Kyumin Story by Yasaenghwa

WARNING:

KYUMIN, YAOI, Boyslove, Supranatural/horror/Angst/MPREG, NC-21, Typo(es)

Disclaimer:

this fic is mine,

1'st story about my lovely couple Kyumin

Terimakasih untuk tidak plagiat, Bash dan flame..

.

.

.

don't like, just click close (X)

Happy reading and enjoy..

Main cast:

Cho Kyuhyun

Lee Sungmin

Support cast:

Choi Siwon

Lee Donghae

Lee Hyukjae

Kim Heechul

Dan akan bertambah sesuai kebutuhan cerita

Summary:

Sungmin seorang arkeolog yang menemukan perkamen dalam hutan terkutuk mendapatkan kejadian mengerikan di dalam hidupnya, ia di perkosa oleh 'iblis' yang menanamkan benih dalam perutnya. Apakah dia akan mati? Bisakah ia lepas dari 'iblis' itu? apa yang terjadi dengan Kyuhyun?


Previous chapter

"Tidak.. Tidak mungkin itu Donghae, tidak Kyu.." Sungmin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun. Ia terpukul.. amat terpukul saat ini.

Ryeowook yang sempat melihat berita tersebut, ikut membelalakkan mata dan menutup mulutnya dengan satu tangan. Ia sungguh tak percaya.

"K-Kyu.. li-lihatlah" Ryeowook berkata dengan terbata sembari menunjuk layar tv yang menampilkan berita kematian Donghae.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya kearah tv plasma di depan sana. Raut itu menampakkan keterkejutan.

"Donghae" ujarnya lirih hampir seperti bisikan.

Kyuhyun semakin mendekap erat tubuh Sungmin yang sudah merosot duduk dilantai. Matanya kabur melihat keadaan jasad Donghae yang terbunuh mengenaskan. Siapa? Siapa yang tega membunuh sahabatnya itu dengan sekeji itu? apakah ini perbuatan manusia? atau— Sungmin akhirnya tergolek lemas dan tak sadarkan diri.

The Devil's Spawn

.

.

Chapter 10

Ketiga namja dengan postur yang berbeda itu terpaku melihat keadaan namja lain dengan penampilan 'mengenaskan' didepan sana. Namja itu meringkuk dengan rambut berantakan seolah namja tersebut menjambaknya berulang kali, terbukti dari helaian rambut yang tercecer dilantai. Namja itu menyambunyikan wajahnya pada kedua tangan yang terlipat memeluk lutut dan telapak tangan yang mengepal. Tubuh namja dengan rambut blonde itu bergetar, ia meracau lirih.

"Eunhyuk-ah..." seorang namja dengan postur mungil dari ketiga namja tadi memanggil sendu. Eunhyuk masih tidak bergeming. Ia tetap merunduk dan meracau tak jelas.

"Eunhyukie,, ini aku Sungmin" namja mungil yang mengaku dirinya Sungmin itu ingin beranjak mendekati Eunhyuk dan merengkuhnya. Ia ingin menenangkan namja kurus yang sungguh melihatnya saja membuat Sungmin miris. Namun sebuah tangan kokoh menahannya untuk melangkah.

"Jangan, Ming. Eunhyuk masih belum stabil. Kau tadi dengar sendiri bukan jika ia bisa saja melukaimu saat kau mendekatinya, seperti dua perawat yang terluka saat mencoba memberikan obat penenang kepadanya" kali ini suara berat bariton milik Kyuhyun mengingatkan Sungmin pada pesan yang disampaikan seorang dokter Jiwa kepada mereka saat akan memasuki ruangan Eunhyuk untuk melihat keadaannya.

"Aniya, gwenchana.. Eunhyuk mengenalku dan dia tidak akan melukaiku Kyu, percayalah.." Sungmin berujar meyakinkan Kyuhyun. Kyuhyun akan membantah sekali lagi, namun Sungmin segera menatap Kyuhyun dengan yakin dan mengangguk. Kyuhyun tahu Sungminnya tidak ingin dibantah kali ini. ia menghela nafas berat dan mengendurkan cengkramannya pada bahu Sungmin, hal ini dimanfaatkan Sungmin untuk melepas cengkraman Kyuhyun dan beranjak mendekati Eunhyuk.

Kini Sungmin berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Eunhyuk yang duduk meringkuk. Tangan Sungmin perlahan memegang bahu Eunhyuk.

"Eunhyukie..." Sungmin memanggil dengan lembut.

Merasa namanya dipanggil oleh suara yang dikenal, Eunhyuk mendongakkan kepala.

Mata itu terlihat kosong, tampak menyiratkan kesedihan sekaligus ketakutan.

"S-Sungmin" suara Eunyuk berujar lirih hampir menyerupai bisikan.

Beberapa saat mata itu terlihat redup dan sayu. Sungmin menyunggingkan senyum tatkala ia merasa tak ada penolakan dari Eunhyuk.

"Eunhyukie, apa yang sebenarnya terjadi padamu dan Donghae?"

Namun, entah apa yang terjadi setelah Sungmin menanyakan itu Eunhyuk menatap lurus dan melebarkan mata. Sungmin berani bertaruh jika sorot mata itu menyiratkan ketakutan dan dendam. Bola matanya bergerak kesana kemari dan tidak fokus.

Eunhyuk mengeratkan tangannya yang mengepal. Apakah dia sedang menggenggam sesuatu? Entahlah..

Ia mulai meracau kesetanan.

"Iblis! Iblis itu.. Pembunuh! Donghae.. D-Donghae! Tidak! Donghae mati! Tidak!" Eunhyuk berteriak histeris.

Deg..

'Iblis?' mata Sungmin membulat 'Iblis itu memang belum musnah? Tapi kenapa bisa? Benarkah iblis itu yang telah melakukannya—'

"AARRGGHH! PERGIII!"

Karena terlalu larut dalam pikirannya, Sungmin tidak sadar jika Eunhyuk mendorongnya dengan keras.

Brugkk..

"Ahk.."

"Sungmin!" Kyuhyun segera menghampiri Sungmin yang terjerembab lumayan jauh kebelakang akibat dorongan Eunhyuk.

"Gwenchana?" tanya Kyuhyun yang membantu Sungmin berdiri dan menjauhkannya dari Eunhyuk. Sungmin hanya diam dan mengangguk. 'Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa denganmu Eunhyukkie?' Sungmin menatap sedih.

Sementara namja mungil lain yang dari tadi hanya diam, menatap sendu kearah Eunhyuk yang meringkuk. Ia merasa iba. Tidak dipungkiri ia juga ingin menenangkan Eunhyuk dan merangkulnya seperti yang dilakukan Eunhyuk kepadanya kala itu. Akhirnya setelah menimbang, ia memberanikan diri untuk menghampiri Eunhyuk.

"Eunhyuk hyung, tenanglah. Ini aku Ryeowookie" Ryeowook mencoba menarik perhatian Eunhyuk yang masih meracau dan berteriak.

Eunhyuk menatap nyalang kearah Ryeowook yang perlahan mendekatinya. Nafas Eunhyuk memburu karena lelah berteriak.

"Tenanglah, oke. Gwechana.. aku tidak akan menyakitimu". Ryeowook mencoba lebih dekat dengan masih mengucapkan kata 'tenang' dan 'tidak akan menyakitimu' berulang-ulang.

Beberapa saat kemudian, setelah sadar yang didepannya adalah Ryeowook, tanpa diduga—

Greb—

Eunhyuk memeluk Ryeowook erat. Ryeowook yang sempat terkejut akan tindakan Eunhyuk yang tiba-tiba itu sedikit terdorong kebelakang. Untung saja ia mempunyai reflek yang cukup bagus sehingga dapat menahan dirinya agar tidak terjatuh.

Ryeowook membalas pelukan dari tubuh bergetar Eunhyuk.

"Gwechana.. aku disini hyung" Ryeowook menepuk pelan punggung Eunhyuk yang naik turun akibat menumpahkan air matanya.

Sementara itu Sungmin dan Kyuhyun yang melihat Eunhyuk sedikit tenang menghela nafas lega.

"Kyuhyun-ah, sebaiknya kau dan Sungmin hyung panggilkan dokter sekarang" ujar Ryeowook tiba-tiba.

"A-ah ne, kajja Ming-ah.." itu suara Kyuhyun.

"Apa tidak apa-apa? Lebih baik a-aku disini saja Kyu, aku takut jika Eunhyuk nantinya akan menyerang Ryeowook secar tiba-tiba" Sungmin berujar khawatir.

"Ck.. aku tidak apa-apa, justru sepertinya karena kau disini dia jadi seperti ini. Kka! Cepatlah, sebelum dia mengamuk lagi". Titah Ryeowook sedikit berdecak.

Nyut— perkataan pedas Ryeowook tepat mengenai sasaran. Sungmin menunduk, 'Wookie benar..'

"Arrasso, ayo Kyuhyun-ah" Sungmin berujar lesu dan menarik Kyuhyun keluar, meninggalkan Ryeowook sendirian bersama Eunhyuk.

.

.

.

Sungmin dan Kyuhyun kini sedang berada diruang santai rumah Kyuhyun. Ya, mereka bertiga telah kembali kerumah Kyuhyun beberapa menit yang lalu setelah dokter di rumah sakit jiwa tempat Eunhyuk mendapat perawatan menjelaskan kondisinya dan Eunhyuk sudah dalam keadaan tenang akibat pengaruh obat. Ia sempat memberontak namun tenaganya habis untuk melawan 3 perawat dan satu dokter yang memberikan suntikan obat penenang.

"Aku akan pergi menemui Heechul Kyu" Sungmin berujar memecah keheningan diantara keduanya.

"Eh? Kim Heechul? Wae?"Kyuhyun tampak mengernyitkan dahi.

"Kau lihat sendiri bukan, jika Eunhyuk mengatakan 'iblis', 'pembunuh'? aku yakin iblis itu yang telah membunuh Donghae. Iblis itu belum musnah bahkan 'dia' sempat menculikku, ritual iblis sialan itu masih berlanjut!"Sungmin sedikit terbawa emosi sehingga meninggikan nada bicaranya.

"Ya, aku tahu iblis itu belum musnah, tapi kenapa bisa? Bukankan kita sendiri melihat iblis itu menghilang saat itu?"ujar Kyuhyun yang menampakkan raut bingung.

"Hah—itu.. itu juga aku tidak tahu dan hal itulah yang menjadi pertanyaanku saat ini Kyu." Sungmin mulai merendahkan nada bicaranya.

"Tapi ming untuk apa iblis itu membunuh donghae? Hmm, dan lagi ada kemungkinan lain jika Donghae memang dibunuh seseorang bukan? Lagipula Polisi sedang menyelidikinya saat ini"Kyuhyun mencoba mengeluarkan pendapat.

"Tidak mungkin! Kematiannya sangat tidak wajar Kyu, bahkan jantungnya hilang! Manusia mana yang bisa membunuh tanpa jejak! Eunhyuk adalah saksi matanya, dan.. dan dia sangat ketakutan, aku yakin iblis perkamen terkutuk itu yang sudah membunuhnya! Aku tidak akan tinggal diam Kyu. Aku akan menemui Heechul"Sungmin kembali terbawa emosi sehingga tanpa sadar ia meninggikan nada bicaranya lagi.

Ia benar-benar lelah dengan semua ini. Kepalanya hampir meledak karena memikirkanya. Satu-satunya hal yang terlintas dipikiran Sungmin sekarang adalah menemui Heechul dan menanyakan semuanya. 'Heechul pasti tahu apa yang terjadi saat ini. Jika benar iblis itu pelakunya, aku harus mencegah agar tidak terjadi korban selanjutnya' Sungmin berujar dalam batin.

Kyuhyun mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dalam.

"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Ingat, kau tanggung jawabku sekarang" Kyuhyun tersenyum, kemudian dengan lembut mengusap ringan pucuk kepala Sungmin.

Blush—

"Y-Yak! Aku bukan anak kecil! Aish!"

Eeii.. bagaimanapun juga Sungmin adalah seorang namja. Ingat itu N-A-M-J-A. Tentu saja sisi kelaki-lakiannya akan protes jika diperlakukan demikian. Walaupun jika dilihat dengan teliti ada rona merah seperti blush on dipipinya. Aigoo..

"Eoh hyung, Kyu.. kalian mau kemana?" tiba-tiba Ryeowook datang dengan handuk yang masih mengalung dilehernya. Jika dilihat sepertinya ia baru saja selesai mandi.

"A-ah Wookie-ah, aku dan Kyuhyun akan pergi sebentar menemui seorang teman. Kau tak apa bukan jika kami tinggal?" Sungminlah yang menjawab pertanyaan Ryeowook barusan.

Ryeowook mengernyit, " Kalian tidak mengajakku?" ada nada sedikit protes disana.

"Eerr.." Sungmin memandang Kyuhyun seolah meminta bantuannya 'Ayolah Kyu, katakan sesuatu pabo!'. Sungmin hanya tidak ingin melibatkan sepupunya itu terlalu jauh.

"Wookie-ah, kami hanya—" alasan yang akan Kyuhyun berikan dipotong begitu saja.

"Arraso, pergilah. Aku akan dirumah saja kalau begitu"

'Eh,, tumben sekali, biasanya dia akan merengek dan memaksa ikut?' batin Sungmin dan Kyuhyun yang kini saling melempar pandang.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu.

"Yasudah, ayo Ming, lebih baik kita pergi sekarang" Kyuhyun dengan gentlenya menggenggam tangan Sungmin.

"A-ah, n-ne.. kita pergi dulu Wookie-ah, annyeong"

Ryeowook hanya mengangguk dan bergumam tanda mengiyakan.

Tanpa kedua namja itu sadari, pandangan Ryeowook menatap lekat punggung kokoh dan lebar namja yang mempunyai postur lebih tinggi.

'Haruskah aku menemuinya sekarang?', monolog Ryeowook dan bergegas pergi dari ruang tersebut.

.

.

Waktu hampir menunjukkan jam 03.00 sore. Sungmin terduduk lunglai disamping kemudi. Kyuhyun hanya melirik sekilas karena ia harus fokus menyetir.

Hah — helaan nafas itu keluar dari mulut mungil Sungmin. Terdengar frustasi. Ayolah bagaimana tidak? Ia dan Kyuhyun tidak mendapati Heechul dirumahnya. Bahkan seorang pencari kayu mengatakan rumah itu sudah kosong dari 1 Minggu yang lalu? Sungmin sempat terkejut mendengar penuturan itu. 'Kosong? Bagaimana bisa? Lalu dimana Heechul?' dan saat ditanya, pencari kayu itu hanya meminta maaf sebab ia tidak tahu.

'Arrgg... bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?'

Sungmin menutup mata dan menggigit bibir bawahnya. Sungguh, tiba-tiba kepalanya menjadi pening. Rasanya ingin sekali menghantamkannya ke jendela mobil, tapi... Hei, dia belum ingin dicap sebagai namja kurang waras. Hah—

"Setelah ini kita akan kemana Ming?" Kyuhyun bertanya tanpa menolehkan pandangannya dari jalanan di sana.

"Molla, aku tidak tahu Kyu. Apa yang harus aku lakukan?" Sungmin berujar lirih, ia hampir putus asa.

Ia tidak tahu Heechul dimana, tidak ada petunjuk tentang itu. Kenapa semua jadi rumit seperti ini? Donghae tewas, Eunhyuk depresi dan sekarang Heechul pergi entah kemana bagai ditelan bumi.

Hah, andai saja dari awal dia tidak bermain-main dengan perkamen itu. tunggu..

Perkamen? ya, itu dia! Otak Sungmin segera memproses dengan cepat apa yang harus dia lakukan sekarang.

"Kyu, antarkan aku kemusium.. sekarang!"

"E-eh.. n-ne" Kyuhyun yang sempat dikejutkan dengan pekikan Sungmin segera memutar balik arah menuju musium.

'Semoga ada petunjuk' batin Sungmin berharap.

.

.

In the other side..

Namja mungil itu, Ryeowook. Setelah kepergian Sungmin dan Kyuhyun ia segera bergegas menuju garasi dan mengeluarkan mobil Sungmin yang dibawa ke rumah Kyuhyun.

Ia kemudian menancap gas untuk pergi kesuatu tempat.

.

.

Dalam perjalanan Ryeowook berkali-kali memandang GPS sebagai petunjuk arahnya. Selain itu ia juga memikirkan pesan yang dituliskan oleh Eunhyuk kepadanya.

Flashback

Ryeowook masih berusaha menenangkan Eunhyuk dengan memeluknya. Sementara Kyuhyun dan Sungmin baru saja keluar memanggil dokter.

"Ryeowook-ah.. dengarkan aku" Eunhyuk berbisik tepat ditelinga Ryeowook.

"Hyung.. kau—" Ryeowook tercekat, ia bisa merasakan hembusan nafas Eunhyuk pada telinganya.

"Dengar,, kau harus selamatkan Sungmin dan kita semua Wookie-ah, hanya kau yang bisa aku andalkan saat ini. Bacalah pesan yang aku tulis" Eunhyuk kemudian memasukkan sesuatu yang berada pada genggamannya kedalam saku jaket tebal Ryeowook.

Ryeowook masih diam mencoba mencerna perkataan Eunhyuk.

"Kau harus menemuinya sendiri, jangan beri tahu siapapun. Ingat Wookie-ah kau harus pergi sen-di-ri-an!" Eunhyuk memberi penekanan pada kata 'sendirian' walaupun terdengar lirih.

"N-Ne hyung" Ryeowook hanya bisa tergagap.

Kemudian Eunhyuk melepas pelukannya dan menatap penuh harap kedalam mata Ryeowook.

"Semua bergantung padamu Wookie-ah".

Ryeowook kemudian mengangguk, walaupun ia sendiri masih belum mengerti maksud dari perkataan Eunhyuk.

.

Sepulang dari rumah sakit tempat Eunhyuk dirawat, Ryeowook segera menuju kamarnya dengan alasan ingin segera mandi.

Sesampainya dikamar ia langsung merogoh saku jaket tebalnya untuk membaca pesan dari Eunhyuk.

Kemudian ia membuka kertas dengan bertuliskan huruf dari darah yang mengering itu. Apa mungkin Eunhyuk menulisnya dengan darahnya sendiri?

Temui orang yang bernama Kim Heechul di daerah Scream Town dekat Red Waterfall didalam hutan Darkwest. Jangan beritahu siapapun jika kau menemuinya terutama Kyuhyun.

Ryeowook tiba-tiba mengernyitkan dahi ketika membaca nama Kyuhyun. 'kenapa dengan Kyuhyun?' namun ia kembali meneruskan membaca.

Kau akan tahu segalanya dan dia akan membantu kita, terutama Sungmin untuk menghentikan iblis itu menghabisi korban selanjutnya. Cukup Donghae saja yang menjadi korban. Jika tidak kita semua akan mati termasuk kau.

Ryeowook membelalakkan matanya, 'Mati? Kita semua? Apa-apaan ini, kenapa aku juga—'

Percayalah padaku, hanya kau harapanku saat ini. aku hanya bisa memberi pesan ini. waktuku tidak banyak.

'Apa maksudnya? Bagaimana ini? Haruskah aku— Aish'

Ryeowook menggenggam kertas pesan itu erat. Ia begitu bimbang.

Flashback off

.

Namun disinilah ia sekarang, tepat di depan sebuah bangunan tua berdinding batu setelah mencari kedalam hutan dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu cukup lama. Ryeowook tiba di tempat yang dituliskan Eunhyuk pada pesannya. Semoga saja orang yang bernama Kim Heechul ini ada dan bisa menjawab kebingungan serta rasa penasaran yang ia rasakan saat ini.

.

.

"Ayolah profesor, tolong berikan kembali perkamen itu pada kami. Kami benar-benar membutuhkannya saat ini" Sungmin mencoba meyakinkan sang profesor bernama Kim Yongwoon pemilik musium tempatnya bekerja untuk yang kesekian kalinya. Terhitung ia sudah membujuk profesor itu untuk yang ke-4 kali sejak Sungmin dan Kyuhyun tiba di musium.

"Tetap saja tidak bisa Sungmin-ah, kau telah menyerahkan perkamen itu kepada musium ini dan perkamen itu sudah menjadi benda bersejarah milik pemerintah" profesor yang lebih akrab dipanggil Prof Kim Kangin itu tetap bersikeras untuk tidak memberikan kembali perkamen yang Sungmin minta.

"Profesor.. jebbal, kali ini aku mohon bantulah kami" Sungmin tetap tidak menyerah.

"Mianhae Sungmin-ah, aku tidak bisa"

"Tapi prof—" Sungmin tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika sang profesor menggelengkan kepala.

"Aish!" Sungmin mengalihkan pandangan tajamnya kepada Kyuhyun yang masih dalam mode diam, 'ayolah Kyu bantu aku, katakan sesuatu!' Sungmin menggeram dalam batin.

Seolah mengerti, Kyuhyun berdehem.

"Ehem, Profesor Kim..sebenarnya kita meminta kembali perkamen itu bukan tanpa alasan".

Profesor Kim mengernyitkan dahi, "Apa makudmu Kyu?"

"Profesor, anda pasti tahu bukan jika setiap perkamen menyimpan rahasia?" Kyuhyun melancarkan alasannya.

"Ne, Lalu?"

"Kami akan menyelidiki rahasia perkamen itu lebih lanjut, Prof. Bukankah jika kami berhasil menguaknya, kita dapat menguak salah satu sejarah dari negeri ini? Ah,,,dan lagi musium ini akan diuntungkan bukan?" ujar Kyuhyun diserta smirk andalannya.

'Haha, alasan yang bagus Cho! Kau benar-benar cerdas'. Lihat saja, profesor yang dihadapannya itu sepertinya tengah berpikir. Mudah sekali membodohinya.

"Kau tentu tidak sedang meragukan kemampuan kami dalam menguak misteri benda-benda bersejara bukan?" tambah Kyuhyun yang berhasil menggoyahkan pendirian sang profesor.

"Tentu saja aku tidak meragukan sedikitpun kemampuan kalian, tapi—"

"Beri kami waktu 2 Minggu untuk menyelidikinya, kau boleh mengambil kembali perkamen itu jika kami tidak mendapatkan petunjuk apapun untuk menguak misteri didalamnya Profesor." sela Kyuhyun.

Profesor Kim menjadi diam sesaat. Ia sedang memikirkan ucapan Kyuhyun. Melihat pertanda baik, Sungmin segera melancarkan bujukannya.

"Jebbal profesor, bukankah selama ini kau selalu mendukungku? Ayolah.. nee " pandangan mata Sungmin yang ditujukan kepada profesor Kim itu seperti anak kucing yang meminta untuk dipunggut.

Aigoo, sadarkah kau Lee Sungmin jika namja jangkung di sampingmu sedang menatap iritasi?

"Hah.. baiklah, aku akan berikan perkamen itu kepada kalian" putus profesor Kim pada akhirnya walaupun ia terdengar mendecak.

"Ck..tunggulah disini sebentar" ujar profesor Kim seraya beranjak untuk mengambil perkamen yang disimpannya.

Setelah beberapa saat profesor Kim kembali dengan membawa perkamen dan menyerahkannya pada Sungmin.

"Ambilah! Ingat Aku hanya memberikan waktu 2 Minggu saja untuk kalian menyelidikinya, dan jika dalam 2 Minggu kalian tidak mendapatkan apapun, perkamen itu harus kembali. Jadi manfaatkan waktu yang sudah ku berikan, arra?!"

Sungmin mengangguk semangat sembari menerima perkamen yang disodorkan kepadanya, sedangkan Kyuhyun hanya mengangkat sudut bibirnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

.

.

.

Seorang namja dari dalam kafe menatap sebuah mobil yang baru saja memasuki area parkir kafe tersebut. Namja itu tersenyum mengenali mobil tersebut adalah milik salah seorang sahabatnya. Namun seketika mata sipit namja tersebut memicing ketika seseorang yang keluar dari dalam mobil hitam itu bukanlah sahabatnya. "Eoh, bukan Sungmin ya..nugu?' monolognya dalam hati.

.

Namja mungil yang baru saja memasuki kafe yang berada di dekat tempat tinggal sepupunya itu segera mencari tempat yang nyaman untuk berfikir, atau setidaknya menenangkan pikirannya yang sedang kalut.

Jangan tanya kenapa dia sampai ketempat ini? Dia baru 1 Minggu yang lalu tiba dari london, tentu saja dia belum familiar dengan tempat makan atau kafe dikota ini. Satu-satunya tempat yang terlintas dipikirannya adalah Turtle Cafe, alasanyakarena kafe tersebut sering dibicarakan oleh hyung sepupunya. Satu yang ada dibenaknya saat itu, 'Nama kafe yang aneh? Apa-apaan itu Turtle Cafe? Apa kafe ini menjual makanan dengan bahan dasar kura-kura?'. Namun hyung sepupunya mengatakan jika pemilik kafe tersebut merupakan seorang penggila kura-kura.

Namja mungil itu kemudian menempati tempat disudut kafe yang cukup tenang. Ia kemudian memesan secangkir latte untuk melepaskan rasa lelah dan pening.

Hah— pemuda itu menghela nafas. Pikirannya kembali mengingat perbincangannya dengan namja cantik bernama Kim Heechul beberapa jam yang lalu.

'Apakah semua yang dikatakan namja itu benar? Apa orang itu yang sudah melakukan semua hal mengerikan yang dialami Sungmin hyung selama ini? dan Sungmin hyung... tunggu, kenapa aku harus peduli dengan Sungmin hyung? Cih, bukankah aku membencinya? Haish.. ada apa denganku?'

Namja mungil tersebut terlalu larut dalam lamunannya sehingga tidak menyadari seseorang yang tengah menghampirinya dari tadi.

"Anyeong...!" suara bass seseorang menyentak Ryeowook dari acara 'mari-melamun' itu.

Ryeowook, namja mungil itu mengernyitkan dahi ketika seorang dengan mata sipit dan tidak terlalu tinggi tersenyum lebar sedang berdiri dihadapannya yang hanya terhalang oleh sebuah meja kafe.

"N-ne? Nugu?"

"A-AH.. perkenalkan, aku Kim Jongwoon. Panggil saja aku Yesung" ucap namja didepan Ryeowook sambil menyodorkan tangan kanannya.

"O-oh, ne.. Kim Ryeowook" Ryeowook menerima uluran tangan Yesung dan menjabatnya. Ryeowook memandang sedikit aneh kepada namja yang sedari tadi masih betah menebarkankan senyum lima jarinya.

"Emm.. Ryeowook-ssi kau sendirian saja? Dimana Sungmin?" tanya namja itu tiba-tiba setelah mereka melepas tautan tangan mereka.

"Eoh, N-ne, wae? Tunggu, kau kenal dengan Sungmin hyung?" Ryeowook menaikkan sebelah alisnya, 'Siapa orang ini? Kenapa mengenal Sungmin hyung?'. Ia merasa curiga dengan namja yang tiba-tiba 'sok-akrab' didepannya.

"Ye? Tentu saja aku mengenalnya, dia adalah sahabtku dan juga pelanggan tetap di kafe milikku ini" jawab Yesung dengan menampilkan cengiran bodohnya.

Ryeowook yang mendengar itu hanya ber-O ria. 'Pantas saja Sungmin hyung sering membicarakan kafe ini, ternyata kafe ini milik sahabatnya'.

"Ah, Ryeowook-ssi, boleh aku duduk disini?" pinta yesung menunjuk kursi yang berhadapan dengan kursi Ryeowook, hanya dipisahkan oleh meja.

"Silahkan saja.." Ryeowook menjawab acuh.

"Eerr,, jika boleh tahu, kau siapanya Sungmin? Igo,, aku melihatmu keluar dari mobil Sungmin tadi. Apa kau temannya?" cecar yesung dengan semangat.

"Aniya, aku bukan teman Sungmin hyung, tapi aku saudaranya. Lebih tepatnya sepupu" jawab Ryeowook santai sembari meneyesap lattenya.

"Jinjja? Kau sepupunya yang ada di London itu? Aigoo.." tawa dengan suara bass itu membahana.

Ryeowook menatap yesung dengan wajah menyelidik, seolah ingin bertanya,'bagaimana kau tahu aku di London?'

"Jangan menatapku dengan wajah bertanya begitu, Sungmin selalu menceritakan sepupunya yang menetap di London. Ternyata yang dikatakan Sungmin memang benar, kau manis dan menggemaskan, Ryeowook-ssi."

Eoh— Ryeowook tercenganng dengan penuturan Yesung, terutama dengan pernyataan 'manis dan menggemaskan' yang mengakhiri kalimat yesung, membuat Ryeowook ingin memuncratkan latte yang ada didalam mulutnya.

Ryeowook segera meneguk paksa lattenya dan berdehem.

"Ehem, b-benarkah? Apa saja yang Sungmin hyung ceritakan pada anda Yesung-ssi" Ryeowook bertanya dengan bahasa seformal mungkin kepada Yesung. Walaupun ia tinggal di London cukup lama tapi ia masih tahu akan sopan santun dan sadar jika orang dihadapannya tersebut mungkin lebih tua dari dirinya mengingat dia adalah teman dari hyung sepupunya.

"Haeyy.. tidak usah seformal itu, panggil saja aku Yesung 'hyung' karena sepertinya kau lebih muda dari ku.. Yah, itupun jika kau mau Ryeowook-ssi" lagi-lagi Yesung bertingkah sok akrab.

"Ah, n-ne.. kau juga boleh memanggilku Wookie saja jika kau mau"

"Eoh, jongmal? Wuahh joha.. panggilan yang manis"

Ckck, kenapa kau dari tadi terus saja menggombalinya Yesung-ah?

"Emm, kau belum menjawab pertanyaaanku tadi Yesung hyung, Apa saja yang Sungmin hyung ceritakan tentangku?" Ryeowook mengulang pertanyaannya. Ia merasa penasaran apa saja yang diceritakan hyungnya itu kepada orang yang sedikit err.. aneh? Ini.

"Oh tentu saja banyak, seperti—bla..bla..bla"

Yesung dan Ryeowook berbincang ringan. Sesekali perbincangan itu dihiasi dengan tawa bass dari Yesung dan kikikan Ryeowook. Yesung memang orang yang mudah akrab dengan orang lain. Ryeowook untuk sesaat bisa melupakan kebimbangannya sejenak setelah bertemu dengan Yesung.

.

.

.

Namja mungil itu menatap lekat kedalam ruangan yang terdapat seseorang tengah menekuni sesuatu didalamnya. Ia memegang erat handle pintu yang terbuka sedikit.

'Kau tahu Wookie-ah Sungmin pernah mengatakan jika dia bukanlah hyung yang cukup baik dan bisa diandalkan untuk Dongsaengnya. Entahlah dia tidak menceritakan detailnya, namun Ia pernah merutuki kebodohannya sendiri saat ia telah melukai dongsaeng tersayangnya atas tindakan bodoh yang ia lakukan. Hah, Sungmin itu benar-benar seperti yeoja, dari luarnya saja ia terlihat tegar dan manly tapi didalamnya dia sungguh hangat. Bukankah kau setuju dengan ku Wookie-ah?'

Ryeowook kembali terngiang dengan ucapan Yesung saat dikafe tadi. Benarkah Sungmin hyungnya sangat menyesal telah melukainya? Apakah dia terlalu jahat jika ia menyimpan dendam selama ini?

Entah sudah berapa kali dalam sehari ini ia menghela nafas lelah. Ryeowook kemudian menutup mata untuk menghalau kebimbangannya. Ia kemudian memutuskan untuk masuk kedalam ruangan dan perlahan menghampiri sosok hyung yang dahulu membuatnya kecewa.

'Haruskah aku menolongmu hyung?' Ryeowook menatap lekat sosok yang sedang duduk dan serius mengamati sebuah perkamen dan beberapa buku tepat di depannya berdiri. Jujur saja Ryeowook masih merasa bimbang antara ego dan hatinya.

"Sungmin hyung..." Ryeowook memanggil Sungmin untuk memberitahu keberadaannya yang sepertinya tidak mengusik Sungmin sama sekali.

"Eoh, Wookie-ah. Apa makan malam sudah siap?" tanya Sungmin yang sempat menatap Ryeowook sebentar dan kembali sibuk dengan buku yang berada pada tangan kirinya.

"Ne, sudah. Aku kemari untuk mengajakmu makan malam hyung" Ryeowook kemudian duduk pada sofa disebelah Sungmin duduk.

"Ah arraso.. apa Kyuhyun juga sudah menunggu dibawah?"

"Kyuhyun sedang mandi dikamarnya, mungkin sebentar lagi dia akan turun"

"Hmm, baiklah... kau dan Kyuhyun makan malam duluan saja. aku harus menyelesaikan ini terlebih dulu" tunjuk Sungmin pada perkamen dan beberapa buku yang terbuka.

"Aku akan menyusul nanti. Lagipula aku belum terlalu lapar" ujar Sungmin sembari tersenyum.

"Hyung—" Ryeowook menatap lekat hyung disampingnya.

"Hmm?"

"Kau belum menemukan sesuatu? Tentang.. kematian Donghae hyung, apakah ada petunjuk?"

Sungmin seketika menghentikan aktifitas membacanya dan menatap lekat Ryeowook.

"Untuk saat ini aku belum menemukan sesuatu Ryeowook-ah, mungkin ini akan sulit".

Ada rasa pesimis pada akhir kalimat itu.

"Ah ne, Wookie-ah.. ada hal yang ingin aku sampaikan padamu" ujar Sungmin tiba-tiba ketika ia mengingat sesuatu. Sungmin lalu menutup bukunya dan meletakkan buku itu pada meja. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Ryeowook.

"Apa itu hyung?"

"Kau— Bisakah kau kembali ke London? Kurasa kau sudah cukup menghabiskan waktu liburanmu disini" kali ini Sungmin menatapnya serius.

"Wae? Kenapa tiba-tiba sekali kau menyuruhku kembali ke London? Apa kau tidak suka jika aku disini?" cerca Ryeowook yang sedikit terbawa emosi dengan permintaan hyungnya yang terkesan seperti mengusirnya.

"Aniya, bukan begitu Wookie-ah. Keadaan disini sedang kacau. Aku hanya tidak ingin kau menjadi ikut terlibat terlalu jauh. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu" Sungmin berujar sendu. Ia tidak bisa membayangkan kejadian yang menimpa Donghae terjadi pada saudaranya itu.

Ryeowook sedikit terkejut dengan alasan Sungmin. Ia pikir Sungmin memintanya pergi karena takut ia akan merebut Kyuhyun. Tapi benarkah alasannya seperti itu?

"Begitukah alasanmu hyung? Apakah tidak ada alasan lain? Karena Kyuhyun misalnya" Ryeowook memancing Sungmin dengan pertanyaan.

"Kyuhyun? Maksudmu apa Wookie-ah, aku tidak mengerti" Sungmin dibuat bingung dengan pertanyaan ambigu Ryeowook.

Ryeowook tersenyum meremehkan.

"Kau menyukai Kyuhyun bukan?"

Deg—

Jantung Sungmin berdetak 2 kali lipat. Ia seperti maling yang tertangkap basah telah mencuri. Kedua matanya seketika melebar.

"W-Wokkie-ah, K-Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku—"Sungmin menjawab gugup.

"Aku tahu kau menyukainya hyung, mengaku saja" Ryeowook menyeringai.

"I-itu—" Sungmin menunduk untuk meneyembunyikan rasa malunya.

"Kau tentu merasakan jika selama ini aku berusaha mendekatinya bukan? Tentu kau—"

"Aku tahu. Ya, tentu saja aku tahu jika kau juga menyukainya Ryeowook-ah" Sungmin menyela dengan masih menundukkan wajahnya.

Deg, deg..

"Hyung—" Ryeowook tercekat karena tidak menyangka hyungnya akan berfikiran begitu.

"Arraso.. jika kau menyukainya aku akan tetap diam dan merelakannya untuk mu" ujar Sungmin menampakkan senyumnya. Ryeowook sedikit tersentak dengan ucapan Sungmin. ia sedikit masih tidak percaya dengan ucapan hyungnya itu.

"K-kau, yakin? Bagaimana jika dia menyukaimu dan lebih memilihmu?"

"Tenang saja Wookie-ah, Aku tidak akan mengatakan kepadanya jika aku menyukainya. Aku— A-Aku akan menghapus rasa sukaku padanya. Ya, kalau perlu aku akan membantumu mendapatkan Kyuhyun. K-Kurasa Kyuhyun juga pasti lambat-laun akan menyukaimu Wookie-ah" papar Sungmin dengan nada terdengar gemetar disetiap katanya meskipun tidak terlalu kentara.

Sungmin menatap teduh kedalam mata Ryeowook, mencoba untuk meyakinkan saudaranya itu.

"Benarkah? Cih, kau ingin aku disebut sebagai orang jahat begitu? Bersenang-senag diatas penderitaanmu"

"Tidak, kau salah Ryeowook-ah. Aku hanya sangat menyayangimu, hanya kau saudaraku didunia ini. Kau tahu betapa jahatnya aku saat dulu aku meyakitimu dengan keegoisanku. Aku merebut orang yang kau cintai. Jadi jika karma itu ada, aku sudah menyiapkan diriku untuk menerimanya" mata Sungmin sedikit berembun mengingatnya.

Plakk— seperti sebuah tangan tak kasat mata yang menampar telak hati Ryeowook saat Sungmin mengatakan semua itu. ia selama ini tidak melihat jika hyungnya itu juga terluka dan selalu merasa bersalah.

"Aku tidak ingin egois lagi Ryeowook-ah. Jika harus memilih, aku akan memilih kebahagiaanmu nae dongsaengie. Jadi jika Kyuhyun dapat membuatmu bahagia maka kau boleh memilikinya dan kumohon kembalilah ke London. Kau juga bisa mengajak Kyuhyun kesana. Setidaknya disana kau akan baik-baik saja, dan aku akan merasa lega karena sesuatu yang buruk tidak akan menimpamu"

Ryeowook menampakkan senyum tipis setelah mendengar penuturan panjang lebar dari Sungmin.

'Kini aku tahu apa yang harus aku lakukan hyung. Aku akan membantumu lepas dari iblis itu'

"Sayangnya, kali ini aku tidak akan menurutimu hyung. Kau pikir Kyuhyun akan setuju dengan ide bodohmu ini, aku berani bertaruh si tuan Cho itu tidak akan ikut denganku walau kuseret dia sekalipun. So, last choice , Aku akan membantumu DI-SI-NI"

Sungmin seketika mengalihkan pandangannya ke arah Ryeowook.

"Jangan bodoh Ryeowook-ah! kau tahu didepan sana entah siapa lagi yang akan menjadi korban. Maut sedang mengancam kita. Aku tidak—"

"Tidak akan terjadi apa-apa denganku hyung. Ini keputusanku sendiri. Kau kira aku bisa tenang membiarkan saudaraku sendiri menghadapi maut sementara aku pergi seperti seorang pecundang? Cih.. kau bercanda?" Ryeowook mendecih.

"Tapi Kau—"

"Sudahlah, aku akan turun dan menunggumu dibawah. Jangan terlalu keras berfikir... cepatlah makan dan jangan ungkit hal tidak penting seperti itu lagi."

Ryeowook kemudian berlalu dari ruangan tersebut dengan kelegaan dihatinya.

Ternyata anggapan terhadap hyungnya selama ini salah. Dendam yang membutakan mata hatinya kini telah runtuh. Kini, tujuannya berbelok. Ia yang ingin membalas dendamnya kepada Sungmin saat ada kesempatan berbalik menjadi melindunginya jika ia diberi kesempatan.

'Ya, walaupun aku tidak akan merebut Kyuhyun darimu tapi aku akan tetap memisahkan dia darimu hyung. Biarkan kesalahpahaman ini tetap berlangsung. Aku akan tetap berpura-pura menyukai kyuhyun, jadi setidaknya itu akan membuatmu menjaga jarak darinya. Yeah,,Ini bukan karena dendam melainkan demi keselamatanmu, Sungmin hyung. Ah, ngomong-ngomong tentang Kyuhyun? Aku akan menyelidikinya nanti, aku tidak boleh gegabah dan terlihat mencurigakan. Aku harus mendapatkan bukti siapa dia, apakah benar ia terlibat.'

Setelah bermonolog dengan pikirannya Ryeowook turun menuju meja makan yang ternyata sudah ada Kyuhyun yang terduduk manis disana.

.

.

Ketiga namja yang telah menyelesaikan makan malam mereka itu sedang berada di ruang kerja Kyuhyun. Mereka, Sungmin, Ryeowook dan Kyuhyun sedang berkutat dengan kesibukannya masing-masing. Sungmin yang sedang serius menekuni buku yang ia pinjam dari perpustakaan kuno yang dahulu pernah ia datangi saat bertemu Eunhyuk. Kemudian Kyuhyun yang sedari tadi mengamati buku yang lain. Sedangkan Ryeowook walaupun ia menghadap pada sebuah buku, namun sebenarnya tatapannya tidak lepas mengamati gerak-gerik seseorang diruangan itu.

'Apa yang selanjutnya kau rencanakan Kyuhyun-ah?' batin Ryeowook.

"Akh.. Ngh " Ringisan kecil keluar dari mulut shape M milik Sungmin. Gerakan tangannya reflek memegang perutnya yang sedikit membuncit.

Kyuhyun dan Ryeowook yang mendengar ringisan pelan Sungmin mengalihkan perhatian kepada Sungmin.

"Waeyo Hyung? Kau tak apa-apa?" Ryeowook memandang khawatir kearah Sungmin. berbeda dengan Kyuhyun yang terlihat santai dan kembali membaca bukunya.

"Entahlah,, dari kemarin aku merasa kurang nyaman dengan perutku Wookie-ah seperti ada sesuatu yang emm—bergerak. Ah, Sudahlah mungkin hanya perasaanku saja" ujar Sungmin lirih.

Ryeowook memicing, perasaannya diliputi kekhawatiran dan ketakutan,'Bergerak? Mungkinkah?' ia kembali teringat perkataan Heechul yang demi apapun sampai sekarang ia kurang mempercayai apa yang ia dengar.

'Tidak mungkinkan jika Sungmin Hyung—'

"Apa yang kau rasakan hyung? Apa kau merasakan perubahan pada tubuhmu?" Ryeowook mencecar Sungmin dengan sedikit pertanyaan aneh.

"Gwenchana Wookie-ah, mungkin hanya masalah lambung. Kau tidak usah khawatir seperti itu" Sungmin mencoba memberikan senyum terbaiknya. Ia tidak lagi menampakkan ringisannya.

'Bagaimana mungkin aku akan berpikir kau baik-baik saja?' Ingin sekali Ryeowook meneriakkan itu kepada Sungmin, namun ia tahan agar seseorang diruangan itu tidak curiga. Ia kemudian menarik nafas dan melirik sebentar kearah Kyuhyun yang tetap sibuk dengan bukunya.

'Santai sekali kau Kyu? Sepertinya kau memang sudah tahu sesuatu eoh?' Ryeowook mulai memicing curiga.

"Kyu, Wookie-ah lihat ini" Suara Sungmin menginterupsi pikiran Ryeowook. Ia kemudian beranjak ketempat dimana Sungmin duduk begitu pula dengan Kyuhyun. Sungmin menunjukkan buku yang ia baca. Buku yang dahulu sempat Eunhyuk tunjukkan kepadanya diperpustakaan. Buku tentang kebangkitan iblis, 'Teufelsbrut'. (ingat di chap 4?)

Deg—

" Bukankah setelah penyatuan adalah penanaman?" Sungmin meneguk lidahnya kelu, ia baru mengingat sesuatu, tapi ia belum yakin.

"Ne, lalu?" Kyuhyun menampakkan raut bingungnya.

"Aku— baru mengingatnya, ada hal yang belum aku ceritakan kepada kalian, sebenarnya—" Sungmin menggigit bibirnya kalut.

Ryeowook dan Kyuhyun mengernyitkan dahi, mereka kemudian memandang dengan tidak sabar apa yang akan dikatakan Sungmin. seolah menuntutkejelasan.

Setelah menelan ludahnya susah payah, akhirnya ia menceritakan kejadian saat ia dibawa oleh iblis laknat itu ke sebuah gua beberapa hari yang lalu. Ryeowook dan Kyuhyun sama-sama menampakkan raut wajah yang sulit diartikan.

'Semuanya sama dengan yang Heechul ceritakan. Shit!' Ryeowook tanpa sadar mengepalkan tangan.

"Apa mungkin iblis itu menanamkan sesuatu pada tubuhku Kyu? Tapi aku merasa itu seperti mimpi buruk, aku juga tidak merasakan perubahan yang aneh pada tubuhku" Sungmin berujar yakin. Kyuhyun kemudian mengambil alih buku yang di baca oleh Sungmin. ia kemudian menemukan sederet tulisan kecil diantara penjelasan panjang buku itu.

"Lihat ini, sang korban persembahan akan mengandung Keturunan iblis untuk menambah keabadian dan memperbanyak bangsa iblis itu sendiri yang akan ditukar dengan jiwa murni korbannya". Ujar Kyuhyun menjelaskan tulisan yang ia temukan.

"Eoh? Mengandung? Hamil anak iblis maksudmu? Lalu aku—" Sungmin sedikit ngeri jika itu terjadi padanya.

"Yeah, tidak mengherankan karena semua korbannya adalah wanita. Aku juga kurang yakin jika menyimpulkan kau akan mengandung seperti mereka mengingat kau adalah seorang namja Min" Kyuhyun mengucapkan itu dengan santai.

Sementara orang yang sedari tadi diam -Ryeowook- mencerna dengan serius penjelasan Kyuhyun tadi.

"Iblis itu telah berhasil menanamkan benihnya. Kau tahu Ryeowook-ssi hal mengerikan itu telah terjadi. Saat ini didalam tubuh Sungmin telah berkembang sosok keturunan iblis"

"Apa maksudmu Heechul-ssi?"

"Sungmin sedang mengandung keturunan iblis?"

"Mwo?! Kau bercanda! Mana mungkin? Dia seorang namja!"

"Iblis itu telah melakukannya. Sekarang ini bukan saatnya mempermasalahkan hal itu, yang jelas kita harus menyelamatkan Sungmin sebelum semuanya menjadi sangat terlambat"

Ryeowook teringat percakapannya dengan Heechul kembali. Namun, tetap saja logikanya tidak memberikan kesempatan untuk mempercayai hal ini. Hell no?! Bagaimana bisa seorang namja hamil seperti yeoja eoh? Memiliki tempat untuk bertumbuh janin saja tidak! Oh Tuhan kegilaan macam apa lagi ini?!

"Bagaimana jika seandainya benar kau mengandung hyung?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Ryeowook tanpa diperintah.

"MWO! Maldo andwe! Aku Namja Ryeowook-ah! Berfikirlah dengan realistis" Sungmin sedikit tersinggung karena ia disamakan dengan yeoja yang bisa mengandung.

"Aku hanya mengatakan 'seandainya' hyung. Lagipula kupikir Iblis itu bisa melakukan apa saja bukan?" ujar Ryeowook tanpa dosa.

Deg..deg— Sungmin mencerna perkataan Ryeowook, 'Benar juga, tapi—'

"Aish! Hentikan pikiran konyolmu itu Kim Ryeowook!"

"Tapi, ku pikir perkatan Ryeowook mungkin juga ada benarnya Ming. Iblis itu bisa melakukan apa saja" Kali ini Kyuhyun mengeluarkan pendapatnya.

"Yak! Kenapa kau juga ikut-ikutan Cho?! Haish... sepertyinya kalian memang harus diperiksakan ke dokte jiwa!" Sungmin semakin berteriak.

"Ya.. Lee Sungmin, kenapa kau berteriak! Ini baru spekulasi" Kyuhyun yang tidak terima diteriaki ikut meninggikan suaranya.

"Spekulasi yang bodoh dan tidak masuk akal! Baiklah,, besok kita temui Eunhyuk dan tanyakan kepadanya" ujar Sungmin yang masih terbawa emosi tanpa memikirkan kata-katanya terlebih dahulu.

"Aigo, sepertinya kau harus diingatkan eoh? Kau lupa Eunyuk sedang depresi? Bagaimana bisa dia ditanyai hal seperti ini pabo!" Kyuhyun berolling eyes ria.

"Yak! Aku tidak peduli! Dan jangan sebut aku pabo karena kau yang pabo CHO! Aish.." Sungmin mengacak rambutnya dan menghentakan kaki, ia merasa kesal kemudian beranjak pergi setelah meneriaki Kyuhyun.

Ia begitu emosi, 'Bagaimana bisa mereka berfikiran seperti itu? mengandung? Anak iblis? Shit. Itu tidak sedikitpun terlintas dalam benakku.. memikirkannya saja membuatku jijik dan merinding ngeri'

Kyuhyun dan Ryeowook hanya menggelengkan kepala.

"Sensitif sekali, seperti yeoja hamil saja" gumam Kyuhyun yang masih didengar oleh Ryeowook. Ryeowook memandang lekat Kyuhyun yang memandang kepergian Sungmin dengan senyum setelah bergumam hal demikian. Senyum itu, seolah menampakkan kebahagiaan yang tulus.

'Apa yang kau pikirkan Cho?' Monolog Ryeowook dalam hati.

.

.

Ryeowook diam-diam memasuki ruang kerja Kyuhyun untuk mencari sesuatu. Baru beberapa menit yang lalu Sungmin dan Kyuhyun pamit untuk mengunjungi Eunhyuk lagi dirumah sakit. Ia memang tidak ikut bersama mereka dengan alasan menjaga rumah. Jam baru menunjukkan pukul 10.09 pagi saat ia masuk keruang kerja itu.

Ia masih berusaha mencari sesuatu yang disimpan hyungnya semalam diruangan ini.

'Ah, Ketemu!' batinnya memekik riang setelah menemukan sesuatu yang ia cari.

Oh, perkamen ternyata. Eoh? Untuk apa?

Ryeowook kemudian membuka perkamen tersebut dan meneliti dengan seksama isi perkamen tersebut.

Ia baru saja teringat ucapan Heechul kepadanya tadi malam ketika ia akan beranjak tidur. Perkataan Heechul sejauh ini semuanya benar. Harusnya jika kali ini perkataan Heechul juga benar, pasti didalam perkamen ini ada sesuatu seperti yang ia pikirkan.

'Tunggu— ini?" mata Ryoeowook terbelalak melihat rangkaian tulisan yang berputar seolah mengelilingi gambar pentagram ditengah-tengan perkamen setelah ia menerawangnya pada cahaya matahari yang masuk. Tidak begitu jelas memang jika dilihat secara sekilas.

'Tulisan ini sama seperti tulisan pada dinding kamar Donhae hyung saat dia terbunuh, dan— hmm, sepertinya menggunakan darah segar, tapi kenapa dua kata didepannya seperti darah yang sudah mengering bahkan hampir mendekati hitam?'

"jika kau kurang percaya, Kau bisa menyelidikinya sendiri Ryeowook-ssi. Kau akan menemukan sesuatu pada perkamen itu jika kau melihatnya dibawah sinar matahari. Itu adalah rangkaian nama korban yang akan iblis itu bunuh dan 'dia' menuliskannya dengan darah segar dari tubuhnya".

Ryeowook terperangah, 'mengerikan' batinnya.

"Iblis itu akan membunuh satu-persatu korbannya, dan dua diantara mereka sudah tewas. Kau akan melihat tulisan darah itu mengering pada nama koban yang telah mati Ryeowook-ssi"

"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"

"Iblis itu akan kembali membunuh korbannya tepat 2 hari dari sekarang".

Deg—

Perbincangannya dengan Heechul mengiang dipikirannya. 'Hari ini? iblis itu akan kembali membunuh hari ini? tapi siapa?'

.

.

Tubuh kaku itu mengantung diatas atap-atap sebuah kamar. Kedua namja yang berniat menjenguk orang yang bersangkutan dikejutkan dengan pemandangan mengerikan didepan sana. Bagaimana tidak? Jika didepan mata kepalamu sendiri orang yang begitu kau kenal meregang nyawa dengan cara tragis!

Pada mulanya Kyuhyun dan Sungmin berniat untuk menjenguk Eunhyuk dirumah sakit jiwa tempat ia dirawat. Namun ketika Sungmin membuka pintu kamar milik kekasih sahabatnya itu, ia dikejutkan dengan tubuh Eunhyuk yang mengantung kaku dengan seutas tali dari sprei yang diikat simpul mati diatas langit-langit kamarnya. Terlihat lidah Eunhyuk menjulur dengan kedua mata yang melotot hampir keluar. Kakinya menggantung dengan kursi yang tergeletak tak jauh dari tempatnya tergantung.

Sekuat tenaga Sungmin menjerit histeris.

"AAAARRGGHH! EUNHYUKK!"

Sedangkan namja disampingnya, Kyuhyun hanya bisa melotot menatap tidak percaya dengan apa yang menjadi tontonananya itu..

Teriakan nyaring Sungmin menyebabkan seketika kamar Eunhyuk menjadi gaduh dan ramai dengan lalu lalang dokter dan perawat yang mencoba untuk menurunkan Eunhyuk beserta memeriksa kondisinya. Salah satu dokter yang memeriksa tubuh kaku Eunhyuk menggeleng lemah. Eunhyuk dinyatakan tewas.

.

Kyuhyun menarik keluar Sungmin yang menangis histeris. Ia mencoba menenangkan Sungmin yang meracau dengan pelukan. Sungmin bergetar, nafasnya memburu berikut dengan jantungnya yang terpacu kencang hingga tidak terasa gelap menyelimuti penglihatannya. Ia tidak ingat apapun setelah itu, hanya ada gelap yang menyelimutinya. Kemudian disusul dengan Sungmin yang tergolek tak sadarkan diri.

.

.

Ryeowook terkejut saat membukakan pintu depan. Ia melihat kondisi hyungnya, Sungmin yang jauh dikatakan baik-baik saja. Sungmin terlihat tidak berdaya bersandar pada bahu Kyuhyun dengan mata yang sembab dan kemerahan. Mata itu terus mengeluarkan liquidnya disertai dengan isakan lirih.

"Apa yang terjadi dengan Sungmin Hyung Kyu?" Ryeowook segera menuntut penjelasan dengan sorot matanya.

Kyuhyun yang diberi pertanyaan hanya menghela nafas dan masih memapah Sungmin yang lemas menuju kamarnya.

"Aku akan menceritakannya nanti, setelah mengantar Sungmin istirahat dikamarnya".

Perkataan Kyuhyun itu semakin membuat Ryeowook penasaran. 'Apa lagi yang terjadi kali ini?'

.

Setelah mengantarkan Sungmin untuk istirahata di kamarnya Kyuhyun menuju dapur untuk mengambil air minum. Sekedar untuk mendinginkan tenggorokan dan kepalanya.

"Ada yang ingin kau jelaskan tuan Cho?" Ryeowook berujar datar dengan menyedekapkan tangannya dan bersandar pada dinding pintu dapur yang tidak terlalu jauh dari tempat Kyuhyun mengambil minum.

Kyuhyun menarik nafas sejenak, dan meletakkan gelas air minum kosong ditangannya keatas meja pentri.

"Eunhyuk— dia meninggal"

JDERR— pernyataan itu sejenak membuat Ryeowook terperangah. Ia membelalakkan mata.

"M-MWO! K-kenapa?"

"Dia tergantung dikamarnya. Aku dan Sungmin yang menemukan jasadnya disana" Kyuhyun memberi jeda sejenak, "Menurut dokter dan polisi dia depresi berat dan terlalu larut dalam kehilangan sehingga dia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri."

"T-tidak mungkin.." Ryeowook menutup mulutnya sendiri karena shok. Tubuhnya serasa lemas seolah otot sendinya kian tercabut, ia terhuyung kebelakang namun tidak sampai terjatuh. Matanya mulai berembun dan dalam hitungan detik air mata itu mengalir dari mata indahnya.

"Hiks.." sebuah isakan lolos dari bibirnya yang selalu mengeluarkan suara merdu. Kyuhyun yang melihat betapa syok dan rapuhya Ryeowook kemudian mendekat dan memeluknya.

"SStt.. Sudahlah wookie-ah, aku tahu ini begitu mendadak, akupun sangat terkejut. Apalagi Sungmin, dia sangat terpukul" Kyuhyun mengusap punggung Ryeowook yang bergetar dengan lembut.

Ryeowook tidak bergeming. Dia tidak membalas maupun menolak pelukan Kyuhyun. Perasaannya tak menentu, ia kalut, berang dan menahan emosi yang membuncah. Bagaimanapun juga Eunhyuk sudah ia anggap seperti hyungnya sendiri semenjak pertama kali mereka bertemu. Walaupun hanya terhitung beberapa hari saja mereka bertemu, Ryeowook sudah bisa merasa nyaman dengan Eunhyuk mengingat namja penyuka pisang itu mempunyai kepribadian yang riang dan easy going. Memikirkan itu, Tanpa Kyuhyun sadari Ryeowook mengepalkan tangan menahan amarahnya sampai buku-buku tangannya memutih.

'Eunhyuk hyung, iblis itukah— iblis itukah yang telah membunuhmu? Oh God, Sebenarnya apa hubunganmu dengan iblis itu Kyu? Apa benar kau juga terlibat seperti yang Heechul katakan?'

Batin Ryeowook menggeram marah. Kedua tangan yang mengepal itu bergetar antara takut sedih dan marah, seolah semua perasaan itu bercampur menjadi satu.

'Kupastikan kau juga akan membayar ini semua Kyu, jika sampai aku menemukan bukti kau terlibat didalamnya'

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Chap 10 update! Mian readerdeull semuanya kalo Updatenya lama..#Bow 900. Saya lagi sibuk sama skrepsong.. dan kemarin kena musibah kecelakaan sampe tangan kiri saya fraktur..hehe.. Doain aja ya biar skripsi saya lancar dan cepet sembuh jadi bisa tetep nulis. Haha..

Oke, terimaksih banyak buat yang udah Review di chap 9 kemarin.

Thanks to:

Semuanya yang udah ngerasa ngeriview kemaren...kira-kira ada 70 orang..hehe, mian ga bisa disebutin atu-atu, *kondisi tangan lagi ga mendukung. Pokoknya kalian LUAR BIASA...Tanpa riview kalian, I'm nothing...

Note:

Yang mau min cepet tau iblisnya, tar juga ada masanya..hehe

Yang tanya apa hub iblis sama hae? Oke, bocoran... ada hub masa lalu.

Yang tanya apa ada yang bisa menghilangkan kekuatan iblis itu? kasih tahu ga ya? Hihi... ada kok, tapi masih harus disimpen.

Oke, seperti biasa yang mau tanya-tanya tentang chapter ini bisa di kotak review.. kalau sempat jawaban di chap selanjutnya..

Yang ingin mengenal saya lebih lanjut bisa lewat PM saja.. okey?

Yang tanya akun FB, lewat PM aja yah?

Oke siip, Gimana chap 10?

Ommo! Benarkah Eunhyuk korban dari sang iblis? Siapa lagi korban selanjutnya? Apa yang akan dilakukan Ryeowook? Bagaimana dengan Sungmin?

Tunggu di chap selanjutnya yaa..

Tiada kesan tanpa adanya Review readerdeull sekalian..

Sampai jumpa di next chapter...

Saranghae yeorobuuunnn!

ThanKYU...!

Annyeong...!