Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul
WARNING!
Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah
A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.
Happy reading
BAB 7-Chapter 10
Yoongi sedikit mengernyit ketika menatap Jimin yang tiba-tiba berbeda. Lelaki itu tampak begitu bergairah, tatapan matanya seolah akan melahapnya hidup-hidup dan meskipun kegelapan meliputi sosok lelaki itu, Yoongi bisa merasakan nafsunya yang meluap-luap.
Dengan penuh nafsu, Jimin memposisikan dirinya di tengah paha Yoongi, kemudian meluncur masuk tanpa permisi, menyatukan dirinya. Yoongi mencengkeram pundak Jimin, sejenak menahan perasaan tidak nyaman, karena ini baru kedua kalinya Jimin memasukinya. Tetapi lelaki itu tidak mau menunggu, dia menggerakkan tubuhnya dengan penuh gairah, seakan begitu kehausan dan akan mati kalau tidak dipuaskan.
Gerakan Jimin sedikit kasar, lelaki itu mengecupi seluruh wajah Yoongi, lalu bibirnya melumat bibir Yoongi dengan penuh gairah, melahapnya tanpa batas. Bibirnya melumat bergantian bibir atas Yoongi dan bibir bawah Yoongi, menyesapnya, menghisapnya, mengulumnya dan menikmatinya sesukanya. Lalu lidahnya menelusup masuk begitu dalam dan inten.
Ciuman itu menyatukan bibir dan lidah mereka, lalu bergerak menggoda, seiring dengan gerakan pinggul lelaki itu yang semakin cepat di bawah sana. Percintaan itu keras dan cepat. Jimin tidak lembut lagi, tetapi setidaknya dia membawa Yoongi ke puncak kenikmatan dengan cepat dan meledak, hingga Yoongi hampir tak sadarkan diri ketika akhirnya Jimin mencapai puncak kepuasan, sekali lagi meledakkan dirinya dalam-dalam jauh di dalam tubuhnya.
Napas mereka terengah-engah dengan tubuh yang berkeringat. Yoongi membuka matanya dan bertatapan langsung dengan mata tajam itu. Jimin menatapnya seakan menembus hatinya. Lelaki itu tampak berbeda... tiba-tiba perasaan takut itu datang lagi, membuat Yoongi begidik dan merasakan dorongan untuk menjauh.
Tetapi Jimin tiba-tiba saja meraih pinggangnya dan membalikkannya supaya membelakanginya. Lelaki itu menempelkan kejantanannya yang mengeras di bagian belakang pinggul Yoongi. Jemarinya menelusur penuh gairah, menyentuh paha Yoongi dan mengangkatnya ke atas...
"Jimin...?"
"Aku belum puas sayang, malam ini belum selesai untuk kita..."
Lelaki itu menyelipkan dirinya dari belakang dan menyatukannya lagi dengan kewanitaan Yoongi. Dia menggerakkan tubuhnya lagi penuh gairah. Membawa Yoongi kembali naik ke dalam pusaran yang makin lama makin membawa kesadarannya.
Jimin benar, malam itu seakan tidak ada ujungnya, gairah Jimin seakan tidak ada habisnya untuk Yoongi. Yang tidak Yoongi sadari... sepanjang sisa malam itu, dia bercinta dengan Jungkook.
.
.
.
Yoongi menggeliat ketika terbangun dari tidurnya. Dan langsung merasakan rasa tidak enak yang amat sangat. Kewanitaannya terasa tidak nyaman dan seluruh tubuhnya terasa pegal.
Dia membuka matanya dan mengernyit. Kemudian baru menyadari bahwa Jimin masih ada di sebelahnya. Lelaki itu masih telanjang dengan selimut putih membungkus pinggangnya, dia berbaring miring dengan bertumpu siku dan telapak tangannya menopang kepalanya. Lelaki itu tampaknya sudah mengamati Yoongi dari tadi, matanya tampak sedih.
Yoongi berbaring diam, tiba-tiba merasa malu. Semalam mereka begitu intim dan diliputi gairah. Dan sekarang ketika mereka terbangun dengan logika. Yoongi sangat malu dengan ketelanjangan mereka yang diterangi sinar matahari yang menyusup remang-remang dari jendela.
Tetapi sepertinya Jimin tidak merasakan itu. Jemarinya menelusuri leher Yoongi, lalu menurunkan selimutnya ke buah dadanya, jemarinya menelusur di sana, mengusap dengan lembut ke buah dada dan turun ke perutnya, selimutnya makin diturunkan ke bawah, ke pahanya... dan Yoongi melihat, semakin jauh selimutnya turun, mata Jimin tampak semakin sedih.
"Maafkan aku." Akhirnya lelaki itu bersuara, pekat, penuh kepedihan. Membuat Yoongi mengernyitkan dahinya.
"Untuk apa?"
Jimin menghela napasnya dengan berat, dia lalu mengecup bibir Yoongi lembut, dan mengelus pipinya, "Untuk semua kekasaranku... ini... bekas-bekas ini... Oh Astaga, aku minta maaf Yoongi.."
Yoongi menatap Jimin bingung, lalu dia menundukkan kepalanya dan menatap tubuhnya yang tadi di elus oleh Jimin. Matanya membelalak, ada bekas-bekas merah ciuman di tubuhnya, dan juga beberapa memar di lengan dan pahanya, mungkin akibat cengkeraman yang terlalu keras. Tetapi Yoongi semalam tidak merasakannya, dia terlalu larut dalam gairah, hingga tidak menyadari kalau sentuhan dan ciuman Jimin terlalu keras sehingga menimbulkan bekas. Mungkin hal inilah yang menyebabkan tubuhnya terasa pegal dan tidak nyaman ketika bangun pagi tadi.
"Aku kasar dan melukaimu...kau memar-memar seperti ini." Jimin menarik Yoongi ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat, "Maafkan aku Yoongi."
Yoongi membalas pelukan Jimin, "Tidak apa-apa Jimin, toh aku tidak menyadarinya semalam."
"Maafkan aku menyebabkanmu harus mengalami ini." Lelaki itu tampaknya tidak mendengar kata-kata Yoongi. "Maafkan aku."
Yoongi tertegun. Jimin tampak merasa sangat bersalah karena melukainya. Semalam memang lelaki itu tampak aneh. Dipenuhi dengan gairah yang sepertinya tidak bisa ditahankan lagi, mungkin gairah itu pula yang menyebabkan Jimin terlalu kasar, lelaki itu tidak sengaja... Tetapi sekarang Jimin tampak begitu membenci perbuatannya, tampak begitu jijik kepada dirinya sendiri. Membuat Yoongi langsung memeluknya dengan lembut,
"Aku tidak apa-apa Jimin."
Dan Jimin terdiam. Tidak mengatakan apa-apa lagi.
.
.
.
"Kau brengsek." Jimin menatap bayangan Jungkook di cermin. "Kau memperlakukannya seperti pelacur."
Jungkook mengangkat alisnya, "Aku memang seperti itu kalau bercinta. Lagipula... kau tidak bisa menyalahkanku, aku sudah lama tidak bercinta. Apalagi aku sudah menunggu lama untuk memiliki Yoongi, bukan salahku kalau aku terlalu bergairah dan sedikit melukainya."
"Sedikit katamu?" Jimin menggeram, mengernyit pahit ketika mengingat pemandangan tubuh Yoongi tadi pagi. Hatinya langsung hancur, menyadari bahwa Yoongi dilukai, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Seluruh tubuh Yoongi memar dan merah penuh bekas ciuman dan cengkeramanmu, aku yakin kewanitaaanya juga terasa sakit meski dia menutupinya darimu. Kau seperti binatang Jungkook! Dia baru kehilangan keperawanannya, Demi Tuhan!"
"Ah ya..." Jungkook tertawa, "Dan kau harusnya berterimakasih kepadaku, karena aku memberikan kesempatan untuk mengambil keperawanan Yoongi kepadamu. Aku hanya mendapatkan sisanya. Jimin. Jadi aku mengambil semuanya."
"Brengsek!" Jimin menggeram marah, tinjunya melayang ke arah kaca, menghancurkannya. Membuat bayangan Jungkook terpecah menjadi kepingan kecil-kecil.
Tetapi Jungkook tidak terpengaruh. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak, menertawakan luapan emosi Jimin,
"Hati-hati Jimin." Jungkook bergumam di sela tawanya, "Kau tahu kalau kau marah, aku akan menguasai tubuh ini."
.
.
.
"Tuan melukai tangan Tuan begitu dalam." Namjoon mencabut hati-hati serpihan kaca di buku jari Jimin, setelah yakin tidak ada kaca lagi, dia membasuh luka Jimin dengan alkohol dan antiseptic lalu membalut luka itu. "Anda tahu, anda harus menahan kemarahan anda."
"Aku tahu. Kalau aku marah atau tidak bisa mengendalikan emosi, aku akan lengah dan Jungkook menjadi kuat." Jimin mencoba menggerakkan tangannya yang diperban, lalu mengernyit ketika merasakan sakit, "Kemarin malam aku lengah... dan Jungkook melukai Yoongi."
"Anda tidak bisa menyalahkan diri anda. Kehadiran Yoongi membuat tuan Jungkook semakin kuat."
"Ya aku tahu. Seharusnya aku menjauhkan Yoongi dari diriku... tapi aku.. aku mencintainya Namjoon." Suara Jimin menjadi tersiksa. "Aku tahu kalau dia berada dekat denganku, dia akan ada dalam bahaya... tetapi aku begitu egois tidak bisa jauh darinya. Apa yang harus kulakukan Namjoon?"
Namjoon mengamati tuannya dengan sedih. Dia juga tidak tahu. Tuannya ini telah menanggung penderitaan sejak lama karena kehadiran Jungkook yang begitu kejam di dalam dirinya. Tetapi mereka adalah satu kesatuan. Satu tubuh, dua kepribadian yang bertolak belakang. Tuan Jimin sangat baik, sayangnya alter egonya... sangat jahat.
Jimin menghela napas panjang, menatap Namjoon dengan hati-hati lalu berucap misterius kepada Namjoon. "Lakukan apa yang harus kaulakukan pada saatnya nanti Namjoon..."
.
.
.
Hoseok mengamati rumah Yoongi dari dalam mobilnya. Dia sudah tahu bahwa rumah itu kosong dan dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tetapi dia ingin datang hari ini dan mencoba menemukan petunjuk.
Kenapa Yoongi menghilang setelah kematian ibunya di rumah milyuner itu? Apakah Yoongi tahu identitasnya sudah terbongkar sehingga dia bersembunyi dari wartawan? Tetapi bersembunyi di mana? Hoseok sudah mencoba mencari di semua orang yang mungkin berhubungan dengan Yoongi, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu di mana perempuan itu berada.
Ketika seorang lelaki tua penjual sayur keliling lewat, dan berhenti untuk beristirahat sambil berteduh di perempatan dekat rumah Yoongi, Hoseok langsung turun dari mobilnya dan menghampiri.
"Saya ingin bertamu ke teman saya di rumah ini. Tetapi rumahnya kosong." Hoseok menunjuk ke arah rumah Yoongi.
Pedagang sayur itu menengok ke rumah Yoongi dan tersenyum, "Maksud anda Nona Yoongi?"
"Ya. Apakah anda mengenalnya?"
"Saya sudah berdagang di kompleks ini lebih dari tujuh tahun. Saya mengenal Nona Yoongi bahkan saat kakek neneknya masih hidup. Dia perempuan yang baik, ramah pada orang tua." Pedagang itu tersenyum mengenang Yoongi.
"Anda tahu dia kemana? Tidak ada kabar darinya, dan rumahnya kosong."
"Mungkin dia sedang bersama ibunya?"
Hoseok langsung mengejar, berharap kalau pedagang sayur itu tahu sesuatu, "Kenapa anda bilang begitu?"
Pedagang itu rupanya tidak mengikuti perkembangan berita artis dan hiburan, dan dia sepertinya tidak tahu kalau Heechul, artis yang sangat terkenal itu adalah ibu Yoongi. Pria itu mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat, "Terakhir saya bertemu Nona Yoongi dia berbelanja sedikit. Anda tahu dia selalu berbelanja bahan makanan kepada saya, saya menanyakannya, dan kata nona Yoongi dia akan pergi beberapa lama bersama ibunya untuk berkenalan dengan calon ayahnya."
Itu informasi yang sangat membantu. Hoseok merenung setelah pedagang sayur itu pergi dan dia kembali ke mobilnya. Tidak ada yang pernah menebak hal itu. Bahwa Yoongi pergi bersama ibunya untuk menginap di rumah milyuner bernama Park Jimin itu. Kalau hal itu benar-benar terjadi... berarti Yoongi ada di dalam rumah itu ketika kematian ibunya terjadi? Tetapi kenapa tidak ada yang tahu kehadirannya? Bahkan di pemakaman dia tidak muncul. Para wartawan yang sempat berkemah di depan rumah Jimin pun tidak bisa menyadari kehadirannya. Sepertinya ada misteri yang tersembunyi di sini. Apakah Jimin menyembunyikan Yoongi di balik rumah besarnya yang berpagar tinggi?
Hoseok menjalankan mobilnya, dan mengarahkannya ke rumah Jimin dengan penuh tekad. Dia harus bisa mencari tahu apa yang ada di balik pagar yang tinggi itu.
.
.
.
"Astaga... kau terluka." Yoongi menyentuh jemari Jimin yang dibalut perban,
"Kenapa?"
Jimin menggelengkan kepalanya, "Luka ini tidak apa-apa, aku mengalami kecelakaan kecil tadi." Tatapannya berubah lembut ketika menelusuri seluruh tubuh Yoongi, "Kau sendiri, bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa?"
Bercinta dengan Jimin sangat menguras energi. Pipi Yoongi memerah ketika mengingat itu, dan memang memar-memar dan bekas ciuman di sekujur tubuhnya membuatnya bingung, tetapi Jimin sudah meminta maaf bukan pagi itu?
"Aku baik-baik saja Jimin."
Tatapan Jimin kembali sedih, lelaki itu menyentuhkan jemarinya di pipi Yoongi, mengelusnya lembut, "Aku jadi takut bercinta denganmu lagi, aku takut menyakitimu."
"Apakah kau selalu sekasar itu kalau bercinta?" Yoongi mengernyit. Jimin berkata seolah-olah bercinta dengan kasar itu ada di luar kendalinya.
Pertanyaan Yoongi membuat Jimin tertegun. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, "Tidak... bukan begitu.. aku hanya terlalu bergairah, jadi mungkin aku tidak bisa menahan diri." Dikecupnya bibir Yoongi lembut. "Kau harus tahu Yoongi, hal terakhir yang ada di pikiranku adalah menyakitimu."
Yoongi mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada Jimin, "Aku percaya, Jimin.."
.
.
.
Ketika Hoseok sedang mengamati rumah Jimin di sudut yang tak terlihat, jendela kacanya diketuk. Dia menoleh dan mengernyitkan keningnya melihat sosok lelaki tua berpakaian rapi berdiri di sana. Diturunkannya kaca jendelanya.
"Ya? Ada apa?"
Lelaki tua itu tampak serius, dia melirik ke arah rumah mewah milik Park Jimin dan menundukkan tubuhnya supaya jelas melihat Hoseok, "Anda Hoseok wartawan investigasi yang saya tahu punya reputasi bagus. Maaf, saya menyelidiki anda sebelumnya." Namjoon menghela napas panjang,
"Saya adalah kepala pelayan di rumah Tuan Park Jimin... saya punya informasi untuk anda. Tetapi sebagai gantinya saya ingin meminta tolong anda melakukan sesuatu."
"Melakukan apa?", Hoseok langsung tertarik ketika mengetahui ada orang dalam yang ingin memberikan informasi.
Namjoon melirik ke kanan dan kiri, tampak tak nyaman berdiri di luar mobil Hoseok, "Boleh saya masuk? Tidak aman bagi saya untuk berdiri di sini dan bercakap-cakap dengan anda."
Sejenak Hoseok ragu. Dia menatap Namjoon lagi, tetapi kemudian menyimpulkan bahwa lelaki itu adalah lelaki baik-baik. Dia membuka kunci pintu mobilnya. Bunyi 'klik' terdengar dan Namjoon melangkah masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Hoseok. "Sekarang bagaimana?", tanya Hoseok kemudian.
"Mohon jalankan mobil anda menjauh dari rumah ini. Saya akan menjelaskan semuanya kepada anda di perjalanan."
.
.
.
Namjoon tidak menjelaskan semuanya kepada Hoseok, informasi yang diberikannya kepada Hoseok hanyalah kebohongan yang bisa memberikan alasan kepada Hoseok untuk membantunya. Tuan Jimin telah menyuruhnya mencari orang yang dipercaya untuk membawa Yoongi kabur kalau tiba waktunya Jungkook menguasai tubuhnya. Dia harus menyelamatkan Yoongi dari Jungkook.
Tetapi Tuan Jimin melarangnya memberitahukan semua rencananya kepadanya. Namjoon harus merencanakan semuanya sendiri, dan menjaga jangan sampai Tuan Jimin tahu, karena kalau Tuan Jimin tahu, Jungkook kemungkinan besar juga tahu.
Rencana ini mengancam nyawanya, Namjoon tahu itu. Tetapi dia tidak peduli. Anak, menantu, dan cucunya sudah dimintanya pindah jauh ke tempat yang semoga tidak terdeteksi oleh Jungkook. Namjoon telah memutuskan hubungan dengan mereka. Dia telah mengucapkan selamat tinggal dalam perpisahan yang haru. Toh usianya tidak akan lama lagi, dia sudah tua dan siap mati demi kesetiaannya kepada Tuan Jimin.
Sekarang tinggal meyakinkan Hoseok untuk membantunya. "Nona Yoongi terjebak di rumah Tuan Jimin, dia menahannya. Karena Tuan Jimin ingin menjadikan nona Yoongi sebagai pengganti Ibunya." Namjoon menyelesaikan kebohongannya, "Saya meminta bantuan anda untuk membantu Nona Yoongi melarikan diri, Karena saya tidak bisa melakukannya, saya sudah terlalu tua dan Tuan Jimin pasti akan bisa melacak saya. Bawa nona Yoongi menjauh dari rumah ini. Dari kota ini kalau perlu. Saya tahu anda mempunyai banyak koneksi yang bisa membantu anda, dan anda bisa pergi kemana saja tanpa ketahuan, karena itulah saya meminta bantuan anda untuk membantu Nona Yoongi kabur ke luar negeri kalau perlu."
Ini akan menjadi berita yang luar biasa bagus. Hoseok menghela napas panjang. Merasa senang, "Kalau aku melakukan itu. Apa yang akan kudapatkan?"
"Anda tidak boleh memuat berita tentang pelarian Yoongi atau obsesi Tuan Jimin untuk membuatnya menjadi pengganti ibunya." Namjoon tampak serius, "Kalau anda melakukannya, saya akan menyangkal semua pemberitaan anda, dan Tuan Jimin bisa membuat anda kehilangan kredibilitas dengan menuntut anda atas pencemaran nama baik."
"Lalu aku dapat untung apa?" Hoseok mengernyit, mulai merasa bingung atas kesepakatan ini.
"Anda akan mendapatkan berita ekslusif mengenai siapa ayah kandung Yoongi. Siapa laki-laki yang menghamili Heechul di masa mudanya. Berita itu akan menguntungkan anda."
Wah. Itu baru luar biasa. Hoseok tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai,
" Oke deal. Jadi siapa ayah kandung Yoongi?"
Namjoon menggelengkan kepalanya. "Seseorang akan mengirimkan semua berkasnya ke kantor anda. Nanti setelah anda berhasil membantu Nona Yoongi. Sebelumnya anda harus membantu Nona Yoongi melarikan diri dulu dan menolongnya ke luar kota, kalau perlu ke luar negeri. Anda bisa meminta bantuan koneksi anda yang banyak." Lelaki itu mengeluarkan amplop cokelat yang besar dan tebal dari dalam jasnya.
"Saya tidak bisa menggunakan cek atau rekening bank karena itu akan terlacak, jadi maafkan saya menggunakan uang tunai. Ini uang untuk proses membantu Nona Yoongi melarikan diri. Semoga cukup." Namjoon meletakkan amplop itu di dekat perseneling di antara kedua kursi.
Koneksiku memang banyak dan pekerjaan ini tampaknya mudah, dia tinggal meminta bantuan teman-temannya untuk menyembunyikan Yoongi dan kemudian membantunya kabur ke luar negeri, itu gampang. Apalagi amplop cokelat itu tampaknya sangat tebal, uang akan memuluskan sehalanya... Hoseok membatin sambil melirik amplop cokelat itu. Tapi Namjoon tampak begitu ketakutan seakan kabur dari Park Jimin adalah hal yang sangat sulit,
"Apakah Park Jimin sebegitu hebatnya?" Hoseok bertanya.
Dan Namjoon mengangguk tanpa ragu. "Dia sangat hebat. Anda harus sangat berhati-hati. Kalau menginginkan sesuatu dia akan mengejarnya sampai dapat. Saya mohon lindungi Nona Yoongi sampai dia bisa kabur, surat berisi berkas-berkas tentang ayah kandung Nona Yoongi sudah saya siapkan di brankas rahasia di sebuah bank. Orang kepercayaan saya akan mengirimkannya kepada anda segera setelah anda berhasil menyelamatkannya."
Namjoon mengisyaratkan Hoseok untuk menepi dan lelaki itu melakukannya, dia meminggirkan mobilnya di tepi trotoar dekat kawasan perdagangan, Namjoon tersenyum kepada Hoseok, mengulurkan tangan dan Hoseok menjabatnya, "Terima kasih atas kerjasama anda Hoseok. Nanti kalau ternyata terjadi sesuatu kepada saya sehingga saya tidak bisa bertemu anda lagi, anda tahu betapa saya menghargai bantuan anda."
Lalu lelaki tua itu keluar mobil dan melangkah pergi. Hoseok memandang sampai Namjoon menghilang di keramaian. Dahinya mengernyit ketika dia melirik amplop cokelat itu. Diambilnya, dan diintipnya.
Semuanya dalam dolar amerika. Dan mengingat banyaknya tumpukan di dalamnya, jumlahnya mungkin ada puluhan ribu dolar...
.
.
.
Jimin merasakannya. Dia sudah tidak mampu menahannya. Jungkook begitu kuat, mendesak untuk menguasai tubuhnya. Jimin sudah sekuat tenaga menahannya. Dia tidak mau Yoongi menghadapi sosoknya yang mengerikan ini. Sosok kejam Jungkook. Yoongi pasti akan langsung membencinya.
Jauh di dalam sana Jungkook tertawa mengejek. "Kau bodoh karena terperangkap perasaan Jimin, cinta hanya akan memberatimu. Sekarang kau makin lemah karena kau jatuh cinta."
"Diam kau!" Jimin mencoba menghilangkan bisikan-bisikan Jungkook di dalam sana. "Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Yoongi."
"Yoongi milikku." Jungkook mengucapkannya dengan yakin seakan itu sebuah kebenaran absolut. "Kau tidak akan bisa menyingkirkannya dariku Jimin, apapun rencanamu, aku akan mendapatkannya. Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu dibantu oleh si Tua Namjoon, kalian tidak akan berhasil. Yoongi akan menjadi milikku."
"Dia mencintaiku. Bukan dirimu." Jimin menggeram marah.
"Aku tidak membutuhkan cinta dari Yoongi, silahkan. Miliki saja cintanya." Jungkook terkekeh,
"Aku butuh tubuhnya untuk memuaskanku, aku butuh dia tak berdaya di tanganku, jatuh di bawah kuasaku dan tidak berdaya."
"Kau gila!"
"Itu sudah bukan rahasia Jimin..." Jungkook tersenyum kejam. "Kegilaanku, dan hasrat ingin membunuh ini sebenarnya milikmu juga. Apa kau sudah lupa? Kita ini satu. Dan mengingat kita ini satu... apakah Yoongi masih bisa mencintaimu kalau tahu bahwa kitalah yang membunuh seluruh keluarganya? Kakek dan nenek dari pihak Heechul, kakek dan nenek dari pihak Hangeng, dan kedua orang tuanya, Heechul dan Hangeng. Yoongi pasti akan sangat membencimu dan kehilangan cintanya kepadamu seketika kalau dia tahu."
Jimin mengernyit, merasakan kepalanya berdentam-dentam. "Kau yang melakukan semua kejahatan keji itu. Bukan aku, dasar Iblis!"
"Aku melakukannya dengan tanganmu, Jimin. Ingat itu. Kita ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua."
Jungkook tertawa. Dan saat itulah Jimin merasakan semuanya menjadi gelap. Ia berusaha menggapai dan menahan, tetapi Jungkook terlalu kuat dan mendesaknya hingga dia menyerah.
"Yoongi.." Nama itu terucap di bibirnya sebelum kesadarannya hilang...
TBC
PS: Mendadak pengen nyanyiin lagu run buat Yoongi
Yoongi run run run~
Kadang ngetik remake ini bikin aku merinding sendiri ,rada-rada takut sama Jungkook :(
"kayak pernah baca ini' "ini mirip sama ff-nya blablabla"
Please ,make sure kaian baca bagian awal,ini REMAKE ,RE-MA-KE. Jadi kalau kalian pernah menemukan ff ini dengan pairing lain ,yaa wajarlah-_- jangan buat saya harus menjelaskan yaaa
Pss: ntah kenapa aku lagi alay banget ,hanya karna liat chim gak duduk sebelah yoongi lagi pas BTS FM 3rd anniv kemaren aku bapeeer banget! Sampe sekarang belum semangat liat full nya ,masih preview aja :" just me or anyone else like that ?
So,review ?
