It is all for the war.
Seokjin menunduk menatap tangan Namjoon yang berada di sisi tubuhnya. Dia sangat menyadari bahwa pertandingan kali ini tidak akan menjadi pertandingan biasa. Titan's Game selalu diawali dengan kecurangan-kecurangan kecil, tapi tidak pernah ada yang mencoba melakukan konfrontasi terang-terangan seperti apa yang terjadi pada Seokjin.
Namjoon benar, Seokjin membutuhkan bantuan untuk tetap hidup selama pertandingan. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terluka karena Seokjin tidak tahu apa yang akan terjadi apabila dia terluka parah dalam pertandingan.
Mungkinkah itu akan membuat Namjoon dinyatakan gugur? Ataukah Namjoon akan mendapat hukuman karena partnernya dinyatakan gagal?
Pertandingan kali ini penuh dengan sesuatu yang tidak pasti, semuanya ambigu, semuanya abu-abu. Mereka menetapkan peraturan baru dan semua orang tidak familiar terhadap pertandingan ini. Maka yang bisa dilakukan adalah bertahan, menjatuhkan lawan secepat mungkin dan segera berdiri di baris terdepan.
Seokjin mendongak menatap Namjoon yang masih berdiri di hadapannya, "Kau harus mengingat janjimu itu."
"Aku akan melakukannya."
"Kau harus menang," Seokjin berujar tegas, "Harus."
Namjoon mengangguk, "Aku mengerti."
Seokjin menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Kita harus pergi sekarang, semua orang memperhatikan kita." Seokjin tidak bodoh dan lupa bahwa mereka masih berdiri di koridor, tepat di depan lift khusus. Semua orang telah memperhatikan mereka sejak tadi, dan Seokjin tidak tahu apakah mereka mendengar pembicaraan mereka atau tidak, tapi mereka berada dalam jarak yang cukup jauh karena memang tidak ada yang berani berdekatan dengan Namjoon.
Namjoon melirik sekitar, "Aku sengaja melakukannya."
Seokjin menatap Namjoon dengan pandangan bingung.
"Ini semacam pernyataan untuk menyatakan bahwa rumor itu benar. Mereka sudah merumorkan kita sejak awal, aku hanya menyatakan kebenarannya." Namjoon menyeringai, "Dan sekarang mereka akan berpikir dua kali untuk sekedar mendatangimu."
"Jadi kau sengaja membuat ini terlihat seperti sebuah pernyataan terbuka bahwa kita memang menjalin hubungan?" Seokjin mendengus, "Sungguh cerdas, sekarang mereka akan menyebarkan ini ke seluruh penjuru akademi dan kita hanya perlu bersikap bahwa kita tidak tahu rumor telah menyebar, benar?"
Namjoon tersenyum miring, "Sudah kuduga kau memang pintar."
Seokjin mengeluarkan suara dengusan pelan, "Aku anak Athena, Tuan."
Namjoon mendekatkan wajahnya hingga hidungnya nyaris menyentuh hidung Seokjin, "Dan aku tahu kau masih menyembunyikan sesuatu di balik semua ekspresimu itu, Seokjin."
Seokjin mengerjap dengan gerakan cepat, "A-apa.."
"Athena adalah ahli strategi, kau pikir berapa kali semua orang mencoba meremehkannya yang terlihat tenang? Jutaan kali. Dan bagaimana hasilnya? Apakah mereka berhasil? Tidak sama sekali, mereka berakhir dengan mati dalam kubangan kekalahan yang menjijikkan karena kalah melawan Athena." Namjoon berjalan dan menekan panel lift khusus miliknya. "Tapi itu bagus, simpan semua itu dan gunakan di saat terakhir." Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Tidak ada yang boleh mengetahui kekuatanmu."
Seokjin mengerutkan dahinya, dia melangkah dengan cepat menghampiri Namjoon, "Kenapa? Aku.."
"Mengumbar kekuatanmu itu sama saja seperti membeberkan strategi kita." Pintu lift terbuka dan Namjoon melangkah masuk dengan diikuti Seokjin. "Dan kita tidak boleh melakukannya, mereka sudah mengenal kekuatanku, dan biarlah mereka mewaspadai itu." Namjoon melirik Seokjin, "Tapi kekuatanmu, sebaiknya kita gunakan ketika kita akan menghadapi mereka saat menuju final."
"Kenapa kau begitu percaya diri? Aku bisa saja menggunakan kekuatanku untuk melawanmu di babak final nanti."
Namjoon menatap Seokjin, sebelah alisnya terangkat dengan gaya tidak peduli. "Silakan saja, mari kita berikan mereka pertandingan final terbaik yang pernah ada."
Seokjin terperangah, dia kehilangan kata-katanya dan hanya mampu berdiri diam menatap Namjoon yang sudah melangkah keluar dari lift menuju living room khususnya.
Mungkin Namjoon memang tidak seperti yang diperkirakan oleh orang lain. Mereka semua memandang Namjoon sebagai seseorang yang mewarisi kekuatan Hades dan terlena karenanya.
Tapi Seokjin menyadari bahwa Namjoon jauh lebih hebat daripada itu.
Dan dia, benar-benar sosok demigod yang mengerikan.
Half-Olympians
.
.
A BTS fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
.
Warn!
BL, Demigod!AU. The Imity AU © Black Lunalite
Slightly Inspired by: Percy Jackson and The Olympians
.
.
NamJin, with TaeKook and another BTS Members.
.
.
.
Part 10 : Paper
Namjoon membukakan pintu kamarnya kemudian melepaskan jaketnya, "Tutup pintunya dan duduklah," ujarnya kemudian dia berjalan menuju kamar tidurnya, meninggalkan Seokjin yang baru saja melangkah masuk ke dalam.
Seokjin menuruti ucapan Namjoon, dia duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu dan mengeluarkan amplop berisi petunjuk itu kemudian meletakkannya di atas meja. Seokjin memperhatikan amplop itu dalam diam, kertasnya sudah menguning dan coklat di beberapa bagian, kertasnya juga agak lusuh, mungkin karena sudah lama.
Tapi, apakah mungkin petunjuk ini menggunakan kertas yang sudah lama? Bukankah ini adalah peraturan baru? Kenapa petunjuk ini sudah ada sejak lama jika dilihat dari lusuhnya kertas amplop itu?
"Kau mendapatkan petunjuk baru?" tanya Namjoon saat dia melihat Seokjin memperhatikan amplop yang dia letakkan di meja dengan begitu serius.
Seokjin mendongak menatap Namjoon, pria itu sudah mengganti pakaiannya menjadi memakai sebuah wife beater berwarna putih bersih dan celana katun longgar. "Ya, menurutku ini aneh."
Namjoon mengambil tempat di hadapan Seokjin, "Apa yang aneh?"
"Kertas ini," Seokjin mengambil amplopnya, "Terlihat tua, bukan?"
Namjoon memperhatikan amplop yang dipegang Seokjin, "Yah, itu terlihat tua di beberapa bagian," Namjoon mengerutkan dahinya, "Pinjam sebentar." Namjoon mengambil amplop itu dari tangan Seokjin dan memperhatikannya dengan serius, dia mengangkatnya ke arah cahaya dan membolak-balik amplop itu.
"Ini kertas baru," ujar Namjoon, "Kertas lama akan terlihat memiliki serat kasar di sekitarnya karena mereka belum memiliki mesin pembuat kertas yang canggih seperti sekarang. Tapi kertas ini mulus, hanya berwarna kekuningan dan coklat di sana-sini, serta lusuh."
"Kertas lama tidak akan terlihat kuning seperti itu,"
Namjoon tertegun, dia memperhatikan amplop di tangannya kemudian mengendusnya, Seokjin mengangkat sebelah alisnya saat melihat Namjoon mengendus kertas itu. "Kurasa mereka hanya membuat ini terlihat tua."
"Huh?"
"Tolong ambilkan kaca pembesar yang ada di laci bawah meja." ujar Namjoon.
Seokjin menurut dan menarik keluar sebuah kaca pembesar dari laci, Namjoon kembali meletakkan amplop surat itu dan mengamatinya dengan menggunakan kaca pembesar.
"Apa yang kau cari?" tanya Seokjin penasaran.
Namjoon masih memperhatikan tiap sisi amplop, "Jika memang ini kertas buatan, maka seharusnya kita akan menemukan bukti yang membuat kertas ini terlihat tua dan.." Namjoon berhenti kemudian dia menyeringai, "Ini memang dibuat, mereka menggunakan kopi untuk membuatnya menjadi seperti ini."
Dahi Seokjin berkerut, dia menunduk menatap sebuah objek kecil yang terlihat karena kaca pembesar. "Tunggu, apakah itu.."
"Ampas kopi. Mereka menggunakan kopi untuk membuat kertas ini terlihat tua. Caranya memang mudah, mereka hanya perlu merendamnya kemudian mematangkan kertas ini di oven sampai dia sedikit melengkung. Dan mereka lupa menyaring ampas kopinya sehingga ada sedikit yang menempel di kertas dan mengering saat kertas ini dibakar dalam oven." Namjoon meletakkan kaca pembesarnya, "Mereka membuat kertas ini terlihat tua agar menarik?"
Seokjin memiringkan kepalanya, "Kurasa bukan itu, untuk apa mereka repot-repot melakukan itu. Semua orang tahu ini peraturan baru, babak baru, untuk apa membuat kertas tua dengan menggunakan kopi? Merepotkan saja."
Namjoon mengangkat bahunya, "Nah mari kita lihat seperti apa petunjuk yang ditinggalkan untuk kita." Namjoon merobek bagian atas amplop itu dan menarik keluar kertas di dalamnya, dia membuka lipatan kertas dan tertegun. "Kertasnya kosong."
Seokjin membulatkan matanya dan merebut kertas itu dari tangan Namjoon.
Dan ternyata Namjoon benar, kertas itu hanyalah kertas polos tanpa setetes tinta pun di atasnya.
"Apa maksud dari semua ini?!" seru Seokjin frustasi.
.
.
.
Seokjin mengetuk-etuk sepatunya ke lantai dengan agak kesal, setelah mendapatkan jalan buntu dalam urusan petunjuk pertandingan pertama, Namjoon mengusulkan agar mereka pergi ke Atlas World dan mencari referensi untuk memecahkan petunjuk kertas kosong yang diberikan pada mereka.
Seokjin nyaris yakin itu percuma, petunjuk yang diberikan kepada mereka adalah sebuah kertas kosong, lantas apa? Kertas kosong tidak memiliki arti apapun selain tidak adanya petunjuk yang diberikan kepada mereka. Seokjin benar-benar kesal saat ini, Selena hanya mengatakan babak pertamanya jauh lebih mudah daripada apa yang diperkirakan.
Tapi apa?
Apa maksudnya memberikan petunjuk berupa kertas kosong?
Apakah itu berarti tidak ada babak penyisihan awal?
Tidak, itu tidak mungkin.
Seokjin menghela napas kasar dan dia mengucap syukur saat akhirnya Namjoon terlihat berjalan menghampirinya seraya berlari kecil.
"Maaf, kelasku dibubarkan agak lebih lambat daripada biasanya." Namjoon membetulkan posisi tali tas yang disandangnya di bahu.
Seokjin mengangguk tidak peduli dan berbalik untuk melangkah masuk ke dalam gedung perpustakaan terbesar itu. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kita cari di sini. Aku malas berpikir."
Namjoon tertawa kecil, "Tidakkah menurutmu kertas itu sendiri sudah mencurigakan? Mereka membuat kertas tua dengan menggunakan kopi dan meninggalkan sebuah kertas yang aku yakini bukan kertas HVS biasa, untuk apa? Itu petunjuk, Seokjin."
Seokjin menghela napas keras, "Ya, benar. Kurasa petunjuknya terletak di bahan pembuat kertas itu karena seperti yang kau bilang, itu bukan kertas HVS biasa."
Namjoon menghentikan langkahnya seraya menahan lengan Seokjin. Seokjin ikut berhenti dan berbalik menatap Namjoon, "Apa?"
Namjoon tersenyum miring, "Bahan pembuat kertas, ya benar. Kenapa tidak terpikirkan olehku semalam?"
"Hah?"
Namjoon berjalan cepat masuk ke dalam perpustakaan dengan Seokjin yang berlari kecil mengikuti langkah lebar Namjoon. Tubuh tinggi Namjoon bergerak-gerak menyusuri setiap rak tinggi khas perpustakaan mereka sementara Seokjin mengikuti langkah cepat Namjoon dengan sedikit bersusah payah.
Ketika akhirnya Namjoon berhenti berjalan, Seokjin menghembuskan napas lega seraya berusaha mengumpulkan napasnya kembali agar kembali normal. Namjoon menarik sebuah buku tebal kemudian memberikannya pada Seokjin.
Seokjin menerima buku yang disodorkan Namjoon dan membaca sampulnya, "Kertas dan sejarahnya?"
Namjoon mengangguk pelan, "Baca buku itu dan cari tahu soal bahan pembuat kertas, aku akan mencari buku-buku tua untuk membandingkan kertasnya dengan kertas yang diberikan pada kita." Namjoon berbalik dan menghilang di balik salah satu rak dengan cepat, meninggalkan Seokjin yang masih terpaku dengan sebuah buku tebal di tangannya.
Seokjin menunduk menatap buku di tangannya kemudian mengangkat bahunya, "Yah, tidak ada salahnya menambah pengetahuan baru." Seokjin berjalan menuju salah satu meja kemudian meletakkan tas dan buku itu di atas meja. Seokjin menarik napas dan mulai membuka buku itu, "Baiklah, mari kita cari tahu kertas apa itu sebenarnya."
Seokjin sibuk membaca buku itu entah untuk berapa menit selanjutnya, dia terlalu tenggelam ke dalam bacaan dan kalimat demi kalimat yang dia temukan di sana sehingga Seokjin tidak lagi peduli pada Namjoon yang masih belum kembali setelah mengatakan bahwa dia akan pergi mencari kertas yang sama seperti kertas yang mereka dapatkan di buku-buku tua.
Kepala Seokjin terus menunduk memperhatikan buku tebal yang sudah dibaca separuh olehnya. Sesekali Seokjin akan menuliskan beberapa informasi yang sekiranya akan dibutuhkan untuk mencari bahan asli yang menjadi bahan pembuat kertas petunjuk mereka dan sejauh ini catatannya sudah dipenuhi coretan di sana-sini.
Namjoon kembali bersama setumpuk map jenis clear holder dan meletakkannya begitu saja di atas meja, membuat Seokjin terlonjak karena suara debumannya.
Seokjin mendelik menatap Namjoon, "Apa ini?"
"Ini semua adalah salinan dokumen, aku tidak tahu apa maksudnya tapi semua kertas ini sama persis dengan kertas petunjuk kita. Mungkinkah kertas kecil kita adalah bagian dari dokumen-dokumen ini? Aku tidak mengerti."
Seokjin mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tahu, tapi aku menemukan banyak hal menarik dari buku yang kau berikan padaku." Seokjin menggeser catatannya ke arah Namjoon, "Kertas awalnya terbuat dari kayu pohon papirus, pinus, dan murbei. Kemudian beberapa orang juga membuat kertas dengan menggunakan kulit binatang yang dikeringkan. Itu adalah beberapa bahan utama kertas, tapi jika melihat dari kertas petunjuk kita yang memiliki serat panjang, kurasa itu kertas dari kayu, bukan kulit binatang."
"Ya, kulit binatang elastis dan pastinya lebih licin, tidak kasar." Namjoon mengangguk, "Lanjutkan."
"Beberapa kayu juga perlu mendapatkan perlakuan khusus sebelum digunakan sebagai bahan baku kertas. Misalnya, dahan muda pohon murbei perlu direbus terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku. Lalu.."
"Tunggu," sela Namjoon.
Seokjin berhenti dan menatap Namjoon, "Kenapa?"
"Kau bilang dahan muda pohon murbei perlu direbus terlebih dahulu sebelum dijadikan bahan pembuat kertas?"
Seokjin mengangguk, "Ya, kenapa?"
"Mereka juga perlu merebus kopi terlebih dahulu untuk membuat amplop terlihat tua."
Seokjin tertegun, dia segera meraih buku tebal di sebelahnya dan membolak-balik halamannya dengan gerakan super cepat dan setelahnya dia mengeluarkan pekikan tertahan. "Mana kertas petunjuk kita?"
Namjoon mengeluarkan amplop beserta kertas petunjuk mereka dan memberikannya kepada Seokjin. Seokjin menyambar amplop itu dengan cepat kemudian memperhatikan kertas petunjuk mereka dengan teliti.
Seokjin mendongak menatap Namjoon, "Kau bilang kertas kita sama seperti kertas-kertas dari dokumen lama itu, kan?"
Namjoon mengangguk, "Ya, kenapa?"
Seokjin tersenyum sangat lebar, "Ini kertas pohon murbei!" jeritnya tertahan.
"Kau yakin?" tanya Namjoon.
Seokjin mengangguk-angguk semangat, "Positif!" Seokjin menggeser bukunya ke arah Namjoon, "Lihat di sini, 'kertas pohon murbei yang biasanya disebut sebagai kertas kokushi adalah kertas yang terbuat dari serat kulit dahan muda pohon murbei. Tekstur permukaannya halus, agak sedikit kasar, dan memiliki serat yang panjang sehingga awet dan umumnya digunakan sebagai kertas untuk dokumen resmi.'" Seokjin berhenti membacakan kalimat itu kemudian kembali menatap Namjoon dengan mata berbinar, "Ini benar-benar kertas pohon murbei!"
Namjoon tertawa kecil, "Bagus sekali, Seokjin! Tapi, kenapa kertas pohon murbei? Jika mereka ingin menggunakan kertas yang terkesan tua, seharusnya mereka menggunakan kertas dari pohon papirus."
"Ya, kenapa pohon murbei atau mulberry? Kenapa harus pohon itu?"
Namjoon mengerutkan dahinya seraya memperhatikan kertas petunjuk dan amplopnya yang diletakkan bersebelahan. Dia berpikir cukup lama kemudian tiba-tiba saja sesuatu melintas di pikirannya, Namjoon menjentikkan jarinya dengan suara cukup keras.
Seokjin mendelik karena suara berisik yang ditimbulkan oleh Namjoon, "Kau bisa membuat kita berdua diusir dari sini!" desisnya kesal.
Namjoon mengibaskan tangannya tidak peduli, "Dengar, kurasa aku tahu kenapa petunjuk kita adalah kertas baru yang sengaja dibuat menjadi terlihat tua dengan rebusan kopi dan juga kenapa kertas petunjuk kita adalah kertas dari pohon murbei."
Seokjin mendekatkan kepalanya ke arah Namjoon, "Kenapa?"
Namjoon terkekeh saat melihat mata Seokjin yang membulat besar karena penasaran, "Yah, menurutku itu karena.."
.
.
.
Sementara itu tanpa disadari oleh Namjoon dan Seokjin, seseorang sejak tadi memperhatikan mereka dari balik salah satu rak buku yang tinggi besar. Sosok itu, Jimin, berdiri diam di sana dengan sebuah buku yang terbuka di tangannya dan posisinya yang bersandar rak buku.
"Hei, Jimin, mengawasi mereka lagi, eh?"
Jimin menoleh dan melihat Taehyung berjalan menghampirinya dengan gaya berjalannya yang santai seperti biasa. Jimin hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Taehyung.
Taehyung berdiri di sebelah Jimin seraya memperhatikan Namjoon dan Seokjin yang sedang berbicara serius dengan berbisik-bisik di meja mereka. "Jadi, kapan kau akan menjatuhkan sang putra Athena?"
"Secepatnya, Taehyung. Aku hanya perlu menunggu pertandingan yang meminta kita melibatkan senjata, karena hanya disaat itu saja aku bisa membunuh dia dengan cara yang 'legal'."
Taehyung terkekeh pelan, "Aku akan membantumu, Jim. Selalu."
Jimin menoleh ke arah Taehyung dan tersenyum kecil, "Terima kasih,"
Taehyung menepuk bahu Jimin dengan senyum tipis di wajahnya. "Apapun untukmu, teman."
To Be Continued
.
.
Yes, saya kembali dengan teka-teki baru.
Ya mari silakan ditebak kenapa petunjuknya adalah amplop yang sengaja dibikin biar keliatan tua pake rebusan kopi dan kertas petunjuknya adalah kertas pohon murbei atau mulberry. Heheheu.
Teka-teki ini sedikit lebih rumit daripada teka-teki sebelumnya yang soal cinta pertama para dewa ya? Tapi, ceritanya akan semakin seru kalo teka-tekinya makin rumit kan? Hehehe
.
.
.
Ditunggu tanggapannya dan jawaban teka-tekinya ya. Hehehe ^^v
