Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Pairing : Sakura Haruno & Minato Namikaze

Rating : M untuk amannya.


For You

~ Be Mine versi MinaSaku~

Bagian 9,5


Setelah menghabiskan malam minggu yang panjang dengan Ino, pagi-pagi sekali aku memutuskan untuk kembali ke apartemen kecilku. Ini bukan tanpa alasan, keputusan yang tepat agar sahabat baikku tak cemas saat melihatku bangun dengan keadaan tertekan.

Semalam aku bermimpi, memimpikan dia yang dulu ada dalam setiap nafasku. Dia yang tercinta, tak pernah ku lupakan. Ini memang sedikit kejam bagi aku dan perasaanku, mengingat dia yang sudah sembilan tahun lalu pergi.

Selesai mandi, aku membuka lemari. Mencari kotak merah yang ku simpan rapi di tumbukan paling bawah koleksi bajuku. Baju terusan sepanjang lutut dengan lengan pendek warna merah, hadiah terakhir yang dia berikan padaku. Masih muat untuk aku gunakan. Dengan balutan gaun ini, serta jepit rambut berhiaskan tomat pemberiannya dulu aku melangkah keluar dari apartemenku.

Seharusnya aku tak melakukan ini, pergi ke pemakamannya. Ini tak adil baginya, bagi Neji-nii dan bagi aku sendiri. Aku sudah berjanji pada Neji-nii untuk tak mendatangi tempat itu. Neji-nii hanya tak ingin aku bersedih.

Membawakan secangkir esspreso dan tomat makanan kesukaannya. Di depan makamnya aku hanya bisa tersenyum dan berdoa, semoga dia bahagia disana dan selalu melihatku.

Aku hanya ingin terlihat cantik didepannya, walaupun tanpa rambut merah muda panjangku. Lihatlah aku bahkan mengunakan jepit rambut yang dia merika padaku dulu. Jepit rambut tomat kebanggaannya.

Didepannya aku selalu mengaku bahagia. Pastinya dia tahu jika ini hanya pura-pura saja.

"Sasuke-kun,"


"Ibu sudah setuju, setelah lulus kita akan menikah. Kau bisa tinggal di rumahku, dan tak lagi kesepian."

"Apa?" aku hampir mati tersedak roti melon ketika pacar gantengku mengatakan itu.

"Tuan muda Uchiha, apa kau sedang ngelindur? Kenapa kau merencanakan itu semua tanpa terlebih dahulu berbicara denganku."

"Kau yang lagi ngelindur. Lah ini aku ngomong," jawabnya sinis, sesinis Itachi-nii kalau di tanya tentang Sasori rival sejatinya.

Kami berada di dalam mini market dekat sekolah, duduk disana sambil membeli cemilan. Menunggu kakakku yang sedang sibuk dengan klubnya.

"Aku tidak mau nikah muda. Dan apa tadi? Aku kesepian? Kata siapa? Ada Neji-nii yang selalu menemaniku."

Sasuke lalu mencentil dahiku. Dia tidak merespon alasanku, tapi melihat reaksi wajahnya yang mirip tomat busuk membuatku takut jika salah menjelaskan. "Kamu tau, Sasuke-kun,"

"Tidak," jawabnya sambil menggeleng.

Mati aku.

Dia mulai lagi. Salah menjawab habislah, aku tak akan pernah menyandang nama Uchiha dibelakang namaku kelak. Kenapa pacarku ini selalu saja cemburu jika aku menyebut nama kakakku dalam obrolan kami.

"Sasuke-ku yang tampan. Bukankan kau masih ingin kuliah? Kita bisa menunda pernikahan kita setelah menyelesaikan sekolah." Aku membujuk, yang hanya direspon gelengan darinya.

"Pacarku yang jelek dan doyan makan. Itu bukan masalah. Tak ada larangan menikah saat kita kuliah kelak. Dan jangan cari alasan yang bodoh di hadapan Uchiha, atau kau memang cari mati." Jelasnya dengan tatapan yang mematikan. Ini kalimat terpanjang yang Sasuke ucapkan, seharusnya aku ingin memberi penghargaan kepadanya, namun karena aku yang menjadi target marahnya niat itu aku urungkan.

Sembari memikirkan jawaban cangih untuk membalas ucapannya, aku mulai risih dengan beberapa gadis berseragam sekolahku yang cekikikan tak jelas sambil malu-malu melirik pacarku. Sialan. Cewek jaman sekarang, lihat cowok ganteng dikit aja ngiler, apalagi lihat yang lebih hot lagi.

"Apa yang menjadi masalah untukmu? Kau tak mau menjadi salah satu dari kami!"

Suara Sasuke membangunkan aku dari imajinasi mengutuk satu-persatu cewek tadi. Ini menyakitkan. Siapa bilang aku menolak. Ini impianku, menjadi bagian dari keluarga Uchiha. "Bukan begitu..." aku mencicit.

"Lalu?"

"Aku hanya takut." Aku menggigit bibir dalamku, mencoba untuk mengutarakan keraguanku. Menghiraukan beberapa gadis yang lewat dihadapan kami sambil tebar pesona dihadapan Sasuke.

Mati saja sana penyihir.

"Kamu tau? Tubuh wanita tak akan indah lagi jika sudah punya anak." Ujarku takut sambil menundukan wajah. "Aku takut nanti kau selingkuh!"

Suara tawa tedegar. Ini bukan suara Sasuke, takut-takut aku mulai menaikan wajahku. Sedikit terkejut melihat ekspresi Sasuke yang terlihat heran. Manis. Sial pacarku memang ganteng.

Tunggu jika tadi bukan suara tawa Sasuke, lalu suara siapa itu.

"Wanita akan semakin cantik setelah memiliki anak, Saku-chan."

"Neji-nii!" kataku setengah memekik. Tahu-tahu kakak laki-lakiku ini sudah ada disamping mejaku. Mengusap helaian merah muda panjangku, Neji-nii mulai duduk disampingku. Membiarkan Sasuke mencak-mencak tak jelas mengusir Neji-nii yang berusaha duduk.

"Diamlah Hyuga. Aku tak meminta pendapatmu! Dan apa-apaan tadi, tubuh indah? Kau tak punya kaca, Sakura! Tubuhmu sama sekali tak indah." Sasuke sinis. "Dan lagi, aku tak menyuruhmu melahirkan secepat itu." lanjutnya, wajah Sasuke memerah. Lihat sekali lagi dia terlihat sangat manis. Aku sangat hafal dengan reaksi itu, Sasuke pasti membayangkan hal yang mesum.

Neji-nii kembali tertawa, kali ini dia tak segan-segan menahan tawa lagi, hal yang tak biasa dilakukan olehnya.

"Apa-apa ini. Kenapa kau ikut tertawa Neji-nii. Kau sama sekali tak membelaku."

Neji-nii menghentikan tawanya. "Dengar Sakura, mungkin setelah melahirkan bentuk tubuhmu akan semakin indah. Paling tidak tubuhmu tak lagi seperti papan seluncur. Datar."

"Aku setuju dengan Hyuga-san."

"Pacarku bahkan tidak membelaku." Ujarku cemberut."Apakah kita harus membahas masalah ini disini?" tanyaku, kemudian dua pemuda tampan itu saling melihat satu sama lainnya, mereka telihat bingung.

Memeluk lengan Sasuke dan Neji-nii manja aku mengeret mereka berdiri. Lalu berjalan meninggalkan kombine dan tatapan lapar gadis-gadis yang ada didalamnya.

"Tunggu, Sakura-chan! Aku belum membeli minuman."

"Nii bisa meminum jus jerukku."

Sasuke mengkerut tak suka. Menyodorkan kopi kalengan setengah teguknya dia menyodorkan kopinya kearah Neji-nii dan mengambil jus kaleng milikku. "Tak boleh, ini punyaku." Komplain Sasuke sambil menenguk jus jeruk milikku sampai habis.

Aku dan Neji-nii melongo melihatnya. Tak biasanya Sasuke meminum minuman manis seperti itu. "Sasuke-kun, kau tak apa?"

"Aku baik-baik saja." Ujarnya setengah meringis. Aku dan Neji-nii saling berpandangan, kemudian Neji-nii menyodorkan kopi kalengan kearah Sasuke.

Sambil menyeringai, Neji-nii berbisik kearah Sasuke. Yang hanya dihadiahi pelototan tajam Sasuke.

"Apa yang kalian bicarakan!" tanyaku. Mereka sama sekali tak menjawab. Ini mencurigakan, kenapa wajah Sasuke memerah marah seperti ini. Aku menyipitkan mataku kearah Neji-nii, mencoba meminta penjelasan.

"Hai, Uchiha! Apa kau serius ingin menikahi adikku ini?" Tanya Neji-nii mengalihkan pembicaraan.

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke sinis.

"Tak semudah itu kau mendapatkan Sakura!"

Ampun, apa sekarang waktunya kedua pemuda yang aku kasihi ini bertengkar? Sepertinya kedamaian yang aku dambakan ini akan berakhir ketika kedua orang ini mulai mengerakan lidah tajamnya.


"Kau mau kemana?"

"Ke tempatnya Sasuke, kenapa? Neji-nii mau ikut?" tanyaku, sambil mengambil sepatu warna merah di rak sepatu dekat pintu.

"Dengan pakaian seperti itu?"

"Iya. Kenapa? Terlalu mencolok?"

"Tidak, apa tidak terlalu terbuka? Di luar dingin loh, jangan lupa pake coat, ya!"

Aku menganguk.

"Mama bilang kamu tak perlu ikut kerumah besar nanti."

"Iya, aku tau."

"Tapi tetap tidak boleh main terlalu lama di rumah Uchiha itu!" Pesan Neji-nii.

Rumah besar adalah kediaman Hyuga yang berisikan keturunan utama keluarga tersebut. Walapun papa, ayah angkatku merupakan kembaran dari penerus klan Hyuga, papa bukan termasuk bagian dari keluarga utama. Ini yang aku tak suka, kenapa harus membedakan keluarga sendiri. Jika mereka tetap saja memantau apa saja yang kami lakukan.

"Nanti aku jemput, ya! Kencannya jangan lama-lama, mama kuatir nanti kamu diangkat anak oleh keluarga Uchiha." Kata Neji-nii yang sudah ada di depanku, tangannya memegang majalah musik. Walaupun hanya mengunakan kaos oblong dan celana pendek, auranya masih terlihat keren.

"Dijadikan menantu si iya." Kikikku diakhir.

Neji-nii lalu mengusap rambutku lembut. "Aku nggak rela kalau Uchiha itu memperistri Sakura-chan loh, mama juga." Ujarnya, wajahnya terlihat serius, melihat reaksiku yang tak enak, Neji-nii lalu mencubit pipiku. "Masa kami yang membesarkan Sakura-chan sampai secantik ini harus menyerahkan begitu saja sama cowok tengil itu," lanjutnya.

Aku tersenyum lalu memegang dadaku bangga. "Aku memang cantik! Neji-nii jangan kuatir, aku tak akan meninggalkan Neji-nii sampai kapanpun."

"Benarkah?" tanyanya sambil membungkuk, wajahnya tepat di depan wajahku. Aku memerah, sial kenapa wajah kakakku ini ganteng sekali. Matanya itu loh mampu menghipnotis siapa saja yang menatapnya.

"Jangan bikin aku grogi Neji-nii." Cicitku.

Neji-nii lalu membenturkan keningnya ke keningku pelan. Hembusan nafasnya menyapu wajahku. Aku menutup mata, neji-nii mencium pipiku lama. Hangat. Sial jantungku berdetak kencang.

"Sana pergi. Si tengil Uchiha itu pasti lagi nungguin kamu loh!"

Aku membuka mata ketika Neji-nii mengedipkan mata sambil jarinya menyentuh bibirnya dalam posisi nakal. Tubuhku kaku, Neji-nii benar-benar tahu bagaimana cara membuatku meleleh.

"Aku tahu." ujarku sambil berbalik menuju pintu keluar, sebelum benar-benar membuka pintu, Neji-nii mengejarku, ia lalu berbisik. "Nanti aku jemput ya. Jangan macam-macam sama Uchiha itu, nanti aku cemburu." Bisiknya, membuatku merinding seketika. Neji-nii kau sedang menggodaku?


Rumah keluarga Uchiha itu bagaikan rumah kedua bagiku setelah rumah keluarga Hyuga. Disini aku diperlakukan baik, bukan hanya Sasuke, itachi-nii dan juga orang tua mereka memperlakukan aku seperti putri mereka sendiri.

Dulu kami bertetangga, walaupun saat ini juga masih bertetangga juga. Melihat rumah keluarga Hyuga dan Uchiha hanya berjarak satu block.

Bosan membantu memotongi daun bunga mawar, aku meletakan gunting di atas meja setengah menarik nafas kesal. Bibi Minato hanya tersenyum maklum kearahku.

"Bosan?" Nyonya Uchiha ini selain punya wajah yang cantik, sopan dan anggun, dia juga terkenal dengan kebaikan dan juga kasih sayang yang berlebih termasuk memanjakan aku yang bukan bagian dari mereka.

"Sasuke-kun lama si." Keluhku.

"Ya sudah, bangunin lagi saja."

"Dia akan mengutukku lagi, mengancam tak ingin menikah denganku"

"Memang apa yang dilakukan Sakura-chan sampai Sasu-chan mengancam begitu?"

Aku meringis, memajang wajah polos andalanku. "Aku membekapnya dengan bantal biar dia sulit bernafas dan bangun." Senyumku diakhir.

Bibi Mikoto memijat kepalanya. Mungkin dia terlalu capek melihat tingkah kekanakan kami dengan nafsu saling membunuh. "Pantasan saja, cari cara yang lain lagi untuk membangunkannya."

"Sudah bibi, menarik selimutnya dan mencabut bulu kakinya sudah tidak efektif lagi. Bahkan aku berpikir jika Sasu-kun itu benar-benar mati. Dia seperti mayat jika sudah menyentuh bantal."

Bibi Mikoto terkikik mendengar penjelasan konyolku. "Bibi,"

"Iya?"

"Bibi ngidam apa pas lagi mengandung Sasu-chan? Kok anaknya jadi nyebelin gitu." tanyaku pada calon mertua paling pengertian sedunia.

"Kalian tidak lagi bertengkar, bukan?"

Aku memutar badan menghadap bibi Mikoto. "Tidak, dia yang memarahiku." Ceritaku, menjelekkan anak bungsunya. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum maklum.

"Sakura-chan yang sabar ya, sama Sasu-chan. Anakku itu selalu bikin orang jengkel."

"Tapi Itachi-nii baik-baik saja, penurut lagi. Beda sama adeknya yang kaya lucifer."

"Tapi Sakura-chan betah-betah saja sama Sasu-chan."

Aku memanyunkan bibirku, kemudian duduk disamping bibi Mikoto. "Habisnya, cinta si."

Bibi Mikoto lalu menaruh bunga dan gunting diatas meja, menatapku dengan senyum lebarnya. "Kalian yang awet ya. Aku mau Sakura-chan jadi menantuku."

"Bibi?"

"Ya,"

"Aku cantik ya?" Mantan tetangga depan rumahku ini hanya terkikik menanggapi, tangannya menyentuh wajahku sayang.

"Kamu mirip ya sama ibumu," pujinya.

"Siapa yang ibu bilang cantik? Si jidat lebar itu!"

Sasuke dengan kalimat super dingin keluar dari kamarnya, tampannya masih mengantuk seperti biasa hasil dari begadang main game sepanjang malam.

"Sirik banget." Cetusku. "Cemburu ya?"

"Eh, ngapain cemburu. Aku si nggak mau dibilang cantik. Aku ganteng si." Akunya sambil menyeringai licik. Langkahnya santai sembari duduk diantara aku dan bibi Mikoto, aku menatapnya kesal.

Bibi Mikoto menggeleng, wajahnya memaklumi tingkah kekanakan kami yang selalu bertengkar seperti biasa. Sambil membereskan gunting berserta bunga yang dirangkainya, bibi Mikoto berjalan kearah dapur meninggalkan kami yang sedang cekcok seperti biasa.

"Hai, Sakura."

"Apa?"

"Gimana kemarin? Betah nginep di kediaman Hyuga?" tanya Sasuke menyeringai. Sepertinya dia masih belum puas mengodaku.

"Jangan tanya!" ujarku sambil menjejalkan buah tomat yang setengah aku makan, Sasuke lalu memakan tomat itu lahap.

Menarik pinggangku kearahnya, Sasuke lalu memeluk perutku sayang, kepalanya bersandar di pundakku. "Aku takut, mereka melukaimu lagi."

Aku tersenyum mendengar pengakuannya. Ini yang aku suka darinya, ketika aku benar-benar butuh perhatian, dia tak malu-malu memberikan limpahan kasih sayang itu padaku, ya walaupun tidak untuk diumbar di depan umum.

"Kau perhatian sekali," cicitku senang.

"Jika sudah tidak betah tinggal di tempat Hyuga itu, kau bisa tinggal disini. Kami semua menerimamu. Tak terkecuali Itachi-nii kita."

"Kamu lagi membujuk aku biar cepet-cepet nikah sama kamu ya, Sasu-chan?" kikikku, dia semakin mempererat pelukannya.

"Tidak ada orang yang bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu, Sakura. Jadi menikahlah denganku!"

"Aku tahu,"

Aku tersenyum, itu kata manis terakhir yang diucapkan Sasuke padaku. Kalimat itu masih terdengar jelas ditelingaku. Mungkin benar kata Sasuke "Tak ada yang bisa mencintai Sakura seperti Sasuke mencintai Sakura." Tak juga Neji-nii, tak juga Pain-san ataupun Minato.

Menurutku cinta itu punya batas waktu, andai batas waktu Sasuke panjang. Apakah saat ini kami masih bisa hidup bersama. Mungkin pula kami sudah menikah dan memiliki seorang anak yang tampan atau cantik. Mungkin pula ketika lulus, dia mengenal gadis lain yang lebih cantik dan kami berpisah. Entahlah dunia memang menakdirkan kami berpisah.

Menyusuri jalan keluar dari pemakaman, langkahku berhenti. Tiupan angin membelai tubuhku lembut. Meniup helaian merah mudaku hingga bertebaran, menganggu pengelihatanku. Menata rambutku kembali, mataku di kagetkan pada sosok yang aku kenal.

Disebrang jalan itu aku melihat sebuah sosok yang sudah terbiasa aku lihat. Hanya melihat dari kejauhan saja sudah membuat dadaku sesak. Sosok itu, dengan tubuh tinggi tegapnya, melambaikan tangannya anggun. Berjalan menuju kearahku, sosok itu menawarkan tangannya kearahku, menuntunku berjalan kerahnya.

"Tak biasanya kau berpakaian seperti itu, Sakura-chan. Kau terlihat seperti wanita." nada bicaranya yang setengah mengejek mengingatkanku padanya. Perhatiannya yang selalu ada disaat aku harapkan, Namisaki Minato, kenapa kau begitu mengingatkan aku jika cinta itu selalu ada.

Aku menatap wajahnya, "Kau pikir aku pria!"

"Bukanlah! Jika kau pria mana mungkin aku mau mengajakmu tidur." Seringainya diakhir.

"Apa yang kau lakukan disini? Mencoba menjadi stalker?"

Kami lalu berjalan menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari area pemakaman.

"Tidak. Aku hanya ingin tau, siapa sainganku sesungguhnya."

"Kau cemburu?"

"Tidak. Lebih tepatnya penasaran." Kemudian dia membuka pintu penumpang untukku. "Kenapa aku harus cemburu dengan seseorang yang sudah tidak ada didunia ini?" matanya menatapku tajam.

"Kau pasti akan jatuh cinta padaku."

"Kau terlalu percaya diri, Minato!"

Minato membungkuk di depanku, menatapku dan tersenyum. "Kau selalu tak tahan denganku." Ujarnya sambil membawa wajahku kedepannya. Aku sama sekali tak menolak ketika bibir kami bersentuhan.

"Kau cantik dengan baju itu." Pujinya.

"Terimakasih,"

Seperti kisah cintaku dengan pemuda biru itu, akankah kisah ku dengan pria yang ada di depanku ini akan berakhir?

Aku rasa hanya waktu yang akan menjawab.

.

.

.

Bersambung ...

N/A : Pertama-tama saya minta maaf karena terlalu lama mengabaikan fic ini. Mungkin selanjutnya saya akan menulis dengan sudut pandang Sakura mulai chap ini dan seterusnya. Terimaksih untuk review kalian semua. Ini sungguh menyemangatiku. Bagi yang penasaran kisah cintanya SasuSakuNeji ini mungkin awal dari cinta segitiga mereka. Terimakasih.

Untuk fic SaiSaku Pengganti masih dalam proses perbaikan. Jika benar ingin menantikan kelanjutannya mohon tunggu sampai fic ini selesai. Terimakasih.