Disclaimer:

Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
.

.

.
DLDR
Selamat membaca.
.

.

.

Connecting With You
.

.

.

[Rin POV]
Perdebatan kemarin malam berakhir dengan kekalahanku. Aku harus berhenti bekerja. Itu lebih baik daripada aku harus tinggal satu rumah dengannya. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ingat! Dia itu alien absolut! Satu kata keluar dari mulutnya maka itulah yang akan terjadi. Jika ingin mencoba merubah keputusannya, cobalah merubah batu menjadi lentur. Tingkat kesulitannya tidak jauh beda. Toh, batu dan dia sama-sama keras. Itu yang kutahu.

Sepulang sekolah aku pergi ke kafe membawa surat pengunduran diri. Len bersamaku. Memastikan.

"Rin! Kau datang?" Kak Licy menyambutku. Dia memelukku. Aku tersenyum kikuk. Sangat aneh rasanya saat datang sebagai tamu.

"Apa Rio ada, Kak?"

Kak Licy melepas pelukannya. Dia terkejut saat melihat Len disampingku. Raut wajahnya berubah kaku.

"Aku mengerti. Kau kemari bukan untuk bekerja. Duduklah. Aku akan segera kembali."

Kami duduk di tempat yang Kak Licy tunjukkan. Sementara dia pergi. Memanggil Rio. Len duduk di sampingku, dia diam saja. Menatap bosan kesibukkan di luar jendela.

"Hee? Ternyata nyalimu cukup besar juga ya anak baru." Aku kenal suara ini. Nona Anna berdiri bersedekap. Menatap kami angkuh. "Siap memesan?"

Aku bingung, menatap kosong buku menu di tanganku. Apa aku harus memesan? Len melarangku untuk melakukan itu.

"Antoni." Seru Len tiba-tiba membuat kami menatapnya bingung. Dia bicara seakan menjawab pertanyaan nona Anna tapi tatapan matanya tertuju padaku. Aku menengok ke samping. Siapa tahu dia melihat Paman Antoni sedang mengantar pesanan. Namun tidak ada siapa pun selain meja, pelayan dan pelanggan lainnya. Jelas. Paman Antoni itu seorang koki, tidak mungkin mengantar pesanan. Nona Anna mengerutu, dia paling tidak suka diabaikan.

"Berikan ini padanya." Len menaruh secarik kertas diatas meja. Nona Anna mengambil kertas itu dengan jengkel. Dia membacanya lalu pergi begitu saja. Aku ingin tahu kertas apa itu.

Tak lama, Rio muncul, menghampiri meja kami.

"Apa kalian sudah memesan." Tanyanya. Aku hanya tersenyum. Dia menarik kursi di depanku dan duduk disana.

"Kudengar dari Licy kamu ingin bertemu denganku. Kupikir dia sedang bercanda, biasanya kamu masuk gitu aja ke ruangan ku."

Aku akan melakukan itu jika saja tidak ada pengawal di sampingku. Entah kenapa bulu kuduk ku berdiri. Kulitku terasa dingin. Apa AC disini dinaikan ya? Terserah deh. Segera aku menyerahkan surat pengunduran diriku.

"Kau benar-benar serius tentang ini." Rio melipat suratku setelah selesai dibacanya. Dia menatap ku serius. Aku mengangguk. "Kuharap ini bukan karena kamu dipaksa seseorang." Dia melirik Len sinis. Len menatapnya tajam.

Mereka kenapa?

"Pesanan datang!" Sahut nona Anna riang. Dia membawa banyak makanan. Dibantu pelayan lainnya.

"Paman Antoni!" Seruku senang. Menatap takjub hidangan yang tersaji di depanku. Nona Anna tersenyum bangga dan menggangguk. Ini semua masakan Paman Antoni. Apa jangan-jangan... aku menatap Len yang juga sedang melihat ke arah ku.

"Kau yang memesan ini?"

Dia mengangguk. Oh, jadi isi kertas itu ini. Tapi, bagaimana dia bisa tahu? Apa dia mengenal Paman Antoni?

"Orang-orang di dapur heboh membebicarakanmu. Bagaimana rasanya jadi orang terkenal, heh?" Nona Anna memposisikan dirinya duduk di sebelah Rio, tidak canggung sama sekali. Sementara, pelayan lainnya kembali ke dapur dengan wajah ditekuk. Aku melirik Len, normalnya dia akan mengusir siapa pun yang menurutnya mengganggu. Tapi, dia diam saja.

"Benarkah?" Aku melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa pelayan yang kebetulan mengantar pesanan atau mengantar tamu mencuri pandang ke arah kami. Aku tersenyum.

"Len, boleh aku kebelakang sebentar?" Izinku. Aku ingin bertemu mereka.

"5 menit."

Aku tersenyum dan beralih menatap Rio. Dia mengangguk.

"Baik, ikuti aku." Nona Anna berdiri. Menggeser kursinya kesal. Aku cemberut. Dia masih membeciku.

"Tunanganmu itu sangat pelit ya?! Apa-apaan itu?! Lima menit dia bilang?! Hei, bagaimana bisa kau bertunangan dengannya?" Tiba-tiba saja Nona Anna menggerutu. Aku melongo. Jadi, itu alasannya kesal.

'Bukan aku yang ingin! Tapi, kakak ku yang miringlah yang menjodohkanku!' Ingin aku menyuarakan itu.

"Takdir, mungkin." Jawabku sekenanya.

"Ayo, nona Anna. Waktuku tidak banyak." Aku menarik tangannya yang berjalan seperti siput. Lalu mendorong pintu dapur.

"Yo!" Sapaku memberi hormat. Mereka menatap ku tanpa berkedip.

"RIN!" Dan berteriak kompak. Aku dan nona Anna serempak menutup telinga.

"Jadi yang kemarin itu sungguhan?! Pemuda itu?!" Ya ampun. Apa ini alasan mereka memperhatikan kami?

"Seperti yang kalian lihat. Anak nakal ini membohongi kita. Sekarang dia ingin berpamitan. Dunia kita dan dia berbeda." Ketus Nona Anna menunjukku sadis. Aku tersenyum kaku.

"Ya ampun! Aku tidak percaya ini! Jadi selama ini kita bekerja dengan calon istri pengusaha muda yang perusahaannya ada dimana-mana!" Mereka kembali berteriak histeris. Dapur ini menjadi kacau. Aku melihat Kak Licy membentuk jarinya 'v'. Oh, dia pelakunya. Mereka pasti sudah mencari tahu siapa itu Len. Bagus.

Aku meninggalkan mereka yang sedang kegirangan. Mencari Paman Antoni. Seperti biasanya, dia selalu serius jika sudah menghadapi penggorengan.

"Paman!" Panggilku riang. Dia menoleh ke arahku dan meninggalkan pekerjaannya. Aku langsung melompat. Memeluknya.

"Terima kasih untuk makanannya. Aku suka. Aku akan merindukan mu Paman."

Paman Antoni mengelus rambutku lembut. "Pintu rumah ku selalu terbuka lebar untuk mu sayang. Kau bisa meminta Haku untuk mengantarmu." Aku mengangguk. Dia sudah kuanggap sebagai pamanku sendiri.

"Aku harus kembali paman. Len memberiku waktu cuman lima menit." Aku nyenyir.

"Jangan buat dia menunggu atau dia akan meratakan cafe ini." Candanya.

Aku terkekeh dan pergi menarik nona Anna dari kerumunan. Kami keluar dengan tenang setelah aku berjanji akan mengembalikan nona Anna setelah urusan kami selesai. Kami kembali ke meja. Suasananya sangat tegang.

"Sebelum makanannya dingin. Ayo dimakan. Aku sudah lapar." Nona Anna berusaha mencairkan suasana. Aku mengambil sumpit seperti yang dilakukan olehnya.

"Kelihatannya enak." Aku mulai memindai, makanan mana yang sebaiknya ku coba terlebih dahulu. Tempura sepertinya enak. "Selamat makan."

"Len!" Pekikku kaget saat Len mengambil tempura yang ku sumpit. Dia memegang tanganku dan mengarahkan ke mulutnya.

"Apa? Aku lapar!" Belanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.

"Makan sendiri, bodoh!" Ketusku.

Len menggeser kursinya mendekat. Mau apa dia? "Ini hukuman. Suapi aku." Perintahnya membuat nona Anna terkekeh dan Rio melotot. "Atau kau lebih suka aku mencurinya seperti tadi, hm?"

Kakiku dengan kuat menggeser kursinya sedikit menjauh. "Baiklah, tapi menjauhlah dariku."

Len tampak ingin protes kalau saja nona Anna tidak menyela. Dia menyimpan sumpitnya sedikit keras.

"Aku selesai." Katanya. Lalu bergelayut manja pada Rio. "Bos, aku baru ingat. Tadi Antoni mencari Anda. Maaf baru mengatakannya sekarang." Dia membawa Rio pergi. Aku menatapnya aneh. Selesai? Dia bahkan belum menyentuh makanannya.

"Heh? Sadar juga dia." Aku menatap Len bingung.

"Sadar apanya?"

"Bukan apa-apa. Cepat suapi aku."

Aku tidak bertanya lagi. Kami makan dengan tidak tenang. Len selalu mencuri makanan dari sumpitku saat aku lengah. Padahal dia punya sumpit sendiri. Tapi, tidak di sentuh sama sekali.

"Hei! Pakai sumpit mu sendiri sana!"

.

.

.

Ting!

Bunyi kue selesai di panggang. Aku mengeluarkan biskuit dari oven. Ini percobaanku yang ke tujuh belas. Hasilnya bagus. Kuning keemasan. Tidak seperti sebelumnya. Kacau.

"Lumayan." Komentarku setelah mencicipi sekeping biskuit. Aku tidak mau vampire yang menerima kue ku nanti keracunan atau sakit perut. Itu tidak boleh terjadi. Sekalipun mereka makhluk abadi.

Biskuit sukses ku, ku masukkan ke dalam dua buah kotak kecil. Satu untuk Kak Luka dan satunya lagi untuk Ryota. Tidak ada jatah untuk Kak Rinto maupun Len. Mereka tidak berjasa sedikit pun. Mereka lebih sering membuatku susah.

Sebelum pergi, aku mengecek keadaan rumah. Semua jendela dan pintu terkunci rapat. Dapur masih tetap berantakan. Biskuit gagal tersimpan dalam toples berdampingan dengan secarik kertas. Pesan untuk Kak Rinto. Rumahku dalam kondisi aman.

"Waktunya berangkat!"

.

.

.

Ting Tong Ting Tong

Buk buk buk

Ting Tong Ting Tong

Buk buk buk

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Sil-"

"Kemana perginya alien shota itu? Ini kan hari minggu!" Gerutuku kesal.

Inginnya sih memanjat pagar, terus masuk lewat jendela samping rumah yang terbuka. Kalau saja gerbangnya tidak terlalu tinggi dan aku pakai celana jeans.

"Oi, alien shota! Kau ada di dalam tidak? Aku mau kencan nih!" Teriakku tidak yakin bisa terdengar olehnya.

Ini pertama kalinya aku berkunjung kerumahnya. Aku mendapatkan alamatnya dari Kak Luka beserta no teleponnya.

Kalau dilihat dari luar, rumahnya terlihat normal, seperti bangsawan pada umumnya, berbeda dengan rumah kakek yang sangat mirip dengan rumah hantu. Ya, Seperti apapun bentuk rumahnya, satu hal yang pasti, jarak gerbang dan rumah utama pasti jauh! Rata-rata rumah mewah begitu. Itu yang kulihat di majalah bisnis milik Kak Rinto.

"Berisik bodoh." Tiba-tiba saja intercom berbunyi. Duh, kagetnya. Kupikir dia muncul disampingku seperti roh halus. Hantu zaman sekarang kan tidak mengenal waktu. Vampire saja bisa berkeliaran di siang bolong.

"Huh? Ternyata kau ada di dalam. Hibernasi ya? Lama sekali menjawabnya! Cepat buka gerbangnya dan biarkan aku masuk!" Ucapku pura-pura marah.

"Aku tidak mau kencan dengan gorila."

Boleh kuhancurkan intercomnya?

"Siapa juga yang mau kencan denganmu alien shota! Aku kemari mau menepati janjiku sekalian mengajak Ryota jalan-jalan tahu!"

Tidak ada balasan. Namun pintu gerbangnya terbuka. Aku masuk. Seperti dugaan ku. Jarak gerbang dengan rumah utama itu sangat jauh. Di balik gerbang ada pos satpam. Aku memberinya jari tengah karena sudah membiarkan ku kepanasan di luar sana.

Len menyambutku di depan pintu masuk. Rambutnya berantakan. Khas orang bangun tidur.

"Yo." Sapaku seadanya.

"Apa yang kau bawa?" Tanyanya seakan tahu aku membawa sesuatu.

"Apapun yang ku bawa. Ini bukan untukmu. Dimana Ryota?"

Len tidak menjawab. Matanya menatap lurus tasku. Aku mendesah. Sampai kapan dia akan bertindak posesif? Aku kan tidak membawa barang berbahaya. Hanya dengannya aku merasa tidak punya kebebasan. Dia suka sekali mempersulit ku.

"Kue." Jawabku setengah hati.

"Dia ada di dapur."

Kami seperti melakukan barter jawaban saja.

Len berbalik. Aku mengikutinya di belakang. Rumahnya bersih dan... sepi? Untuk rumah sebesar ini seharusnya ada lima atau tujuh pembantu. Ini aneh.

"Sepi sekali. Kenapa tidak ada satu pun pembantu disini?"

"Mereka hanya bekerja pagi dan sore."

"Heee? Pelitnya." Pembantu pun dia tindas. Dimana letak kepripembantuannya? Kasihan kan mereka, diberi upah sedikit untuk mengurus rumah sebesar ini sampai bersih dalam waktu singkat. Aku bahkan ragu bisa menemukan debu di sela-sela jendela. Kerja mereka sangat profesional. Harusnya mereka dipekerjakan full. Kalau begini, apa yang akan mereka kerjakan sampai menunggu sore tiba? Dia sungguh tega membayar mereka sesuai jam kerja. Gajinya pasti tak seberapa. Tak sebanding dengan jasa yang mereka berikan. Len benar-benar licik. Pintar mencari keuntungan.

"Kalau kau merasa simpati. Bagaimana kalau kau saja yang menggaji mereka?" Sindirnya seakan tahu apa yang kupikirkan. Aku tersinggung. Dia mengatakan seakan aku tak mampu.

"Boleh saja. Memangnya berapa sih? Aku akan bayar lebih!"

"Lupakan saja. Tabungan mu tidak akan cukup."

Gzzz... dia itu maunya apa sih?!

Ngomong-ngomong, berapa lama kami berjalan? Aku sudah melihat banyak ruangan. Tapi, tak satu pun yang menunjukkan kalau itu dapur.

"Masih jauh ya dapurnya?"

Len berhenti, otomatis aku pun ikut berhenti. "Siapa bilang aku mau mengantarmu ke dapur?"

Seketika mulutku terkunci rapat. Kehabisan kata-kata. Seharusnya aku sadar dia tidak mungkin berbuat baik. Selalu ada maksud licik dalam kebaikannya.

Aku berbalik, hendak pergi, namun dia menahan lenganku. "Bercanda. Dapurnya ada di depan."

Dan kau pikir aku akan percaya? Ya, aku percaya. Aku memang bodoh. Terserah. Lagipula aku tidak mau ambil resiko jika aku nekad tetap ingin pulang. Jangan salah paham dulu. Aku tidak takut padanya. Sama sekali tidak. Dia tidak akan berani melukai ku secara fisik. Entah karena apa. Tapi, itu faktanya. Cengkraman di leherku waktu itu pun sebenarnya tidak begitu sakit. Hanya meninggalkan bekas. Kalau dia bersungguh-sungguh mencekik ku, aku mungkin tinggal nama. Namun, bukan berarti aku bebas berbuat sesuka hatiku. Sebagai gantinya dia akan melukai siapa pun yang menurutnya adalah alasanku membantahnya atau dia akan melukai dirinya sendiri. Aneh tapi nyata.

Teman-teman manusia ku pernah menjadi korbannya. Aku tidak mengerti saat mereka menatap ku takut dan sungkan bicara denganku. Masa sih mereka tahu tentang penyakit ku? Setelah ku selidiki, bertanya sana sini, akhirnya aku tahu penyebabnya. Jawabannya mengacu pada satu orang yaitu Len. Tidak salah lagi. Mereka diancam akan di keluarkan dari sekolah olehnya. Aku marah. Tentu saja. Dia usil sekali.

Tidak cukup sampai disitu, Len juga pernah mengirim salah satu cowok yang bahkan tidak ku kenal ke rumah sakit. Kesalahannya cuman satu. Dia tidak sengaja menabrak ku hingga terjatuh. Kebetulan Len melihat kejadian itu. Dia mengamuk sampai Kak Rinto dan Kak Kaito pun kesulihatan untuk menahannya.

Satu-satunya masalah yang selesai lewat jalur damai hanya masalah di kafe. Kupikir dia akan meratakan tempat kafe ku berkerja seperti yang dikatakan paman Antoni atau membuatnya bangkrut. Mengingat aku mati-matian membatahnya.

Ting! ting!

Dentingan suara sendok mengalihkan perhatian ku. Pelakunya Ryota. Dia sedang bermain dengan mangkuk serealnya. Terlihat lucu dan menggemaskan.

"Kau Ayah yang sangat baik dan sungguh perhatian." Sarkasku menyeringai kecil. Dia bahkan tega terhadap anaknya sendiri. Aku bisa melihat sebaik apa dia merawat Ryota. Terlihat jelas dari kotak sereal yang tidak tertutup rapat lalu air susu yang sedikit tumpah. Tanpa perlu bertanya pun aku sudah bisa menebak apa yang terjadi di rumah ini sejak pagi. Aku mulai bertanya-tanya. Apa itu sarapan paginya atau makan siangnya? Mengingat matahari hampir berada di atas ubun-ubun.

Len menggedikkan bahunya tidak peduli. Aku membaca gerakan tubuhnya. Dia alien egois. Apapun yang dilakukannya tidak pernah beres. Dia hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Aku harus hati-hati. Ingatku dalam hati.

"Ya, itu benar. Tapi, dibanding pujian, aku lebih suka hadiah."

"Hadiah?"

"Seperti ini misalnya." Dia menyentil jidatku dan menghilang. Ya, menghilang. Aku bahkan tidak sempat melihat bayangannya pergi ke arah mana agar aku bisa mengejarnya. Apa aku bilang! Dia itu alien egois. Mau menang sendiri. Sentilannya tidak main-main.

Aku mengenyahkan perasaan ingin memburunya sampai ke ujung rumah. Aku masih punya janji yang harus kuselesaikan disini.

Pelan. Aku berjalan mendekati Ryota yang sepertinya belum menyadari kehadiranku.

"Coba tebak ~ ! Siapa aku?" Seru ku riang menutup kedua mata indahnya.

"Mama!" Jawabannya membuat ku berdiri kaku. Dia berbalik dan melihatku dengan antusias.

"Eh? Ahahaha... Maaf, kalau mengecewakan." Aku bingung harus bereaksi seperti apa dan coba tebak apa yang ku dapat sebagai balasannya?

Dia memelukku.

Aku kaget. Tubuhku sedikit menegang. Bagaimana pun juga aku tidak terbiasa melakukan kontak fisik, bahkan dengan keluarga ku sendiri. Jika bukan atas dasar keinginanku.

Dengan sedikit usaha kecil. Aku berhasil menjauhkannya dari ku. Dia sekarang duduk tenang di kursinya. Kami duduk berhadapan. Menjaga jarak.

"Aku sudah membeli bahan-bahan untuk membuat eskrim. Bagaimana kalau kita mulai membuatnya?" Ajakku. Tapi, aku tidak yakin kalau ini akan berhasil. Lanjutku meringis dalam hati. Jujur saja, memasak bukan keahlianku.

"Papa sudah membelikan ku banyak es krim." Infonya jujur. Apa dia seperti ayahnya? Hobi meremukkan hati orang lain?

"Oh..." Aku tidak bisa marah padanya. Yang salah bukan dia tapi alien shota yang berani mencuri start dariku.

"Papa bilang hari ini kita akan jalan-jalan melihat gorila." Ryota berucap senang, tidak sesuai dengan raut wajahnya. Datar.

Gorila? Apa saja yang sudah dia ajarkan pada bocah sepolos Ryota?

"Memikirkan ku, hm?" Len mengusap rambutku.

Aku meliriknya tajam. "Dalam mimpimu."

Pakaiannya sudah berganti. Dia terlihat lebih rapih dari sebelumnya. Intinya, dia tampan. Pujian yang sering keluar dari mulut para fansnya. Aku sih tidak peduli. Dimataku dia biasa saja.

Ryota turun dari kursinya dan berlari kecil ke arah Len. "Papa, kita berangkat sekarang?"

"Hm."

.

.

.

Taman hiburan?

Apa benar disini ada gorilanya?

Dia pasti cuman menggodaku lagi.

Tapi, taman hiburan ini sedikit aneh.

"Kenapa disini sepi sekali?"

"Akan merepotkan jika kau tersesat."

Cih. Dia kira aku ini anak kecil.

"Ryota, ayo kita tinggalkan saja orang yang tidak tahu caranya bersenang-senang." Tukasku mengajak Ryota memasuki area taman hiburan. Dia tidak menunjukkan ekspresi antusias. Tapi, aku yakin dia senang.

Kami sepakat untuk saling bergiliran memilih wahana disini. Aku mendapat giliran pertama. Pilihan ku jatuh pada wahana kuda-kudaan. Sudah lama aku ingin mencobanya. Ryota terlihat enggan. Tapi aku memaksanya. Dia sangat mirip dengan Len. Kaku dan tidak banyak bicara.

Seorang pegawai menyambutku dengan ramah, dia memberi kami intruksi, khususnya untuk Ryota. Aku menawarinya naik satu kuda denganku. Dia mengangguk cepat. Masuk putaran kedua, aku melihat Len dengan kamera di tangannya. Dia memotret kami.

"Wah, tadi itu menyenangkan sekali."
"Kau seperti anak kecil saja." Cibir Len sedang melihat hasil jepretannya. Aku tidak butuh pendapatnya.

Ryota mengangguk meng-iya-kan. Dia benar-benar anak baik. Tidak seperti seseorang.

"Sekarang giliranmu. Kau mau main wahana yang mana?" Tanyaku sedikit menunduk.

Tangannya menunjuk salah satu wahana di belakang ku.

Glup.

"Rumah... han-tu?"

Mati aku.

Belum sempat aku protes, Ryota menarik tanganku untuk mendekati wahana tersebut.

Aku bernapas lega ketika petugas wahana itu mengatakan Ryota belum cukup umur. Hanya orang dewasa yang diizinkan masuk.

"Papa saja."

Huh?

"Aku akan menunggu disini. Papa saja yang masuk, menggantikan ku." Katanya. Menatapku penuh harap.

Apa aku bisa menolak?

Aku terpaksa setuju.

Tanpa sepengetahuan ku, mereka berdua melakukan high five.

Kami berjalan memasuki wahana rumah hantu.

"Hati-hati papa... mama."

Kepalaku menoleh ke belakang. Mama? Mungkin aku salah dengar.

"Len! Pelankan jalanmu!"

Aku memegang ujung kemejanya. Di dalam wahana gelap sekali. Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Mataku menatap awas sekitar, takut dengan penampakan yang mungkin saja muncul secara tiba-tiba.

Sekalipun aku tahu kalau hantu disini bohongan. Tapi, tetap saja kalau diberi make up seseram itu, siapa pun akan ketakutan. Harusnya aku lebih takut pada Len. Secara, dia vampire. Dia bisa menghisap darahku sampai mati. Biar pun begitu, aku tidak takut padanya.

"Nona, sapu tanganmu jatuh."

"Ah, ya, terima kasih."

Tunggu dulu! Sapu tangan?

Rasanya aku tidak membawa sapu tangan.

Dengan gerakan patah-patah, aku menoleh kebelakang.

"Hihihi."

"KYAAAAAAAAAAAA! KAK RINTOOOOO!"

.

.

.

"Ng?"

Len membantuku duduk. Dia memberiku sebotol air mineral yang langsung ku minum. Kepala ku sedikit berat.

"Papa?" Ryota berlari kecil, menghampiri kami sambil membawa sapu tangan yang terlihat lembab.

Sapu tangan?

Mendadak perutku keram dan ingin muntah. Aku tahu perasaan mual ini datangnya darimana. Aku selalu mual jika membayangkan hantu berlumuran darah. Bayangan hantu yang kutemui di dalam wahana tadi tercetak jelas. Sangat.

Len mengusap punggungku, sedangkan Ryota mengusap keringat di keningku dengan tangan mungilnya.

"Maaf, aku membuat kalian repot."

"Sudah baikkan?" Aku mengangguk lemas. "Lain kali panggil namaku jika aku berada di dekatmu."

Nama? Seketika wajah ku memanas. Aku pasti refleks memanggil Kak Rinto. Memalukan. Sekarang aku benar-benar mirip anak kecil.

"Berapa lama aku pingsan?"

"Tujuh jam."

Ah, pantas langitnya berubah warna menjadi hitam. Ryota pasti capek merawatku. Len bilang Ryota mengira aku demam dan mengompresku. Dia bolak balik pergi untuk membuat sapu tangannya lembab. Kebetulan tempat ku istirahat tidak ada keran airnya. Jadi, dia harus berjalan sedikit jauh untuk mendapatkan air. Aku memukul kepala Len karena membiarkannya terus melakukan hal itu selama berjam-jam.

Untuk sesaat aku penasaran. Apa hatinya sudah membeku?

Dia dingin sekali.

'Tapi kau suka kan?'

Suara itu lagi. Aku pikir itu cuman khayalan ku saja saat mendengarnya menjawab gumaman ku di kamar mandi. Apa pikiranku dibajak seseorang ya? Atau ini ulah Kak Rinto? Tapi, rasanya sulit dipercaya jika dia bisa melakukan hal sekeren itu. Dia kan bodoh.

Atau mungkin saja...

Itu sisi lain diriku. Vampire.

Aku menggeleng kuat. Melupakan pikiran gilaku barusan.

Tidak ada yang namanya sisi lain. Aku adalah aku. Titik.

Ngomong-ngomong, aku tidak suka dengan suasana sepi dan menyedihkan ini. Tidak ada salahnya aku berbuat baik. Hanya untuk kali ini saja.

"Kebetulan sekali. Ada satu wahana yang ingin aku naiki. Boleh?"

Len berdiri. Dia mengambil Ryota yang tengah tertidur di pangkuan ku lalu menggendongnya. "Tunjukan jalannya."

Virus irit bicaranya mulai kumat.

Tapi, Len adalah Len.

Dia baik dengan caranya sendiri. Sikap kasarnya terkadang membuat orang lain salah paham. Tapi, begitulah dia.

"Kirei."

Cahaya di bawah sana terlihat seperti selimut besar. Hangat dan menyilaukan.

Kami berada di dalam bianglala yang sedang berhenti berputar untuk sementara. Len tepat di sampingku, menggendong Ryota. Aku ingin menunjukkan pemandangan ini padanya.

"Len! Dimana kameramu?"

Yang ditanya mengerutkan keningnya sebentar sebelum menjawab. "Dalam mobil. Ada apa?"

Aku mendesah kecewa. "Kau... benar-benar tidak berguna!"

"Jeruk gila." Dia membalas. Tidak nyambung sama sekali.

"Apa kau bilang?! Ulangi sekali lagi!" Kataku pura-pura tidak mendengar. Sedikit membentak. Membuat Ryota mengeliat tak nyaman. Aku menatapmya cemas.

"Berisik. Suaramu bisa membangunkan Ryota."

Oke, sekarang dia menyalahkan ku. Aku dibuat geram olehnya. Apalagi mataku tidak sengaja melihat patung gorila. Jadi benar disini ada gorilanya! Kemarahanku tidak bisa dibendung lagi! Aku marah maksimal! Gorilanya jelek sekali!

"Itu salahmu! Kau yang memulai!"

"Jeruk tak sadar diri." Len menutup telinga Ryota.

Dia...

"Kau sengaja ya?"

"Jeruk tukang tuduh."

"Berhenti mengejekku dengan awalan jeruk! Dasar kekanakan!"

"Jeruk cerewet."

"LEN!"

Gara-gara dia. Aku lupa memberikan biskuit buatanku! Alien shota menyebalkan!

Ngomong-ngomong aku baru menyadari satu hal. Vampire makannya apa ya? Kenapa mereka bisa makan seperti manusia biasa? Mereka vampire sungguhan kan?


-oOo-

Connecting With You

-oOo-


[Normal POV]
"Kau sedang masak? Kebetulan sekali. Bisa bawakan aku makan siang?"

Bruk!

"Ya ampun." Rin berseru panik menangkap ponselnya yang nyaris masuk ke dalam penggorengan. Dia bergidik ngeri, mengusap dadanya pelan. Hampir saja jantungnya lepas. Kepalanya mendongak keatas, menatap lantai dua. Tadi ada suara benda jatuh disana. Gara-gara masuk rumah hantu, pikirannya masih horror. Dia mematikan kompor dan berjalan keluar dapur. Meninggalkan udang yang baru setengah matang.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik. Tadi ada sedikit kesalahan teknis." Jawabnya sambil menghembuskan napas kecil. Rin menjauhkan handphonenya.

"Bibi Sara. Kau disana?" Teriaknya di ujung tangga.

"Iya, non." Jawab Sara dari lantai dua.

"Rin?"

"Maaf Kak. Tadi aku sedang mencari Bibi sara." Hanphonenya kembali di tempelkan. Dia berjalan ke ruang tengah. Menyalakan televisi.

"Oh. Jadi, bagaimana? Kau bisa kan?"

"Bisa apa?" Dia tidak mendengarkan tadi.

"Bawakan aku makan siang." Rinto mengulang dengan sabar.

"Oh." Rin mengganguk malas. "Boleh aku tahu, dimana sekretaris cantikmu itu berdiri Kakak? Kau bisa minta tolong padanya."

Di seberang sana Rinto terkekeh saat mendengar nada ketus adiknya. "Dia bukan pembantuku, Rin. Kami sedang sangat sibuk sekarang dan aku membutuhkan kepintarannya dalam mengurus dokumen, bukan hal lainnya."

Rin mengangguk. Sudah dua hari kakaknya tidak pulang dan tak terlihat berkeliaran di sekolah.

"Oh, dan aku adikmu Kakak. Aku belum rela mengganti status ku menjadi pembantu kecuali kalau kau mau menggaji ku sesuai dengan gaji seorang presdir. Akan aku pertimbangkan."

"Aku tidak meminta itu. Aku hanya memintamu membawakan makanan untukku. Ah, tidak... untuk kami. Jadi, bisa kau bertindak layaknya adik manis yang patuh untuk kali ini saja." Rinto memohon.

"Baiklah, untuk kali ini saja. Jadi, berapa banyak orang yang perlu kuracuni hari ini?" Katanya tersenyum licik.

"Kau bisa bawakan makanan untuk dua puluh orang dan kalau bisa, ummm... pisahkan satu porsi di wadah berbeda."

"Kau banyak maunya."

"Tentu. Kami menunggumu. Bawakan kami makanan normal dan jangan coba untuk menambahkan bumbu aneh kedalamnya."

Klik.

Tombol merah di tekan. Handphonenya melayang indah dan mendarat di atas meja dengan mulus. Dia menguap, menatap televisi bosan.

"Malasnya." Keluhnya berguling diatas karpet sambil memeluk boneka beruang besar.

"Kenapa tidak pesan makanan cepat saji saja sih?"
.

.

.

"Oh, iya, Rin. Tolong antarkan yang satu itu pada presdir." Perintah Rinto pada adiknya yang sedang membagikan bekal pada pegawai lainnya. Rin tersenyum. Jika bukan karena menjaga nama baik keluarganya, mungkin dia sudah melepas sepatu katsnya dan melempar ke wajah Kakaknya yang sok berkuasa itu.

Alisnya berkerut bingung. Jika dia tidak salah dengar, tadi Kakaknya menyuruh dia masuk ke ruang presdir kan ya? Setahu Rin, ruangan itu selalu kosong. Dia tidak pernah melihat ayahnya berkunjung. Jangankan melihat, bertemu pun belum pernah. Jadi, apa itu artinya dia ketinggalan berita?

"Sudah jangan banyak berpikir. Antarkan saja sana. Kasihan, sudah dua hari dia terkurung disana membantu kami." Sekali lagi Rinto berucap dengan nada memerintah.

"Kuharap polisi menangkap Kakak." Sindirnya sebelum membuka pintu ruangan presdir dan masuk ke dalam. Meninggalkan Rinto yang tersenyum misterius.

Rin berdiri seperti patung. Menatap tak percaya sosok yang terlihat sedang sibuk memperhatikan kertas di tangannya. Sedang apa dia disini? Dan untuk apa?

"Harusnya aku bisa menebak kalau itu kau." Katanya datar. Len yang sedari tadi tidak memperhatikan sekitarnya, mengerutkan alisnya bingung saat telinganya mendengar suara yang terdengar datar dan ingin menerkamnya hidup-hidup. Dia menyimpan berkasnya lalu menatap Rin dengan satu alis terangkat tinggi.

"Aku diminta mengantarkan ini. Kakak yang menyuruhku. Harus ku taruh dimana?" Rin menujukkan kotak belak di tangannya.

"Simpan saja disana." Len menujuk meja tamu. Rin mengangguk dan menyimpannya disana. Wajahnya menekuk sebal saat melihat Len kembali sibuk memeriksa dokumennya.

Dia berdehem kecil.

"Boleh aku bertanya? Bagaimana caranya vampire makan makanan manusia? Kulihat tadi Kakak menaburkan sesuatu. Apa itu?" Tanyanya menarik perhatian Len.

"Kau ingin tahu?"

Rin mengangguk mantap. "Ya, apa itu semacam serbuk ajaib?"

Len tersenyum tipis mendengar jawaban Rin yang terdengar konyol. Dia membuka salah satu loker dimejanya dan mengambil kotak kayu kecil. Kemudian berjalan ke arah sofa.

"Kuberitahu sambil makan. Kau bisa pergi jika tidak suka." Ucapnya sambil mendudukkan dirinya di sofa. Dia melepas kain yang membungkus kotak bento.

Rin tersenyum kecil "Aku akan diam disini sampai selesai." Dia duduk di seberang Len. Saling berhadapan.

"Jangan muntah disini." Peringat Len sambil membuka tutup kotak kayu kecil yang dibawanya.

"Tidak akan!" Sahut Rin cepat. Dia berpindah ke sofa di sebelah kiri Len karena penasaran dengan isi kotak kayu yang Len bawa. Dia tidak bisa melihat dengan jelas jika duduk di seberang sana.

"Kalian mencampurnya dengan darah?" Tanyanya ragu. Hidungnya dengan jelas mencium bau anyir. Len mengangguk tenang sambil menuangkan isi kotak kayu itu ke dalam kotak bento.

"Ugh, percuma saja aku mencuci dagingnya!" Keluh Rin cemberut.

Len menghentikan gerakan menuangnya sesaat. Dia melihat Rin sebentar sebelum melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda. Setelah selesai, dia menutup kembali kotak kayu tersebut. "Kau yang memasak ini semua?" Tanyanya.

Rin mengibaskan tangannya. "Itu tidak mungkin. Aku dibantu Bibi Sara." Katanya.

Tangannya refleks menutup mulutnya sendiri saat melihat Len hendak makan daging yang dilumuri cairan merah. Len menghentikan gerakannya dan kembali menyimpan daging itu ke dalam kotak bento.

Melihat itu, Rin panik dan memintanya untuk melanjutkan acara makannya. Dia berjanji tidak akan muntah.

Selanjutnya, mereka berdua dilanda keheningan. Tidak benar-benar hening karena sesekali Rin meringis ngilu saat melihat Len menggigit daging itu dengan santai. Dia menahan tangannya untuk tidak menutup mulutnya sendiri.

"Umm... itu darah siapa? Apa kau menggigit seseorang?" Tanyanya tanpa melihat lawan bicaranya. Matanya asyik berkeliling melihat dekorasi ruang kerja ayahnya. Mungkin saja dia dapat mengingat sesuatu.

"Yang ku gigit cuman tunanganku. Ini darah hewan." Len menjawab dengan tenang. Membuat Rin bersingut menjauh. Duduk di seberang.

"Ahahahaha... begitu." Tawanya canggung. Dalam hati, Rin berharap Len tidak tersinggung dengan tindakannya. Dia refleks tadi.

"Tapi, kenapa berbeda? Milik Kak Rinto tidak cair tapi serbuk." Dia bertanya lagi. Belum menyerah, sekalipun keringat dingin sudah menampakkan diri.

"Rinto mengambil darah Lenka yang di campur obat-obatan."

"Oh." Rin tidak tahu harus menjawab apa lagi. Merasa tidak punya urusan lain, dia pun pamit pulang.

"Sampai jumpa Len."

"Hm."


-oOo-

Connecting With You

-oOo-


[Rin POV]
Sebelum keluar dari perusahaan Ayah, aku menyempatkan diri memukul kepala Kak Rinto dengan sepatu kets ku. Impianku sudah tercapai. Aku bisa pulang dengan tenang.

Tujuan ku sekarang berkunjung ke rumah Kak Lenka.

Aku sedikit penasaran dengan jawaban Len. Apa benar darah bisa dirubah menjadi serbuk jika dicampur obat-obatan? Kalau begitu... obat yang sering kuminum... apa mungkin itu...

Ah, tidak! Tidak! Tidak!

Rasanya sangat tidak mungkin kalau itu adalah darah.

'Tapi kau tidak akan bisa hidup tanpanya. Seperti vampire yang tak bisa hidup tanpa meminum darah.'

Suara dalam pikiranku memberikan opini. Tepat sasaran.

Aku mulai curiga kalau dia lebih pintar dariku.

'Aku memang lebih pintar darimu karena aku bukan kau.'

Hhh... abaikan Rin. Kau akan dikira orang gila jika menanggapi suara dalam pikiran mu sendiri.

Klontang!

Itu suara kaleng jatuh. Asal suaranya dari sana.

"Siapa disana?" Tanyaku sambil berjalan waspada memasuki gang sempit dan gelap.

Mataku melebar kaget mendapati pemandangan yang tak biasa.

Taring. Darah. Luka gigitan.

Dia vampire.

"Ka-u? Apa yang kau lakukan?!" Tanyaku.

Dia terkejut melihatku dan melepas mangsanya.

"Tu-an putri?"

Suaranya terdengar bergetar ketakutan. Eum, apa aku tidak salah dengar? Dia barusan memangiku tuan putri?

"Ampuni aku. Tolong jangan bunuh aku."

Dan sekarang dia belutut dihadapanku.

Hah?

Apa itu artinya... menarik!

Aku rasa aku bisa memanfaatkan situasi ini. Ya, tidak ada salahnya bermain tuan putri dan budak, bukan.

"Hm? Kau pikir bisa lari setelah melakukan ini?" Kataku sedikit mengangkat daguku ke atas. Dia semakin menunduk dalam. Apa aku terlihat sangat menakutkan? Harusnya yang ketakutan itu aku lho. Batinku rasanya ingin menangis. Dia kan vampire. Jelas lebih kuat dariku.

"A-aku... aku akan bertanggung jawab." Sahutnya masih dengan suara yang bergetar.

Oke, Itu bagus. Aku tidak perlu memberinya ceramah kalau gitu.

"Baiklah. Tapi berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi."

"Baik!" Dia mengangguk cepat. Sepertinya ini sudah selesai. Aku membalikkan badanku, hendak pergi namun dia meraih ranselku.

"Umm..."

"Ada apa lagi?" Tanyaku menahan diri untuk tidak menendang wajahnya.

"Aku punya permohonan kecil. Sebenarnya bukan aku saja yang memburu manusia."

Jadi, masih ada yang lainnya lagi. Aku mendelik marah.

"Oh, kumohon. Anda jangan salah paham dulu. Kami tidak bermaksud melakukan itu, hanya saja Teto-san mulai bertingkah aneh. Jadi kami sedikit curiga kalau Anda sudah tidak..."

Tidak hidup lagi! Cepat katakan, biar aku bisa menghajarmu.

Dia melepas pegangannya dari tas ku. Aku menunggu dengan sabar maksud dari tindakannya menghentikanku pergi dan menarik nama Teto ke dalam pembicaraan ini.

"Kami sebenarnya mulai kehilangan kepercayaan. Karena itu lah, kami memberontak dan melanggar perjanjian."

Perjanjian? Entah kenapa aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.

"Untuk itu, maukah Anda ikut denganku? Aku ingin Anda bertemu teman-teman ku dan meyakinkan mereka kalau Anda masih hidup."

Dia bilang apa tadi? Mengajakku ke markasnya? Ditelingaku itu terdengar seperti, ayo ikutlah dengan ku, disana aku punya banyak makanan manis. Kau boleh makan sepuasnya. Lalu setelah aku kenyang dan tidak bisa bergerak. Dia akan memakanku hidup-hidup. Hiiiii.

"Tidak mau." Tolak ku. Segera mengambil langkah pergi namun dia lagi-lagi menahan ku. Dia memeluk kakiku erat. Ya ampun, darah orang yang dia gigit tadi menempel di kaki ku. Ini menjijikan.

"Aku mohon ikutlah denganku, putri." Dia memohon dengan sungguh-sungguh.

"Akh, baiklah... baiklah... tapi lepaskan aku!" Sahutku menarik kakiku menjauh. Dia melepaskan kakiku, membuat ku sedikit terhuyung kebelakang. Jika aku tidak punya refleks yang bagus. Mungkin aku sudah terduduk di jalan. Cepat-cepat aku mengambil tisu basah di dalam tasku dan membersihkan darah yang menempel di kakiku. Sementara dia mengangkat korbannya seperti membawa karung beras.

Aku melemparinya dengan kaleng bekas karena dia melompat ke atas genting begitu mudahnya. Aku tidak mungkin bisa mengikutinya kalau begitu caranya. Dia melihatku dan segera minta maaf.

"Maafkan aku, putri. Aku lupa jika anda..."

"Berisik! Kau berjalanlah dengan benar!" Potong ku cepat. Ini tidak ada hubungannya dengan apa yang kupakai. Aku pakai dress karena pakaian ku yang biasanya terkena bencana banjir. Aku tidak sengaja menumpahkan air ke dalam lemari saat mengusir kecoa yang terbang dengan satu ember air penuh. Jadi, dengan terpaksa aku meminjam koleksi milik Kak Rinto. Jangan tanya aku mengapa dia mengoleksi pakaian wanita. Sejak awal, dia memang punya kelainan. Jadi, tidak ada yang perlu di pertanyakan lagi. Kasus di tutup.

Dia berjalan di depanku. Bertugas sebagai pemanduku. Aku berjalan dibelakangnya sambil mengingat-ngingat jalan yang kulalui. Ponselku sudah ku setting melakukan panggilan langsung ke nomor Kak Rinto. Jika terjadi sesuatu aku bisa langsung menekan tombol hijau. Tadinya aku ingin bergantung pada polisi tapi aku cukup sadar kalau yang kuhadapi itu vampire, bukan manusia biasa. Untuk kali ini saja aku menggantungkan hidupku padanya.

"Selamat datang di kastil kami, tuan putri."

Dia membawaku ke kastil di tengah hutan.

Hidupku sudah berakhir.

Aku tidak mungkin bisa memberitahu lokasi keberadaan ku pada Kak Rinto. Disini tidak ada sinyal.

"Ya, terima kasih telah membawa ku sampai disini."

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Akhirnya bisa update. Untuk review nya ku balas nanti ya. Lagi buru-buru soalnya... /dibuang/

Mohon maaf jika ada kata yang kurang enak dibaca, typo, dan berbagai macam kesalahan tulisan lainnya.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.

Salam.

Cherry Monochrome

25/06/2017