Cliche Case!

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Typos, OOC, and many more

...

Hinata's

Bagiku berada di dalam mobil mewah bersama dengan lelaki yang berstatus suamiku itu adalah neraka. Bagaimana tidak, raut wajahnya menyiratkan kemarahan, tatapannya bahkan menajam saat memandangku. Memangnya aku salah apa? Oke, maafkan aku karena tidak peka. Tetapi sungguh, aku tak tahu kesalahanku apa. Yang ada dia malah datang ke kantin dengan aura kemarahan dan menarikku menuju ke parkiran, tak sadarkah dia bahwa kami sempat menjadi tontonan?

Aku heran bagaimana dia mengetahui diriku sedang berada di kantin dan juga berada di sekolah. Mungkin aku melupakan akan kepemilikan sekolah yang ternyata adalah miliknya, tentu dia bisa saja berada di sekolah kan?

Hatiku berdegup cepat. Bukan, bukan karena aku sedang berduaan di dalam mobil seperti gugup bersama gebetannya. Itu karena mobil ini berpacu cepat membelah jalanan, tak peduli akan umpatan-umpatan yang dilayangkan pengendara lain. Aku pun melirik spedometernya. Astaga, bola mataku seakan mau keluar saat melihat jarum yang menunjukan kecepatan mobil ini.

200 km/h.

Bayangkan seberapa kencangnya bentley ini berpacu? Mungkin dulunya ia pembalap. Aku menggenggam seatbelt yang terpasang di tubuhku dengan kencang, tak lupa memejamkan mataku. Aku berdo'a semoga ada polisi yang menilang mobil ini sehingga bisa menghentikan aksi gilanya ini. rasanya aku ingin berteriak padanya, tetapi lidahku kelu saat melihat raut wajahnya yang seram karena marah.

"To-tolong pelankan kecepatannya," cicitku. Rasanya aku ingin tertawa karena mungkin cicitanku seperti tikus yang terjepit di jebakannya. Kemudian aku merasakan mobil ini berjalan pelan, dan mendengar helaan napas darinya. Aku melirik spedometernya, sekedar mengintip apa yang terjadi. Kecepatannya kembali normal,. Syukurlah.

Ia pun menepikan mobilnya di sisi jalan sebelah kiri, kemudian menatapku. Tubuhnya dicondongkan ke arahku, sehingga aku harus memundurkan tubuhku hingga terpojok oleh kaca mobil. Aku hanya menunduk saat wajahnya berada dihadapanku.

"Tataplah aku." Dia mengangkat daguku sehingga aku dapat menatap manik berwarna biru lautnya itu. Kini aku dapat merasakan napasnya yang hangat menerpa wajahku. Pipiku ditangkup oleh kedua tangannya, ia menyelipkan rambutku ke telinga. Astaga, jantungku mendadak menjadi olahraga begini.

Pipi kananku diusap menggunakan jempolnya, kemudian aku merasakan dahiku hangat. Dia mengecup dahiku!

"Kau tahu? aku benci melihatmu bersama lelaki lain..." ucapnya dengan suara purau. Aku hanya bisa mengerjapkan mataku. "Apa maksudmu?" ucapku. Kulihat ia menghela napas lalu sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Jangan bilang ini..

Aku memegang pundaknya berusaha untuk melepas ciuman ini, tetapi karena hukum alam yaitu tenaga seorang lelaki dari seorang perempuan lebih besar jadi aku hanya bisa pasrah. Awalnya ia hanya mengecup saja, tetapi kemudian ia memagut bibirku. Aku tak berpengalaman untuk hal seperti ini. aku berharap ada seseorang dari luar yang menghentikan ini.

Drrt drrt.

Deringan ponsel Naruto menghentikan kegiatannya, dia hanya mengumpat dan tetap mengangkat ponselnya. Sementara aku... entahlah, aku hanya bisa memegang bibirku dan membeku. Rasanya tubuhku seakan tersengat listrik, bibirnya...

HINATA KENAPA KAU MESUM!

Tidak, tidak, tidak. Rasanya aneh jika aku berpikiran seperti itu. Tapi itu adalah ciuman pertamaku, my first kiss was stolen by my husbanb...

...

Udara panas yang membuatku mau tak mau harus memakai kemeja putih dengan lengan pendek ini seakan masih belum cukup untuk mengurangi udara panas yang menerpa tubuhku ini. Ya, sekarang sudah memasuki musim panas. Tentu saja yang paling dinanti-nantikan oleh siswa-siswi Konoha High adalah kemah musim panas yang diadakan selama tiga hari di minggu kedua musim panas.

Aku akan mengesahkan liburan musim panas di auditorium nanti. Seharusnya ini adalah tugas kepala sekolah, tetapi mereka berkata kalau aku adalah istri dari pemilik sekolah ini maka akulah yang mengumumkannya, entah apa yang mereka pikirkan, aku tak tahu.

Untuk perkemahan nanti para murid harus membawa peralatan masing-masing, dan beruntungnya mereka karena di malam terakhir perkemahan ada acara semacam konser yang diisi oleh band terkenal dan juga acara unjuk bakat yang membebaskan seluruh murid untuk unjuk gigi. dan juga sehabis dari sekolah ini aku harus mengevaluasi tempat kemah.

Dan juga masalah ciuman dan suamiku yang entah kenapa marah itu sampai sekarang ini hubungan kami berdua sedang lengang, walaupun hanya saling memperhatikan dan sekedar menyapa, tetapi rasa canggung meliputi kami berdua selama seminggu ini.

Aku berjalan menuju ke perpustakaan karena disana ada AC-nya, sebenarnya sih aku hanya ingin ngadem saja. Saat memasuki pintu perpustakaan, aku disambut oleh penjaga perpustakaan yang aku balas dengan senyuman. Lalu aku menuju ke rak buku bagian kumpulan biografi. Aku bingung ingin memilih siapa, dengan secara acak pun aku mengambil salah satu tokoh yang mempunyai peran besar di bidang teknologi, Bill Gates. Aku pun mengambil tempat duduk favoritku, di pojok perpustakaan dekat kaca.

Aku kagum padanya walaupun ia drop out dari Harvard, universitas yang aku dambakan, karena ia terlalu fokus pada komputer tetapi ia terus mengembangkan bakatnya sehingga ia menjadi seorang Bill Gates yang sekarang terkenal akan kekayaan dan kejeniusannya. Bagiku, kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Kita juga harus berdo'a dan berusaha untuk masa depan.

Bacaanku terhenti karena seseorang menyentuh pundakku. Aku pun menengok untuk melihat pelakunya.

"Oh Sakura-san." Sakura menarik kursi dan duduk di sebelah kiriku. "Kau sedang baca apa?" tanyanya, aku pun mengangkat buku yang kubaca dan menunjukkan sampulnya, ia hanya mendengus dan menopang dagunya. "Dasar kutu buku." Ucapnya. Aku hanya terkekeh dan kembali membaca.

"Bagaimana kabar Naruto?" ah, kenapa dia harus menanyakan kepala kuning itu? meskipun pria itu terus berseliweran di otakku. Ya, aku harus mengakuinya bahwa aku rindu padanya. Bahkan dia lebih memilih pekerjaannya daripada istrinya. Aku pun menarik napas dan membuangnya dengan pelan, "Entah, seminggu ini dia hanya menghabiskan waktunya di kantor daripada di rumah."

Sakura memicingkan matanya, tampaknya ia tak puas dengan jawabanku. Aku memutarkan bola mataku dan melengos dengan responnya yang tak sopan itu, "Apakah kalian bertengkar?" tanyanya.

"Errr, sebenarnya sih bukan bertengkar. Hanya saja aku dan dia yah... begitulah," jawabku sekena mungkin. Sakura kembali memicingkan matanya, apa-apaan itu.

"Begitulah? Oh ayolah Hinata! Apa yang terjadi!" ia mencengkram bahuku dengan keras dan mengguncang tubuhku sehingga penjaga perpustakaan menegur kami, Sakura hanya cengengesan dan aku merapihkan bajuku yang sedikit berantakan karena ulahnya.

"Kamu benar-benar ingin tahu?" Sakura mengangguk antisias, aku hanya mendengus. "Semuanya! Secara mendetail kau harus memberitahunya padaku!" Aku hanya mengangguk.

"Entah kenapa dia marah padaku, aku tak tahu apa sebabnya. Aku berpikir kalau aku tak berbuat salah padanya, dan tiba-tiba saja dia marah padaku saat aku makan di kantin."

"Tunggu, kenapa dia marah?" Aku memutar bola mataku dan meninju bahunya. "Kenapa kau bertanya balik, aku saja tak tahu mengapa dia bisa marah saat bertemu dengan Gaara!"

"Gaara?"

"Aku tak mengatakannya ya? Gaara adalah orang yang pernah melamarku, tentu aku menolaknya. Dan aku bertemu dengannya minggu lalu dan saat dia pergi tiba-tiba Naruto-san menghampiriku dan menarikku pergi dari kantin."

"Terus?"

"Setelah itu aku dan dia pulang, te-tetapi inti dari kecanggungan kami itu..."

Sakura yang tampak antusias terlihat membuka mulutnya dan mengepalkan tangannya, aku rasanya ingin memotretnya. Aku pun berdehem, menetralkan rasa gugupku.

"Saat di dalam mobil dia berkata padaku bahwa dia tak suka aku berdekatan dengan lelaki dengannya, aku tak mengerti. Lalu dia me-menciumku..." aku mengecilkan nada suaraku di bagian akhir kalimat.

Hening beberapa saat, aku heran dengan Sakura karena dia tak merespon apapun. Aku pun mendengus dan kembali membaca, tiba-tiba Sakura berdiri dan mencengkram kedua bahuku kemudian berteriak di depan wajahku.

"ASTAGA HINATA KAU TIDAK PEKA SEKALI!"

Aku hanya cengo, tidak peka? Apa maksudnya? Aku mengernyitkan dahiku. Penjaga perpustakaan menghampiri kami dan menceramahi Sakura. Dengan cueknya aku kembali tenggelam membaca biografi Bill Gates daripada mendengar ceramah dari nenek Chiyo, penjaga perpustakaan.

Sakura menghela napasnya dan mendelik padaku, aku memberikan tatapan polosku seakan tidak ada kejadian apapun. "Hinata, sebagai wanita, kenapa kau tidak peka?"

"Apa maksudmu?"

Sakura menepok jidatnya yang lebar itu dan menatap tajam padaku seakan singa betina yang siap menerkam mangsanya. "Kau bilang Naruto tak suka melihatmu bersama lelaki lain kan?"

Aku mengangguk.

"Setelah melihat Gaara berbicara padamu dia marah kan?"

Aku mengangguk lagi.

"Artinya bahwa Naruto cemburu, Hinata."

Aku mengangguk—eh apa?

"Apa katamu?" Sakura mendengus dan terlihat gemas akan ucapanku. "Astaga Hinataaaa! Apakah kau tuli? Apakah kau benar-benar jenius? Gunakanlah otakmu!"

"Jadi apa maksudmu dengan cemburu?" Aku mengacuhkan ucapannya tadi yang sedikit menyindirku. "Setiap lelaki pasti akan cemburu melihat wanitanya bersama dengan lelaki lain, tentu saja Naruto seperti itu. Apalagi kalian sudah menikah, takutnya terjadi kesalahpahaman. Dan juga Hinata, sebagai istri kau harus meminta izin pada Naruto jika ingin kemana-mana, kau sudah tak bisa bebas lagi."

Aku hanya terdiam. Memang, aku selalu lupa akan statusku sekarang sudah menikah, apalagi menikah dengan bos dari perusahaan yang dapat mempengaruhi sektor ekonomi Jepang. Tiba-tiba pikiranku buyar karena tepukan di pundakku.

"Bel sudah mau berbunyi," Sakura menarik dirinya dari kursi dan menjauhiku, Sakura menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Pikirkanlah baik-baik Hinata, berjanjilah pada dirimu sendiri. Kalau begitu, dadah!" Sakura pun keluar dari perpustakaan dan menghilang di balik pintu itu. Aku hanya bisa menghela napas lalu berjalan menuju ke meja penjaga perpustakaan, berinisiatif untuk meminjam biografi Bill Gates tadi.

...

Cemburu...

Cemburu...

Apakah benar? Ah, rasanya benar-benar tak mungkin. Bagaimana bisa seorang Naruto Uzumaki bisa cemburu? Bahkan tingkat kecuekkannya bisa dibilang tingkat akut. Dan juga aku berpikir, kenapa dia tahan akan sikapku yang dingin ini? arh, lama-lama otakku ini kelebihan kapasitas.

"...Hinata!"

Aku mengerjapkan mataku dan memandang Sakura yang duduk di sampingku, dia pun menunjuk podium panggung. Sekarang aku berada di auditorium.

"Kau naik ke panggung itu!" Aku hanya mengangguk dan bangkit dari kursi jajaran dewan guru, berjalan menuju panggung menggantikan kepala sekolah berbicara. Menjaga setiap langkah adalah prioritas utama, lucu jika aku terjatuh dengan tak elit. Aku pun menaikki tangga dan menuju ke tengah panggung. Aku pun mengedarkan pandangan ke setiap sudut auditorium, tiba-tiba aku bertemu pandang dengannya.

Naruto-san...

Dia duduk di baris depan dengan jajaran staf-staf. Beberapa detik kemudian aku memutuskan kontak mata dengannya dan berdehem untuk memulai pidatoku dan menutup kegiatan sekolah kemudian mengumumkan perihal kemah yang akan dilaksanakan.

"Perihal untuk perkemahan nanti, kalian tak usah membawa barang bawaan yang sekolah sudah menyiapkan segalanya untuk kalian, oh dan juga akan kejutan di hari terakhir nanti."

Suaraku menggema di dalam auditorium yang menampung siswa-siswi SMA ini, aku tersenyum melihat keantusiasan mereka dengan perkemahan nanti, apalagi saat aku berkata 'kejutan' mereka mulai bersorak. Pandanganku tak sengaja bertemu dengannya lagi, dia menatapku lekat-lekat.

Astaga, mengapa jantungku seperti mau terlepas dari tempatnya, jangan sampai itu terjadi. Aku pun kembali berdehem untuk menetralkan kegugupanku yang entah apa sebabnya.

"...Karena itu selamat menikamati liburan musim panas kalian."

...

Situasi ini buruk, tidak—sangat buruk. Buruk akan firasat yang kurasakan, buruk akan apa yang terjadi padaku ke depannya. Lebih baik aku berada di rumah sambil membuat kumpulan soal matematika bertaraf internasional dan membagikannya pada muridku. Aku menatap limosin yang berada di depan rumahku, dan alasan kedatangan limosin itu membuatku menganga lebar.

Mendampingi Naruto-san.

Aku tak tahu kemana aku harus mendampinginya, dan seenaknya dia menyuruhku dandan jangan terlalu cantik dan tak boleh memakai pakaian yang terbuka, lagian siapa juga yang mau memakai pakaian kurang bahan? Kurang kerjaan.

Belakangan ini, suami kuningku itu tak berada di kediaman Hyuuga ini, dia bilang akan menetap di apartemennya selama beberapa waktu ke depan. Dan yah... aku merasa hampa di rumah yang telah menemaniku dari kecil ini.

Aku bingung harus memakai apa, dia bilang bahwa aku tak boleh menggunakan pakaian yang terbuka. Hell, aku lupa kalau rata-rata gaunku kalau ku kenakan akan menampakkan punggungku, sial. Salahkan ayah karena dia membelikan semua gaun ini untukku.

"Kakak! sudah ditunggu!" teriak Hanabi dari luar. Aku pun mengacak rambutku karena bingung mau menggunakan apa. Demi Emiya Shirou yang mencoba menjadi pahlawan kebenaran, aku mengambil asal gaun di dalam lemari. Dan beruntungnya aku karena itu tertutup.

Aku langsung memakai gaun berwarna hitam itu, sejak kapan aku mempunyai gaun seperti ini? pokoknya aku harus cepat. Aku mengambil tas kecil berwarna putih itu dan melesat keluar dari kamar.

Aku pun menuruni tangga dan melihat Naruto-san memakai tuxedo hitamnya beserta setelannya, tak lupa sepatu pantofel yang melekat di kakinya. Dia pun menatapku, pandangan kami bertemu. Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah lain dan berjalan ke arahnya. "Lama?" bodoh! Seharusnya aku tahu bahwa dia sudah menunggu lama! Arghh.

"Tidak, kalau begitu ayo kita pergi. Aku sudah berpamitan dengan ayah." Dia mengulurkan tangannya kepadaku. Ya Tuhan, hatiku sekarang jedag-jedug tak karuan.

Dengan ragu aku mengangkat tanganku, tapi kutahan. Tiba-tiba tangannya yang besar meraih tanganku yang menggantung di udara dan menautkan jari-jari kami, dia tersenyum padaku.

Dia membuka pintu limosin untukku, seketika aku ingin terbang dari sini. Dia pun ikut masuk dan duduk di sampingku, masih dengan jari yang bertautan. "Gaun itu dariku." Aku mengerjapkan mataku, tak mengerti. Dia mendesah dan menunjuk gaun yang kupakai. "Aku membelikannya untukmu, karena aku tahu kamu hanya mempunyai gaun dengan punggung terbuka. "Aku hanya mangut-mangut megerti. Hening, aku hanya mendengar alunan musik dari limosin ini dan memandang jendela, melihat gedung-gedung yang terlewati satu persatu.

"Hinata." Aku hanya bergumam menanggapinya, masih sibuk memandangi gedung-gedung itu. "Aku minta maaf." Aku menghentikan aktivitasku dan menatapnya heran.

"Maaf untuk apa?"

"Aku marah padamu saat itu." aku mengerti kemana arah pembicaraan ini. Aku mengeraskan tautan jari kami dan tersenyum, senyum tulus untuk pertama kalinya. Untunknya.

"Tidak apa, aku mengerti kenapa kamu marah. Dengan berani aku menyatukan keningku dengannya. tangan bebasku meraba pipinya, dia memejamkan matanya dan memegang tanganku yang berada di pipinya itu. Aku sangat ingin mencurahkan sesuatu yang menganggu pikiranku saat ini. dengan suara pelan seperti bisikkan, aku memanggilnya. Tentu saja masih dengan posisi kami tadi.

"Hei..."

"Hmmm?"

"Bolehkah aku memanggilmu, errr... Naruto...-kun?" dia pun membuka matanya dan menatapku. Dan lagi, aku berani meletakkan kepalaku di dadanya dan memeluk pinggangnya. Awalnya dia kaget dengan sikapku ini, tapi ia pun membalasnya dengan mengelus rambutku.

"Aku tak enak memanggilmu dengan suffix –san, rasanya tak sopan pada suami. Aku memikirkannya, kamu marah karena aku, dan aku juga ingin meminta maaf padamu. Aku berjanji akan menjadi seorang istri yang baik."

Dia mengangkat daguku, kemudian mencium bibirku. Ini yang kedua kalinya, aku dan dia berciuman. Aku memejamkan mataku, merasakan kehangatannya. Dia pun menjauhkan wajahnya dariku lalu mengecup keningku dengan sayang. Aku bahagia, sangat bahagia.

Aku berjanji tak akan mengkhianatinya, aku berjanji akan setia padanya. Dia suamiku, dan hanya akulah yang memilikinya. Untuk pertama kalinya, aku egois pada diriku sendiri.

.

.

.

Fin.

.

.

.

Don't mad at me, still on going.

A/N:A/N: Hey, long time no see guys. Sorry for late update, cuz so many homework and.. watching anime makes me lazy for update, sorry, and yeah this double update. Saya ngetik ini dari jam lima sampai jam sembilan malam, alasan? Cari inspirasi karena sempat stuck di tengah jalan. Untuk tuan Type Moon, maafkan saya karena mencantumkan nama tokoh anda disini :")