Malory menerima uluran gelas dari peri rumah yang terlihat ramah itu. Matanya berbinar bahagia. Dan beberapa kali ia mendapati peri rumah itu menggumam "It's long time and you come back".

Pria yang mengenalkan dirinya sebagai Dumbledore tadi sudah meninggalkan ruangan tempat dirinya berbaring. Ia menyuruh peri rumah yang bernama Carol itu untuk membawakan Malory makanan dan pakaian bersih.

"Sudah berapa lama aku disini?", tanya Malory ketika peri rumah itu membantunya mengganti pakaian. Tubuhnya masih terasa lemas. Dan ia bersumpah tidak bisa menggerakkan kedua kakinya seolah itu hanya gumpalan jeli dan bukannya kaki.

"Terlalu lama, young Lady", jawab Carol dengan senyum ramah yang kembali menghiasai wajahnya.

"Sebenarnya aku ada dimana? Dan kenapa aku disini?",

"Anda berada di rumah Tuanku Aberforth Dumbledore. Secepatnya kami akan mengirim anda ke St. Mungo. Anda butuh perawatan yang lebih baik dari yang bisa kami berikan di tempat ini".

Setelah membantu menyuapi Malory, Carol segera keluar ruangan.

Flash Back On

James dengan tubuh bergetar membawa gadis itu menuju tempat kediaman Dumbledore. Saat tiba ditempat yang ia tuju, tubuhnya sudah lemas menahan kecemasan yang teramat sangat.

"Oh, James. Apa yang kau lakukan?", Aberforth menatap James dengan mata terbelalak.

James meraih tubuh gadis yang tengah melayang. Ia mendekapnya erat-erat. Isak tangis menggema di dalam ruangan.

"Aku.. aku... tidak sengaja".

Tangisnya kembali pecah. Aberforth memisahkan tubuh gadis itu dari dekapan James. Ia memanggil Carol yang dengan segera menghampiri mereka.

"Tolong bersihkan gadis ini. Aku akan segera membuatkan ia ramuan", Carol mengangguk mantap. Dengan cekatan ia meraih Malory dan membawanya ke kamar.

"Oh James", Aberforth kembali mengerang. "Katakan bukan kau yang melakukannya".

James mengangguk perlahan kemudian menggeleng. Aberforth ikut merasa frustasi.

"Jelaskan semuanya, supaya aku bisa membantumu".

James menggeleng sambil mendekap tubuhnya.

Aberforth mengangkat tangan kirinya yang memegang tongkat sihir.

"Expecto Patronum, katakan pada Neville kami membutuhkannya", cahaya yang berpendar dari ujung tongkat Aberforth berbentuk elang yang segera melesat menyampaikan pesannya pada Profesor Longbottom.

Tak butuh waktu lama Profesor Longbottom tiba. Ia mengernyit heran dengan pemandangan yang ada di depannya.

"Hai... er.. apa aku melewatkan sesuatu?", sapa Neville ketika dia melihat James yang terisak.

Aberforth menggeleng.

"Kecuali bagian seseorang yang sedang terbaring dikamar", sahutnya. "Aku akan memeriksa gadis itu dulu. Kau tangani yang ini".

Masih dengan raut bingung akhirnya Neville melangkah perlahan mendekati James.

"Hai, Jamie", sapanya. "Apa yang terjadi?".

James masih terdiam sambil mengusap hidungnya.

"Oh, Sobat. Kalau kau tidak memberitahuku, aku bisa pastikan jika ini akan menjadi masalah besar",

"Aku menemukan Malory di dasar tebing, terkubur tumpukan salju".

Neville terbelalak. "Apa? Apa dia baik-baik saja?".

James menggeleng. "Tubuhnya babak belur".

"Kau tau sesuatu kan?", tanya Neville penuh selidik.

Tebakannya benar. James tahu sesuatu. Tapi pemuda itu mencoba membungkam mulutnya.

"James", panggil Neville ketika James tak menjawab pertanyaannya.

"James, dengar. Apapun masalahmu kau harus berbagi denganku. Aku akan membantumu sebisaku. Kau percaya kan?", bujuknya.

"Aku percaya. Tapi ini...",

Suara langkah kaki yang mendekat memotong kata-katanya.

"Bagaimana?", tanya Neville sambil mendongak menatap Aberforth.

Pria berjanggut panjang itu hanya menggeleng pelan.

"Luka ditubuh tidak seberapa. Beberapa hari lagi mungkin bisa pulih", ujar pria itu dengan suara rendahnya yang agak parau. "Well, tapi kita punya masalah. Masalah yang sangat besar. Gadis itu sedang berkelana".

Neville dan James saling bertatapan. Bingung. Apa lagi yang menjelaskan tatapan mereka?

"Tolong jelaskan", ujar Neville.

"Gadis itu mengalami sebuah trauma yang membuatnya hilang kesadaran. Mungkin dalam waktu yang cukup lama. Aku mencoba membantunya. Tapi sepertinya dia sedang berkelana. Aku mengirim beberapa impian yang membuatnya sadar. Tapi daya tarik alam bawah sadarnya lebih besar daripada yang bisa kulakukan. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya menunggu".

"Apa sebaiknya kita membawanya ke St. Mungo?", tanya James ragu.

Aberforth menggeleng. "Tak banyak yang bisa mereka lakukan. Ini murni daya magis alam bawah sadar gadis itu. Dia pasti akan kembali tapi kita tak bisa memastikan kapan".

"Jadi, bagaimana sebenarnya ini semua bisa terjadi? Sekali lagi kutegaskan. Kau harus jujur jika tidak ingin terkena masalah yang lebih besar".

James mengangguk.

"Aku memegang peta ini. Dan melihat nama Malory dihalaman belakang Hogwarts. Aku mencoba menemuinya. Namun dia tak nampak dimanapun. Akhirnya aku memakai mantra pemanggil dan dia muncul dari dasar jurang di bawah tebing", Neville dan Aberforth menarik napas panjang setelah James selesai menceritakan kejadiannya.

"Baiklah. Tapi bisa kau jelaskan tanda cekikan disekitar lehernya?", Aberforth menatap James tajam. Ia tidak percaya James melakukan hal tersebut. Tapi siapa yang tau?

"Aku... aku tidak melakukannya", jawab James ragu.

"Kau tak akan membawanya kemari jika tidak melakukannya. Kau pasti akan membawanya ke Hospital wings jika kejadian ini tak ada hubungannya denganmu", cecar Neville.

James terdiam dan memutar otak. Sesaat kemudian akhirnya dia menjawab.

"Aku tak melakukannya. Dan aku tak yakin siapa yang mencoba mencelakainya. Aku yakin Malory mempunyai semua jawaban yang kalian tanyakan. Jika aku membawanya ke Hospital Wings, adakah jaminan orang itu tidak akan mencoba melukainya kembali? Atau bahkan membunuhnya untuk tutup mulut?", Neville dan Aberforth terdiam sambil mencoba memahami kata-kata James.

"Sir, anda lihat bagaimana keadaan Malory tadi? Saya membungkusnya dengan jubah. Anda bisa bertanya pada Carol bagaimana keadaan pakaian yang ia kenakan. Seseorang mungkin mencoba memperkosanya. Dibagian depan seragamnya depannya tampak terkoyak dengan disengaja. Saya berpikir membawanya kemari adalah hal terbaik karena bisa membuatnya terhindar dari kematian. Untuk yang kedua kali, tentunya".

Neville mengangguk. "Jadi apa yang kau rencanakan selanjutnya?".

"Aku minta kalian menjaganya. Tolong rahasiakan keberadaannya hingga dia sadar. Sampai saat itu tiba akupun tak akan menemuinya. Biar dia yang menjelaskan semuanya. Jika kalian meragukanku, aku tak akan pergi jauh. Sekalipun aku pergi kalian pasti akan menemukan kedua orangtuaku",

"Jadi ini solusi yang kau rencanakan?", tanya Aberforth sambil mengusap janggutnya.

James hanya mengangguk.

"Bagaimana?", tanya Aberforth meminta pendapat Neville.

"Kurasa sebaiknya begitu".

-Malory Malfoy-

Keesokkan harinya Hogwarts heboh, khususnya asrama Slyterin. Kabar Malory Malfoy menghilang menyeruak. Dan tak ada satu orangpun yang tau. Norah dan Ken tampak cemas. Begitupula dengan Al.

James geram. Kenapa adiknya itu malah berpura-pura? Benarkah Al yang melakukannya? Atau mungkin orang lain?

Al adalah orang terakhir yang berjumpa dengan Malory sepengetahuan mereka. Tapi benarkah itu Al?

James meruntuki ketololannya. Ia tak bisa menyalahkan Al begitu saja tanpa bukti. Dia tidak memandangi peta perampok itu terus menerus ketika kejadian itu berlangsung. Ia hanya melihat Al dan Malory bersama. Setelah beberapa lama ia hanya melihat nama Malory.

Bukti Al menyakiti Malory tidak ada. Bukti orang lain menghampiri Malory ketika Al meninggalkannya juga tidak ada. James hanya tau setelah kejadian itu. Andai harus ada yang disalahkan itu adalah salah James. Karena James tak cukup baik menjaga keduanya.

Norah, Ken, Al dan James dipanggil ke ruang kepala sekolah. Nampak Profesor Slughorn yang sedang duduk di sofa panjang menanti mereka.

"Terima kasih sudah datang. Silahkan duduk di depan Profesor Slughon, please", sapa Profesor Mcgonagall selaku kepala sekolah mempersilahkan keempat muridnya duduk di sofa panjang depan Profesor Slughorn.

Mereka duduk dengan patuh. Norah meremas jemarinya dengan gugup ketika mereka diminta meminum veritaserum.

"Baiklah", ucap Profesor Mcgonagall memulai kalimatnya. "Aku ingin kalian meminum veritaserum. Sebagaimana kalian ketahui, Malory Malfoy menghilang sejak semalam. Kalian adalah orang-orang terakhir yang terlihat bersama dengan Malory. Dan juga sebagai orang terdekatnya. Kemungkinan besar kami akan menanyai satu persatu teman-teman kalian. Tapi kami akan memulai dengan kalian yang paling dekat dengannya. Kerjasama kalian akan sangat kami hargai mengingat Malory adalah salah satu putri dari para pahlawan dunia sihir".

Mereka mengangguk paham dan mulai meminum veritaserumnya. Ken sedikit bergidik mengecap rasa veritaserum yang agak kelu di lidah.

"Terima kasih", ucap Profesor Mcgonagall ketika keempat anak itu selesai meneguk ramuan veritaserum yang disediakan profesor Slughorn.

"Baiklah, saya akan bertanya beberapa pertanyaan yang sama dan harus kalian jawab secara bergantian", ujar sang Kepala Sekolah. "Kapan terakhir kali kalian bertemu dengan Malory?".

"Makan malam di Great Hall", jawab Ken yang duduk paling ujung.

"Belakang Hogwarts, sekitar 10 menit setelah makan malam", jawab Al.

"Makan malam di Great Hall", jawab Norah.

"Makan malam di Great Hall", jawab James.

Atensi mereka semua mengarah pada Al. Ya, Al adalah orang terakhir diruangan itu yang bertemu dengan Malory.

"Baiklah Albus, bisa kau ceritakan apa yang kalian lakukan di belakang Hogwarts?", selidik Mcgonagall.

"Hubungan kami sedang tidak baik akhir-akhir ini. Dan saya ingin meminta maaf", jawab Al dengan raut wajah sulit ditebak.

"Dibelakang Hogwarts? Ketika musim salju? Bisa katakan kenapa?", cecar Slughorn yang menarik atensi semua orang diruangan itu.

"Malory yang memilih tempatnya. Saya tak bisa mengatakan alasannya mengapa karena saya sendiri tidak tau", sahut Al dengan tenang.

"Kapan kau kembali ke dalam dan apakah Malory mengikutimu?", tanya Mcgonagall yang berjalan mendekat setelah sedari tadi duduk dikursinya.

"Saya kembali setelah dia mengatakan telah memaafkan saya. Dan kami kembali bersahabat. Saya kembali sesaat setelah angin besar bertiup tanda badai salju datang. Malory menolak kembali. Dia berkata ingin berada disana sebentar. Sepertinya dia ingin menemui seseorang", kembali Al menceritakan peristiwa itu dengan tenang.

"Dan kau tau siapa yang hendak ditemuinya?", Al menggelengkan kepala menjawab pertanyaan kepala sekolahnya.

"Baiklah, adakah diantara kalian yang berasumsi siapa orang yang hendak Malory temui?",

Norah reflek menoleh ke arah James.

"James?", tanya Mcgonagall penuh selidik.

"Tidak. Saya tidak menemuinya atau berjanji bertemu dengannya semalam. Kami sedang bertengkar. Pertengkaran kecil. Kalian tau, masalah percintaan remaja", James menjelaskan dengan pipi bersemu merah.

Al tampak sedikit gusar. Tangannya terkepal. Kejadian itu tak luput dari perhatian Profesor Slughorn.

"Apa kalian lihat ada yang aneh dengan Malory akhir-akhir ini?", Al dan Norah mengangguk bersamaan menanggapi pertanyaan Profesor Slughorn.

"Ia bersikap aneh semenjak dekat dengan James. Mungkin efek jatuh cinta atau bagaimana. Hanya saja dia jadi berbeda", pernyataan Norah membuat James menatapnya dengan terbelalak. James tak percaya Norah akan berkata seperti itu.

"Ya, saya juga berpendapat demikian. Hubungan kami renggang sejak dia dekat dengan James. Dia menghindari saya dan menganggap saya orang asing. Itu aneh mengingat kami adalah sahabat", lagi-lagi James dibuat terkejut. Kali ini oleh pernyataan adiknya. Adiknya sendiri. Oh sial.

"Dan kau...?", Profesor Slughorn mengendik ke arah Ken, meminta pendapatnya.

"Saya rasa Malory baik-baik saja. Meskipun agak muram dibeberapa kesempatan. Tapi dia lumayan normal. Itu menurut saya karena saya tidak bergaul secara langsung. Anda tau asrama kami berbeda. Dan pelajaran yang kami ambilpun berbeda waktu juga", jawab Ken memilih bersikap netral.

Kini semua pandangan mengarah ke James. Mereka menanti sanggahan atau pendapat dari James.

"Saya tak tau jika Malory menjadi berbeda dengan kehadiran saya disisinya. Selama ini yang saya tau dia baik-baik saja. Tetap ceria meskipun sedikit gusar karena gaun yang dijanjikan kakaknya tidak kunjung datang. Dia sempat bercerita tentang hubungannya dengan Al. Dan memang dia mengaku tidak baik-baik saja. Dia berkata Al tidak suka saya berdekatan dengan Malory. Apalagi ketika Malory menerima saya menjadi partner dansanya minggu ini. Hanya itu yang saya tau," James melanjutkan ceritanya.

"Dan tentang pertengkarannya dengan saya, sebenarnya ini hal yang cukup memalukan untuk diceritakan. Tapi karena saya merasa disudutkan disini, maka saya akan ceritakan. Saya dan Malory bisa dibilang sangat dekat. Melebihi seorang teman biasa. Anda bisa menyimpulkan sendiri bagaimana hubungan kami. Dan tiap kali kami bertemu, kami berciuman. Siang itu kami bertemu kembali. Lalu saya sampaikan pada Malory bahwa saya akan menciumnya ketika dia sudah lulus dan kami siap menikah. Tapi dia merajuk. Dan begitulah kejadiannya".

James membual. Hal yang sebenarnya mustahil dilakukan ketika seseorang meneguk veritaserum. Tapi James adalah satu dari beberapa penyihir yang menguasai ilmu Occlumency. Ilmu pertahanan diri dari Legillimency dan ramuan Veritaserum. James sendiri tak yakin apakah Al juga mampu melakukan hal itu.

James tak pernah ingat kapan ia mempelajari ilmu Occlumency. Jelas bukan hal yang muncul begitu saja. Ia hanya tidak ingat. Reflek tubuh dan pikirannya yang membuat kemampuan itu langsung bekerja.

"Untuk sementara kalian bisa kembali ke asrama masing-masing. Kami tetap akan membutuhkan kalian untuk memberi informasi apapun yang kalian miliki untuk menemukan Malory. Kami akan segera menghubungi kedua orang tuanya. Terima kasih telah menjawab dengan baik. Saya yakin kalian tidak akan berbohong bukan?", mereka berempat menggeleng bersamaan.

Setelah dipersilahkan keluar mereka segera berjalan cepat menuju pintu keluar.

Norah ingin bertanya pada James dan Al. Tapi entahlah sepertinya mereka berdua tidak dalam keadaan baik-baik saja. Baik Al maupun James saling bertatapan dengan dingin. Jika seperti ini mereka sangat mirip. Benar-benar saudara bukan?

James berjalan cepat menghindari panggilan Norah. Gadis itu sudah memberikan tanda-tanda hendak menginterogasinya. Tapi James sama sekali tak siap. Ia harus bertemu dengan Profesor Neville secepatnya.

Neville Longbottom resmi menjadi salah sati Profesor di Hogwars setelah menjalani study lanjutannya di Akedemi Sihir selama 2 tahun. Dan saat ini ia menjabat sebagai guru Herbologi menggantikan Profesor Pomona Sprout yang memilih pensiun dini. Ia juga menggantikan posisinya sebagai kepala asrama Huffelpuff meskipun ia seorang Gryfindor. Dan Huffelpuff tak bisa lebih bangga lagi dikepalai salah seorang pahlawan dunia sihir selain Trio Golden Hogwarts yang terkenal.

James tiba sesaat setelah kelas Herbologi murid Ravenclaw tahun kedua selesai. Ia menemui Profesor Longbottom, sekaligus ayah baptisnya, dirumah kaca.

Neville yakin ada sesuatu yang buruk ketika melihat anak baptisnya berjalan cepat dan mendekat ke arahnya.

"Aku butuh bantuan", katanya dengan satu tarikan napas.

"Katakan", sahut Neville.

"Tolong berikan mantera penghilang ingatan. Mereka akan melakukan apa saja untuk menemukan Malory. Dan mereka sudah mencurigaiku. Semuanya. Semua orang. Jika keberadaan Malory diketahui banyak orang, anda tau apa yang akan terjadi setelahnya. Dia tidak akan aman", ujar James dengan nada panik dan cemas.

"Dengan begitu kau juga tak akan tau dia ada dimana?", selidik Neville.

"Ya. Tapi anda tau. Dan aku percaya anda dan Tuan Aberforth akan menjaganya dengan baik. Hingga ia sadar",

"Apa kau mencurigai seseorang?", James mengangguk cepat.

"Ya. Dan dia curiga aku mengetahuinya. Sebelum dia mulai mencari cara melenyapkan Malory, kita hilangkan dia dulu dari pikiranku. Anda harus meminta tolong Tuan Aberforth untuk menghapus ingatan anda juga. Karena saya yakin situasinya tidak akan aman untuk kita",

Neville menggeleng perlahan. "Aku bisa menjaga pikiranku. Kau jangan khawatir tentang itu. Lagipula, harus ada yang mengawasi suasana disini. Baiklah, bersiaplah".

Neville mengangkat tongkatnya dan mengarahkan ke arah James. "Obliviate".

-Malory Malfoy-

"Aaaarghh...", seseorang menjerit dengan keras. James reflek menutup telinganya. Ah wanita. Sudah cukup sering James mendengar para wanita berteriak. Khususnya dirumahnya. Lily dan Momnya sangat sering berteriak. Momnya, karena James sering mengabaikan panggilannya. Sedang Lily, ketika James menjahilinya.

Ngomong-ngomong dia baru sadar. Ini bukan kamarnya. Badannya terasa pegal. Dan juga... well bau apa ini? Apek.

Seseorang menarik pintu dengan keras membuat James reflek menutupi matanya dengan tangan. Suara grusak keras membuatnya tersadar penuh.

"Sedang apa kau disini?", suara parau khas Filch terdengar. Well, sepertinya dia dalam masalah. Tapi yah... benar. Kenapa dia ada disini? Ini... hmm... ruang penyimpanan sapu. Pantas saja apek.

James hanya menggeleng sambil mengedikkan bahu. "Aku tak ingat".

James masih agak linglung dan meresa pening ketika ia dipaksa berjalan menuju ruang kepala sekolah. Ia tidak paham kenapa Filch begitu semangat membawanya kesana dan bukannya memberi James detensi.

"Seseorang menghapus ingatannya", guman Hermione ketika ia mencoba melegillimens James.

James sendiri terkejut melihat kedua orang tua Malory berada diruang kepala sekolah. Ia tak tau ada masalah apa sampai Profesor Mcgonagall menjelaskan kejadian yang menimpa Malory.

Malory?

Sepertinya James kenal. Tapi kepalanya masih linglung dan sulit diajak berpikir normal.

"Kemarin kau berada disini dan kami mengintrograsimu. Apa kau ingat?",

James menggeleng menanggapi pertanyaan kepala sekolahnya. Ia benar-benar lupa dengan apa yang terjadi.

"Baiklah, apa yang kau ingat?", cecar Mcgonagall.

"Aku James. Sekarang tahun ketujuhku. Dan beberapa pelajaran. Beberapa teman. Aku ingat mereka tapi hm... wajahnya. Aku tau wajah mereka", jawab James gamang.

"Dia membutuhkan perawatan sepertinya", ujar Hermione.

"Dia bersalah. Kau dengar apa yang Profesor Slughorn dan Profesor Mcginagall ceritakan tadi bukan?", Draco menggeram. Ia gemas istrinya masih sempat mengkhawatirkan bocah yang mencelakai putri mereka.

"Kita tak punya bukti, Drake. Kita sudah memberinya veritaserum, legillimens, apa lagi yang kau butuhkan?", sanggah Hermione. "Kau lihat? Seseorang juga hendak mencelakainya. Ingatannya hilang. Dia sedikit mengalami shock di otaknya. Dia butuh perawatan".

Profesor Mcgonagall setuju. James diantar ke Hospital Wings. Sementara pencarian Malory tetap dilanjutkan. Kali ini dengan bantuan kementrian dan Auror.

-Malory Malfoy-

"Drake, apa kau ingat sesuatu?", Draco mendongak menatap wajah istrinya yang sedang berbaring disebelahnya.

"Malory, dia istimewa. Ketika kecil kita sempat melihat pikirannya bukan? Dari masa depan? Apa kau bisa menarik kesimpulan yang sama?".

Draco menegakkan tubuhnya dan terduduk. Ia ingat. Sangat ingat bagaimana beberapa tahun yang lalu mereka sering mengobliviate putrinya. Mereka sempat bertanya pada beberapa orang. Pendapat mereka sama. Sesuatu terjadi dimasa depan membuat gadisnya kembali ke masa lalu.

Tubuhnya tiba-tiba menggigil. Jika benar demikian maka...

"Kita butuh bantuan Harry. Dia sedang membuat kembali Time Turner yang rancangannya telah dihancurkan bertahun-tahun yang lalu sebelum perang dimulai", ujar Hermione menjajari suaminya yang termenung.

"Kita harus mencoba semua cara Drake",

"Tapi, andai itu berhasil, apa yang bisa ia lakukan? Kita tak bisa membawanya kembali dalam tubuh anak-anaknya. Mssa lalu akan berubah dan kita tak bisa menebak apa yang akan terjadi kemudian", gumam Draco dengan gusar.

"Kita bisa bertanya apa yang terjadi dengannya. Dan apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya",

Flash Back Off

TBC