BAGIAN X: Air dalam Api
Baekhyun membantu Jackson memakaikan pakaian lalu merapikan tataan rambut anaknya itu. Dia tak mengujarkan sepatah kalimat pun dan hanya menjawab sesekali ketika Jackson bertanya padanya.
"Papa tidak ikut?" Jackson bertanya untuk kesekian kalinya.
Baekhyun memberikan gelengan dengan senyum palsu ia paksa mengembang. "Jadilah anak baik dan tidak merepotkan dadda, oke?" Baekhyun membenarkan pakaian Jackson sekali lagi. Anaknya itu sudah berbenah rapi berikut dengan perlengkapan sekolahnya pula.
Jackson mengangguk patuh dan menerima tas sekolahnya yang Baekhyun sampirkan pada pundak.
"Pa-"
Ucapan bocah itu terpotong ketika Baekhyun segera membawanya dalam pelukan. Tubuh kecil itu Baekhyun dekap erat, terlampau erat sampai Jackson merengek sesak karenanya.
"Papa sayang padamu." Bisik Baekhyun. "Sangat sayang."
"Aku juga sayang Papa..." balas Jackson. Dia melirik bingung Baekhyun pun dengan mata basah milik Papanya itu.
Baekhyun cepat-cepat mengusap wajahnya dan lagi memasang senyum.
"Pergilah, Sehunie hyung sudah menunggumu."
"Papa akan menyusul pulang bersama Jesper bukan?" Jackson bertanya sekali lagi.
Baekhyun diam tak tau harus memberikan jawaban apa. Baekhyun tak bisa memberikan jawaban ya karena kenyataan dia tak bisa melakukan hal itu. Namun Baekhyun pun tak bisa mengatakan tidak kecuali dia berniat membuat Jackson kembali bertanya lantas bersedih karena tindakannya.
"Sehunie hyung sudah menunggu..." dan Baekhyun memilih untuk tak memberikan jawaban apapun alih-alih mendorong pelan pundak Jackson untuk berbalik. Sosok Sehun terlihat mendekati kamar dengan raut serupa seperti sebelumnya.
Adik Baekhyun itu tak berekspresi banyak dan hanya melihatnya Baekhyun tau, Sehun masih tak menyetujui tindakan yang tengah dilakukannya kini. Mungkin juga... Sehun marah padanya.
"Bisakah Jackie tunggu di depan, Hyung mau bicara sebentar dengan Papa?" Tanya Sehun yang segera di angguki oleh keponakannya itu. Begitu sosoknya telah menghilang dari pandangan, Sehun kembali menghadap Baekhyun dan menatap saudaranya itu sejurus.
"Kau yakin akan melakukan ini hyung?" Sehun menutur tanya. Ekspresi wajahnya masih sama, membuat Baekhyun kian yakin jika adiknya itu benar marah padanya.
"Bagaimana jika nanti Jackson bertanya kenapa kau dan Jesper tidak ikut? Bagaimana jika nanti dia meminta untuk bertemu denganmu? Apa dia akan terus di antar-jemput seperti ini juga? Akan sampai kapan—"
"Jackson-" Baekhyun memotong, dia mendongak ikut mempertemukan sipitnya dengan hazel tajam Sehun. "Dia lebih menyayangi Daddanya daripada aku, dia takkan bertanya tentangku saat bersama Daddanya."
Sehun mendengus dalam ketidakpercayaan. "Kupikir kau bisa memahami keadaan anak-anakmu karena kau juga pernah merasakan hal yang sama." Sehun nyaris bergumam ketika mengatakannya.
"Ingat bagaimana teman-teman sekolah dulu mengejek kita karena tidak memiliki Ibu?"
Baekhyun kontan terdiam.
"Itu cukup menyakitkan 'kan hyung?" Sehun mendengus lagi. "Aku beberapa kali melihatmu menangis diam-diam karena hal itu dan aku hanya ingin tau mengapa kau tega melakukan hal ini pada anak-anakmu juga?"
"Aku—"
"Mungkin karena kau menganggap kepergian Ibu disebabkan olehku, mungkin juga kau menganggap jika akulah yang membunuh Ibu."
"Sehun aku tidak seperti itu!" Baekhyun menggeleng cepat dan terburu menghampiri Sehun di pintu.
"Dengan keadaanmu yang sekarang, apa kau juga berpikir jika Jesper-lah yang menyebabkanmu seperti itu, karena itu kau dengan mudah membiarkan anak-anak merasakan apa yang dulu kau rasakan."
Sehun membuang nafas berat di akhir kalimatnya. Matanya menerawang, menatap langit-langit kamar—cukup mampu menghalau ombak air mata yang hendak tumpah ruah dari kelopaknya.
"Aku akan pergi sekarang." Putus Sehun akhirnya. Dia bahkan tak sekedar melihat bagaimana reaksi Baekhyun atas semua yang dikatakannya itu.
Sehun mungkin terdengar berlebihan. Seharusnya dia tak mengatakan hal seperti itu pada Baekhyun. Saudaranya itu mungkin akan tersinggung, sakit hati dan menyimpulkan jika Sehun tak lagi memihak padanya. Dan lucunya Sehun malah tak ingin peduli hal itu.
Dia beranjak pergi dari sana, meraih tangan Jackson dan pergi dari rumah orangtuanya.
"Saat bertemu Dadda nanti, katakan untuk segera menjemput Papa hm... Jackie?"
:::
Bohong jika apa yang Sehun katakan tidaklah mempengaruhi Baekhyun sama sekali. Baekhyun bahkan tak bisa berkonsentrasi sejak kepergian actor itu, dia lebih banyak termenung dengan sekelebat ucapan Sehun terngiang dalam kepalanya.
Jesper yang duduk di sampingnya mengoceh beberapa kali, bertanya tentang warna apa yang harus ia bubuhkan pada buku gambar di meja. Baekhyun bahkan tak merespon dan itu menimbulkan tanya dari sorot mata bocah itu.
"Pa..." Jesper memanggil Baekhyun pelan. Tangan kecil menapak di atas punggung tangan Baekhyun yang menggenggam pinsil warna dan benar mengangetkan Baekhyun dalam lamunannya.
"Ya?" Sahut Baekhyun cepat. Matanya mengerjab berulang, mencoba mengembalikan fokusnya kembali. "Oh, Njes sudah selesai menggambar? Ingin Papa bacakan cerita? Atau haruskah kita membuat kue?" Tanya Baekhyun bertubi.
Jesper memberikan gelengan pelan. "Njes mau menonton tv." Jawabnya.
"Ah," Baekhyun segera mengedarkan pandangan mencari remote tv. Dia menemukannya di meja, di samping kotak pinsil warna milik Jesper dan mulai mencari siaran anak-anak.
Namun gerakan tangannya kontan berhenti ketika tayangan pertama yang Baekhyun dapati adalah siaran berita dengan Loey sebagai topiknya.
"... kini Loey telah menjadi bagian dari Taesan Group setelah Mr. Park disebut-sebut telah gagal dalam beberapa proyek kerjasama. Beliau juga mengundurkan diri sebagai CEO dan otomatis Loey jatuh ke tangan Taesan sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan itu."
Baekhyun tercenung. Rahangnya terbuka dalam keterkejutan serupa dengan sipitnya yang ikut melebar atas apa yang dilihatnya.
Itu... Loey perusahaan milik Chanyeol 'kan?
Baekhyun membatin. Hatinya tiba-tiba menumpuk ragu namun gedung perusahaan yang tengah di tayangkan pada layar datar itu benar merupakan gedung perusahaan yang Baekhyun kenali sebagai Loey yaitu perusahaan milik Chanyeol.
Dengan jatuhnya saham milik Loey kepada perusahaan lain, bukankah itu artinya Chanyeol telah bangkrut?
Apa yang Baekhyun ingat kemudian adalah pembicaraan terakhirnya dengan Chanyeol. Tentang keadaan perusahaan yang tengah krisis lalu hanya butuh beberapa hari setelah itu, Baekhyun mendapati Loey yang tak lagi menjadi milik Chanyeol.
Chanyeol tak sedang membual atau beralibi semata tentang alasan atas apa yang dia lakukan. Itu adalah apa yang menjadi benar adanya, termasuk alasan yang Chanyeol katakan tentang hubungannya dengan Yoojung yang menjadi landasan hubungan mereka.
Chanyeol tidak berbohong, tidak sekalipun...
Baekhyun benar tak tau apa yang harus ia lakukan, termasuk bagaimana menanggapi berita itu sedang ingatan terhempas pada hari lalu.
:::
Chanyeol terbangun dengan suara Sooyoung yang memanggilnya berulang. Suara itu berubah gaduh seiring meningginya oktaf bicara membangunkan Chanyeol sepenuhnya dari mimpi.
Dia bangun dengan kepala pusing dan langkah tertatih keluar kamar. Sooyoung berada disana, dengan raut wajah pucat menatap Chanyeol dengan panik.
"Ada apa?" Chanyeol bertanya bingung. Sooyoung tak menjawab alih-alih menunjuk ruang depan dengan dua orang pria berpakaian formal duduk disana.
"Bank..." hanya sepatah kata itu yang Sooyoung luncurkan dan Chanyeol tak membutuhkan penjelasan apapun lagi mengenai hal itu.
Pihak Bank datang mengatakan jika pinjaman Chanyeol telah jatuh tempo dan mengangsurkan selembar kertas dimana nominal hutangnya tercetak disana berikut persen bunga yang musti Chanyeol bayar pula.
"Sesuai dengan perjanjian juga jaminan yang telah Anda sepakati, pihak kami datang untuk menyita seluruh asset hunian beserta seluruh isinya Tn. Park."
Tutur kata itu rendah terdengar namun nyatanya mampu menghilangkan seluruh kata milik Chanyeol. Pria itu tercenung sedang apapun yang dua orang itu katakan tak mampu tertangkap oleh inderanya lagi.
Sooyoung datang dengan berbagai pertanyaan bersama suara yang meninggi namun tak juga mampu mengembalikan kesadaran Chanyeol.
Pria itu beranjak bangkit, memaksa kedua tungkai untuk menegak dan memulai langkah kemudian.
"Beri aku waktu sehari untuk mengemasi barangku." Chanyeol berucap disana.
"Apa?" Sooyoung mencolos tak percaya menatap anaknya itu. "PARK CHANYEOL ADA APA DENGANMU!?" Dia menghardik.
Namun Chanyeol lagi mengindahi pun ketika dua orang itu berlalu pergi dan Sooyoung kembali meneriakinya dengan berbagai makian.
"Aku hanya menaruh rumah ini sebagai jaminan pinjaman bank, aku tak dapat melunasinya jadi mereka menyitanya." Chanyeol berucap masih dengan nada tenang serupa.
"LALU APA? KAU KEHILANGAN LOEY DAN SEKARANG RUMAHMU, MENGAPA TIDAK SEKALIAN RUMAHKU JUGA PARK CHANYEOL?!" Sooyoung berteriak.
"Jangan khawatir, aku tidak menjual rumah yang ibu tempati."
"KAU SUNGGUH MELAKUKAN INI CHANYEOL?" Sooyoung menatap beribu arti anaknya itu. "TERSERAH, LAKUKAN APAPUN YANG KAU INGINKAN. AKU SUDAH TAK MAU PEDULI LAGI!" Wanita setengah baya itu lekas beranjak meninggalkan Chanyeol seorang diri disana. Terpekur tanpa tau apa yang harus ia lakukan.
:::
Chanyeol tak memiliki tujuan sebenarnya. Dia keluar dari rumah menggendarai mobilnya menuju showroom dengan niatan untuk menjual kendaraan pribadinya itu.
Chanyeol tak memiliki pilihan. Dia bahkan tak memiliki uang dan satu-satunya yang tersisa adalah mobil miliknya dengan harap uang penjualan itu bisa menunjang kebutuhannya setidaknya sampai Chanyeol menemukan Baekhyun lantas mulai berpikir rencana yang akan dilakukannya nanti.
Buruntung, mobil itu masih dalam keadaan bagus dan mendapatkan harga penjualan yang pantas. Chanyeol hanya mengambil beberapa sebagai pegangan lantas menyimpan sisanya pada rekening.
Chanyeol menempatkan dirinya duduk di halte terdekat dan mulai membuka ponselnya kembali. Pencarian akan keberadaan Baekhyun akan Chanyeol awali kembali sekarang.
Namun sebelum Chanyeol memulainya, ponsel itu berdering dengan nama Sehun sebagai pemanggil. Terburu Chanyeol segera menerimanya dengan sejuta harap yang tiba-tiba saja meluap dalam dirinya.
"Halo Sehun!"
:::
Sehun mendapati Jackson tertidur ketika mobilnya berhenti tepat di depan kediaman Chanyeol. Sehun melirik sekali sebelum melempar pandangan keluar kaca mobil dan mendapati kediaman itu terasa begitu sepi. Dia masih berada di dalam ketika retina tak sengaja menangkap sebuah papan yang menempel tepat pada pintu masuk.
DISITA, MILIK BANK
Sipit tajam aktor itu kontan melebar pun dengan keterkejutan menghampiri dirinya tiba-tiba.
Apa yang terjadi?
Sehun bertanya dalam hati. Ponselnya di raih cepat dan terburu mencari kontak Chanyeol disana. Dering sambungan terdengar dan Sehun menunggu tak sabar untuk sahutan dari iparnya itu.
"Chanyeol hyung!" Sehun berusaha keras menahan lonjakkan suaranya. Dia lagi menatap papan yang menempel pada pagar itu dan berkata, "aku berada di rumahmu dan..." suara aktor itu menggantung di udara.
Jeda terdengar dari Chanyeol pula sebelum Sehun isi kembali dengan ujaran miliknya.
"Kau berada dimana Hyung? Ayo kita bertemu."
:::
Chanyeol menahan pekikan yang hendak meledak dari mulutnya ketika mendapati sosok kecil Jackson bersama Sehun. Anak pertamanya itu tidur, lelap sekali membuat Chanyeol mati-matian untuk tak mengeluarkan suara apapun yang dapat mengganggu tidur anaknya itu.
Pria berkepala tiga itu dengan hati-hati memindahkan Jackson untuk duduk di atas pangkuannya sebelum menempatkan diri duduk di samping kemudi yang Sehun kendarai.
Mobil melaju kembali membelah jalanan dengan keterdiaman mengisi dua orang dewasa itu. Chanyeol lebih memilih menaruh seluruh perhatiannya pada Jackson, menatap memuja wajah lelap itu sambil sesekali melayangkan kecupan di atas puncak kepalanya dengan penuh rindu.
"Baekhyun hyung pulang ke rumah orangtua kami. Maaf telah berbohong padamu, hyung." Sehun memecah sunyi di antara sesal atas apa yang telah ia lakukan kemarin.
Matanya melirik sekali pada Chanyeol dan tak menemukan gurat kemarahan pada wajah iparnya itu.
"Baekhyun baik-baik saja bukan?" Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Jackson dan menatap Sehun kini. Ada lega yang menjalari seisi tubuhnya yang nyaris remuk oleh semua kekacauan yang mendera dirinya. Hanya dengan melihat Jackson dan kini mengetahui dimana Baekhyun, sedikit banyak membantu Chanyeol untuk mengenyahkan seluruh beban pundaknya.
Sehun memberikan anggukan sebagai jawaban lalu menepikan mobilnya pada sisi jalanan. Mesin mobil dibiarkan menyala sedang tubuh berganti posisi menyamping dan menaruh perhatian sepenuhnya kepada Chanyeol.
"Baekhyun hyung sudah menceritakan semuanya padaku," Sehun berkata disana. "Dan sekarang aku ingin mendengar bagianmu juga, hyung."
Chanyeol termenung selama beberapa saat dan tak sadar bagaimana pandangannya kembali jatuh pada Jackson. Dipandanginya lama paras bocah itu sedang tangan mengusap lembut lengan kecil Jackson.
"Apapun yang Baekhyun adalah benar. Aku... memang melakukannya." Kepergian Baekhyun yang begitu saja cukup memberitau Chanyeol apa alasan yang digunakan oleh si mungilnya itu.
Semua adalah Chanyeol dan perselingkuhan yang Baekhyun percayai telah dilakukannya. Chanyeol tak ingin menyalahi, melihat dari sudut manapun... Chanyeol-lah pihak yang memulai semua ini dan dia pulalah yang bisa disalahkan atas semua yang telah terjadi.
"Kupikir dengan melakukan hal ini aku bisa menyelamatkan Loey dan kupikir aku tak harus memberitau Baekhyun karena... ini bukanlah sesuatu yang bisa diterima olehnya." Chanyeol menyambung. "Yoojung adalah mantan kekasihku dan kupikir aku bisa memanfaatkan masa lalu itu untuk menyelamatkan Loey." Chanyeol tersenyum pahit, diam-diam menertawai dirinya sendiri.
"Seharusnya kau memberitau Baekhyun hyung, mungkin keadaannya takkan serumit ini." Sehun berguman menanggapi. "Baekhyun hyung jelas marah dan... kecewa."
"Memikirkan apa yang kulakukan di luar rumah, bertemu dengan Yoojung dan diam-diam menjalin hubungan dengannya kembali dengan alasan omong kosong akan sekantung uang... aku sudah cukup dibayangi oleh dosa. Kupikir ini takkan bertahan lama jadi aku bisa menyembunyikannya sampai keadaan Loey benar telah baik-baik saja. Tidak kusangka semuanya akan berakhir seperti ini." Sendu hazel Chanyeol berubah menjadi kosong. "Mungkin Tuhan memang menghukumku atas semua yang telah kulakukan."
"Kau masih mencintai Baekhyun hyung bukan?" Sehun melontar tanya membuat kepala yang tertunduk itu sontak terangkat kembali.
"Tentu saja! Baekhyun adalah segalanya bagiku!"
Sehun tersenyum tipis mendengar hal itu. Punggungnya kembali bersandar sepenuhnya pada jok sedang pandangan terlempar pada luaran mobil kini.
"Baekhyun hyung juga masih mencintaimu." Kata Sehun pelan nyaris tak terdengar.
"H-huh?" Chanyeol berkerut bingung tak yakin dengan apa yang baru saja Sehun katakan.
Aktor itu kembali menarik senyumnya sesaat sebelum kembali melontar kata.
"Baekhyun hyung sangat pemalu, kau tau itu 'kan hyung?" Sehun bertanya walau tak benar menanti jawaban. Dia tak menunggu Chanyeol menjawab dan kembali menyambung kalimat. "Aku masih ingat sekali bagaimana reaksi Baekhyun hyung ketika hendak dijodohkan denganmu. Dia mengkhawatirkan banyak hal, bukan tentang bagaimana fisikmu atau bagaimana dirinya menerima hal itu. Tapi... bagaimana tanggapanmu akan pernikahan kalian, Baekhyun hyung mengkhawatirkan hal itu."
Chanyeol seolah dibawa kembali pada masa lalu tepatnya dimana orangtuanya mengatakan rencana perjodohannya dengan Baekhyun. Chanyeol masih bisa melihat bagaimana reaksi ketidaksetujuannya akan hal itu, Chanyeol bahkan memaki mengatakan tidak tanpa peduli akan Baekhyun. Chanyeol bahkan tak bertanya mengapa Baekhyun menyetujui hal ini. Di hari lalu, baginya itu bukanlah hal yang penting.
"Baekhyun hyung bertanya, 'apakah Chanyeol setuju dengan pernikahan ini juga? Apakah ini bukan masalah baginya? Bagaimana jika Chanyeol tidak menyukaiku?' Juga 'bagaimana jika Chanyeol tak bahagia bersamaku?' Baekhyun hyung mengkhawatirkan hal itu."
Chanyeol tertegun. Sedang hatinya seolah tertusuk halus atas apa yang Sehun katakan. Chanyeol tidak pernah tau jika Baekhyun sepeduli itu padanya.
"Ketika aku mendengar langsung dari Baekhyun hyung bahwa kau memiliki hubungan dengan seseorang yang lain dan telah berencana untuk melakukan perceraian aku sangat marah padamu." Sehun berucap sembari menatap Chanyeol kembali. Sorot mata tajamnya menghujani Chanyeol membuat aura dingin seolah berhembus meniup tengkuk pria itu.
"Rasanya aku ingin sekali memukulmu karena telah menyakiti hyungku seperti ini."
"Maafkan aku... aku memang pantas mendapatkannya." Chanyeol berguman penuh sesal.
"Awalnya..." Sehun kembali menyambung. "Tapi begitu aku tau jika Baekhyun hyung tengah hamil, kupikir aku harus mendengar dari sisimu juga. Dan aku tak pernah menyesal melakukannya." Sehun tersenyum teduh. "Aku memberimu kesempatan untuk menemui Baekhyun hyung dan memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi."
Chanyeol seharusnya bahagia namun taunya sisi kecil hati mengetuk malu dan merasa tak pantas untuk hal itu.
Otot leher Chanyeol terasa sakit ketika dipaksa bergerak membuat semua gelengan disana.
"Aku tidak pantas untuk mendapatkan seseorang yang berharga seperti Baekhyun…" Chanyeol melirih.
Hazel Sehun melebar, merasa terkejut atas apa yang baru saja Chanyeol atakana.
"Sekarang… aku sudah tidak memiliki apapun lagi Sehun."
:::
Apa yang Baekhyun lihat siang tadi nyatanya benar menarik seluruh perhatiannya, bercampur baur dengan pembicaraannya dengan Sehun membuat pasif tubuhnya seolah menjadi patung. Baekhyun menjadi pusing tiba-tiba lalu tanpa aba-aba lambungnya kembali bergejolak membuatnya muntah kembali.
Ini adalah kehamilannya yang terburuk. Hormonalnya sangat parah sedang nafsu makannya berkurang drastis membuat Baekhyun menumpuk amarah untuk dirinya sendiri karena mengabaikan kesehatan janinnya.
Baekhyun diam-diam meninggalkan kamar setelah Jesper tertidur dan bergerak menuju dapur. dia melihat isi kulkas dan memaksa beberapa buah untuk masuk ke lambungnya. Itu lebih baik daripada perutnya kosong sedang mual masih saja riuh berlomba untuk keluar.
Hari sudah malam dengan sunyi mengisi Baekhyun seorang diri. Itu membuat otaknya menumpuk pikiran kian banyak, khususnya tentang apa yang dilihatnya di televisi dan tak sadar bagaimana Baekhyun mulai memikirkan Chanyeol walau berusaha mati-matian untuk dia enyahkan dalam pikiran.
Tangannya tak sadar mengusap perutnya sendiri. Merasakan dengan nyata bagaimana bagian itu semakin keras dan mulai membuncit. Baekhyun menatapnya lama dan disana dia malah menemukan bayangan dirinya, tak sendiri dengan Jackson dan Jesper yang ikut menemani. Lalu tanpa bisa Baekhyun cegah, sosok Chanyeol ikut bergabung pula.
"Ada apa denganmu Baekhyun?" carrier itu berguman untuk dirinya sendiri. "Apa yang kau harapkan? Semuanya sudah berakhir…" katanya lagi.
Dia beralih mengusap wajahnya dan cepat-cepat menghabiskan sisa buah di tangan. Ketika semuanya telah habis dilahapnya, Baekhyun lantas keluar dari dapur berpikir untuk bergabung tidur dengan Jesper ketika suara ketukan di pintu mengurung niatannya itu.
Pikir Baekhyun siapa yang datang? Apakah Sehun? Jika ya, mengapa actor itu tak langsung masuk saja.
Dengan pertanyaan-pertanyaan itu Baekhyun bergerak menuju pintu dan terkejut bukan main mendapati siapa yang berada di balik sana.
"Chanyeol!" Baekhyun menahan pekikan sedang mata melotot menatap pria yang masih menjadi suaminya itu. Chanyeol tidak sendiri, namun bersama Jackson dengan kepala terkulai di atas pundak—tidur dengan lelapnya.
"Hai Baek…" Chanyeol menyapa pelan sedang sendu matanya bersinar cerah menangkap sosok kecil yang di rindukannya itu. Chanyeol berusaha mati-matian untuk tak menerjang Baekhyun dalam pelukan dan menghujaninya dalam ciuman kerinduan. Chanyeol cukup tau diri jika Baekhyun tak menginginkan dirinya lagi.
"Aku datang untuk mengantar Jackson, dimana aku bisa membaringkannya?" Chanyeol bertanya.
"O-oh…" Baekhyun tergagap. Tangannya menunjuk kamar dengan pintu terbuka dengan rikuh. "Disana…"
Chanyeol mengangguk paham dan masuk ke dalam sana. Di kamar itu, Chanyeol membaringkan Jackson dengan hati-hati dan membiarkan dirinya berlama-lama menatap Jesper yang tertidur. Dia mengecup puncak kepala anaknya itu lama, bergantian—meluapkan seluruh kerinduannya.
Chanyeol bangkit setelahnya, sekali lagi merekam bagaimana wajah anak-anaknya dalam ingatan sebelum keluar dari kamar. Baekhyun masih berada pada tempatnya, pada pintu seolah menanti kepergian Chanyeol dari kediaman itu
"Bisakah kau berikan kunci mobil Sehun?" Chanyeol mendekat sembari menyerahkan kunci mobil milik iparnya itu kepada Baekhyun.
Baekhyun menatap benda itu sesaat dan menerimanya. "Dimana… Sehun?" Baekhyun bertanya.
"Sehun pergi ke kantor agensi dan menyuruhku untuk mengantar Jackson dengan mobil miliknya. Dia akan kembali tengah malam nanti." Jelas Chanyeol. Matanya yang bulat tak berhenti menatapi paras Baekhyun sedang dalam hati berharap kiranya respon berarti dia dapatkan dari suaminya itu.
Namun detik berlalu, Baekhyun masih diam saja dan hanya mengangguk paham atas penjelasannya. Bagaimana Chanyeol harus mengakui jika dia… sedikit kecewa akan hal itu.
"Aku senang kau baik-baik saja…" Chanyeol berucap pelan. "Aku panik sekali saat tak mendapatimu dan anak-anak di rumah." Chanyeol terkekeh seolah apa yang dikatakannya itu adalah sebaris guyonan.
Baekhyun masih tak memberikan reaksi apapun, hanya tertunduk menatap kunci mobil Sehun di tangan yang segera Chanyeol asumsikan sebagai ketidaksukaannya atas kehadirannya disana. Pria tinggi itu cukup tau diri, maka dia berpikir untuk segera bergegas untuk pergi.
Ponsel milik Baekhyun dalam sakunya, Chanyeol ambil cepat dan menyerahkan benda pipih itu kepada Baekhyun.
"Kau meninggalkan ponselmu," kata Chanyeol. Baekhyun melirik sekali namun enggan untuk menerima benda itu. Chanyeol tak ingin memaksa, lantas dia letakkan di atas meja dan undur diri.
"Jangan lupa kunci pintunya," Chanyeol berujar. "Aku pergi Baekhyun—"
"Aku—"
Ucapan Chanyeol terhenti tepat ketika Baekhyun memotong kalimatnya. Tungkai yang hendak dia gerakkan kembali tertahan pada tempat sedang hati meletup-letup menanti apa yang Baekhyun katakan.
"Aku melihat beritanya…" Baekhyun berucap pelan nyaris tak terdengar. "Apa itu benar?"
Chanyeol tertegun, tau betul kemana arah pembicaraan Baekhyun. Senyumnya mendadak hilang sedang anggukan terasa sulit untuk Chanyeol lakukan. Itu bukanlah sesuatu yang ingin Chanyeol bahas, rasanya berat untuk menerima semua ini namun jika Baekhyun penasaran maka Chanyeol takkan sungkan untuk menjelaskan semuanya.
"Itu benar." Jawab Chanyeol. "Aku telah kehilangan Loey sepenuhnya," Chanyeol tersenyum pahit. "Maaf tidak memberitaumu sebelumnya Baekhyun, aku membuat pinjaman pada Bank sebelumnya dan menjadikan rumah kita sebagai jaminan. Jatuh temponya sudah berakhir dan aku tak bisa melunasinya, jadi Bank menyita rumah kita juga."
Baekhyun mencolos. Rahangnya terbuka terkejut luar biasa berbanding terbalik dengan ujaran Chanyeol yang santai terdengar pun dengan gurat wajah biasa-biasa saja. Seolah apa yang baru saja Chanyeol katakan tak lebih seperti dia baru saja kehilangan permennya yang lupa diletakkan entah dimana. Seolah itu bukanlah apa-apa.
"Aku menjual mobil juga tadi." Chanyeol menyambung.
Baekhyun benar tak tau harus bagaimana menanggapi. Dia bukannya mengkhawatirkan tentang seluruh asset Chanyeol yang hilang kini, bukan tentang Loey yang merupakan mata pencaharian utama Chanyeol yang kini bukanlah milik pria itu lagi, atau rumah mereka yang disita oleh Bank pun mobil yang telah Chanyeol jual. Chanyeol telah bangkrut dan itu bukanlah apa yang tengah dia khawatirkan, tapi Chanyeol dan bagaimana pria itu sekarang.
Chanyeol pasti sangat tertekan, bahkan dengan senyum baik-baik sajanya itu nyatanya malah membuat Chanyeol terlihat menyedihkankan.
"Aku tau, setelah apa yang kulakukan padamu aku seharusnya tau diri untuk tidak menampakkan diriku lagi di hadapanmu. Aku tak hanya mengkhianati dirimu, tapi juga pernikahan kita, anak-anak kita dan terpenting aku telah mengkhianati kepercayaanmu. Aku si brengsek tidak tau diri seharusnya punya malu untuk tak muncul di hadapanmu lagi." Berat suara Chanyeol perlahan berubah serak, menghentak Baekhyun dalam denyutan di dalam dada.
Kepala Chanyeol tertunduk, sedang bulat matanya berubah kosong menatap ubin lantai di antara mereka.
"Aku minta maaf karena telah mengecewakanmu Baekhyun. Aku bukanlah suami yang baik untukmu juga dadda yang baik untuk anak-anak kita. Untuk semua kesalahan yang telah kulakukan, aku mohon maaf. Tapi aku hanya ingin kau tau, bahwa aku sangat mencintaimu, bahwa kau dan anak-anak adalah segalanya bagiku."
Chanyeol terisak, tanpa perencanaan sedang dadanya berubah sesak dengan nafas bergulung seperti itu.
"Chan—" Baekhyun menatap pria itu terkejut bukan main. Pun ketika tubuh Chanyeol luruh jatuh ke lantai dan dia bersimbuh di depan Baekhyun dengan menyedihkan.
"Kau seharusnya bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada aku, tapi Baek…" Chanyeol menarik nafas panjang, seolah itu mampu menekan sesak dalam dada, "tak bisakah aku berharap jika kau kembali padaku?" Chanyeol mendongak dengan mata basah menghentak Baekhyun dalam ketertegunan.
"Sekarang aku hanya Park Chanyeol biasa yang tidak memiliki apa-apa. Aku bukanlah seorang CEO di sebuah perusahaan, sekarang aku hanya pria yang tak memiliki pekerjaan. Aku tak memiliki rumah mewah atau mobil yang bagus dan juga uang yang melimpah. Dengan semua kekuranganku ini, bisakah kau memaafkanku dan sudi untuk menerimaku kembali Baekhyun?"
bersambung
