkerut. Mendapati wajah gurunya seperti itu Kai kembali membuat wajahnya sesakit mungkin seraya berujar, "Tidak saem.. Biarkan Kyungsoo saja yang mengantar ku ke ruang kesehatan. Dia bisa mengobati ku disana. Krystal tidak tau apa-apa tentang obat-obatan." ujar Kai masih dengan kedua tangan yang memegangi perutnya.
Victoria kembali menoleh pada Kyungsoo. "Ayolah Kyungsoo.. Bawa Kai ke ruang kesehatan sekarang.." Kyungsoo melempar pulpen ditangannya sembarangan sebelum berdiri dari duduknya untuk mengahampiri pria tan yang tengah 'berakting' itu.
"Berdirilah!" katanya acuh.
"Bantu aku.. Aku tidak bisa berdiri dengan benar jika perut ku sakit seperti ini.. Akh.." ucap Kai dengan menunjukkan wajah kesakitannya yang sumpah demi apapun Kyungsoo ingin sekali memukul kepala pria tan itu dengan sangat keras hingga pria itu amnesia dan melupakan semua sifat nakalnya ketika Ia melihat wajah 'ber-akting' ala Kai saat ini. Dengan malas Kyungsoo membungkukkan sedikit badannya lalu menyampirkan lengan kanan Kai pada pundaknya untuk membantu pria tan itu berdiri.
"Seperti ini kan lebih baik.." bisik Kai pada Kyungsoo saat mereka sudah beberapa langkah maju kedepan kelas. Kyungsoo segera mencubit halus pergelangan tangan kanan Kai yang Ia pegang yang membuat pria tan itu berteriak kesakitan setelahnya.
"Kai.. Ada apa?" kembali Victoria saem berkata dengan nada cemasnya. Kyungsoo menolehkan kepalanya kebelakang untuk tersenyum pada guru cantik itu.
"Dia tidak apa-apa saem, hehe..." ucap Kyungsoo dengan cengiran polosnya dan kembali membopoh Kai untuk keluar dari kelas.
.
.
.
.
"Selamat istirahat.." kata Kyungsoo semanis mungkin kepada Kai setelah Ia membantu pria tan yang sedang 'kesakitan' itu duduk diranjang putih ruang kesehatan. Ia membalikkan badannya untuk keluar namun terhenti saat ada tangan lain yang menarik tangan kanannya mencegah Ia keluar dari ruangan ini.
"Kau mau kemana?" tanya Kai, si pelaku yang menarik tangan kanan Kyungsoo.
"Kau bilang ingin ku antar sampai ruang kesehatan, bukan? Aku sudah mengantar mu, dan sekarang aku harus kembali ke kelas karena tugas-tugas ku belum selesai." jawab Kyungsoo sambil melepaskan pegangan Kai pada tangannya dan kembali melangkah untuk keluar.
"Kau tidak boleh keluar!" kata Kai yang sekarang sudah berdiri 'sehat' didepan Kyungsoo dengan kedua tangan yang Ia rentangkan lebar.
Kyungsoo mendecih pelan. "Cih! Ternyata benar.. Kau hanya berpura-pura 'kan tadi? Akting mu buru sekali Kai." ejek Kyungsoo.
"Terserah!" sahut Kai cepat. "..Yang jelas kau tidak boleh keluar dari ruangan ini." Kai segera berjalan menghampiri pintu ruang kesehatan untuk mengunci pintu itu dari dalam dan mengantongi kuncinya disaku celana seragamnya dengan gerakan cepat.
"Yak! Apa yang kau lakukan?" teriak Kyungsoo pada Kai saat pemuda itu dengan kalemnya berjalan menghampirinya dengan tangan kanan yang dimasukkan kedalam saku celana tempat dimana Ia mengantongi kunci ruangan ini.
"Apa lagi yang biasanya dilakukan seorang pria dan seorang wanita jika sudah berada disatu ruangan yang sama, selain..." Kai tersenyum penuh arti sambil melangkah maju membuat Kyungsoo otomatis melangkah mundur jadinya.
"K-kau mau apa?" tanya Kyungsoo takut. "Menjauh dari ku, Kai... Jangan dekati aku.." Kyungsoo mundur kebelakang dan menoleh saat mendapati bahwa tidak ada ruang lagi untuk Ia mundur. Wanita cantik itu mengambil langkah kekanan untuk menjauh dari Kai. Kai mengikuti langkah Kyungsoo.
"Ah... Seharusnya aku menyuruh kepala sekolah untuk mengecilkan ruang kesehatan ini. Ini menyusahkan ku sendiri." keluh Kai dan segera melangkah panjang untuk menghampiri Kyungsoo. Wanita itu segera menghindar dengan gesitnya mengingat ruang kesehatan ini cukup luas sama seperti kelas mereka.
"Menjauh dari ku, Kai! Menjauhlah!" teriak Kyungsoo masih dengan menghindari pemuda itu.
"Aku sudah repot-repot berakting untuk mendapatkan situasi seperti ini jadi aku tidak akan menjauh dari mu. Lebih baik kau mendekat dan aku akan mengampuni mu." kata Kai yang sekarang sudah berhenti melangkah dengan jarak sekitar tiga meter dari posisi Kyungsoo berdiri.
"Dalam mimpi mu saja Kim Kai!" Kyungsoo menjulurkan lidahnya kearah pemuda tan itu. Kai terkekeh sebentar lalu Ia membuka blazernya dan melemparnya asal. Ia juga menggulung tangan kemeja putihnya dan mengendurkan dasi yang melingkar rapi dikerah kemeja putihnya dengan santai sebelum kembali menatap Kyungsoo yang terlihat ketakutan didepannya kini.
"Kau takut?" kata Kai yang kembali melangkah maju menghampiri Kyungsoo. Wanita itu segera menghindar membuat keduanya saling mengejar dan menghindar satu sama lain.
Satu kesalahan Kyungsoo ketika Ia lupa dan berlari menghampiri pintu coklat untuk keluar dari ruangan ini namun pintu itu tidak bisa dibuka yang mana membuat Kai berhasil menangkap lengan kanannya dan memojokkan Kyungsoo kedinding tak jauh dari ranjang yang sempat Kai duduki tadi. Kai meletakkan kedua telapak tangannya disamping kepala Kyungsoo mengurung pergerakan wanita itu nantinya. Sedangkan Kyungsoo menatap pria dihadapannya ini dengan nafas yang terengah.
"Masih ingin menghindar lagi?" tanya Kai tapi tidak dijawab Kyungsoo. Kyungsoo menelan ludahnya kasar saat wajah tampan dengan rahang tegas milik Kai kembali berada tepat dihadapannya seperti ini. Kai tersenyum saat mendapati arah mata Kyungsoo yang memandang bibirnya disaat posisi mereka yang hampir menempel satu sama lain seperti ini. "Kenapa? Apa kau ingin merasakannya?" tanya Kai blak-blakan.
Kyungsoo membulatkan matanya sambil memandang wajah Kai dihadapannya. "N..ne?" ucapnya spontan. Kai terkekeh lalu langsung menundukkan kepalanya untuk membuat wajahnya dan wajah Kyungsoo berhadapan satu sama lain dengan jarak mata sekitar lima senti diantara mereka.
"Kau gugup?" tanya Kai lagi, dengan pandangan matanya yang tak terputuskan dari kedua mata bulat Kyungsoo.
"A-aniyo" jawab Kyungsoo berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Menjauh Kai... Menjauh dari ku.." katanya dalam hati.
"Kenapa kau tidak menyukai ku, Do Kyungsoo-ssi?" tanya Kai untuk kesekian kalinya pada wanita bermata bulat yang Ia kukung itu. Dan kembali pula Kyungsoo menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tatapan mata Kai yang tajam menatap lurus ke matanya tanpa selingan.
"A-a-aku..."
"Diam dan nikmati ini!" ucap Kai memerintah. Perlahan pemuda itu memajukan wajahnya lebih mendekat pada wajah Kyungsoo lalu mengecup dengan penuh kasih kening lebar Kyungsoo yang tak tertutupi poni hitamnya, lalu turun ke kedua kelopak mata bulatnya saat wanita itu memejamkan matanya dan memberi ciuman lembut pada pipi sebelah kanan Kyungsoo dengan sayang begitu pula dengan bagian sebelah kirinya. Kyungsoo menutup rapat-rapat kedua bola matanya saat merasakan bibir Kai -untuk kesekian kalinya- meninggalkan jejaknya diwajah 'polos' Kyungsoo yang belum pernah dicium siapapun kecuali ayah dan ibunya.
"Tidak! Tidak! Tidak! Kau harus menolak Kyungsoo! Kau harus menolak ciuman ini! Yah.. Kau harus menolaknya Do Kyungsoo!" Kyungsoo menggelengkan kepalanya lalu berteriak dengan kencang.
"TIDAK..."
Semua murid yang sedang mengerjakan tugas dimeja mereka masing-masing menoleh kearah bangku Kyungsoo saat mendengar wanita itu berteriak dengan kencangnya.
"Hey! Kau kenapa?" tanya siswa ber-name tag Lee Jinki itu dengan wajah herannya saat melihat Kyungsoo yang sebelumnya meletakkan kepalanya diatas meja dengan mata yang terpejam tiba-tiba saja berteriak dengan aneh seperti itu.
Kyungsoo melirik teman disebelah kanan dan kirinya dari sudut ekor matanya sebelum memejamkan matanya dengan perasaan yang malu luar biasa sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Maafkan aku.. Silahkan lanjutkan belajar kalian.." Kyungsoo membungkukkan kepalanya beberapa kali pada teman sekelasnya sebelum memukul kepalanya sendiri dengan genggaman dari tangan sebelah kanannya, sambil merutuki dirinya dalam hati mengapa Ia bisa bermimpi aneh seperti tadi.
.
.
Kai mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celananya saat benda berwarna hitam persegi itu begetar pelan sesaat setelah Ia selesai memasukkan peralatan tulisnya kedalam tas. Ia mengecek pesan masuk yang ada diponselnya sebelum menyimpan kembali benda persegi itu kedalam saku celana sebelah kanannya dan berjalan keluar kelas untuk menghampiri Sehun diruangan tempat santai mereka.
.
.
"Sehun... Ada ap-" Kai tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendapati seorang wanita cantik berambut coklat tanah tengah tersenyum manis kearahnya dari sofa marun single yang menjadi tempat duduk favoritnya itu. "-Luhan?" katanya menyebut nama wanita cantik yang tengah duduk dengan manis itu.
Wanita yang dimaksud kembali tersenyum kearahnya. "Hai, Kai.." sapanya sambil berdiri dari duduknya. "..Apa kau sama terkejutnya dengan Sehun saat melihat aku menggunakan seragam ini?" tanyannya dengan tangan yang bergerak anggun menunjukkan seragam yang membungkus rapi tubuh indahnya.
Kai mematung ditempatnya. Ia tidak bergerak sama sekali dari posisi berdirinya ketika Luhan datang menghampirinya dan langsung memeluk tubunya dengan hangat.
"Aku merindukan mu... Aku tau kita baru beberapa hari tidak bertemu tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapan itu... Aku merindukan mu, Kai..." kata Luhan sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh pemuda itu.
Dibalik celah pintu yang sebelumnya Kai buka untuk masuk keruangan ini, terlihat sepasang mata milik Oh Sehun tengah menatap wanita yang Ia cintai itu tengah memeluk tubuh sang sahabat dengan erat seperti tidak ingin membiarkan sahabatnya meninggalkan wanita itu lagi.
"Han..." ucapnya lirih nyaris tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiripun ketika melihat sang sahabat dengan gerakan pelan meletakkan kedua tangannya pada punggung sempit Luhan, membalas pelukan wanita itu.
"Sedang apa kau disitu?" tanya sebuah suara dari sebelah kirinya. Sehun segera menoleh dan mendapati Kyungsoo tengah berjalan kearahnya dengan kedua tangan wanita itu saling menepuk seperti membersihkan debu disana.
Sehun berdehem sebentar sebelum menjawab, "Tidak ada." seraya tangannya menarik pintu yang Ia buka sedikit tadi untuk tertutup.
Kyungsoo yang penasaran kembali bertanya pada pemuda albino dihadapannya ini. "Ada apa diruangan kalian? Apa ada sesuatu? Aku ingin melihatnya." kata Kyungsoo cepat dan berniat meraih gagang pintu sebelum dicegah Sehun dengan tangannya.
"Kau tidak boleh masuk. Kai sedang berganti pakaian didalam sana." kata Sehun berbohong. Kyungsoo yang mendengar itu langsung merona samar dibagian kedua pipi berisinya membuat Sehun jadi tersenyum tipis ketika menangkap warna merah muda samar dibagian pipi wanita bermata bulat dihadapannya ini. Sehun berdehem sebentar untuk menghilangkan senyumnya sebelum kembali berkata pada Kyungsoo.
"Kau sudah makan?" tanyanya.
"N-ne?" Kyungsoo balik bertanya dengan kedua bola matanya yang membulat setelah mendengar pertanyaan Sehun barusan.
"Aku tanya apa kau sudah makan sekarang?" ulang Sehun.
"Oh.. Aku... A-ku... Belum.." jawab Kyungsoo pelan. Sehun segera meraih pergelangan tangan kiri Kyungsoo mengajak wanita itu menjauhi ruangan ini. "Hey! Kita mau kemana?" tanya Kyungsoo mengikuti pria tinggi yang menarik tangan kirinya ini menuju kesuatu tempat.
"Kita kekantin. Temani aku makan disana, karena aku juga belum makan." jawab Sehun sambil tersenyum tipis pada Kyungsoo sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju kantin sekolah dilantai dua dengan Kyungsoo yang ikut bersamanya.
.
.
.
.
Kyungsoo sedang berdiri dipintu masuk bangunan EXO High School menunggu seseorang ketika jam pelajaran berakhir beberapa menit yang lalu untuk mengantarnya pulang. Ia mengetuk-ngetukkan sepatu bagian depan kanan dan kirinya pada lantai putih dibawahnya dengan mengembungkan kedua pipi bulatnya karena bosan menunggui seseorang 'itu'.
"Apa dia masih lama? Aku harus pulang sekarang.." kata Kyungsoo dengan rengekan lelahnya. Ia kembali menolehkan kepalanya kekiri menunggu seseorang yang sedari tadi Ia tunggui untuk keluar dari balik dinding putih itu. Kyungsoo menghela nafasnya kasar saat lagi-lagi yang keluar dari balik dinding itu bukanlah orang yang Ia tunggui melainkan siswa lain yang entah Kyungsoo tak tau mereka berada dikelas berapa. Kembali Kyungsoo menunggu orang 'itu' hingga lema belas menit kemudian.
"Apa dia sudah pulang? Jika dia sudah pulang kenapa pagi tadi dia menyuruh ku menunggu disini? Apa dia mempermainkan ku lagi?" tanya Kyungsoo beruntun entah pada siapa saat lagi-lagi tak mendapati orang yang Ia tunggui datang menghampirinya.
"Baiklah, aku akan menghitung sampai tiga. Jika kau tidak datang juga maka aku akan pulang sendirian tuan Kim!" katanya antara marah, kesal, dan juga lelah lalu mulai menghitung. "Satu... Dua... D-dua setengah... Du-dua seperempat... Du... Aish! Pasti dia sudah pulang sedari tadi. Ish! Aku membenci mu Kim Kai!" kata Kyungsoo sambil menghentakkan kakinya kesal. Ia mulai melangkah berjalan menuju gerbang sekolah menuju halte bus yang tak jauh dari gerbang masuk XO High School untuk pulang ke rumahnya. Sesekali Kyungsoo menolehkan kepalanya kebelakang berharap seseorang yang sedari tadi Ia tunggui tengah berlari untuk menghampirinya, tapi nihil. Orang yang sedari tadi Ia tinggui tidak juga menampakkan batang hidungnya pada Kyungsoo.
"Aku membenci mu Kim Kai! Aku bersumpah aku sangat sangat membenci mu sekarang!" teriaknya frustasi disertai kedua kakinya yang menghentak kasar pada jalan beraspal yang Ia pijak. Ia kembali melangkah keluar dari gerbang sekolah XO High School.
Sreettt
"Maaf membuat mu menunggu lama." kata seorang pria dengan nafas terengahnya sambil menarik tangan kanan Kyungsoo membuat wanita bermata bulat itu berhenti berjalan.
Kyungsoo menoleh lalu menatap marah pada pemuda dihadapannya ini saat tau bahwa pria yang berada dihadapanya ini adalah pria yang sedari tadi Ia tunggui hampir tiga puluh menit lamanya dipintu masuk bangunan sekolah mereka.
"Lepas! Aku ingin pulang sekarang." kata Kyungsoo sambil menghentakkan tangan pemuda itu lalu berjalan setelahnya.
"Maafkan aku.. Aku mempunyai sedikit urusan tadi karena itulah aku terlambat menemui mu." kata pria itu dengan langkah kakinya menyamai langkah kaki Kyungsoo.
"Terserah! Aku tidak peduli lagi!" sahut Kyungsoo datar.
"Kau marah?" tanya si pria. Tapi tidak dijawab oleh Kyungsoo. Wanita itu terus melangkah seakan-akan pria yang berada disebelah kanannya itu tidak ada. "Jangan marah Kyungsoo.. Aku sunggu minta maaf.." kata pria itu lagi. Kyungsoo berhenti melangkah lalu mendelik tajam pada pemuda tan dihadapannya ini.
"Jika kau mempunyai urusan yang penting, setidaknya jangan menyuruh ku untuk menunggui mu disana. Aku benci menunggu Kim Kai!" kata Kyungsoo dengan menunjukkan wajah marahnya.
"Iya, aku tau.. Maafkan aku." kata pria yang dipanggil 'Kai' tadi. Kyungsoo kembali melangkah menuju halte bus tidak berniat menjawab ucapan pemuda tan itu lagi.
"Kau seperti sedang merajuk pada 'pacar mu' jika kau bersikap seperti ini, Kyungsoo-ya." kata Kai, membuat Kyungsoo yang melangkah terlebih dahulu menghentikan langkahnya tiba-tiba. Kai maju menghampiri Kyungsoo lalu berbisik pada telinga kanan wanita itu dengan pelan, "Maafkan aku..." ucapnya dengan tangan kanannya yang memegang setangkai bunga mawar merah yang diulurkannya kedepan untuk ditunjukkan kepada Kyungsoo.
"Cih! Dasar tidak modal!" ucap Kyungsoo lalu mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil bunga mawar merah itu. "..Tidak menanam bibitnya tapi malah memetik bunganya." Kyungsoo tau, jika bunga yang diberikan Kai kepadanya saat ini adalah bunga dari halaman depan sekolah mereka yang sedang merekah dengan indahnya karena saat Ia berjalan tadi Ia melihat bunga yang mirip seperti ini tak jauh dari gerbang sekolah mereka.
"Tapi kau menyukainya, kan?" kata Kai sambil tersenyum menggoda.
"Tidak! Aku tidak menyukainya." ucap Kyungsoo lalu membuang bunga mawar yang Ia pegang kesamping kanan jalanan yang Ia pijak.
"Yak!" Kai berteriak marah lalu mengambil bunga mawar itu dari jalan dan meniup-niup bagian kelopaknya untuk membersihkan pasir maupun debu yang menempel dibunga itu. "..Hey, aku minta maaf Kyungsoo.. Apa susahnya memberi ku maaf, eoh?"
Kyungsoo menoleh lalu menatap tajam pemuda tan itu. "Jika kau berkata seperti itu, maka aku akan berkata seperti ini. 'Apa susahnya bagi mu untuk menepati janji, eoh? Kau yang menyuruh ku menunggu didepan pintu masuk sekolah tapi kau juga yang mengingkarinya dan membuat ku merasa kesal seperti ini.'" kata Kyungsoo sengit membuat Kai terdiam jadinya.
Kyungsoo berdiri dari duduknya saat melihat bus berwarna hijau berhenti didepan halte tempat Ia duduk lalu melangkah memasuki bus hijau itu meninggalkan Kai yang masih berdiri mematung disamping tiang penyangga halte bus.
"Anak muda, kau tidak ingin masuk?" tanya supir bus itu kepada Kai membuat pemuda tan yang sedari tadi terdiam menoleh kepadanya lalu kepada Kyungsoo yang sudah duduk dikursi barisan nomor tiga dari belakang.
"Tidak paman. Bus ini tidak searah dengan rumah ku." ucap Kai pada supir bus lalu kembali memandang Kyungsoo yang juga tengah memandang dirinya dari dalam bus.
Pintu masuk bus tertutup dengan sendirinya dan supir laki-laki tadi mulai melajukan bus panjang ini meninggalkan halte dengan Kyungsoo yang berada didalam bus sedangkan Kai masih berdiri dihalte itu sendirian.
"Aku masuk ke sekolah ini itu semua karena mu, Kai.. Aku ingin memperbaiki hubungan kita lagi seperti sebelumnya dan kita memulai semuanya dari awal lagi."
Kai teringat ucapan Luhan beberapa puluh menit yang lalu saat mereka bertemu diparkiran sekolah ketika Kai mengantar wanita bermata rusa itu menuju mobilnya.
"Siapa yang harus aku pilih? Kyungsoo, gadis yang telah berhasil mencuri hati ku dengan segala tingkah acuhnya terhadap ku atau Luhan, mantan kekasih ku yang sempat mengisi kekosongan ini beberapa tahun sebelum kami berpisah?" batin Kai nelangsa. Ia menjadi bimbang dengan hatinya sendiri saat ini.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Dua minggu berlalu begitu cepat.
Kai sekarang tidak malu-malu lagi menunjukkan rasa sukanya terhadap Kyungsoo disetiap kesempatan yang Ia miliki. Entah itu membantu Kyungsoo membawa beberapa buku tebal ke perpustakaan setelah diperintahkan guru yang mengajar dikelas mereka, atau membantu wanita bermata bulat itu ketika Ia tengah piket kelas -padahal ketika jadwal Kai yang sedang piket kelas Ia sama sekali tidak membersihkan kelas sedikitpun-. Atau bahkan ketika Kyungsoo sedang mengambil nilai saat pelajaran olahraga maka Kai akan dengan senang hati memberitau apa saja yang harus dilakukan Kyungsoo sebagai pemanasan karena Ia tau Kyungsoo sangat lemah dalam bidang olahraga.
Satu hal yang tidak diketahui Kai selama tiga hari terakhir ini adalah Kyungsoo yang selalu melirik kearahnya ketika Ia tidak sedang memerhatikan Kyungsoo. Wanita itu sering -atau bahkan setiap saat- menolehkan kepalanya kebelakang dimana tempat duduk Kai berada. Kyungsoo juga bahkan berpura-pura menjatuhkan pulpennya kelantai sebelah kirinya hanya untuk melirik Kai melalui ekor matanya ketika Ia hendak mengambil pulpennya yang jatuh. Ia hanya ingin tau sedang apa Kai saat itu karena dia sangat ingin melihat wajah pemuda berkulit tan itu setiap saatnya.
Seperti saat ini, Ia -Kyungsoo- menggeser perlahan pulpen berwarna hitamnya dengan tangan kanannya agar terjatuh kesamping kiri lantainya sehingga Ia membungkuk untuk mengambil pulpen itu dengan mata yang sudah siap melirik Kai yang berada diojok kelas.
PUKK
Pulpen itu jatuh kelantai dan Kyungsoo dengan segera mengambil pulpennya dengan mata yang sudah siap melirik kearah meja Kai. Namun sial, ketika Ia berhasil mendapatkan pulpennya dengan tangan kiri dan matanya melirik kearah meja Kai, saat itu juga kedua bola mata bulatnya bertemu dengan iris mata elang milik Kai yang tengah memperhatikan gerak-gerik Kyungsoo sedari tadi dari posisi duduknya.
"Mati aku!" rutuk Kyungsoo dalam hati lalu segera memperbaikki posisi duduknya untuk kembali menyimak penjelasan guru yang tengah mengajar dikelas mereka saat ini.
.
.
.
Kyungsoo mengemasi peralatan belajarnya dengan cepat untuk dimasukkan kedalam tas sekolah berwarna hitam-putihnya berusaha mengabaikan seseorang dari balik punggunya saat ini yang Ia yakini tengah menatapnya dengan pandangan penuh. Setelah selesai mengemasi peralatan sekolahnya, Ia segera memakai tas sekolahya dibelakang punggung dan hendak segera keluar dari ruang kelas ini jika saja tidak ada tangan besar yang memegang lengan kirinya mencegah pergerakan Kyungsoo untuk melangkah keluar kelas.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat terburu-buru hari ini?" tanya Kai, dengan tangan kanannya memegang lengan kiri Kyungsoo.
"O-oh.. Itu.. A-aku harus segara pulang sekarang. I-ibu pasti sudah menunggu ku. Aku duluan." jawab Kyungsoo dengan rasa gugup yang luar biasa dan malu secara bersamaan karena sudah ketahuan melirik pemuda tan ini pagi tadi. Ia menggerakkan lengannya berusaha membuat gerakan yang lembut agar pegangan Kai terlepas dari lengannya.
"Aku antar, ya? Ayo!" kata Kai lalu dengan segera menggenggam tangan kiri Kyungsoo untuk mengajak wanita bermata bulat ini keluar dari kelas menuju mobilnya yang terparkir diparkiran sekolah mereka dilantai bawah. Kyungsoo merasakan wajahnya memanas dengan rona kemerahan dibagian kedua pipinya saat merasakan tangan hangat Kai menggenggam tangannya dengan erat namun lembut seperti ini. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya takut jika Kai melihat wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus saat ini.
.
.
.
Kai memarkirkan mobil sport hitamnya disamping pagar rumah Kyungsoo yang berada dipinggir jalan lalu melepas sabuk pengaman yang melekat ditubuhnya dan keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu mobilnya untuk Kyungsoo.
"Terima kasih karena sudah mengantar ku pulang lagi hari ini, Kai." ucap Kyungsoo dengan kepala yang menunduk takut jika kedua iris mata elang Kai masih dapat melihat rona merah diwajahnya meski sudah terlihat samar. Kai mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap puncak kepala Kyungsoo dengan lembut.
"Sama-sama.." jawab Kai. "..Masuklah, sampaikan salam ku pada bibi Minyoung, oke?!" Kyungsoo menganggukan kepalanya lalu membalik tubuhnya untuk masuk kedalam rumah.
"Kyungsoo.." panggil Kai lagi.
"Ya?" jawab wanita itu seraya menoleh cepat kearah Kai.
"Saranghae..." ucap Kai disertai senyuman yang bahkan kali ini terlihat lebih manis dari biasanya untuk Kyungsoo. "..Kau sudah sering mendengar aku mengatakan itu, bukan? Dan sekarang aku menginginkan jawaban mu. Temui aku di Ice Skatting Rink hari sabtu malam, dan aku harap kau memberikan jawaban terbaik yang sangat aku nantikan sedari lama, Kyungsoo-ya" Pemuda itu kembali tersenyum pada Kyungsoo yang hanya mematung ditempatnya.
"Pulanglah.. Hati-hati berkendaranya." ucap Kyungsoo memberikan Kai sebuah senyuman diwajah cantiknya sebelum Ia membuka pagar rumahnya dan masuk kedalam. Kai tersenyum kembali dan melangkah masuk kedalam mobilnya untuk Ia kemudikan agar bisa pulang kerumahnya.
.
.
.
Luhan terus menghubungi nomor ponsel Kai ketika Ia membutuhkan pemuda tan itu dihari sabtu setelah mereka pulang sekolah seperti ini namun tidak kunjung mendapat panggilan dari pemuda tan yang entah Luhan tak tau Ia berada dimana saat ini. Ia menghubungi nomor ponsel Kai untuk yang ke tujuh belas kalinya dan berakhir dengan suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang sedari tadi Ia hubungi tengah sibuk. Luhan mengetikkan beberapa kata pada ponsel pintarnya dan segera Ia kirimkan kepada seseorang yang sangat Ia butuhkan sekarang.
.
.
.
Kyungsoo melihat kembali penampilannya yang telah siap dengan dress berwarna soft blue yang melekat dengan sangat pas ditubuh rampingnya dengan riasan wajah yang tipis membuat Ia semakin terlihat cantik dan anggun secara besamaan pada kaca besar yang berada dikamarnya. Ia keluar dari kamarnya menuju kamar sang ibu untuk berpamitan sebelum Ia pergi keluar untuk menemui Kai ditempat dimana mereka berjanji untuk bertemu malam ini. Setelah mendapat izin dari sang ibu, Kyungsoo segera keluar rumah menuju halte bus terdekat untuk menaikki bus agar Ia bisa sampai pada tempat dimana Ia dan Kai memiliki janji tiga hari yang lalu yakni Ice Skatting Rink.
Wajah cantiknya tidak pernah luntur senyuman ketika Ia sudah berada didalam bus dan duduk dikursi samping jendela pada barisan nomor empat dari belakang dengan pandangan mata yang menatap kesamping kanannya melihat trotoar pinggir jalan yang dipenuhi banyak orang disana. Kyungsoo tersenyum saat mengingat kembali semua perlakuan Kai padanya yang sangat manis akhir-akhir ini yang dengan sangat ampuhnya membuat wajahnya memanas dengan rona kemerahan terdapat pada kedua pipi berisinya. Ia sudah bertekad untuk memberikan jawaban pada pemuda itu bahwa Ia juga sudah mencintai Kai sekarang.
.
.
.
Kai memutar laju kendaraannya sembarangan ketika dipersimpangan empat lampu merah yang sudah dekat dengan tempat tujuaannya saat mendapati panggilan masuk di ponselnya dari menejer Luhan yang mengatakan bahwa wanita bermata rusa itu tengah berada dirumah sakit sekarang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dan juga mengklakson sesuka hatinya ketika ada mobil atau kendaraan lainnya yang menghalanginya untuk cepat sampai kerumah sakit dimana Luhan berada. Katakanlah Ia tidak waras tapi seperti itulah keadaan Kai saat ini. Ia menginjak pedal gas mobilnya dengan penuh saat kembali mengingat percakapannya dengan menejer Luhan beberapa menit lalu yang membuatnya segera memutar laju kendaraannya kearah rumah sakit melupakan seseorang yang sudah menunggunya di Ice Skatting Rin sedari tadi.
.
.
.
"Dimana Luhan sekarang, noona?" tanya Kai langsung ketika Ia baru saja tiba dirumah sakit pada seorang wanita yang tengah duduk dikursi tunggu didepan ruangan bertulliskan angka 607.
"Luhan ada didalam.. Dokter baru saja memeriksanya tadi dan Ia mengatakan bahwa kondisi Luhan saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya." jawab wanita yang Kai tanyai tadi.
Pemuda berahang tegas itu segera membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan 607 itu dan mendapati seseorang tengah terbaring diatas ranjang rumah sakit ini dengan mata yang terpejam rapat. Ia segera menghampiri wanita itu lalu mendudukkan dirinya dikursi yang tersedia disamping ranjang rumah sakit.
"Han... Apa kau bisa mendengar ku?" tanya Kai pada wanita yang tengah terpejam itu. Ia meraih tangan Luhan yang tidak terdapat jarum infus untuk Ia genggam pada kedua tangannya dengan mata yang masih setia menatap wajah cantik Luhan. "Bangunlah Han.. Aku sudah datang." katanya pelan dengan ibu jarinya yang Ia gerakkan pada permukaan tangan Luhan yang tengah Ia genggam saat ini.
.
.
.
Kyungsoo berulangkali menggosokkan kedua tangannya sendiri untuk memberi sedikit rasa hangat disana sebelum Ia tempelkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi bulatnya dengan mata yang menoleh kesana-kemari untuk menemukan orang yang sedari tadi Ia tunggui. Ia sudah sampai di Ice Skatting Rink ini lebih cepat dari waktu yang ditentukan Kai kemarin dengan menggunakan dress selutut berwarna soft blue yang bertangan hanya lima jari dari pundak sempitnya yang membungkus tubuh mungil nan sintalnya dengan pas. Jika dihitung hingga saat ini Kyungsoo sudah lebih dari tiga puluh menit berada ditempat dingin seperti ini dengan pakaian yang tipis yang tak mampu menghangatkan tubuhnya yang sedang menunggu kedatangan Kai.
"Aku tau kau pasti datang, Kai... Aku akan tetap menunggu mu disini." ucap Kyungsoo pelan dengan kembali menggosokkan kedua telapak tangannya lalu Ia letakkan dikedua pipi dan juga bagian lehernya yang terasa dingin.
.
.
.
Kedua bola mata milik Luhan bergerak-gerak dari balik kelopaknya sebelum perlahan terbuka untuk membiasakan cahaya yang masuk kedalam retinanya beberapa saat sebelum menoleh kearah kanan dimana sudah terdapat seorang pria tampan berahang tegas tengah tersenyum kepadanya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Kai pelan sambil tangan kirinya mengusap halus permukaan pipi sebelah kiri Luhan yang membuat wanita itu memejamkan matanya secara refleks saat merasakan tangan hangat itu berada dipipinya. "Apa kepala mu masih terasa pusing?" sambung Kai.
Luhan menggelengkkan kepalanya pelan.
"Aku sudah merasa baikkan sekarang dan ya, kepala ku masih terasa sedikit pusing saat ini." jawabnya. Kai mengangguk lalu tersenyum pada wanita itu.
"Tidurlah lagi.. Kau harus banyak beristirahat saat ini, Han.." Luhan menurut lalu mulai mencoba memejamkan matanya kembali. Kai menarik kedua tanganya untuk membenarkan letak selimut Luhan agar wanita itu tetap merasa hangat.
"Genggam tangan ku lagi, Kai... Aku merasa kedinginan jika kau melepaskan genggaman hangat tadi." Kai hendak menggenggam tangan Luhan lagi namun terhenti saat Ia mengingat seseorang yang mungkin saja masih menunggunya disana dengan keadaan yang jauh lebih kedinginan dari ini.
"Kyungsoo..." kata Kai dalam hati dengan raut wajah cemasnya ketika Ia melupakan janjinya dengan wanita cantik bermata bulat itu. Tanpa sepengetahuan Luhan yang sudah memejamkan matanya kembali, Kai mengetikkan beberapa kata kepada sahabat karibnya yang berada diujng sana untuk segera membantunya.
.
.
.
Kyungsoo menolehkan kepalanya kebelakang saat merasakan sebuah jas hitam terlampir dikedua bahu sempitnya dan mendapati Sehun tengah tersenyum tipis kearahnya.
"Pakailah... Dan jangan menolak!" seru Sehun terlebih dahulu ketika melihat Kyungsoo hendak membuka suara.
"T-terima kasih.." ucap Kyungsoo dengan suara yang sudah bergetar samar akibat kedinginan dan segera merapatkan lagi jas hitam yang terlampir dipundak sempitnya untuk membuatnya merasa hangat.
"Kenapa kau memakai pakaian seperti ini ditempat dingin seperti ini?" tanya Sehun.
"Aku... Aku ada janji dengan seseorang untuk bertemu disini."
"Dengan pakaian seperti ini?" tanya Sehun cepat. Kyungsoo menganggukan kepalanya. "Sudah berapa lama kau berada disini?" tanya Sehun lagi.
"Satu jam, mungkin.. Aku tidak terlalu mengingatnya." jawab Kyungsoo sambil tersenyum tipis.
"Apa orang yang kau tunggui sudah datang?" Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum." jawab Kyungsoo. Sehun menarik sedikit jas biru tua yang tengah Ia pakai saat ini untuk melihat jam berapa sekarang sebelum kembali menolehkan pandangannya pada Kyungsoo yang sudah memerah dibagian hidungnya akibat kedinginan.
"Kau tidak tahan ditempat dingin seperti ini terlalu lama, kan?" tanya Sehun kembali yang dijawab dengan anggukan pelan kepalanya. "Ayo kita pulang. Kau bisa mati kedinginan jika lebih lama lagi berada disini." ucap Sehun sambil meraih pergelangan tangan kiri Kyungsoo untuk Ia genggam.
"Tapi dia belum datang." kata Kyungsoo pelan sambil menjauhkan tangannya dari jangkauan Sehun. Sehun tau yang dimaksud Kyungso dengan 'dia' disini adalah Kai, orang yang menyuruhnya kemari menghampiri Kyungsoo untuk mengantar wanita bermata bulat ini sampai kerumahnya dengan selamat mengingat saat ini sudah cukup malam untuk ukuran wanita sepolos Kyungsoo ini.
"Kai tidak bisa datang menemui mu hari ini karena Ia memiliki sedikit urusan sekarang." Kyungsoo segera menoleh pada Sehun dengan pandangan bertanyanya.
"Dia tidak bisa datang?" tanya Kyungsoo pelan. Sehun menganggukan kepalanya.
"Ayo~ Aku akan mengantar mu pulang sekarang karena Kai sudah berpesan seperti itu pada ku." Sehun kembali meraih pergelangan tangan Kyungsoo dan mengajak wanita itu untuk keluar dari area Ice Skatting menuju parkiran mobil.
"Dia mengingkari ucapannya lagi." kata Kyungsoo dalam hati dengan tatapan kosongnya saat Ia diajak Sehun keluar dari kawasan Ice Skatting tadi.
.
.
.
"Aku sudah mengatar Kyungsoo sampai ke rumahnya. Kau tidak perlu khawatir lagi sekarang."
Kai membaca pesan masuk dari Sehun pada ponsel pintarnya yang baru saja bergetar lalu menghembuskan nafasnya lega namun masih dengan rasa bersalahnya karena mengingkari janjinya terhadap Kyungsoo dengan tidak hadir ketempat dimana Ia sendiri yang membuat janjinya.
"Maafkan aku Kyungsoo... Maafkan aku.." ucap Kai dalam hati dengan kedua telapak tangan yang mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memandang sebentar kearah Luhan yang berada diatas ranjang rumah sakit sana dari sofa berwarna cokelat yang ada diruangan ini sebelum kembali mengusap wajahnya dengan kasar dan kembali menyalakan layar ponselnya yang langsung menampakkan foto seorang wanita bermata bulat tengah tersenyum yang menjadi wallpaper ponsel pintarnya sedari dua minggu yang lalu.
"Aku mencintai mu... Kyungsoo-ya.." batin Kai berkata.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue ...
.
.
.
Hallo~ Adakah yang kangen sama Desta Soo disini ? Desta Soo comeback dengan chapter 10 yang super puanjang ini untuk semua reader kesayangan Desta Soo yang kangen sama kelanjutan cerita Fanfiction "LOVE LOVE LOVE" ini.. Hihihi... ^_^ Adakah yang masih inget dengan cerita FF ini, heum?
Oh iya.. Terima kasih banyak untuk yang sudah mereview dichapter 9 kemarin dan juga memfavoritkan serta memfollow Fanfict ini hingga sekarang.. Thank You All~ ({})
.
Udah, Desta Soo ga mau ngomong panjang dikali lebar yang pada akhirnya membuat kalian semakin bosan dengan Desta Soo..Jadi~
Give Me Your Review If You Wanna Desta Soo Fast Update Chapter 11 This FanFiction, Guys ! ;)
Love you and See you in the Next Chapter ^_^
BYE BYE ~ :*
.
.
Desta Soo
03-04-2015
